Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Dragon War XI : Lucifer


__ADS_3

Penghancuran Dragon Arm sudah mencapai tahap akhir dan mereka hampir tak tersisa kecuali bongkahan besi. Di lain pihak, yang tersisa dari pihak Kuro hanyalah Ruby dan Shapira saja.


Necrodra, Ultimate Necrodra, Hell Beast hampir tak ada yang tersisa. Dan meskipun Ruby dan Shapira berhasil selamat, tapi mereka mengalami luka yang cukup berat. Ruby mengalami luka di bagian tangan dan leher akibat gigitan dan cakaran. Sedangkan Shapira mengalami luka di bagian salah satu sayapnya yang terlihat robek.


Tapi luka seperti akan segera pulih dan bukanlah luka yang pantas dipermasalahkan. Mereka masih bisa bertarung.


Cahaya merah dan hitam terbang di dekat kedua Dragon King itu.


"Mereka lebih merepotkan dan menjengkelkan daripada yang kita kira."


Kuro mengomentari Dragon Arm yang memiliki kemampuan yang membuat dia kewalahan meskipun memakai Dragon Gear.


Meskipun tubuh Kuro sudah mencapai batas dan hampir tak memiliki kekuatan untuk mempertahankan Dragon Gear, tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menunjukan kelemahannya.


Dan yang paling membuatnya terkejut adalah fakta bahwa pertarungan awal yang mudah berubah menjadi sulit dan berbahaya. Dari pengalaman bertarung yang sudah sudah, hal ini bukanlah suatu yang mengejutkan mengingat musuh akan mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya jika semakin terdesak, tapi sekarang dia, tidak, tepatnya bersama Deon mempunyai masalah yang jauh merepotkan.


Kedelapan Dragon Arm yang hancur mulai memancarkan energi yang sangat besar. Dan apapun energi itu, itu adalah suatu yang berbahaya.


"Ini suatu yang sudah kita ketahui sejak awal. Tak ada gunanya terkejut dengan apa yang mereka miliki."


Deon tertawa kecil.


"Apakah ada yang lucu?" tanya Kuro.


"Tidak. Aku hanya berpikir bahwa 'aku tak membuat kesalahan'......"


"......"


"Meskipun aku belum membalaskan dendamku kepada negeri sampah ini, entah mengapa aku merasa sangat tenang seolah aku bisa terbang dengan bebas. Semua ini berkat dirimu, Kuro."


Kuro mengingat kembali siapa sosok Deon yang jauh berbeda sekali dengan yang sering dia temui, tapi Kuro tahu bahwa sosok di depannya bukanlah orang lain.


Deon adalah salah satu mantan orang terkuat dan penting di kerajaan ini. Dia mengabdikan hidupnya dan mencintai negeri ini, tapi dia dikhianati oleh negerinya. Tak hanya itu, orang yang dia cintai dan sayangi telah direngggut oleh senjata buatan negerinya. Sulit dibayangkan orang yang telah banyak kehilangan seperti Deon akan melakukan semua ini dan bahkan mengorbankan dirinya.


"Tidak, aku hanya mengatakan "Mungkin kau akan puas karena setelah berhasil membalas dendam, tapi bukan berarti istri dan anakmu akan bahagia dengan apa yang kau lakukan". Selain itu, aku tak banyak melakukan hal baik kepadamu, aku salah?"


Deon justru tertawa kecil sekali lagi.


"Itu benar, tapi berkat perkataanmu aku akhirnya bisa bertemu dengan istri dan anakku dengan perasaan bangga, ....tapi aku terkejut meskipun kau masih muda, tapi kau sudah memiliki pemikiran seperti itu. ....tidak, sangat tidak tepat jika aku menyebutmu mempunyai pikiran dewasa."


"....."


"Jangan menatapku dengan tatapan menyeramkan. Aku hanya bisa menebak kau sama seperti aku. ...orang yang telah banyak kehilangan, dan aku juga yakin kalau kau mengalami penderitaan yang mungkin pulu- ratusan kali lebih berat daripada aku, tapi apa yang membuatmu bisa menjalani kehidupan seperti ini? .....Kuro, siapa sebenarnya dirimu?"


Kuro tak langsung menjawab dan hanya terdiam beberapa saat. Kuro menatap langit malam yang dipenuhi bintang dengan tatapan seolah mengingat sesuatu.


Tatapan yang menunjukkan kesedihan mendalam tanpa ada orang yang sanggup memahami.


"....aku hanyalah orang yang pernah kehilangan segalanya. Tapi sekarang aku mempunyai sesuatu yang harus aku lindungi. Aku hanya mengulangi hal ini lagi dan lagi."


"Mendapatkan dan kehilangan kah..... itu memang suatu yang akan dialami oleh setiap orang yang hidup. Tak peduli mau atau tidak. Tak peduli siap atau tidak."


"...."


"Tak peduli besar atau kecil, berharga atau tidak. ..tapi yang paling terpenting adalah kita sanggup bertahan atau tidak. Yang sanggup bertahan akan diuji dengan kehilangan yang lebih besar sedangkan yang terpuruk akan tenggelam ke dalam keputus asaan dan kegelapan. Kuro, bagaimana kau bisa bertahan selama ini?"


"Kau salah, aku bukanlah orang sekuat yang kau pikirkan. ..sudahlah, sebaiknya kita selesaikan ini, energi yang kurasakan semakin besar. Kurasa tak lama lagi benda itu akan meledak."


Deon tahu Kuro mempunyai suatu yang tak ingin dibahas, karena itulah dia mengalihkan pembicaraan.


"Aku mengerti."


Lingkaran sihir hitam bersamaan cahaya kecil bagai kunang kunang muncul di bongkahan besi Dragon Arm. Deon lalu mengangkat pedang hitamnya ke atas dan cahaya kristal Cursed Arm mulai bersinar terang.


"Kuro, dengan kekuatan Lucifer aku sanggup menteleportasikan mereka ke tempat yang jauh dan aman, tapi untuk itu..."


"Aku tahu. Yang terpenting lakukan apa yang harus kau lakukan. Serahkan semuanya kepadaku."


".....terima kasih, Kuro..dan selamat tinggal."


Setelah mengucapkan kata terakhirnya dengan tersenyum, aura besar menyelimuti Deon seperti api yang tiba tiba membesar. Disaat bersamaan tekanan mana besar terpancar dari tubuh Deon.


"Haaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!"


Dengan teriakan keras, Deon langsung menghilang di udara tipis bersamaan dengan bongkahan besi Dragon Arm.


"........"


Yang tersisa hanyalah Kuro dan kedua Dragon King dan setelah beberapa detik kemudian. Di kejauhan, cahaya seperti bintang bersinar bagai kilat dan ledakan dahsyatpun terjadi.


KABOOOOOOOMMM!!!!


Ledakan dengan radius 40 km menghancurkan apapun yang berada di dalam jangkauannya. Tanah bergetar bagai gempa bumi dapat dirasakan meskipun berada di Drageass yang terletak jauh dari ledakan.


"A-Apa yang terjadi?"


Diana hanya bisa melebarkan matanya saat melihat kekuatan dahsyat yang mampu menghancurkan kehidupan dalam sekejap itu. Dia bahkan lupa sedang bertarung dengan Cross.


Tiba tiba, Cross muncul dan melayang tak jauh dari Diana dan menyaksikan pemandangan yang sama.


"Bukankah sudah kubilang, apapun yang terjadi, kalian tak bisa menghentikan mereka."


Diana langsung menoleh ke arah Cross karena mengingat apa yang dikatakan Cross tentang kekuatan yang tersembunyi milik Liberia.


Kekuatan apa yang sebenarnya dimiliki musuh mereka? Diana bahkan tak ingin membayangkannya.


"?!"


Tiba tiba Cross berada di depannya dan langsung menebas Diana, tapi perisai udara tiba tiba muncul sebagai pertahanan otomatis terhadap serangan Cross.


"Percuma!"


Tapi pedang Cross memotong perisai angin bagai kertas dan akhirnya mengenai tubuh Diana.


Mata pedang Cross menembus Dragon Gear dengan mudahnya dan akhirnya mengenai darah dan daging Diana.


"Guu ah.."


Darah merah kental mengalir deras dari lukanya, tapi tak hanya itu yang dilakukan Cross. Tak puas dengan menebasnya, Cross juga langsung menendang tubuh Diana dengan kekuatan penuh sehingga membentur tanah dengan keras bagai bom.


Tak ada tanda menyesal atau merasa kasihan. Yang terpenting baginya saat ini adalah menghancurkan Diana.


Beberapa detik kemudian asap debu menghilang dan memperlihatkan sosok Diana yang setengah mati, tapi cahaya hijau bersinar dari Dragon Gear yang dikenakannya. Setelah itu perlahan luka Diana mulai menutup dan begitu pula dengan Dragon Gear yang mulai kembali semula.


Cross tak menunjukkan keterkejutannya dengan apa yang terjadi. Tapi tak berlaku dengan Diana. Matanya terbuka lebar seolah melihat suatu yang mengejutkan untuk pertama kalinya.


"A-Apa yang terjadi kepadaku? ...bu-bukankah aku tadi?"


Diana melihat kedua tangannya dan masih belum percaya dengan apa yang terjadi kepada dirinya.


"Kenapa kau begitu terkejut?"


Cross datang dengan terbang melayang perlahan. Pedang hitam besar yang masih berlumuran darah dia taruh di pundaknya dengan santai.


"Bukankah itu adalah kekuatan yang kau impikan setelah membuat kontrak dengan Shapira? Atau kau berpikir hanya bisa bergerak dengan cepat saja kekuatan yang kau dapatkan? .....Diana, bagaimana rasanya menjadi abadi, bukankah menyenangkan?"


"Abadi?....?!"


Mata Diana semakin terbuka lebar setelah menyadari apa yang Cross maksud.


"Jangan bilang legenda itu...benar benar terjadi?"


Ada banyak legenda mengenai Dragon King. Selain mereka dikenal memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi masing masing Dragon King juga mempunyai legenda tersendiri.


Shapira yang dikenal sebagai Dragon King berelemen angin tak hanya memiliki kekuatan mengendalikan angin dan menjadikan angin sebagai kekuatan dirinya. Mengendalikan angin dan membuat badai, hujan dan bencana alam adalah suatu yang bisa dilakukan Shapira dengan mudah. Karena itulah Shpaira juga dikenal sebagai naga yang bisa mengendalikan cuaca.


Tapi ada satu lagi kekuatan Shapira yang membuatnya spesial, yaitu memberikan kehidupan kepada makhluk lainnya. Dan kekuatan inilah yang membuat pengontraknya (manusia terpilih) dapat beregenerasi seperti memiliki kekuatan hidup abadi.


Inilah yang terjadi kepada Diana saat ini.


Dan ini pula yang membuat ada legenda tentang pengontrak Shapira yang hidup sampai ratusan tahun.


"Ya. Dan jika legenda itu benar, kau seharusnya tahu kekuatan Dragon King yang lain dalam legenda juga benar, terutama legenda tentang Dragon King terkuat."


Diana langsung menatap Ruby dan Kuro yang berada terbang di kejauhan.


"..tapi hal itu tak ada hubungannya dengan hal ini."


Cross menoleh ke arah asap yang membumbung tinggi di kejauhan. Asap tebal yang merupakan bekas ledakan bagaikan letusan gunung berapi.


"Aku tak menyangka sumber energi yang mereka berikan benar benar luar biasa dan indah."


"Apa maksudmu?"


"Mungkin kau tak tahu, tapi energi yang menggerakkan Dragon Arm adalah salah satu Black Technology."


"?!"


Black Technology adalah sebutan teknologi dari dunia lain yang diciptakan oleh Demon King. Ponsel dan Radio adalah salah satunya, tapi ada beberapa teknologi yang sangat berbahaya jika salah digunakan.


Tapi pembuatan Black Technology sangat dirahasiakan atau bahkan tak ada yang mengetahuinya selain Demon King itu sendiri.


"Aku masih tak tahu bagaimana cara mereka mengetahuinya, tapi kau semakin mengerti maksudku kan?"


"........"


Diana langsung berkeringat dingin karena dapat membayangkan apa yang terjadi jika yang dikatakan Cross benar.


Cross tiba tiba terbang perlahan ke atas.


"Kurasa sudah saatnya untuk mengakhiri ini kah..."


Diana dapat merasakan tekanan mana Cross meningkat pesat. Dan setelah mendengar perkataannya tadi, Diana tahu apa yang akan Cross lakukan.


Diana memunculkan sayap dan langsung menyusul Cross.


"Gungnir."


Sebuah tombak merah muncul di tangan Diana lagi. Diana menggenggam erat tombaknya dan langsung bersiap menghunuskannya ke arah Cross, tapi..


"?!.... kenapa tiba tiba tubuhku..."


Kesadaran dan tenaga Diana tiba tiba seolah menghilang seperti tersedot. Tubuhnya terasa berat dan dia tak bisa mempertahankan Magic Arm miliknya.


"Kenapa?"


"Mungkin kau tak tahu, tapi aku sudah menanamkan sebuah racun kepadamu disaat aku menebasmu tadi. Kurasa sudah mulai bekerja."

__ADS_1


Cross sejak awal tahu kekuatan yang dimiliki Diana setelah membuat kontrak. Karena itulah Cross menyuntikkan racun ke tubuh Diana.


"Si..sial."


Kesadaran Diana perlahan memudar dan akhirnya dia dengan perlahan jatuh ke bawah dan membentur tanah.


Dia tak terluka, tapi sekarang dia tak berdaya. ...dan tak bisa berbuat apapun selain menatap apa yang akan dilakukan Cross.


"........"


Sementara itu, Aldest yang sejak awal hanya bisa melihat dan tak ikut campur pertarungan keduanya hanya bisa terkagum dan sadar bahwa pertempuran ini telah berada di level yang tak bisa dibayangkan siapapun.


Tapi disaat yang sama dia menyadari bahwa Cross mulai melakukan suatu yang berbahaya. Jika dia berusaha melawan Cross, tentu itu sama saja dengan mengantar nyawa karena dia bukanlah tandingan Cross.


(Ini buruk. Apa yang harus kulakukan?)


Dia panik, tapi pengalamannya  memaksanya untuk tetap tenang karena jika dia panik, maka dia justru semakin kesulitan.


(Kurasa aku harus menolong putri Diana terlebih dulu.)


Aldest langsung berlari menuju Diana yang tersungkur ke tanah dan terlihat tak berdaya. Tak lupa dia menyuruh Hall untuk melindunginya jika Cross berusaha menyerangnya.


Karena jarak yang cukup jauh, maka butuh waktu untuk sampai ke tempat Diana. Tapi disaat yang bersamaan dia dapat merasakan tekanan mana yang begitu besar dan mengerikan dari Cross.


(Aku baru pertama kalinya merasakan tekanan mana seperti ini.)


Jika dibandingkan dengan Deon, tekanan mana mereka terlalu berbeda.


"?"


Aldest melirik Kuro.


Pertarungan Kuro dengan Deon dan Dragon Arm sudah selesai dan seharusnya Kuro langsung ke tempat Diana untuk membantu melawan Cross, tapi sejauh ini Kuro tak melakukan apapun.


(Mungkinkah..)


Aldest langsung menajamkan penglihatannya dan merasakan energi yang terpancar dari Kuro. Dan tebakannya benar.


Nafas Kuro terengah engah dan dia banyak mengeluarkan keringat. Tekanan energi juga semakin kecil pertanda Kuro sudah hampir mencapai batasnya.


Tapi Kuro juga menyadari sedang dalam masalah besar. Kuro melirik Aldest dan mengatakan sesuatu.


"?!"


Meskipun dari jauh dan tak dapat mendengar apa yang Kuro katakan, tapi dia mengerti apa yang Kuro maksud dan langsung mengangguk.


(Hall. Bersiaplah!!)


Tak ada respon berarti dari magic beast Aldest, tapi Aldest tahu bahwa Hall tak akan mengecewakannya.


Aldest sampai di tempat Diana dan langsung membantunya berdiri.


"Putri Diana, bertahanlah..."


Lemas dan tak berdaya, itulah kondisi Diana saat ini. Tapi Aldest tak menemukan tanda bahwa Diana sedang dalam bahaya.


"....ha... ha... ha... ter-rim..a ka.sih.."


"Jangan banyak bicara Putri Diana, sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya."


Dengan dibantu Hall, Aldest membawa tubuh Diana menjauh dari tempat itu.


Tapi tiba tiba cahaya hitam terpancar dari langit. Aldest langsung melihat ke atas dan menemukan lingkaran sihir raksasa berdiameter lebih dari 5 kilometer.


"..........."


Aldest langsung berkeringat dingin karena melihat suatu yang bahkan penyihir Paladin tak bisa melakukannya.


(Tch...!)


Aldest tak punya pilihan lain selain terkejut dan berusaha melarikan diri.


Di langit, Cross membuka matanya setelah selesai mempersiapkan sihir terkuatnya.


Dia menaruh pedang di depannya dan memegangnya dengan kedua tangannya. Dan kemudian pedang itu melesat ke pusat lingkaran sihir dan menghilang bagai tertelan.


Kemudian, satu persatu pedang hitam muncul dari lingkaran sihir tepat mengarahkan mata pedangnya ke bawah. Tak ada yang tahu jumlah pasti, tapi pedang hitam itu memenuhi lingkaran sihir dan bersiap jatuh ke bawah.


"Dengan ini, semuanya berakhir. Semua pedang itu adalah pedang yang memiliki kekuatan sama dengan Ascalon. Meskipun Dragon King, aku yakin kalian tak akan bisa bertahan."


Cross lalu mengangkat tangannya ke atas. Disaat bersamaan ribuan pedang hitam sudah bersiap jatuh.


"Terimalah ini. Cursed Magic Art, Blade of Destr- ?!"


Sebelum menyelesaikan sihirnya, Cross dikejutkan oleh Kuro yang tiba tiba berada di depannya dengan sabit besar milik magic beast Aldest.


"Kau harusnya tahu, sihir skala besar memiliki kelemahan yang sangat mencolok."


Cross langsung tahu apa yang Kuro maksud. Dan dia juga mengerti kenapa Kuro tak bergerak sama sekali setelah Deon menghilang, yaitu mengumpulkan energi agar bisa menggunakan Accell Art untuk menyerang secara tiba tiba disaat Cross lengah.


"Maaf saja, tapi kau akan mati disini!!"


Kuro tanpa ragu menebas tubuh Cross yang tak memiliki pertahanan sama sekali menjadi dua bagian, dan karena sabit Hall memiliki kekuatan untuk memisahkan jiwa dan raga seseorang, maka regenerasi Cross tak berguna sama sekali.


Tubuh Cross terbagi menjadi dua dan perlahan jatuh ke bawah.


Selain dikenal sebagai keturunan Demon King, Kuro juga merupakan orang biasa yang memiliki kekuatan setara penyihir peringkat Master. Karena itulah dia cukup berbahaya. Cross sudah mengetahui hal ini saat Kuro memperlihatkan kekuatannya setiap kali dia berkunjung.


Dia pikir sudah mengetahui segalanya, bahkan termasuk kekuatan yang didapat dari Eyes of Origin, tapi dia salah.


Kuro dikenal sebagai Witch Reaper bukan tanpa alasan. Dan juga bukan karena Kuro mampu membunuh penyihir meskipun dirinya hanya orang biasa.


Semua itu karena Kuro tahu kapan dan bagaimana menggunakan kekuatan dan kelemahannya dengan baik sehingga dirinya dapat menggunakan kekuatannya secara maksimal. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah fakta bahwa Kuro dapat menggunakan Magic Arm milik penyihir lain adalah suatu yang lebih luar biasa daripada Eyes of Origin.


Sejak dulu sudah diketahui bahwa hanya pemilik Magic Arm dan Magic Beast yang mampu dapat menggunakan milik mereka. Dan jika ada yang berusaha meminjam, maka hanya pemilik yang mengizinkanlah yang dapat membuat mereka menyentuh atau menggunakan Magic Arm dan Magic Beast milik penyihir lain.


Tapi meskipun dipinjamkan, bukan berarti dapat menggunakan kekuatan yang dipinjamkan hingga penuh dan hingga sekarang diketahui bahwa hanya setengah saja dari kekuatan aslinya.


Dan hal ini seharusnya juga terjadi kepada Kuro, tapi Kuro mampu menggunakan kekuatan asli milik Hall. Inilah kekuatan yang tak pernah dia tunjukkan kepada orang lain bahkan termasuk Laila dan Electra.


Tidak, dia pernah menunjukkan pada keduanya, tapi itu hanya bagian luarnya saja. Kekuatan sebenarnya dari Dominator lebih dari itu.


Senyuman muncul di bibir Cross. Wajahnya entah mengapa tak menunjukkan marah, kesal dan semacamnya karena serangan terkuatnya digagalkan oleh Kuro. Disaat yang sama dia sadar sihir khusus milik Hall mulai bekerja kepada dirinya. Mungkin hanya butuh beberapa detik sebelum jiwanya meninggalkan tubuhnya.


Sebelum itu, Cross mengucapkan kata terakhirnya.


"Bisakah kau melindungi seseorang dengan kekuatan terkutuk itu, Kuro...?"


Tak ada jawaban keluar dari bibir Kuro.


Kuro hanya melihat tubuh Cross membentur tanah dengan keras dan menghilang menjadi partikel cahaya yang tertiup angin. Disaat bersamaan lingkaran sihir dan ribuan pedang hitam di langit perlahan menghilang. Tekanan mana yang menakutkan dan mengerikan juga perlahan menghilang.


Sementara itu, Diana perlahan mulai membaik. Cahaya kembali terpancar dari matanya dan dia bisa berdiri sendiri.


"Terima kasih, Aldest. Tapi aku sekarang baik baik saja."


"Kuharap anda tak terlalu memaksakan diri. Kita masih tak tahu seberapa besar efek racun yang berada di dalam tubuhmu."


".....aku mengerti." jawab Diana sambil melihat tempat ke arah bekas tubuh Cross menghilang.


(Kak Cross... kenapa kau melakukan semua ini?)


Diana masih belum percaya bahwa semua yang terjadi adalah perbuatan Cross. Meskipun memang benar dirinya berubah menjadi monster dan menggunakan pedang terkutuk Ascalon untuk memperkuat dirinya dan menggunakan Dragon Arm untuk menghancurkan negerinya, entah mengapa ada suatu yang mengganjal di hatinya.


Di udara, Kuro masih terdiam dengan membawa sabit besar milik Hall. Dia menyaksikan semua yang terjadi tanpa berbuat apapun.


"Aku terus akan menggunakan kekuatan terkutuk ini..."


Kuro menatap langit malam.


"Meskipun aku gagal, bukan berarti aku akan berhenti dan bukan berarti aku akan kehilangan kekuatan ini.... ?!"


Tiba tiba Kuro merasakan dadanya sakit yang luar biasa.


Ba tumb! Ba tumb! Ba...tumb..!


"Gu ah..."


Kuro memuntahkan darah merah kental dari mulutnya dan langsung melepaskan sabit besar di tangannya. Pandangannya memudar dan kesadarannya mulai menghilang.


Tetapi itu belum cukup untuk membuatnya tumbang.


Dia mengarahkan tangannya ke langit dan tersenyum. Saat ini dia ingin sekali merasakan kehangatan dari seorang yang dia sayangi.


"Lai....la..."


Dragon Gear tiba tiba lenyap dan menunjukkan Kuro yang penuh luka dan terlihat hampir sekarat.


Dan karena gaya gravitasi, tubuh Kuro perlahan jatuh ke bawah dengan kecepatan tinggi.


"Tuan Kuro!"


Diana menumbuhkan sayapnya dan terbang menuju Kuro, tapi sebelum sempat dirinya sampai, sesosok bayangan besar menangkap tubuh Kuro dan membawanya terbang. Sosok bayangan itu adalah Laiko yang kemudian perlahan turun di tempat Laila, Knox, Jinn, Charlmilia dan Lairo berdiri.


Laiko lalu menurunkan Kuro di pelukan Laila.


"Kuro..."


Saat melihat sosok Kuro, Laila langung meneteskan air matanya dan memeluk tubuh Kuro yang terasa dingin.


Diana dan kelima orang lainnya hanya bisa melihat dari jauh apa yang terjadi kepada Kuro. Mereka tak bisa membayangkan apa yang dirasakan Laila saat ini.


Tapi yang membuat mereka lebih sedih adalah tak bisa melakukan apapun untuk Kuro saat ini karena air mata Phoenix sudah tak tersisa lagi. Dan karena hanya Kuro yang mampu mendapatkannya, maka mereka juga tak tahu bagaimana mencari.


Shapira dan Ruby juga mendekat dan menjatuhkan pedang putih di dekat mereka.


[Queen, dan semuanya..]


""""""!!!!!!!!""""""


Semua terkejut saat tiba tiba mendengar suara seorang wanita di kepala mereka seperti melalui telepati.


"Semuanya, itu adalah suara Shapira. Kalian tak perlu kawatir."


Diana menoleh ke arah Shapira.


"Bisakah kau melakukan sesuatu terhadap tuan Kuro dengan sihir pemulihmu?"

__ADS_1


Semua ikut menatap ke arah Shapira dengan tatapan penasaran dan penuh harapan.


Jika Shapira mampu membuat Diana hampir abadi dan mampu meregenerasikan luka agar cepat pulih, maka mereka bisa melakukan sesuatu dengan luka Kuro.


Tapi Shapira justru tak langsung menjawab dan menunjukkan tatapan rumit.


"Shapira?"


[Queen, maaf, tapi aku tak bisa melakukan apapun dalam hal ini.]


"Kenapa? Bukankah kau mampu menyembuhkan lukaku dalam sekejap? Lalu kenapa kau.."


[Itu karena luka yang diderita King sedikit berbeda dengan luka biasa yang kau dan kalian semua alami.]


Tiba tiba Shapira menoleh ke arah ledakan besar yang terjadi sebelumnya.


[Kami tahu kalian cemas dengan keadaan King, tapi seperti yang kalian tahu, pertarungan masih belum berakhir.]


Semuanya melebarkan matanya karena menyadari apa yang Shapira maksud. Mereka tak terkejut, bahkan sudah mempersiapkan hal ini.


Tekanan mana besar tiba tiba muncul di udara. Bersamaan dengan hal itu, sosok hitam bersayap yang mereka kenal telah kembali.


Deon, tidak. Sekarang mereka merasakan tekanan mana yang berbeda dari sebelumnya. Penuh kebencian, dendam, iri dan semua perasaan negatif begitu terasa dari sosok itu.


"Yo.... bisa kita lanjutkan.... permainannya?"


Gigi taring yang semakin besar dan tajam. Sayap yang sebelumnya mirip sayap naga berubah menjadi sayap bulu hitam. Dua tanduk sekarang bertambah menjadi tiga.


Sosok itu bukanlah Deon, tapi sosok iblis Lucifer yang juga dikenal sebagai salah satu pemimpin para iblis. Pedang besar yang sebelumnya milik Deon berada di tangannya dan berubah menjadi lebih kecil, tapi memancarkan aura yang lebih berbahaya daripada sebelumnya.


"I-Itukah sosok Lucifer yang telah mengambil alih tubuh Deon?"


Lairo bergetar dan pucat pasi karena ketakutan. Ketakutan dan teror ini adalah pertama kali dia alami, tapi tiba tiba tangannya dipegang oleh sebuah tangan halus yang penuh lecet.


Lairo menoleh ke arah Aldest yang tersenyum kecil.


"Jangan takut, aku ada disini. Selain itu apa kau tak malu kepada mereka?"


Lairo lalu melirik ke arah Knox dan lainnya. Mereka menunjukkan ekspresi yang sama, tapi tak ada pertanda mereka akan mundur atau lari.


Tapi yang lebih mengejutkan, dia melihat sosok Kuro kembali bangkit meskipun dia terlihat bisa mati kapan saja.


"Guh..."


Darah keluar dari mulut Kuro. Kuro langsung saja mengusapnya dan meludahkan sisa darah yang masih tersisa.


Kuro menoleh ke arah Laila yang berada di sampingnya dengan wajah kawatir dan sedih, tapi Kuro justru tersenyum.


"Terima kasih telah menuruti keegoisanku, semuanya. Terutama kau, Laila. ...maaf telah membuatmu kawatir, tapi seperti yang sebelumnya kubilang, aku akan melawan Lucifer dengan tang- tidak, dengan kalian semua."


"...ya, kami tahu, itu Kuro."


Setelah menggunakan Dragon Gear, Kuro dapat menggunakan telepati pribadi ke Laila, disaat itulah dia menceritakan berbagai hal termasuk rencana selanjutnya dan kejadian terburuk yang kemungkinan besar akan terjadi, yaitu kebangkitan Lucifer.


Kuro juga memberi tahu bahwa kemungkinan besar dia akan terluka parah dan hampir tak bisa bertarung, karena itulah dia memberi tahu bahwa akan bertarung dengan semuanya untuk pertama kalinya.


"....tapi melihatmu seperti ini tetap membuatku sedih berapa kalipun aku melihatnya."


Kuro justru tertawa kecil.


"Maaf, tapi aku sudah sering mengalami luka seperti ini, hanya saja sekarang aku mempunyai alasan yang lebih kuat untuk bertahan hidup."


Wajah Laila langsung memerah padam.


"Karena itulah, jangan kawatir. Aku akan menepati janjiku padamu untuk segera melamarmu."


""""Huh!!""""


Semua yang mendengar hal itu pertama kali langsung terkejut. Mereka tahu Kuro dan Laila sekarang adalah sepasang kekasih, tapi tampaknya hubungan mereka lebih serius daripada yang terlihat.


"Ja-jangan mengatakan hal itu di depan umum, itu memalukan."


Laila lebih memerah daripada sebelumnya dan terlihat benar benar malu. Laila juga terlihat marah, tapi Kuro hanya tertawa kecil dan langsung mendekap kepala Laila di dadanya.


Kuro menatap semuanya, lalu dia menatap Lucifer yang berada di atas mereka.


Gerbang dimensi muncul di sekitarnya dan berbagai Hell Beast muncul dalam posisi bersiap bertarung.


Lucifer tersenyum kecil melihat Kuro dan lainnya sudah bersiap bertarung untuk melawannya.


"Menarik. Ini sungguh menarik, King!"


"....."


"Baiklah, aku sudah menyiapkan permainan yang bagus untuk merayakan hal ini."


Lucifer mengangkat pedangnya dan langsung menebas udara. Tak berapa lama kemudian langit terbelah dan retak seperti kaca yang pecah. Kemudian dari balik pecahan munculah cahaya kemerahan dari api yang membara bersamaan dengan suara teriakan yang menakutkan dan memilukan.


Perasaan takut dan jijik bercampur, tapi mereka tak mempunyai waktu untuk itu.


Knox langsung menyipitkan matanya.


"Inikah sihir kegelapan, Hell Gate of Flame yang mampu menghanguskan bumi sehingga tak ada kehidupan selama seribu tahun?"


Dalam sejarah pernah disebutkan bahwa karena suatu sihir misterius dalam peperangan, sebuah wilayah seluas negara kecil hangus dan tak bisa dihuni oleh kehidupan selama lebih dari seribu tahun. Sampai sekarang tanah itu masih hangus dan tak bisa dihuni oleh makhluk hidup apapun.


Sihir misterius itu tak diketahui karena dirahasiakan, tapi bukan berarti tak diketahui.


Setelah mengetahui musuh mencuri Skullia Crystal, maka mereka sudah mencari hal terburuk yang akan terjadi. Dengan mencari tahu dari data dan dokumen di masa lalu, mereka dapat memprediksi apa yang terjadi selanjutnya dan kemudian mereka menyusun strategi untuk meraih kemenangan.


Inilah alasan Kuro dan lainnya tak terkejut dengan apa yang terjadi selama perang ini terjadi, tapi yang paling penting adalah mereka mempunyai cara agar dapat mengalahkan Lucifer.


"Bisakah kita mengalahkannya?" tanya Knox.


"Ahh... tentu saja." jawab Kuro setelah membuka matanya yang kini berubah menjadi putih bagai cermin.


Semua yang melihat pertama kali merasa terkejut, tapi disaat yang sama tak merasakan apapun meskipun Kuro menggunakan mata yang sama dengan Demon King.


"Tapi kita hanya punya waktu 13 menit, bisakah kalian melakukannya?"


Kuro mengatakan itu dengan tersenyum, tapi tak ada yang bisa tersenyum setelah mengetahui bahwa mereka hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit, terutama Laila. Dia terlihat lebih sedih daripada siapapun juga.


Mereka sebenarnya sudah membuat rencana, tapi tingkat keberhasilan rencana ini terbilang sangat kecil.


"Kau pikir siapa kami?" jawab Jinn.


Dia langsung menggunakan Magic Arm yang kini sudah menyatu dengan Knight Gear.


"Kami hanya harus mengulur waktu untukmu, aku pikir itu bukanlah suatu masalah."


Knox ikut maju dan memanggil Magic Beast miliknya, Legion. Laila dan Charmilia sedikit terkejut karena ini baru pertama kalinya mereka melihatnya.


"Jangan kawatir, Paladin atau iblis sekalipun tak akan bisa mengalahkan kita, Byakko."


Sosok harimau putih dengan dua taring besar muncul di dekat mereka.


"Ini masih bukan apa apa."


Charmilia tersenyum kecil. Disaat yang sama tekanannya semakin meningkat pesat dan aura biru keputihan terpancar darinya.


"Tolong rahasiakan hal ini, aku tak mau menggunakan hal ini lagi.. Byakko, Tiger God Form!"


Byakko langsung meraung dengan keras dan aura juga terpancar dengan keras menimbulkan angin yang sangat kuat.


Kemudian angin, air dan petir terpancar dari tubuh Byakko yang sekarang berubah menjadi Byakkura.


"Ini..."


Byakko telah ke wujud Byakkura sepenuhnya, tapi berbeda dengan wujud yang dia perlihatkan saat berduel dengan Kuro di Kuryuu Academy. Dua pedang yang dulu Byakkura pakai sekarang berubah menjadi dua pedang kecil yang mirip sebuah belati. Byakkura yang tak pernah memakai apapun sekarang memakai sebuah armor ringan berwarna perak dan penuh hiasan emas. Tapi perubahan yang paling mencolok adalah 7 buah kendang yang melayang di punggung Byakkura.


"Benar, maaf saja. Aku tak hanya bisa mengendalikan dua elemen, tapi 3 elemen sekaligus."


Angin berhembus kencang saat Charlmiilia menjelaskan kekuatannya yang sebenarnya.


Sementara itu selain Kuro dan Aldest semuanya melebarkan matanya karena melihat suatu yang luar biasa.


"Byakko adalah Divine Beast yang dikenal bisa mengendalikan 3 elemen, jadi tak mengherankan jika Charlia bisa melakukannya." jelas Kuro.


Kuro menatap Lucifer dan ratusan Demon Beast yang menutupi langit malam. Setelah mendesah kecil, Kuro menatap Laila dan tersenyum kecil.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Kenapa kau bertanya?"


"...."


"Selama ini aku yang selalu kau lindungi dan tak bisa berbuat apapun. Aku tak mau terus menatap punggungmu, jadi.."


Laila maju dengan ekspresi yang tak pernah dilihat siapapun sebelumnya.


Laila menoleh ke belakang.


"Kali ini giliranku untuk melindungimu. Akan kugunakan semua kekuatanku untuk melakukannya."


Puluhan pedang api tiba tiba memenuhi langit membentuk formasi perisai. Tak hanya itu, semuanya bergerak seolah dikendalikan oleh Laila.


Tiba tiba Diana mendekat dan memberikan pedang putih kepada Kuro.


"Tuan Kuro, aku juga akan berusaha."


Setelah memberikan pedang Kuro, Diana maju di samping Laila. Mereka saling melirik satu sama lain. Aura persaingan terpancar dari mereka, tapi keduanya tersenyum kecil setelah itu.


"Baiklah, kami berdua juga akan melakukan sesuatu sebagai Knight. ...kami tak mau anak kecil seperti kalian membuat kami rendah terus menerus."


Aldest dan Lairo tak mau kalah. Mereka berdua maju dan bersiap dengan sihir mereka.


Kuro yang melihat semua itu terdiam, tapi kemudian tersenyum kecil.


Dia berpikir sangat beruntung bisa bertarung dengan mereka semua. Dia memiliki kekasih yang kuat dan dengan gagah berdiri di depannya. Entah mereka bisa disebut teman atau tidak, tapi mereka kini bertarung dengan segala kemampuan mereka.


Hal ini membuatnya sedikit mengingat masa lalu. Masa yang menyenangan, tapi adapula masa yang tak menyenangkan.


"Jangan salahkan aku jika kalian mati...."


Kuro menghunuskan pedangnya ke arah Lucifer.


".......pertarungan dimulai.." "Permainan dimulai."

__ADS_1


__ADS_2