
3 hari berlalu sejak pesta dan sekaligus penghargaan untuk Kuro dan lainnya.
Meskipun masalah bisa dibilang selesai, Kuro berencana kembali ke kota Areshia seminggu setelah pesta karena masih perlu melakukan banyak hal di ibukota. Salah satunya adalah meluruskan beberapa hal tentang hadiah berupa pertunangannya dengan Riana.
Meskipun dibilang Kuro menolak, namun dia tak bisa begitu saja melakukannya mengingat Sei adalah Kaisar. Selain itu jika masyarakat tahu dia menolak pertunangannya, dia akan mendapatkan hukuman lain dari masyarakat. Dan itu lebih buruk daripada mendapatkan hukuman mati.
Alasannya tentu karena Riana begitu populer di masyarakat. Dia bahkan ibarat orang suci dan jelmaan malaikat yang turun ke dunia. Semua itu terjadi tak lepas dari kepeduliannya pada masyarakat yang kesusahan dan menerima masalah.
Jika ada yang tahu Kuro menolak bertunganan dengan orang seperti itu, kehidupan Kuro tak akan bisa tenang.
Karena itulah Kuro membuat perjanjian untuk tak membahas atau menyebarkan berita itu sebelum Battle War lewat atau setidaknya sudah dipastikan dia kalah atau menang. Dan tentu juga meminta Sei untuk menutup mulut siapa saja yang mengetahui berita itu.
Masalah lainnya adalah dia masih belum pulih dari pertarungan sebelumnya. Dari luar memang terlihat dia baik baik saja, namun itu hanya luarnya. Laila tahu itu dan karena itulah mereka memutuskan untuk tak terburu buru pulang.
Lalu untuk kesekian kalinya, hari ini Kuro dan Laila, tak lupa bersama dengan Lic pergi ke istana kaisar. Tujuan mereka bukan untuk membahas Lic. Masalah itu sudah selesai dengan cukup baik. Sementara itu Riku tak bersama mereka karena berada di rumah tidur siang.
Di cuaca yang cerah ini, akan terjadi suatu hal yang menarik. Itulah tujuan kenapa mereka ke istana.
Seperti yang sudah diputuskan di acara pesta, hari ini adalah hari di mana Arthuria dan Victoria akan melakukan duel.
Tempat yang mereka tuju adalah tempat latihan ruang bawah tanah yang berada di bawah istana. Mengingat siapa yang akan berduel, pengaman yang digunakan adalah tahap maksimal. Akan berbahaya jika salah satu serangan meleset menghancurkan istana dan terbang ke arah kota.
Saat mereka tiba, sudah banyak yang berkumpul. Selain kedua belah pihak yang akan bertarung, namun ada juga Sei dan beberapa orang seperti penjabat tinggi di Kekaisaran. Sedangkan Riana tak terlihat karena saat ini dia sedang melihat kondisi pembangunan kembali kota yang hancur.
Lalu pihak lain yang ada adalah Charlmilia, Knox dan Jinn.
Meskipun Charlmilia sekarang menjadi tuan putri kaisar, namun bukan berarti dia memilih untuk tak bergaul dengan sahabatnya. Singkatnya dia tak akan menjadi orang lain meskipun posisinya berubah.
Pengumuman tentang Charlmilia akan dilakukan 3 hari lagi setelah semuanya dianggap aman dan tepat.
Jika melihat siapa yang datang, maka tak heran jika berpikir Aldest dan Electra akan terlihat. Namun keduanya sudah kembali ke kota Areshia bersama dengan Irho.
"Kami tak terlambat kan?"
Ketiganya menoleh ke arah Kuro.
"Tidak." jawab Charmilia. "Pertarungan masih belum dimulai. Hm... Mungkinkah dia Lic? Aku pikir dia sedikit berbeda daripada dulu."
Charlmilia menunjukkan tatapan tertariknya pada Lic yang kini bersembunyi di balik Laila.
"Uh... Dia sangat manis."
"Kau benar. Dulu dia terlihat kaku, namun sekarang dia benar bebas mengekspresikan apapun yang dia rasakan. Lic, kau masih ingat dengan bibi Charlmilia?"
"Ugh bibi.."
Charlmilia ingin protes saat menyebut dia bibi, namun Charlmilia tak bisa saat melihat tingkah imut dan lucu Lic.
Memang sepintas tak ada yang berbeda dengan penampilan Lic dari yang dulu. Namun seperti yang Laila bilang, perubahan Lic lebih kepada emosional.
"Jangan kawatir. Kakak sama sekali tak menakutkan."
Charlmilia mencoba mendekat dan merayu Lic, namun Lic masih belum bisa menerima Charlmilia.
"Dia membenciku?"
"Tidak. Dia hanya pemalu dan tak terbiasa dengan orang yang jarang dia temui. Yah.. Jika ingin akrab dengannya, kau memiliki banyak waktu."
Charlmilia tersenyum tanda mengerti.
"Itu benar. Tetapi aku juga ingin bertemu dengan Riku. Apakah kau tak keberatan aku berkunjung?"
"Silahkan saja jika kau ingin datang. Tetapi Riku lebih sering berada di rumah ibu. Maklum saja dia adalah cucu pertama mereka."
"Aku bisa membayangkan apa yang terjadi."
Charlmilia akhirnya bisa mengerti kenapa Kuro menunjukkan wajah tak senang dan terlihat sedang memendam amarah pada seseorang.
Sama seperti Leon dan Lia, Kuro mana mungkin tak ingin menghabiskan waktu bersamanya?
"Itu bukan masalah besar. Kami akan segera kembali ke kota Areshia. Lebih baik membiarkan mereka bersama Riku sampai saat itu tiba."
"Memiliki keluarga yang terlalu penyayang kadang sedikit membuat masalah."
"Aku tak bisa membantahnya."
"Sebaiknya kalian simpan obrolan kalian nanti. Pertarungan akan segera dimulai."
Knox memotong pembicaraan mereka.
Meskipun tak sopan, namun keduanya harus berterima kasih karena telah mengingatkan.
Seluruh mata kini tertuju pada arena yang berbentuk persegi dengan panjang masing masing sisi 50 meter. Kedua belah pihak berada di susut yang berlawanan dengan atmosfer yang cukup tegang.
"Laila, aku ingin kau memperhatikan pertarungan ini dengan baik. Ini akan sangat penting bagimu dan Charlia."
"Kuro, apa maksudmu?"
"Kalian lihat saja nanti. Inilah alasan kenapa anak ayam itu meminta pertarungan dengan Victoria. Anggap saja sebuah hadiah dari paman Riku."
Tak berapa lama kemudian hitungan mundur telah dimulai.
""
Gerakan pertama dimulai dari Arthuria. Dia memanggil Magic Arm dan langsung melesat ke arah Victoria. Dengan penambah kecepatan dan sihir penguat tubuh, jarak 50 meter bisa dicapai hanya dalam kedipan mata.
Victoria hanya tersenyum dan memanggil Magic Arm . Lalu setelah membuat kuda kuda, dia menahan serangan Arthuria.
Mungkin karena serangan Arthuria yang begitu kuat, lantai pijakan Victoria hancur membentuk kawah, tetapi Victoria sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
"Aku tahu kakak Victoria sangat kuat, namun aku tak menyangka akan sekuat ini."
Berbeda dengan Charlmilia yang terlihat kagum, Laila mengamati penuh dengan konsentrasi. Hal yang sama juga terlihat pada Knox dan Jinn.
Setelah serangan berhasil ditahan, Arthuria menyerang dengan teknik pedang. Tak hanya menggunakan teknik yang cepat, namun juga tajam dan mengincar bagian yang vital. Gerakannya begitu cepat sehingga dia terlihat seperti tak memiliki tangan.
Sayangnya, Victoria dengan mudahnya menerima dan menghindar dengan gerakan yang tak kalah cepat dan tepat.
Lalu kejadian yang tak dipercaya terjadi. Tubuh Arthuria terlempar ke belakang dengan kekuatan yang cukup dahsyat.
"A-apa yang terjadi, aku sama sekali tak melihatnya."
"Sial. Aku tak menyangka dia menggunakan teknikku untuk melawan anak ayam. Pertarungan ini akan berat sebelah."
"Teknik milikmu? Mungkinkah ?"
"Bisa dibilang ya, tapi bisa dibilang tidak. Melihat banyak yang bisa menggunakan teknik itu, sepintas teknik itu sangat mudah untuk dipelajari. Tetapi sama sekali tidak. Kau ingat dulu aku pernah menjelaskan kalau Witch Reaper sama seperti mengendalikan tubuh saat bergerak seperti peluru. Tetapi ada hal lain yang membuatnya lebih sulit."
Kuro berhenti sesaat, namun mata Charlmilia mengatakan ingin mendengar lanjutannya.
"Selain tubuh yang kuat, hal yang paling penting untuk bisa menggunakan Witch Reaper adalah respon otak yang cepat. Kau bisa menggunakan sihir untuk menajamkan penglihatan mata, tetapi kau pasti kadang merasa tubuhmu tak menurutimu kan? Teknik dasar Witch Reaper adalah menyempurnakan teknik itu dan membuat teknik yang mampu memanipulasi kerja otak. Aku memanggilnya "
"..."
Sebuah respon yang dingin untuk sebuah rahasia yang cukup besar.
Alasan Kuro memberitahukan hal ini karena sekarang teknik itu sudah cukup tersebar luas. Selain itu mereka semua pasti sudah paham prinsip di balik teknik itu setelah melihat beberapa kali.
"J-jadi kau bilang kakak Victoria bisa menggunakan ?"
Kuro mengangguk.
"Teknik itu tak hanya membuat otak merespon gerakan tubuh, namun juga membuat apa yang dirasakan oleh kelima indera menjadi lebih cepat dan tajam. Tapi efek paling besar adalah seolah waktu menjadi lambat. Contohnya, saat aku melihat celana dalam Laila hanya 1 detik, namun di mataku bisa melihatnya selama 1000 detik. Apa kau mengerti?"
"Ya. Aku mengerti. Aku mengerti kau memang mesum, Kuro."
Wajah Charlmilia memerah sambil menutup roknya yang bisa dibilang cukup pendek.
"Kuro, sudah aku bilang untuk tak membicarakan hal seperti itu di depan Lic."
"Maaf, aku hanya memberi contoh."
Aura dan tekanan dingin Laila menghilang seolah sebuah hanya ilusi.
"...tetapi jika benar, bukankah itu artinya serangan apapun tak akan mempan pada kakak Victoria?"
__ADS_1
Apa yang dibilang Charlmilia seperti sebuah doa agar Arthuria kalah, namun kenyataan terjadi seperti itu.
Setiap kali Arthuria menyerang, semuanya berhasil ditahan dan dihindari dengan baik. Lalu saat ada kesempatan, Victoria melakukan serangan balasan.
"Kau benar, tetapi bukan hanya itu saja alasan kenapa anak ayam itu masih belum bisa menyentuh Victoria. Perbedaan jangkauan senjata dan pengalaman menggunakan Magic Arm keduanya cukup besar."
Wujud Longinus yang berupa tombak memiliki jangkauan lebih besar daripada pedang milik Arthuria. Lalu ditambah dengan pengalaman Victoria yang bertarung menggunakan Magic Arm sejak kecil membuatnya memiliki teknik serangan yang bisa dibilang sempurna.
"Ah.. Mungkinkah ini berhubungan dengan Arthuria yang seorang tipe Contractor?"
Sekali lagi Kuro mengangguk.
"Kau mungkin akan bisa menggunakan Magic Arm saat menjadi penyihir peringkat Master. Tetapi kau tak akan tahu Magic Arm seperti apa yang kau miliki. Untuk mengatasi hal itu, biasanya seorang penyihir Contractor memilih berlatih untuk bisa menggunakan berbagai macam senjata. Itu tindakan yang cukup bagus. Bagaimanapun juga memiliki teknik dasar setiap senjata adalah hal yang berguna di saat bisa menjadi Master. Sayangnya, melakukan hal itu juga bisa dibilang tindakan yang ceroboh."
"Kuro, apa maksudmu?"
"Yang aku mau bilang adalah, bisa menggunakan berbagai macam senjata tak akan bisa membuatmu menang melawan seorang yang spesialis satu tipe senjata. Apa kau mengerti?"
Keunggulan pertarungan kali ini bukan hanya karena Victoria bisa menggunakan teknik Kuro, namun juga karena dia adalah penyihir tipe User yang sudah menggunakan satu jenis senjata sejak kecil. Lalu dikombinasikan dengan teknik , bisa dibilang saat ini Victoria tak terkalahkan.
"Tetapi bukan berarti aku mengatakan anak ayam itu akan kalah. Yang aku maksud jika menggunakan teknik pedang saja tak akan pernah bisa mengalahkan Victoria. Level mereka terlalu jauh."
Sebagai orang yang bertarung, Arthuria paham apa yang dikatakan Kuro memang benar. Tetapi bukan berarti dia harus menggunakan sihir dalam pertarungan kali ini. Menggunakan sihir melawan pengguna elemen suci bisa dibilang sama saja dengan bunuh diri.
Apalagi jika penyihir suci itu adalah Victoria.
Pengalamannya saat pernah berduel dengan Victoria membuktikan kekuatan sihir api sucinya bisa bertahan dari elemen suci, tetapi itu tak cukup kuat untuk memberikan serangan besar. Hal ini juga terjadi pada saat bertarung dengan Maria.
Berbekal pengalaman setelah kalah dari Victoria beberapa tahun yang lalu dan pengalaman saat mengelilingi dunia membuat Arthuria berpikir kali ini dia bisa mengalahkan Victoria.
Tetapi itu adalah pemikiran naif.
Sama seperti dirinya, Victoria juga semakin kuat seiring berjalannya waktu. Namun dia harus mengakui kalau perkembangan Victoria terlalu cepat.
Jika dibandingkan dulu, saat ini seharusnya dia bisa mendaratkan satu serangan. Tak peduli apakah itu hanya goresan kecil di kulit putih Victoria. Tetapi saat ini dia sama sekali belum bisa memberikan dampak.
Sejauh mana kekuatan Victoria?
Arthuria merasa takut, namun di saat yang sama dia merasa bergairah. Tangannya gemetar dan dia tersenyum karena menemukan suatu yang sangat menarik dan karena tak sabar untuk melanjutkan pertarungan.
Tetapi bertarung tanpa strategi hanya akan membuat dirinya kalah dan malu. Dia harus berpikir dengan keras dan menggunakan segala hal yang dia miliki untuk bertarung melawan Victoria.
Dengan kata lain-
"Sepertinya sudah cukup main mainnya. Kau setuju?"
"Ya. Aku rasa pemanasannya cukup sampai di sini saja."
Pertarungan sebelumnya hanya untuk mengukur sejauh mana kekuatan mereka berkembang setelah beberapa tahun tak bertarung. Dan hasilnya cukup memuaskan bagi mereka berdua.
"Tetapi sebelum itu, bolehkah aku bertanya satu hal?"
"Tentu."
"Apa dadamu semakin besar?"
"..."
Victoria terdiam membisu. Dia terkejut karena tak menyangka Arthuria akan menanyakan hal yang berbau seksual.
Sementara itu, di kursi penonton.
"Tolong panggil Leon. Aku ingin bertanya apa yang dia ajarkan pada putranya sehingga berani menanyakan tentang ukuran dada pada seorang gadis. Apalagi gadis itu adalah putriku."
Ajudan Sei mengangguk lalu pergi dari tempatnya.
Kembali ke arena duel.
Atmosfer di sekitar Victoria tiba tiba menjadi berat. Tak hanya itu, tekanan mana Victoria juga meningkat pesat.
Meskipun begitu, Arthuria sama sekali tak terkejut dan terlihat tetap tenang. Bagaimanapun reaksi Victoria cukup wajar.
"Fufufu... Sepertinya kau masih menyimpan perasaan padaku. Bukankah aku sudah bilang kalau aku tak tertarik dengan pria yang lebih lemah dari aku?"
Tekanan berat dari Victoria dengan cepat berganti dengan tekanan hangat.
"Aku tak membenci orang seperti dirimu. Tapi baiklah. Aku izinkan dirimu kembali bertunangan denganku jika kau menang dari pertarungan ini."
"..terima kasih, Vic."
Wajah Victoria memerah malu malu karena dipanggil dengan nama panggilan kesayangan.
"Jangan senang dulu. Itu terjadi jika kau menang. Oh iya, aku akan memberitahumu satu hal. Saat ini aku sudah punya calon suami idaman, jadi aku akan mengalahkanmu dengan mengerahkan semua kekuatanku."
Mendengar itu Arthuria tersenyum, namun dalam hati dia begitu kesal karena tak menyangka Victoria sudah memiliki target. Dan entah mengapa dia tahu siapa yang dimaksud.
"Aku tak tahu apakah kau membenciku atau menyukaiku. Tapi aku terima syarat itu. Satu hal lagi, siapa yang kau maksud dengan calon suami idaman?"
"Itu rahasia."
Dengan kedipan satu mata, Victoria menunjukan senyuman yang tak mungkin terlihat dari seorang maniak bertarung. Sisi inilah yang membuat Arthuria menyukai Victoria.
"Kalau begitu aku harus memaksamu."
"Cobalah jika bisa."
Keduanya tersenyum lalu memasang kuda kuda yang paling mereka kuasai. Anehnya, Arthuria memasang kuda kuda dengan posisi siap menarik pedang.
"..."
Bagaimanapun kau melihatnya, itu adalah kuda kuda yang aneh. Magic Arm Arthuria, Excaliburn merupakan pedang dua sisi yang tak memiliki sarung. Bahkan bisa dibilang itu bukanlah jenis senjata yang cocok untuk menggunakan teknik yang mengandalkan kecepatan.
Tetapi Victoria tahu. Apa yang dilakukan Arthuria bukanlah hal aneh.
Dan dugaanya tepat saat tekanan mana besar keluar dari tubuh Arthuria. Lalu perlahan tekanan mana itu berkumpul pada satu titik, yaitu pedang Arthuria.
Posisi Arthuria membuatnya mudah ditebak kalau dia akan menembakan serangan peluru sihir.
"Oh.. Serangan itu yang akan kau lakukan. Serangan seperti itu tak akan mempan padaku."
Wajar Victoria sangat percaya diri. Serangan Arthuria tak akan mempan padanya karena terbuat dari sihir. Meskipun tak bisa menghapus sepenuhnya, tetapi bisa mengurangi kekuatan serangan sampai setengahnya.
Lalu jika dia tak bisa mengurangi kekuatan serangan Arthuria, dia cukup menghindar.
Tetapi senyuman lebar muncul di bibir Arthuria.
"Entahlah. Tetapi satu hal yang kau harus tahu. Aku berkeliling dunia bukan hanya untuk jalan jalan saja."
Excaliburn bercahaya. Lalu hancur menjadi puluhan keping kecuali gagang pedangnya.
"A-apa yang kau lakukan?"
Victoria merasakan firasat buruk. Apa yang dilakukan Arthuria sangat tidak wajar.
"Ini hanyalah salah satu teknik terkuatku saat ini. Burst Fragments "
Kilatan menyambar pada tubuh Victoria. Kemudian yang terlihat adalah tubuh Victoria yang terpental dan beberapa bagian bajunya sobek dengan bekas sayatan.
Tetapi itu bukan serangan fatal karena Victoria terlihat tak terluka parah.
"Kuh.. Apa yang terjadi?"
Victoria mendarat dan bersiap melesat ke arah Arthuria. Tetapi sekali lagi kilatan menyambar dan tubuhnya terpental lagi. Dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Tch!?"
Di udara Victoria mencoba mencari tahu dengan menggunakan teknik Brain Burst. Tetapi sekali lagi yang dia terima adalah suatu yang tajam telah menebas tubuhnya. Jika dia tak menggunakan sihir pertahanan dan sihir penguat tubuh, mungkin saat ini dia pingsan karena serangan yang kuat dan mematikan.
Karena tak tahu apa yang terjadi, dia akhirnya menggunakan semua sihir pendeteksi yang dia miliki.
Di dalam waktu Brain Burst, dia merasakan energi yang tak wajar dari arah Arthuria. Dengan menggunakan kesempatan terbatas, dia mencoba bertahan dengan menggunakan Longinus.
Keputusannya tepat. Suara benturan keras terdengar dan bahkan Longinus retak di bagian yang tepat terkena serangan.
"Sial!!"
__ADS_1
Victoria akhirnya memilih untuk menggunakan semua yang dia miliki untuk melawan serangan Arthuria.
""
Sebuah dinding pertahanan berbentuk bola muncul di sekitarnya. Kemudian sekali lagi benturan keras terdengar, tetapi bola itu memantulkan serangan.
Akhirnya Victoria bisa melihat apa yang terjadi.
"Tampaknya bola itu semakin keras saja."
Sihir yang digunakan Victoria merupakan sihir pelindung terkuatnya. Dengan sihir elemen suci, dia menciptakan ruang yang terbuat dari tingkatan mana elemen suci yang tebal. Serangan apapun yang terbuat dari sihir tak akan bisa menembusnya. Sayangnya itu dulu. Sekarang bola itu bahkan sanggup menahan serangan yang bukan dari sihir.
"Ini sudah lama aku tak melihat wajahmu dengan ekspresi seperti itu. Sudah aku duga, aku ingin melihat saat dirimu tersenyum, Vic."
"..."
Meskipun terdesak, namun Victoria menunjukan senyuman lebar. Dia merasa senang karena akhirnya bisa menikmati pertarungan yang membuat darahnya mendidih.
"Tetapi jangan pikir aku tak memiliki cara untuk menangani bola itu. Burst Fragments "
Sekali lagi kilatan terlihat dan dalam sekejap suara benturan keras terdengar dari bola yang melindungi Victoria.
Tubun Victoria sekali lagi terpental ke belakang. Lalu saat bangkit, bercak darah muncul dari bahu Victoria bersamaan dengan bagian bola yang hancur.
"Kau memang memiliki pertahanan yang kuat, namun sebagai gantinya kau kesulitan menyerang. Apa kau yakin tak menyerah?"
"...tentu tidak. Tetapi aku benar benar terkejut karena kau mampu menggunakan teknik seperti itu. , benarkan?"
Arthuria tersenyum.
"Yeah. Ada gunanya bertemu dengan berbagai macam orang di seluruh dunia. Dan tentu kesempatan untuk belajar teknik-teknik baru dari para Master yang sesungguhnya."
Excaliburn berhenti bercahaya dan menunjukan wujud yang baru. Itu adalah sebuah katana berwarna merah bercampur dengan pola api emas.
"Sayangnya untuk mengggunakan semua teknik itu aku harus mengubah Magic Arm milikku. Ini sulit, tetapi aku rasa setimpal dengan hasilnya, aku salah?"
"Tidak. Kau benar. Dan itu membuatku harus mengubah pandanganku terhadapmu. Arthur, kau kuat."
"Terima kasih."
"Karena itulah aku juga akan membalas hasil kerja kerasmu dengan kekuatanku yang sesungguhnya. Kali ini giliranku yang menyerang."
"Serang kapanpun kau mau."
Tekanan sihir keduanya meningkat dan sekaligus menjadi tanda pertarungan telah memasuki babak kedua.
Sementara itu, di bangku penonton kini hening karena melihat suatu yang tak terduga.
"Keparat itu. Aku tak percaya dia berguru pada Master Musashi. Aku pikir diriku juga harus menilai kembali siapa anak ayam itu. Tidak, daripada anak ayam, dia lebih cocok disebut anak elang."
"Akhirnya kau mengakui kekuatan kakakku? Tapi siapa Master Musashi? Oh.. Lic, sepertinya kau juga tertarik dengan pertarungan ini."
Lic melihat dengan penuh konsentrasi. Dia seolah bisa melihat semuanya dengan matanya.
"Dia adalah pemimpin ilmu aliran pedang . Aliran itu lebih fokus pada teknik satu tebasan. Teknik yang digunakan anak elang itu merupakan salah satunya. Tetapi aku cukup terkejut saat dia mampu menggunakannya sampai sejauh itu."
"Kuro, kau bisa melihatnya?"
Alasan kenapa Charlmilia bertanya karena dia sama sekali tak melihat gerakan Arthuria. Sama seperti Victoria, saat melihat kilatan kecil, tiba tiba Victoria terpental jauh dan terluka.
"Tak ada yang bisa lolos dari mataku. Tetapi untuk lebih mempermudah penjelasan. Yah.. Begini.. bisa mempercepat kerja otak hingga 1000 kali lebih cepat. Tetapi kecepatan teknik anak elang itu lebih cepat dua kali lipat. Dengan kata lain, dia mengeksekusi teknik itu dalam kurun waktu 0,0005 detik. Jika diriku menerima serangan itu, aku masih memiliki kesempatan untuk menghindar, tetapi Victoria tak mungkin bisa. Jika melihat pertarungan, anak elang itu sepertinya juga berhasil memodifikasi teknik itu hingga menjadi serangan yang sangat mematikan. Jika bukan Victoria, aku pikir tak ada yang bisa selamat dari serangan seperti itu."
"..."
"..."
Penjelasan Kuro membuat keduanya tak bisa berkata kata. Apa yang dilakukan Arthuria lebih mirip sebuah kekuatan seorang monster.
Tetapi yang lebih mengejutkan adalah fakta kalau Victoria masih baik baik saja menerima serangan sedahsyat itu. Tak diragukan lagi dia juga monster.
Meskipun sering berhadapan dengan pertarungan yang mustahil dimenangkan, kali ini mereka harus mengakui kalau tingkat pertarungan keduanya tak kalah tinggi. Tidak, mungkin lebih tinggi.
"Aku mengerti, tetapi mereka masih belum serius kan?"
Charlmilia berkeringat dingin. Tak hanya dia, Knox dan Jinn bahkan tak bisa berkata kata karena pertarungan mencapai tingkat yang tak mereka pahami.
Saat ini pertanyaan yang muncul di kepala mereka adalah, apa mereka benar benar manusia?
"Yeah. Tetapi sayang sekali kau salah jika berpikir anak elang itu akan menggunakan Dragon Phoenix Gear. Semua itu hanya akan merugikan saja."
"Eh? Kenapa?"
"Itu karena Longinus merupakan Magic Arm yang memiliki kekuatan untuk membunuh Dewa. Dragon Gear yang merupakan perwujudan berkah suci dewa akan bagai kertas saja. Selain itu, apa kau pikir anak elang itu memiliki waktu untuk menggunakannya?"
"..."
Jika mengingat kembali berapa lama Arthuria menyiapkan Dragon Phoenix Gear saat melawan Maria, kondisi saat ini tak mungkin melakukan itu. Itu sama saja memberi tahu Victoria untuk menyerang dirinya.
"Jadi sejak awal pilihan kakak dalah bertarung dengan menggunakan teknik pedang yang dia kuasai saat mengelilingi dunia. Aku tak menyangka dia akan bekerja sekeras ini untuk mendapatkan hati putri Victoria"
"Aku mengerti apa yang dia rasakan. Jika dalam posisinya, aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Tidak. Melakukan sejauh itu sampai merubah Magic Arm suatu yang dilakukan oleh orang yang putus asa. Meskipun begitu, aku akui dia keren."
"Ahaha.. Aku tak menyangka kau akan memuji kakak."
"Aku tak akan melakukannya dua kali. Yah.. Jika dia memberikan tontonan yang menarik, dengan senang hati aku memujinya."
Pertarungan terus berlanjut. Kali ini menjadi pertarungan jarak dekat. Hal ini terjadi karena setelah mengumumkan dirinya akan serius, Victoria langsung melesat ke arah Arthuria.
Arthuria mengerti kalau Victoria sadar kelemahan kedua teknik yang dia gunakan. Kedua teknik itu bukanlah teknik yang bisa digunakan pada jarak dekat.
Setelah beradu senjata beberapa detik, Arthuria mulai kewalahan. Hal itu terjadi karena gerakan Victoria semakin lama semakin cepat sehingga dia tak bisa mengikutinya.
(Ini sama seperti dulu. Dia akan semakin kuat jika lawannya semakin kuat.)
Victoria adalah tipe orang yang semakin kuat saat bertarung. Bertarung jangka lama bukanlah pilihan.
Tetapi bukan berarti Arthuria tak memiliki kesempatan.
""
"!?"
Sayangnya, kesempatan itu sudah musnah.
Ketika Victoria mengaktifkan sihirnya, tiba tiba kekuatan Arthuria menghilang seperti tersedot sesuatu. Bahkan Excaliburn perlahan menghilang menjadi partikel yang kemudian terbang menuju Victoria.
"Jangan bilang..."
Saat sadar apa yang terjadi, ujung tombak Victoria sudah menempel di lehernya.
"Tepat sekali. Ini adalah sihir yang membuatku bisa menghilangkan sihir di dalam radius 3 meter. Dan tak hanya itu, aku bisa mengubahnya menjadi energi sihirku sendiri dan menyerapnya. Kau tahu apa artinya? Dengan begini aku tak akan pernah kehabisan mana dan bisa terus bertarung."
"..."
Kekuatan menghilang dari Arthuria. Dia bahkan saat ini hanya memiliki tenaga yang hanya cukup untuk berdiri dan berbicara.
"Aku tahu kau berencana menggunakan kesempatan saat diriku menerima efek samping dari Brain Burst, bagaimanapun juga kau tahu aku suka mempelajari teknik baru dari lawanku. Aku senang ada seorang yang sangat mengerti diriku."
Victoria menunjukan senyuman tulus.
"Tetapi kau seharusnya juga tahu kalau aku adalah tipe orang yang berusaha menciptakan Magic Art baru seperti ini. Jadi sekarang yang bisa aku katakan adalah kau telah berusaha keras dan jujur saja aku terkejut karena kau berhasil memaksaku menggunakan teknik yang aku simpan untuk menghadapi seseorang."
Di saat itulah mata Kuro dan mata Victoria bertemu. Tetapi kemudian Victoria melirik ke arah Laila.
"Kau sungguh tak punya kasihan."
"Apa begitu? Aku hanya berusaha menenangkan pertarungan ini secepatnya. Tetapi aku harap kau tak menyerah mendapatkan hatiku, bagaimanapun juga aku menyukai orang yang bekerja keras."
Perkataan Victoria memberikan harapan pada Arthuria.
"Tetapi kau harus cepat, jika aku menang dalam Battle War yang akan datang, aku akan menikah."
"..."
Arthuria kalah telak.
__ADS_1