
"Jadi..... apa yang dilakukan gadis sepertimu disini? Kau pasti tahu kalau di luar kota berbahaya. Mungkinkah kau ini .... bodoh?"
"Jangan memanggilku bodoh! Aku tahu luar kota berbahaya, jadi kau tak usah memberitahuku. Hmmmphh...."
Gadis itu menoleh ke arah lain dan terlihat kesal. Tapi gadis itu tetap makan ikan. Mana mungkin dia memberitahu Kuro kalau dia tersesat karena salah memilih arah.
Kuro tersenyum kecil karena merasa lucu sekaligus mengingatkannya kepada Laila.
"Apanya yang lucu? Ngomong ngomong, kenapa murid sekolah Kuryuu Academy sepertimu berada disini? Dan kenapa naga yang menyerang kota justru menurutimu? Mungkinkah kau yang menyuruh naga itu menyerang kota?"
"Ha ha... Kau punya imajinasi yang bagus. Tapi jika kau sudah tahu sejauh itu, maka seharusnya juga tahu kalau ada seorang yang menggiring keluar kota, dan orang itu adalah aku. Maa... naga itu menurutiku karena aku menaklukkannya. Singkatnya aku sekarang tuan dari naga itu, dan jika kau seorang musuh, aku cukup menjentikkan jariku dan naga itu akan langsung memakanmu. Aku tak segan segan meskipun kau seorang gadis."
"................."
Gadis itu terdiam, namun menjauh dari Kuro sambil membawa beberapa tusuk ikan.
Itu sedikit lucu.
"Hmmm... aku cukup terkejut kau tak takut meskipun aku mengancammu dengan naga."
"Jika kau berniat membunuhku, kau sudah melakukannya dari tadi. Apa aku salah?"
Kuro hanya tersenyum.
"Tapi aku terkejut saat kau mengatakan berhasil mengalahkan naga, berarti kau penyihir yang kuat. Negri ini pasti akan aman jika penyihir sepertimu menggunakan kekuatan demi kebaikan."
"Ha ha ha... "
Kuro tertawa dengan keras. Itu membuat gadis itu bingung.
"Kebaikan? Itu lucu sekali. Kau tahu, aku tak pernah berniat menggunakan kekuatanku untuk semacam kebaikan atau keadilan. Bagiku semua itu tak berarti apa apa. Jadi jangan salah paham."
"....Tapi bukankah karena kau menaklukan naga itu, kau berhasil menyelamatkan banyak orang. Meskipun kau tak melakukannya demi kebaikan, namun semua selamat. Kau harus bangga dengan itu."
Meskipun yang dikatakan gadis itu benar, namun itu sama sekali tak membuat hati Kuro tersentuh atau senang. Bagi dia itu hanyalah pendapat orang yang tak mengetahui tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Hal itu benar benar membuat Kuro ingin tertawa.
"Tak ada yang patut dibanggakan."
Kuro mendesah kecil saat mengatakan itu.
"?"
"Tapi jika kau mengatakan seperti itu, maka aku tak keberatan. Aku juga sama sekali tak peduli. Yahhh... sudahlah. Percuma saja membahas hal ini. Yang terpenting adalah apa yang dilakukan seorang gadis sepertimu disini?"
"..................................."
Gadis itu terdiam karena tak ingin memberi tahu kalau sebenarnya dia sedang kabur.
"Hm?"
Disaat itulah, ponsel Kuro bergetar sebagai tanda pesan masuk. Kuro langsung saja membuka isi pesan. Sambil membaca, dia melirik gadis di sampingnya sambil tersenyum tipis.
Gadis itu menyadari senyuman tipis Kuro adalah sebuah tanda buruk.
"Begitu rupanya...."
Kuro memasukkan kembali ponselnya ke saku bajunya.
"Apa yang akan ku perbuat terhadap putri yang kabur dari kediaman keluarga kekaisaran sepertimu, Putri Riana?"
"Uggg..."
Gadis itu langsung berdiri dan mencoba kabur. Riana berlari menjauh dari Kuro yang masih duduk.
Tapi disaat itulah Laiko langsung menghadang Riana dari depan.
"Khh.. "
Dia tak bisa kabur.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kulakukan. Jika aku memperkosamu di sini kurasa aku tak akan ketahuan, benarkan?"
"Huh..A-Apa kau bilang? M-memperkosaku? Ka-kau tahu akibatnya kan?"
Riana melangkah mundur saat melihat Kuro mendekat perlahan dengan senyuman mesum dan licik. Tapi Riana juga mengerti situasinya saat ini.
Kuro dapat melakukan apapun terhadapnya saat ini dan dia tak bisa kabur.
"Jangan mendekat. Kau tahu aku seorang tuan putri. Kau tahu apa akibatnya jika melakukan itu kan?"
Riana terus melangkah mundur. Tapi dia juga semakin dekat dengan Laiko.
"Yahh.. tapi jika itu ketahuan kan? Aku bisa saja memperkosamu dan membunuhmu lalu memberikan mayatmu untuk santapan Laiko. Apa kau paham?"
"?!"
"fufu...tapi aku tak akan melakukan itu. Tenang saja, aku tak mau melakukan hal semacam itu dengan orang yang tak kusukai, selain itu... "
".........."
Sebelum Kuro melanjutkan kata katanya, Kuro melangkahkan kakinya ke sebuah pohon dan mengambil sesuatu dari balik semak semak. Itu adalah sebuah tali.
"Aku tak mungkin melakukan hal itu kepada teman baik pacarku.. Namun kuharap kau tenang saat aku membawamu kembali ke kota. Anggap saja ini adalah akibat kabur dari orang yang melindungimu."
Riana langsung pucat pasi saat melihat Kuro mendekat dengan membawa tali di kedua tangannya.
Dia tahu akan dipaksa untuk kembali ke rumah yang mengekangnya, tapi dia sadar kalau Kuro ada benarnya.
"Bu-bukankah kau seharusnya orang yang melindungiku. Kau tak bisa melakukan semua ini kepadaku yang seorang putri. Kau tahu apa akibatnya jika aku memberi tahu perlakuanmu kepada Laila?"
Mendengar kata terakhir Riana, Kuro berhenti melangkah. Namun setelah beberapa saat dia maju lagi.
"Ohh... kau tahu aku adalah orang yang melindungimu diam diam kah? Kau memang cerdas dan sensitif seperti yang diberitakan. Tapi aku melakukan ini juga karena perintah, jadi itu bukanlah masalah. Mengenai Laila, itu urusan nanti. Dia pasti akan marah jika tahu kau kabur dan hampir mati. Kau seharusnya berterima kasih kepadaku, putri Riana."
"................."
Riana terdiam karena tak bisa membantah perkataan Kuro. Sementara itu Kuro terus mendekat dan bersiap mengikat Riana.
Riana tak berusaha kabur atau melawan. Tapi disaat Kuro hampir menyentuhnya.
"Kau mau aku kembali ke tempat yang kau sebut rumah itu? Jangan bercanda!! Aku datang ke kota ini untuk melihat dampak serangan seminggu yang lalu. Aku harap dengan kedatanganku, rakyat bisa merasa tenang, tapi mereka semua tak memperbolehkan aku pergi dan mengurungku. Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat melihat rumah penduduk yang hancur dan orang yang datang menyambutku meskipun mereka terluka? Sudah kuduga kau sama saja seperti mereka."
Riana tak menunjukan keraguan di matanya. Dia sudah memutuskan untuk melakukan apa yang menurutnya benar.
"....haa..."
Kuro mendesah dalam. Dia mengerti maksud Riana.
Riana benar benar seperti yang dirumorkan.
Kekaisaran memiliki tiga orang putri. Setiap dari mereka memiliki kelebihan masing masing dan juga memiliki karakter unik.
Jika dibandingkan dengan dua kakaknya, Riana memang bukanlah penyihir yang kuat, tapi di antara mereka bertiga, dialah yang dikenal sebagai paling baik dan paling peduli dengan rakyat.
Tak jarang dia mengunjungi berbagai kota di kekaisaran untuk melihat secara langsung keadaan rakyat. Berkat kunjungannya itu banyak perubahan terjadi. Terutama di wilayah yang kurang mendapatkan perhatian.
Tak aneh jika dia mendapatkan gelar Perawan Suci dari kekaisaran.
Jadwal kunjungan ke kota Areshia sebelumnya hanyalah kunjungan biasa, tapi berkat serangan di Sirei Mall, Riana mempercepat kunjungannya dan akhirnya membuat Kuro terlibat dalam masalah.
Tindakannya mempermainkan Riana hanyalah balasan karena dia sedikit merasa jengkel. Tentu saja dia akan mendapatkan masalah lain jika Riana melaporkannya. Tapi Kuro sama sekali tak peduli.
"Baiklah. Akhirnya kau bisa jujur. Kukira kau akan terus berbohong sampai aku mengantarmu kembali ke kota."
"Eh?"
Kuro lalu membuang tali di tangannya ke semak semak.
"Kau tahu, aku benci seorang pembohong. Jika kau mengatakan tak ingin kembali, maka tinggal bilang saja. Kalian benar benar mirip."
Sayang Kuro tak sempat membalas rasa jengkelnya.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan terhadap putri yang kabur dari rumahnya lewat jalan rahasia menuju ke kota, namun justru tersesat hingga ke tengah hutan. Apa kau punya ide?"
"Huh? Kenapa kau tahu itu?"
"Hanya tebakanku, tapi tampaknya tebakanku benar. Sudahlah, kenapa kita tak melanjutkan makan saja."
Kuro tersenyum lebar saat menawarkan hal itu kepada Riana.
Satu satunya komentar Riana adalah:
"Kau memang seperti yang diceritakan Laila. Ha .... Aku heran kenapa Laila bisa menyukai orang sepertimu."
"Ummm.. apa maksudmu?"
"Lupakan saja."
Riana akhirnya hanya bisa mendesah dalam hati saat mengetahui sifat Kuro yang bisa dibilang aneh. Dan tentu saja bodoh. Tapi dia juga paham kalau Laila memiliki selera unik dalam memilih laki laki.
Merekapun kembali ke dekat api dan makan sisa ikan.
Laiko kembali makan ikan yang masih sedikit tersisa.
Tiba tiba Riana kembali memulai pembicaraan.
"Kau ini benar benar aneh. Kenapa meskipun kau tahu aku seorang putri tapi tak menghormatiku dan justru mengancam memperkosaku? Jujur saja baru kali ini ada orang senekat kau...Omuu.. Omuu.. Omuu..."
"Seorang putri yang kabur tak disebut seorang putri, tapi seorang pelarian. Aku tak perlu menghormati seorang pelarian."
"Ughh!"
Riana tak bisa membantah perkataan Kuro lagi. Kadang dia merasa jengkel, tapi dia tak bisa membuat Kuro marah, dia menyadari Kuro bukanlah orang yang akan menuruti perintahnya.
Tipe orang seperti ini cukup merepotkan karena tak bisa diatur, tapi Riana tak cukup bodoh kalau sikap Kuro yang arogan itu memiliki alasan yang kuat.
Misal, memiliki kekuatan yang luar biasa, atau memiliki pengaruh yang luar biasa. Bahkan lebih kuat dari seorang tuan putri.
"Tapi putri Riana yang dikenal anggun, sopan, baik hati, ramah dan tenang sekarang berubah menjadi gadis rakus. Negri ini pasti akan bangkrut memiliki putri sepertimu."
"Aku tak ingin mendengar itu darimu. Aku hanya jarang makan makanan yang hangat, jadi anggap saja ini kesempatan langka buatku."
Sebagai salah satu putri negara terbesar, Riana selalu makan makanan yang dingin. Ini wajar karena sebelum dihidangkan, makanan akan dicicipi untuk mengetahui apakah ada racun atau tidak.
Meskipun terasa enak, namun Riana selalu merasakan masakan dingin, hal itulah yang membuat daging ikan Rellfish itu terasa lezat.
"Begitu rupanya. Berarti sekarang aku sedang melihat sisimu yang tak diketahui orang lain. Betapa beruntungnya aku."
"Omu... Omuu.. Omuu.. Ya. Kau beruntung, Kuro. Tapi kenapa kau ada disini dan tak bersekolah. Apa karena kau merasa sudah kuat dan tak perlu belajar lagi? Kau tahu kan, orang kuat tak pernah berhenti belajar. Itulah yang dinamakan kekuatan sejati."
Kuro tersenyum mendengar kata kata Riana.
__ADS_1
"Kata kata yang bagus, tapi itu bukan kata kata asli buatanmu. Kau hanya menirunya dari sebuah buku. Apa aku salah?"
Mata Riana terbuka lebar saat mendengar kata Kuro. Hal ini karena Kuro benar. Dia meminjam kata kata dari sebuah buku, tapi buku yang dibaca Riana bukanlah buku yang umum. Bahkan buku rahasia.
(Bagaimana dia tahu hal itu?)
Saat itulah, Riana menyadari kalau Kuro bukan hanya kuat, tapi lebih dari itu. Dan dia juga sadar kalau Kuro memiliki pengetahuan yang tak bisa dia bayangkan.
Buku yang Riana baca termasuk buku yang hanya dibaca oleh kalangan tertentu. Tak mungkin buku seperti itu dibaca oleh murid sekolah sihir biasa.
"Tapi aku bukan penyihir, jadi kau tak perlu kawatir tentang aku belajar atau tidak. Sebagai gantinya aku sering membaca buku di perpustakaan. Jika kau penasaran, kau bisa melihat dataku di sekolah. Kau memiliki wewenang untuk melakukannya."
".....Ahh.. kenapa aku tak memikirkan hal itu?"
"Kau bisa melakukannya kapan kapan. Ini bukan saatnya melakukannya."
Riana terdiam sambil mengangguk pelan.
Setelah itu, keheningan terjadi di antara mereka untuk waktu yang cukup lama.
"..........."
"............"
Tak ada yang saling mencoba memulai pembicaraan. Riana hanya makan ikan yang masih tersisa sedikit, sementara Kuro hanya terdiam menunduk dan memejamkan matanya.
Sedangkan Laiko, sekarang sedang melingkarkan tubuhnya dan tak bergerak.
"Hei...."
"Um?"
Kuro membuka matanya dan menoleh ke arah Riana.
"Kenapa kau tak membawaku kembali? Kau diperintahkan untuk itukan?"
"Apa kau mau kembali?"
"Tidak. Aku hanya penasaran kenapa meskipun aku menghilang, tampaknya tak ada yang mencariku ke luar kota. Apa aku benar benar penting bagi mereka?"
Riana selalu dikawal ketat, karena itulah dia sedikit merasa aneh saat tak ada satupun Holy Knight yang terlihat di luar kota untuk mencarinya.
"Ah... Mereka tahu kau bersamaku, jadi wajar mereka tak mencarimu. Tapi apa kau tak ingin kembali? Terus terang aku lebih senang tidur disini daripada mengawasimu."
"Kau lebih mementingkan tidur siang daripada keselamatan tuan putri negeri ini? Dimana rasa pengabdianmu, hehhh... jangan tidur!"
Kuro perlahan menutup matanya lagi. Dia seolah olah terkena hipnotis dan merebahkan tubuhnya.
Tapi dia kembali membuka matanya saat menyadari sesuatu akan datang. Sesuatu itu adalah sebuah petir yang merupakan salah satu sihir dari paladin Electra.
Electra telah datang dengan wajah ceria seperti gadis muda. Seperti biasa.
"Kuroooo, selamat pagi!"
Electra menyapa sambil membuat ekspresi imut yang tak sesuai dengan umurnya. Tetapi itu sesuai dengan wajahnya.
"..."
Kuro mengabaikannya, lalu kembali memejamkan matanya. Dia mencoba untuk kembali tidur karena merasa kedatangan Electra tidak penting.
"Ya ampun... jika kau tak bangun, aku akan menciummu!"
"Laiko! Bakar dia!!"
Sambil memejamkan matanya, Kuro memerintahkan Laiko untuk menyerang Electra.
Tapi dengan banya sebuah tatapan tajam, Laiko langsung tak bergerak karena instingnya mengatakan bahwa dia akan mati jika menuruti Kuro.
"Kau terlalu cerdas untuk seekor naga, kau tahu itu Laiko."
Dengan wajah memelas, akhirnya Kuro membuka matanya, tapi disaat itulah dia melihat Electra sudah bersiap mengarahkan bibirnya tepat ke bibirnya.
Dengan cepat Kuro menahan wajah Electra dengan tangannya dan mencengkeramnya.
"Awawaaa...awa... Hentikan! Aku nanti bisa keriputan."
"Kau memang sudah keriputan, jadi jangan mengatakan suatu yang aneh. Apa kau tahu putri Riana sedang melihatmu?"
"Eh?"
Electra langsung menoleh ke arah Riana yang tersenyum pahit.
"..............."
Keheningan terjadi, namun disaat itulah, Riana mengambil ponselnya dan mencatat sesuatu.
"Bibi Electra jika sedang tak menjalankan tugas, dia selalu merayu murid di sekolahnya. Selesai."
Mendengar itu, Electra langsung mematung hingga memutih karena syok.
"Ahaha .. Anda masih seperti biasanya, bibi Electra."
Riana sebenarnya sudah tahu sifat Electra, karena itulah dia sebenarnya tak terlalu terkejut, namun dia merasa saat bersama Kuro, tingkah Electra sedikit berlebihan.
Electra kembali seperti semula dan sedikit menunduk sebagai tanda hormat.
"Putri Riana, sudah lama tak bertemu. Maafkan saya karena belum sempat menemui anda."
Karakter Electra langsung berubah 180 derajat. Itu adalah salah satu keahlian Electra.
"Heii... jika kau datang kemari bukan untuk mencari Riana, apa tujuanmu kemari?"
Kuro tahu karena Electra terkejut saat melihat Riana.
Electra langsung tersenyum kecil, lalu mengambil sesuatu dari celah dadanya. Benda itu adalah semacam kristal.
Electra kemudian memberikannya kepada Kuro.
"Ini kan?"
Ucap Kuro saat mengamati kristal transparan yang memancarkan aura putih.
"Aku datang untuk memberi tahu bahwa Laiko sudah bisa memasuki kota, tapi kau tahu kan kalau Laiko akan membuat panik, jadi gunakan itu untuk memasuki kota."
"Hmmm... tapi berapa lama efek benda ini?"
"Sekitar dua jam, itu waktu yang lebih dari cukup untuk memasuki kota kan? Satu hal lagi, aku hanya punya satu, jadi manfaatkan itu dengan sebaik mungkin. Itu saja yang ingin kuberitahukan, sampai jumpa lagi."
Setelah mengatakan itu, Electra kembali menjadi kilat dan menghilang.
"Dia memang tak pernah mendengarkan orang lain."
Kuro mendesah lalu berdiri dan mengambil pedangnya, Lic. Setelah itu, dia berjalan menuju Laiko dan melompat ke punggungnya.
"Putri Riana, kau tetap berada disitu, atau ikut kembali ke kota?"
"Huh? Apa kau mau meninggalkanku disini?"
"........................Tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"...................."
Melihat Kuro tak langsung menjawab pertanyaannya, Riana tahu satu hal.
(Dia berniat meninggalkanku di hutan ini.)
Riana mendesah kecil karena jengkel lalu berdiri. Dia sadar kalau tak bisa terus berada di luar kota yang berbahaya.
Tapi Riana juga tak mau segera kembali ke kota. Jadi apa yang harus dia lakukan?
Dengan perasaan bingung, Riana berjalan ke arah Laiko meskipun dia sedikit merasa takut. Tapi dia mempunyai sebuah ide saat melihat Laiko dan kristal yang berada di tangan Kuro.
"Hei, aku punya permintaan, apa kau mau mendengarkanku?"
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia memohon kepada seseorang. Dia tak punya pilihan lain karena mengingat Kuro adalah tipe orang yang pembangkang.
Tapi dia juga menyadari bahwa ini adalah sebuah judi.
"Hmmm.... Kau tak ingin meminta aku menikah denganmukan?"
"Uggh... Tentu saja tidak, bodoh. Aku heran kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Kalau begitu aku akan mendengarkanmu."
Menurut pengalaman Kuro, dia akan selalu diminta untuk menikah dengan gadis yang baru saja dia temui atau baru dia kenal. Dia tak tahu kenapa, namun itu sudah seperti makanannya sehari-hari.
Hal ini pula yang menyebabkan dia kadang sengaja untuk bersikap jahat atau tak ramah terhadap gadis, tapi dia juga menyadari bahwa tindakannya percuma.
Dan sekarang, dia bertemu dengan seorang putri dan sahabat baik Laila. Ini akan menjadi masalah rumit dan merepotkan jika Riana jatuh cinta kepada dirinya.
Kuro kadang mengutuk dirinya sendiri karena terlalu populer. Lebih tepatnya, mempunyai banyak masalah dengan para gadis.
"Bisakah kau tak langsung mengantarku kembali ke kediaman?"
"Maksudmu kau ingin mengajakmu terbang berkeliling kota sebelum kembali? Kau benar benar merepotkanku, kau tahu itu?"
"Aku tahu terlalu meminta ba- Huh.. kenapa aku harus memohon. Cepat laksanakan perintahku. Bagaimanapun juga aku tetaplah seorang putri!"
"...............Laiko!"
Laiko langsung membentangkan sayapnya dan bersiap terbang. Menyadari Kuro akan meninggalkannya, Riana langsung panik.
"Baiklah, baiklah... aku paham. Aku minta maaf. Tapi jangan tinggalkan aku di sini!"
"Lalu?"
Wajah Riana memerah karena malu dan sekaligus marah.
(Ini pertama kalinya aku dipermainkan seperti ini.)
Tapi Riana tak punya pilihan.
"Aku mohon!"
Dengan merendahkan harga dirinya, Riana akhirnya menunduk dan memohon. Dia terpaksa melakukan ini.
"Itulah yang dinamakan seorang putri. Meskipun memiliki kekuasaan, jangan pernah lupa untuk meminta dengan sopan. Kau tahu, aku sebenarnya peduli denganmu hanya karena kau sahabat Laila, dan bukan karena seorang putri."
"Kau benar benar menyebalkan."
Meskipun begitu, Riana senang karena mendapatkan sebuah pelajaran agar menjadi putri yang lebih baik dan dihormati.
"Baiklah, sebelum kau naik, aku punya syarat untukmu."
__ADS_1
"?"
"Jangan pernah menggunakan kekuatan sihirmu. Kau tahu akibatnya kan?"
Riana adalah penyihir berelemen suci yang mampu menetralkan semua jenis sihir, jika dia menggunakan kekuatannya, Kuro takut Riana akan menetralkan benda sihir yang berada di tangannya dan menetralkan efek sihir.
Jika naga yang menyerang kota tiba tiba muncul di atas kota, kepanikan yang lebih besar akan terjadi.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi apakah tak apa apa menaiki naga ini?"
Laiko langsung menatap ke arah Riana dengan tatapan tajam. Hal itu membuat Riana sedikit takut. Hal ini karena ini juga merupakan pertama kalinya Riana menaiki naga.
"Sudahlah. Laiko bisa marah jika kau mengatakan seolah olah dia naga jahat. Dia hanya rakus sepertimu, kurasa kalian cocok."
"Ughh.. berhentilah mengejek seorang putri. Jika kau melakukan itu, aku akan menghukummu."
"Apa kau yakin dapat menghukumku?"
"Eh?"
Disaat itulah, untuk pertama kalinya, Riana melihat senyuman jahat dari Kuro. Tak hanya itu, Kuro memancarkan aura yang membuat Riana tertekan.
Tapi tekanan itu tiba tiba menghilang.
"Sudahlah, ayo cepat naik. Kita tak punya banyak waktu!'
"Ba-baiklah!"
Tapi bagaimana caranya dia naik?
Meskipun merendah, tinggi Laiko masih sekitar 1 meter lebih.
Disaat bingung, Kuro mengulurkan tangan kanannya setelah memindahkan kristal ke tangan kirinya dan meletakkan pedangnya.
Riana langsung memegang tangan Kuro untuk membantunya naik. Riana juga menggunakan bagian tubuh Laiko sebagai pijakan.
Disaat itulah Riana dapat merasakan tangan Kuro yang begitu dingin namun halus seperti perempuan. Aneh. Lelaki seharusnya memiliki tangan yang lebih kasar, apalagi Kuro adalah pengguna pedang.
Tapi tak hanya rasa dingin yang Riana rasakan. Setelah dia memegang tangan Kuro, dia merasakan seperti tersengat listrik.
"Kyahh..."
Secara reflek Riana langsung melepaskan tangan Kuro.
Riana langsung terjatuh, dan disaat itulah kerudung jubah Riana terbuka dan menunjukkan sosok malaikat yang tersembunyi.
Wajah cantik dan manis bagai boneka. Bermata biru langit dan berambut putih panjang yang sedikit terurai.
"Bodoh, kenapa kau melepaskan tanganku!"
Kuro dengan sigap menangkap tangan Riana. Dia berhasil, namun karena tubuhnya tak bisa menahan beban Riana, akhirnya dia juga terjatuh.
Mereka terjatuh ke tanah rerumputan dengan cukup keras, Laiko bahkan menutup matanya sesaat karena tak berani melihat.
"Apa kau tak apa apa?"
"Ahh.. Aku tidak ap- !?!"
Tak hanya Riana, Kuro juga terkejut saat menyadari posisi mereka saat ini.
Kuro berada di atas Riana. Tak hanya itu, kaki Kuro berada di celah ************ Riana. Tapi yang lebih mengejutkan adalah wajah mereka yang hanya berjarak beberapa cm.
Wajah Riana langsung memerah padam, tapi Kuro hanya tersenyum pahit lalu mendesah.
"Kenapa aku selalu terjebak dalam situasi seperti ini?"
"Huh?"
Riana tak mengerti perkataan Kuro, namun Kuro mengatakan seolah olah ini sering terjadi kepadanya.
Punyyu...
"Ahh..."
Riana langsung mengeluarkan desahan kecil yang menggoda.
Tak hanya di atas Riana, ternyata tangan kanan Kuro memegang dada Riana yang lebih besar daripada milik Laila.
"Hmm... E cup kah..."
"..........................KYAAAAAAAAHHH!!"
Riana langsung berteriak dan mencoba meronta. Dia bahkan bersiap menampar Kuro karena berbuat mesum kepadanya.
Tapi-
"?!"
Riana merasakan sesuatu bergerak dan merayap di tangan kanannya. Dia langsung melirik dan melihat kelabang besar merayap di tangannya.
Wajah Riana langsung pucat pasi. Secara reflek dia ingin berdiri, tapi itu merupakan kesalahan fatal.
Dia lupa kalau wajah Kuro berada di dekat wajahnya.
"?!" "....."
Mata Riana terbuka lebar saat menyadari bibir mereka berdua menyatu.
Riana dapat merasakan bibir yang lembut dan sedikit kasar Kuro.
Mereka berciuman untuk beberapa detik karena terkejut.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!"
Riana berteriak dengan keras sekali lagi memecah keheningan hutan.
Kuro langsung menjauh dari Riana yang terlihat marah besar dengan wajah memerah.
Riana memegang bibirnya karena mengingat sensasi bibir Kuro. Itu merupakan ciuman pertamanya.
"Ya ampun, apa yang harus kujelaskan kepada Laila. Dia pasti marah jika tahu aku merebut ciuman pertamamu, tapi ini bukan salahku. Hmmm ... kurasa aku akan di maafkan."
Kuro menganalisa apa yang terjadi saat ini dan akibatnya jika Laila tahu .
(Sudah kuduga, aku memang mempunyai keberuntungan buruk terhadap para gadis.)
Jika ada yang tahu pikirannya, pasti dia sudah dikutuk oleh semua lelaki di dunia.
"Haaaa...."
Kuropun mendesah dalam.
Tapi bulu kuduknya berdiri saat merasakan tekanan yang begitu besar. Lebih tepatnya tekanan sihir yang mendadak kuat.
Kuro akhirnya melihat Riana yang dalam kondisi tidak normal. Tidak normal karena aura putih memancar dari tubuhnya.
".............."
Kuro merasakan firasat buruk. Dan firasat buruk Kuro menjadi kenyataan saat melihat puluhan tombak putih muncul melayang di sekitar Riana.
Tombak putih itu bergerak dan mengarah ke Kuro.
"Ahhh.... Kau tak mengancamku menikah denganmu karena mencuri ciuman pertamamu kan?"
"Guhhh!"
Riana semakin marah dan memerah. Dia berubah dari cantik dan anggun menjadi iblis.
"KAU PIKIR SIAPA DIRIMU, DASAR MESUM!!'
Riana berteriak dengan penuh amarah. Disaat yang sama, puluhan tombak itu terbang ke arah Kuro dengan kecepatan tinggi.
Kuro sadar dia akan mati jika terkena salah satu tombak itu.
Dengan kecepatan abnormal dan gerakan seminimal mungkin. Dia berhasil menghindari puluhan tombak, tapi ada satu tombak yang tak bisa dia hindari dan tepat mengarah ke dadanya.
"Tch!"
Kuro tak memegang senjata, jadi dia tak punya pilihan lain selain menggunakan apapun yang ada di tangannya untuk menangkis tombak.
Dan benda itu adalah kristal putih yang memiliki kemampuan sihir untuk membuat tak terlihat meskipun dalam waktu terbatas, yaitu Cristal Invia.
Tombak Riana tertahan oleh kristal. Kristal itu tak hancur atau mengalami retakan namun aura putih sudah lenyap.
"Aaaa...."
Riana terkejut saat melihat kristal itu digunakan sebagai perisai. Hal itu karena dia tahu apa akibatnya jika efek sihir benda itu menghilang.
"DASAR PUTRI BODOH TAK BERGUNA. SEKARANG KAU LIHAT AKIBAT PERBUATANMU!!"
Kuropun berteriak karena jengkel.
"ITU JUGA SALAHMU DASAR MESUM. MESUM. MESUM MESUM MESUM"
"JANGAN MENYALAHKAN PERBUATANMU KEPADA ORANG LAIN. DASAR PUTRI TAK BERTANGGUNG JAWAB!"
"AKU TAK INGIN MENDENGAR ITU DARIMU! MESUM!!"
"AKU MEMANG MESUM, APA KAU PUNYA MASALAH DENGAN ITU!!"
"AKHIRNYA KAU MENGAKU MESUM, DASAR MESUM!"
"Haaa.... lupakan semua ini. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Huh?"
Kuro melirik ke arah Laiko yang sejak tadi terdiam.
Tapi Riana juga tahu kalau mereka saat ini menghadapi masalah besar.
Kuro tak bisa membawa Laiko masuk diam diam. Riana tak ingin segera pulang, sebelum melihat keadaan kota.
Mereka sama sama dalam kondisi sulit.
"Tak ada pilihan lain selain mendapatkan yang baru kah?"
Mendengar itu, Riana sedikit terkejut.
"Mendapatkan yang baru. Bukankah Cristal Invia alat sihir yang langka, bagaimana caramu mendapatkannya."
Kuro tersenyum tipis. Dia menunjukkan ekspresi yang licik dan jahat.
"Yahhh... aku tahu tempat dimana aku bisa mendapatkannya, tapi pertanyaanya adalah, bisakah kau menjaga rahasia?"
__ADS_1
"Eh?"
Dan itulah alasan kenapa Kuro tak berada di kelas hingga siang hari. Dia mencari Crystal Invia bersama Riana