
Ketiganya memasuki ruangan, atau lebih tepatnya kamar Tara. Ketiganya cukup terkejut saat kamar Tara dipenuhi pakaian dengan desain unik. Tapi kamarnya tentu saja terdapat barang yang biasa dimiliki oleh wanita pada umumnya.
Selain itu, kamar Tara ternyata lebih besar daripada yang terlihat. Tempat tidur yang cukup untuk tiga orang juga ada. Sekilas mereka masuk ke dalam hotel mewah.
"Mungkinkah semua pakaian di sini adalah.. kostum?" tanya Stella.
Tara mengambil salah satu pakaian dari rak dan menunjukkannya kepada mereka bertiga. Itu adalah kostum maid. Tapi berbeda dengan pakaian maid pada umumnya, kostum maid yang Tara tunjukkan memiliki kain sedikit di bagian dada dan bagian perut. Tak hanya itu, rok juga lebih pendek daripada pakaian maid biasa.
"Waa.. membayangkan saat orang memakainya saja sungguh memalukan. Apa benar ada orang yang mau memakai pakaian itu?"
"Aku juga tak mau memakai pakaian seperti itu meskipun adalah hal yang terakhir aku lakukan." Ucap Gyu. "Ngomong ngomong kenapa kau memiliki kostum sebanyak ini?"
"Sebagian besar adalah kostum seragam kami." Jawab Tara. "Mungkin kalian sudah tahu seperti apa tempat ini, tapi kami tak selalu melakukannya."
"Hm?"
"Bar ini akan berubah menjadi tempat pelacuran 3 kali dalam seminggu, sedangkan hari lainnya tempat ini menjadi bar biasa. Kami memakai kostum sexy seperti itu untuk melayani tamu kami."
Hana mengamati kostum lainnya. Mereka hanya melihat kostum sexy dengan bahan yang bisa dibilang mengekspos tubuh mereka.
"Tapi kenapa kalian melakukan hal itu? Bukankah akan lebih menguntungkan jika setiap malam menjadi tempat pelacuran?"
"Kami memang sering mendapatkan pertanyaan itu, Han Han."
"Han Han?"
Hana terlihat terkejut, tapi Tara mengabaiakannya.
"Tapi kami juga punya alasan untuk melakukannya. Dan salah satunya tentu saja demi uang."
"...."
"...."
"...."
"Pandangan kalian menunjukkan kami tak punya harga diri, dan itu suatu hal yang tak bisa kami sangkal. Tapi kami hanyalah orang biasa, kami tak mudah mendapatkan pekerjaan seperti para penyihir. Kami harus melakukan sesuatu jika ingin bertahan hidup."
Kesenjangan sosial yang sering terjadi adalah masih adanya perbedaan perlakuan terhadap penyihir dan orang biasa. Penyihir bisa melakukan pekerjaan yang lebih rumit dengan bantuan sihir sehingga bayaran yang mereka lebih tinggi daripada orang biasa yang mengandalkan kekuatan fisik mereka.
Meskipun kesenjangan ini tak terlalu terlihat, tapi semuanya tahu mengenai perbedaan besar antara penyihir dan orang biasa.
"Tapi bukan berarti semua wanita yang berada di tempat ini harus menjadi *******. Kami juga menjadi pelayan biasa yang bekerja di bar, dan tentu saja melayani tamu tanpa harus kehilangan keperawanan kami."
"Huh? Tunggu dulu, kau bilang kau masih.."
Tara mengangguk.
"Semua yang berada di kamar ini hanya bekerja sebagai pelayan dan tak melakukan hal lainnya. Sedangkan pekerjaan untuk semacam itu hanya dilakukan oleh senior atau orang yang terpaksa melakukannya demi uang. Bayaran di tempat ini sudah cukup tinggi, jadi uang bukan masalah besar buatku."
Ketiganya terbengong dan sulit percaya dengan apa yang mereka dengar.
Tapi Stella menyadari sesuatu di balik semua penjelasan Tara.
"Tunggu dulu, tempat pelacuran yang tak selalu terbuka, kostum seksi perawan dan uang. ...jangan bilang tempat ini..."
"Dugaanmu tepat, Stell..."
"Bisakah kalian berikan penjelasan kepada kami? Kami masih belum terlalu mengerti."
"Gyu, apa kau masih belum mengerti juga? Tempat ini memang tempat pelacuran, tapi bukan tempat pelacuran biasa. Begitu kan?" jelas Hana. "Aku sudah curiga saat memasuki ruangan ini yang menggunakan Lock Infinity sebagai pengaman. Tapi aku tak menyangka tempat seperti ini benar benar ada."
"Ha?"
"Gyu, apa kau tahu kenapa mereka tak membuka tempat pelacuran setiap saat? Itu karena saat Tara dan temannya menggoda dengan pakaian seksi dan menggoda, para lelaki akan semakin terpancing dengan nafsu mereka sehingga akan memuaskan nafsu mereka kepada *******. Dan dari situlah mereka mendapatkan bayaran tinggi. Bukankah mereka bilang uang adalah alasannya?"
"Begitu rupanya... aku sedikit mengerti. Singkatnya mereka menggunakan rayuan untuk menaikkan nafsu binatang para lelaki. Itu taktik yang kejam. Aku ingin tahu siapa yang punya ide itu."
Kali ini Stella yang melanjutkan.
"Selain uang, aku yakin ******* yang berada di tempat ini merupakan seorang penyihir atau orang terlatih. Tak mengherankan jika mereka tak hanya mendapatkan banyak uang, tapi juga informasi berharga."
Tara tiba tiba bertepuk tangan. Dia juga menunjukkan senyuman senang.
"Ternyata apa yang dikatakan Ku~~ mengenai kalian itu benar. Kalian tak hanya polos, tapi juga pintar. Kurasa aku tak harus menjelaskan banyak hal lagi kepada kalian."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah kalian sudah tahu tempat apa ini? Tenang saja kalian bisa beristirahat malam ini, tapi kalian harus bekerja besok. Oh iya, apapun yang dilakukan pelanggan terhadap kalian, kalian harus menahan diri kalian ya."
Ketiganya tersengang. Mereka masih belum menanggapi maksud Tara.
"Tunggu dulu, mungkinkah Ku~~ belum memberitahu kalian? Itu aneh, dia bilang dia sudah memberitahu apa yang akan kalian lakukan di tempat ini. Huhhh.. dia memang selalu seperti itu. Berbuat seenaknya tanpa memberikan penjelasan."
Dan akhirnya mereka semua sadar apa yang sebenarnya terjadi. Dan tentu saja alasan kenapa mereka dibawa ke tempat itu.
"""(KITA DIJEBAK!!)"""
Akhirnya mereka pun terpaksa memakai kostum seksi itu dan menjadi pelayan di bar.
Bar tempat mereka bekerja tak hanya memakai kostum maid seksi sebagai seragam. Kostum seksi lainnya juga mereka pakai untuk memberikan pelayanan yang memuaskan dan menggoda para lelaki hidung belang.
Awalnya mereka menolak mentah mentah dan bahkan ingin kabur dari tempat itu, tapi kemudian mereka sadar, meskipun tempat itu adalah tempat kotor dan busuk yang dipenuhi oleh penjahat yang sebaiknya mati.
Tapi mereka sadar, tempat itu lebih dari itu.
"Tempat ini tak hanya ada penjahat, tapi juga ada bangsawan."
"Aku juga melihat seorang Knight yang memiliki pangkat tinggi tadi, Hana."
"Aku masih tak percaya mereka semua akan berkumpul di tempat yang sama dan minum di tempat yang sama seolah mereka bukan musuh. Sebenarnya tempat macam apa ini?"
Ketiganya mengamati keadaan bar dari sudut ruangan. Mereka memakai kostum seksi yang cukup mengekspos sebagian besar kulit mereka.
Gyu memakai pakaian mirip pakaian cina dengan rok pendek dan dadanya yang sedikit kecil terlihat cukup menggoda. Stella memakai pakaian maid seperti yang biasa dia pakai, hanya saja memakai tambahan berupa telinga kucing dan ekor yang bergerak seperti kucing asli. Untuk Hana, dia memakai kostum seorang perawat seksi.
Ketiganya tak jauh berbeda dengan pelayan yang lain yang bekerja melayani tamu di tempat itu.
"Mengenai itu, kurasa tempat ini sebuah Free Zone. Semua penjahat dan penegak akan melupakan posisi mereka di tempat ini. Dan permusuhan di tempat ini sangat terlarang. Kalian lihat orang yang berada di pinggir bar? Mereka adalah orang yang ditugaskan menjaga keamanan. Aku yakin mereka orang orang kuat."
"Dengan kata lain ini sungguh tempat yang tepat untuk mencari informa- Kyah!"
Hana berteriak dengan suara menggoda. Dia berteriak karena dadanya diremas dari belakang.
Dari tangannya yang mungil, mereka tahu siapa yang berbuat iseng itu.
"Ho.. ini benar benar lembut. Aku mungkin akan ketagihan."
"Tara"
"He he.."
Tara melepas tangannya dari dada Hana. Saat ini dia memakai bikini dan rok seksi yang cukup menggoda. Yang cukup mengejutkan, dia sama sekali tak terlihat malu memakai pakaian seperti itu di tempat yang dipenuhi oleh lelaki.
Mungkin perbedaan pengalaman di antara merekalah penyebabnya.
"Kurasa kalian sudah mengerti kenapa Ku~~ menyuruh kalian bekerja di tempat ini. Tak ada ruginya kan?"
"Hey apa kau lupa dia menjebak dan memaksa kami bekerja di tempat ini. Aku akui kami memang mendapatkan sesuatu yang bagus, tapi sejauh ini kami masih belum mendapatkan apapun mengenai misi kami."
"Aku sependapat dengan Gyu. Kami saat ini berada di sebuah misi penting. Kami tak punya waktu untuk melakukan pekerjaan ini."
Misi mereka sebagai Illegal masih terus berlanjut. Mengingat seberapa penting misi mereka kali ini, mereka sebaiknya melakukannya secepat mungkin.
"Aku tahu kita dalam sebuah misi, Hana. Tapi aku sadar dia, Kuro selalu melakukan hal tanpa alasan yang jelas. Meskipun dia tak memberi tahu kita, tapi kita seolah melakukan hal yang dia inginkan. Dan anehnya, kita tak pernah menolaknya."
Hana dan Gyu juga mengerti apa yang Stella maksud. Mereka tahu orang yang baru mereka kenal itu sedikit berbeda dengan orang yang selama mereka kenal.
Selain cerdas, Kuro seolah mengetahui apa yang mereka butuhkan. Bahkan itu suatu yang tak mereka sadari sekalipun Kuro seolah bisa melihat semuanya dengan jelas. Dia seorang mirip seorang penguntit yang tahu apapun tentang mereka.
"Kau benar. Dia pasti tahu kita mungkin akan kabur, tapi sejauh ini dia tak menemui kita untuk memberikan penjelasan yang jelas."
"Fu fu fu.. itulah Ku~~yang kukenal. Dia sejak dulu memang seperti itu."
"Ngomong ngomong, Tara. Apa kau tahu di mana dia sekarang?" tanya Hana. "Dia tak pernah menemui kami sejak tiga hari yang lalu."
".....Apa kalian tak melihatnya? Sejak tadi dia disana. Kalian lihat pria yang memakai topeng dan mengobrol di antara para gadis gadis itu kan?"
Ketiganya melihat ke salah satu tempat duduk. Mereka melihat pemuda memakai topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
Pemuda itu berbicara akrab dengan beberapa gadis yang terlihat seperti orang penting atau bahkan salah satunya artis terkenal.
"Itu Ku~~ Dia memang cukup terkenal di tempat ini. Tapi kalian pasti tahu alasan sebenarnya dia melakukan semua itu."
Ketiganya tak memberikan komentar banyak, tapi mereka memikirkan hal yang sama.
"""(Dia playboy. Kami sebaiknya tak dekat dekat dengannya.)"""
Ketiganya membuat keputusan. Mereka tahu pemuda bertopeng itu berada di meja yang sama hampir setiap hari. Sulit dipercaya itu adalah Kuro yang sama.
"Yah.. sudahlah. Kita sebaiknya kembali bekerja. Kita tak mau kena marah kan?"
Pemilik tempat itu, Mamy adalah orang yang menyeramkan. Mereka tak ingin membuat orang seperti dia marah.
"Oh iya, Ku~~ memberikan pesan. 'Besok adalah hari penting. Jangan bikin kacau'."
Tara lalu meninggalkan mereka. Mereka tak terlalu mengerti maksud pesan Kuro, tapi mereka memutuskan untuk tak terlalu memikirkannya dan kembali bekerja.
Keesokan harinya, mereka kembali bekerja menjadi pelayan di bar itu. Tapi mereka sadar ada perbedaan mencolok di hari itu. Jumlah pengunjung bisa dikatakan berkurang banyak jika dibandingkan malam kemarin.
Kuro juga tak menunjukkan sosoknya dimanapun. Tapi sebelum bekerja, mereka bertemu dengan Kuro untuk membahas suatu yang penting.
Jam 10 malam lebih 26 menit, gerombolan pengunjung tiba tiba memasuki bar. Gerombolan itu cukup menarik perhatian karena mereka adalah orang penting.
"..."
Hana dan kedua temannya langsung meningkatkan kewaspadaan mereka saat tahu siapa yang masuk.
[Itu adalah West Talla. Target kita. Seperti yang Kuro bilang, dia datang ke tempat ini di jam yang sama.]
Mereka menggunakan telepati untuk berkomunikasi.
[Hana, lihat orang yang berada di sampingnya. Itu adalah Cruzx Fellias.]
Mereka melihat sosok berusia 30 tahunan yang memiliki tubuh kekar dan sebuah luka di wajahnya. Dari auranya, mereka tahu dia adalah penyihir yang kuat.
[Kita jangan terlalu mengamati mereka secara langsung. Kita mungkin akan ketahuan.]
Ketiganya mencoba untuk bekerja seperti biasa. Mereka melayani tamu sambil mencoba mencari kesempatan mendapatkan informasi.
Tapi sejauh ini West hanya minum minum bersama gadis yang dia bawa. Tak ada yang mencurigakan.
Tapi mereka juga ingat dengan apa yang dikatakan Kuro sebelum mereka bekerja.
"West Talla adalah bangsawan yang cukup berpengaruh di wilayah ini. Karena itulah tak ada yang berani menyentuhnya. Yah meskipun mereka ingin, tapi tak bisa."
"Apakah itu ada hubungannya dengan korupsi yang dilakukannya?" tanya Hana.
"Benar. Dia diduga melakukan penggelapan dana yang digunakan untuk memperbaiki bangunan dari serangan penyihir dan monster. Tapi meskipun kita tahu kejahatannya, kita tak punya bukti untuk menangkapnya. Karena itulah atasan memutuskan untuk menghabisinya."
"Kami tahu itu." Ucap Hana. "Lalu apa yang ingin kami lakukan? Dia berada di tempat ini malam nanti, jadi apakah kau ingin kami mencari bukti?"
Kuro meggelengkan kepalanya tanda membantah.
"Kita akan membunuhnya, jadi ada bukti atau tidak bukan masalah. Tapi tentu jika kita bisa mendapatkan bukti itu lebih bagus."
"Lalu?"
"Kalian pasti tahu tempat ini adalah Free Zone. Penjahat dan penegak hukum berkumpul di tempat ini. Kita tahu West melakukan korupsi, tapi kita tak tahu siapa saja yang terlibat dan bekerja sama dengannya, karena itulah aku ingin kalian bertiga mengamati orang orang yang mencurigakan. Stella, aku mengandalkanmu untuk melakukan hal itu."
Stella tercengang. Dia bingung.
"B-Baiklah, ..tapi apa yang harus kulakukan?"
"Kau mampu mengendalikan alat pelacak terbaru dengan penggunaan mana paling minimal. Kemampuanmu itu adalah kunci dalam operasi kali ini. Kau bisa dengan mudah menemukan seseorang yang menggunakan sihir atau alat sihir tanpa ketahuan. Kita akan mengandalkan kemampuan itu untuk menemukan siapa saja yang terlibat."
"Aku masih belum mengerti." Keluh Gyu. "Jika menemukan siapa yang terlibat, bukankah kemampuanmu dalam mencari informasi itu sudah cukup?"
Kuro senang kemampuannya diakui, tapi-
"Aku juga memiliki batasan dalam mengumpulkan informasi. Kalian pasti tak lupa kalau aku orang biasa. Aku tak bisa melacak informasi yang disampaikan lewat sihir atau telepati."
"Dan kau butuh kemampuanku untuk melacak jika hal itu terjadi?"
Kuro mengangguk.
Dan begitulah. Misi mereka akhirnya dimulai tanpa Kuro.
Sejauh ini misi berjalan lancar, tapi mereka tentu menyadari resiko yang mereka hadapi.
West Talla berhati hati dalam melakukan tindakannya. Mereka juga masih belum tahu siapa saja yang terlibat dalam kejahatannya. Jika mereka sedikit saja melakukan kesalahan, mungkin mereka akan mati.
Di lain pihak, ketiganya juga tahu musuh sudah mengetahui tempat itu menjadi tempat untuk mengumpulkan informasi. Pelayan baru seperti mereka pasti dicurigai.
"Hey.. kau."
Tiba tiba salah satu anak buah West memanggil Stella. Stella mendekat dengan wajah gugup.
"A-ada apa tuan? Apakah anda mau memesan sesuatu?" ucap Stella dengan senyuman dipaksakan.
"Bosku ingin meminta nomor telefon anda."
"Eh?"
Stella kemudian sadar West menatapnya dengan tatapan mesum. Dia tahu West menjadikan dirinya sebagai target.
(Sialan..)
Tapi Stella sadar dia tak boleh menuruti emosinya. Jadi dia berusaha mencari alasan yang tak dicurigai.
"Nomor telefon? Sayang sekali aku sudah memiliki kekasih, jadi ak-"
Plak. Anak buah West menampar Stella dengan keras hingga terjatuh. Tak ada yang berusaha membantu Stella berdiri dan justru mentertawakannya.
"Siapa bilang kau berhak menolak? Apa kau tahu siapa dia? Dasar ******* sialan."
Anak buah West lalu menedang tubuh Stella berkali kali. Tak ada perlawanan dari Stella. Sebagai sahabat dan rekan, Gyu dan Hana tentu tak tinggal diam dan ingin menghajar orang itu, tapi Stella memberi tahu keduanya untuk tak ikut campur.
(Jika kalian membantu, dia tahu kita adalah Illegal yang mengincar nyawanya. Serahkan padaku. Jangan kawatir.)
Setelah puas, anak buah West berhenti menendang tubuh Stella. Dia juga meminta maaf kepada West karena tak mampu mendapatkan apa yang tuannya minta.
"Sudahlah. Lagipula ada banyak gadis lain seperti dia yang bisa kudapatkan dengan mudah. Meskipun sayang sekali dia sudah punya kekasih, ..benarkan?"
"..."
Senyuman yang menjijikkan dan memuakkan ditunjukkan West. Dia seakan menunjukkan dirinya orang jahat dan pantas mati.
Tara mendekat dan membantu Stella berdiri. Keduanya menjauh dari tempat itu dan kembali ke tempat istirahat.
Tak tinggal diam, Hana dan Gyu langsung menghampiri Stella yang mengalami luka lebam dan memar di seluruh tubuhnya. Sebagai penyihir dia bisa bertahan, tapi dia memilih untuk tak menggunakan kekuatannya.
"Stella, kau baik baik saja?"
"Kuh..ya begitulah. Kalian jangan kawatir, ini hanya luka kecil."
"Meskipun luka kecil, kami tentu kawatir. Dasar bodoh. Cepat obati lukamu itu."
Gyu tak menunjukkan kekawatirannya secara langsung, tapi keduanya tahu Gyu mengkawatirkan Stella. Mereka mengobati luka Stella dengan obat yang diberikan Tara.
Tak berapa lama kemudian, Kuro datang dengan senyuman lebar.
"Aku senang kalian bisa menahan diri kalian. Selamat, karena telah naik satu peringkat."
"Jangan bercanda! Kau tahu ini terjadi dan kau diam saja. Apa benar kau di pihak kami?"
Gyu memegang kerah baju Kuro dengan tatapan amarah dan kebencian, tapi Kuro tak menunjukkan dia takut atau terintimidasi.
"Aku tak bercanda."
Kuro memegang tangan Gyu dan melepaskan pegangan Gyu dengan paksa.
(Dia .....)
Gyu terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Kuro. Dia tak percaya kalau Kuro adalah orang biasa.
"Memang hal ini sering terjadi, tapi kurasa mereka mencurigai kalian sejak awal. Jadi mungkin mereka hanya mengetes kalian. Dan kalian lulus, ...tapi aku tahu kalian tak hanya mendapatkan pengalaman berharga."
Ketiganya mulai sadar Kuro juga tipe orang yang tega mengorbankan apapun demi tujuannya terlaksana. Meskipun itu juga harus membuat orang lain menderita.
__ADS_1
Mereka tak tahu apakah Kuro baik atau jahat. Mereka juga tak tahu apakah Kuro bisa dipercaya atau tidak. Tapi mereka tahu, mereka seolah menari di tangan Kuro dan tak bisa lari atau menghindar.
"A-Apa maksudmu?"
Tapi Kuro hanya merespon pertanyaan Hana dengan sebuah senyuman lebar sambil menatap ke arah Stella.
Hana kemudian melirik Stella yang juga menunjukkan senyuman yang sama.
"Tentu saja. Kau pikir siapa kami."
"Hanya tiga gadis lemah yang berusaha untuk menjadi lebih kuat. Itulah yang ada di pikiranku."
Keempatnya lalu kembali ke ruangan tempat kamar Tara berada. Keempatnya berada di salah satu kamar kosong yang dihuni ketiganya selama bekerja di bar.
"Baiklah, akan kujelasakan apa yang kutemukan."
Kuro dan dua lainnya bersiap.
"Pertama, bolehkah aku mengkonfirmasi sesuatu terlebih dulu kepadamu?"
"Silahkan."
"Alasan kenapa kau membutuhkan kami bukan karena kau tak mampu mencari bukti, tapi meskipun kau menemukannya, tapi kau masih tak bisa menggunakannya sebagai bukti. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa atasan memutuskan untuk membunuhnya."
Kuro terdiam sesaat setelah mendengar analisa Stella.
"Benar sekali. Aku menemukan bukti, tapi itu sebuah jebakan yang membuat West bisa menuntut balik. Hasilnya kita justru memberinya uang. Dia bagaikan belut yang sangat licin, tapi di saat yang sama seperti ular beracun."
"Apa kau sadar dirimu juga sama?" ucap Hana.
"Apa maksudmu?"
Hana tak membalasnya. Dia tahu percuma berdebat.
"Sudah sudah. Kita kembali ke topik. Kedua, kau juga sudah menemukan kemungkinan siapa yang terlibat, tapi kau masih belum tahu bagaimana cara mereka berkomunikasi dan mengirim informasi?"
"Benar lagi." Kuro mendesah berat seperti mengingat sesuatu. "Kami sudah memasang banyak penyadap dan pengintai di rumahnya. Tentu kami juga tak lupa menyuruh seorang mata mata. Tapi sejauh ini dia tak menunjukkan melakukan korupsi."
Setelah mendengar itu, Stella mengangguk beberapa kali dengan senyuman seolah sudah menduganya.
"Fufu fu.. sekarang sudah jelas. Aku akan memulai menjelaskan kenapa kalian tak pernah menemukan cara mereka berkomunikasi."
Stella mengambil sesuatu dari rak meja. Itu adalah sebuah buku majalah yang diterbitkan hari ini.
"Apa hubungan majalah fashion dengan cara mereka berkomunikasi?"
"Tidak ada, tapi bukankah di bar ada majalah yang sama di semua meja?"
Kuro mengangguk.
"Itu hanya majalah yang berkaitan dengan politik. Aku tak tertarik dengan urusan politik, jadi aku tak pernah membacanya."
"Kita tak membicarakan kesukaanmu di sini, tapi kita membicarakan cara mereka berkomunikasi. Dengan kata lain, mereka menggunakan majalah itu untuk berkomunikasi."
Ketiga orang lainya mulai penasaran dengan apa Stella jelaskan.
"Dengan menggunakan kode tertentu, mereka menyampaikan pesan dengan cara menyebutkan halaman, paragraf dan kata yang terdapat di majalah. Dengan cara itulah mereka bisa berkomunikasi tanpa harus ketahuan. Aku menemukan salah satunya menggunakan hentakan kaki untuk memberi tanda."
Kuro kemudian terdiam. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia entah mengapa memejamkan matanya dan mengabaikan semua di sekitarnya.
"Stella, kau hebat juga mengetahuinya."
"Gyu, terima kasih. Aku merasa aneh dengan tak ada satupun yang menggunakan sihir, jadi aku mencari tahu setiap hal kecil. Agak merepotkan, tapi ini suatu yang memuaskan."
Pengalaman berharga yang didapatkannya lah yang membuat Stella merasa puas dengan hasil yang mereka dapat.
Tiba tiba Kuro berdiri.
"Terima kasih, Stella dan tentu saja kalian berdua juga sama. Sekarang serahkan sisanya padaku. Kalian tak usah bekerja di tempat ini lagi."
"Maksudmu kami akan melanjutkan misi kami?"
"Ya. Kita akan mulai melanjutkan misi kalian, tapi aku harus memberi tahu kalian satu hal. Kalian harus melaksanakan misi membunuh West di waktu yang kutentukan."
"Alasan kenapa kami harus melakukan itu adalah..."
"Kita hanya butuh waktu yang tepat. Jika membunuhnya di waktu yang salah, kita akan membuat masalah baru. Yah.. pokoknya tunggu saja kabar dariku. Untuk sementara kalian bisa tinggal di hotel yang ku tunjuk. Mengenai biaya kalian tak usah memikirkannya. Sebelum saatnya tiba, kalian bersenang senanglah."
Ketiganya tak bisa menolak. Mereka bisa, tapi ada sebuah perasaan yang membuat ketiganya tak bisa menolak.
Setelah pertemuan itu, ketiganya pindah ke hotel yang Kuro tunjuk. Hotel bintang lima dengan kamar terbaik adalah tempat tinggal mereka untuk sementara.
Selama ini mereka hanya tinggal di penginapan murah dan seadanya. Ini pengalaman baru bagi mereka, tapi mereka lebih penasaran bagaimana Kuro membayar kamar mereka. Mungkinkah Kuro mendapatkan dana yang besar dari atasan?
"Aku tak tahu siapa sebenarnya dia, tapi aku mulai menyukai hal ini."
Gyu berguling guling di tempat tidur seperti anak kecil. Stella sedang mandi, sedangkan Hana sedang duduk di meja seperti menulis sesuatu.
"Mungkin saja dia ingin membuat kita merasakan kenikmatan sebelum misi yang kemungkinan besar kita akan mati, tapi jujur saja, aku merasa ini sama sekali tidak buruk. Kita bisa bersenang senang seperti remaja normal. Ini sungguh kehidupan yang aku impikan."
Gyu tersenyum kecil. Dia menaruh dagunya di atas bantal.
"Kau dulu selalu teropsesi dengan misi. Kupikir kau orang aneh, tapi sekarang aku tahu alasannya."
Menjalankan berbagai misi merupakan salah satu cara tercepat untuk keluar dari Illegal. Hana ingin menjadi wanita normal atau setidaknya menjalankan kehidupan normal. Inilah alasan kenapa dia senang menjalankan misi.
Stella keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuhnya. Dia kemudian duduk di kursi yang tak jauh dari keduanya.
"Sebelum menikmati surga, kita harus melewati neraka terlebih dahulu. Inilah kehidupan kita. Bukannya aku ingin mengeluh, tapi jika bisa aku ingin bebas dari rantai ini."
Ketiganya memiliki keinginan yang sama. Untuk menjalani kehidupan normal yang selama ini tak pernah mereka rasakan.
Untuk mencapai tujuan itu mereka mungkin menodai tangan mereka dengan darah, tapi menyesal dan ragu sudah terlambat. Yang bisa mereka lakukan hanya bisa terus maju.
"Oh iya, apa kau mendengar kabar dari Kuro?"
"Tidak. Dia tak menghubungi kita selama 10 hari ini. Aku tak tahu apa yang dia lakukan sekarang, tapi mungkin saja berkaitan dengan berita hari ini."
Sebuah panel sihir muncul terpancar dari ponsel Stella. Panel itu berisi berita hari ini mengenai sebuah kasus kejahatan.
"Seorang komandan Knight tewas dibunuh orang misterius dan kepalanya dipajang di alun alun kota. Aku tahu terdengar kejam, tapi jika melihat siapa Knight itu, dia merupakan orang yang diduga terlibat dalam kejahatan yang dilakukan West. Aku tak tahu apakah Kuro yang melakukannya, tapi kurasa ini merupakan sebuah peringatan kepada West."
"Dia kuat, tapi aku yakin dia bukanlah pelakunya. Dia orang biasa, jangan lupakan itu."
"Iya iya, Gyu. Kami tahu itu, permasalahan sekarang apa yang sekarang harus kita lakukan. Kita semua tahu siapapun yang melakukan ini pasti ingin West berpikir kalau dia adalah target selanjutnya. Itu membuat dia semakin waspada dan mungkin saja dia akan menyewa pengawal yang lebih banyak dan lebih kuat daripada Cruzx."
"Tidak."
Stella membantah perkataan Hana. Dia menaruh tangan di dagunya dan sedang berpikir seperti detektif.
"...aku tak tahu kenapa, tapi kupikir West tak akan melakukannya."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Gyu. "Bukankah normalnya itu yang akan dia lakukan jika nyawanya terancam."
"Normalnya, tapi West tahu sedang dicurigai. Jika dia menambah pengawal itu artinya dia seolah mengakui kejahatannya. Dia tak bisa menambah pengawal meskipun ingin. Sekarang aku tahu kenapa kita bekerja di tempat itu dan tinggal di tempat ini. Semuanya demi hari ini."
Gyu dan Hana mengakui dugaan Stella benar, tapi mereka juga mengakui ada suatu yang mengganjal di pikiran mereka.
Mereka tak tahu apa itu, tapi satu hal yang pasti, semuanya seolah berjalan di jalan yang Kuro tentukan. Mereka sekarang tak tahu siapa yang sebenarnya menjalankan misi. Kuro atau mereka.
"Pokoknya kita jadikan kasus ini sebagai sebuah tanda. Mungkin saja misi kita akan segera dimulai. Sampai saat itu tiba kita harus terus waspada dan bersiap jika terjadi sesuatu, kalian mengerti?"
Beberapa hari berlalu sejak kasus itu. Ketiganya beraktivitas seperti biasa dan terus mempersiapkan segalanya. Disaat yang sama kasus pembunuhan terus terjadi dengan cara yang sama. Mayat mereka terpenggal dan dipajang di tengah kota.
Lalu suatu hari, tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Mereka membuka dan tak menemukan siapapun kecuali selembar kertas.
Mereka membuka lalu membacanya tulisan yang tertulis di pesan itu.
[Mari kita mulai pesta pertumpahan darah yang sudah lama kita tunggu. Kalian bersiaplah pada pukul 3 sore di tempat yang ada di peta. KK.]
"......"
"....."
"....."
Mereka tak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi mereka tahu, mungkin orang yang mereka kenal sama sekali tak peduli dengan nyawa orang lain.
Sayangnya, ...mungkin itu benar.
__ADS_1