
Di timur laut Drageass, tepatnya langit Drageass sebuah lingkaran sihir muncul dan terbuka seperti sebuah pintu gerbang. Dari pintu gerbang itu muncul sosok seorang gadis beramput pirang pendek yang berhiaskan dua jepit rambut berwarna merah. Dia memiliki wajah manis seperti boneka yang dipoles dengan halus dan lembut. Mata birunya bagai lautan yang mempesona.
Tapi kecantikan kadang bisa menipu. Dia cantik, tapi dia menyimpan taring yang mematikan sama seperti mawar yang memiliki duri dibalik keindahannya.
Dia melangkahkan kakinya di udara, di saat yang sama sebuah lingkaran sihir muncul menopang tubuhnya di udara dan digunakan sebagai tempat berpijak. Dia menoleh ke dalam lingkaran sihir yang masih belum tertutup dan mengulurkan tangannya ke dalam seperti menarik sesuatu.
"Kemarilah Cross!"
Dari dalam lingkaran sihir, sebuah kaki muncul daris seorang anak kecil memakai jubah laboratorium. Tapi sebenarnya dia sudah berusia 18 tahun lebih dan lebih tua dari gadis yang memakai jubah hitam itu.
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Bagaimanapun aku lebih tua darimu, Rim."
Gadis yang dipanggil Rim hanya tertawa kecil.
Identitas gadis yang bernama Rim adalah salah satu anggota terkuat Liberia sama seperti Shadow/Alice. Kemampuan utama Rim adalah sihir teleportasi, tapi sebagai petarung dia juga memiliki kemampuan yang tak bisa dianggap remeh dibalik wajahnya yang manis.
Cross melangkahkan kakinya di lingkaran sihir yang sama dengan Rim. Cross tak bisa menggunakan sihir sehebat kakaknya, bahkan bisa dibilang dia adalah penyihir peringkat E, penyihir terlemah. Tapi dia memiliki otak yang cerdas dan dengan otaknya itu dia berhasil menjadi alkimia terbaik di Dragonia.
"Kenapa kau terlambat? Bukankah kau akan menjemputku setelah aku mengeluarkan Dragon Arm. Apa kau tahu bagaimana rasanya mati dua kali?"
"Ehe he he.. kau tak mungkin mati berkat air kehidupan yang kami berikan, jadi aku tak perlu cemas kau akan mati. Bahkan meskipun aku menjatuhkanmu dari ketinggian seperti ini atau melemparmu ke mulut Necrodra, kau tak akan mati. Bagaimana? Mau mencobanya? Kurasa belum terlambat untuk melatihmu menjadi seorang masokis sejati."
Air kehidupan adalah sebuah ramuan sihir yang memberikan efek seperti keabadian atau tak bisa mati, tapi orang yang meminum air kehidupan tetap tak lepas dari kematian. Hal ini sudah dibuktikan saat perang masih terjadi.
"Kenapa aku lebih takut dengan tatapan seriusmu daripada mati? Ah..sudahlah. Kita cepat selesaikan urusan ini. Bagaimanapun juga aku ingin segera bergabung dengan kalian."
6 panel mana muncul di depan Cross.
"Kau sebenarnya tak ingin bergabung dengan kami, tapi kau hanya ingin bersama dengan Alice kan? aha ha.. Cross kau sungguh manis.."
Rim tanpa ragu mengangkat tubuh Cross yang kecil dan memeluknya seperti boneka yang besar.
"Hey, jangan memperlakukan seperti anak kecil. Dan pikirkan dulu sebelum memeluk seorang pria, mereka bisa mati karena dadamu yang seperti papan."
Rim langsung terdiam mematung dan melepaskan Cross dari pelukannya.
"KENAPA SEMUA LELAKI SELALU MEMBICARAKAN DADAKU!"
Rim menendang Cross dengan kekuatan penuh. Cross mendapat tendangan di wajah dan terjatuh di ketinggian seratus meter lebih. Bagi penyihir, mereka bisa melakukan sesuatu jika terjatuh di ketinggian seperti itu, tapi hal ini tak berlaku kepada Cross.
Sayangnya Cross akan tetap hidup dan kembali seperti semula. Pelatihan Cross menjadi seorang masokis baru saja dimulai.
Di daratan tempat tubuh Cross mendarat, seonggok daging tak berbentuk tergeletak. Semua yang melihatnya pasti akan merasa jijik, apalagi seonggok daging itu mulai bergerak dan membentuk sosok manusia lagi. Tak jauh dari daging itu, lingkaran sihir gerbang teleportasi muncul dan sekali lagi sosok Rim keluar.
"He he.."
Rim mengambil ponsel dan merekam proses saat tubuh Cross kembali menjadi satu. Jika disebut kebiasaan buruk, itu sangat tepat.
"Jangan merekamku, Bit- guhh!!"
Cross ang sudah hampir pulih mendapatkan tendangan lagi dan akhirnya kembali menjadi seonggok daging. Meskipun Cross bisa dikatakan abadi, tapi dia masih akan merasa sakit jika terluka.
Seseorang yang tanpa ragu melakukan hal itu terhadap Cross tak bisa dikatakan sebagai wanita baik baik.
Setelah beberapa detik, Cross kembali utuh. Kali ini dia hanya diam dan tak ingin membuat masalah lagi dengan Rim. Meskipun abadi, dia tak akan menang melawan Rim. Dia tahu hal ini dan hanya bisa pasrah saat melihat Rim menonton video yang direkamnya tadi dengan ria.
Dalam hati Cross berpikir.
(Jangan pernah membuat masalah dengan wanita berdada rata.)
Dan dia juga membuat keputusan tak akan pernah menikahi wanita berdada rata.
Mereka kembali ke posisi mereka semula, yaitu berada di langit kota Drageass. Meskipun keberadaan mereka mencolok, tapi mereka sudah menggunakan sihir ilusi untuk menyamarkan keberadaan mereka.
6 panel mana kembali muncul di depan Cross. Dan sebuah panel yang mirip sebuah keyboard muncul sebagai kontrol utama.
"........"
Cross mengamati pertarungan yang berada di tepan di depan dan bawahnya. Ruby, Necrodra, Ultimate necrodra, Dragon Arm, Dragon Knight dan Hell Beast semuanya bertarung dengan sengit dan saling membunuh. Jumlah pasukan kedua belah pihak sudah berkurang drastis menjadi mayat yang bergelimpangan di daratan. Hanya tinggal waktu saja pemenang ditentukan.
Pertarungan berada di pihak Dragonia. Berkat Ruby yang dikenal sebagai Dragon King terkuat, jumlah pasukan di pihak Deon berkurang dengan cepat. Ruby bahkan yang paling banyak mengalahkan Ultimate Necroda karena dibantu oleh Dragon Arm buatan Cross.
Sementara itu, di panggung utama, tiga orang masih bertarung dengan sengit. Leonel bertarung menggunakan Avalon Gear mampu bertahan atau setidaknya mengimbangi Deon/Lucifer. Sedangkan Kuro, selain bisa menggunakan sihir, sekarang pertahanan yang dia miliki lebih kuat daripada yang sebelumnya. Keduanya bekerja sama dengan baik dan menyerang Deon/Lucifer dengan kekuatan yang tak bisa dibilang kecil.
Tapi meskipun mereka berdua bertarung bersama untuk mengalahkan Deon/Lucifer, tapi mereka masih belum bisa menggores tubuh Deon. Hal ini bukan karena serangan mereka tak berhasil, tapi dikarenakan Deon/Lucifer memiliki kemampuan beregenerasi seperti makhluk abadi, tapi pada kenyataannya, tubuh Deon sudah mencapai batas karena terlalu lama menggunakan Cursed Arm. Dengan kata lain, selama mereka bisa menahan Deon/Lucifer, mereka akan memenangkan pertarungan.
Tentu Cross tak akan membiarkan hal ini terjadi.
Setelah mengambil nafas dalam, Cross mulai mengetik di depan 6 komputernya. Dia sedang berusaha mengambil alih kembali sistem yang mengendalikan Dragon Arm. Dragon Arm adalah buatannya, jadi dia tahu betul seluk beluk Dragon Arm. Mengambil alih sistem kendali adalah hal yang mudah baginya.
"Demi seorang gadis, seorang pangeran menghancurkan negrinya sendiri, ...bukankah ini ironis?"
Cross langsung berhenti, tapi dia kembali melanjutkan pengambil alihan tanpa sepatah kata apapun.
"Tidak, daripada disebut ironis, kurasa lebih tepat jika disebut romantis, benarkan Cross"
".........aku menghancurkan negri ini bukan hanya karena Alice atau ini adalah sebuah syarat agar aku bisa memasuki Liberia, tapi sejak awal aku merasa negri ini memang harus dihancurkan."
Kebencian terpancar dari ekspresi dan kata kata Cross.
"Tapi mendengar itu dari anggota organisasi yang berniat menghancurkan dunia terasa sangat aneh di telingaku, ......atau sejak awal niat kalian menghancurkan dunia hanyalah kebongongan belaka?"
Rim tengkurap di atas llingkaran sihir sambil menahan dagu dengan keduanya tangannya dengan santai seolah tak peduli dengan apa yang terjadi dan hanya berperan sebagai penonton.
".....jangan salah sangka, Cross. Aku tak peduli apakah dunia hancur atau bahkan musnah. Yang aku pedulikan adalah mengabulkan keinginan Alice. Dia adalah segalanya bagiku, sedangkan yang lain hanyalah sampah sama seperti kau."
"Hey..aku tahu kau menyayangi Alice, tapi mendengar itu cukup menyakitkan."
"Bukankah hanya sampah yang menghancurkan negrinya sendiri? Jika bukan sampah, lalu apa kau?"
Cross terdiam. Dia menggertakan giginya dengan keras sambil terus mempercepat mengambil alih.
Tapi jika ditanya tentang siapa dirinya, Cross tahu jawaban yang paling tepat.
"Aku bukan siapapun, jadi sampah mungkin julukan yang tepat bagiku."
Rim tersenyum kecil, disaat yang sama sebuah tanda bahwa pengambil alihan kendali telah sukses.
Mimpi buruk yang sebenarnya baru saja dimulai.
Sementara itu di ruang kendali istana, Draig langsung berdiri dan pergi dari kursinya. Semua yang berada di ruang kendali hanya bisa menyaksikan dan tak melakukan apapun. Di semua layar menunjukkan hal yang sama, mereka sudah kehilangan kendali senjata terkuat mereka, Dragon Arm.
Draig bisa mencegah hal ini terjadi, tapi dia tak bisa melakukannya. Rasa cintanya sebagai seorang ayah dan kewajibannya sebagai seorang raja selalu bertentangan dan itulah yang membuat dirinya tersiksa.
Dia menyuruh Louis untuk membunuh Cross sebelum semuanya terlambat dengan mengatas namakan kewajiban dan kedamaian dunia, tapi bagaimana bisa seorang ayah menyuruh anaknya sendiri untuk membunuh saudaranya. Dia tak pantas menjadi seorang raja maupun sebagai seorang ayah.
"Dora, aku serahkan sisanya padamu."
Dora yang tak jauh dari Draig hanya bisa mengangguk.
Draig lalu pergi dari ruang kendali tanpa sepatah katapun. Dia berjalan dengan langkah berat dan penuh rasa bersalah. Tapi dia sudah memutuskan, mungkin ini saatnya berubah menjadi seorang ayah dan raja yang sesungguhnya. Meskipun sudah terlambat.
Di lorong istana, Louis terbaring lemah tak berdaya. Meskipun tubuhnya telah pulih dari luka yang dia terima, namun dia masih butuh waktu untuk kembali seperti semula. Di sampingnya, Diana menatapnya dengan tatapan kawatir, tapi juga dengan tatapan penasaran seolah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini normal. Diana hanyalah satu satunya orang yang tak tahu dengan masalah yang terjadi.
Dia terlalu polos dan suci. Dan itulah yang membuatnya akan berbuat apapun selama menurutnya benar. Itu adalah suatu yang baik dari Diana.
Tapi itu juga sesuatu yang tak diperbolehkan karena kenaifan tak akan selalu menghasilkan suatu kebaikan. Kadang untuk hidup yang lebih baik diharuskan mengotori tangan sendiri, dan alasan itulah yang membuat Louis tak ingin adik kesangannya menanggung semua beban itu.
"Kakak Louis.. kenapa semua ini terjadi....?"
Diana hanya bisa menganggap semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk. Dia ingin segera bangun dan kembali ke kehidupan normal yang bahagia bersama semua keluarganya, tapi berapa kalipun dia mencoba untuk bangun, mimpi buruk itu tak mau pergi.
Kehidupan tenang dan damai kini tak bisa dia rasakan lagi. Hubungan saudara yang terjalin seakan hanyalah hubungan palsu. Dulunya mereka hidup rukun dan saling tolong menolong kini saling membunuh satu sama lain. Mana yang kenyataan dan mana yang sebuah mimpi? Diana sudah tak bisa membedakan keduanya.
Negri kecil yang damai kini berubah menjadi medan pertempuran yang mungkin akan mempengaruhi nasib seluruh dunia, tapi bukan Dragonia yang bertarung dalam pertempuran ini. Dragonia bagaikan staff yang menyiapkan panggung untuk pemeran utama. Dalam hal ini, pemeran utama adalah Kuro dan teman temannya.
Mereka bertarung dengan mempertaruhkan nyawanya demi negara lain. Memang jika mereka tak bertarung, mungkin keadaan lebih buruk, tapi tanpa keinginan yang kuat, bertarung bukanlah pilihan mereka.
Mereka bisa menjadi penonton dan memberikan komentar. Lalu jika Dragonia kalah, mereka bisa menyalahkan Dragonia karena berkat mereka kedamaian seluruh dunia terancam. .....tapi mereka tak melakukannya.
"....ayah, kenapa kau kemari?"
Diana menoleh ke arah Draig yang datang mendekat. Dia muncul entah darimana, tapi keberadaan Draig membuat perasaan Diana lebih tenang.
"Maaf, aku tak pernah memmberi tahumu, Diana. Sekarang akan kuceritakan semuanya. ...kurasa ini masih belum saat yang tepat untuk menceritakan ini, tapi kau tetap harus tahu siapa dirimu sebenarnya, dan kenapa Cross menjadi seperti ini."
Draig menatap Louis yang tergeletak dengan tatapan menyedihkan.
"Apa kau yakin, Ayah?"
Dengan senyuman tipis dan ekspresi rumit, Louis hanya pasrah dengan keputusan yang di ambil ayahnya.
Louis sudah tahu kebenaran sejak lama, dan hal itu karena dia mencari tahu. Pemikirannya yang cerdaslah yang membuat pemikiran itu muncul, tapi sayangnya hal inilah yang menyebabkan Cross menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Kurasa sudah terlambat untuk menjadi ayah yang baik."
"........Ayah, apa maksud kakak Louis?"
Draig tak langsung menjawab, tapi dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk sekarang ini.
"Diana, maafkan ayahmu. ....aku telah merubah anakku sendiri menjadi sebuah senjata."
"?!"
Lalu terdengarlah kebenaran tentang dirinya dan saudaranya. Kebenaran itu membuat perasaan Diana bercampur aduk dan tak bisa berbuat apa apa. Dia bahkan tak bisa mengambil keputusan yang tepat, tidak, keputusan yang tepat bukanlah suatu yang tepat saat ini.
Biarkan hati yang memutuskan. Semua yang terjadi dan hubungan yang terjadi selama puluhan tahun bukanlah suatu kebohongan belaka. Mereka semua memiliki ikatan yang tak bisa diputuskan begitu saja, tapi kenyataan tetap begitu sulit sehingga butuh waktu untuk menerima semuanya.
Tapi sekarang dia harus membuat keputusan, dan keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang dia ambil sebagai seorang putri dan sebagai seorang anak yang berusaha melindungi keluarganya.
Dia berdiri dan berlari menuju medan perang. Dia menghampiri Shapira yang masih mengeluarkan Dragon Breath terakhir sebelum akhirnya menoleh ke arah Diana. Mata Shapira sedikit menyipit karena tahu Diana telah berubah.
[Kau telah menemukan jawaban yang kau cari selama ini, Queen?]
Diana terkejut karena baru pertama kalinya mendengar suara Shapira begitu jelas. Meskipun mereka sudah lama bersama dan bahkan menyatukan perasaan sebagai syarat awal menggunakan Dragon Gear, namun saat ini dia merasa perasaan mereka benar benar terhubung.
"Ya. Aku selama ini berpikir bahwa aku harus membuat semua bahagia dan tanpa membuat satupun terluka. Aku sekarang sadar itu hanyalah kenaifan belaka."
[......]
"Tapi aku juga sadar, justru karena kita naif, kita masih memiliki sebuah harapan dan keinginan untuk terus maju dan pantang menyerah. Shapira, maukah kau meminjamkan kekuatanmu sekali lagi? Aku membutuhkan kekuatanmu untuk menyadarkan kak Cross. Aku akan berada di depannya dan mengatakan dengan lantang, 'meskipun bukan saudara kandung, meskipun bukan manusia dan hanyalah manusia buatan, dia tetaplah kakak dan keluargaku yang aku sayangi'"
Diana mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman manis. Sebuah senyuman yang juga menjadi sebuah tanda dia telah terlahir kembali menjadi sosok yang baru.
[Aku mengerti. Aku akan memberikan kekuatan yang kau butuhkan. Kau juga sudah pantas untuk menggunakan kekuatanku yang sesungguhnya, tapi aku juga memperingatkanmu, jika kau menggunakan kekuatanku untuk tujuan salah, disaat yang sama hubungan yang terjalin di antar kita akan putus, dan disaat yang sama nyawamu adalah bayaran dari perbuatanmu. Kami adalah sang penyeimbang, dan bukan sang penghancur. Itulah tugas kami sebagai Dragon King.]
"Aku mengerti. Aku juga berjanji akan menggunakan kekuatanmu dengan baik."
Lingkaran sihir berwarna hijau muncul di bawah kaki mereka. Lingkaran itu bahkan berdiameter lebih dari 50 meter. Dari lingkaran sihir itu, Diana merasakan aura hangat dan nyaman seperti pelukan ibu. Tumbuhan di sekitar mereka yang semulanya mati juga perlahan tumbuh dengan cepat dan menjadi surga yang baru.
Aura hangat itu perlahan menyelimuti dirinya. Tubuhnya juga diselimuti oleh cahaya hijau yang memancar ke segala arah. Shapira juga diselimuti cahaya hijau yang kini memenuhi segala sudut istana.
"?!"
Disaat yang sama, Diana melihat bayangan di pikirannya. Lebih tepatnya jika bayangan itu adalah ingatan Shapira. Sosok Shapira saat masih kecil, saat berburu dan bertarung semuanya terlintas di pikirannya. Tapi ada juga kenangan saat bertarung bersama dengan Queen sebelum dirinya.
Ingatan yang paling mengejutkan mungkin adalah saat 13 Dragon King bertarung bersama dengan para Dragon Tamer. ....dan disaat itulah, dia melihat suatu yang tak dia duga. Sebuah pedang putih yang digenggam oleh seorang pemuda bermata putih.
"....tuan Kuro?"
Diana langsung membuka matanya. Dia terkejut dengan apa yang dia lihat, tapi dia lebih terkejut dengan sosok dirinya yang baru.Dia mengenakan armor metalik yang berwarna hijau, tapi juga didominasi oleh warna perak yang mengkilap. Berbeda dengan Dragon Gear yang dia pakai sebelumnya yang lebih mirip armor berat yang melindungi seluruh tubuh, armor yang dia pakai sekarang lebih mirip armor tipis yang mirip armor ringan.
Berbagai simbol naga dan bentuk naga masih terlihat di armornya, jadi tak salah lagi yang dia pakai adalah Dragon Gear. Perbedaan yang paling mencolok dari Dragon Gear yang dia kenakan saat ini adalah dia bahkan tak merasa sedang memakai sebuah armor dan memakai bagian tubuhnya sendiri. Tapi dia merasakan kekuatan yang luar biasa dari dalam dirinya. Ini baru pertama kalinya Diana merasakan itu. Dengan kekuatan itu dia seolah bisa melakukan apapun.
Yang menjadi masalah adalah...
"......kenapa pakaian ini mengekspos terlalu banyak kulit?"
Dia sadar ada beberapa bagian yang seperti hilang dan digantikan bahan seperti kaca tipis, tapi itu tetap tak mengubah fakta sebagian kulitnya terekspos terutama di bagian dadanya.
Wajahnya langsung merah padam karena jarang menunjukkan sebagian kulitnya.
[Itu adalah wujud sebenarnya dari Dragon Gear.]
"Wujud sebenarnya? Hm!? Shapira, kau juga berubah? Kau lebih bersinar dan ada sebuah hiasan di kepalamu."
Wujud Shapira berubah. Jika sebelumnya dia tak jauh berbeda dengan naga biasa yang memiliki ukuran besar, namun sekarang tubuhnya lebih bercahaya seperti sesudah berganti kulit. Sayap dan tubuhnya juga lebih ramping dan memiliki beberapa bagian keperakan, tapi yang paling mencolok mungkin ada benda seperti mahkota di kepala Shapira.
[Ini masih bukan wujudku yang sebenarnya.]
"Eh?"
[Kau memang telah membuat hubungan baru denganku, disaat yang sama kau juga membangkitkan kekuatanku yang tertidur, tapi kau yang sekarang ini masih belum bisa membangkitkan kekuatanku sepenuhnya. Tapi jangan kawatir, jika saatnya sudah tepat, aku yakin kau bisa melakukannya, Queen.]
Diana tersenyum dan dengan perlahan berjalan mendekat ke arah Saphira.
Dia masih tak percaya bahwa Dragon King memiliki kekuatan seperti itu.
Tapi sekarang dia tahu, dengan kekuatan itu, dia akan mampu bertarung dan menjadi salah satu pemeran utama.
Diana memanggil Magic Arm miliknya. Sebuah tombak merah darah bercampur dengan warna keperakan kini muncul di tangan Diana. Dia lalu melompat ke punggung Shapira dan duduk sebagai Dragon Tamer.
Shapira mengepakkan sayapnya, lalu terbang menembus perisai menuju pertarungan terakhir di bawah bulan.
"....Aldest, aku mengandalkanmu."
Knox selesai memberi tahu strateginya kepada Aldest. Dia lalu menoleh ke arah 3 orang lainnya yang sudah membentuk formasi segitiga.
Dia mendekat lalu mengkonfirmasi bahwa mereka sudah siap.
"Jinn, aku juga mengandalkanmu."
Tanpa ada jawaban, sosok Jinn diselimuti cahaya keperakan. Setelah cahaya menghilang, sosok armor keperakan menyelimuti tubuhnya. Armor itu adalah Knight Gear yang diberikan oleh orang yang dia tolong, tapi dia gagal melakukannya. Karena itulah Jinn terlihat begitu sedih.
Berbeda dengan Knight Gear yang berbentuk armor naga, Knight Gear yang dia pakai hanyalah armor berat biasa berwarna perak. Tak ada yang tahu kenapa bisa seperti itu, tapi Knox menduga Knight Gear tampaknya berasimilasi dengan Magic Arm miliki Jinn yang sebenarnya juga berwujud armor.
Tugas mereka adalah menemukan Cross yang kini bersembunyi menggunakan sihir ilusi di suatu tempat. Dengan level musuh yang sekuat ini, sihir ilusi itu pasti bukanlah sihir ilusi sembarangan. Dengan kata lain, musuh tak ingin keberadaan Cross diketahui apapun yang terjadi.
Laila memanggil Scarflare. Sedangkan ketiga lainnya bersiap dengan Charlmilia sebagai pusatnya.
Aura terpancar dari mereka kecuali Laila yang hanya bertugas melindungi mereka semua. Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Knox dan melebar, lalu dengan dengan sebuah kepalan Knox memukul tanah yang mereka pijak dengan kekuatan penuh.
"[Dust Storm]"
Tanah langsung hancur menjadi debu. Persiapan pertama selesai.
Sekarang giliran Charlmilia. Charlmilia berputar beberapa kali lalu sebuah tornado berukuran cukup besar menerbangkan semua debu yang dihasilkan Knox. Charlmilia dan Knox langsung duduk dan mengambil posisi bertapa. Mereka memejamkan matanya dan berkonsentrasi.
Jinn juga langsung melaksanakan tugasnya. Dia mengepalkan tangannya lalu menaruh tangannya di tanah. Dia memejamkan matanya lalu berkonsentrasi dan mengaktifkan sihir yang pernah dia gunakan saat pertama kali datang ke Dragonia.
"[Sonic Ground]"
Sekali lagi Jinn membayangkan dan menyimpan informasi yang ada di otaknya. Tujuan mereka adalah menemukan Cross bagaimanapun juga, jadi mereka juga mencarinya di tanah. Dan orang yang paling cocok adalah Jinn. Dia terus mencari hingga radius 100 meter, 200 meter dan akhirnya 500 meter lebih.
Dia menerima semua informasi yang berada di dalam tanah. Istana, mayat, tulang dan banyak sekali ruang bawah tanah, tapi dia belum menemukan Cross. Dia menggertakkan giginya lalu memperluas area pencarian. Dia tak peduli meskipun harus menggunakan semua mana yang tersisa.
Jika di tanah adalah tugas Jinn, maka di udara adalah tugas Knox dan Charmilia. Ketiganya kini bekerja sama untuk menemukan Cross. Selama inilah mereka rawan diserang, karena itulah Laila bertugas melindungi mereka. Ini adalah kombinasi mereka berempat dengan menggunakan keahlian masing masing.
"Kuro.."
Laila terus waspada. Dari tempatnya berdiri dia melihat dengan jelas pertarungan antara Kuro dan Deon. Dia kawatir, tapi dia juga hanya bisa percaya Kuro akan baik baik saja.
Disaat yang sama mereka mencari, mata Dragon Arm berubah menjadi merah. Serangan mereka juga lebih intensif dan membabi buta. Sekilas mereka seperti sedang mengamuk. Ini adalah tanda Cross sudah mengendalikan Dragon Arm sepenuhnya.
"Pertama, akan kutunjukkan perbedaan kekuatan antara Dragon Arm dan Dragon King."
Salah satu Dragon Arm yang berada di dekat Ruby bergerak dari sudut mati dan mengincar Ruby yang sedang bertarung melawan Necrodra. Dragon Arm itu dengan ganas langsung berusaha menerkam dan menyerang menggunakan cakarnya yang setajam pedang, tapi Ruby sejak awal tak percaya dengan Dragon Arm. Ruby tahu mereka hanyalah sebuah mesin, jadi sejak awal dia sudah mewaspadai mereka, dan karena itulah dia bisa menghindar dengan bergerak ke samping.
Ruby lalu menjaga jarak dengan melompat beberapa puluh meter dari Dragon Arm yang menyerangnya. Tak hanya itu, dengan cepat dia menyerang Dragon Arm dengan menggunakan Laser Breath.
Cahaya lurus mengarah ke Dragon Arm. Dragon Arm tak berusaha menghindar dan menerima serangan telak serangan yang mampu membunuh Ultimate Necrodra itu.
Booom! Ledakan terjadi, dan menerbangkan segalanya yang berada di sekitar Dragon Arm. Semua pasti berpikir Dragon Arm itu musnah, tapi itu salah.
Setelah debu menghilang, sosok Dragon Arm yang sama sekali tak menerima dampak serangan terlihat begitu jelas. Ketujuh Dragon Arm lainnya lalu satu persatu mendekat dan berbaris seolah menantang Dragon King terkuat, Ruby.
"Ha ha ha ha, Dragon Arm buatanku terbuat dari salah satu benda terkeras di dunia, aku lalu memperkuatnya lagi sehingga mereka tak mudah hancur meskipun menerima ratusan kali Laser Breath. Jadi jangan remehkan mereka, Dragon King."
"Kau tak cocok menjadi orang jahat, kau tahu itu, Cross."
Cross tak mau berkomentar dan berusaha mengabaikan Rim yang hanya bermain main.
"Aku masih memiliki beberapa kejutan lagi yang khusus kupersiapkan kepada mereka."
Cross dengan cepat mengetik keyboard di depannya. Sebuah layar mana menunjukkan gambar Avalon Gear. Ya. Dia sekarang berniat mengendalikan Avalon Gear.
"Cross, aku tahu kau sangat bernafsu ingin menghancurkan Dragonia dengan tanganmu sendiri, tapi kau tak lupa apa yang dikatakan Alice kan?"
Senyuman jahat muncul di wajah Cross.
"Jika yang kau maksud penerus Demon King, aku sudah mendengarnya. Jujur saja aku kecewa dengannya. Aku tahu dia kuat, tapi dia tetap tak akan bisa menghentikanku."
Disaat yang sama, Cross sudah berhasil mengambil alih Avalon Gear tanpa ada yang menyadarinya, bahkan Lionel yang memakai Avalon Gear tak menyadarinya.
Lionel terus bertarung dengan mengkombinasikan serangannya dengan Kuro tanpa merasakan suatu yang aneh, tapi dia tiba tiba merasakan bahwa tubuhnya tak menuruti perintahnya lagi.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Tak hanya tubuhnya yang tak bisa dia kendalikan, dia juga tak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Ruang kendali juga sudah tak memberikan petunjuk lagi. Tak salah lagi, pasti terjadi sesuatu di istana.
Tapi dia tak punya waktu karena kini dia menghunuskan senjatanya tepat ke arah Kuro yang sedang beradu pedang dengan Deon dari belakang.
"Tuan Kuro, lari!!!!"
Lionel berteriak dengan sekuat tenaga dan berusaha menghentikan tubuhnya, tapi tak pernah berhasil. Dia hanya bisa melihat senjatanya menebas tubuh Kuro dari belakang. Meskipun memakai Dragon Gear, serangan langsung pasti akan langsung berdampak besar kepada Kuro, dan jika Kuro mengalami luka parah, maka tak ada yang bisa mengalahkan Deon.
Kemenangan akan menjadi milik musuh dan juga menjadi akhir dari Dragonia. Ini adalah sebuah akhir.
Cross hanya bisa tersenyum tipis karena kemenangan akan berada di pihaknya.
Sementara itu, Alice yang sedang duduk di atas menara istana Fafnir sambil makan sebuah apel merah hanya melihat dan tak memberikan reaksi berarti. Hal yang sama juga dilakukan Rim. Dia sama sekali tak tertarik dengan pertempuran ini dan hanya bersantai. Mereka berdua bukanlah pemain utama dalam hal ini, jadi mereka hanya menonton.
"?!"
Laila yang melihat Lionel menyerang Kuro dari belakang hanya bisa pasrah dan tak bisa bergerak. Jika dia bisa menghentikan waktu, dia akan segera ke tempat Kuro, tapi yang dia bisa lakukan hanyalah melihat kekasihnya diserang.
Shapira dan Diana juga menyadari Lionel menyerang Kuro, tapi mereka sejak awal tak pergi menuju Kuro, tapi menuju tempat Ruby dimana Ruby menghadapi 8 Dragon Arm.
Senjata Lionel hanya beberapa cm dari Kuro dan dengan tanpa ampun mengincar bagian vital.
Semua berpikir ini adalah akhir, tapi-
"Guhhh!"
Semua mata melebar saat melihat adegan yang sulit dipercaya. Sesaat sebelum mata pisau senjata Lionel menyentuh armor Kuro, Kuro langsung menyerang Lionel dengan sebuah tebasan. Tubuh Lionel dengan kecepatan tinggi melesat ke bawah tanah dan membentur dengan keras. Debu berterbangan dan suara ledakan menggema ke seluruh arena pertarungan. Dan setelah debu menghilang Lionel terlihat dengan armor yang hancur dan mengalami sebuah luka tebasan yang lebar.
Apa yang terjadi? Semua memikirkan hal yang sama.
Cross yang melihat itu hanya bisa tercengang dengan mata melebar. Serangan Lionel sudah dia perkirakan dengan baik. Waktu dan bahkan ketepatan serangan sudah diperkirakan dengan matang sehingga seharusnya Kuro tak mungkin menghindari serangan Lionel. Bahkan meskipun Kuro menggunakan Accell Art, Kuro tak akan bisa melakukannya karena sedang berhadapan dengan Deon, sang musuh terkuat dalam pertempuran ini.
Tapi bukan hanya itu saja yang mengejutkan Cross. Deon/Lucifer yang sejak awal bertarung dengan Kuro kini terbang di samping Kuro tanpa berbuat apapun. Necrodra, Ultimate Necrodra bahkan Demon Beast yang masih tersisa kini bersama Ruby dan Shapira dan berhadapan dengan Dragon Arm.
Semua pasukan Dragonia yang melihat semua ini terjadi hanya bisa tercengang. Musuh yang mereka lawan tiba tiba kini berada di pihak mereka.
"Begitu rupanya, pantas Alice memperingatkanmu tentang lelaki itu." ucap Rim dengan tatapan serius. "Aku sekarang mengerti kekuatan sang pewaris Demon King."
"Tch.!!"
Cross langsung meng-klik lidahnya karena langsung menyadari semua yang terjadi. Sejak awal Deon/Lucifer tak pernah di pihak Liberia. Kuro dan Deon/Lucifer sudah merencanakan semuanya. Bahkan pertarungan mereka juga sebuah kebohongan. Mereka terus bertarung dengan kekuatan yang dahsyat, tapi bisa berlangsung berjam jam tanpa ada yang kalah atau mundur. Jika dipikirkan lagi memang semua ini tak masuk akal.
Situasi berubah menjadi terbalik seratus delapan puluh derajat.
Rencana yang sudah Cross susun dengan sempurna kini semuanya berantakan.
"Kuh. ini belum berakhir!!!"
Cross belum menyerah. Dia masih memiliki Dragon Arm dan beberapa monster besi, Astaroth. Dia langsung berniat mengendalikan mereka semua secara bersamaan.
"Cross, menghindar!!"
"!?"
Cross tak mengerti apa yang Rim maksud, tapi Rim langsung mendorong Cross ke pinggir lingkaran sihir. Cross terjatuh ke bawah, tapi dia dikejutkan oleh sosok bayangan yang melesat turun ke bawah dengan kecepatan yang tak bisa dilihat mata.
....dan disaat tubuhnya terjatuh, dia melihat cairan merah darah kental yang terjatuh bersamanya, disaat yang sama dia merasakan sakit yang luar biasa berasal dari tangannya. Dan disaat menoleh, dia melihat tangannya sudah tak ada lagi di tempatnya.
Mata Cross sekali lagi melebar. Dia tahu telah menyembunyikan dirinya dengan sihir ilusi tingkat tinggi yang bahkan tak akan ditemukan meskipun menggunakan sihir pendeteksi maupun sebuah alat canggih.
".....?"
Lalu dia melihat 4 sosok yang melihat ke arahnya. Salah satu sosok itu adalah orang yang pernah menusuknya. Orang itu tersenyum tipis sambil mengatakan sesuatu. Dia tak tahu pasti apa yang Knox katakan, tapi dari gerakan bibir, dia bisa menebaknya. 'skakmat cebol'. Itulah yang dia katakan.
Awalnya dia tak mengerti. Setahu dia, Knox bukanlah orang bodoh yang pasti tahu kalau dia hidup abadi. Knox pasti tak akan menyatakan kemenangan dengan mudah.
....tapi dia langsung menemukan jawabannya.
Sesosok Grim Reaper (Dewa Kematian), tiba tiba muncul di depannya dan sudah bersiap menebas tubuh kecil Cross menjadi dua.
Cross ingat kalau sosok Grim Reaper itu adalah sebuah Magic Beast dari salah satu teman yang bersama Kuro. Penyihir yang memilki julukan Demon Witch adalah pemilik Grim Reaper itu. Demon Witch dikenal mempunyai sihir khusus yang mampu memanipulasi pikiran dan juga mampu membangkitkan orang mati, tapi Demon Witch juga memiliki satu lagi kemampuan khusus, yaitu Death Curse. Sihir mengerikan yang mampu memisahkan jiwa dan raga.
Dan inilah kelemahan terbesar Cross.
Berkat air kehidupan, tubuhnya akan terus beregenerasi separah apapun luka yang dia alami, bahkan meskipun kepalanya terpenggal, selama kembali disatukan maka dia tetap akan hidup, tapi meskipun begitu, Cross tetaplah makhluk hidup yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Lalu jika keduanya dipisahkan, maka Cross akan langsung mati seperti yang lainnya.
Sesaat sebelum sabit Grim Reaper memotong tubuhnya, Cross tersenyum. Dia tak hanya gagal melaksanakan rencanya, tapi juga gagal meraih impiannya. Dia tahu telah gagal.
"[Gae Bolg]"
Sebuah cahaya merah keperakan dengan kecepatan tinggi tiba tiba melesat dan menghancurkan sosok Grim Reaper sesaat sebelum sabitnya menyentuh tubuh Cross.
Cross terkejut karena dia sangat mengenal serangan itu. Itu adalah serangan terkuat milik Diana.
Saat terkejut, tubuh Cross yang sudah hampir menyentuh tanah tiba tiba ditarik oleh seseorang. Cross melirik orang yang menariknya adalah Rim.
"Kenapa?"
Mereka berdua mendarat dengan sempurna. Disaat yang sama, Diana mendarat tak jauh dari mereka berdua dengan Dragon Gear yang mengekspos sebagian besar kulitnya.
Tak hanya Diana, kelompok Kuro, Jinn dan lainnya ditambah Aldest dan Lairo menghampiri mereka dan mengepungnya.
"Sudah kubilang kau tak cocok berperan menjadi orang jahat, Cross."
Di situasi yang tak menguntungkan, Rim masih bisa tersenyum senang. Dia tak menunjukkan rasa takut atau gentar saat dikepung musuh.
"Sekarang aku mau pergi. Disini sudah tak menarik lagi. Apa kau mau ikut denganku?"
"Jangan kau pikir kami akan membiarkan kalian pergi."
Laila berteriak sambil mengarahkan pistol beramunisi anticristal kepada Rim dan Cross. Meskipun hanya beberapa amunisi yang tersisa, tapi jika dia bisa menghentikan sihir teleportasi Rim walau hanya sekali saja, maka mereka masih memiliki kesempatan.
Selain dirinya, semuanya juga sudah bersiap dengan Magic Arm dan Magic Beast milik mereka.
Rim tersenyum.
"Oh.. aku tak menyangka Queen begitu menarik. Tapi meskipun jumlah kalian lebih banyak, jangan kau pikir kalian bisa menang, benarkan Alice?"
Diana dan lainnya dikejutkan oleh sosok Alice yang tiba tiba muncul dari balik bayangan sambil membawa apel merah. Mereka langsung waspada karena tahu Alice lebih kuat dan merepotkan daripada Deon.
"...Rim, jangan lupa kita hanya sebagai penonton disini." Alice menggigit apel merah dengan santai. Menguyahnya lalu menelan dengan anggun. "Kita hanya asisten, jadi kita serahkan keputusan kepada pemeran antagonis dalam kisah ini."
Rim dan Alice melirik ke arah Cross seolah menyerahkan semua keputusan kepada Cross. Lari atau melawan. Semua itu tergantung jawabannya.
"....."
Cross tak menjawab langsung. Dia terdiam dan berjalan ke depan sambil memegangi tangannya yang putus dan tak kembali pulih seperti semula. Sakit. Tapi sakit yang dia rasakan tak sesakit saat jantungnya hancur sebanyak dua kali. Anehnya meskipun merasakan sakit yang tak pernah dialami oleh orang lain, disaat itulah dia merasakan bahwa dia benar benar hidup untuk yang pertama kalinya.
Cross menatap Diana yang juga berada di depan semua orang dengan membawa Gungnir di tangannya. Armor seksi yang merupakan Dragon Gear membuat Diana begitu cantik, tapi juga begitu kuat.
Cross tahu dari mereka semua, Dianalah yang paling berbakat menjadi seorang penyihir. Ayah mereka juga sangat bergantung kepadanya untuk membangun masa depan Dragonia agar lebih baik. Dia adalah putri sempurna yang dimiliki oleh sebuah kerajaan.
Tak hanya Diana, semua saudaranya memiliki kemampuan unik tersendiri sehingga kerajaan ini begitu bangga dengan mereka, tapi karena itulah Cross memiliki alasan kuat untuk menghancurkanya.
Meskipun terdesak, jika meminta bantuan Alice dan Rim, mereka masih bisa menang dan menghancurkan Dragonia. Bagi mereka itu adalah hal yang mudah.
Tapi saat melihat tatapan Diana, dia ingat dengan tujuan dan impian dia yang sebenaranya. Karena itulah-
"Sudah cukup."
"....."
"...."
"Kalian bisa pergi. Aku akan menghadapi hal ini sendirian. Lagipula sejak awal kalian tak ada hubungannya dengan hal ini."
"Kau tahu arti perkataanmu? Kenapa tak menghancurkan mereka saja?"
Perkataan Alice membuat semuanya langsung waspada.
"Aku bercanda. Jika ingin menghancurkan kalian, aku akan melakukannya dengan cara yang indah. Rim, kita pergi sekarang. Lagipula tujuan kita sudah tercapai. Tak ada alasan untuk tetap disini."
"Iya iya."
Rim tersenyum ria. Lalu lingkaran sihir muncul di bawah kakinya dan dia langsung menghilang. Sedangkan Alice;
"Kita akan bertemu lagi... Queen."
Sosok Alice menghilang bersamaan dengan bayangan yang menghampiri.
Sekarang yang tersisa hanyalah Cross. Dia dikepung oleh Diana dan semua teman Kuro. Dia tahu kesempatan dia menang kecil, tapi-
"Kak Cross...."
__ADS_1
Itu bukan berarti dia menyerah untuk melaksanakan keinginannya, yaitu menghancurkan Dragonia.