
Stella, Hana dan Gyu bersiap menjalankan misi mereka. Ketiganya memakai gaun pesta yang dikirimkan beberapa saat setelah menerima pesan dari Kuro. Tentu dengan undangannya.
Hana memakai gaun merah yang sedikit menonjolkan dadanya dan membuat tubuhnya terlihat seksi. Stella memakai gaun hitam dengan renda putih. Sekilas gaun itu mirip dengan pakaian maid favoritnya. Sedangkan Gyu memakai gaun dengan rok panjang yang menutupi kakinya.
"Kita akan pergi ke pesta yang diadakan oleh West, target kita. Ini bukan suatu yang lucu." Komentar Gyu. "Dan kenapa kita memakai pakaian seperti ini?"
"Ha... seharusnya kau bersyukur karena kita bisa datang. Aku juga belum mengerti alasannya, tapi Kuro memang seperti ini. Kuyakin dia akan menjelaskannya kepada kita."
"Tch.. Aku tak mengerti kenapa kau begitu percaya kepadanya. Kau seolah sudah dicuci otak olehnya."
Hana tertawa kecil.
"Aku tak tahu kenapa, hanya saja aku merasa bisa percaya dengan orang itu. Bukan berarti aku dicuci otak olehnya, tapi kita tahu dia seperti apa."
Gyu mendesah bosan.
"..dia hanya orang paling mesum di dunia."
Ketiganya lalu turun menuju lobi hotel. Tak mereka sangka kereta mewah sudah menunggu mereka.
Awalnya mereka ragu, tapi mereka akhirnya naik setelah kusir meminta mereka. Dan setelah masuk, yang mereka temukan adalah Kuro dengan pakaian mewah dengan sebuah topeng.
Kemudian, keretapun berangkat.
"...waktunya penjelasan, Ku-"
"Hana, jangan panggil aku Kuro mulai sekarang. Kalian berdua juga. Kalian harus memanggilku tuan Akashi mulai sekarang."
Ketiganya terkejut, tapi mereka tahu orang seperti apa Kuro.
"...alasannya?" tanya Stella. "Apakah ada hubungannya dengan misi kali ini?"
"Jika tidak, aku akan memukulmu daripada memanggilmu dengan nama seperti itu."
Kuro hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Gyu. Ini normal mengingat ketiganya adalah orang yang harusnya membunuh West, tapi mereka sekarang berpesta dengan target mereka.
"Tentu ada banyak alasannya. Mungkin yang pertama adalah karena ini adalah misi, tapi yang jelas kalian mulai sekarang harus menurutiku."
"Apa kau tak melihat kami telah melakukan semua yang kau minta?"
"Fu ufu..., kau benar Stella. Karena itulah kalian tak perlu banyak bertanya dan lakukan saja apa yang kuminta."
Ketiganya menunjukkan ekspresi tak puas.
"..kenapa kalian tak menganggap ini hanyalah sebuah pesta mewah yang akan berakhir menjadi pertumpahan darah? ...Kurasa itu akan lebih mudah bagi kalian."
"Kau masih tak mau jujur kepada kami setelah semua yang terjadi?" protes Stella. "Jangan lupa misi kita adalah membunuh West. Kita tak perlu repot repot membunuh West dengan melakukan semua ini. Aku rasa jika membunuhnya kau sendiri pasti bisa melakukannya, benarkan?"
"..."
"Tapi kau membuat kami menjadi pelayan seksi, dan meninggalkan kami di hotel mewah. Awalnya aku masih merasa wajar, tapi aku merasakan keganjilan yang besar dalam hal ini. Jadi aku minta kau jelaskan kepada kami, ...kenapa kami harus melaksanakan perintahmu?"
Benar. Tak ada alasan menerima perintah dari Kuro. Kuro hanyalah partner yang bertugas mengirim informasi kepada mereka. Meskipun Kuro memutuskan membantu, tapi dia tak seharusnya yang memberi perintah.
Tapi bukan hanya inilah kejanggalan yang utama. Misi pembunuhan adalah misi yang dilakukan segera mungkin tak peduli target mereka adalah politikus, bangsawan atau bahkan penjahat. Kegagalan adalah kesalahan besar. Dan begitu pula dengan membiarkan target hidup juga merupakan kesalahan besar. Tapi mereka sudah membiarkan West hidup selama hampir sebulan. Kesalahan mereka sudah terlalu banyak.
"...baiklah, aku akan memberi tahu. Tapi berhentilah menatapku seperti itu."
Kuro mengambil sesuatu di sakunya, yaitu sebuah ponsel.
"Kalian sudah tahu kalau malam hari ini West mengadakan pesta untuk membahas sumbangan kepada sekolah para orang biasa dan sekolah non penyihir. Dari sudut pandang kalian, apa yang kalian pikirkan mengenai hal itu?"
Ketiganya sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tiba tiba.
Pesta yang diadakan West cukup mengundang perhatian publik, karena itulah mereka tahu apa yang akan dibahas. Karena itupula ketiganya tak percaya ketika akan membunuh West di pesta itu.
"Menurutku itu adalah suatu yang baik. Meskipun sekolah para orang biasa memiliki dana yang cukup, tapi dengan sumbangan itu mereka mendapatkan fasilitas lebih baik."
Sama seperti sekolah sihir, sekolah para orang biasa mendapatkan perhatian yang serius dari pemerinth. . Tapi sekolah orang biasa tak mendapatkan fasilitas seperti sekolah sihir. Ini normal, sejak awal penyihir dan orang biasa memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda.
"Aku setuju dengan Hana. Itu tindakan yang mulia, tapi aku sulit percaya orang seperti itu memiliki niat baik untuk memberikan sumbangan. Aku mencium aroma busuk dari tindakannya kali ini."
Terakhir adalah Gyu.
"Sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan hal itu. Kita akan membunuhnya kan? Kurasa membicarakan hal ini adalah tindakan percuma."
Setelah mendengar pendapat ketiganya, Kuro terdiam sesaat dan itu membuat kondisi dalam kereta terasa hening. Suara keramaian jalan dan hentaksn sepatu kuda terdengar bagaikan sebuah musik yang beriama.
"...kau benar, tak ada gunanya membahas hal ini. Misi kita memang membunuhnya..-"
"..."
"..."
"..eh?"
"..tapi kalian melupakan masalah yang penting dan paling penting. Kejahatan West hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya dan meskipun dia berperilaku buruk, tapi di mata masyarakat dia adalah orang baik. Terutama di mata para orang biasa. ...karena itulah meskipun aku, atau kalian bertiga bisa membunuhnya kapan saja, tapi kalian seharusnya tahu di pihak siapa saat ini."
Ketiganya tersentak. Mereka adalah Illegal yang menjalankan misi kotor demi pemerintah.
Bukan rahasia lagi kalau kadang pemerintah melakukan eksekusi pada orang tertentu secara diam diam.
Tapi apa jadinya jika agen pemerintah ketahuan membunuh orang baik atau berpura pura baik?
Jawabannya begitu sederhana dan mudah ditebak.
"Benar. Kita tak bisa membunuhnya secara sembarangan. Kita butuh waktu yang tepat dan tak memberikan banyak pengaruh buruk kepada kita. Setidaknya kita harus tak ketahuan." Kuro tersenyum tipis. "..atau kalian lebih suka jika kita disebut penjahat?"
Ketiganya terdiam sesaat seperti memikirkan perkataan Kuro. Mereka memang memikirkannya, tapi ini adalah pertama kalinya mereka menjalankan misi dengan kerumitan seperti ini.
Ketiganya akhirnya sadar kalau selama ini misi yang mereka jalankan tak pernah mereka pikirkan akibat atau dampaknya. Selama misi sukses, maka yang lain bukanlah urusan mereka.
"...baiklah, apa yang harus kita lakukan?" tanya Gyu. "Kali ini aku akan menuruti apapun perintahmu. Aku tak ingin kita disebut sebagai penjahat."
Hana dan Stella mengangguk sependapat.
"..tapi kenapa harus malam ini? Bukankah jika kita membunuhnya sekarang, kita akan di cap sebagai penjahat?"
"Mengenai itu aku punya rencana, tapi aku tak ingin menyebutkannya sekarang. Kalian akan tahu jika saatnya tiba. ...dan saat itulah kita membunuhnya."
"...baiklah..kau memang seperti itu.. aku bisa mengerti."
"Tapi kami punya satu pertanyaan lagi untukmu." Sambung Stella.
"Kenapa kami harus memanggilmu tuan Akashi? Tunggu.. aku memikirkan hal yang sedikit tak masuk akal, tapi mungkinkah...-"
Kuro hanya menunjukkan senyuman bagai iblis yang menerkam ketiganya secara diam diam.
Ketiganya sampai di tempat berlangsungnya diadakan pesta. Itu adalah sebuah gedung besar yang berada di pusat kota.
Saat ketiganya turun, mereka langsung menjadi pusat perhatian. Alasan utama adalah karena Kuro atau Akashi saat ini bergandengan dengan tiga orang gadis berjalan di karpet merah.
Ketiganya tersenyum senang, tapi untuk alasan tertentu mereka memancarkan aura yang berbahaya dan seolah mengatakan akan segera membunuh seseorang.
[Aku tak percaya kita akan berperan menjadi pe*acur yang disewa olehnya. Bisakah kita membunuhnya setelah misi ini selesai?]
[Aku sependapat denganmu, Hana. Sekarang aku mengerti kenapa kita harus tinggal di hotel mewah.]
[Aku yakin dia pasti menyewa salah satu kamar di hotel yang sama dengan kita.]
[Kita sepakat.]
[Kita sepakat.]
[Aku akan membunuhnya seratus kali karena telah mempermainkan perasaan kita. Selain itu, aku tak ingin memperlihatkan wajahku kepada Illegal lainnya.]
Ketiganya merencanakan suatu yang berbahaya melalui telepati, tapi pada akhirnya ketiganya hanya bisa mendesah berat.
Meskipun bisa membunuh Kuro, tapi mereka sudah kehilangan wajah mereka di depan orang banyak dan akan dikenal sebagai pel*cur. Wanita murahan.
Ketiganya disambut oleh pelayan yang ingin mengecek undangan mereka. Setelah mengkonfirmasi, keempatnya dipersilahkan masuk dengan sopan.
"Selamat datang, tuan Akashi.. Semoga anda menikmati pesta malam ini."
Kuro hanya mengangguk pelan.
Keempatnya akhirnya tiba di pusat acara. Makanan mewah terlihat di berbagai sudut dan banyak orang orang penting terlihat di berbagai tempat sedang menikmati acara.
[Aku bisa melihat banyak bangsawan di tempat ini. Tak hanya itu, aku juga melihat beberapa artis terkenal.]
[Penjabat penting juga ada. Tempat ini seperti sarang para orang penting.]
[...Semuanya, waspada. Ada yang mendekat.]
Seperti yang dikatakan Stella, ada seorang pria bersama wanita cantik mendekat. Hana dan dua temannya mengenal pria itu.
"Ah.. Aku sedikit tak percaya saat melihatmu disini, tuan Akashi. Tapi ternyata mataku tak berbohong. Seperti biasa anda selalu populer dengan para gadis gadis cantik."
__ADS_1
Pria itu seolah sudah mengenal akrab Akashi (Kuro). Dan itu benar. Tapi ini sulit dibayangkan mengingat status pria itu.
"Jangan membuatku terdengar seperti serigala yang akan menerkam gadis kemanapun aku pergi. ...yah.. mungkin itu benar, tapi jangan menyebutku seperti itu di pesta seperti ini, Jaco. Perkataan itu tak cocok denganmu yang merupakan penguasa wilayah Sedorm."
Orang yang bicara akrab dengan Akashi merupakan salah satu bangsawan yang mempunyai wilayah tak jauh dari kota mereka saat ini. Meskipun bisa dibilang wilayah kecil, tapi wilayah itu terkenal dengan pertambangan yang cukup besar.
"Oh oho, jangan membahas kedudukan disaat seperti ini. Kau juga salah satu orang penting di negeri ini, jika kau membahas kedudukan, aku tak akan pantas bicara denganmu saat ini."
"Entahlah, aku mungkin akan menyuruhmu berlutut kepadaku saat ini juga."
Keduanya lalu tersenyum kecil. Keduanya seolah bercanda dan serius bersamaan. Tak ada yang tahu apa yang keduanya pikirkan.
[Apakah dia sepenting itu?]
[...]
[Aku tak tahu.]
Ketiganya dipusingkan lagi dengan pria bernama Kuro.
"Aha ha.. jangan memintaku melakukan itu di tempat seperti ini. Meskipun kau berhak, tapi aku tak ingin melihat sisi lemahku di depan istriku."
Jaco melirik gadis cantik yang bersamanya.
Gadis itu menunduk tanda memberi hormat.
"Oh.. mungkinkah.."
"Namanya Selisa. Dia gadis yang aku dapat setelah mengejarnya susah payah."
"....Aku heran kau bisa mendapatkan dia. Kupikir kau tak laku."
"Jangan mengatakan aku akan sendirian seumur hidupku. Meskipun aku harus menikahi orang yang ingin membunuhku, tapi aku tetap mensyukurinya."
Akashi terdiam sesaat. Dia lalu melirik Selisa dengan baik dan teliti.
Tubuh yang seksi dan menggoda. Tapi memiliki beberapa bagian dan kebiasaan yang tak dimiliki gadis biasa. Sebagai seorang assassin, Kuro tahu orang orang yang memiliki keahlian tertentu.
"Begitu rupanya. Aku tak percaya kau adalah tipe orang yang menyukai seorang pembunuh di tempat tidurmu. Jangan kawatir, aku tak akan mengatakan kepada siapapun kalau kau seorang Masokis."
"Jangan menyebutku Masokis. Aku hanya jatuh cinta kepadanya. Bisakah kau mengerti?"
Selisa tiba tiba tertawa kecil.
"Dia adalah pria pertama yang mengatakan bersedia kubunuh setelah bercin*a denganku. Normalnya aku akan langsung membunuh pria seperti dia, tapi saat aku tahu dia perjaka. Aku jadi tak memiliki niat melakukannya.. ku ku ku.."
"...Ho.."
"Ja-Jangan menceritakan hal memalukan." Jaco menggandeng tangan Selisa. "Baiklah, sampai jumpa lagi tuan Akashi."
"Ya.."
Jaco dan Selisa akhirnya pergi menuju kerumunan. Sedangkan Kuro dan lainnya hanya bisa tersenyum kecut.
"Sebaiknya kita nikmati pesta ini selagi bisa. Kalian setuju kan?"
Ketiganya terdiam dengan wajah kesal, tapi pada akhirnya mereka menuruti perkataan Kuro atau Akashi.
Setelah mengambil beberapa makanan dan minuman, keempatnya berada di sudut dan mengamati seluruh pesta. Di salah satu sudut terdapat sebuah panggung kecil.
"..makanan ini enak. ...tapi kenapa aku merasa hambar?"
"Aku juga merasakan hal yang sama.., Hana."
Hana dan Gyu mengeluh. Tapi bukan berarti makanan di pesta tak enak, hanya saja bagaimana bisa menyantap makanan jika tahu akan segera terjadi pertumpahan darah di tempat itu?
"Kalian tampaknya sudah mengerti kalau makanan yang mewah tak akan berarti jika perasaan tak tenang. Bukankah ini pengalaman yang bagus?"
"Yeah, tapi bukankah jika 'sesuatu' yang tak diinginkan terjadi, tempat ini akan menjadi kacau." Ucap Stella. "Aku sedikit ragu dengan keamanan tempat ini."
Pesta yang mengumpulkan semua orang penting akan membuat mereka menjadi sasaran empuk kejahatan.
"Tenang saja. Kalian mungkin tak menyadarinya, tapi setiap orang disini membawa pengawal yang mereka percayai. Salah satunya adalah pria bernama Jaco tadi. Dia memang hanya membawa istrinya, tapi istrinya seorang pembunuh."
Istri dan sekaligus pembunuh. Kedua orang itu memiliki hubungan yang aneh.
"Jadi kau ingin mengatakan kalau semuanya memiliki kebiasaan aneh untuk memilih pengawal mereka kah..." komentar Hana. "Orang orang penting di negri ini sepertinya terdiri dari orang aneh semua."
"Itu benar."
Ketiganya tertawa kecil. Mereka seperti gadis biasa jika tersenyum seperti itu.
Tapi kemudian mereka menyadari sesuatu yang ganjil.
"Lalu bagaimana dengan ka- tuan Akashi?" tanya Hana. "Bukankah kau orang penting disini?"
"Yah.. meskipun kami masih belum tahu seberapa penting kau, tapi bukankah terasa aneh jika kau tak membawa pengawal?"
"Kalian berdua. Kitalah pengawalnya." Jawab Stella. "Apa kalian belum sadar juga?"
Keduanya melirik Akashi untuk mengkonfirmasi, tapi yang mereka terima adalah gelengan kepala.
"Kau juga salah, Stella." Akashi tersenyum kecil. "Kali ini bukan aku yang kalian kawal, tapi akulah yang mengawal kalian."
Ketiganya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"..ap- apa maksudm- ?!"
Tiba tiba lampu mati dan sebuah cahaya terang menyinari panggung. Seorang pria terlihat dan berbicara.
"Maaf mengganggu, tuan tuan dan nyonya sekalian. Saya Mivas selaku panitia dalam acara ini menyambut kalian semua dalam acara pesta pengumpulan dana amal yang ke 24 malam ini."
Acara telah dimulai. Semuanya melihat ke arah pria yang merupakan panitia acara amal, tapi Akashi (Kuro) dan lainnya justru tak terlihat dimanapun. Bukan karena gelap, tapi karena mereka menghilang.
"Semuanya terima kasih telah hadir dan rela meluangkan waktu dan... tentu saja uang kalian."
Semua tertawa kecil karena candaan pria itu.
"..baiklah, daripada kalian bosan dengan pembukaan dari saya, saya hanya ingin menyampaikan dana yang didapat pada acara malam kali ini."
Suara genderang terdengar.
"Acara pengumpulan dana yang dimulai satu bulan lalu telah menerima sumbangan sebesar 200 milyar yold. Ya. Malam ini kita mendapatkan sumbangan 2 kali lipat pada tahun lalu dan ini juga merupakan jumlah uang paling banyak yang terkumpul dalam acara ini."
Semua yang hadir tersenyum senang dengan puas.
"Sebagai panitia aku sangat senang dan terharu. Kuharap kalian semua juga merasakan apa yang kurasakan. Dan seperti yang kalian sudah tahu, uang itu akan dibagikan kepada sekolah orang biasa yang ada."
Panitia bernama Mivas tersenyum senang, tapi senyumannya berubah menjadi senyuman licik.
"..tapi sayang sekali hal itu tak akan pernah terjadi."
Semuanya tak percaya dengan apa yang pria itu katakan. Mereka masih menganggap itu sebuah lelucon bagian dari acara. Tapi sayangnya tidak.
Tiba tiba lampu menyala dan seluruh penjuru sudah dipenuhi oleh pria bertopeng dengan senjata yang di arahkan kepada mereka semua yang datang.
"Kuharap kalian semua tak panik.. atau melawan. Satu gerakan aneh akan membuatnya menjadi gerakan kalian yang terakhir. Kalian yang kumaksud adalah kalian semua. Apa kalian mengerti? Kuharap kalian mengerti karena aku sama sekali tak tertarik dengan nyawa kalian."
Pria itu tersenyum dan melepas pakaiannya. Salah seorang pria datang dan memberikan pakaian ganti.
"Fuh.... ini lebih baik. Memang pakaian kelas satu tak cocok denganku."
Pria itu kembali menatap semua yang kini berada di tengah aula. Mereka dikumpulkan secara paksa.
"Sekarang, mari kita mulai berbisnis."
Mavis tersenyum, tapi semua tahu itu bukanlah senyuman yang menyenangkan.
Sementara itu Kuro dan ketiga gadis yang bersamanya di dalam ruangan sempit yang merupakan tempat seperti gudang. Stella mengintip dari celah pintu dan melihat beberapa orang dengan senjata yang berkeliling.
"Untuk sementara kita aman, tapi ...apakah ini rencana yang kau maksud?"
Serangan kali ini bertepatan dengan waktu mereka. Tak mengherankan jika ketiganya berpikir seperti itu.
"Hah.. apa kalian pikir rencana bodoh seperti ini yang terlintas di pikiranku? Jangan samakan aku dengan sampah seperti mereka."
Untuk pertama kalinya ketiganya melihat Kuro sedang marah. Meskipun dia tak menunjukkannya, tapi itu terdengar jelas dari nada suaranya.
"Rencanaku adalah memanfaatkan celah saat pesta dansa. Mungkin kalian tak tahu, tapi dari penyelidikanku, saat pesta dansa West akan pergi beristirahat di ruang khusus. Kita akan membunuhnya disana." Jelasnya.
"Ruang khusus?"
"Hana-, tempat ini ada beberapa tempat yang dijadikan untuk melakukan pertemuan pribadi. Tak ada satupun kamera yang mengawasi tempat itu dan kita bisa menjadikan tempat yang sempurna untuk membunuhnya. Hm?"
"Apa ada yang salah, Stella?"
"Tidak. Aku berpikir tempat itu sempurna untuk melakukan pembunuhan, tapi tempat itu terlindungi oleh dinding tebal yang tak mudah ditembus bahkan menggunakan sihir tingkat tinggi. Selain itu jika ada yang menyerang akan ada Knight yang akan segera datang. Mengingat keamanan yang ada, bagaimana caranya kau melewati pintu itu?"
__ADS_1
Ketiganya menatap ke arah Kuro dengan tatapan penasaran.
"Itulah gunanya aku disini." Kuro melepas topengnya. "Identitas dan rencana ini sekarang tak berguna berkat mereka. Kita masih belum tahu siapa mereka, tapi ini juga kesempatan yang bagus untuk membunuh West."
Perkataan Kuro masuk akal, tapi-
"Kau ingin melanjutkan misi?" tanya Gyu. "Bagaimanapun juga ini tindakan bodoh. Selain itu berkat kau kita bisa sempat bersembunyi, tapi masalah ini sudah diluar jangkauan kita."
Saat lampu mati, sebuah debu disebarkan ke segala penjuru. Debu itu adalah benda sihir yang bernama Jamust. Jamust tak memiliki efek yang mematikan, hanya saja membuat penyihir tak bisa menggunakan sihir dengan baik atau mengganggu aliran mana penyihir.
Dengan menggunakan itu kelompok Mavis berhasil menyandera para orang penting. Dan tak terdeteksi oleh pengawal mereka yang sebagian besar penyihir kuat.
Sedangkan alasan kenapa mereka selamat adalah Kuro melihat patikel kecil itu di udara. Dan akhirnya mereka bisa pergi tanpa ada yang menyadarinya.
"Meskipun aku tahu orang penting sedang dalam bahaya, tapi itu bukan urusan kita, benarkan?"
"Gyu benar. Selain itu kita tak melihat West di pesta tadi. Misi ini sudah gagal bahkan sebelum dimulai."
"Gyu. Stella.."
Ketiganya mulai menunjukkan akan menyerah. Tapi ini wajar mengingat musuh yang belum diketahui dan target mereka yang kemungkinan besar mustahil mereka bunuh.
Kuro mendesah berat dan mengambil Cristal Age dari sakunya.
"Sepertinya sudah saatnya memberi tahu kalian yang sebenarnya."
"Eh.. apa maksudmu?"
Yang paling terkejut adalah Hana.
"Kalian lihat saja di Crystal Age ini. Dan kuharap kalian membuat keputusan yang bisa membuat kalian tak menyesal di kemudian hari."
Kuro lalu pergi dan meninggalkan mereka bertiga. Mereka tak tahu apa yang akan dilakukanya, tapi hal itu sudah bukan urusan mereka lagi.
Suasana menjadi hening. Ketiga saling menatap satu sama lain dan kemudian fokus dengan benda yang dibawa Hana.
"...apa yang harus kita lakukan?"
"Kurasa kita harus membuka Crystal Age ini terlebih dahulu." Gyu mengambil Crytal Age dari tangan Hana dan mengaktifkannya. "Sejak awal aku merasa ada yang aneh dengan misi ini, mungkin kita bisa menemukan jawabannya disini."
Hana dan Stella mengangguk tanda setuju.
Berbagai panel muncul di depan mereka. Perlahan membaca tulisan dan foto yang terdapat di setiap panel.
"..apa apaan ini...? Ini bohongkan?"
Hana paling terkejut dengan data yang ada. Stella tak menunjukkan reaksi berbeda dengan Hana sedangkan Gyu untuk alasan tertentu dia tertawa kecil.
"Ini benar benar luar biasa.. aku bahkan tak bisa berkata apapun mengenai hal ini."
Senyuman menghilang dan Gyu mengepalkan tangannya dengan keras. Dia memukul tembok sampai hancur.
"Kh!! Aku sudah memutuskannya. Aku akan menghajar dia. Tanpa kalian atau tidak."
Gyu pergi dengan wajah penuh amarah, tapi dia juga menunjukkan rasa puas dan senang.
Tapi tiba tiba kedua tangannya digenggam oleh dua sahabat dan sekaligus rekannya.
"Gyu, kau tak perlu melakukannya sendirian. Kita harus membalas semua yang telah menimpa kita."
"Seperti rencana sebelumnya, kurasa kita memang harus membunuhnya."
Ketiganya mengepalkan tangan dan saling bertukar tinju.
"Sudah lama kita tak melakukannya."
"Benar...."
"Yah.. dia bilang kita harus membuat keputusan. Kuharap dia tak menyesal menyuruh kita melakukannya."
Ketiganya menyatukan tujuan dan tekad mereka. Mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan dalam situasi yang mendesak itu.
Dalam kegelapan mereka menemukan cahaya, tapi mereka masih belum tahu apakah cahaya itu menuntun ke jalan yang lebih baik.
Tapi mereka tahu satu hal yang harus mereka lakukan.
"""Kita akan membunuh pria mesum itu dengan tangan kita sendiri."""
Sementara itu, Kuro menyelinap di antara celah ventilasi udara dan mengamati apa yang terjadi di bawahnya.
Tujuan dia saat ini adalah mendapatkan senjata yang sudah dia siapkan di salah satu ruangan. Untuk mencapai tempat itu dia harus melewati puluhan musuh yang menjaga lorong.
Kuro tersenyum.
"...aku tak tahu siapa mereka, tapi kurasa aku tak punya pilihan lain selain membunuh mereka."
Tangan Kuro mengeluarkan suara retakan saat tulang saling bergesekan.
"Ini mungkin akan menyenangkan..."
Kuro tersenyum tipis. Itu adalah senyuman seorang yang haus akan darah dan kematian. Tidak, senyuman itu bahkan lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.
Stella dan dua sahabatnya kini berlari menuju tempat khusus yang digunakan untuk pertemuan. Mereka bukan ingin membunuh West, tapi mencari target mereka yang baru.
"Stella, apa kau yakin kita akan menemukan orang mesum itu disana?"
"Tentu saja. Dia memang tak bilang akan melanjutkan misi, tapi dia bilang ini adalah kesempatan yang bagus untuk membunuh West, jadi aku yakin dia akan disana."
"Tapi tempat ini sudah dikuasai musuh misterius. Kita tak tahu apakah West ada disana."
"Itu benar, Hana, tapi kita tahu ada kemungkinan kalau West bekerja sama dengan mereka. West pasti berada di tempat yang paling aman saat ini, dengan kata lain..."
"Tempat itu kah.."
Mereka berlari menuju tempat khusus yang mungkin menjadi tempat paling berbahaya di gedung itu.
Dan itu benar... mereka dengan cepat menemukan musuh yang menyadari keberadaan mereka dan menyerang dengan senjata otomatis.
Mereka menembak, tapi ketiganya langsung bergerak dengan lincah menghindari serangan musuh.
"Ame no Habakiri"
Hana memanggil nama sihirnya. Dua belah pedang pendek muncul di kedua tanganya dan dengan menggunakan dinding sebagai pijakan, dia menebas salah satu musuh.
"?!"
Saat menebas tubuh musuhnya, Hana merasakan pedangnya tak menembus tubuh lawannya, tapi benda keras seperti besi. Saat sedang terkejut dengan apa yang terjadi, Hana dikejutkan dengan pucuk senjata yang sudah mengarah tepat ke dahinya.
Musuh tersenyum licik dan tanpa ragu menekan pelatuk senjatanya, tapi disaat itulah kepala musuhnya menghilang karena diterkam binatang buas. Darah mengalir deras dan tubuh tergeletak ke lantai. Musuh telah menjadi bongkahan daging.
Hana melirik ke binatang buas yang menerkam kepala musuh. Binatang itu berwujud seperti serigala tapi tak memiliki bulu. Tubuhnya terselimuti oleh duri keras seperti reptil. Mudahnya monster itu mirip naga berbentuk serigala. Tapi itu bukan monster, itu adalah magic beast milik Gyu yang bernama Darwz.
"Hana, jangan lengah. Tubuh mereka sebagian besar terbuat dari magilium, meskipun dengan magic arm, mereka sulit dibunuh."
Gyu mendekat maju dengan senyuman lebar. Dia terlihat percaya diri.
"Tapi bagian kepala mereka masih tetaplah darah dan daging. Kita incar kelemahan mereka."
"Gyu, kau lebih menyeramkan dari biasanya."
Gyu menyatukan kepalan tanganya dan terseyum senang. Musuh mereka tahu sedang dalam masalah besar.
"Kurasa si mesum itu benar, kita akan memulai pesta pertumpahan darah disini."
Musuh yang tersisa panik dan mulai menyerang membabi buta, tapi itu sudah terlambat. Saat kelemahan mereka diketahui, maka berakhirlah sudah.
Setelah mengubah musuh mereka menjadi gumpalan daging, mereka pergi menuju ke tempat khusus dimana kemungkinan Kuro dan West berada.
Mereka sampai, tapi yang mereka temukan adalah potongan mayat musuh dan darah berceran di berbagai tempat. Peluru dan senjata yang musuh juga mengalami nasib yang serupa.
"A-apa yang terjadi disini?"
Pemandangan yang begitu mengerikan berada di depan mereka. Mereka juga membunuh musuh mereka dengan cara sadis, tapi untuk pertama kalinya mereka melihat seseorang mampu mencincang musuh mereka seperti itu.
"Hana.., Gyu"
Stella menunjuk dinding tebal yang kini telah terpotong dengan rapi menjadi beberapa bagian. Dinding itu terbuat dari bahan khusus sehingga tak mudah ditembus bahkan dengan sihir tingkat tinggi, tapi mereka bisa melihat dinding itu seperti tahu.
"...siapa yang bisa melakukan hal seperti ini?"
Saat sedang bingung, mereka mendengar suara langkah kaki dari dalam yang menuju keluar. Ketiganya langsung waspada dan bersiap jika ada serangan. Tapi yang muncul adalah orang yang terduga.
Orang itu adalah pemuda denga katana hitam di tangannya. Sebagian besar tubuhnya dan wajahnya terkena cipratan darah membuat dirinya seperti dewa kematian.
"..ya ampun, kurasa masalah ini lebih merepotkan daripada yang kuduga." Kuro menyadari keberadaan ketiganya. "Huh.. apa yang kalian lakukan disini?"
Bukankah seharusnya mereka yang menanyakan itu?
__ADS_1