Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Spirit Gear


__ADS_3

Setiap orang memiliki potensi mereka masing masing. Apakah itu potensi luar biasa, atau potensi yang dibilang biasa saja.


Semua itu ditentukan oleh bakat dan usaha masing masing individu. Lalu apakah potensi itu membawa keberuntungan atau nasib buruk, semua itu tergantung bagaimana cara menggunakan potensi itu.


Tetapi semuanya memiliki batas, termasuk dalam potensi seseorang. Batas itu adalah sebuah dinding yang harus ditembus, tetapi itu tidaklah semudah mengatakannya. Bahkan kebanyakan orang lebih memilih menyerah sebelum berhasil menembus dinding di depan mereka.


Mereka menyerah bukan karena mereka merasa sulit melakukannya, namun karena itu suatu yang mustahil mereka lakukan.


Karena itulah seorang yang mampu melampaui batas tersebut adalah orang yang spesial, orang terpilih di antara orang terpilih. Seorang yang mendapatkan pengecualian.


Dalam dunia penyihir, peringkat juga dikatakan sebagai potensi. Memiliki peringkat lebih rendah berarti memiliki potensi yang kecil. Mereka hanya bisa melakukan hal yang biasa saja.


Jika seperti itu, seorang yang mendapatkan peringkat tertinggi, Paladin adalah orang yang mendapatkan pengecualian. Itu adalah fakta dan tak ada yang bisa membantah hal itu.


Lalu bagaimana dengan peringkat menengah seperti keduanya? Peringkat C. Sebuah peringkat yang tak spesial, namun juga tak jelek?


Mengerti akan hal ini, keduanya juga mengerti akan potensi yang mereka miliki. Jika dibandingkan dengan Laila dengan peringkat S atau Kuro yang memiliki kekuatan unik sebagai King, keduanya memang sama sekali tak memiliki sebuah arti.


Jika seperti itu, apakah mereka harus berdiam diri menerima nasib mereka? Menjadi seorang yang biasa?


Tidak. Mereka menolak hal itu.


Meskipun mereka berusaha keras, mereka akhirnya mencapai dinding yang sulit mereka tembus.


Jika mengingat usia, ada banyak hal yang bisa mereka lakukan mengingat mereka masih muda. Itu yang dikatakan orang di sekitar mereka, tapi keduanya tahu. Jika mereka menunggu waktu, mereka akan tertinggal oleh semuanya.


Jadi apa yang harus mereka lakukan?


Mereka tak tahu jawabannya. Karena itulah mereka bertanya pada orang yang tepat dan bisa mereka percaya. Dan yang paling penting tahu jawaban pertanyaan mereka.


"Itu mudah, kalian hanya perlu menghancurkan paksa dinding di depan kalian. Bukan sendirian, namun dengan bantuan orang lain. Dalam hal ini, aku yakin kalian sudah tahu siapa orang yang tepat."


Jawaban itu mengubah segalanya.


Sistem berpasangan merupakan sistem di mana setiap murid dilatih untuk bekerja sama. Tetapi dalam sistem itu, sebagai anak kembar mereka memiliki keunggulan yang tak di miliki oleh pasangan lainnya.


Karena itulah, mereka mengubah sistem latihan mereka dan bagaimana cara melihat dunia yang selama ini mereka lihat. Bukan sebagai individu, namun sebagai dua orang yang menjadi satu.


Meskipun mereka tahu bagaimana cara melakukannya, namun semua itu tak mudah. Tapi mereka tak menyerah dan semakin tertantang untuk bisa melakukannya.


Pada akhirnya, mereka akhirnya bisa mencapai tahap baru dan menghancurkan dinding pertama mereka. Hasilnya mereka bisa menciptakan Sacred Magic Art gabungan yang tak bisa dilakukan oleh pasangan lain.


Sayangnya, itu tidak cukup.


Sacred Magic Art mereka memang memiliki kekuatan yang dahsyat, namun lawan yang akan mereka hadapi nanti memiliki kekuatan yang lebih dahsyat.


Di saat mereka berkembang, lawan mereka juga berkembang. Dan karena memiliki potensi yang lebih besar, tak mengherankan jika mereka tertinggal lebih jauh tanpa mereka ketahui.


Sadar akan hal ini, apakah mereka harus menyerah dan melupakan semua tujuan mereka?


Sekali lagi mereka menolak hal itu.


Tapi mereka terjebak dengan dinding lainnya. Bagaimana mereka menembusnya? Dengan kekuatan dan cara yang sama itu tak akan berhasil.


Tapi itulah kesalahan mereka.


Ketika orang itu bilang 'bantuan orang lain', bukan berarti hanya satu orang saja. Namun banyak orang, dan tentu saja bukan hanya manusia saja.


Jawaban itu mengantar mereka pada suatu yang baru.


Dan itu adalah...


♦️♦️♦️


"Maafkan aku, tapi kalian masih terlalu dini untuk memasuki panggung yang sama dengan kami, Sacred Magic Art "


Serangan Laila yang begitu dahsyat menelan semuanya dalam ledakan keras dan hawa yang panas yang membuat musim seolah berganti. Kekuatan itulah yang menghantam Alva dan Alvi.


Dulu serangan semacam itu pasti akan menumbangkan keduanya dalam waktu singkat, tidak, jika ini bukan pertandingan, pasti keduanya sudah mati dengan cara yang begitu mudah.


Tetapi mereka sudah berbeda dengan yang dulu.


Mereka berhasil selamat.


"Spirit Gear "


"Spirit Gear "


""Jangan remehkan kami!!!"" Teriak keduanya dengan kompak.


Kejadian yang tak terduga ini membuat suasana semakin memanas oleh semangat bertarung yang semakin kuat.


Laila juga merasa kagum dengan apa yang terjadi pada keduanya.


"Kuro?"


"Yah.. ini pasti pertama kalinya kau melihat pengguna Spirit Gear. Sekilas ini tak berbeda dengan pengguna Dragon Gear atau Magic Gear, hanya saja sumber kekuatan mereka yang berbeda. Tapi bukan berarti setiap orang yang membuat kontrak dengan Spirit bisa menggunakannya. Untuk mereka, mereka bisa melakukannya karena Spirit yang mereka kontrak adalah 2 dari 12 Zodiac (Spirit of Star). Mereka tak sebanding dengan Lic yang merupakan Spirit of Beginning, tapi kekuatan mereka hampir sama dengan Dragon King. Berhati hatilah."


"..."


Laila tak bisa berkata apa apa setelah mendengar penjelasan panjang Kuro.


Dia tak menyangka Spirit juga memiliki kemampuan seperti ini. Kalau begitu, apakah dia bisa menggunakan Spirit Gear seperti mereka?


Laila langsung menggelengkan kepala untuk menyingkirkan ide itu. Dia memang membuat kontrak dengan Lic, tapi dia tak pernah menganggap atau akan menggunakannya sebagai senjata.


Tapi dia harus mengakui usaha mereka yang telah berhasil membuat kontrak dengan Spirit tingkat tinggi.


"Ngomong ngomong, aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Kau tahu kenapa Maria menjadi satu satunya penyihir yang mampu menandingi Demon King?"


"Bukankah kau sudah memberitahuku hal itu?"


"Tidak secara detail." Kuro tersenyum lebar. "Maria dikenal sebagai yang terkuat karena dia adalah satu satunya manusia yang bisa menggunakan Divine Dragon Gear, World Spirit Gear dan Avatar Magic Gear secara bersamaan. Dia adalah seorang yang berhasil menggunakan tiga kekuatan dunia sekaligus."


"...Kuro, kenapa kau memberitahuku hal ini?"


Laila sama sekali tak mengerti apa yang Kuro pikirkan. Dan darimana dia tahu hal itu? Dalam sejarah manapun bahkan tak ada yang menyebutkan hal itu.


Apakah ini karena Alva dan Alvi menggunakan Spirit Gear?


Tetapi entah mengapa ketika menyebutkan hal itu, Kuro lebih merasa hal itu ditujukan padanya karena dia bisa saja menggunakan tiga kekuatan itu jika dia menginginkannya.


"Bukan apa apa. Aku hanya ingin memberitahumu."


Laila mendesah.


"Jangan memberitahu hal yang tak ada hubungannya dengan pertarungan. Itu mengganggu konsentrasiku saja."


"Apa kau perlu bantuan?"


"Tidak. Dalam hal ini bukan mereka saja yang memiliki kejutan."


Alis mata Kuro naik. Dia mengerti apa yang ingin Laila lakukan jika dia terdesak dalam pertarungan ini.


♦️♦️♦️


Berbeda dengan Dragon Gear yang berwujud armor (pelindung) naga, Spirit Gear sama sekali tak berbentuk seperti armor.


Spirit Gear yang Alva dan Alvi kenakan merupakan perwujudan dari penyatuan Spirit dengan tubuh mereka atau juga yang disebut sebagai Spirit Dive (Spirit Union).


Aquarius merupakan Spirit dengan wujud putri duyung yang begitu cantik dengan tombak trisula di tangannya. Dengan tombak itulah dia mengontrol gelombang dan arus laut. Kekuatannya dikatakan sanggup membawa bencana jika disalahgunakan.


Lalu Sagitarius adalah Spirit dengan wujud centaur yang membawa busur panah. Tak hanya dikenal sebagai pemanah yang tak pernah meleset dari sasaran, anak panahnya juga menjadi penunjuk arah orang yang tersesat. Menurut legenda, Sagitarius dikenal sebagai Spirit yang lemah lembut, namun dia adalah Spirit yang tak boleh dijadikan musuh. Itu karena tak ada yang bisa lolos dari anak panahnya.


Hasil dari Spirit Dive, penampilan Alva kini berubah menjadi memiliki rambut berwarna biru dengan kilauan ungu. Lalu pakaiannya berubah menjadi bikini dengan selendang yang bermotif sisik. Tombaknya berganti menjadi tombak trisula dengan beberapa gelembung air yang mengitarinya.


Sedangkan perubahan Alvi tak hanya rambutnya yang berubah menjadi pirang keemasan dengan kilauan ungu, pakaiannya berubah menjadi seperti seorang pemburu. Pakaian kulit seksi dengan topi koboi. Dan meskipun Sagitarius berwujud centaur, namun bukan berarti dia memiliki kaki tambahan. Lalu panah es Alvi berubah menjadi panah yang lebih garang dengan aura emas yang dikeluarkannya. Sama seperti Alva, busur Alvi dikelilingi oleh beberapa pusaran angin.


"Berapa kalipun aku melakukan ini, ini tetap memalukan. Apalagi di depan orang banyak."


"Un.."

__ADS_1


Keduanya mencoba menyingkirkan rasa malu yang mereka rasakan setelah berganti pakaian yang begitu seksi.


Lawan mereka, Laila masih begitu tenang meskipun mengetahui kekuatan keduanya meningkat pesat. Ini adalah salah satu bukti bagaimana Laila sudah tumbuh.


"Alvi, kita serang tanpa menahan diri lagi."


"Tentu saja. Kita gunakan formasi itu kan?"


"Tepat sekali."


Selesai berdiskusi, Alva langsung saja menancapkan tombak trisulanya ke lantai. Di saat yang sama lingkaran sihir yang membentang hingga menutupi arena pertempuran muncul.


""


Air dalam jumlah besar muncul dari lingkaran sihir. Jumlah air terus bertambah dengan kecepatan yang luar biasa hingga menutupi seluruh arena dan menelan semua peserta. Sama seperti nama Magic art, saat ini Alva seperti sedang menciptakan miniatur dunia air.


Jika dia mau Alva bisa saja membuat sebuah danau, tapi itu akan menguras kekuatan sihirnya. Alasan lainnya kenapa dia tak melakukannya karena semua itu tak diperlukan dalam pertempuran kali ini.


Alva muncul di permukaan air seperti dia mengijakan kakinya di darat. Sedangkan Alvi menggunakan papan seluncur yang dia buat dengan es.


Dengan kekuatan mereka melakukan hal itu suatu yang mudah, tapi bagaimana dengan lawan mereka?


Seperti biasa lawan mereka melakukan suatu yang berada di luar dugaan siapapun. Laila terbang dengan sayap yang terbuat dari bilah pedang. Sementara itu Kuro masih di dalam air, tapi dia berada di sebuah bola seperti semacam pelindung bersama dengan kristal mereka.


Melihat itu semuanya pasti berpikir Kuro menggunakan semacam sihir, tapi itu salah. Yang dia lakukan hanyalah menggunakan pedang putihnya sebagai perisai.


Semua itu bisa Kuro lakukan karena pedangnya memiliki kekuatan kegelapan yang tersegel, tapi dalam pertempuran melawan Maria, kekuatan itu lepas. Dan meskipun tersegel kembali, kekuatan itu tak tersegel sepenuhnya. Dengan menggunakan salah satu Authority, Kuro memanipulasinya sehingga menjadi sebuah perisai yang mampu menelan apapun.


Ya, bukan menangkis, namun menelan.


Kekuatan kegelapan yang tak pernah diketahui oleh semua orang saat ini berada di tangannya. Mengetahui opini publik, Kuro mencoba menggunakan kekuatan itu seminimal mungkin.


(Baiklah, panggung utama telah siap. Aku rasa pertarungan sebenarnya baru saja dimulai)


Bagi Kuro, kekuatan baru mereka sangat mengejutkan. Dia mengerti potensi mereka sebagai pasangan kembar, namun hanya itu. Setelah itu potensi mereka akan berkembang lebih jauh lagi atau bukan tergantung usaha mereka.


Lalu mengingat kecocokan Spirit yang mereka kontrak, ini sama sekali bukan kebetulan.


Berbeda dengan membuat kontrak dengan monster (monster taming), membuat kontrak dengan Spirit bukanlah perkara mudah.


Eksistensi Spirit bisa dikatakan berada di sekitar kehidupan manusia, namun bukan berarti mereka bisa dirasakan kecuali memiliki kekuatan tertentu. Lalu Spirit juga sensitif terhadap perubahan alam, karena itulah mereka lebih mudah ditemukan pada wilayah yang masih perawan dan terawat.


Tetapi semua itu tak berlaku pada Spirit tingkat tinggi. Daripada berada di sekitar kehidupan, mereka tinggal di dimensi berbeda, Spirit World. Untuk membuat kontrak dengan Spirit tingkat tinggi inilah dibutuhkan sebuah ritual pemanggilan yang begitu rumit. Dan meskipun berhasil melakukan ritual, bukan berarti Spirit akan menjawab panggilan mereka.


Mengingat semua itu, tak mengherankan jika keberhasilan keduanya membuat kontrak dengan Spirit of Star sangatlah mengejutkan dan luar biasa.


(Tapi ini masalah. Kekuatan mereka yang terlalu meningkat pesat akan membawa masalah pada sekitar)


Ini sebuah pertandingan. Semuanya dipersiapkan dengan memperhitungkan kekuatan yang dimiliki oleh penyihir pemula. Karena itulah kekuatan perisai yang melindungi penonton tidaklah terlalu kuat. Bahkan pernah retak sebelumnya hanya karena serangan Laila.


-Lalu bagaimana jika ketiga gadis itu menggunakan kekuatan yang lebih tinggi lagi?


(Aku akan turun tangan jika terlalu berbahaya. Sebaiknya aku mengamati dulu)


Kuro memutuskan apa yang akan dia lakukan. Sementara itu, pertarungan sebenarnya telah dimulai.


Alva mengendalikan air dan mengubahnya menjadi semacam tentakel untuk menangkap Laila. Tak hanya itu saja, dia juga mengubah beberapa bagian menjadi bentuk monster yang mengincar Laila secara langsung.


"Maju!!"


Ikan, burung, naga dan berbagai macam monster air menyerbu Laila bersamaan dengan tentakel.


Laila menghindar dan mencoba menebas air dengan Scarflare, tetapi selain menembus dan tak memberikan dampak berarti. Air juga sulit dipanaskan sehingga Laila tak memiliki pilihan selain mencoba menghindar.


Tetapi salah satu tentakel berhasil menangkap salah satu kakinya. Bersamaan dengan itu, tentakel lainnya mulai mengikat Laila dan begitu pula dengan monster air.


"Re;Break!"


Ledakan keras terjadi bersamaan dengan para monster yang menjadi uap. Laila kembali meningkatkan kekuatan sihirnya sehingga dia memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan air yang dikendalikan.


Lalu dia memfokuskan kekuatan sihirnya pada dua Scarflare. Kedua Scarflare itu berubah menjadi pedang yang bercahaya api panas yang menebas tentakel satu persatu.


(Ini lebih sulit daripada yang aku perkirakan.)


Dia memiliki pengetahuan yang cukup tentang spirit karena ingin tahu tentang Lic. Dia tak menyangka pengetahuan itu akan berguna di saat seperti ini.


Lalu dari situlah dia tahu kalau yang membuat Aquarius berbahaya bukanlah tombaknya, namun gelombang air yang dia manipulasi.


Dengan kata lain, seluruh air itu adalah musuhnya.


"Jangan lupakan aku!!"


"Aku tak lupa."


Anak panah melesat ke arahnya. Laila menghindar, tapi anak panah itu berbelok arah dan kembali mengincarnya.


Laila kembali menghindar, tapi Alvi menambah jumlah anak panah dengan cepat sambil berselancar di gelombang yang dikendalikan Alva.


Dengan jumlah yang terus bertambah dan ada tentakel yang mencoba menangkapnya, Laila memilih untuk bertahan. Dia menciptakan Scarflare di sekitarnya dan menggunakannya sebagai pelindung.


Suara benturan dari anak panah dan pedang, lalu suara dari air yang menguap oleh Scarflare khusus Laila terdengar di pertarungan.


Dari sudut penonton ini adalah pemandangan yang mengagumkan dan sekaligus menakutkan, tapi dari sudut pandang mereka bertiga, ini pertarungan yang menguji siapa yang paling lama bertahan.


"Laila, sampai kapan kau terus bertahan?"


"Meskipun kau bisa mengisi ulang energi sihirmu dengan Re;Break, bukan berarti energi sihirmu tak terbatas." Sambung Alvi sambil melepas anak panahnya.


Ini adalah sebuah strategi yang dibuat untuk melemahkan Laila. Mereka sadar energi sihir Laila yang di luar batas normal sungguh mengganggu.


Dengan serangan ringan dalam jumlah besar, ini sangat menguntungkan keduanya. Lalu saat energi sihir Laila berkurang banyak, keduanya bisa menyerang dengan serangan yang lebih besar.


Ini strategi yang mudah, tapi efektif.


"Kalian benar, aku memang tak memiliki energi sihir yang tak terbatas."


Suara Scarflare yang mulai retak terdengar. Mereka tak bisa menahan anak panah Alvi lebih lama lagi.


"Tapi kalian salah jika berpikir semua ini bisa mengalahkanku!! Re;Break!!!"


"!?"


Tak diduga, Laila menggunakan Re;Break lagi. Tapi bukan pada Scarflare yang baru dia ciptakan, namun pada Scarflare yang melindunginya.


Dengan pertahanan yang hilang, anak panah Alvi bersamaan dengan monster aneh Alva menyerang Laila yang tanpa pertahanan.


Tetapi di saat itulah kejadian yang tak terduga terjadi.


""


Ledakan keras menghancurkan anak panah bersamaan dengan air yang berusaha menangkap Laila.


"Laila, kau gila. Kau tahu apa yang terjadi jika menggunakan sihir tingkat tinggi pada jarak seperti itu kan?"


"T-tentu saja."


Laila terlihat mengalami luka. Salah satu tangannya berdarah dan mengalami luka bakar. Meskipun seragam mereka mengubah serangan menjadi serangan psikis, namun memiliki batas. Dalam hal ini serangan Laila terlalu kuat sehingga melampaui batas toleransi.


"Tapi siapa yang peduli dengan itu. Lagipula ini hanya luka kecil. Selanjutnya ini tak akan terjadi lagi."


Laila menjaga jarak dan kembali menggunakan . Tak hanya satu kali, namun berkali kali pada anak panah dan air di sekitarnya.


(Ya ampun. Memang anak panah Alvi tak bisa dihindari, namun bisa dihancurkan. Cara yang ceroboh, tapi efektif)


Alva tak tahu harus memuji atau berpikir Laila bodoh, tapi dia sadar Laila tak memiliki pilihan lain.


(Sedikit lagi)


Sebentar lagi tujuan mereka akan tercapai. Laila akan kehabisan energi sihir di saat itulah mereka menyerang dengan kekuatan penuh.


Tetapi di saat itulah Alva merasakan sebuah keganjilan.

__ADS_1


"Alvi, menghindar!!"


Tanpa banyak tanya, Alvi menurut. Tak berapa lama kemudian papan seluncur es yang dia gunakan tiba tiba hancur. Lalu puluhan Scarflare muncul menerjang dan terbang ke arah mereka.


"Serangan kejutan huh?"


"Itu tak akan berhasil!!"


Ide menggunakan kedalaman air untuk menyembunyikan Scarflare bukanlah ide yang buruk, tapi air itu dimanipulasi oleh Alva. Mana mungkin Alva tak menyadarinya.


Tetapi bukan itu tujuan Laila melakukan itu. Yang dia butuhkan hanyalah pengalihan untuk beberapa detik.


"Itu bukan masalah besar kalian menghindar atau tidak."


""!?""


Kedua mata mereka melebar karena terkejut. Mata mereka seolah membohongi mereka. Itu karena apa yang mereka lihat suatu yang berada di luar pemikiran manusia.


Semua anak panah Alvi diam mematung di tempat. Lalu air yang seharusnya terus menyerang sama sekali tak bergerak.


Keduanya ingat kalau Laila bisa menggunakan Magic arm lain selain Scarflare, Clocflare. Kedua pedang itu memiliki kemampuan memanipulasi waktu.


Tetapi bukan itu yang menyebabkan semuanya berhenti bergerak.


Dari jarak mereka, keduanya bisa melihat kalau ada semacam benda yang menempel pada semua anak panah Alvi. Untuk air, ada semacam jaring tipis yang mengekang mereka semua seperti sebuah wadah.


"....Sial, jangan bilang kau sudah merencanakan semua ini?"


Alva yang pertama kali menyadarinya.


Laila tersenyum seolah apa yang dia pikirkan itu benar.


"Kak Alva?"


"Alvi, dia menggunakan Re;Break bukan hanya untuk meningkatkan kekuatannya saja, namun juga menyebarkan energi sihir pada seluruh tempat ini. Dan dengan energi sihir itulah dia menghentikan semua serangan kita. Tch!! Dia ternyata lebih monster daripada yang kita perkirakan."


Tak hanya kesal, Alva juga terus mencoba mengendalikan air yang berada di kekangan Laila, namun sama sekali tak berhasil. Dia masih bisa mengendalikan air yang belum terkekang, namun, kekangan Laila dengan cepat menyebar.


Dia harus melakukan sesuatu. Air yang dia gunakan merupakan bagian penting dari rencana mereka.


"Kau benar, tapi pemikiran kalian terlalu naif jika berpikir aku hanya melakukan itu."


"Apa?"


Laila kembali memanggil puluhan Scarflare, dan dia langsung saja menggunakan Re;Break pada mereka. Tetapi Scarflare tak berubah menjadi energi sihir, namun menjadi kepingan kecil yang terbang mengelilingi Laila seperti sebuah serangga.


"Re;Break membuatku bisa menyerap energi sihir, tidak, lebih tepat jika mengembalikan energi sihir yang digunakan untuk menciptakan Magic Arm, tapi kalian salah jika berpikir aku hanya bisa memanggil Scarflare dan Clocflare."


Pernyataan Laila membuat semua orang terkejut, kecuali satu orang yang mengenal Laila lebih dari siapapun.


"Scarflare merupakan pecahan dari magic arm Laila yang sebenarnya. Itu benar, namun juga salah. Jika itu benar, apakah Magic Arm Laila yang sesungguhnya adalah pedang? Tapi jika salah, kenapa Laila bisa menciptakan berbagai macam Magic Arm seperti Giganflare dan Meteor Cannon Blade? Dan yang paling penting, apakah Clocflare merupakan Magic Arm Laila yang sebenarnya, atau hanyalah pecahan sama seperti Scarflare?"


Tak ada yang perlu mendengar gumaman Kuro, namun Alva dan Alvi mengerti dari kenyataan yang mereka lihat dan rasakan selama ini setelah mengenal Laila.


Keduanya ingat perkataan orang yang keduanya sebut sebagai guru.


'Di dunia penyihir, peringkat Paladin memang dikatakan yang terkuat, namun ada yang lebih spesial dari Paladin, yaitu peringkat S. Tak hanya menunjukan kekuatan, namun juga potensi yang dimiliki begitu luar biasa dan begitu unik. Lalu jika Paladin adalah buah, maka peringkat S adalah benihnya. Benih itu akan tumbuh menjadi suatu yang spesial, bahkan tanpa menjadi buah sekalipun.'


Pada awalnya mereka ragu dengan perkataan itu, namun kali ini bukti berada di depan mereka.


Ribuan pecahan Scarflare perlahan menyatu dengan Laila dan membentuk sebuah armor menyerupai Valkryie Gear yang dimiliki Charlmilia pada pertempuran melawan Maria. Sayapnya juga bertambah menjadi besar dan mengagumkan seperti sayap malaikat besi.


Lalu tak lupa sebuah pedang raksasa sebesar tubuh Laila berada di tangannya.


"I-Ini sungguh gila!"


"B-Bagaimana seorang menggunakan Magic Gear tanpa menjadi peringkat Master?" Tambah Alvi.


Keduanya berkeringat dingin. Tekanan sihir Laila begitu besar seolah Laila yang sebelumnya hanyalah bayangan. Bahkan hanya dengan auranya saja sudah cukup membuat air menguap dan panah Alvi meleleh.


"Aku masih belum bisa menggunakan Magic Arm-ku yang sebenarnya, tapi aku rasa ini cukup."


Tekanan Laila semakin meningkat dan seluruh perisai yang digunakan untuk melindungi penonton retak seperti kaca.


Penonton yang semulanya penuh semangat kini mulai panik seperti melihat monster.


"Apa kalian masih lanjut?"


"Ten-"


Jawaban Alvi dihentikan oleh Alva bersamaan dengan gelengan kepala.


"Tidak, aku rasa sudah cukup. Aku tak cukup bodoh membiarkan adikku dalam bahaya jika ini diteruskan. K-karena itulah kami memilih me-me...nyerah."


"Kak Alva...."


Alva tak menyangka perbedaan kekuatan mereka akan sejauh ini, tapi bukan hanya itu saja alasan kenapa keduanya tak bisa melanjutkan pertarungan.


Meskipun bisa menggunakan Spirit Gear, namun kekuatan mereka masih sebatas menggunakannya untuk meningkatkan kekuatan sihir dan Magic Arm. Mereka bahkan belum bisa menggunakan Spirit Sacred Art yang menjadi serangan pamungkas Spirit Gear.


Keduanya bisa mendesak Laila, tapi hanya itu. Dibutuhkan kekuatan lebih besar jika ingin menang melawan Laila yang tumbuh menjadi monster sama seperti Kuro.


"Syukurlah, jika ingin meneruskan aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengalahkan kalian berdua. Aku sama sekali tak peduli dengan larangan menghancurkan arena hehe.."


Laila tertawa kecil, bersamaan dengan itu armor dia kenakan menghilang menjadi partikel.


Tak hanya Laila yang melepaskan kekuatannya, Alva dan Alvi juga sama. Air yang menelan arena juga menghilang dan menyisakan kerusakan yang tak sedikit.


Kedua pihak saling mendekat.


"Cobalah untuk menahan diri. Kami bahkan sama sekali tak memiliki pemikiran seperti itu."


"Aku tahu. Tak hanya kekuatan, namun juga kalian memiliki kendali yang lebih baik daripada aku. Selain itu kerja sama kalian sungguh luar biasa. Dari semua lawanku selama ini, aku bisa bilang kalian adalah yang terbaik."


"Terima kasih, tapi itu tak cukup kan?"


Alva dan Alvi hanya bisa tersenyum kecut.


"Kalian hanya tak cukup waktu saja. Berbeda denganku, waktu yang digunakan untuk latihan sangatlah berbeda."


"Laila, apa maksudmu dengan itu? Jangan bilang kau menggunakan ruang dimensi tanpa sepengetahuanku?"


Laila hanya menjulurkan lidahnya seolah tak peduli.


Kuro hanya bisa mendesah, namun dia tak bisa berbuat banyak karena sudah terlanjur.


"Latihan memang bagus, tapi jangan berlebihan."


Laila menoleh ke arah lain. Sepertinya larangan itu sama sekali tak digubris.


Kuro lalu fokus pada Alva dan Alvi.


"Seperti yang Laila katakan, kakuatan kalian sungguh mengejutkan, hanya saja kalian masih belum bisa menggunakan kekuatan kalian sepenuhnya, benarkan?"


"Ahaha.. kami tak bisa membodohimu kah?"


"Un?"


"Spirit Art memiliki pondasi yang berbeda untuk melatihnya. Jika mau aku akan memberitahu kalian, tapi sepertinya ini bukan waktunya untuk melakukannya."


Perkataan Kuro mengingatkan mereka kalau ini adalah saatnya perayaan kemenangan, namun sepertinya pihak panitia lupa mengumumkan karena terkejut.


Tapi siapa yang peduli. Pada pertarungan kali ini, Kuro dan Laila adalah pemenangnya.


Meskipun banyak yang berpikir ini antiklimaks, tapi ada banyak cara untuk menyelesaikan pertarungan tanpa harus bertarung.


Keputusan Alva dan Alvi untuk menyerah merupakan evaluasi penting. Kadang seorang harus tahu kapan menyerah dan harus terus berjuang. Hal inilah yang membuat Alva akan dibenal sebagai seorang pemimpin yang baik dan bijaksana suatu hari nanti.


Tetapi itu masih cerita di lain waktu.


"Aku juga ingin bisa menggunakan Spirit Art..."

__ADS_1


"Apa kekuatan yang kau miliki masih belum cukup?"


Alva, Alvi dan Kuro tak bisa menahan diri untuk protes.


__ADS_2