Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Dragon War IX : Truth from Dark Side


__ADS_3

Manipulasi genetik, kloning, transplantasi sel, manusia buatan (homunculus). Itu hanyalah beberapa cara untuk mendapatkan benih penyihir yang kuat dan berbakat dalam waktu singkat.


Di masa perang, cara cara itu sangat mudah ditemukan dan dipakai oleh negara negara yang sedang berperang atau ingin mempertahankan wilayah mereka dari musuh. Dengan menggunakan ritual sihir terlarang dan bantuan sedikit teknologi, hal semacam itu dapat diciptakan bahkan hanya kurang dari satu hari saja.


Sekarang, tak ada yang berubah. Cara cara semacam itu masih dipakai meskipun secara rahasia.


Salah satu negara yang melakukan itu adalah Dragonia. Dan dari kebanyakan negara yang melakukan hal yang sama, Dragonia termasuk negara yang sukses melahirkan penyihir dengan kekuatan yang berasal dari cara seperti itu.


Dan contoh mereka adalah pangeran dan tuan putri Dragonia itu sendiri.


Tentu hal ini dirahasiakan dan hanya beberapa orang saja yang tahu. Bahkan pangeran dan putri Dragonia tak tahu bahwa mereka adalah hasil dari percobaan terhadap manusia.


Ayah mereka melakukan percobaan yang tak manusiawi itu terhadap darah dagingnya sendiri dengan mengatas namakan demi kepentingan negara.


....dan ketika sang anak mengetahui kebenaran hal ini, ini menjadi salah satu alasan mereka untuk menghancurkan negri mereka.


Ya. Inilah yang dilakukan Cross.


Tapi tentu saja bukan itu saja yang menjadi alasan dia menghancurkan negrinya sendiri.


(Tak hanya negri ini, tapi dunia ini pantas dihancurkan!!)


"..........kh!!"


Cross sekali lagi memperkuat tekadnya. Meskipun sekarang dia harus menahan rasa sakit karena tangan kanannya terpotong, tapi tekadnya lebih kuat sehingga rasa sakit itu terasa nyaman.


Dia bukan masokis, tapi dia tahu jika dia tak bisa menahan rasa sakit sebatas itu, maka keinginannya hanyalah sebuah omong kosong.


"Kak Cross..."


Diana berdiri di depannya dengan sebuah tombak merah keperakan yang dihunuskan ke dirinya.


Cross tersenyum kecil. Dia tak menyangka semua rencananya berantakan, tapi ini bukan masalah besar baginya.


"Kak Cross, apakah kau benar benar ingin menghancurkan Dragonia?"


"Jangan memanggilku Kakak. Kita berdua tahu kita bahkan tak memiliki hubungan darah sama sekali, benarkan? Kita bahkan bukan makhluk yang sama, jadi berhentilah memanggilku dengan nama panggilan itu."


"......."


Diana hanya terdiam. Dia tak bisa menyangkal hal itu.


Cross berbeda dengan ketiga saudaranya. Dia bukanlah terlahir dari manipulasi genetik atau ritual sihir terlarang, tapi dia sepenuhnya terlahir dari ilmu pengetahuan. Dia adalah Design Child (anak buatan).


Cross sejak awal terlahir dari tangan para alkemis. Tujuan dia dibuat adalah untuk menciptakan senjata dan teknologi yang lebih maju dari negara lain. Dan dia melakukannya dengan baik hingga sekarang ini.


Mengetahui kebenaran ini, Cross sama sekali tak membenci mereka. Dia tak berhak untuk itu. Tapi mengetahui alkemis yang kini menjadi anak buahnya adalah orang tuanya, itu sedikit terasa ironi bagi Cross.


Sedangkan gelar pangeran yang dia sandang saat ini hanyalah sebuah hadiah atas kelahirannya. ...dan juga demi mengendalikannya.


"...ya, tapi apakah hubungan keluarga hanya ditentukan oleh sebatas hubungan darah? ....kurasa kak Cross tak berpikir seperti itu."


"......."


Cross tak menjawab. Dia tahu itu karena dia manusia buatan, maka dia tak mempunyai satupun orang yang terikat hubungan darah dengan dirinya. Dia adalah orang yang paling tahu tentang hubungan keluarga.


"Aku bisa tahu kak Cross mengerti tentang itu daripada kami. Kita hidup bersama, tertawa bersama, saling membantu bersama, ...ikatan yang terjalin selama puluhan tahun tak akan putus hanya karena kita tak memiliki hubungan darah, aku salah?"


"......"


Diana tersenyum kecil dan lembut. Ketulusan terpancar dari senyuman itu. Dia lalu menoleh ke arah Laila dan lainnya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Semuanya, aku minta maaf karena menggagalkan kalian, ...tapi bagaimanapun juga aku harus melakukannya. ...kak Cross adalah salah satu keluargaku yang berharga. Meskipun dia berbuat jahat, aku tetap menganggapnya sebagai salah satu keluargaku. Tapi karena itupula akulah yang harus menyelesaikan semua ini dengan tanganku sendiri. Kuharap kalian mengerti keinginan egoisku ini."


Tak ada satupun yang menjawab. Mereka ingin memberikan reaksi, tapi hal ini merupakan situasi yang cukup rumit.


Tapi Knox hanya menggaruk garuk kepalanya dan mendesah dalam.


"...baiklah. Lakukan sesukamu, ...tapi aku minta kau mengambil keputusan yang tepat dalam hal ini, Putri Diana."


Diana tersenyum kecil dan terlihat senang, tapi Jinn dan Lairo menunjukkan sebaliknya.


"Knox, apa kau serius?" tanya Jinn "Kita sudah bersusah payah menemukannya dan sekarang kau membiarkan dia begitu saja?"


"Ya, apa ada masalah?"


"....."


Jinn dibuat tak bisa berkata apa apa oleh Knox. Dia sebenarnya ingin protes, tapi dia mengenal siapa Knox.


Knox bukanlah orang yang memutuskan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Dia percaya hal itu dan karena itulah dia mengikuti segala perintahnya sampai sekarang ini.


Knox melirik Aldest.


"Aldest, tak apa apa kan?"


"Ya, ini bukanlah masalah besar. Yang terpenting, kalian memiliki tugas yang harus dilakukan, jadi segeralah pergi. Aku akan tetap disini untuk mengawasi mereka."


Hall mendekat ke samping Aldest dengan sabit besar yang terlihat menakutkan.


Knox lalu tersenyum kecil.


"Aku senang ada orang yang mudah mengerti. Laila, Charl, Jinn dan Knight payah, kita pergi dari sini."


Semua terkejut mendengar perintah Knox, terutama Lairo yang mendapatkan julukan baru. Dan sejak kapan Knox menjadi pemimpin?


Lalu Knox langsung berlari tanpa menjelaskan lebih lanjut. Mereka berempat awalnya bingung, namun mereka kemudian mengikuti Knox dari belakang meninggalkan Aldest sendirian bersama Magic Beast miliknya, Hall.


Sebelum sempat pergi jauh, Lairo menoleh ke arah belakang. Dia melihat Aldest mengatakan suatu kepadanya. Meskipun tak terdengar, namun dia tahu apa yang dikatakan Aldest melalui gerakan bibirnya.


Mata Lairo melebar, namun dia perlahan tersenyum dan mengangguk tanda mengerti apa yang Aldest katakan.


"Ya ampun, dia selalu menyuruhku seenaknya, tapi memang begitulah dia."


Lairo berlari dengan senyuman seolah hal baik terjadi kepadanya.


Charlmilia dan Laila yang berlari di sampingnya menoleh satu sama lain dan ikut tersenyum. Pasangan yang aneh, itulah yang mereka pikirkan.


Tak peduli rasa lelah, luka yang mereka alami dan kondisi yang tubuh mencapai batas, mereka berlima menuju medan perang yang sesungguhnya.


Pertarungan masih belum berakhir. Mereka tahu itu, tapi-


"Kenapa kita ke sana? Bukankah semuanya sudah jelas kalau Dia (Deon) sebenarnya bukan musuh?"


Setelah mengetahui tujuan mereka, yaitu ke tempat pertarungan Kuro dan Deon/Lucifer, Lairo bertanya.


"Hanya orang bodoh yang berpikiran seperti itu."


Knox menunjukkan senyuman tipis dengan tatapan serius.


"Kau sudah melihat sendiri apa yang terjadi kepada dirinya, apakah kau pikir dia akan berhenti? ...kita semua tahu hal itu tak akan terjadi. Jadi bisakah kalian hilangkan pemikiran naif itu."


Selain Lairo, semua menunjukkan tatapan yang sama. Tatapan yang menunjukkan tekad untuk mengakhiri pertempuran ini.


Lairo tersenyum kecil, lalu berkata:


"Apa kalian benar benar anak kelas satu? Kalian tak jauh berbeda dengan seniorku di Markas Knight."


Tapi bukan hanya itu yang membuat mereka spesial. Dalam pertempuran ini telah membuat mereka tumbuh menjadi penyihir yang berbeda dengan penyihir muda lainnya. Selain itu, bakat mereka juga muncul dan mereka gunakan sebaik mungkin sehingga sampai sekarang tak ada yang mengalami luka parah dan selamat.


Tentu semua itu juga terjadi berkat Kuro memberikan mereka air mata phoenix, tapi kemampuan individu sebagai seorang penyihir juga berpengaruh besar.


"Aku lebih tua daripada kalian, tapi dari semuanya, mungkin aku yang paling tak berguna."


Lairo terlihat lesu dan kehilangan semangat, namun dia tetap berlari bersama mereka semua tanpa mengeluh. Mungkin ini satu satunya hal baik dari Lairo.


"Jangan bilang dirimu tak berguna." ucap Charlmilia. "Apa kau tak sadar, berkat kau kami tak merasakan ketegangan atau takut meskipun dalam perang. Kau memiliki bakat yang terpendam, tapi kau tak menyadarinya."


"Be-benarkah itu? Hm?"


Dan akhirnya Lairo paham apa yang dimaksud Charlmilia.


"Hei.. aku bukan badut!!!"


Semuanya tertawa mendengar itu.


....tapi mungkin itu adalah kesempatan terakhir mereka karena mereka sudah dekat dengan panggung utama dalam pertempuran ini.

__ADS_1


Ruby, Shapira, 3 Ultimate Necrodra, puluhan Necrodra, Demon Beast dan Dragon Knight yang tersisa kini berhadapan dengan delapan Dragon Arm.


Pertarungan dimulai dari Ruby.


Ruby meraung dengan keras lalu mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit. Dua Ultimate Necrodra mengikuti Ruby dan beberapa Necrodra melakukan hal yang sama.


Shapira berlari dengan kecepatan penuh ke depan. Semua yang tersisa mengikutinya dari arah belakang dengan kecepatan penuh, tapi mereka kalah dengan Shapira yang sekarang sudah berubah.


Sejak awal Shapira adalah Dragon King berelemen angin. Kecepatan adalah keahliannya. Tah hanya itu, sambil berlari, dia bersiap mengeluarkan Dragon Breath, tapi bukan Dragon Breath biasa, melainkan Storm Breath.


Naga naga yang lain tak mau kalah dan bersiap mengeluarkan Dragon Breath dari belakang untuk membantu menyerang. Sedangkan Hell Beast yang tak memiliki serangan jarak jauh, mereka bergerak dengan kecepatan penuh ke arah musuh.


Di pihak lain, Dragon Arm tak tinggal diam begitu saja. Kedelapan Dragon Arm itu berbaris dan bersiap mengeluarkan Dragon Breath, tidak dari cahaya dan tingkat kepadatan mana, mereka bersiap mengeluarkan delapan Laser Breath disaat yang bersamaan.


Kedua pihak sudah bersiap mengeluarkan serangan terkuat mereka, dan setelah selesai, mereka menembakkannya secara bersamaan.


Berbagai cahaya lurus dengan berbagai ukuran dan kekuatan penghancur yang dahsyat melesat bagai peluru. Membakar dan menghancurkan apapun yang menyentuh mereka dalam sekejap mata.


...dan akhirnya cahaya itu bertemu dan menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.


BOOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!!!!!


Ledakan dahsyat terjadi dan menghancurkan apapun yang ada di sekitar mereka. Kedelapan Laser Breath sedikit lebih unggul dalam segi kekuatan tapi sayangnya mereka tak memiliki apa yang dimiliki oleh Dragon King yang asli, yaitu pengalaman dan harga diri sebagai Dragon King.


Cahaya yang lebih besar dari ukuran normal tiba tiba muncul di ledakan. Menembus lurus ke arah delapan Dragon Arm dan menghancurkan Laser Breath seakan serangan itu hanyalah cipratan air yang tergulung ombak. Cahaya itu akhirnya mengenai delapan Dragon Arm dengan kekuatan penuh.


BOOOMM!!


Sekali lagi ledakan terjadi. Delapan Dragon Arm kini tersapu oleh ledakan itu dan menghilang tertelan cahaya.


ROOOOOOOAAAAAAAAARRRRRR!!!!!


Ruby dan Shapira meraung keras. Mereka berdua menunjukkan kekuatan dan harga diri sebagai Dragon King.


Serangan tadi adalah gabungan Flame Breath dan Storm Breath. Hal ini sama seperti saat Laila dan Charlmilia yang menggabungkan serangan mereka untuk menghasilkan serangan yang kuat, tapi mereka sadar serangan itu cukup menghancurkan mereka.


16 mata merah muncul dari asap yang muncul akibat ledakan. Gigi taring besi dan cakar besi mereka tunjukkan dari balik asap. Tubuh besi mereka mengalami luka bakar dan sayatan, namun dampak yang mereka terima dari serangan itu cukup besar dari percikan percikan kecil yang muncul di beberapa bagian.


Kedelapan Dragon Arm itu meraung secara bersamaan. Mereka bergerak dan bersiap berpencar. Tampaknya mereka tahu jika berkumpul akan menjadi target yang mudah untuk diserang.


ROOOAAR!!


Sayangnya, Shapira tak membiarkan mereka dengan mudah. Dia yang datang lebih cepat dari lainnya langsung menerkam leher salah Dragon Arm.


Krakk! Suara retakan dan logam hancur berjatuhan terdengar. Meskipun terbuat dari bahan khusus yang mampu menahan serangan Laser Breath atau bahkan lebih kuat, namun semua itu tak berarti saat berhadapan dengan taring Dragon King.


Shapira lalu dengan gesit bergerak ke samping saat salah Dragon Arm lainnya berusaha menyerangnya, tapi disaat yang sama dia mengoyak leher Dragon Arm dan menghancurkan bagian yang dia terkam.


Leher Dragon Arm langsung berlubang dan menunjukkan apa yang ada dibalik logam itu. Kabel, cairan dan berbagai benda logam terlihat sebagai penanda bahwa dari itulah mereka dibuat. Percikan listrik dan partikel muncul dari luka itu sebagai pengganti darah makhluk hidup.


Salah satu Dragon Arm mencoba untuk terbang dengan membentangkan sayapnya, namun itu adalah kesalahan karena saat itulah Laser Breath dalam ukuran kecil namun berjumlah banyak menyerang salah satu sayap. Naga yang menyerang Dragon Arm tak lain adalah Laiko yang memimpin Necrodra berjenis Holy Demonic Class seperti dirinya.


Dan setelah gagal, Dragon Arm itu tiba tiba dijatuhi oleh sosok besar dengan kecepatan tinggi seperti sebuah meteor, tapi sosok itu sebenarnya adalah Ruby yang menyerang dengan menjatuhkan diri. Hasil dari serangan itu adalah salah satu sayap Dragon Arm hancur berkeping keping.


ROOOOOOAAARRRRR!!!


Ruby meraung dengan keras. Udara dan tanah bahkan gemetar oleh raungan itu.


Ultimate Necrodra tak mau kalah dan menyerang salah satu Dragon Arm dari sisi yang berbeda. Mereka menerkam, mencakar dan menendang mereka, tapi mereka tak memberi dampak yang terlalu besar jika dibandingkan Ruby dan Shapira. Inilah perbedaan antara Ultimate Necrodra dan Dragon King.


Sekarang medan pertempuran dipenuhi oleh monster sebesar 25 meter yang saling bertarung dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Bagi manusia yang mendekat tak akan sanggup bertahan hancur menjadi potongan daging dalam sekejap atau hancur menjadi debu.


"Ini sudah dimulai, untuk sekarang kita hanya menunggu. Lagipula tak ada yang bisa kita perbuat di tahap ini."


Knox dan semuanya sedang berada di area aman yang cukup jauh dari tempat pertempuran. Mereka berlindung di salah satu bangunan yang berada di bawah tanah yang merupakan salah satu tempat pengungsian Drageass.


Bagi orang asing sulit menemukan tempat itu, tapi berkat Jinn mereka menemukan banyak tempat seperti itu meskipun mereka harus menyingkirkan puing puing dengan mana yang tinggal sedikit.


"Kita harus memulihkan mana kita karena aku memprediksikan kemungkinan kekuatan kita akan sangat dibutuhkan dalam pertarungan nanti." tambahnya.


"Kuro juga mengatakan hal sama melalui telepati. Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?"


"....kalian akan segera tahu, tapi kalian harus ingat. .....kita hanyalah pion dalam pertempuran ini. Kita adalah bidak tak berharga, tapi jika kita memerankan peran kita dengan baik, kita akan mendapatkan kemenangan dengan mudah dan korban sedikit."


Mereka berlima akhirnya menunggu. Menunggu saat yang tepat, tapi ada dua orang yang terlihat murung. Mereka adalah Jinn dan Laila.


"....."


Lingkaran sihir muncul dan armor Kuro terbakar, disaat yang sama armornya bertransformasi menjadi armor ringan yang memiliki banyak kesamaan dengan Dragon Gear Diana, hanya saja berwarna merah.


Kuro menoleh ke arah Deon.


"Mereka benar benar membuat masalah dengan membuat benda semacam itu, ....tapi ini juga merupakan hiburan tersendiri."


"....ya, tapi aku terkejut mereka membuat monster itu lebih kuat daripada dulu."


Suara Deon kini tak menyatu dengan Lucifer. Bahkan tatapannya juga lebih baik seperti Deon yang sebelumnya.


[Kalian manusia memang suka melakukan suatu yang menghancurkan diri kalian sendiri.]


Meskipun tak mengendalikan Deon lagi, namun suara Lucifer masih terdengar jela dari cristal yang berada di Magic Arm Deon.


[Ya.. itu bukan urusanku, lagipula sudah menjadi kodrat kalian sebagai manusia.]


"Sesuai perjanjian, kau memberikan kekuatanmu kepadaku untuk mencapai keinginanku, tapi aku cukup terkejut kau mematuhi perjanjian kita."


[Jangan bercanda!! Apa kau ingin membuatku muntah?]


"......"


[Kami para iblis sebenarnya selalu ingin mematuhi perjanjian yang kita buat, tapi kalianlah para manusia yang selalu melanggar perjanjian terlebih dahulu. Kami hanya memberikan hukuman kepada kalian.]


"Apa kau benar benar seorang iblis?"


[Jangan salah sangka dan menganggap kami sangat buruk, ...meskipun aku mengakui kami buruk, namun bagi kami kalian para manusialah yang lebih buruk daripada kami. Kalian sudah mendapatkan, tapi selalu menginginkan lebih dan lebih lagi. Tak peduli di dunia manapun, kalian tetaplah sama, tamak dan serakah]


".....ya, aku juga harus mengakuinya, tapi seperti yang kau bilang kami serakah karena kami adalah manusia. Sekarang yang terpenting, berapa lama waktu yang kumiliki?"


Deon membuat perjanjian dengan mengorbankan tubuhnya dan jiwanya sebagai kopensasi atas kekuatan yang diberikan. Jika melihat yang terjadi dalam sejarah, Deon masih bisa hidup 2 -3 hari lagi, tapi dia sudah terlalu berlebihan menggunakan kekuatannya, terutama saat membuka gerbang dimensi ke dunia lain.


Sekarang dia tak bisa merasakan sakit sama sekali, tapi justru karena itulah dia harus waspada.


[Jika kau tak melakukan apapun, kau bisa hidup sampai besok pagi, tapi aku tahu kau tak akan diam saja.]


"......."


[Kurasa waktumu hanya satu jam kuku ku..]


Deon sudah menduganya, jadi dia tak terlalu terkejut.


"Dalam satu jam, jiwaku akan menjadi milikmu kah...."


Deon tersenyum keci lalu melirik ke arah pertarungan para naga.


"Aku ternyata memilki waktu yang lebih lama dari kuperkirakan. Maaf, tapi bisakah kau membantuku lagi?"


Kuro yang sejak tadi terdiam akhirnya mulai bicara.


"Aku tahu, selama kau mempunyai keputusan yang tepat, aku tak akan menghalangi seperti 6 bulan lalu."


Deon tersenyum saat mengingat apa yang terjadi 6 bulan lalu. Dia menggunakan Lost Art dan tetap kalah dari Kuro. Jika dipikirkan lagi, itu adalah kejadian yang mustahil dilakukan manusia biasa.


Tapi sekarang Deon mengerti kenapa Kuro bisa melakukannya, dia adalah pewaris kekuatan Demon King.


Sekarang pertanyaan baru muncul di benak Deon, jika Kuro bisa menggunakan sihir, mungkinkah dia sudah menjadi Demon King?


"Kita berdua tahu kau tak hanya menghalangi satu kali saja."


"Aku tak bisa menyangkalnya."


Hubungan Kuro dan Deon lebih lama dari yang orang tahu. Bahkan kejadian 6 bulan yang lalu juga bukan pertarungan mereka yang pertama kali.


Kuro sudah sering ke Dragonia sebagai orang asing, sedangkan Deon adalah mantan Jendral di Dragonia. Mereka bertemu beberapa kali dan berbicara banyak hal. Tentu bertarung dalam sebuah duel juga suatu yang sering mereka lakukan, tapi hubungan mereka lebih dekat karena hubungan mereka dengan naga.


"Sekarang kita akhiri saja pertarungan ini, kau juga sudah melakukan suatu yang harus kau lakukan."


Deon melirik pertarungan Diana dan Cross yang berada cukup jauh dari mereka.

__ADS_1


Dia memandangi kota Drageass yang hancur karena perbuatannya. Tak ada rasa penyesalan sama sekali setelah dia melakukan semua itu.


Deon memejamkan matanya sesaat dan dia mengingat kembali keluarganya dan naga yang dia sayangi. Mereka telah tiada, tapi mereka terus hidup di dalam hatinya.


Tapi disaat yang sama dia mengingat hari itu, hari dimana keluarganya terbunuh oleh naga misterius yang terbuat dari besi. Ya. Naga yang membunuh keluarganya adalah salah satu dari Dragon Arm.


Seharusnya dia sudah mati pada hari itu, tapi ada seorang yang menyelamatkannya.


Dia lalu mencari tahu dan berusaha membalas dendam. Dan dia sekarang melakukannya, tapi dalam hatinya yang terdalam dia tahu keluarganya tak mau dia membalas kematian mereka.


Dan keluarganya lah yang memberikan kekuatan agar dia tak hilang kendali meskipun menggunakan salah Cursed Arm paling berbahaya di dunia.


"Aku mengerti Kuro, tapi bisakah kau menyampaikan pesanku kepada putri Diana setelah semua ini berakhir?"


Kuro hanya mengangguk pelan.


Sementara itu, Diana sekarang bertarung dengan Cross, tepatnya salah satu monster mekanik buatan Cross, Astaroth.


Kecepatan dan kekuatan Astaroth memang luar biasa dan mampu beradaptasi dengan lawan mereka. Jujur saja dia akan kesulitan menghadapi mereka, namun setelah melihat pertarungan Knox dan Astaroth, Diana tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengalahkannya. Selain itu sekarang dia memakai Dragon Gear yang lebih kuat, mengalahkan Astaroth adalah hal yang mudah.


"Haaaa!!!!"


Diana menebas tubuh Astaroth dan melemparnya dengan keras hingga melesat ke belakang Cross dengan kecepatan tinggi. Dan setelah beberapa detik dan percikan, Astaroth meledak dengan keras.


Cross tak terkejut Astaroth dikalahkan dengan mudah. Dia tahu Diana sekarang lebih kuat dari biasanya.


Diana menghunuskan Gungnir ke tanah. Dia lalu menatap Cross dengan tatapan sedih.


"Kak Cross, ...apakah kita tak bisa kembali seperti dulu? Tak peduli kita saudara kandung atau bukan, kit-"


"Semua itu hanya omong kosong." potong Cross.


"......"


"Kembali seperti semula? Kita tak punya suatu yang harus dikembalikan, jadi buanglah pemikiran naif itu. Apakah kau tak pernah sadar bahwa pemikiran itu akan banyak membuat orang menderita?"


"...menderita? Apa maksudmu?"


"Diana, apa kau masih belum mengerti juga? Aku yakin orang tua itu memberi tahumu tentang siapa diri kita yang sebenarnya, tapi apa kau pikir hanya itu saja yang dia sembunyikan?"


Diana langsung mengerti apa yang Cross maksud.


"...aku tahu itu, tapi Ayah melakukannya tanpa alasan yang jelas. Aku percaya itu."


"Apakah alasan itu termasuk negara ini sedang membuat seluruh rakyatnya menjadi senjata seperti yang dia lakukan terhadap anaknya?"


Mata Diana melebar setelah mendengar perkataan Cross, dan disaat yang sama dia tahu apa yang ingin Cross katakan.


"Tampaknya aku harus memberitahumu kenyataan pahit ini kepadamu, Diana. Kau saat ini menganggap bahwa keadilan yang selama ini kau bela adalah benar, namun apakah kau akan tetap membela keadilanmu itu setelah mendengar hal ini?"


Cross tersenyum lebar saat melihat reaksi Diana.


"Bagaimana kalau kita mulai dari hari itu. ...meskipun aku tahu ini tak akan mengubah jalan pertarungan ini, tapi mungkin kau senang karena bisa tahu apa yang diketahui oleh seseorang yang kau panggil kakak."


10 tahun yang lalu, Draggeass, Ruang bawah tanah istana Fafnir.


Selain dikenal sebagi pangeran ketiga Dragonia, namun juga dikenal sebagai alkemis jenius. Meskipun masih muda, dia sudah menciptakan berbagai benda yang terbilang luar biasa terutama benda yang berhubungan dengan sihir dan teknologi sihir (Magitec).


Saat ini dia baru berusia 9 tahun, namun dia sudah menjadi pemimpin dalam proyek proyek rahasia yang dikerjakan Dragonia. Tak ada waktu bermain atau bercanda, yang dia lakukan hanyalah menciptakan.


Di tahun yang sama, dia sudah tahu bahwa dirinya adalah manusia buatan. Dia menerima dirinya dan sadar dia tak punya hak untuk marah atau cemas dengan semua itu. Karena itulah dia bersyukur bisa hidup dan berterima kasih dengan cara mengerjakan tugasnya sebaik mungkin, tidak, lebih tepatnya itulah alasan dia hidup.


Setiap hari dia menghabiskan waktunya di laboratorium, meskipun kadang dia bermain dengan saudaranya, namun dia tak bisa bergabung dan hanya menjadi penonton. Meskipun begitu, dia sangat senang saat melihat saudaranya saudaranya tersenyum.


Suatu hari, dia menemukan suatu yang mengejutkan di laboratoriumnya, yaitu sebuah ruangan rahasia. Dia tahu ruangan rahasia sebenarnya bukanlah suatu yang aneh atau luar biasa. Bisa jadi itu adalah laboratorium rahasia lainnya, tapi laboratorium apa?


Dia lalu membuka dengan menggunakan kecerdasan dan alat yang dia buat. Setelah berhasil masuk, dia menemukan ruangan yang besar yang puluhan kali lipat dengan laboratorium yang dia gunakan selama ini.


Rasa penasaran dan sekaligus kekagumannya sebagai seorang ilmuan membuatnya ingin lebih tahu lagi mengenai tempat itu. Apa yang mereka kerjakan? Apa yang mereka sembunyikan?


Saat kepalanya dipenuhi pertanyaan itu, dia merasakan dirinya penuh semangat dan bergairah. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya.


Berbeda dengan laboratorium yang dia gunakan, laboratorium itu lebih didominasi sebuah tabung yang biasa digunakan untuk meneliti makhluk organik.


Dia sudah terbiasa dengan hal semacam itu, jadi tak ada perasaan takut atau jijik yang menghampiri, tapi tempat itu tetap membuat dirinya penasaran.


Saat melewati lorong yang terbuat dari dinding besi, dia menemukan sebuah pintu. Tak ada nama untuk ruangan itu atau sebuah tanda yang menunjukkan kegunaan ruangan itu.


Dia lalu membuka pintu dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Dan setelah masuk, dia menjatuhkan semua alatnya dan langsung tersungkur ke lantai dengan kedua tangannya. Matanya melebar. Dia juga berkeringat dingin dan badannya gemetar.


Dia ingin berteriak dengan sekuat tenaga, namun suaranya tak mau keluar.


Apa apaan semua ini? Itulah pertanyaan yang muncul di kepalanya saat melihat isi ruangan itu.


Ruangan penuh dengan tabung dengan cahaya kehijauan. Dan di dalam tabung itu mayat ratusan manusia terlihat tertidur, sayangnya mereka semua bukan tertidur, tapi sudah mati. Tak peduli anak anak, atau orang dewasa, bahkan ada anak kecil kurang dari 1 tahun. Ada juga beberapa yang dalam kondisi tak utuh dan organ mereka berenang di dalam tabung dengan tenang.


Pemandangan yang menjijikan dan sekaligus menakutkan.


Iblis apa yang sanggup melakukan semua ini?


Pertanyaan itu tak butuh waktu lama terjawab karena orang dibalik semua ini telah datang, yaitu sang raja Dragonia itu sendiri.


Tapi kenapa dirinya tak terlalu terkejut dengan semua ini? Mungkin karena dirinya juga hasil perbuatan orang itu, maka tak ada yang mengejutkan lagi bagi dirinya.


Setelah itu, sang raja menjelaskan semua itu kepada dirinya dengan tanpa ada perasaan bersalah. Ini sudah suatu yang umum di seluruh dunia. Menciptakan suatu yang baru dengan melakukan percobaan terhadap manusia adalah suatu yang biasa dilakukan.


Bermain dengan menjadi tuhan, itulah yang mereka lakukan.


Tapi bukan itu yang membuat dirinya terkejut. Yang membuatnya terkejut adalah laboratorium itu adalah miliknya. Ya. Itulah masa depan yang akan menanti Cross. Seorang yang bermain main dengan kehidupan.


Tak butuh waktu lama, dirinya sudah menjadi ketua alkemis yang memimpin semua proyek. Entah itu proyek membuat teknologi baru ataupun teknologi untuk menciptakan generasi penyihir yang kuat semua dia kerjakan dengan baik.


Dan setelah membunuh perasaannya sebagai manusia (?) selama bertahun tahun, akhirnya penelitian mereka menghasilkan sebuah hasil.


40 persen bayi yang terlahir di Dragonia kini adalah seorang penyihir atau manusia yang terlahir dengan kekuatan sihir. Bahkan penyihir ada yang terlahir dari pasangan manusia biasa. Itu bukan angka yang besar, namun itu adalah suatu keberhasilan yang luar biasa.


Tapi mereka masih berupa benih yang baru tumbuh yang harus dirawat dengan baik. Dan dibutuhkan pula waktu untuk melihat hasil benih itu.


Beberapa tahun berlalu, benih yang mereka tanam hasilnya begitu memuaskan. Banyak calon penyihir berbakat yang terlahir dengan kekuatan yang melebihi generasi sebelumnya.


Dengan begini, Dragonia akan mampu memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk bersaing dengan negara besar. Dan dengan Naga, mereka dalam kurun waktu 20 tahun, tidak, bahkan lebih cepat akan mampu disamakan dengan negara besar.


Sayangnya ini adalah pemikiran naif. Masalah muncul. Bukan masalah yang berasal dari penyihir yang mereka buat, tapi dari para pelindung mereka, naga.


Untuk menaklukan naga, seseorang harus mengalahkan naga dengan tanpa menggunakan sihir, itu adalah suatu yang gila. Tapi di Dragonia adalah sebuah pengecualian.


Naga akan memilih Dragon Tamer saat mereka masih muda dan akan mengabdikan jiwa dan raga terhadap anak yang mereka pilih, tapi pada saat itu dia menemukan suatu yang tak dia perkirakan sebelumnya.


Tak ada satupun naga yang memilih penyihir yang dihasilkan oleh percobaan mereka. Itu adalah hasil yang tak diinginkan semua orang.


Setelah mengetahui resiko yang mereka dapatkan jika terus melakukan pecobaan itu, maka dirinya menyarakankan untuk menghentikan semua ini. Sayangnya sang raja tak mau peduli dengan apa yang disarankannya dan justru beranggapan naga sudah tak membutuhkan manusia lagi. Jika begitu, maka kenapa kita tak tinggalkan para naga?


Lalu proyek barupun dibuat, yaitu Knight Gear, Avalon Gear dan Dragon Arm. Itu bukanlah proyek yang bertujuan memperkuat Dragonia, tapi menggantikan naga dari Dragonia itu sendiri.


Tak butuh waktu lama hingga semua proyek itu berhasil dibuat, tapi bukan tanpa pengorbanan. Ratusan hingga ribuan nyawa melayang hanya untuk membuat satu Knight Gear memiliki kekuatan sekarang ini.


Dibutuhkan pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu. Pepatah itu hanyalah omong kosong bagi Cross.


Setelah Knight Gear dan Avalon Gear selesai, maka yang terakhir adalah Dragon Arm.


Membuat monster besi itu mudah, tapi untuk menggerakkan besi sebesar 25 meter membutuhkan energi yang sangat besar.


Untuk itu dia mencari semua benda sihir yang memiliki cukup energi untuk menggerakkan mereka, tapi semua benda yang masuk dalam daftar adalah benda sihir paling merusak di dunia.


Dia kesulitan mewujudkan Dragon Arm. Setiap hari dia terus berpikir dan mencari tahu apa yang bisa mereka gunakan untuk menggerakan naga besi itu. Sayangnya dia tak menemukan hasil yang diinginkan.


Lelah dan hampir putus asa, dirinya memutuskan untuk bersenang senang walau hanya satu hari di sebuah tempat hiburan malam.


Tiba tiba seorang gadis mendekat saat cross sedang duduk sendirian dengan wajah lesu.


"......tampaknya boneka kita sudah kelelahan bergerak, aku salah?"


Boneka? Boneka itu adalah dirinya.


Saat itu dia marah dan jutru tersenyum. Boneka. Ya. Itulah dirinya.


........di hari itulah dia bertemu dengan sosok gadis yang dikenal sebagai Immortal Witch yang mengaku bernama Alice.

__ADS_1


__ADS_2