
Kuryuu Academy, Kelas 1-2.
Waktupun berlalu. Tak ada yang menanyakan keberadaan Kuro lagi.
"Baiklah, kalian tahu kesimpulan pelajaran hari ini kan? Jika kalian bertemu dengan seekor naga, jangan mencoba untuk melawan mereka. Kalian harus lari jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian."
Disaat Otome selesai menjelaskan, bel tanda jam istirahat makan siang berbunyi.
"Kalian boleh beristirahat. Kita akan lanjutkan lagi setelah jam makan siang."
Otome lalu merapikan beberapa buku, sementara sebagian muridnya pergi keluar ruang kelas menuju kantin. Tapi ada pula yang membawa bekal.
Sedangkan Laila, dia masih terlihat menyeramkan. Tak ada yang berani berbicara atau mendekatinya, bahkan termasuk Alva dan Alvi.
"Laila, kuharap kau segera memutuskan berpasangan dengan siapa, Kuro atau Charl. Hanya kau dan mereka berdua yang belum memutuskan pasangan tetap, kau tak lupa besok adalah batas waktunya kan?"
"Eh? Baiklah."
Laila lupa. Itulah yang membuat dia terkejut.
Laila lalu berdiri dan keluar kelas. Dia sedang tak nafsu makan, jadi dia memutuskan untuk pergi ke taman sekolah.
Dia duduk di sebuah kursi yang berada di dekat air mancur.
Taman itu sedikit terbuka, namun karena cuaca sedikit mendung, jadi dia tak terlalu merasakan panas.
Tak ada orang lain selain dirinya.
Sepi, tapi itulah yang terbaik. Dia butuh waktu untuk sendirian.
(Siapa yang harus kupilih?)
Dia bingung. Apakah harus memilih Charl atau Kuro?
Mereka berdua sama sama kuat, tapi mereka memiliki perbedaan yang besar. Kuro mencintai dirinya, sementara Charl menginginkan sesuatu darinya.
(Sejak awal aku sudah tahu akan memilihmu, Kuro, tapi-)
Kenapa dia tak menunjukkan keseriusannya?
Dia justru beberapa hari menghilang. Tapi setelah kembali, dia justru mengatakan 'hubungan mereka saat ini, adalah yang terbaik'.
Apa maksud dari perkataannya?
"......................"
Kuro adalah orang yang paling sulit Laila pahami. Dia bodoh, tapi dia kadang lebih genius daripada yang terlihat. Tak hanya itu, dia juga lebih mesum daripada yang terlihat.
"Kurasa dia hanya bod-."
Bommmmmm!!
Disaat sedang bingung dan galau, Laila dikejutkan oleh sesuatu yang terjatuh di depannya hingga membuat debu berterbangan.
Laila tak bisa melihat dengan jelas, namun setelah debu menghilang, dia dapat melihat sosok yang jatuh di depannya.
Gigi taring yang tajam, sisik merah yang keras dan kuat, cakar yang tajam bagai pedang. Hanya satu makhluk yang sesuai dengan deskripsi itu.
Naga itu menatap ke arah Laila dan meraung kecil.
Wajah Laila langsung pucat pasi dan berkeringat dingin. Dia ingat dengan pelajaran yang baru saja mereka pelajari.
'Jika bertemu dengan naga, maka harus lari'.
Meskipun naga itu tak sebesar naga sebelumnya, namun itu tetaplah naga yang berbahaya.
Kaki Laila langsung menyuruh Laila untuk melarikan diri, tapi dia mengungkan niatnya saat mendengar suara batuk.
"Cough.. Coughh...Coughh."
"...eh?"
Itu adalah suara gadis. Dan suara itu berasal dari atas naga.
"Rhubya, kenapa kau mendarat tiba tiba? Hentikan kebiasaan burukmu itu atau kau tak kuberi makan seminggu."
Tapi Rhubya mengacuhkan Yui dan justru mendekatkan kepalanya ke arah wajah Laila.
"........"
Laila terdiam dan tak bergerak. Dia takut jika bergerak, naga itu akan langsung menyerangnya.
Tapi dugaan Laila salah saat menyadari Rhubya hanya mengendus dirinya, setelah beberapa saat, Rhubya menjilati pipi Laila seperti anjing.
"?! Kau, siapa kau!"
Yui berteriak, lalu melompat turun dan mendekat ke arah Laila. Yui heran kenapa Rhubya bisa akrab dengan orang asing.
"Huh?"
Laila merasa jijik karena air liur Rhubya, namun dia tak punya waktu memikirkan itu saat melihat gadis yang lebih pendek dan muda mendekatinya.
Gadis berpakaian sedikit terbuka dan lebih mirip sebuah pelindung berbahan kulit. Membawa dua belati di belakang pinggangnya dan memakai sepatu boots.
Gadis berambut pendek dengan gaya ponytail dan bermata merah itu menatap tajam ke arah Laila.
Laila tahu gadis itu kuat dan berpengalaman bertarung dengan hanya sekali lihat.
"Aku bertanya apa hubunganmu dengan kak Kuro? Apa kau tuli?"
"Apa maksudmu? Dan dari mana kau tahu aku punya hubungan dengannya?"
"Tentu saja dari bau kak Kuro yang begitu kuat darimu. Rhubya pasti mencium bau dia, karena itulah dia mendarat di sini. Hmm tunggu sebentar... Rambut pirang mata merah ruby."
"?!"
Laila dikejutkan oleh gerakan gadis itu yang begitu cepat. Disaat dia sadar, sebuah belati sudah menempel di lehernya.
Laila tak bisa bergerak. Ini baru pertama kalinya dia melihat gerakan secepat itu, tidak, dia sudah sering melihatnya.
(Dia sama seperti Kuro.)
Menyadari itu, Laila bisa menebak kalau kemungkinan besar dia adalah salah satu dari 269 gadis, tapi tampaknya hubungan dia dengan Kuro lebih dari itu.
"Jadi kau pacar kak Kuro kah? Mengecewakan sekali. Kau tak pantas menjadi pacarnya, apa kau tahu itu?"
Tidak pantas. Itulah yang ada dipikiran Yui saat menguji kekuatan Laila.
Mendengar itu, Laila menggertakkan giginya.
"Jangan meremehkanku!!"
Api muncul di celah tipis antara mereka berdua. Hal itu membuat Yui melompat mundur beberapa langkah.
Setelah itu, pedang merah membara muncul di tangan Laila.
"Hari ini aku sedang kesal dengan perlakuan si bodoh itu. Dan sekarang aku harus berurusan dengan gadis aneh. Jangan membuatku bertambah kesal!"
Puluhan bola api muncul di sekitar Laila. Tak hanya bola api, puluhan Scarflare juga muncul.
Laila benar benar sedang marah. Dia mengeluarkan tekanan yang luar biasa sebagai penyihir peringkat S. Hal ini membuat banyak murid yang datang menonton dari jauh, tapi Yui dan Laila mengabaikan mereka semua.
"Rhubya, jangan membantuku!"
Yui menatap tajam ke arah Laila. Disaat yang sama, dia mengambil belati lainnya.
Laila juga mengambil Scarflare yang melayang dengan tangan kirinya.
"Hoo... lumayan juga. Begitulah seharusnya seorang peringkat S."
"Siapa kau sebenarnya? Dan apa hubunganmu dengan Kuro? Mungkinkah kau orang yang pernah ditolak Kuro? Huh.. menye-"
"Tidak. Aku bukan sepertimu."
"........"
"Namaku adalah Yuina Yuuki. Aku adalah tunangan kak Kuro."
"?!"
Mata Laila terbuka lebar. Tak hanya itu, Alva dan Alvi yang melihat juga terkejut saat mendengar pengakuan dari gadis bernama Yui.
Apakah gadis itu berkata jujur?
Laila tak tahu, tapi dia semakin merasakan amarah dalam dirinya.
"Ya. Aku adalah tunangan kak Kuro. Jadi kuminta kau untuk segera mengakhiri hubungan palsu dengannya. Apa kau tak tahu malu telah merebut tunangan orang lain?"
"........"
Sekarang apa yang harus dia lakukan?
Laila tak tahu harus berbuat apa setelah mendengar gadis yang mengaku sebagai tunangan Kuro. Tapi dia menyadari, jika yang dikatakan gadis itu benar, maka dia adalah seseorang yang merebut tunangan orang lain.
Tapi kenapa dia merasakan sakit yang begitu menusuk?
Dia bahkan merasakan sakit berkali kali lipat daripada saat mendengar Alva, Alvi, dan Fila.
(Kenapa?)
Kenapa dia harus merasakan sesuatu yang tidak dia mengerti dan menyakitkan?
"Haa...aaa. Aku tak mengerti.."
"?!"
Mata Yui terbuka lebar saat melihat ratusan pedang muncul di belakang Laila. Tak hanya pedang, bola api juga semakin bertambah banyak.
Melihat itu, murid yang menonton langsung terlihat panik dan banyak yang pergi dari tempat itu. Mereka semua tahu itu adalah salah satu sacred agic art milik Laila. Magic art itulah yang mengalahkan 3 murid kelas 3 dalam waktu kurang dari satu menit.
Tak hanya murid, Rhubya juga bergerak untuk melindungi Yui, tapi Yui memberikan tanda agar tak perlu membantu.
"Jangan kuatir Rhubya, ini bukan seberapa."
Yui tersenyum tipis senang. Dia tak mau ketinggalan dan menaikkan tekanan sihirnya.
Aura biru terpancar dari Yui, tapi tak sekuat Laila karena peringkat Yui lebih rendah, namun setelah beberapa saat, aura putih muncul dan bergabung dengan aura biru Yui.
Setelah bergabung, tekanan sihir Yui bertambah kuat, bahkan sebanding dengan Laila. Tidak, bahkan lebih kuat.
"............Fu fu.."
Yui tersenyum senang. Disaat itulah kedua belati Yui dipenuhi cahaya putih yang memanjang seperti pisau. Tak hanya itu, Yui juga memasang kuda kudanya dengan kuat.
Laila dan Yui sudah bersiap bertarung, tapi disaat itulah-
"Apa kalian tahu bertarung di luar arena duel dilarang oleh sekolah."
"?!" "kak Kuro!"
Ya, itu adalah Kuro. Dia berada tak jauh dari mereka. Yang lebih mengejutkan, dia sedang makan makanan ringan.
"Yui, aku tahu dengan teknik itu kau dapat menang dari Laila, tapi bukankah sudah kubilang untuk tak sembarangan menggunakan teknik itu. Apa kau berniat membunuh Laila?"
Tekanan sihir Yui langsung lenyap. Yui juga langsung menyarungkan belatinya.
"Aha.. ha... Kenapa kak Kuro berpikir seper- Ugg.."
Saat melihat tatapan Kuro yang begitu tajam. Dia tahu itu adalah pertanda Kuro sedang marah. Marah besar.
Sementara itu, Laila hanya terdiam dan tak bergerak. Bahkan dia tak menghilangkan sacred magic art miliknya.
"Aku tak mengerti...."
__ADS_1
Hanya satu kalimat itu yang terucap dari bibir Laila. Dia juga terlihat kosong.
"Laila, jika kau ingin tidur lagi bersamaku, kau tak per-"
"Diam kau!!"
"Huh? Kau pasti bercanda!!"
Kuro langsung berlari dengan kekuatan penuh. Hal itu karena Laila kini mengarahkan sacred magic art kepada dirinya.
Ratusan pedang melesat bersama bola api mengarah dan mengejar Kuro bagai peluru kendali.
Boommm... Kabooomm...
Puluhan ledakan terjadi di sekolah. Pedang pedang menancap di berbagai tempat dan membakar semua benda.
"Kakak kenapa kau memiliki pacar pemarah seperti dia?"
Rhubya dan Yui menatap satu sama lain dan tersenyum pahit.
Mereka berdua sudah sering melihat Kuro dekat dengan seorang gadis, tapi Laila merupakan gadis paling sadis yang pernah mereka lihat.
----
--
"Kakak, silahkan dimakan. Aku membelinya saat dalam perjalanan kemari."
Kuro membuka kotak yang diberikan Yui kepadanya. Kotak itu berisi kue coklat dari toko terkenal dan merupakan salah satu toko langganan Kuro.
"Ohhh.. aku senang kau membelikanku. Tapi jika kau datang, kenapa tak memberi tahuku sebelumnya?"
"Aku ingin memberi kejutan He he.."
"Ya, aku memang terkejut. Kau datang dan membuatku hampir terbunuh. Benarkan Laila?"
"..Hhmmph... "
Kuro melirik ke arah Laila yang duduk berseberangan dengannya.
Mereka bertiga saat ini berada di kantin sekolah, dan tak ada murid lain duduk di sekitar mereka. Mereka semua tahu karena saat ini perang hampir terjadi, tidak, perang sudah terjadi. Buktinya adalah 2 bangunan sekolah hancur akibat salah satu penyihir peringkat S mengamuk.
Dan dia masih terlihat menyeramkan. Tidak. Sekarang lebih menyeramkan daripada sebelumnya.
Laila sekarang bagaikan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Karena itulah banyak yang duduk di tempat yang cukup jauh. Tentu mereka tidak makan siang, melainkan menguping pembicaraan.
Pacar VS tunangan. Siapa yang akan menang? Ini juga menjadi berita hangat di sekolah.
"Kakak jangan pedulikan gadis menyeramkan itu!"
Yui semakin lengket dengan Kuro. Dia bahkan memeluk erat lengan Kuro.
".................."
Laila hanya terdiam melihat itu.
"Memang kita tak bertemu beberapa bulan, tapi jangan melakukan di depan banyak orang!"
"Apa maksudmu?"
Ucap Yui dengan tatapan polos.
Kuro melirik ke arah sekitar kantin. Semua orang meliriknya dengan tatapan membunuh yang sangat kuat.
Tentu saja mereka seperti itu. Mereka adalah GSPFL, tapi ada dua aura membunuh yang lebih kuat dari semuanya yang berasal dari Alva dan Alvi. Mereka bahkan membekukan area sekitar mereka.
"Lupakan. Aku sedang tak ingin memulai perang lagi."
"Um?"
"Yang lebih penting, kenapa kau cemburu sampai seperti itu? Atau kau sedang datang bulan?"
"Kakak.. itu pertanyaan yang seharusnya tak kau tanyakan kepada seorang gadis."
"...................."
Laila masih terdiam. Dia terus terdiam dan tak bergerak. Tapi aura membunuh benar benar terasa dari Laila.
Bagi Kuro yang sensitif terhadap perubahan aura dan suasana, dia paham kalau Laila sedang marah, tapi dia tak tahu apa alasan Laila marah. Hal ini wajar mengingat dia baru saja datang setelah mengantar Riana.
"Laila, kenapa kau marah? Ini tak seperti dirimu saja?"
"Bukan apa apa. Kenapa kau tak bertanya kepada tunanganmu!!"
"Tunangan?"
Kuro perlahan melirik ke arah Yui yang juga menatapnya dengan tatapan manis dan polos.
"Ah..Begitu rupanya."
Kuro sekarang paham apa yang terjadi. Semua ini salah Yui.
"Yui..... "
"Ya. "
"Sudah kubilang berkali kali agar tak mengatakan kalau aku ini tunanganmu. Sudah berapa kali hal ini terjadi? Apa kau ingin aku cepat mati muda?"
"Maaf maaf maaf maaf maaf.. maaf .. maaf.. Kakak.. Maafkan akuuu!!"
Kuro mencengkeram tubuh Yui dengan sekuat tenaga. Tak hanya itu, Kuro juga sedikit menempeleng Yui.
"Maaf, maaf.. maaf aku tak akan mengulanginya lagi! Maafkan aku."
Yui bahkan sampai menangis. Sekilas kuro saat ini seperti ayah yang mengajar anak nakal.
Kuro mendesah dalam lalu melepaskan Yui. Bagaimanapun juga dia tak bisa melukai Yui.
"?"
"Kakak?"
Laila akhirnya merasa aneh dengan panggilan itu. Itu adalah panggilan terhadap saudara, bukan kekasih.
Yang menjadi masalah, kenapa dia tak menyadari ini sebelumnya?
"Ahh... kau baru sadar. Yui adalah adikku, bukan tunanganku."
"Eh?"
Laila terkejut, disaat yang sama hawa membunuh langsung menghilang. Tak hanya dari Laila, semua hawa membunuh yang ada di kantin juga menghilang.
"Apa kau marah karena cemburu kepada Yui?"
"Te-tentu saja tidak. Kenapa aku harus cemburu? Ha ha ha. "
Laila tertawa kering sambil menoleh ke arah lain. Dia tak berani menatap Kuro. Wajahnya juga memerah karena malu.
"Meskipun aku adik kak Kuro, namun aku juga tunangan kak Kuro. Kami memang bersaudara, tapi kami bukan saudara kandung. Apa kau mengerti?"
"................................huh?"
Kuropun merasakan hawa membunuh muncul lagi, bahkan kali ini lebih kuat daripada yang sebelumnya.
"Hehh..... Begitu rupanya. Ternyata kau juga soscon, Ku-ro......"
"Tidak.. tidak.. tidak... kenapa kau menyeramkan sekali. Apa ada iblis yang merasukimu? Aku akan memanggil Riana agar bisa membersihkanmu dari iblis."
Kuro dengan cepat mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol untuk menghubungi Riana.
Kraaakkk.. Kraaak... Kraaaakkk...
Suara retakan terdengar. Suara itu berasal dari tangan dan jari jari Laila.
"Hooo... kau baru menghilang beberapa jam, tapi sudah mendapatkan nomor telepon Riana? Kau beruntung sekali... Kuro...."
"....................."
Kuro menelan ludahnya saat menyadari telah menggali lubang kuburannya sendiri. Tak hanya itu, dia juga menyiram api dengan minyak.
"Ka...Kak....."
Kuro menoleh ke arah Yui saat merasakan hawa membunuh yang lebih kuat.
"Bisakah kau beritahu, siapa yang dimaksud Riana oleh kak Laila?"
"Huh? Sejak kapan kau seakrab itu dengan Laila? Aku tahu kalian mar-?!"
Kuro dikejutkan oleh anak panah yang hampir mengenai kepalanya dan menancap di meja. Udara dingin juga terasa dari anak panah itu.
Kuro tahu anak panah itu.
Dia melirik ke arah Alvi yang memegang busurnya, Alvairz.
"Sial, aku meleset!!"
"Jangan kawatir. Kau akan mengenainya, Alvi."
"Unn..."
Masalah baru muncul. Kuro menyadari kini hidupnya dalam bahaya.
"Aku sekarang mengerti bagaimana suasana saat perang sungguhan."
Kuro mendesah dalam. Disaat yang sama, banyak magic beast yang muncul di sekitar meja Kuro dan mengepungnya.
Sekarang kantin benar benar ramai. Tentu mereka tak sedang makan.
(Baiklah, aku akan mati...)
Semua orang sekarang bersatu untuk menghakimi Kuro. Bagi GSPFL, ini adalah cara mereka agar Laila tak bersedih lagi. Mereka juga tak terima Kuro mempermainkan Laila.
Atau..
Mereka hanya iri dengan keberuntungan Kuro.
Merasa terdesak, dia tak punya pilihan lain.
"Yui! Kenapa kau justru ikut ikutan?"
"Apapun yang kakak katakan aku tak peduli sebelum kau menjelaskan siapa Riana. Selain itu, aku mencium bau gadis itu sangat kuat dari tubuhmu. Tak hanya itu, bahkan dari bibirmu aku juga mencium bau yang sama."
"Indra penciumanmu itu kadang lebih berbahaya dari belatimu, Yui."
"Yui. Apa kau yakin tidak salah?"
"Ya. Aku mempunyai penciuman yang tajam seperti Rhubya, jadi aku tak mungkin salah."
"Hooo...."
Laila dan Yui sekarang memegang senjata mereka masing masing. Mereka juga mengepung Kuro.
Tapi tak hanya Laila dan Yui, Alva dan Alvi juga mengepungnya. Di barisan kedua, magic beast dan anggota GSPFL ikut mengepung Kuro.
Sekarang dia benar benar terkepung.
"(Hallo, Kuro... ada apa kau menghubungiku?)"
"Sial!"
Dia lupa sedang menghubungi Riana.
(Kenapa kau menganggkatnya, Putri bodoh!)
__ADS_1
"(Kuro? Kau tahu aku adalah orang sibuk. Aku tak punya waktu bicara denganmu, jadi cepat katakan apa maumu!)"
"Mengenai itu-..."
"Berikan itu padaku!"
Laila tiba tiba merebut ponsel Kuro.
Kuro tak bisa berbuat banyak mengingat situasinya saat ini.
"Riana. Ini aku Laila."
"(Laila? ......Bukankah ini nomor Kuro?)"
"Ya.. Ceritanya panjang, tapi bisa kau beritahu aku kenapa kau bisa kenal dan tahu nomor Kuro, aku belum mengenalkan kaliankan?"
"(Hmm... tapi apa Kuro keberatan jika aku menceritakan semuanya.)"
Kuro langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Dia mengangguk. Dia sebenarnya sedang bercerita kenapa bisa kenal kau kepadaku. Kau tahu dia tak bisa berbohong kepadaku. Benarkan Kuro, tidak Honey?"
Kali ini, Kuro mengangguk.
"(Jika seperti itu, maka akan kuceritakan semuanya. Aku mempunyai nomor Kuro karena aku berhak tahu nomor orang yang mencuri ciuman pertamaku. Itu saja.)"
"................................................."
Keheningan langsung terjadi di seluruh kantin.
Sebagai tambahan, panggilan itu memakai loudspeaker, jadi semua orang tahu apa yang diucapkan Riana.
"(Laila?)"
"........Terima kasih, Riana. Sekarang kami tak ragu membunuh dia."
"(Kami? Membunuh? Laila.. jangan bil---)"
Sambungan terputus karena Laila menghancurkan ponsel Kuro dengan cengkramannya.
Sekarang Laila mirip Kuro saat menghancurkan ponsel karena marah.
"Ug..."
Satu hal yang Kuro ketahui, bukan hanya Laila yang dirasuki iblis, namun semua orang yang berada di kantin juga dirasuki iblis.
Satu hal yang membuat Kuro heran, kenapa guru tak ada yang mencoba melerai atau memperingatkan mereka?
"Sekarang apa kau mau katakan, Honey? Kau tak berpikir untuk kabur kan?"
"Tidak. Aku tak akan membela diri atau kabur karena semua itu benar. ..........Tapi aku hanya akan menghilang."
""""""?!""""""
Mereka semua terkejut saat sosok Kuro tiba tiba lenyap bagai tertelan bumi.
Semua orang melirik ke berbagai arah untuk mencari Kuro, tapi mereka tak menemukannya.
Hal ini cukup mengejutkan mengingat Kuro bukan seorang penyihir, jadi dia tak bisa menghilang begitu saja. Mereka sadar kalau Kuro memakai benda sihir untuk membuat dirinya tak terlihat.
Sniff.. Sniff..
Yui mencoba mencium aroma Kuro di udara. Disaat seperti inilah kemampuan Yui berguna.
Jika Yui punya hidung yang mampu tahu keberadaan Kuro, Laila punya radar Kuro. Mereka cukup mirip.
"Yui, bagaimana?"
"Aku masih mencium bau kak Kuro. Dengan kata lain dia masih berada di kantin dan dia sedang tak bergerak."
"Begitu rupanya, jika terlalu bergerak banyak lonceng di pedangnya akan berbunyi. Dia cerdas juga."
"Tidak. Yang kumaksud tidak bergerak karena dia sedang makan kue coklat yang kuberikan tadi?"
"Huh?"
Laila mengerti setelah menyadari kalau kotak kue juga menghilang.
"Dia masih memikirkan makan di situasi seperti ini? Ya ampun, tapi begitulah Kuro."
"Unn."
Alva dan Alvi juga tak mau ketinggalan.
"Kalian tahu, kue yang kubeli adalah kue paling terkenal di kekaisaran dan dijual terbatas. Jadi kurasa kakak tak mau menyia-nyiakannya saja."
"Baiklah.. Dia bodoh!"
"Aku setuju."
"Unn."
Mereka benar benar kompak dalam situasi seperti ini. Ini wajar mengingat mereka sedang bersatu menghajar Kuro.
Mereka semua menyadari kalau Riana yang dihubungi Kuro adalah putri ketiga kekaisaran Houou. Mereka sekarang mendapatkan saingan yang lebih kuat dan tak tertandingi.
Dan yang lebih parah, Kuro hanya perlu beberapa jam untuk mendapatkan ciuman pertama Riana.
Mereka tak bisa membiarkan hal ini terjadi. Mereka tahu Kuro cepat menarik perhatian gadis, tapi merayu putri kaisar sudah termasuk berlebihan.
"Apa ada yang punya sihir untuk menemukan Kuro?"
Laila bertanya kepada semua orang di sekitarnya, tapi dia tak mendengar ada yang mampu menggunakan sihir tipe pelacak.
Ini mudah jika Kuro adalah penyihir, mereka bisa merasakan pancaran 'mana' dari tubuhnya. Peringkat F memang merepotkan jika di situasi seperti ini.
"Kakak sebenarnya dekat. Dia hanya tak terlihat seperti bunglon."
Yui menjelaskan kondisi Kuro.
"Alvi, kenapa tak gunakan 'itu'?"
"Itu? Ahh... Kak Alva benar benar pintar."
"?"
Alvi langsung mengarahkan busurnya ke atas. Dia menarik busur hingga maksimal. Anak panah putih bercahaya muncul dan mengarah tepat ke atap kantin.
"Menyebarlah, Alvairz!!"
Anak panah melesat ke atas dengan kecepatan tinggi, tapi sebelum tepat mengenai atap, anak panah menghilang.
Setelah itu, partikel kecil berjatuhan dan menyebar ke seluruh kantin bagai debu.
"Apa ini?"
Laila bertanya saat melihat partikel kecil mendarat di telapak tangannya. Dia dapat merasakan hawa dingin es.
"Itu adalah Ice Dust, tapi kekuatan sudah diminimalkan sekecil mungkin. Sebenarnya ini adalah sihir yang mampu membekukan secara perlahan, tapi Alvi dapat menggunakannya untuk menemukan Kuro. Debu es akan menyebar ke berbagai sudut terkecil, Alvi akan mampu menemukan Kuro jika salah satu debu saja menempel di tubuhnya."
"Hal ini karena kakak hanya tak terlihat, jadi jika debu menempel di udara, maka kita bisa mengetahui lokasi dia, Hmmm... bukan ide yang buruk."
"Kau benar, Yui. Karena itulah Alvi membutuhkan banyak konsentrasi saat ini."
Alva melirik Alvi yang memejamkan matanya karena berkonsentrasi.
Sementara itu banyak yang senang melihat debu es yang sangat indah.
"Tapi Ice Dust merupakan sihir salah satu Paladin, Ice Quuen. Aku bisa menebak kakak yang mengajari kalian."
"Ya. Kau benar Yui. Kuro yang memberikan teori magic art. Lalu Alvi menguasainya setelah beberapa hari berlatih. Kuro bilang Alvi pasti bisa menguasainya karena Ice Queen juga menggunakan panah."
"Dan sekarang sihir ini digunakan untuk menemukan Kuro. Aku terkejut dia bisa mengajari teknik sekuat itu, tapi-"
"Ini bisa dibilang senjata makan tuan, benarkan?"
Laila dan Yui mengangguk oleh perkataan Alva.
"Ahh... Aku menemukannya."
Seluruh mata kini menatap Alvi. Mereka tak sabar Alvi mengatakan dimana lokasi Kuro.
Ada yang sudah bersiap dengan senjata mereka. Ada juga yang sudah meningkatkan tekanan mereka. Sekarang kantin menjadi medan perang.
"Dimana, Alvi?"
"Disana!"
Alvi menujuk tempat yang digunakan Kuro bersembunyi.
"...................Serius?"
"Dia benar benar bodoh!'
"Tidak. Kitalah yang bodoh karena tak menyadarinya."
"Dengan kata lain, kita semua dibodohi Kuro?"
"......................................"
Kemarahan sekali lagi terlihat di wajah semua orang. Mereka sekarang merasa dipermainkan Kuro.
Jadi dimana Kuro bersembunyi?
Laila memotong meja makan yang berada di dekat mereka. Setelah terpotong, semua orang dapat melihat Ice Dust yang membentuk sosok manusia.
Dan sosok itu bergerak mundur menjauh, tapi sosok itu dihadang oleh puluhan orang yang bersiap menghajarnya.
"Itu kan?"
Di dekat sosok itu, ada sebuah benda bersinar.
Dengan cepat Alvi memanah cahaya itu, dan suara retakan dapat terdengar.
Cahaya langsung bersinar dengan terang. Setelah cahaya menghilang, mereka semua dapat melihat sosok Kuro. Ditambah kotak kue yang berisi hanya satu potong kue.
Mereka semua langsung mengarahkan semua senjata ke leher Kuro.
Kuro pucat pasi dan berkeringat dingin. Dan dia tak bisa kabur.
"Honey, apa kau punya kata terakhir?"
"Apa kau mau kue?"
"Ghh!"
Laila hanya bisa bertambah jengkel saat mendengar kata terakhir Kuro. Kuro tak minta maaf, bahkan dia tak merasa menyesal.
"Hajar dia!!!'
""""""Ooooooooouuuooooii!!"""""""
Dan perangpun terjadi di kantin sekolah. Ini adalah kejadian heboh lainnya yang terjadi di sekolah ini dalam satu hari.
"Hmmm..... Apa yang terjadi disini?"
"Pasti si ranking F itu membuat ulah lagi."
"Ini sudah sering terjadi, tuan Charl"
Di pintu masuk kantin, Charl dan dua anak buahnya melihat kekacauan di tengah kantin.
Ledakan, petir, es, angin dan masih banyak lagi bermunculan di tengah peperangan.
__ADS_1
"Peringkat F kah? Menarik juga."
Sebuah senyuman muncul di bibir Charl. Dia belum pernah melihat Kuro dan hanya mendengar berita tentang Kuro. Jadi dia cukup penasaran dengan siapa yang membuat Laila menolak permintaannya.