
Hari hari normal kembali ke kota Areshia. Begitupula dengan keseharian di Kuryuu Academy terutama di kelas 1-2.
Atau mungkin juga tidak.
"Fuu..aa... hhh... baiklah. Kita bahas hal yang cukup penting, yah bisa juga tidak he he he."
Otome mengajar seperti boneka rusak.
Wajahnya pucat pasi dan matanya hitam seperti tidak tidur berhari hari. Dia sekarang mirip zombie yang mengajar.
Pemandangan ini cukup menakutkan bagi sebagian murid muridnya.
"... 13 hari lagi akan terjadi fenomena alam langka yang terjadi dalam kurun waktu 200 tahun sekali fufu.... Seperti yang bisa kalian baca di buku kalian, fenomena itu adalah Blood Ringmoon atau bisa juga disebut cincin bulan darah. Buka lembaran selanjutnya untuk lebih jelas. Untuk sekarang... aku ingin ..."
Otome berjalan ke mejanya dan akhirnya tidur seperti bayi.
Tak ada yang peduli dengan Otome maupun mata pelajaran yang dia berikan mengenai fenomena alam. Alasan semua itu adalah-
"Kuro kau tahu kenapa Blood Ringmoon begitu spesial nyan...?"
"Blood Ringmoon tak hanya merupakan fenomena alam yang indah, tapi juga terjadi beberapa menit dalam 200 tahun sekali. Tak ada yang ingin melewatkan hal itu. Kurasa pelajaran ini sedikit tak berguna karena semua orang tahu hal itu."
Laila menunjukkan wajah tak senang setelah mendengar jawaban Kuro yang lebih fokus ke logika.
Blood Ringmoon merupakan fenomena yang terjadi saat dua bulan menyatu dalam satu garis. Karena masing masing bulan memiliki ukuran yang berbeda, maka cahaya yang dihasilkan akan membentuk sebuah cincin sempurna yang terbuat dari cahaya.
Tapi satu hal yang masih menjadi misteri saat ini adalah cahaya yang dipancarkan berubah menjadi merah darah.
"Buuu.. bukan itu yang kumaksud. Bukankah romantis jika kita berkencan di malam yang indah itu... nya nya nya nya.. membayangkannya saja sudah membuatku tak sabar nya.."
Ekor Laila bergerak tanda dia antusias.
"Hmm... baiklah. Aku rasa aku menemukan tempat yang cocok jika ingin berduaan. Kita memang harus bersantai kapan kapan."
"Aku semakin tak sabar.. nyaaa...n."
Lailapun memeluk Kuro dengan senangnya seperti anak kecil yang menanti hadiah.
Semua tahu mereka adalah sepasang kekasih yang bermesraan setiap hari di depan umum dan tak tahu tempat dan kapan melakukannnya, tapi bukan ini yang membuat mereka menjadi pusat perhatian di kelas hari ini.
Laila senang. Itu terlihat dari telinga dan ekor yang bergerak gerak dengan manis seperti kucing yang lucu.
Ya. Inilah alasan kenapa mereka menjadi pusat perhatian hari ini.
Untuk sebuah alasan, saat ini Laila mempunyai telinga dan ekor kucing. Tak ada yang tahu itu merupakan alat sihir atau benda semacamnya, tapi kedua benda itu bergerak seperti bagian tubuh Laila.
Dan yang lebih membuatnya menjadi pusat perhatian adalah pakaian Laila yang bukan seragam sekolah, tapi seragam maid (pelayan).
Maid dengan telinga dan ekor kucing. Yang mengenakan merupakan gadis tercantik di sekolah. Bagaimana mungkin mereka tak menjadi pusat perhatian?
"Nya...nnnn..."
Tambahan, sifat Laila juga berubah mirip seekor kucing.
Akting?
*******
****
**
Kembali ke beberapa jam setelah Laila bangun dari tidurnya.
Dia tidur dengan lelap sendirian karena Kuro sedang pergi ke suatu tempat yang Laila bahkan tak ketahui. Ini normal karena Kuro memang masih banyak menyimpan puluhan ton rahasia yang belum dia ungkap kepadanya.
Tapi Laila mencintai Kuro. Dia sudah menerima semua itu saat memutuskan untuk selalu di sisinya sebagai seorang kekasih.
Dia akan pergi, tapi dia akan selalu kembali ke sisinya.
Itulah yang selalu dia percayai dan Kuro tak pernah mengecewakannya sekalipun.
Paginya, Laila sudah menemukan Kuro di depannya. Kuro tertidur pulas. Laila memakluminya dengan senyuman kecil ditambah ciuman mesra di kening Kuro.
Kemudian Laila memindahkan lengan Kuro yang memeluk tubuhnya dan bangun menuju ke kamar mandi.
Dia harus bersekolah. Tentu dia akan membangunkan Kuro jika dia bangun terlalu siang.
"...."
Saat mandi dia teringat dengan saat Lic dan dirinya mandi bersama. Saat saat yang menyenangkan dan membahagiakan.
Kini dia tak bisa melakukannya lagi, tapi dia percaya hal itu tak akan lama lagi terjadi. Masa masa itu akan kembali.
".....tunggu kami.. Lic."
Dalam hatinya yang terdalam, dia masih belum bisa memaafkan mereka. Dia marah, tapi dia harus bisa mengendalikan amarahnya dan bersabar.
Setelah selesai, dia berjalan menuju ke tempat ganti baju tanpa sehelai benangpun atau handuk yang menutupi tubuhnya.
Dia dengan cepat mengeringkan tubuhnya dengan memanaskan air yang menempel. Dan kenapa dia tanpa ragu telanjang, tentu karena dia di dalam rumah bersama dengan seorang yang hampir setiap hari melihat tubuhnya. Kekasihnya.
"Huh?"
Tetapi saat dia membuka lemari tempat dia menyimpan baju, dia tak menemukan apapun kecuali sebuah pakaian yang jarang dia lihat.
Desain lucu dan manis. Dia merasa pernah melihat pakaian itu di suatu tempat.
Karena penasaran, diapun mencobanya.
Butuh waktu untuk memakainya tanpa bantuan orang lain, tapi saat melihat pantulan dirinya di cermin-
"Hm.... aku memang cocok memakai pakaian apapun. ...tapi kenapa Kuro membelikan pakaian seperti ini tanpa sepengetahuanku?"
Dia tahu Kuro tak akan melakukan suatu yang aneh. Tidak. Kuro selalu melakukan suatu yang aneh, tapi kenapa kostum maid? Dan ke mana pakaiannya yang lain?
"Nya?"
Laila terkejut dengan apa yang keluar dari mulutnya.
(Apa yang baru saja kukatakan?)
Dia kembali melihat ke cermin. Hal yang lebih mengejutkan telah terjadi.
Dia punya ekor dan telinga yang menyerupai telinga kucing.
Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?
Saat menanyakan itu, dia merasakan suatu yang menyeramkan di belakangnya.
Perlahan dia menoleh ke belakang dan yang dia temukan adalah-
Kuro yang tersenyum bagaikan iblis yang telah mendapatkan korban. Tentu korban dalam hal ini adalah Laila. Kekasihnya yang memakai pakaian maid kucing.
Setelah itu, yang diingat Laila hanyalah sebuah ekstasi yang bernama kenikmatan.
Atau mungkin lebih tepat jika disebut serangan dari kekasihnya yang sudah menjadi binatang buas.
*****
***
*
"Bukan, aku sedang tak bercosplay atau semacamnya."
"Lalu mungkinkah semacam permainan baru di antara kalian?" tanya Serriv.
"Tidak tidak. Kurasa ini adalah hobi Kuro yang baru. Hmm.. tapi aku lebih penasaran darimana Kuro mendapatkan pakaian seperti itu?"
"Aku juga penasaran dengan itu, kak Alva."
Laila pun hanya bisa tertawa pahit dengan pertanyaan dari gadis yang penasaran dengan dirinya.
(Bagaimana ini, mana mungkin aku mengatakan kalau Kuro membelikan pakaian ini untuk menghukumku karena aku mengacuhkannya beberapa hari ini?)
Laila tak punya pilihan. Pakaian yang dibuat khusus tak hanya membuat dirinya memiliki ekor dan telinga kucing, tapi pakaian yang dia pakai tak bisa lepas dan dirusak dengan mudah.
Seperti Alva dan Alvi, Laila juga penasaran darimana Kuro mendapatkannya.
Sementara Laila sedang mengobrol dengan lainnya, Kuro menjadi pusat perhatian lelaki di kelasnya.
Alasannya adalah-
"Kami tak peduli dengan hubunganmu dengan Demon King atau apalah. Tapi izinkah aku memanggilmu Master."
"Ya, benar. Bagaimana bisa kau memiliki ide untuk membuat Laila memakai pakaian seperti itu?"
"Kami masih belum menerima hubunganmu, tap- ah lupakan. Yang terpenting aku bisa melihat Laila memakai pakaian yang luar biasa. Dia tak hanya manis, manis sekali. Aku bahkan ingin membawanya pulang...kyaaa.."
Mereka semua adalah anggota GSPFL, singkatnya fan Laila.
Meskipun semua tahu Laila telah menjalin hubungan dengan Kuro, atau bahkan sudah akan menikah, tapi bukan berarti GSPFL akan menghilang.
Mereka tetap ada dan setia. Itulah bukti mereka fan Laila.
"Bisakah kalian tak menatapnya dengan tatapan aneh, jika kalian terus melakukannya, aku akan mencongkel mata kalian."
Kuro mengatakan dengan nada dingin dan serius, tapi-
"Maaf, itu salahmu sendiri kenapa kau memakaikan Laila seperti itu. Sebagai ketua GSPFL, aku mengatakan kami tak keberatan kau mencongkel mata kami asal kami bisa melihat Laila."
Knox mengatakan dengan nada santai seperti orang mesum.
Semua anggota yang lain tak ada yang mencoba membantah sebagai bukti mereka mempunyai satu jiwa yang sama dengan ketua mereka.
"Lagipula bukankah kau bisa menikmati pemandangan ini setiap hari di rumah kalian? Kenapa kau harus mencongkel mata kami hanya karena kami melihat sebentar?"
"Benar. Benar. Kenapa kau tak mau berbagi sedikit kepada kami, Dasar Kepa*at!!!"
"Kau bisa meremas dada Laila setiap hari. Itu suatu yang mustahil kami lakukan. Kenapa kau tak bisa berbagi kepada kami hanya sehari saja?"
"Benar benar...."
".........................."
Kuropun akhirnya hanya bisa mendesah dalam karena tak bisa menghadapi mereka semua.
(Aku lupa mereka orang mesum yang akan hilang kendali dengan segala hal yang berkaitan dengan Laila. Yah... aku juga salah satu dari mereka sih...)
Sebagai catatan, saat ini pelajaran masih berlanjut, tapi karena Otome sudah tertidur dengan pulas, tak ada yang peduli lagi dengan pelajaran.
"Nyaaa!!!"
"Ah.. maaf, aku kira kau tak merasakan apapun saat aku menyentuh ekormu. Bagaimanapun juga aku penasaran."
__ADS_1
"Jangan lakukan lagi, Serriv. Aku juga tak tahu, tapi aku bisa merasakan apa yang terjadi dengan ekor itu. Dan rasanya begitu aneh... Hm?"
".. baik baik."
Ekor Laila bergerak ke kiri dan ke kanan dengan perlahan. Tak ada yang tahu bagaimana ekor itu dibuat, tapi ekor dan telinga itu bagaikan asli.
"Tapi aku benar benar penasaran dari mana dia mendapatkan kostum seperti ini? Hmm.. "
"Ada apa?"
"Tidak. Aku hanya berpikir jika Kuro bisa mendapatkan kostum seperti ini dengan mudah, bukankah itu artinya Kuro bisa mendapatkan pakaian lain yang lebih menggoda dari ini? Misalnya apron b*gil dengan telinga anjing?"
"......eh?"
Mendengar itu, ruang kelas 1-2 terjadilah pertumpahan darah.
Bukan karena Kuro, tapi Knox dan anggota GSPFL lainnya mengalami mimisan yang luar biasa.
Mungkin sebenarnya Laila lebih berbahaya daripada Kuro?
*******
****
Jam pulang sekolah, Laila dan Kuro dipanggil ke ruang kepala sekolah.
Seperti biasa mereka bisa menemukan Electra yang terlihat seperti anak kecil yang bermain main, tapi hari ini tidak.
Keseriusan terlihat di matanya.
"...kalian pasti tahu betul apa yang kalian lakukan ini kan? Kalian mungkin terlibat dengan masalah yang tak kalian bayangkan, tapi apa kalian sudah be-"
"Kenapa kau seserius itu, Nenek?." Potong Kuro. "Kami hanya minta cuti sampai Triball diadakan. Tapi kenapa kau mempersulit kami? Jangan bercanda dengan kami, itu sama sekali bukan karaktermu."
Dokumen yang berada di meja Electra adalah dokumen yang berisi surat izin untuk cuti beberapa minggu. Mungkin bisa dikatakan hampir sebulan.
Cuti memang diperbolehkan dengan memenuhi beberapa syarat, tapi Electra tahu keduanya cuti bukan untuk bermain main.
Mereka akan menantang bahaya seperti sebelumnya.
Mereka memang kuat, tapi di mata Electra mereka masih terlalu dini untuk terlibat dengan panggung yang lebih besar.
"Kalianlah yang membuatku melakukannya. Apa kalian pikir aku tak tahu kalian ingin mendapatkan Lic kembali? Asal kalian tahu aku sudah mengerahkan semuanya, tapi aku masih belum menemukan satupun petunjuk. Kuro, aku tahu kau bukanlah orang yang gegabah, jadi aku tahu kau pasti sadar dengan informasi yang kita miliki saat ini ki-"
"Apa kau ingin kami menunggu lebih lama lagi? Aku pikir sudah cukup lama menunggu...." potong Kuro lagi.
"Ya. Kita berhadapan dengan musuh yang memanfaatkan Izriva. Jika kita ceroboh menghadapi masalah ini, masalah yang kita hadapi mungkin lebih besar daripada saat di Dragonia. Dan mungkin saja tak hanya negara kecil yang dipertaruhkan, tapi seluruh dunia ikut dipertaruhkan."
Selain musuh belum diketahui, mereka juga tahu betul apa yang mereka cari dan menyembunyikannya. Musuh dengan level seperti itu bukanlah musuh yang mudah.
"Mekipun begitu, kami tetap harus melakukannya."
Tak disangka, Laila mulai berbicara.
Tatapannya penuh dengan kesedihan, tapi di saat yang sama penuh dengan tekad yang membara.
"Di mata Anda mungkin Lic hanyalah sebuah spirit atau senjata yang berbahaya. Jika disalah gunakan dia akan membawa kehancuran, tapi jika digunakan dengan benar, maka dia akan membawa kemakmuran seperti di masa Maria. Tapi ...di mataku, mata kami, Lic adalah keluarga kami. Tak peduli dia spirit atau bukan, dia adalah keluarga kami. Apapun resikonya, kami akan tetap membawanya pulang."
Mendengar itu, Electra terdiam dengan senyuman masam.
"...apapun? Meskipun itu berarti aku mengeluarkan kalian?"
"Ya." Jawab Laila tanpa ragu. "Kami sudah membulatkan tekad kami untuk menemukan Lic. Tapi bukan berarti kami mengabaikan tanggung jawab kami, justru karena kami bertanggung jawab, maka kami harus menemukan Lic secepatnya dengan tangan kami sendiri meskipun itu berarti kami berhenti bersekolah."
Keheningan lalu terjadi.
Suasana begitu berat, tak ada yang bercanda dan mencoba mencairkan suasana. Tak yang mencoba melakukan itu karena memang tak perlu.
"Ha... sudahlah. Kita akhiri pembicaraan sia sia ini."
Kuro menunjukkan wajah bosan.
"Dengar, kami tak punya waktu untuk bermain denganmu. Kau tahu apa keputusan kami dan apa pilihan yang akan kami ambil, jadi berhentilah bermain main menjadi kepala sekolah yang bertanggung jawab."
"He he he he... padahal aku serius Kuro. Aku serius."
"Kami juga serius...."
Percikan muncul di antara keduanya.
Dan Laila tak tahu apakah ini pertengkaran yang serius atau tidak.
"Aku lebih serius Kuro. Kita masih belum tahu apa yang diinginkan mereka dengan menggunakan Izriva. Entah tujuan mereka untuk menghancurkan atau demi kedamaian dunia, tapi selama ada perbedaan dan tujuan yang ingin diraih, maka perang akan selalu terjadi. Dan kau tahu dalam peperangan mereka akan menggunakan semua yang bisa mereka dapat dan miliki."
"Huh.. Kenapa kau mengatakan hal sentimental seperti itu? Itu tak ada hubungannya dengan kami. Yang ingin kami lakukan hanyalah mendapatkan keluarga kami kembali. Aku sama sekali tak peduli dengan perdamaian dunia atau semacamnnya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku akan membuat siapapun menyesal karena telah membuat orang yang berharga bagiku menangis. Kematian saja tidaklah cukup bagi mereka."
Kuro menunjukkan tatapan penuh amarah. Dia menyeramkan.
Saat itulah Laila sadar meskipun Kuro terlihat tenang, mungkin dia menyimpan kemarahan yang lebih besar dari pada dirinya.
"Jadi ...apa keputusanmu?"
Mengizinkan mereka, atau melarang mereka?
"Lakukan sesuka kalian. Tapi ingat, aku ingin semua masalah ini selesai sebelum Triball diadakan. Bagaimanapun juga kalian tak boleh gugur atau mati sebelum memenangkan Battle War."
"Eh?"
"Baiklah. Itu lebih dari cukup."
Wajah Laila menunjukkan kalau saat ini dia sedang bingung. Bingung dengan maksud dari perkataan Electra.
(Kenapa Electra ingin sekali kami ingin bertarung di Battle War?)
Laila melirik Kuro.
Dia seharusnya sudah bisa menduga, mungkin kedatangan Kuro di sekolah ini bukanlah demi dirinya.
Seperti pertemuan mereka sebelumnya, pertemuan mereka di sekolah ini adalah kebetulan belaka.
(Itulah kenapa kau percaya dengan takdir, benarkan Shiro?)
Dalam hati Laila tersenyum, tapi hal itu tak bisa dia sembunyikan dari kekasihnya.
"..hm? Ada apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Tidak. Aku hanya senang kau ikut marah."
"Huh? Apa yang kau maksud?"
"Bukan apa apa. Tapi apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku setuju untuk meminta izin, tapi aku masih belum tahu apa dan bagaimana rencana kita untuk menemukan Lic?"
"Jangan kawatir, mengenai itu serahkan semuanya kepadaku. Kita masih belum terlambat, karena itulah untuk hari ini aku rasa sebaiknya kita berkencan saja seharian."
"Apa?"
Serius? Laila tak tahu apa yang dilakukan Kuro, tapi satu hal yang dia tahu-
Mungkin ini adalah kesempatan mereka untuk bisa berduaan untuk terakhir kalinya sebelum bisa menemukan Lic.
"Apa kau tak mau?"
Laila tersenyum kecil.
"Tidak. Aku tak bisa menolaknya. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"?"
"Bisakah aku tak memaka-"
"Apa kau punya masalah dengan pakaian itu?"
"Tidak. Aku sangat menyukai pakaian ini."
Kadang Kuro terlalu menyeramkan untuk ditangani Laila sendirian.
Kencan dengan memakai kostum maid kucing. Mungkin akan menjadi pengalaman memalukan yang tak akan pernah dia lupakan dalam hidupnya.
"Baguslah. Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian lain jika kau menyukainya."
"Ugh!!"
Atau ini hanyalah sebuah awal.
Merekapun akhirnya berkencan. Sudah lama mereka tak melakukannya. Meskipun hampir setiap hari mereka bersama, tapi berkencan tetaplah memberikan suatu kesenangan tersendiri.
Mereka berbelanja bersama dan melakukan banyak hal bersama. Mereka melakukan permainan yang dulu pernah mereka mainkan saat pertama kali berkencan di ibukota.
Hasilnya masih tetap Kuro menang telak. Laila sejak awal tahu itu, jadi dia tak terlalu terkejut, tapi jika dibandingkan dengan dahulu, keakuratan yang dia miliki juga semakin meningkat. Semua itu di buktikan dengan banyak permainan dengan nilai hampir sempurna.
Tapi dari semua itu, kencan mereka hari ini banyak menarik perhatian. Tentu semua itu berkat pakaian Laila.
Setelah puas bersenang senang, mentari senjapun tiba.
Mereka tak pulang dan beristirahat, tapi mereka pergi menuju hutan dekat kota Areshia.
Karena semakin larut, hutanpun semakin gelap gulita. Perlahan cahaya bulan mulai bersinar sehingga mereka masih bisa melihat jalan.
"Kuro kenapa kita kemari? Ugh.. kau tak berencana melakukannya di hutan ini kan?"
Laila melirik ke sekeliling dengan tatapan waspada.
Mereka bisa bercinta sepuasnya di rumah kecil mereka karena Kuro sudah memasang perisai dengan sebuah benda sihir, jadi mereka tak perlu kawatir akan diintip atau diganggu.
Tapi sekarang mereka di tengah hutan. Seseorang dapat mengintip perbuatan mereka.
"Jujur saja aku masih lelah, ta-tapi demi Kuro aku tak kebera-"
"Jangan bercanda. Kita tak punya waktu untuk melakukan hal itu."
"Huh?"
Laila terkejut dengan apa yang dia dengar dari mulut Kuro.
Kuro melirik ke berbagai sudut lalu tiba tiba menggendong Laila seperti tuan putri.
Kuropun melompat ke atas dan melayang di udara. Pemandangan kota di malam hari bisa terlihat. Itu pemandangan yang indah.
"Maaf, aku butuh waktu mempersiapkannya, tapi semuanya telah selesai. Saatnya kita merebut kembali keluarga kita."
Kuro menujukkan tatapan serius, tapi Laila masih belum mengerti apa yang dimaksud Kuro.
Saat itulah dia melihat sesuatu di udara. Itu seperti benda transparan yang berada di udara.
Kuro tanpa ragu menendang udara dan melewati benda itu.
__ADS_1
"Huh?"
Laila tak punya pilihan selain terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Hutan yang dulunya rindang dipenuhi pepohonan kini menghilang dan berganti dengan tanah gersang dalam radius 50 meter.
Tapi bukan itu yang mengejutkan Laila. Lingkaran sihir tergambar di tanah itu dengan kerumitan tingkat tinggi yang belum pernah Laila lihat sebelumnya.
"Kuro .....apa yang sebenarnya kau lakukan?"
Kuro hanya tersenyum kecil.
"Aku hanya mencoba menemukan Lic untukmu."
Merekapun mendarat tepat di pusat lingkaran sihir.
Saat Laila meletakkan kakinya di tanah, lingkaran sihir itu bercahaya seperti bereaksi dengan kehadiran Laila.
"Apa yang terjadi disini?"
Kuro kembali tersenyum dengan misterius.
Di saat itulah cahaya bersinar dari tangan Laila, tepatnya lonceng Laila.
"Kuro.. mungkinkah..."
Kuro mengangguk dengan pelan.
"Kau pasti tahu lonceng yang berada pedangku bukanlah lonceng biasa. Selain tak bisa dihancurkan, lonceng itu membuat kita bisa merasakan kehadiran satu sama lain meskipun kita terpisah jauh. Yah.. meskipun sebenarnya itu tak diperlukan."
Mereka akan selalu terhubung meskipun mereka terpisah di belahan dunia lain. Itulah ikatan yang mengikat mereka berdua.
"Aha ha..aku setuju."
"Asal kau tahu, sihir yang berada di lonceng itu adalah sihir kuno yang mungkin sekarang sudah hilang."
"Sihir kuno? Bolehkah aku tahu dari mana kau mengetahui sihir semacam itu? Dan bukankah kau tak bisa menggunakan sihir?"
Kebiasaan buruk Laila muncul lagi.
"Aku memang tak bisa menggunakan sihir secara langsung, tapi sihir bukanlah suatu yang harus digunakan dengan cara langsung, misal sihir kuno. Yah meskipun aku butuh beberapa trik untuk melakukannya, tapi aku tak pernah mengatakan aku tak bisa melakukannya. Tidak. Kurasa semua orang bisa melakukannya jika mereka tahu caranya."
"......"
Laila menatap Kuro dengan tatapan dingin dengan penuh ketidakpercayaan.
Tapi perkataan Kuro bukanlah hal yang mustahil.
Perbedan sihur kuno dengan sihir biasa adalah proses yang memakan waktu lama daripada sihir biasa. Sihir itu juga membutuhkan benda sihir sebagai perantara dan pelengkap.
Benda sihir teleportasi adalah salah satu contoh paling mudah.
"Aha ha.. mengenai sihir kuno, aku mengetahuinya dari grimoire yang pernah kubaca. Yah.. yang terpenting kita bisa menemukan Lic karena dia juga menyatu dengan loncengku. Itulah kesalahan terbesar mereka."
Siapapun tahu Kuro berbohong.
"Lalu sihir ini?"
"Ini hanyalah ritual yang menguatkan sihir di lonceng itu, tapi untuk bisa mengetahui lokasi secara akurat, ikatanmu dengannya diperlukan."
"?"
"Mudahnya semakin kuat ikatanmu dengan Lic, maka kau akan bisa menemukan dia dimana pun dia berada. Tak peduli dia dilindungi oleh penghalang terkuat di dunia tak ada yang bisa menghalangimu. ....Jadi kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?"
Laila mengangguk pelan.
Dia menunjukkan tekad yang kuat dan amarah yang tersembunyi. Tapi dia tahu, jika ingin menemukan Lic, dia tak bisa menggunakan amarahnya, tapi cinta yang membuat ikatannya dengan Lic.
Perlahan, Laila bisa merasakan aliran mana aneh mengalir di seluruh tubuhnya yang berasal dari lonceng di gelangnya.
Tubuh Laila perlahan melayang. Laila perlahan menyatu dengan ritual sihir yang dilakukan mereka.
"...."
Kuro lalu memulai perannya.
Dia melompat ke salah satu sudut yang mempunyai simbol sihir yang lebih rumit.
Kuro memotong ujung jarinya dengan pisau ki dan membiarkan darahnya menetes.
Lingkaran sihir kembali bercahaya dengan terang, lebih terang. Seketika aliran mana semakin kuat terpancar bahkan sampai terasa dari kota Areshia.
Di saat yang sama, dalam bayangannya, Laila bagaikan melihat kilatan kecil yang menjalar ke seluruh penjuru dengan kecepatan cahaya. Kilatan itu seperti petir yang mencari targetnya.
"...Lic... aku akan menemukanmu..."
Laila mengingat kembali saat pertemuan mereka. Hari hari yang dilalui bersama. Kesedihan dan kesenangan saat bersama menyatu menjadi sumber kekuatan untuk menemukan Lic.
Dan akhirnya dia perlahan menemukannya, tapi dia masih belum menemukan lokasi secara tepat karena terhalang oleh sesuatu.
"Lagi..."
Dia kembali membayangkan semua ikatannya dengan Lic. Senyumannya, canda tawanya, tangisannya, saat menanyakan hal aneh yang berkaitan dengan Kuro dan dirinya.
Perlahan dia bisa menemukannya lagi. Tapi dia selalu menjauh seolah terpental dan ditolak.
Tak menyerah. Laila mencoba lagi dan lagi. Tapi dia selalu ditolak oleh sesuatu.
"kh..."
Laila sadar dia mulai kehabisan waktu dan mana. Karena dia selalu ditolak, maka dia melakukan sesuatu sebelum dia tak bisa menemukan Lic selamanya.
".....tempat itu.."
Bersamaan dengan itu, ritual sihirpun berakhir. Bukan karena mereka telah menemukan apa yang mereka cari, tapi ritual sihir itu telah terhenti secara tiba tiba.
Dan orang yang telah menghentikan itu adalah...
"Ha.. aku sungguh ceroboh karena membiarkan muridku melakukan ritual berbahaya. Syukurlah aku datang sebelum terlambat."
Yang melakukannya tentu saja Otome.
"......"
"......"
Keduanya memikirkan hal yang sama.
(Dasar perawan tua sialan.)
(Dasar perawan tua sialan.)
Keduanya memunculkann aura yang berbahaya dan mendekati Otome yang terengah engah.
"Huh? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
""Bukan apa apa..""
Otome mendapatkan firasat buruk. Sayang sekali itulah yang terakhir dia ingat.
Keesokan paginya, keduanya bersiap siap pergi. Kali ini mereka tak menunggangi Laiko, tapi menggunakan sihir teleportasi yang berada di bawah tanah sekolah.
Tempat itu biasanya digunakan untuk orang penting saja, tapi mereka mendapatkan perlakuan khusus karena tempat yang mereka tuju sedikit spesial.
"Jika kalian benar, masalah yang kita hadapi mungkin lebih besar daripada yang kukira."
Electra mengantar mereka. Keberadaan Electra juga karena hanya dia yang bisa mengaktifkan sihir teleportasi.
"Aku akan segera menyusul kalian. Aku perlu melaporkan apa yang kalian temukan kepada kaisar. Selain itu mungkin kekuatan kami akan diperlukan. Pertarungan kali ini tak akan hanya melibatkan kalian. Ingat itu."
"Kami tahu itu, Electra."
Cahaya bersinar terang. Dan dalam sekejap merekapun menghilang.
Mereka muncul di ruangan yang luas dengan cahaya minim. Sekilas mirip tempat bawah tanah.
Mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Laila, Kuro.... selamat datang."
Yang menyambut mereka adalah Riana. Putri kekaisaran Houou. Tak seperti biasanya, Riana memakai jubah yang menutupi pakaian mewahnya.
Ya. Tempat mereka saat ini adalah ibukota kekaisaran Houou, kota Phoenix.
♦️♦️♦️
Di saat yang sama, Otome terbangun dari tidurnya.
Matanya menghitam dan matanya masih mengantuk. Sayangnya meskipun dia mencoba untuk tidur, dia selalu mengalami mimpi buruk yang sama.
".....ughh...."
Itu mimpi yang mengerikan. Tidak, itu adalah kenangan buruk.
"...bagaimana dia bisa bertahan dengan semua siksaan itu?"
Otome hanya melihat beberapa bagian kecil, tapi hal itu sudah membuatnya ingin mati.
"Kenapa kau tak menanyakannya secara langsung, Otome?"
"Uhmm, kenapa kau ada di sini?"
"Aku hanya melihat keadaan orang yang telah melihat hal terlarang. Ha ha ha... kurasa orang yang ahli dalam sihir kuno dan sihir pikiran sepertimu masih belum bisa bertahan melihatnya."
"...eh?"
Electra menunjukkan senyuman liciknya.
"Electra, jangan bilang kau sudah tah-"
Otome tak sempat bereaksi saat dalam sekejap ujung jari Electra menyentuh keningnya.
"Fu fuufu.. aku memang menduga hal ini terjadi, tapi aku tak mau kau mati. Kau masih berguna untukku."
Sisi lain Electra terlihat. Atau memang itu lebih tepat jika sisi yang sebenarnya.
Dia dikenal sebagai penyihir paling cepat, tapi disaat yang sama dia dikenal sebagai penyihir paling licik.
Tak ada yang tahu apa yang ada di kepalanya.
"E-Electra, bisakah anda tak menakutiku? Aku hampir percaya dengan perkataan anda aha ha..."
"Tidak. Sekarang pilih, mati karena bunuh diri atau hidup menderita bagaikan mayat hidup atau beruntung kau hanya akan gila."
"................................................."
__ADS_1
Ketiganya bukanlah pilihan yang menyenangkan.