
"Grimoire of Truth? ....setahuku itu adalah Grimoire yang berisi sejarah pada masa Light War. Kudengar keberadaan Grimoire itu tak diketahui, jadi kebanyakan mengatakan Grimoire itu tak pernah ada. Apakah itu yang kau maksud?"
Riana mengangguk pelan.
"Itu benar, tapi juga salah."
"Eh?"
"Grimoire of Truth benar benar ada. Jumlahnya juga tak hanya satu, namun ada tujuh Grimoire. Benarkan?"
Kuro menjelaskan dengan nada percaya diri.
Aldest dan Electra menyipitkan mata mereka saat mendengar Kuro mengatakan itu.
Mereka menyadari selain kekuatan Kuro abnormal, pengetahuan Kuro juga abnormal meskipun dia hanya orang biasa.
"Sebagai Witch Reaper, kau tahu banyak mengenai hal ini." Ucap Aldest.
"Aku tahu dari guruku dan dari pengetahuanku saat berkeliling dunia. Ada 7 Grimoire yang berisi tentang rahasia masa lalu. Aku hanya menebak kalau Grimoire of Truth adalah buku yang dimaksud."
"Jika Grimoire biasa berisi mantra sihir atau ritual sihir yang terlarang, Grimoire of Truth berisi tentang sejarah yang sesungguhnya. Apakah Demon King benar benar ada di dunia ini? Siapa sebenarnya Demon King? Semua itu tertulis di dalam Grimoire of Truth." tambah Riana
"Begitu rupanya. Memang selama ini tak pernah disebutkan siapa nama Demon King dalam pelajaran sejarah. Kupikir itu karena nama Demon King adalah nama terlarang."
"....Kau benar. Nama asli Demon King adalah tabu, karena itulah nama itu tak pernah disebutkan, tapi Grimoire of Truth berisi lebih dari itu."
"Maksudmu seperti.... bahwa Demon King sebenarnya tak berhasil dikalahkan?"
Mendengar kata Kuro, semuanya terdiam dan berhenti bergerak.
"Eh? Apa aku salah?"
"Tidak. Kau tak salah, .....tapi jika Demon King tak dikalahkan, dunia pasti sudah hancur sekarang ini."
Electra berkata dengan nada tak enak, tapi itu wajar mengingat Demon King adalah ekstistensi pembawa bencana di seluruh dunia.
Sebagai Paladin, Electra mempunyai kekuatan sihir yang dahsyat. Dia bahkan bisa menghancurkan kota Areshia dengang mudah. Tentu jika dia menginginkan hal itu. Hal itulah yang menyebabkan Paladin kadang disebut manusia setengah dewa.
-Lalu bagaimana dengan Demon King?
Dalam sejarah disebutkan bahwa kekuatan Demon King bahkan setara dengan 72 Paladin, karena itulah seluruh Paladin dari seluruh dunia bersatu untuk mengalahkannya. ......dan mereka berhasil.
-Tapi apakah itu benar?
Banyak spesikulasi bermunculan mengenai hal ini. Jika sekuat itu, kenapa Demon King bisa kalah? Apakah Demon King sengaja mengalah? Apakah sejarah itu palsu?
Tak ada yang tahu.
Disitulah Grimoire of Truth berperan penting sebagai saksi kebenaran sejarah masa lalu.
"Aku tahu itu, tapi apa hubungannya dengan tempat yang kita tuju? Brangkas rahasia tempat kau menyimpan Grimoire of Truth?"
Kuro mengatakan dengan nada bercanda, tapi jawaban yang diterima adalah-
"Kuro, jika kau sudah tahu, kurasa aku tak perlu menjelaskannya lagi."
Electra bahkan sampai tersenyum.
"Eh? Serius...?"
Tak hanya Kuro, Laila, Aldest dan Yui bahkan terkejut mendengar hal itu.
"Aku tak tahu ada tempat seperti itu di kota ini?"
"Wajar Aldest- tak tahu. Hanya Aku dan anggota keluarga kekaisaran saja yang tahu. Selain itu, tanpa Aku atau Riana tak akan bisa memasukinya karena untuk memasukinya membutuhkan sihir khusus."
"Sihir khusus yang kau maksud adalah tangga ini kan?"
Kuro berpikir karena sejak tadi mereka tak bisa melihat cahaya sedikitpun kecuali cahaya keperakan anak tangga dan pagar pengaman.
Tangga yang mereka gunakan seolah olah seperti tangga menuju ke dunia lain.
"Yuup. Tangga ini disebut Wormhole Stair. Dengan ini kita bisa menghemat perjalanan bebeberapa jam dengan hanya beberapa menit..."
"Hmmmmm....."
Kuro sadar tangga itu mirip Accell Art miliknya. Tepatnya memiliki konsep yang sama.
"Kuro?"
"Ahh.. bukan apa apa, aku hanya berpikir jika beberapa jam, seberapa dalam tempat yang kita tuju?"
"Tempat yang kita tuju berada 6 km di bawah tanah. Tempat itu dibangun dengan bahan antisihir dan memiliki ketebalan 5 meter. Sebenarnya itu adalah tempat perlindungan untuk anggota kekaisaran, tapi sudah lama di alih fungsikan."
Mudahnya ruangan yang mereka tuju adalah brangkas di kedalaman 6 km.
"Sebagai Paladin, aku bahkan tak sanggup menggores tempat itu." tambah Electra dengan senyum kecut.
"Tapi kenapa kita harus ke tempat itu?"
Pertanyaan Yui membuat mereka sadar bahwa jika hanya untuk menjelaskan semua ini, mereka tak perlu ke tempat itu.
"Kalian semua pasti akan segera tahu.. fufu..."
Tak berapa lama kemudian, anak tangga menghilang. Electra tanpa ragu menapakan kakinya di kegelapan, tapi tak ada tanda tanda dia tenggelam atau terjatuh. Itu bukti bahwa yang dia pijak adalah benda padat.
Setelah Riana meletakkan kakinya, ruangan yang semula gelap langsung terang dipenuhi cahaya kecil seperti bintang di malam hari.
"Woooww...."
(Semua cahaya itu berasal dari Light Cristal. Sepertinya dibuat agar bereaksi terhadap sihir elemen suci.)
Kuro tersenyum tipis sambil mengamati dan menganalisa fenomena yang terjadi. Dan tampaknya tak hanya dirinya yang berpikir seperti itu.
Disaat itulah Kuro memanfaatkan momen yang bisa dibilang 'romantis' untuk menggengam tangan Laila.
"....um?"
Laila menyadari gengaman tangan Kuro hanya tersenyum kecil dan merapat ke samping Kuro.
"Kalian berdua apakah tak bisa memilih tempat untuk bermesraan?"
""Eh?""
Kuro dan Laila terkejut karena yang menegur adalah Riana.
"Ahh... maaf. Aku tak berhak melarang kalian."
Setelah meminta maaf, Riana kembali fokus berjalan menelusuri jalan cahaya.
Kuro dan Laila hanya terbengong karena tak mengerti alasan Riana melarang mereka berdua. Sementara itu, Aldest dan Electra hanya tersenyum tipis. Mereka berdua melihat sesuatu yang jarang terjadi.
Sedangkan Yui, ...dia hanya terdiam, namun dia menunjukkan tatapan tak senang.
"Tapi kalian benar benar semakin dekat meskipun kemarin baru putus.."
"Yahhh aku memutuskan hubungan untuk mengakhiri hubungan palsu di antara kami."
"Hmmm... begitu... setelah hubungan palsu hilang, kalian membangun hubungan yang lebih kuat?"
"Yuup, tapi aku tak menyangka Laila langsung bertanya kapan aku melamarnya. Jujur saja aku sangat terkejut."
"........eh?"
Riana tak punya pilihan selain terkejut.
Ini suatu yang tak biasa. Riana tahu itu karena sudah berteman dengan Laila sejak kecil. Apa yang membuat Laila berbuat seperti itu?
.....Riana tahu jawabannya. Itu adalah--
"Begitu rupanya."
Itu menjelaskan kenapa hubungan Kuro dan Laila bisa dibilang terlalu dekat dan mesra. Disaat yang sama, itu menjelaskan bahwa mereka benar benar saling mencintai.
"Heii.. Kuro, jangan mengatakan hal yang memalukan!!"
Laila protes dengan wajah memerah.
"Kenapa harus malu? Cepat atau lambat semua orang akan tahu. Bukankah seharusnya kau senang karena Ri-Putri Rakus mendengar ini langsung dari kita?"
"....mmm.. Itu benar, tapi tetap memalukan."
"Kukuku, aku senang mendengar itu dari kalian berdua. Sekarang aku tahu alasan paman Leon mengamuk."
"Huh? Apa maksudmu? Aku baru pertama kali mendengar ini?"
"Leon membakar dan menghancurkan bangunan di ibukota tanpa alasan yang jelas beberapa jam yang lalu. Sebenarnya apa yang kau lakukan?"
Electra memberi tahu kejadian yang tak mereka ketahui dengan senyuman ceria seolah olah yang dilakukan Leon adalah hal biasa.
"Aku cuma bertanya kapan dia punya waktu luang."
"Dan....."
"Aku memberi tahu telah merenggut kesucian Laila."
.......................................
Hening. Semua orang langsung terdiam membisu karena mendengar pengakuan yang bisa dibilang mengejutkan. Sangat mengejutkan.
Electra, Riana dan Aldest tahu tentang pantangan yang tak seharusnya dilanggar, karena itulah pengakuan Kuro benar benar mengejutkan bagi mereka.
Mereka sekarang mengerti kenapa Kuro menyebut Laila 'calon istri'.
"Kuroooooo....."
Reaksi Laila dapat ditebak. Wajahnya memerah daripada sebelumnya. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya di bahu Kuro.
"Se-Selamat atas hubungan kalian."
Electra langsung memberi selamat meskipun dia sebenarnya tak menyangka Kuro dan Laila sudah berbuat sejauh itu.
"Kau benar benar tak kenal takut, Witch Reaper..."
Aldest bahkan memuji Kuro.
Bukan hanya memuji keberhasilanya, tapi juga keberanian dan kebodohannya.
Leon dikenal sangat menyayangi keluarganya, karena itulah tak ada yang berani macam macam dengan anggota keluarga Laila. Itulah kenapa Kuro bisa dibilang tak kenal takut dan bodoh.
"Jangan memanggilku dengan nama itu,B*tch!"
"Siapa yang kau panggil B*tch?"
Aldest dan Kuro mulai bertengar hanya karena masalah sepele. Mereka seperti anak kecil.
"Sudah sudah... kita kesini bukan untuk membahas hubungan kak Kuro dan kak Laila atau bertengkar seperti anak kecil."
"Diam kau, Loli!!"
"............Aha haa... entah mengapa aku seperti mendengar sesuatu yang aneh. fufufu....."
Yui mengambil belatinya dan mengarahkan hawa membunuh ke Aldest.
Aldest tak mau mengalah dan menatap Yui dengan hawa membunuh. Kilat bahkan muncul di antara mereka.
"Hentikan, kita sudah sampai."
Mendengar kata Riana, mereka semua langsung fokus ke depan mereka seolah olah tak terjadi apapun.
Kuro dan lainnya masih belum mengerti karena di depan mereka pemandangan masih sama seperti jalan yang mereka lalui, hanya saja ada sesuatu yang gelap di depan mereka.
".........................."
Bibir Riana bergerak seperti sedang melafalkan sebuah mantra. Disaat yang bersamaan dia mengarahkan tangannya ke atas dan sebuah lingkaran sihir muncul.
"Terangilah jalan kami, Holy Light"
Sebuah cahaya terang muncul dan menyinari hingga sudut terkecil. Lebih tepatnya seluruh dinding dan tanah mereka berpijak memancarkan cahaya kecil seperti bintang, hanya saja cahaya lebih terang dari sebelumnya.
Mereka akhirnya tahu kalau sebenarnya mereka di dalam sebuah lorong gua yang sangat indah.
Sayangnya, mereka tak dapat menikmati pemandangan indah saat melihat apa yang menanti di depan mereka.
__ADS_1
"Hei... apa itu?"
Aldest dan lainnya melebarkan matanya saat melihat sebuah dinding yang terbuat dari metal. Dari jauh sudah dapat terlihat kalau metal itu bukanlah metal biasa dan memiliki ketebalan yang cukup panjang, yaitu 5 meter.
Tapi dinding setebal itu memiliki sebuah lubang besar seperti dihancurkan oleh sesuatu yang dahsyat.
Bongkahan metal juga berserakan di berbagai tempat dan dinding gua.
Sekilas hal ini langsung membuat kesan 'kekacauan yang luar biasa'.
"Wow!"
Kuro berkomentar dengan senyuman lebar.
"Riana, apa maksud semua ini?"
"Akan kujelaskan setelah masuk ke dalam."
Riana tanpa ragu masuk diikuti Electra. Kuro dan Laila mengikuti mereka dari belakang, sementara Yui dan Aldest mengikuti mereka setelah berdiam diri sesaat karena masih terkejut.
Laila masuk menelusuri lorong metal sepanjang 5 meter yang kini hancur.
Dia melirik ke arah Kuro yang tiba tiba menunjukkan tatapan tajam.
"Kuro?"
"Laila, apa kau dapat merasakannya?"
Laila tak terlalu mengerti, namun semakin dalam dia melangkah, dia merasakan sesuatu yang tak menyenangkan yang berasal dari isi ruangan.
"Aku merasakan tekanan mana yang tak biasa. Menyeramkan mungkin lebih tepat. Apakah kau juga merasakan sesuatu?"
"Heehh...."
Kuro tak menjawab dan hanya tersenyum kecil setelah mendengar penjelasan Laila.
Kuro adalah non penyihir yang tak terlalu sensitif terhadap tekanan mana, jadi dia bertanya kepada Laila.
"Kalau kau, Yui..?"
"Aku sejak tadi merasakan Ki dan mana yang luar biasa, bahkan ini pertama kalinya aku merasakan Ki sekuat ini."
Aldest dan Laila terkejut setelah mendengar perkataan Yui.
Sementara itu, Kuro hanya tersenyum kecil dan berkata:
"Begitu rupanya..."
Kuro sepertinya menemukan suatu yang menarik perhatiannya.
Mereka dengan cepat sampai ke dalam ruangan putih yang penuh dengan senjata.
Senjata berbagai jenis dan ukuran terpajang rapi di dinding ruangan. Semua senjata itu terbuat dari bahan kualitas tinggi meskipun terlihat tua, tak hanya itu beberapa dari senjata sudah rusak atau tak bisa digunakan lagi.
Satu hal yang pasti, semua senjata yang dipajang memiliki aura yang tak menyenangkan.
Kuro, Laila, Yui dan Aldest mengamati senjata yang dipajang. Kuro entah mengapa tersenyum sambil melihat pedang katana hitam yang sudah patah.
"....mungkinkah semua senjata ini ......Cursed Arm?"
Kuro bertanya sambil melirik ke Riana dan Electra yang berdiri tak jauh dari mereka.
Riana mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Kuro.
"Semua senjata di tempat ini adalah Cursed Arm sisa dari Light War dan Paladin War, tapi ada beberapa yang merupakan Holy Arm."
"Kalian selama ini menyimpan mainan berbahaya di tempat ini rupanya..."
Berbahaya. Sebutan itu memang pantas diberikan kepada semua senjata di tempat itu.
Pada masa Light War, Demon King hampir berhasil menguasai 80% tanah Orladist. Tak hanya kuat, namun Demon King dikenal mempunyai pasukan yang kuat dan mematikan.
Sebagian besar adalah penyihir, demon beast, bahkan iblis juga menjadi pasukan Demon King Perbedaan kekuatan inilah yang membuat penyihir di masa itu menciptakan Magic Arm buatan bersama dengan alkemis dan sihir terlarang.
Magic Arm buatan itu dikenal dengan nama Cursed Arm dan Holy Arm.
Senjata itu memiliki kekuatan setara dengan Magic Arm asli, bahkan lebih kuat dan meningkatkan kekuatan penyihir yang memakainya. Tak hanya itu, non penyihir bahkan bisa memakai [Cursed dan Holy Arm yang membuat mereka memiliki kekuatan setara penyihir.
Tentu saja ada harga untuk memakai kekuatan itu dan harganya tidak murah. Pengguna senjata itu pasti cepat mati atau bahkan hilang kendali sehingga membuat mereka membantai teman mereka sendiri.
Tapi berkat Cursed Arm dan Holy Arm penyihir di masa itu berhasil menang melawan pasukan Demon King dan akhirnya bisa mengalahkannya.
-Setelah Demon King kalah dan mati, apakah kedamaian datang?
Tidak.
Ada sekitar 100an paladin yang selamat dan hidup setelah mengalahkan Demon King, tanah bekas wilayah kekuasaan Demon King adalah tanah tanpa tuan. Lalu siapa yang akan menjadi tuan dari tanah itu?
Itulah awal dari Paladin War. Sebuah mimpi buruk yang baru.
Perang yang terjadi antara sesama paladin untuk menentukan siapa yang berkuasa dan sekali lagi perang yang membawa kehancuran terulang kembali.
Dalam Paladin War, Cursed Arm dan Holy Arm dipakai oleh Paladin sehingga kekuatan paladyin meningkat pesat. Hal ini membuat Paladin yang tak memakai senjata itu kebanyakan kalah dan mati.
Perang itu membuat jumlah paladin berkurang drastis dari 100an menjadi 30an.
Menyadari bahwa perang itu tak menghasilkan apapun, seorang Paladin yang juga dikenal sebagai Holy Maiden, penyihir elemen suci mengajak Paladin lainnya untuk menciptakan negeri baru di tanah Orladist.
Ada yang menolak, tapi ada yang menyetujuinya.
17 paladin di masa itu akhirnya membangun kerajaan baru yang dikenal sebagai Kekaisaran Houou . Nama Houou(Phoenix) dipilih karena merupakan nama Divine Beast, namun juga melambangkan kelahiran baru yang berasal dari kehancuran.
Penyihir elemen suci dipilih menjadi Permaisuri karena tanpa dia, Demon King tak bisa dikalahkan dan juga sebagai pelopor perdamaian.
Ini adalah sejarah asal muasal Kekaisaran Houou.
Tentu saja banyak yang sudah dirubah. Salah satunya adalah tentang keberadaan Cursed Arm dan Holy Arm.
Hal inipula yang membuat Riana dan Electra sedikit terkejut saat Kuro tahu mengenai Cursed Arm.
"Ya. Semua Cursed Arm di tempat ini kebanyakan sudah tersegel. Ada juga yang kehilangan kekuatannya, jadi sekarang kebanyakan hanyalah senjata rongsokan. Tapi tentu saja ada beberapa yang masih memiliki kekuatan penghancur. Kau pasti dapat merasakannya kan?"
Mendengar penjelasan Electra, Kuro mengangguk pelan.
"...lalu apa hubungannya dengan semua masalah ini?"
Masih banyak yang Kuro ketahui. Dia masih butuh banyak informasi untuk menyatukan kepingan puzzle.
Di saat bersamaan menanyakan itu, Kuro mengambil katana hitam legam yang patah dan meniup debu yang menutupinya.
Laila hanya terdiam dan ikut mengamati dari samping. Dia menyadari Kuro tampaknya tertarik dengan pedang jenis katana. Mungkin ini karena dia memakai katana.
"Baiklah, akan kujelaskan semuanya."
Akhirnya mereka sekarang memulai topik utama.
"Pertama, hati hati dengan pedang itu karena pedang itu berbahaya. Ada spirit yang tersegel di pedang itu, dan spirit itu berb-"
Sayangnya peringatan Riana terlambat, embun hitam langsung mengerubungi Kuro dan berputar mengelilinginya dengan kecepatan tinggi.
Laila terpental dan hampir jatuh karena kekuatan embun hitam itu.
"Kuroo!!"
Laila berteriak karena panik dan kawatir, tapi Kuro terlihat baik baik saja dan santai.
"Kuro, bertahanlah!"
Riana mulai melafalkan mantra dan mengarahkan tangannya ke arah Kuro. Lingkaran sihir berwarna putih muncul dan bersiap menembakan cahaya ke Kuro.
Riana bermaksud menggunakan sihirnya untuk menghilangkan embun hitam itu. Sihirnya tak hanya mampu menghilangkan sihir, namun spirit jahat juga bisa dikalahkan meskipun tak menghapuskan keberadaan spirit sepenuhnya, tapi sebelum selesai, embun hitam itu menghilang tanpa jejak.
"Kuro...?"
Laila langsung mendekati Kuro dan terlihat memeriksa keadaan Kuro dengan teliti.
"Jangan kawatir, aku baik baik saja. Embun hitam tadi juga tak menyentuhku sedikitpun."
"Jeeeezzz... jangan membuatku kawatir dan cepat kembalikan pedang itu. Entah mengapa aku mempunyai firasat buruk mengenai embun tadi.."
Laila benar benar cemas dan kawatir.
Kuro tak ingin membuat kekasihnya itu terus kawatir, akhirnya dia mengembalikan katana itu ke tempatnya semula.
"Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi tampaknya spirit yang tersegel di pedang itu menyukaimu, Kuro."
Electra hanya tersenyum kecut setelah melihat reaksi spirit yang tersegel di pedang hitam itu.
Cursed Arm dan Holy Arm sebenarnya adalah senjata yang dirasuki spirit. Tentu kebanyakan adalah spirit yang disegel secara paksa dan menggunakan kekuatan spirit secara paksa.
Itulah alasan kenapa Cursed Arm sering kehilangan kendali atau mengambil alih tubuh pemakainya.
Sebagian senjata di ruangan itu sudah kehilangan spirit. Semua spirit kebanyakan sudah dimusnahkan, tapi ada juga yang sudah dilepaskan. Sayangnya ada beberapa Cursed Arm yang tak bisa tersegel sepenuhnya karena terlalu kuat.
Mengenai pedang katana hitam yang dipegang Kuro, tak ada yang tahu mengenai apakah spirit masih ada atau tidak karena sudah patah.
Tapi sekarang mereka tahu saat embun hitam muncul dan bereaksi terhadap Kuro.
"Aku tak mau populer dengan spirit atau semacamnya. Itu merepotkan."
Ya. Merepotkan. Bagi sebagian pria, populer di kalangan para gadis adalah suatu anugrah, tapi bagi Kuro, hal itu membuat dia punya banyak masalah. Terutama masalah yang berasal dari kekasihnya yang cemburuan.
"Sudahlah.. Putri Riana, tolong jelaskan semuanya. Terus terang aku tak punya banyak waktu dan aku tak tahu kenapa aku juga dilibatkan dalam hal ini."
Aldest benar. Dia memang tak ada urusan dengan insiden di Dragonia. Tugas dia hanyalah menjaga keamanan kota Areshia. Setelah insiden hari ini, dia pasti akan sibuk. Itulah alasan kenapa dia mengeluh.
"Baiklah, kami akan menjelaskan."
Semua langsung menunjukkan tatapan serius bersamaan dengan atmosfer yang semakin berat.
"Aldest, Kuro, .... kalian pasti tahu insiden tiga minggu yang lalu hanyalah sebagai pengalih perhatian kan?"
Aldest dan Kuro terdiam, tapi mengerti maksud Electra.
"Sementara kalian bertarung dengan naga, aku saat itu sibuk disini untuk menghentikan satu orang yang kita sebut saja Shadow."
Aldest dan Kuro melebarkan matanya. Mereka tahu nama Shadow adalah penyihir misterius yang membantu Red Crow.
Yang menjadi masalah adalah-
"Sayangnya kau gagal. Benarkan?"
"Uguuu...."
Electra hampir menangis oleh perkataan Kuro yang setajam pisau.
"Tunggu dulu, jangan bilang Shadow adalah orang yang menghancurkan tempat ini dan mengambil Grimoire of Truth dari tempat ini?!"
Kepungan puzzle mulai tersusun.
Riana dan Electra mengangguk membenarkan perkataan Aldest.
"Seperti yang kujelaskan sebelumnya, tempat ini tak hanya kuat dan tersembunyi, bahkan aku tak bisa menggores tempat ini, tapi dia (Shadow) memililki kekuatan untuk menghancurkan tempat ini dengan mudah."
Tempat yang tak sanggup digores oleh Electra, namun Shadow bisa menghancurkannya. Seberapa kuat Shadow sebenarnya?
"Kuro, Yui. Alasan kami mengajak kalian adalah untuk mengkonfirmasi kalau Shadow tak hanya menggunakan sihir tapi juga pengguna Ki."
"......kalian bercanda kan?"
Kuro hanya bisa mengatakan bahwa candaan mereka tidak lucu sama sekali, tapi Electra dan Riana menunjukkan tatapan serius yang menunjukkan mereka tak bercanda.
Tempat mereka seharusnya mustahil ditembus oleh sihir. Sedangkan satu satunya hal yang memiliki kekuatan setara sihir adalah Ki. Masuk akal jika Electra berpikir seperti itu.
"Tak hanya itu, saat aku berusaha menghentikannya, aku menemukan satu hal yang menarik. Dia bisa meniru sihirku."
Semua orang melebarkan matanya saat mendengar kekuatan Shadow dari mulut Electra. Tapi setelah dipikir pikir, mereka sekarang tahu kenapa Shadow bisa lolos dari Paladin.
Kuro menaruh tangan di dagunya dan berpikir.
"Tak hanya penyihir, namun juga bisa menggunakan Ki. Dia benar benar mirip denganmu Yui."
Yui mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
"Tapi dilihat dari tekanan Ki yang kurasakan tadi, orang yang bernama Shadow memiliki level yang berbeda denganku."
"....Yui, apa maksudmu?"
"Mudahnya Shadow lebih kuat dariku dalam menggunakan Ki. Jika aku Master, Shadow mungkin adalah Paladin atau lebih kuat dalam menggunakan Ki."
Perkataan Kuro membuat semua orang terdiam beberapa saat. Mereka tak menyangka Shadow begitu kuat.
Tapi jika sama seperti Yui, Shadow pasti juga bisa menggabungkan Ki dan Sihir.
"Oh iya, apakah kalian tahu identitas sebenarnya Shadow ini?"
Kuro saja yang terlihat santai. Dia tampaknya tak terlalu peduli dengan kekuatan Shadow.
"Tidak. Kami masih tak tahu siapa sebenarnya Shadow. Yang kutahu dia seorang perempuan."
"Bolehkah aku tahu bagaimana kau tahu dia perempuan?"
"Tentu saja dengan mengecek secara langsung menggunakan tanganku. kukuku..."
Singkatnya, Electra meraba dada Shadow secara langsung.
Semua mendesah kecil saat mendengar itu. Meskipun sempat meraba, kenapa dia tak sanggup menghentikan Shadow?
"Sifat mesummu kadang ada gunanya juga. Kalau begitu, aku punya cara untuk mengetahui identitas Shadow sebenarnya."
"Kau tak perlu melakukannya. Kami sudah mencari tahu tentang penyihir wanita yang mampu meniru kekuatan sihir orang lain. Jadi yang sekarang kita lakukan hanya menunggu saja."
Tapi itu saja tidak cukup. Kuro menyadari itu dan akhirnya mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Immortal Witch itulah identitas Shadow yang sebenarnya."
Semua terkejut saat mendengar perkataan Kuro.
"Kuro, apa maksudmu? Immortal Witch dikenal sebagai penyihir yang sudah ada sejak Light War dan keberadaannya di anggap tak pernah ada. Kenapa kau berpikir Immortal Witch adalah Shadow?"
Seperti yang Electra bilang, Immortal Witch dikenal sebagai penyihir abadi. Bagaimana dia bisa abadi masih mesterius, tapi ada yang berpendapat bahwa dia menggunakan sihir terlarang.
Sayangnya, ini hanyalah mitos karena keberadaan Immortal Witch tak pernah ada buktinya.
"Ki. Benarkan kak Kuro?"
Kuro mengangguk lalu menunjukkan senyuman tipis.
"Ya. Kau benar Yui. Kau semakin pintar saja."
"Fufu.. jangan remehkan aku!"
Yui menaruh tangannya di dada dan menyombongkan diri.
"Apa hubungan Ki dengan Immortal Witch? Terus terang aku rasa tak ada hubungannya sama sekali." tanya Aldest.
"Itu karena kalian tak tahu apa itu Ki. Ki sangat berbeda dengan mana atau sihir. Meskipun mudah melatihnya sama seperti sihir, namun Ki butuh waktu lama untuk mempunyai kekuatan sedahsyat itu. Apalagi Shadow juga seorang penyihir, dia pasti butuh waktu lebih lama lagi."
"Begitu rupanya. Menurut legenda Immortal Witch sudah ada sejak Light War, dengan kata lain dia pasti sudah berusia lebih dari 400 tahun. Itu waktu yang cukup lama untuk melatih Ki dan ini juga menjelaskan kenapa dia tahu lokasi tempat ini."
Dan tahu mengenai Grimoire of Truth.
"Sebagai tambahan, kekuatan Immortal Witch bukan meniru kekuatan orang lain, tapi memanipulasi bayangan. Meskipun mirip meniru, namun sebenarnya dia hanya memakai bayangan dari sihirmu. Sekarang sudah jelas kan?"
Hampir semua kepingan mulai tersusun.
Semua orang selain Kuro dan Electra hanya memasang wajah bingung karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Meskipun kau bilang Shadow adalah Immortal Witch, namun kita tak tahu pasti, jadi kita anggap saja dugaanmu benar untuk sementara ini."
Meskipun masuk akal, namun tak ada bukti yang mendukung bahwa Shadow adalah Immortal Witch. Karena itulah Electra hanya bisa memasukannya ke daftar sekarang ini.
"Baiklah. Aku tahu itu. Tapi sekarang yang tak ku mengerti apa hubungan Shadow dengan penyerangan di Dragonia. Kalian pasti akan segera menjelaskannya kan?"
Kepingan terakhir belum tersusun. Dan sekarang waktunya untuk menyusun kepingan terakhir itu.
".......Grimoire of Truth dan Skullia Crystal. Itulah benda yang dicuri Shadow dari tempat ini." jawab Riana dengan nada berat.
"Skullia Crystal? ....mungkinkah itu juga Cursed Arm?"
Electra mengangguk dengan ekspresi rumit.
"Skullia Crystal adalah Cursed Arm yang mampu meningkatkan kekuatan penyihir hingga 100 kali lipat."
""""?!""""
"Hey hey... ini bukan saatnya bercanda."
Kuro menganggap perkataan Electra adalah candaan yang lebih buruk mengenai Shadow.
Sayangnya Electra tak bercanda.
"Aku juga berharap sedang bercanda, tapi tidak. Menurut catatan, Skullia Crystal tak pernah ada yang bisa memakai karena kekuatan Cursed Arm itu terlalu kuat, karena itulah kami lebih fokus mengengenai keberadaan Grimoire of Truth."
"Hmmm... mungkinkah kau datang ke kota ini untuk menjadi umpan?"
Riana mengangguk.
Kuro tahu karena dia ingat tentang misinya beberapa hari yang lalu. Selain mengawal diam diam, dia juga harus menangkap beberapa orang yang mengincar Riana.
Yang cukup membuat Kuro terkejut adalah musuh sangat ingin mendapatkan Riana hingga mengerahkan ratusan orang.
"Riana, kenapa kau berbuat sejauh itu?"
Melihat sahabat baiknya kawatir, Riana terpaksa menjelaskan semuanya.
"Hal itu karena ini adalah kewajibanku sebagai putri negeri ini. Selain itu, tidak ada orang lain yang cocok selain aku."
"....hanya putri Riana yang belum menguasai sepenuhnya kekuatannya. Hal inilah yang menyebabkan dia tak bisa melewati sihir teleportasi. Kami memanfaatkan itu untuk memancing reaksi musuh dan hasilnya berhasil, benarkan?"
Sekarang semuanya masuk akal bagi Kuro. Dia hanya bisa mendesah kecil mengetahui dia hanya dimanfaatkan.
"Berkat kalian aku harus melakukan suatu yang merepotkan. Lalu apakah ada hasilnya? Kalian tak akan memberi tahuku kalau misiku sia sia saja kan?"
Kuro semakin terlihat kesal mengetahui keadaan semakin buruk.
Riana dan Electra tak menjawab dan hanya terdiam sambil memasang wajah rumit.
"Kami hanya tahu mereka berasal dari organisasi seperti Red Crow."
"Itu saja?"
"........."
Kuro lalu mendesah berat setelah mengetahui misinya tak menghasilkan apapun.
Misi beberapa hari yang lalu membuat dia harus membunuh ratusan orang. Dia tak merasa bersalah atau menyesal, tapi bukan berarti dia suka melakukan itu.
"Kuro, kenapa 'mereka' mengincar Riana? Bukankah mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau?"
Laila bertanya karena dia tak tahu alasan Riana diincar.
"Ah... mengenai itu, 'mereka' butuh penyihir elemen suci untuk membuka segel di dalam Grimoire of Truth. Kau tak berpikir Grimoire of Truth mudah dibaca kan?"
"Ahh..ha ha.. tentu tidak, tapi bukankah ada penyihir elemen suci lainnya?"
Laila benar, tapi-
"Inilah alasan Putri Rakus itu menjadikan dirinya umpan. Jika 'mereka' menginginkan Putri Rakus, kita dapat tahu apakah 'mereka' memiliki penyihir elemen suci atau tidak. Selain itu, kita juga tahu apakah ada negara tertentu yang bekerja sama dengan mereka."
Jumlah penyihir elemen suci tidaklah banyak. Kebanyakan mereka berada di pengawasan pemerintah dan tak banyak memiliki kebebasan.
Dengan melakukan pengawasan penyihir elemen suci, mereka akan mendekati identitas musuh sebenarnya.
"Sayangnya, musuh pasti juga menyadari kalau kedatangan putri Riana hanyalah umpan. Karena itulah mereka mengirim orang yang tak berguna dan tak tahu apapun." ucap Aldest.
Mengingat antusias musuh, musuh pasti juga memanfaatkan hal itu untuk mengetahui kekuatan lawan mereka. Inilah alasan mereka mengirim Kuro sendirian.
"Ini semakin menyebalkan, tapi sekarang kita tahu musuh kali ini tak main main. Aku yakin banyak penyihir kuat selain Shadow yang bergabung dengan 'mereka'. Yahh... untuk sementara kita bisa tenang mengenai Grimoire of Truth. Meskipun mereka memiliki penyihir suci, mereka masih butuh waktu untuk menterjemahkan bahasa kuno yang digunakan dalam Grimoire of Truth. ....yang tak ku mengerti kenapa kalian justru fokus ke Grimoire of Truth?"
"""""................"""""
"Apakah kalian bodoh? Sekarang aku juga tahu kenapa Necromancer bisa cepat pulih setelah menggunakan [Lost Art]."
"""""..............."""""
Lost Art. Itu adalah sihir terakhir bagi seorang penyihir. Hanya penyihir tertentu yang bisa menggunakan Lost Art, tapi setelah menggunakannya, penyihir akan kehilangan kekuatanya dan tak bisa menggunakan sihir lagi.
Tapi ada catatan yang menyebutkan ada beberapa penyihir yang mampu menggunakan sihir lagi. Sayangnya, kasus seperti itu sangatlah langka.
Setelah semuanya jelas, Kuro sekarang dapat memperkirakan kekuatan musuh di Dragonia saat ini.
Sekarang, yang perlu dia lakukan adalah segera pergi ke Dragonia.
Tapi sebelum itu-
"Uhmmm? Apa ada yang salah?"
Dia harus tahu kenapa semua terdiam dan menatap dirinya dengan keheranan.
"Kuro, bagaimana kau tahu Grimoire of Truth ditulis dengan huruf kuno?"
"Kuro, aku juga ingin menanyakan itu. Grimoire of Truth selain dibutuhkan sihir elemen suci untuk membuka segel, namun ada juga teka teki sebelum bisa membuka buku dan melihat isinya."
"Aaaa...."
Kuro hanya bisa berkeringat dingin saat mengatakan hal yang seharusnya tak dia ucapkan.
"Dugaanku ternyata benar. Kuro, kau pernah membaca Grimoire of Truth. Benarkan?"
Semua orang semakin menatap Kuro dengan ekspresi rumit dan penasaran setelah apa yang dikatakan Riana.
Mengetahui dia tak bisa menghindar, Kuro akhirnya mendesah kecil.
"Haa.. aku memang pernah membacanya, tapi aku tak tahu isi buku itu."
"Apa maksudmu? Sebelum itu, darimana kau mendapatkannya dan dimana buku itu sekarang?"
Melihat Electra yang antusias, Kuro akhirnya menjelaskan bagaimana dia bisa membaca buku itu.
Kuro tahu tak bisa membohongi Electra, tapi alasan sebenarnya adalah dia tak mau di intrograsi.
"Nenek, saat di ibukota kau tahu aku sering membaca dan meminjam buku di Aste Library kan?"
Electra mengangguk.
"Kau selalu kesana kalau ada waktu luang dan tak menjalankan tugasmu."
"Yuup. Aku selalu meminjam 10 buku sekaligus dan mengirimkan buku itu ke rumahku, tapi sekitar satu tahun yang lalu, aku menerima 11 buku."
Electra dan Riana menyadari apa yang Kuro maksud.
"Ya. Buku kesebelas itulah Grimoire of Truth."
Semua orang terdiam dan terkejut.
"Aku membukanya karena penasaran, tapi karena ditulis dengan huruf kuno, aku tak bisa membacanya, tidak, kurasa sulit membacanya."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin membacanya, karena itulah aku berusaha menterjemahkannya, tapi buku itu tiba tiba lenyap. Karena itulah aku tak tahu isinya. Yahh .. kurasa buku itu sudah kembali ke tempatnya."
".........."
Riana, Aldest, dan Electra memasang wajah rumit setelah mendengar itu.
Laila sadar buku yang dibaca Kuro adalah buku legendaris yang ada di Aste Library.
Sementara Yui, dia hanya tersenyum kecil saat mengetahui keluar biasaan Kuro.
"Ngomong ngomong, aku harus segera pergi ke Dragonia, bisakah kita segera keluar dari tempat ini?"
Kuro tak bisa keluar, jadi dia bertanya dan sekaligus mengatakan bahwa percuma mereka ada di tempat itu.
"Maaf, Kuro. Aku tak bisa membiarkanmu pergi ke Dragonia."
"Huh?"
__ADS_1