
Heavy Metal, itulah kekuatan Soul yang dimilki Cruzx. Dengan kekuatan itu Cruzx dapat mengubah seluruh tubuhnya menjadi metal atau logam. Tak hanya itu, dia dapat mengubah tubuhnya menjadi senjata apapun yang dia inginkan.
Dengan kecepatan dan seni bertarung berlevel tinggi, lalu digabungkan dengan tubuh yang tak bisa ditembus oleh senjata apapun menjadikan Cruzx pengawal dan penyihir yang kuat dan ditakuti.
Inilah alasan kenapa Kuro sulit mengalahkannya.
"Kh!!"
Kuro menyerang menggunakan kecepatan yang merupakan keunggulannya. Dia berhasil mendaratkan serangan di berbagai tempat vital, tapi tubuh Cruzx yang keras tak mudah digores apalagi dipotong dengan pedangnya.
Hal ini sudah diduga Kuro karena dia sudah menyelidiki kekuatan Cruzx. Meskipun begitu, bukan berarti Kuro membuat persiapan khusus untuk menghadapinya. Alasan terbesar tentu saja karena membuat rencana hanya akan membuat Kuro ragu jika suatu hal yang tak diinginkan terjadi di dalam pertempuran. Pengalaman Kuro telah membuktikan hal itu.
Kacin!! Keduanya beradu pedang dan saling mendorong satu sama lain. Tubuh Kuro terdorong ke belakang karena kalah kekuatan, tapi bukan hanya itu saja penyebabnya.
(Dia memanfaatkan tubuhnya yang berat untuk memberikan kekuatan berkali lipat?)
Menyadari dalam kesulitan jika terus seperti itu, Kuro mendorong lalu menjaga jarak dan menggunakan serangan jarak jauh berupa pedang angin.
"Secret Art, Crossing Leave."
Puluhan pedang angin terbang ke arah Cruzx, tapi Cruzx hanya terdiam dan menerima semua serangan Kuro.
Kuro hanya bisa tersenyum kecut melihat serangannya bahkan tak menggores Cruzx. Kuro ragu pedang angin itu bahkan membuat Cruzx merasa gatal.
(Aha ha... kau pasti bercanda..)
Bagaimana cara menghadapi musuh yang memiliki tubuh logam? Saat ini Kuro sedang memikirkannya jawabannya.
Saat itulah tiba tiba ledakan keras terdengar. Bahkan teriakan mengerikan juga menggema di seluruh tempat. Tak lama kemudian suara tanda peringatan evakuasi terdengar.
Kuro tersenyum meskipun dia tahu situasi yang tak dia duga sedang terjadi.
"Aku rasa kalian usaha kalian untuk diam diam sudah sia sia, Cruzx."
Cruzx hanya terdiam membisu, tapi tatapannya menunjukkan kalau dia tak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.
"....tapi aku masih tak mengerti kenapa penyihir yang dikenal sebagai pengawal yang selalu setia justru membunuh majikannya sendiri...?"
Cruzx tak hanya dikenal sebagai pengawal yang setia, tapi juga tak akan mengkhianati tuannya meskipun tuannya adalah orang paling buruk dan pantas mati. Mungkin inilah alasan West menyewa Cruzx dan disaat yang sama hal inilah yang membuat Kuro heran dengan yang dilakukan Cruzx kali ini.
"...mungkin di matamu aku hanyalah penyihir yang setia demi uang. Sayangnya aku tak bisa menyangkal itu. Tapi.. aku juga punya alasan sendiri untuk bertarung meskipun itu berarti harus membuang gelar baik dan harus bermandikan banyak darah."
Aura meningkat dari tubuh Cruzx. Disaat yang sama tubuh Cruzx mulai berubah sedikit demi sedikit. Otot di seluruh tubuhnya membesar dan begitu pula dengan tubuh besinya.
Kuro tak begitu tahu apa yang terjadi, tapi saat dia menajamkan matanya, dia bisa melihat debu hitam tipis yang bertebangan menuju Cruzx.
"!"
"Kau tampaknya sudah tahu bagaimana kerja sihirku. Aku bisa menambah sebanyak apapun metal di tubuhku dengan mengendalikan debu besi yang berada tersebar di berbagai tempat. Kurasa aku tak perlu memberimu banyak detail, tapi kau terlalu naif jika hanya itu saja yang bisa kulakukan. Kode CRC, Arms Mode, Activated."
Kaki Cruzx tiba tiba terbelah dan mengeluarkan semacam roket. Tak hanya itu tubuh Cruzx perlahan bertransformasi menjadi wujud yang jauh dari kata manusia.
"Hey... aku baru tahu kalau kau juga Cyborg. Bukankah itu curang?"
Disaat yang sama, tubuh Cruzx sudah berada di depan Kuro dengan tangan yang sudah bersiap menghancurkan tubuh Kuro menjadi bongkahan daging.
Bommmm....!!! ledakan besar lainya terjadi dan kali ini Kuro benar benar akan menjadi bongkahan daging jika terkena serangan Cruzx.
"Fuhh...."
Melihat dampak kerusakan yang ada, mungkin dia akan benar benar mati.
"...bukan hanya kau saja yang memiliki trik tersembunyi..., Cruzx."
Kuro berhasil menghindar. Cruzx memang cepat, tapi Kuro lebih cepat.
Kuro berjalan di belakang Cruzx dengan tenangnya. Aura putih keluar dari seluruh tubuhnya dan disaat yang sama pedang hitam Kuro menunjukan wujud yang sebenarnya, yaitu pedang putih yang memancarkan aura yang sama dengan Kuro.
Cruzx menajamkan matanya dan menganalisa. Dia tahu Kuro yang sekarang berbeda dengan yang tadi.
Cruzx mulai menyerang kembali. Tubuhnya membentuk semacam moncong senjata api dan dari moncong itu puluhan peluru dengan kecepatan melebihi kecepatan suara per detik.
Tentu Kuro tak diam saja. Dia menajamkan matanya dan menggunakan tekhniknya.
"Secret Art, Burst Area."
Dalam sekejap, ratusan peluru itu dipotong menjadi dua bagian dan jatuh perlahan ke lantai dan menghasilkan suara bagai lonceng.
"Mari kita mulai babak keduanya..." ucap Kuro dengan senyuman penuh semangat.
"...."
*************
Disaat yang sama, Stella berhasil selamat dari serangan mematikan itu di saat terakhir. Berkat itu dirinya masih hidup, tapi tangan kirinya mengalami luka bakar yang cukup parah.
"Tch.."
Sambil menahan rasa sakit, dia mengendalikan insectmera untuk melihat situasi yang ada setelah Chaos Machina muncul.
(Jika aku tak segera melakukan sesuatu Hana dan Gyu akan dalam bahaya.)
Stella mengamati dari mata insectmera. Kekacauan yang luar biasa adalah yang terlihat.
Puluhan atau bahkan ratusan Knight dikerahkan untuk menghadapi pasukan White Sun yang semuanya merupakan cyborg. Dengan peluru yang dibuat khusus untuk menembus sihir pertahanan, pasukan cyborg telah berhasil membuat Knight terkejut dan memukul mundur Knight.
(Kurasa alasan kenapa mereka terus berdatangan dan membawa monster itu ke tempat ini adalah untuk melawan para Knight yang akan mengganggu, tapi ini sungguh keterlaluan. Seberapa banyak- tidak, kurasa lebih tepat jika apa dan tujuan sebenarnya White Sun?)
Organisasi ******* bukanlah suatu yang baru. Banyak yang merasa tak puas dengan keadaan dunia sekarang ini. Meskipun dunia bisa dikatakan damai dari perang, tapi bukan berarti dunia damai bagi sebagian orang.
Sebagian orang itu adalah orang biasa.
Meskipun jumlah orang biasa puluhan atau bahkan ratusan kali lipat daripada penyihir, tapi dalam hal perbedaan kekuatan penyihir lebih unggul. Semua tahu hal ini sejak dari dulu, tapi perlahan adanya perasaan tak puas dari keadaan itu. Salah satu pemicu hal ini adalah ilmu pengetahuan yang semakin maju. Dan cyborg adalah salah satunya.
Pemerintah dunia tentu menyadari ketidak puasan para orang biasa, tapi disaat yang sama mereka tak bisa membiarkan orang biasa mengacau bagaikan penyihir jahat.
Karena alasan itulah organisasi besar yang dibuat oleh orang biasa akan diawasi dengan ketat oleh organisasi pemerintah yang dibentuk khusus.
Dengan kata lain, jika ada organisasi semacam White Sun, sekarang pasti pemerintah bisa mencegah kejadian yang tak diinginkan seperti sekarang ini.
(..mereka benar benar cerdas bisa melakukan semua ini...)
Stella memuji White Sun yang bisa berbuat sejauh ini meskipun mereka sebagian besar adalah orang biasa yang dipimpin oleh penyihir jahat.
Stella lalu melihat ke panel lainnya yang menunjukkan Gyu, Jaco dan Selisa. Ketiganya sekarang aman dan terlihat ingin keluar dari gedung. Meskipun ada sedikit konflik, tapi mereka sudah aman.
(Aku memang tak perlu mengkhawatirkannya.)
"Sekarang...."
Tapi dia punya orang lain yang pantas dia kawatirkan.
Stella melihat ke panel yang menunjukan gambar Hana, disaat itulah mata Stella langsung melebar karena terkejut dengan apa yang dia lihat dengan kedua matanya.
"....kenapa aku punya firasat hal ini akan terjadi...?"
Stella mendesah kecil lalu melangkahkan kakinya menuju tempat Hana yang kini berada dalam kesulitan besar.
Di tempat Hana, dia sekarang mengacungkan Ame No Habakiri ke arah Mivas. Mivas tentu tak mau kalah. Dia mengacungkan senjata api ke dahi Hana dengan senyuman yang memuakkan dan dipenuhi oleh aura licik.
Sementara itu nasib semua sandera sekarat, tapi tak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan. Tentu saja yang melakukan semua itu adalah Mivas.
".....kenapa kau masih ingin membunuh mereka padahal kau sudah tahu apa yang kau cari tak ada pada mereka? Kenapa kau bisa kejam sekali?"
"Kenapa kau menanyakan hal tak penting seperti itu? Bukankah kau sudah tahu mereka tak berguna lagi untukku, jadi kenapa aku harus mempertahankan mereka?"
Hana tak tahan karena Mivas berniat menghabisi semua orang setelah tahu apa yang Mivas cari tak ada di antara mereka. Hana menyerang cyborg yang ada di ruangan dan kemudian berhadapan dengan Mivas. Itulah yang terjadi saat Stella tak melihat Hana untuk sebentar saja.
Tentu itu adalah tindakan ceroboh karena dia masih tak tahu apa kekuatan Mivas yang sebenarnya.
"....Tch.. dasar sampah.."
"Kau menyebutku sampah, tapi kau seharusnya bisa melihat kalau apa yang kau lindungi lebih pantas disebut sampah yang lebih buruk daripada sampah manapun. Mereka adalah pemimpin korup yang memanfaatkan jabatan demi meraih semua keinginan mereka tanpa mempedulikan adanya korban atau tidak."
"..."
"Aku hanya membersihkan sampah. Kenapa kau menghalangiku gadis kecil?"
Hana melirik ke belakangnya dan melihat orang orang yang memiliki jabatan penting di pemerintahan. Mungkin Mivas benar, di antara mereka ada sampah yang bersembunyi, tapi itu tak membenarkan tindakan Mivas.
"....aku tak menghalangimu. Aku hanya tak menerima perbuatanmu. Kau bukanlah tuhan yang menentukan baik dan benar. Kau hanyalah sampah yang mengatas namakan kebenaran demi mencapai tujuanmu."
(Benar. Dia tak ada bedanya dengan sampah. ...dan begitu pula denganku. Aku tak berbeda dengan mereka semua.)
Membunuh atas nama perintah. Jika dibandingkan, apa bedanya dirinya dengan Mivas?
"Fu fuufu.. kurasa percuma berbicara. Aku pikir aku bisa mengajakmu bergabung denganku, tapi kurasa itu hal yang tak mungkin."
Hana menyipitkan matanya.
"..kenapa kau ingin mengajakku bergabung? Kurasa otakmu sudah miring karena bisa berpikir aku akan menerima ajakanmu. Tidak. Kurasa berpikir mengajakku sudah membuktikan kau sudah rusak."
"Kau sudah tahu alasannya. Kalian Illegal adalah organisasi yang dibentuk untuk menyingkirkan penjabat korup dari balik bayangan. ...meskipun itu semua demi uang, aku merasa kita memiliki banyak kesamaan dalam visi dan tujuan. Aku salah?"
"Jadi kau tahu kebenaran tentang kami?"
Menurut rumor Illegal adalah organisasi yang dibentuk pemerintah untuk melaksanakan misi gelap dengan menggunakan gadis remaja yang dilatih secara khusus, tapi rumor hanyalah rumor yang menutupi kebenaran yang sesungguhnya.
Para Illegal adalah para penyihir wanita yang menjadi korban penculikan, perbudakan, percobaan dan masih banyak lagi. Meskipun mereka sudah bebas dari para musuh, tapi bukan berarti membuat mereka bisa kembali ke masyarakat.
Jika dibiarkan, mereka akan menjadi masalah di kemudian hari. Dan dari situlah muncul sebuah ide.
Kenapa mereka tidak dimanfaatkan saja dengan melaksanakan misi kotor?
Itulah awal lahirnya Illegal Knight, atau Illegal.
Tapi bukan berarti para anggota Illegal mengetahui siapa dirinya sendiri. Seperti apa yang terjadi pada mereka bertiga.
Stella, Hana dan Gyu sebagai Illegal bisa dibilang sebuah kecacatan, tapi dari sisi tujuan dibentuknya Illegal, mereka adalah kesuksesan besar.
"Tentu saja. Kalian cukup terkenal di dunia hitam. Kalian adalah para gadis cantik yang akan melakukan apapun demi misi kalian terwujud, tapi apa kau tahu yang membuatku merasa lucu dengan kalian?"
"..."
"Kalian bertindak dan membunuh dengan alasan keadilan, tapi keadilan yang kalian banggakan hanyalah hasil dari cuci otak yang membuat kalian berpikir berada di pihak kebaikan. Hasilnya kalian menghancurkan diri kalian sendiri dan setelah itu, kalian akan dimusnahkan jika sudah tak berguna. Bukankah ini sedikit ironi?"
"...."
"Tidak, kurasa ini bukanlah ironi yang harus ditangisi. Kalian hanyalah korban dari keegoisan orang dewasa yang disebut sampah terburuk. Jadi, bagaimana? Kami White Sun menyambut kalian bertiga. Dan kali ini kalian akan tak akan bertarung lagi, kalian akan bisa menjalani hidup kalian bagaikan manusia biasa. ...bersama kita bisa mewujudkan dunia yang ideal."
Mivas mengulurkan tangannya dan menunjukan tatapan tulus. Itu tatapan yang penuh kejujuran dari seorang pembunuh kejam dan pemimpin organisasi jahat.
Tawaran Mivas begitu menggiurkan. Apalagi sejak awal ketiganya ingin bebas. Bergabung bukanlah hal yang buruk, tapi-
"Aha ha...."
Bagi Hana, dunia yang ideal tak pernah ada jika dibentuk oleh tangan kotor seperti Mivas.
Hana tertawa kegirangan. Dan itu membuat senyuman Mivas langsung menghilang.
".....apa ada yang lucu?"
"Tidak. Aku hanya berpikir kau sudah terlambat mengajak kami bergabung."
"..?"
"Mungkin jika aku yang dulu aku akan langsung bergabung dengan kalian tanpa pikir panjang. Tapi mungkin kau tak tahu, apa kau pikir sekarang aku, kami bertarung denganmu hanya demi sebuah perintah konyol? Tidak, kami sekarang bebas memilih apa yang kami lakukan. Bukan hanya karena perintah atau uang,-"
"..."
"Kami bebas memilih apa yang ingin kami lakukan dan apa yang ingin kami tuju, ....tapi yang terpenting kami saat ini adalah membunuh orang yang mempermainkan kami selama ini. Dan itu alasan yang cukup."
Mivas menunjukkan tatapan heran tanda tak mengerti apa yang dibicarakan Hana.
Aura keluar dari tubuh Haha, bersamaan dengan tatapan yang penuh semangat bertarung.
"Begitu rupanya. Sayang sekali kalian menolak, .... silahkan kalian mati disini."
"Kau yang akan mati. Ameria Shadow"
Satu persatu bayangan menyerupai Hana muncul dan berbaris. Semuanya bukanlah bayangan biasa, mereka memiliki wujud yang bisa bertarung.
Puluhan Hana bergerak maju dan mengepung Mivas dan magic beast miliknya. Ini adalah salah satu serangan Hana yang memanfaatkan jumlah.
"Marina, Aqua Blast"
Marina mengetik harpa dan dalam sekejap air muncul di sekitarnya dan berputar dengan cepat mengelilingi Marina. Air itu lalu dengan cepat menyerang semua bayangan Hana dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata Hana.
"Kuh!!"
Tubuh Hana sebagian besar terpotong menjadi dua atau lebih sebelum menghilang. Sementara Hana yang asli berhasil selamat dengan bertahan menyilangkan Ame no Habakiri. Tapi kekuatan serangan Mivas lebih kuat daripada yang Hana perkirakan. Tubuhnya terpental jauh ke belakang hingga membentur dinding dengan keras.
"Gu..ah..."
Hana merasakan sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Untuk sesaat kesadarannya menghilang karena rasa sakit.
"Jangan salah paham, aku bisa membunuh kalian dengan mudah jika aku mau. Sayang sekali, aku sebenarnya cukup terkesan dengan kemampuanmu saat berhasil mengalahkan anak buahku dengan mudah. Tapi kurasa kesanku kepada kalian terlalu berlebihan."
Mivas menutup matanya dengan damai. Disaat yang sama, Marina mengetik kembali harpanya dan memainkan sebuah lagu. Lagu yang indah dan mendamaikan hati.
Tapi sebenarnya itu adalah ritual sihir yang diperlukan untuk sebuah serangan sihir yang mematikan.
"Marina, Empress Fallia."
Tubuh para bangsawan perlahan melayang dan berkumpul menjadi satu. Dan setelah itu muncul gelembung air besar yang mengurung tubuh para bangsawan yang sekarat itu.
Sedikit demi sedikit gelembung itu mulai mengecil dan memadatkan tubuh para bangsawan.
"Hen...tikan.."
Tak perlu banyak berpikir. Hana tahu apa yang akan segera menimpa para bangsawan itu.
Dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk bangkit, tapi tubuhnya sulit digerakkan.
(Sial...)
Dengan semua tekadnya, dia akhirnya bangkit. Pandangannya kabur dan darah mengalir deras dari dahinya. Tapi disaat yang sama, dia sudah terlambat.
"Compress."
Dalam sekejap, gelembung air mengecil dan meledak. Darah merah kental menyebar ke semua arah. Hana bahkan terkena hingga dirinya bermandikan darah.
"...ti..dak... tidak... tidak...."
Tangan Hana penuh noda darah. Merah darah yang hangat dan bukti bahwa seseorang baru saja mati.
Disaat yang sama, darah merah kental itu mengingatkannya kepada ingatan saat masa kecil. Ingatan buruk yang ingin terlupakan kini kembali menghantui.
Hana dibesarkan di panti asuhan kecil yang dipenuhi oleh anak kecil seumuran dengannya. Dia tumbuh besar tanpa orang tua, tapi pengasuh di panti asuhan begitu baik.
Meskipun kadang panti asuhan mengalami hal sulit, tapi tak ada yang menyerah dan melaluinya bagai sebuah keluarga. Itu adalah kehidupan yang membahagiakan.
Tapi kehidupan itu tak selamanya bertahan.
Suatu hari dia bermain sendirian di sebuah taman. Matahari mulai senja dan diapun kembali ke panti asuhan dengan senangnya. Tapi saat dia tiba, yang dia lihat adalah kumpulan mayat. Rumah yang dia tinggali berubah menjadi hutan darah.
Pemandangan mayat dimanapun dia melihat. Mayat teman temannya sesama anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Mayat teman bermainnya dan teman dalam suka dan duka.
__ADS_1
Dan disaat menoleh ke belakang, dia melihat sosok dengan pedang di tangannya yang penuh dengan noda darah kental.
Dia akan mati. Itulah yang dia pikirkan, tapi hal itu tak terjadi.
Pelaku dari semua itu berpaling dan pergi dari tempat itu dengan tenang.
Dia takut dan marah. Dia bahkan putus asa dan ingin mati seperti yang lainnya. Tapi dia tak bisa. Dalam dirinya muncul banyak pertanyaan kenapa dia saja yang dibiarkan hidup oleh sang pembunuh.
Air mata darah menetes dari mata Hana. Sampai sekarang dia masih belum tahu kenapa dia dibiarkan hidup, tapi satu hal yang dia ketahui...-
(....aku masih hidup karena aku tak pantas dibunuh..)
Hana perlahan mulai bangkit. Darah yang menyelimuti tubuhnya perlahan menguap oleh energi yang keluar dari tubuhnya.
"Ame no Habakiri..."
Kedua pedang Hana terbang dan mendarat tepat di tangan Hana.
"Ho.. tampaknya kau mulai bersemangat. Marina, Sword Viper."
Marina kembali memainkan musik yang indah, tapi secara bersamaan munculah puluhan pedang transparan yang bergerak cepat ke arah Hana. Setiap kali bergerak pedang itu memotong apapun yang berada di jalurnya.
Hana masih terdiam dan hanya menunggu. Serangan Mivas akhirnya mencapai Hana.
"Matil-"
Mivas terkejut karena Hana sudah tak berada di tempat semula seperti menghilang.
"?!"
Saat sadar, Hana sudah berada di depan Mivas dengan mata pedang yang diarahkan tepat ke matanya. Tapi Hana tak menusuk Mivas, dia menendang dengan sekuat tenaga hingga tubuh Mivas terpental hingga membentur dinding.
Hana tak membiarkan Mivas merasakan rasa sakit atau mengeluh.
Hana menendang lagi dan lagi dengan serangan beruntun, tapi Mivas masih bisa tersenyum meskipun tubuhnya banyak menerima serangan mematikan.
Krak.. krak.. krak..! Dari tubuh Mivas berguguran benda seperti kulit besi. Itu adalah bagian tubuhnya yang terluar.
Ya. Mivas juga cyborg. Bukan cyborg biasa, tapi penyihir cyborg yang langka.
"Hua ha ha ha ha... aku tak menyang ka- Guah!!"
Hana tak peduli dengan apa yang dikatakan Mivas. Dia juga tak peduli siapa Mivas. Pemimpin *******, cyborg, penyihir. Semua itu tak berarti.
Dia terus menendang, bahkan berkali kali memotong tubuh Mavis yang sebagian besar sudah menjadi mesin.
Tatapan Hana tampak kosong dan hanya ada keinginan membunuh yang terpancar dari kedua matanya. Ame no Habakiri seolah menanggapi Hana sehingga menjadi lebih tajam dan kuat. Bagian tubuh Mivas yang lebih kuat dari anak buahnya bagaikan kertas di mata pedangnya.
Mivas tentu sadar jika hal itu terus berlanjut, ...dia akan mati.
"...."
Mivas memerintahkan Marina menyerang melalui Link, tapi Marina tak merespon dan tak bergerak seperti cangkang kosong.
Disaat yang sama, bagian tubuh Mivas mulai tercerai berai. Jika dirinya masih manusia, mungkin ini adalah pemandangan saat merobek organ manusia dalam keadaan hidup.
Perlahan, Mivas mulai tak bisa menggerakan tubuhnya. Hanya wajahnya saja yang masih bisa menunjukkan ekspresi seperti manusia.
"...kep*rat!"
Mavis mengumpat. Dia marah kepada Hana, tapi dia juga marah kepada seseorang yang telah membuat situasi ini terjadi.
Mivas merupakan salah satu dari beberapa percobaan yang sukses. Karena itulah dirinya tahu tak akan mudah kalah dari penyihir biasa. Dengan dirinya yang berubah menjadi penyihir cyborg, dia mempunyai mana yang luar biasa besar. Karena itulah dia tak akan khawatir kehabisan mana setelah menggunakan serangan dengan level Sacred Magic Art berkali kali.
Tapi sebelum sempat dia menggunakan kekuatannya, dia telah dikalahkan oleh pembela kebenaran palsu.
Hana tiba tiba berhenti bergerak. Tentu itu membuat Mivas heran.
(Apa yang terjadi?)
Ame no Habakiri terjatuh dan tubuh Hana bergetar dengan hebat. Darah kemudian mengalir dari mulutnya.
"Kuh..!!"
Gadis yang tampak seperti monster, kini berubah menjadi seseorang yang terluka parah.
(Aku memang menyerang menggunakan serangan yang cukup mematikan, tapi seranganku tak akan memiliki efek seperti ini. ...dengan kata lain...)
Kesadaran Hana perlahan menghilang dan tubuhnya terjatuh ke lantai. Ame no Habakiri masih tetap di samping Hana yang terbaring.
Mivas tersenyum lebar. Situasi memang tak dia sangka, tapi dia tahu gadis itu sudah tak berdaya lagi meskipun dia masih tak tahu apa yang terjadi.
Mivas lalu memanggil bantuan menggunakan komunikasi dari alat komunikasi yang merupakan bagian dari tubuh besinya. Meskipun Hana sudah tak berdaya tanpa alasan yang jelas, tapi dampak serangannya telah membuat dirinya bagaikan seorang bayi.
(Sial...)
Tak berapa lama kemudian, Mivas mendengar suara langkah kaki mendekat. Anak buahnya telah datang.
"Tch.. apa yang kalian lakukan, cepat bantu aku berdiri."
Dua anak buahnya membantunya berdiri. Sedangkan lainnya menyingkirkan tubuh Hana yang sekarat.
"Bagaimana dengan dia? Apakah kita perlu membunuhnya?"
Mivas tak langsung menjawab dan ragu dengan apa yang akan dia lakukan.
"Tidak. Bawa dia. Mungkin dia akan berguna nanti."
Mivas lalu melirik ke salah satu anak buahnya.
"Di antara yang membawa Gate Rel?"
Salah satu anak buahnya menggangguk dan mengambil benda kotak dari sakunya. Itu adalah benda sihir yang memiliki fungsi sihir teleportasi. Tapi hanya memiliki jarak terbatas dan hanya bisa satu arah.
"Cepat kita kembali. Aku harus segera memperbaiki diriku."
"..tapi bagaimana dengan 'kunci' yang kita cari?"
"Apa kalian mau membantah?"
Tatapan yang dingin dan aura yang berbahaya membuat anak buahnya tak berani bertanya lebih lanjut.
Mereka lalu mengaktifkan Gate Rel. Sebuah pintu muncul di depan mereka dan mereka memasukinya satu persatu dengan Mivas terlebih dahulu. Tak berapa lama kemudian, giliran anak buah Mivas yang membawa Hana.
Perlahan tubuh Hana tertelan, tapi di saat itulah..
Boomm...!!!! Dinding di dekat mereka hancur dengan dahsyat dan disaat itulah sosok Kuro terbang dengan kecepatan tinggi mengenai cyborg yang membawa Hana. Puing puing yang bersamanya menghancurkan Gate Rel dan gerbangpun tertutup.
Hana bisa dikatakan beruntung.
Kuro mendarat di lantai dengan keras dan berputar beberapa kali sebelum akhirnya berhenti setelah menancapkan pedangnya ke lantai.
"Kuh!!"
Mulut Kuro penuh dengan darah dan pakainnya compang camping. Beberapa bagian tubuhnya mengalami luka berat yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Tapi dari lubang melesat sosok besi yang melompat dengan kecepatan tinggi. Mata pedang mengarah ke leher Kuro. Kuro berhasil menghindar dengan jarak sehelai rambut. Cruzx menujukan sosoknya akhirnya berhenti dan berdiri di dinding seperti seekor serangga.
Sambil waspada dengan Cruxz yang kini menyerupai monster, dia melihat ke sekeliling dan mengamati tempatnya bertarung.
Dia tak butuh banyak berpikir telah terjadi pertarungan di tempat itu dan banyak yang tewas. Tentu dia juga tahu keadaan Hana yang selamat di antara celah puing puing.
"..."
Kuro tak tertarik dengan Hana. Meskipun dia memiliki hubungan dengannya, tapi itu tak bisa dikatakan hubungan yang kuat. Kuro bisa saja mengorbankan Hana dan memilih bertarung dengan Cruzx.
Tapi Kuro tak bisa melakukan itu. Hatinya yang sudah lama mati tak menginginkan hal itu.
Kuro lalu bergerak menuju ke arah Hana. Cruzx yang sudah menduga hal itu menembakkan ratusan pedang kecil ke arah Kuro dan Hana. Dengan lukanya yang sudah cukup parah, Kuro akan sulit menghindarinya meskipun dia menggunakan teknik accell art miliknya.
"[Gem Arrow]" "[Air Mirage]"
Ratusan panah angin dan panah duri menangkis semua pisau kecil sebelum menyentuh tubuh Kuro. Dari dua arah lalu munculah sahabat terbaik Hana. Stella dan Gyu.
Di belakang Gyu, dua sosok lainnya terlihat. Mereka adalah Jaco dan istrinya, Selisa.
"Jangan berani menyentuh teman kami, monster."
"Sepertinya ada yang ingin cepat mati disini."
Keduanya memancarkan aura yang tak menyenangkan pertanda keduanya sedang marah. Aura itu bahkan tak ditunjukkan saat mereka marah dengan Kuro.
Keduanya lalu mendekat dan berdiri di samping Kuro dengan Merola dan Dwarz.
"...kalian terlambat!"
Kuro akhirnya mendesah lega dan menggunakan pedangnya untuk menahan agar tak jatuh. Dia sudah mencapai batas. Selisa dan Jaco mendekat untuk membawa tubuh Hana ke tempat yang aman.
Cruzx masih terdiam dan mengamati. Dia melirik ke arah Jaco dan istrinya yang merupakan target dalam serangan White Sun.
Tiga lawan satu. Ini adalah pertarungan berat sebelah, tapi bukan berarti mengalahkan mereka bertiga adalah suatu yang mustahil bagi Cruzx. Meskipun itu berarti dia harus menggunakan trump card miliknya.
"....sacred magic art.... "
Pasir hitam kembali berkumpul di sekitar Cruzx. Perlahan semuanya mengambil bentuk.
"...[Knight of Iron Emperor]..."
Dua belas kumpulan pasir besi itu akhirnya selesai mengambil wujudnya. Wujud ksatria besi dengan senjata dan perisai di tangan mereka.
Tak hanya itu, tubuh besi yang menyelimuti Cruzx hancur seperti kaca dan mengambil bentuk armor ksatria seperti pasukan besinya.
"Satu hal yang harus kalian tahu.... "
""Ini adalah pertarungan terakhir!!""
Meskipun Kuro dan mereka tak memiliki ikatan kuat, tapi disaat itulh mereka menyatukan kekuatan mereka untuk melawan musuh terakhir mereka.
Meskipun musuh mereka adalah sang penyihir yang memiliki kekuatan yang cukup pantas dikenal sebagai raja besi.
Di luar gedung. Kota perlahan mendekati kehancuran. Knight yang dikerahkan sebagian besar hanya bisa bertahan. Apalagi dengan Chaos Machina yang memiliki kekuataan setara dengan penyihir peringkat Master atau mungkin lebih kuat. Itu adalah musuh yang tak mudah di kalahkan.
"..Ya ampun..."
Seorang pemuda hanya bisa terbengong dengan apa yang dilihatnya.
"Aku mengerti kenapa mereka menyuruhku kemari...., tapi..."
Dia menunjukan kekecewaannya melalui senyuman masam.
Disaat itulah Chaos Machina menyadari keberadaannya dan menyerang dengan serangan terkuatnya, Cannon Breath. Kota hancur di sepanjang jalur serangan, tapi sosok pemuda itu masih utuh tanpa goresan sedikitpun di pakaiannya.
Knight dan Cyborg hanya bisa mematung dan melupakan pertarungan di antara mereka saat melihat keajaiban yang dilakukan pemuda itu.
"...aku rasa aku akan bermain denganmu sebentar..."
Dari tubuh pemuda itu keluar aura yang luar biasa. Tanah bahkan sampai bergetar karena kekuatan dahsyat yang dia keluarkan.
Tiba tiba pemuda itu tersenyum tipis.
"..kenapa aku tak membuat ini lebih menarik. Akan membosankan jika kalah terlalu mudah."
Aura itu perlahan memudar dan menuju satu titik, yaitu di tangan kanannya.
Chaos Machina menyadari ancaman dan menyerang pemuda itu. Serangan sihir dan peluru ditembakan dari seluruh tubuhnya dengan target pemuda itu.
Tapi pemuda itu terlalu cepat. Dan meskipun dia terkena peluru dan menembus darah dagingnya, pemuda itu justru tersenyum seperti seorang masokis.
"...tidak buruk.."
Dalam sekejap luka pemuda itu pulih dan peluru keluar dari tubuhnya. Hal ini terus terjadi, tapi pemuda itu semakin menikmatinya.
Perlahan pemuda itu sampai di dekat Chaos Machina. Dan dengan senyuman lebar memukul wajah monster itu dengan kepalan tangannya.
"Mati kau!!!!"
Tubuh Chaos Machina terkena telak dan tubuhnya hancur dengan kepingan logam yang hancur dan berserakan seperti keripik kentang. Chaos Machina membentur dinding dengan keras dan akhirnya berhenti bergerak.
Pertarungan akhirnya terhenti sesaat karena kejutan yang terjadi terlalu besar bagi kedua belah pihak. Monster yang sanggup menghancurkan sebuah kota dapat dikalahkan dengan sekali pukulan.
Pemuda itu kembali menunjukkan kekecewaannya. Meskipun dia banyak menahan diri, tapi mengalahkan musuh hanya dengan sekali pukulan sama sekali tak menyenangkan.
Pemuda itu mendesah berat dan akhirnya berbalik. Dia berjalan menjauh dari pertempuran.
Tapi disaat itulah Chaos Machina perlahan mulai bergerak kembali dan bangkit. Tubuhnya yang mengalami rusak berat kembali berfungsi.
Pemuda itu berhenti lalu tersenyum.
"....baiklah, kurasa aku harus menarik perkataanku tadi."
Energi yang besar terpancar dari Chaos Machina. Lalu dengan raungan keras, pertarungan keduanya kembali berlanjut.
Sementara itu Kuro, Gyu dan Stella masih bertarung dengan sengit melawan Cruzx.
Kuro kembali menghadapi Cruzx. Sedangkan keduanya menghadapi pasukan besi Cruzx yang berjumlah 12.
"Kuh!! Stella jangan jauh dariku, tipe lawan kita tak cocok denganmu."
"Aku mengerti, Gyu"
Keduanya saling memunggungi. Saling melindungi dan saling mendukung. Mereka menggunakan Element Art dan sihir lainnya untuk menyerang dan bertahan. Meskipun tak bisa dikatakan efektif, dan beberapa kali menerima serangan, namun semuanya merupakan luka kecil.
Gyu yang merupakan tipe Contraktor sedikit lebih diuntungkan karena dia tak bertarung secara langsung, tapi jumlah yang banyak membuat dia kewalahan. Dwarz hanya bisa menghadapi musuh paling banyak berjumlah 3, sedangkan sembilan lainnya dihadapi mereka berdua, tidak, bertiga.
Selisa membantu dengan menembak dari kejauhan. Normalnya peluru biasa tak akan mempan dengan makhluk yang tercipta dari sihir, tapi Selisa adalah seorang assassin yang tak hanya berpengalaman membunuh orang biasa tapi juga penyihir.
Peluru yang dia gunakan terbuat dari bahan khusus yang mampu menembus sihir. Meskipun tak menghilangkan secara langsung seperti anticristal, tapi itu lebih baik daripada tak ada sama sekali.
Peluru menembus kepala dan tubuh besi kstaria Cruzx, tapi itu hanya menghentikan gerakannya sementara dan musuh kembali menyerang.
"Tch!!"
Itu bukan suatu yang mengejutkan mengingat mereka sejak awal merupakan makhluk yang tak memiliki jiwa.
Tapi dari serangannya itu, Selisa tahu apa yang harus dia perbuat.
"Serang bagian kaki mereka!"
Tak perlu banyak berpikir, Gyu dan Stella mengincar bagian kaki.
Pertama Stella membuat angin besar yang menahan serangan mereka secara bersamaan. Itu hanya beberapa detik saja, tapi itu sudah cukup.
Gyu menggunakan element art untuk menciptakan tombak tanah yang menembus bagian kaki mereka. Tombak kecil, namun kuat karena tebuat dari unsur terkuat tanah yang digabungkan bahan bangunan yang didesain khusus lebih kuat dari bangunan biasa.
Satu persatu tumbang dan disaat itulah Gyu menggunakan serangan terakhirnya.
"Sacred magic art [Gem Breath]!"
Dwarz melompat ke atas tepat di kumpulan ksatria besi dan menembakkan peluru sihir bagai hujan ke arah ksatria besi Cruzx. Hujan itu menembus ke tanah dan membuat semuanya berhenti bergerak, bukan menghancurkannya. Atau lebih tepatnya Gyu tak bisa.
"Mereka lebih pantas disebut pasukan besi abadi..."
Nafas Gyu terengah engah karena sudah hampir menggunakan semua mana yang dia miliki pada serangan terakhir. Dwarz bahkan sudah menghilang karena tak bisa mempertahankan wujudnya.
"Gyu, kau terluka."
"Kau juga sama. Bagaimana dengan tanganmu itu?"
__ADS_1
Darah mengalir deras dari tangan kiri Stella akibat terkena serangan pedang salah satu pasukan besi. Sedangkan Gyu mengalami luka sayatan di bagian kakinya dan punggungnya.
"Aku akan baik baik saja. Ini hanya luka kecil."
"Aku juga sama."
Keduanya lalu berjalan ke arah Selisa dan lainnya. Mereka cemas dengan sahabat mereka yang sekarang tertidur dengan bersimbah darah dari mulutnya.
Jaco yang mengurus Hana tak bisa berbuat banyak karena dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.
"...apakah teman kalian bisa sembuh?" tanya Selisa.
"Jangan kawatir. Hal ini pernah terjadi sebelumnya. Serahkan semuanya pada kami."
Gyu lalu membawa tubuh Hana. Disaat itulah Ame No Habakiri akhirnya menghilang.
Keduanya lalu menatap satu sama lain dan mengangguk secara bersamaaan.
"Kami akan segera pergi dari sini. Sebaiknya kalian melakukan hal yang sama."
"Sejujurnya tak ada alasan bagi kami untuk melindungi kalian atau mempertaruhkan nyawa kami di pertarungan ini. Kami hampir mati karena pertarungan tak berarti, bagi kami itu sudah cukup."
Jaco dan Hana menunjukkan wajah bingung karena tak terlalu mengerti, tapi keduanya paham apa yang mereka maksud.
"Tapi sebelum kalian pergi, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian. Jika bukan berkat kalian bertiga, mungkin kami sudah mati."
Tak ada reaksi. Gyu dan Stella hanya terdiam melewati mereka berdua.
Sudah cukup. Pertarungan itu telah menyadarkan kalau mereka masih belum siap menghadapi pertarungan yang sesungguhnya. Itu bukan pertarungan, tapi perang.
Keduanya perlahan pergi, tapi mereka menunjukkan kemarahan yang tak terlihat oleh mata.
Mereka akhirnya sadar mereka tak ada apa apanya jika dibandingkan dengan orang biasa bernama Kuro.
"Gyu.. aku ingin menjadi lebih kuat.."
Dalam hatinya yang terdalam, Stella tahu dirinyalah yang terlemah dari mereka bertiga. Dia bahkan tak banyak membantu pertarungan.
"..aku juga sama. ... tapi pertama kita harus melakukan sesuatu terhadap bocah nakal ini."
Keduanya melirik ke arah Hana yang seperti mayat. Tapi keduanya tahu, itu hanyalah sebuah efek samping.
"..aku tak ingin melihatnya menggunakan kekuatan terkutuk itu lagi..."
"Un.."
Disaat yang sama, pertarungan Kuro dan Cruzx mulai memuncak. Keduanya bertarung dengan menjauh dari Hana dan lainnya. Selain untuk mencegah korban yang tak diinginkan, hal itu juga karena Kuro ingin mengurangi hubungan (link) Cruzx dengan prajurit besinya.
Setidaknya itulah yang ingin dilakukan Kuro, tapi sejauh ini Cruzx seolah sengaja menjauh dari mereka.
Kuro tak tahu apa alasan Cruzx, tapi itu membuat pertarungan lebih mudah baginya.
"[Iron Smash]!"
"[Log Wall]."
Cruzx mengubah pedangnya menjadi sarung tangan besi yang besar untuk memukul Kuro dengan kekuatan penuh. Sedangkan Kuro bertahan dengan menggunakan pedang tipisnya.
"Kh!"
Kalah dengan perbedaan kekuatan, Kuro terpental ke belakang menuju ke arah dinding, tapi disaat itulah Kuro memanfaatkan kesempatan dengan mengggunakan dinding sebagai pijakan.
"Secret Art [Stormer]"
Kuro berputar dan menyerang menggunakan tusukan. Cruzx bertahan dengan meciptakan perisai. Lalu di tangan kanannya dia menciptakan pedang untuk menebas Kuro.
Kuro menghindar dengan berputar dan menendang tangan Cruzx dengan sekuat tenaga, setelah itu Kuro mencabut pedangnya dan menebas Cruzx dari arah atas.
Dengan cepat Cruzx bertahan menggunakan perisainya, tapi kali ini pedang Kuro berhasil menembus perisai Cruzx. Menyadari dalam bahaya, Cruzx menghindar dengan mundur ke belakang.
"...."
"...."
Keduanya lalu menjaga jarak.
Pedang Kuro kini berlumuran darah karena menembus tubuh besi Cruzx.
Sedangkan Cruzx melirik ke tangannya yang berdarah. Disaat yang sama dia sadar kalau ada yang tak normal dengan lawannya kali ini.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau masih bisa berdiri setelah menerima semua seranganku?"
Ini normal muncul pertanyaan itu. Cruzx sudah berkali kali menyerang dan melukai Kuro, tapi sejauh ini Kuro masih dapat berdiri. Meskipun dia menggunakan tekhnik pedang yang luar biasa, tak mungkin hanya itu saja alasan Kuro masih bisa bertahan.
"Jangan salah paham, aku memang menerima semua seranganmu, tapi bukan berarti itu serangan fatal bagiku."
Perlahan aura tipis keluar dari tubuh Kuro. Cruzx pernah melihat itu sebelumnya.
"?!"
Mata Cruzx menunjukkan keterkejutannya. Dia sadar itu bukanlah mana, tapi sesuatu yang lain.
"Sepertinya kau sudah mengerti alasan kenapa aku bisa bertahan dan menembus tubuh besimu."
Cruzx menggertakan giginya.
"Tapi aku sama sekali tak mengerti kenapa kau menggunakan sihir terkuatmu? Kau pasti sadar jika kau menggunakannya kau akan cepat kehabisan mana. Kupikir orang berpengalaman sepertimu tahu betul resikonya."
"Tentu aku tahu, tapi asal kau tahu, kemenangan bukanlah satu hal yang menjadi tujuanku kali ini."
Kuro menyipitkan matanya.
"Aku sudah tahu itu. Jika kau serius bertarung sejak awal, kau tak perlu melakukan semua ini."
Yang menguatkan dugaan ini adalah tindakan Cruzx yang memilih bertarung sendirian daripada bergabung dengan Mivas atau anak buahnya. Kedua, meskipun Cruzx bisa memilih bertarung dengan kekuatan penuh jika menggunakan pasukannnya, tapi dia tak melakukannya. Ketiga, Kuro tahu bukan hanya itu saja yang bisa dilakukan Cruzx.
"Huh.. seharusnya kau lebih pintar dari ini, tapi ternyata kau masih saja hanya bocah."
"Asal kau tahu, yang kau sebut bocah inilah yang akan membunuhmu..."
Aura kuat dipancarkan Kuro. Dia lalu memasang kuda kuda dengan gaya siap menarik pedangnya.
"Aku tahu bisa saja mati kapan saja, tapi asal kau tahu bocah..-"
Aura besar juga dikeluarkan Cruzx. Aura itu perlahan berkumpul pada satu titik seperti bola mana padat.
Kuro tak gentar dan masih terdiam dalam posisi mencabut pedangnya. Perlahan aura mulai menyelimuti pedang putihnya. Kuat dan semakin kuat.
"..aku selalu menepati janjiku kepada 'mereka' meskipun aku akan mati..."
Cruzx lalu menembakan cahaya itu ke arah Kuro. Cahaya itu melesat bagaikan cahaya yang menembus dinding berlapis lapis dan akhirnya sampai ke luar kota.
Tapi Kuro sudah tak ada. Dia menghindar dengan melompat dan berdiri di sudut atas dinding.
"Cursed Blade Art..,Witch Reaper."
Itulah kata terakhir yang didengar Cruzx sebelum akhirnya dia tertelan kegelapan.
"....."
Pertarungan berakhir dengan Kuro sebagai pemenangnya. Tak ada rasa senang meskipun berhasil mengalahkan musuh. Inilah selalu yang dilalui Kuro dalam setiap pertarungannya.
Dengan tatapan dingin Kuro menatap mayat Cruzx yang sudah tak memiliki kepala. Dia melihat sesuatu dari saku pakaiannya yang kini sudah kembali seperti semula.
Dia mengambilnya dan tahu itu adalah sebuah foto. Foto Cruzx bersama dengan anak anak kecil di suatu tempat.
(Panti asuhan?)
Kuro lalu tersenyum.
Dia tahu apa yang dimaksud dengan sebuah alasan bertarung. Tidak, sejak awal dia tahu Cruzx menjadi seorang pengawal demi membiayai sebuah panti asuhan tempat dulu dia dibesarkan.
Itu alasan yang baik, tapi bagi Kuro-
"...menggunakan alasan seperti itu untuk menyakiti orang lain tidaklah dibenarkan..."
Sama dengan apa yang dilakukannya. Menggunakan sebuah alasan baik untuk menyakiti dan membunuh bukanlah hal yang menyenangkan dan patut dibenarkan.
Lalu untuk apa mereka semua bertarung?
Mungkin itu pertanyaan yang akan Kuro temukan setelah saatnya tiba. Sampai saat itu, dia hanya akan bertarung demi apa yang dia yakini.
Kuro akhirnya melangkahkan kakinya pergi. Pertarungan di luar gedung sudah tak terdengar lagi.
(Sepertinya ada yang sudah menghadapi monster itu..)
Kuro merasa lega karena dia tak harus bertarung lagi. Dia memang bertahan, tapi beberapa tulangnya patah. Selain itu setelah menggunakan Cursed Blade Art dia harus beristirahat cukup lama agar bisa menggunakannya lagi.
"...."
Mayat yang bergeletakan adalah pemandangan yang sering Kuro lihat dalam kehidupannya. Sambil pergi, dia berpikir dengan semua yang terjadi.
White Sun, Kunci. Kuro masih belum tahu apa tujuan musuh yang sebenarnya.
(Kurasa aku harus bertanya kepada Jaco mengenai hal itu..)
Kuro memutuskan untuk menemui Jaco dan istrinya. Dia tak butuh waktu lama untuk menemukan mereka, tapi saat menemukannya, Kuro berhenti dan hanya bisa melihat dari jauh.
Sebuah pedang besar menembus tubuh Selisa. Jaco kehilangan orang yang dia paling dia cintai di dunia hanya bisa menangisi mayat yang perlahan mendingin.
Kesedihan karena orang yang berharga pergi. Kuro paling tahu apa yang dirasakan Jaco, tapi di dunia ini tak ada sihir yang bisa menghidupkan orang kembali.
Kuro mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaga. Dia tak menyesal, tapi jika dia bisa mencegah, kenapa dia tidak melakukannya?
Dia tahu Cruzx adalah penyihir yang kuat dan cerdas, tapi dia tak menyangka Cruzx akan mengambil kesempatan menyerang meskipun dia mati. Pria yang luar biasa. Kuro harus mengakuinya.
Kuro lalu pergi. Dia menghilang dalam kegelapan.
*********
"Dalam pertarungan itu aku tak ingat banyak, tapi itulah yang aku tahu. Setelah itu kamipun memilih untuk tetap menjadi Illegal, tapi kami bekerja pada pemerintah kekaisaran Houou secara resmi. Bukan berarti kami berhenti membunuh, hanya saja kali ini lebih jelas siapa target kami."
"....."
"...."
"...."
Akhirnya cerita panjang telah selesai, tapi banyak pertanyaan yang muncul setelah mendengar semua itu.
"Sayangnya Gyu memilih berhenti. Dia sekarang bekerja di sebuah kafe. Dia terlihat sangat senang dengan pekerjaanya itu. Kami masih menjalin hubungan baik. Lalu tak berapa lama kemudian Amira bergabung dalam tim kami. Lal-"
"Tunggu sebentar. Semuanya tadi tak menceritakan hubungan kalian dengan Kuro. Selain itu, jika Ilelgal adalah pihak baik, kenapa mereka menyerang kota ini dan menghancurkan ku- lupakan itu. Intinya aku tak mengerti hubungannya semua cerita tadi dengan apa yang kita alami beberapa hari yang lalu."
"Charlmilia, bisakah kau bersabar? Biarkan dia selesai bicara."
Charmilia mendesah dan akhirnya mengalah.
"Oh. Maaf jika sedikit bertele tele, tapi hubunganku dengan guru Kuro hanyalah antara murid dan guru. Bahkan kurasa tak bisa disebut seperti itu karena guru Kuro hanya mengajariku beberapa hal mengenai tekhniknya dan teorinya. Meskipun begitu aku sekarang bisa menggunakan Cursed Art meskipun tak sekuat guru Kuro. Dan mengenai orang yang menyerang, mereka adalah mantan rekan kami sesama Illegal. Kurasa mereka bekerja untuk orang jahat sekarang ini."
Perkataan itu membuat keduanya tersentak.
Dari cerita Hana, sistem Illegal yang lama telah diperbaharui dan akhirnya para anggota dirombak ulang. Tapi itu tak menjelaskan bagaimana nasib dari semua rekan Hana yang menjadi korban. Ada yang bebas, tapi ada yang memilih untuk melanjutkan misi mereka sebagai Illegal. Mereka tak begitu tahu.
Hal itu juga memunculkan banyak pertanyaan lainnya. Salah satunya adalah berapa banyak mantan Illegal yang berubah menjadi seperti Silver Viper?
Dan pertanyaan paling penting, apakah mereka bekerja sendiri, atau ada seseorang yang berada di balik semua ini?
Mereka tahu penculikan Lic hanyalah sebuah awal.
Laila tiba tiba berdiri.
"...aku sekarang lega setelah mendengar ceritamu tadi, Hana. Terima kasih, aku merasa beban di pundakku sedikit berkurang. Aku sekarang pamit. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan mentraktir kalian. Pesan makanan sepuas kalian."
"Sepuasnya?"
Mata Amira berbinar binar setelah mendengar kata itu. Sedangkan Hana hanya bisa tertawa kecil karena tahu Amira suka banyak makan. Makan sepuasnya adalah kata yang bagaikan sebuah wahyu baginya.
"Ya. Aku akan bilang kepada pelayan mengenai hal ini, tidak. Kurasa aku tak perlu melakukannya."
Pelayan di restoran sudah memberi tanda mengangguk tanda mengerti.
Setelah itu, Laila menunduk dan pergi dari restoran. Charlmilia yang tak tahu harus berbuat apa akhirnya mengikuti Laila dari belakang.
Laila berjalan menuju rumahnya.
"Kenapa kau mengikutiku, bukankah asrama ada di jalan yang berbeda?"
"Jangan mengatakan dengan nada dingin seperti itu. Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku. Ayolah cepat katakan!!"
Laila mendesah.
"Tak ada yang kurahasiakan, tapi aku rasa kita bisa mempercayai mereka."
"Apa maksudmu?"
"Bukan apa apa. Aku hanya ingin pulang dan bercinta dengan Kuro. Sudah lama aku tak melakukannya."
Perkataan Laila membuat Charlmilia terdiam di tempat seperti tersambar petir.
"Aha ha... "
"Hei.. apa kau sengaja mengatakan itu untuk membuatku iri?"
"..entahlah, tapi kau seharusnya tahu apa yang kumaksud."
"....."
"Kuro hanyalah milikku."
Pertarungan lainnya telah dimulai?
*******
Kegelapan. Tak ada cahaya sedikitpun yang bisa masuk.
Tapi di dalam kegelapan itu sesosok gadis kecil terikat oleh rantai yang berada di sebuah salib besar seperti sebuah pengorbanan.
Gadis kecil itu menutup matanya seolah menghindar dari kegelapan, tapi dalam pikirannya dia melihat hal yang lebih buruk dari semua itu.
Kematian.
Satu kali. Berkali kali, ribuan kali da akhirnya tak terhitung.
Mati dengan satu cara, berbagai cara dan akhirnya cara yang bahkan tak ada yang sanggup memikirkannya.
Satu satunya yang bisa bertahan dari semua itu hanyalah seseorang, tapi bagaimana dengan gadis itu?
Perlahan tapi pasti, gadis kecil itu mulai tertelan. Tertelan oleh sesuatu yang lebih buruk daripada kegelapan.
Sayangnya, hanya satu orang yang mengetahui kebenaran kejadian ini.
"...pa...pa.. ma..ma..."
Air mata menetes dan membasahi batu kecil. Air mata tanda sebuah kesedihan, tapi dia tahu dia tak boleh bersedih. Tak boleh menangis. Dia tahu mereka akan datang.
Itulah ikatan mereka yang sudah terikat oleh benang merah yang dinamakan takdir.
__ADS_1