
Rombongan Riana sudah pergi tanpa Laila sadari. Tindakan ini sedikit tak pantas mengingat mereka berdua adalah teman baik.
Tapi hubungan itu tampaknya dikalahkan oleh suatu yang lain, tepatnya pengganggu.
"Uggg.. kenapa kau selalu mempermainkanku, bodoh.!!!"
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Apa aku salah?"
"Jangan membela diri, bo- ?"
Laila berhenti saat menyadari ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Laila mengambil ponselnya dan melihat pesan yang berasal dari sahabat baiknya, Riana.
"Hmmm?"
Laila sedikit terkejut saat melihat isi pesan. Sebagian besar berisi tentang undangan minum teh di kediaman anggota keluarga kekaisaran yang berada di kota Areshia.
Tapi yang membuat Laila sedikit terkejut adalah isi pesan yang mengatakan ingin membahas pacarnya, Kuro.
"Ada apa?"
"Riana mengundangku makan malam di rumah kediamannya."
"Sekarang?"
"Ya. Padahal dia baru saja sampai, aku berharap dia beristirahat dulu karena perjalanan jauh. Tapi aku tak bisa menolaknya, ja-jadi-"
Kuro tersenyum kecil karena mengerti maksud Laila.
"Pergilah. Aku yakin kau juga ingin menemuinya kan?"
"Tapi, bagaimana denganmu? Kau bisa saja pingsan lagi kan?"
Laila terlihat kawatir dan cemas saat mengingat Kuro tiba tiba pingsan.
"Tenang saja. Berkat bantal paha empuk, aku sudah merasa lebih baikan. Kurasa sebaiknya aku juga segera kembali le sekolah."
"Jangan mengingatkanku. Itu memalukan. ... Tapi jika kau sudah baikan, aku senang karena tak perlu direpotkan lagi olehmu."
"Demi bantal paha empuk, kurasa aku akan pura pura pingsan lagi nanti. He he .."
"Saat kau melakukannya lagi, bukan bantal paha yang kau dapat. Tapi bantal pedangku. A-PA ...KA...U.. MENG....ERTI?!"
Laila terlihat menyeramkan dan sekaligus memerah padam.
Sayangnya Kuro hanya tersenyum kecil saat melihat tingkah Laila.
"Sampai jumpa lagi... "
"Ahh . sampai nanti..."
"Sampai jumpa lagi di tempat tidur..."
"Bffttt... Kau....."
Kuro mengabaikan Laila dan pergi ke arah sekolah.
Sementara Laila hanya bisa mendesah karena diabaikan. Dia lalu melangkahkan kakinya ke kediaman Riana.
Butuh waktu 30 menit untuk mencapainya dengan berjalan kaki, jadi Laila menyewa kereta kuda agar tak terlalu lelah.
Tapi dia tak menyangka akan merasa lelah karena hal lain.
Malam ini cerah dengan sedikit awan. 2 bulan sabit mucul menerangi malam bersama cahaya kecil dari bintang bintang.
"Ha......."
Laila mendesah dalam saat membuka pintu kamarnya.
Dia baru saja kembali dari kediaman Riana. Tapi tak ada tanda dia merasa senang atau bahagia setelah sekian lama tak bertemu.
Itu semua karena apa yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang ingin Laila hindari. Apalagi tentang topik berbau pacar, maupun Kuro.
Tapi dia mendengar suatu yang menarik dari Riana. Tampaknya keluarganya sudah menyetujui hubungannya dengan Kuro.
Bukankah itu melewati beberapa langkah? Dan kenapa mereka bisa seyakin itu dengan Kuro?
Sekarang hampir tengah malam. Kamarnya yang gelap dengan sedikit cahaya rembulan membuat Laila sedikit bisa melihat tempat tidur milik Kuro yang rapi seperti biasanya.
(Dia tidur di tempat entah berantah lagi kah?)
Sambil memikirkan itu, Laila berjalan menuju tempat tidurnya.
Biasanya dia mandi sebelum tidur dan berganti piyama favoritnya, tapi karena dia sekarang merasa ngantuk dan lelah yang luar biasa, akhirnya dia melepas seragamnya di lantai dan menyisakan pakaian dalamnya saja.
Dengan perlahan dia merebahkan tubuhnya di ranjang dan memakai selimut.
Meskipun mengantuk, dia tak langsung menutup matanya saat mengingat kembali kunjungannya.
(Karena sudah lama bertemu, aku kira kami akan membahas sesuatu yang lebih menarik, tapi kenapa dia justru membahas si Bodoh(Kuro) itu selama berjam jam?)
"Haaa..."
Laila mendesah, lalu memejamkan matanya dan tertidur.
Punyuuuuuu...
"?!"
Tapi mata Laila tiba tiba terbuka lebar saat menyadari ada sesuatu yang meremas dadanya. Tak hanya itu, dia juga merasakan sesuatu menindihnya.
Lalu, tiba tiba selimutnya bergerak seolah olah ditarik oleh sesuatu.
"Jangan bilang!"
Laila bangun dan langsung menarik selimutnya. Disaat yang sama dia menciptakan bola api kecil yang membuat dia bisa melihat dengan jelas.
Dan yang dia lihat adalah.....
"Ku-Kuro!!!"
Dia melihat Kuro tertidur pulas tanpa memakai baju.
Disaat itulah wajah Laila langsung memerah padam dan api yang dia ciptakan tadi menjadi tidak stabil.
"Ka-Kau.. kenapa tidur di ranjangku?"
Tak ada reaksi. Kuro masih saja tertidur pulas. Kuro kadang menggumankan sesuatu, tapi Laila tak dapat mendengar gumanan Kuro.
Menyadari percuma saja berteriak, Laila mendesah dalam.
"Kurasa aku harus tidur di ranjangmu kah?"
Tak ada pilihan lain. Hanya itulah cara agar masalah cepat selesai.
Dia juga menyadari jika terlalu mempermasalahkan hal ini, itu akan mengganggu. Tapi yang terpenting adalah dia tak mau ada yang melihat dia di ranjang berduaan dengan Kuro tanpa memakai apapun.
Laila lalu turun dari ranjang, tapi-
"Eh?"
Dia menoleh ke arah Kuro saat tangannya tiba tiba digenggam Kuro. Yang membuat Laila terkejut adalah Kuro masih tertidur.
"Kur- Whaaa..!?!"
Tiba tiba Kuro menarik Laila dan membuat Laila terjatuh di ranjang.
Setelah beberapa saat, Laila menyadari kalau wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa cm saja.
"Eh?"
Disaat masih terkejut, Laila dikejutkan lagi oleh tangan Kuro yang memeluk tubuhnya dengan erat.
Dia sekarang tak bisa kabur.
Wajah Laila langsung merah padam karena ini baru pertama kalinya dia tidur sedekat itu dengan laki laki selain dengan kakak dan ayahnya.
Dan hanya memakai pakaian dalam. Ini akan menjadi masalah besar jika ada yang melihat mereka.
"Kuro.. lepaskan! Jika seperti ini terus..."
Laila mencoba memberontak dan berusaha melarikan diri, namun pelukan Kuro justru semakin erat.
"Kuro, jika kau tak mele- eh?"
__ADS_1
Disaat itulah Laila menyadari kalau tubuh Kuro begitu dingin.
Laila sekarang mengerti kenapa Kuro memeluknya. Kuro sedang mencari kehangatan.
(Kenapa aku tak pernah bisa marah kepadamu?)
Laila akhirnya hanya mendesah kecil. Dia akhirnya memutuskan untuk menjadikan malam itu sebuah pengecualian.
Dia tahu Kuro sedikit aneh hari ini.
Laila lalu memejamkan matanya dan tidur di pelukan Kuro.
"Selamat malam, Shiro.."
Entah mengapa, Laila tertidur lebih lelap dari biasanya.
Pagi telah datang. Cahaya mentari yang silau membuat Laila terbangun dari tidurnya. Dia masih merasa lelah dan mengantuk, tapi dia tak boleh tidur karena dia harus bersekolah.
"....um?"
Saat bangun, dia menyadari Kuro sudah tak berada di sampingnya lagi.
"Dia itu...., lihat saja nanti, aku mengintrograsinya sampai menjadi debu."
Dia kesal dan marah karena Kuro pergi seenaknya lagi. Setidaknya dia ingin tahu penjelasan kenapa Kuro tidur di ranjangnya.
"Umm? Huuhhh..?!"
Laila sedikit terkejut saat melihat jam. Dia menyadari kalau hampir terlambat masuk sekolah.
Dia langsung bangun dan menuju kamar mandi, tapi dia berhenti saat melihat catatan kecil di mejanya.
Dia mendekat lalu membacanya.
[Jika kau ingin tidur denganku, kenapa tak bilang? Aku akan dengan senang hati tidur bersamamu kapanpun. Tapi kuharap kau tak menyelinap lagi. Dasar gadis yang tak mau jujur..]
Ditambah dengan sebuah gambar lelaki berambut hitam yang tersenyum.
Setelah membaca itu, kerutan muncul di dahi Laila. Wajahnya memerah karena marah.
Kertas yang bertuliskan itu tiba tiba terbakar menjadi debu.
"A-AKAN KUBAKAR KAU...MESUM."
Aura merah kehitaman panas muncul di tubuh Laila. Satu hal yang pasti, itu adalah pertanda jiwa iblis Laila bangkit dari tidurnya.
Laila akhirnya terlambat. Tapi dia tidak peduli. Dia berjalan di lorong sekolah sendirian dan kadang bertemu guru.
Sebagai guru, mereka akan memperingatkan Laila agar tak terlambat, tapi mereka langsung berkeringat dingin saat melihat aura mencekam dari Laila.
Lailapun sampai di pintu kelasnya. Berkat pintu otomatis, dia tak perlu repot membukanya.
"Laila, kau ja- Ekk!"
Otome tak berani melanjutkan kata katanya saat melihat Laila yang begitu menyeramkan. Tak hanya Otome, seluruh teman sekelasnya juga berkeringat dingin saat melihat Laila begitu menyeramkan.
Ini adalah pertama kalinya Laila seperti itu.
Dan mereka semua juga tahu satu satunya orang yang mampu membuat Laila seperti itu.
(Dia akan mati.)
(Si bodoh itu akan hangus kali ini.)
(Kuro semoga kau selamat.)
Dan masih banyak lagi, tapi intinya sama, yaitu mendoakan keselamatan Kuro.
"Ada apa O...tome..?!'
Laila menjawab pertanyaan Otome saat menuju ke bangkunya dengan nada menyeramkan. Laila benar benar menyeramkan.
"Ti-tidak. Cepat kau duduk."
"..........."
Pelajaran hari itu akhirnya dimulai dengan suasana mencekam.
Sayangnya, orang yang menjadi dalang dari semua ini tak berada di kelas. Ya. Ini adalah hari keempat Kuro tak bersekolah.
Laila mengetahui hal ini dan terkejut.
Dan akhirnya suasana semakin bertambah mencekam di kelas 1-2.
-Di tempat lain, gerbang barat kota Areshia.
Para penjaga pintu gerbang sedang waspada saat memeriksa orang yang memasuki kota. Sekarang pemeriksaan 3 kali lebih ketat karena tak ingin kejadian seminggu yang lalu terulang kembali.
Sayangnya, hari ini penjaga itu dikejutkan oleh tamu yang tak terduga, yaitu seekor naga merah sebesar 3 meter dan seorang gadis kecil yang menungganginya.
Semua penjaga itu tahu bahwa gadis kecil itu bukan gadis biasa, jadi mereka berkeringat dingin. Bahkan ada yang mengarahkan magic arm kepada gadis itu. Ada juga magic beast yang berupa anjing abu abu.
"Kalian orang tak berguna memang selalu seperti ini.."
"Apa katamu?!"
Salah satu penjaga tak senang saat mendengar gadis itu menghinanya.
"Hmmph!!"
Gadis itu mengabaikan semua penjaga dan mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Itu adalah sebuah kertas yang digulung.
Gadis itu lalu menunjukkan isi kertas itu kepada semua penjaga.
Mata semua penjaga langsung melebar saat mengetahui isi kertas itu.
"Ma-maafkan ketidak sopanan kami. Silahkan masuk."
"Haa.... "
Gadis itu mendesah dalam dan cemberut.
"Rhubya, Ayo kita pergi."
Naga merah itu melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang yang cukup lebar.
Setelah memasuki pintu gerbang, gadis itu langsung menjadi pusat perhatian karena menunggangi seekor naga.
Banyak yang kabur dan terlihat ketakutan. Hal ini wajar mengingat mereka masih trauma dengan naga yang menyerang kota seminggu yang lalu.
Tapi disaat yang bersamaan mereka tahu kalau naga diperbolehkan masuk, berarti naga itu sudah jinak atau ada seorang Dragon Rider yang memasuki kota.
"Wahhh.. kota besar memang berbeda. Ku ku...."
Yui tersenyum senang karena akhirnya dia tiba di kota Areshia setelah terbang selama lebih dari 3 hari.
"Kakak, aku dat-Whaa.. "
Yui terkejut saat Rhubya berlari menuju ke sebuah toko daging.
Tentu tindakan yang tiba tiba membuat penduduk di sekitarnya panik dan ketakutan, terutama penjual di toko daging.
"Aku tahu kau lapar, tapi jangan bergerak tiba tiba!"
Setelah mendesah kecil, Yui turun dari punggung Rhubya dan masuk ke dalam toko.
Sementara itu, di luar kota Areshia. Hutan dekat danau Limph.
"Uhh... Haahh..."
Seseorang muncul dari bawah tanah. Tepatnya dari sebuah batu yang digeser dari bawah tanah.
Orang itu memakai jubah hitam yang menutupi seluruh kepala dan tubuhnya, tapi dari tangan dan suaranya, dapat diketahui bahwa dia seorang gadis.
Gadis itu melirik ke sekeliling untuk melihat ada orang yang melihatnya atau tidak. Hanya ada pohon karena hutan itu cukup lebat.
"Fu fu."
Dia tersenyum kecil lalu keluar dari bawah tanah.
Setelah keluar dia sedikit mendengar sesuatu dari pepohonan yang cukup lebat, namun dia tak melihat apapun.
(Perasaanku saja kah?)
Gadis itu menepuk nepuk jubahnya untuk menghilangkan kotoran yang melekat. Setelah bersih, gadis itu berjalan menelusuri hutan.
__ADS_1
Lalu sampailah di pinggir hutan. Dia dapat melihat danau Limph yang luas dan melihat dinding tinggi yang terletak cukup jauh.
Disaat itulah dia menyadari kalau dia telah jauh dari kota Areshia. Dan dia sadar kenapa begitu lelah.
"Apa aku tersesat? Hm?"
Gadis itu sedikit terkejut saat melihat seorang lelaki berambut hitam berdiri di pinggir danau tanpa memakai baju.
Wajah gadis itu langsung memerah saat melihat itu, namun dia sedikit penasaran kenapa laki laki itu berada di sana.
"Eh... Kalau tidak salah, dia kan..."
Gadis itu melihat pedang bersarung hitam yang berhiaskan lonceng disandarkan pada sebuah batu. Seragam sekolah juga tergetak di samping pedang.
"Apa yang dilakukan pacar Laila disana? Eh?"
Gadis itu terkejut saat melihat benda memantulkan cahaya berada di tangan lelaki itu. Itu adalah sebuah pisau kecil yang terbuat dari Magilium.
Lelaki itu lalu meletakkan pisau itu di mulutnya lalu melompat ke danau.
".................................."
Gadis itu tak bisa berkomentar melihat itu. Namun setelah beberapa saat, air danau tiba tiba berubah menjadi merah.
"Jangan bilang dia..."
Gadis itu memikirkan kejadian terburuk yang menimpa lelaki itu.
Tapi gadis itu tak punya waktu untuk memikirkan keadaan lelaki itu saat mendengar suara keras dari pohon.
"?!"
Gadis itu terkejut saat mendengar sesuatu di belakangnya. Tak hanya itu dia juga merasakan makhluk besar berada di belakangnya.
Dengan perlahan dia menoleh ke arah belakang.
"Eh?!"
Dia melihat naga hitam kelam bermata merah sudah membuka mulutnya dan bersiap menerkamnya.
"KYAAAAAAAAAA!!!"
Teriakan terdengar. Burung burung berterbangan karena ketakutan.
Gadis itu belum mati. Dia tersungkur ke tanah dan melihat naga hitam itu sedang menerkam seekor Reiwolf.
Reilwolf dikenal sebagai monster yang mampu menyerang menggunakan listrik untuk melumpuhkan mangsanya. Selain itu, Reiwolf juga dikenal sebagai monster yang ahli bersembunyi.
Menyadari naga itu ternyata menyelematkannya, gadis itu menghela nafas dan meregangkan bahunya.
Tapi gadis itu merasa ngeri saat melihat naga hitam itu memakan Reiwolf dengan sekali telan.
Grrrrrrrrrrr.....
Naga itu meraung dan membuka mulutnya lebar lebar lagi.
"Eh?"
Gadis itu mendapatkan firasat kalau naga hitam itu sekarang berniat memangsanya.
Secara alamiah, gadis itu mundur, namun dia berhenti saat membentur sebuah pohon. Dia tak bisa lari.
"Laiko, kenapa kau rakus sekali?"
"Eh?"
Gadis itu dikejutkan oleh suara seorang laki laki. Gadis itu langsunh menoleh ke sumber suara dan melihat seorang lelaki membawa ikan Rellfish sebesar tiga meter di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang seragam dan sebuah pedang.
Laki laki itu berjalan mendekat lalu melempar ikan Rellfish ke atas. Di saat yang hampir bersamaan, dia menarik pedang dari sarungnya dan memotong ikan dengan kecepatan yang tak bisa dilihat mata.
Sebongkah daging sebesar 50cm jatuh dan ditangkap oleh pemuda itu, sebentara sebagian besar ikan masih utuh dan jatuh di depan Laiko.
Grrrr....
Laiko terlihat senang lalu melahap ikan Rellfish dengan rakus.
"Heii.. jangan makan dulu, cepat bakar kayu itu!"
Laiko berhenti makan, lalu mengeluarkan api kecil ke tumpukan kayu kering yang terletak cukup dekat.
"Aku senang kau menurutiku, tapi tunggu aku menyusunnya dulu."
Kuro hanya bisa mendesah. Setelah itu dia menuju ke api unggun dan sedikit merapikannya.
Kuro dengan cepat menusuk daging ikan yang sudah dia potong menjadi kecil dan membakarnya. Dia juga menaburkan beberapa bumbu yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Sekarang yang dia lakukan hanyalah menunggu daging matang.
"......................................Apa yang terjadi disini?"
Gadis itu bertanya kepada dirinya sendiri karena melihat kejadian aneh di depannya.
"Ahh... aku lupa kau ada di situ, nona?"
"Eh?"
(Dia lupa?)
Gadis itu sedikit terkejut saat mengetahui ternyata Kuro melupakan keberadaannya.
"Nona, apa kau sudah makan? Jika belum, apa kau mau?"
"Hmmmm?"
Gadis itu sedikit tak mengerti, namun dia paham kalau Kuro menawarkan ikan yang sedang dia masak.
"Ah... Tidak. Aku su- "
Groaoaoaoooooaaao...
Suara keras terdengar dari perut gadis itu.
Gadis itu langsung menunduk karena malu.
Melihat itu Kuro tersenyum kecil.
"Nona, aku tak menaruh racun di makananku, tapi jika kau tak mau, aku tak akan memaksamu."
"..............."
Gadis itu menunduk, tapi dia mendekat ke arah Kuro.
"Ba-baiklah, tapi pakailah bajumu!!"
"Mu?"
Kuro masih belum memakai bajunya. Namun dia segera memakai seragamnya setelah mengetahui gadis itu ternyata malu saat melihat tubuhnya.
Gadis itu duduk sedikit jauh dari Kuro. Kadang gadis itu melirik ke arah Laiko yang sedang makan ikan.
Aroma sedap dan lezat tercium di udara. Itu pertanda ikan sebentar lagi matang.
Disaat itulah suara monster lapar terdengar dari perut gadis itu, sementara itu Kuro hanya terdiam dan fokus melihat ikan agar tak gosong.
"Yosh.. sudah matang. Nona, silahkan. Hati hati masih panas."
Kuro menyerahkan 3 tusuk ikan kepada gadis itu. Gadis itu menerimanya dengan kedua tangannya.
Sementara itu Kuro meniup ikan agar tak terlalu panas, lalu dengan cepat memakannya.
"..............."
(Mungkinkah dia makan terlebih dahulu untuk meyakinkanku bahwa tak ada racun?)
Tidak. Gadis itu melihat Kuro makan dengan lahap dan cepat. Tenyata Kuro juga sedang lapar.
"........."
Gadis itu melirik ke arah daging ikan yang cukup besar dan berwarna coklat. Sekilas terlihat biasa biasa saja, namun aroma lezat tercium.
Gadis itu dengan perlahan menggigit sedikit daging ikan untuk merasakan rasa ikan.
"?!"
Mata gadis itu terbuka lebar, namun setelah beberapa saat, gadis itu langsung makan ikan dengan cepat seperti Kuro. Tidak. Bahkan lebih cepat.
__ADS_1
Menyadari kecepatan makan gadis itu, Kuro tersenyum kecil dan memberikan beberapa tusuk ikan lagi.
Nona yang rakus.