
Satu bulan berlalu sejak pertemuan kedua dengan lelaki bertopeng aneh itu.
Rumor tentang dirinya sudah memiliki pacar juga sudah hampir tak terdengar lagi. Akhirnya Laila dapat menjalani kehidupan sekolah normal seperti biasanya.
Hari ini pelajaran sekolah adalah belajar sendiri atau pelajaran bebas karena guru tiba tiba ada urusan mendadak.
Laila dan 3 temannya, Aleca, Mitra, dan Sella memutuskan untuk berlatih di lapangan latihan yang terletak di barat daya sekolah Shiryuu Academy.
Tempat latihan itu merupakan lapangan seluas 10 km persegi yang ditumbuhi rumput subur dan beberapa pohon yang cukup rindang.
Banyak kawah di berbagai tempat sebagai bukti bahwa tempat ini sering digunakan untuk melatih magic art.
Di tengah lapangan ada sebuah danau kecil yang biasa dipakai untuk melatih magic art elemen air, dan tentu saja di danau itu ada ikan Rellfish yang digunakan sebagai sasaran latihan.
Kejam kan?
Cuaca masih belum terlalu terik karena matahari belum terlalu tinggi, jadi ini adalah waktu yang cocok untuk berlatih.
Setelah berganti seragam olahraga yang biasa digunakan untuk berlatih, Laila pergi duluan ke tempat latihan karena 3 temannya masih belum selesai berganti pakaian.
Pakaian olahraga mereka adalah jersey yang menutupi seluruh permukaan kulit, meskipun begitu, bahan yang tipis dan ringan membuat seragam tetap nyaman dipakai.
Hal ini juga untuk menghindari luka serius saat berlatih sihir.
"Whaaaa... cuaca hari ini cerah sekali....."
Laila sampai di tempat latihan terlebih dahulu dan mulai melakukan pemanasan. Pemanasan penting agar tubuh tak kaku saat berlatih.
Tapi di tempat latihan tak ada siapapun.
Ini cukup wajar karena tempat latihan ini sebenarnya jarang digunakan. Jika digunakan, paling cuma ada satu kelas yang melakukan latihan dalam satu hari.
Duel antar siswa lebih populer dan para guru juga mendukung hal ini, jadi tak aneh kalau tempat latihan itu jarang dipakai.
Tapi bagi Laila, duel bukanlah satu satunya cara untuk bertambah kuat. Selain itu, duel penuh dengan aturan sehingga berbeda jauh dengan pertempuran nyata.
Setelah melakukan pemanasan, Laila berlari kecil ke arah danau.
Dia berhenti di pinggir danau dan memanggil magic arm miliknya.
"Scarflare."
Dua pedang merah membara muncul di kedua tangan Laila.
Magic arm milik Laila sebenarnya cukup langka dan unik jika dibandingkan Magic Arm pada umumnya.
Scarflare adalah pedang api yang tak terhitung. Ini tidak normal mengingat biasanya penyihir hanya mempunyai 1 atau 2 magic arm.
Sampai sekarang ini adalah misteri kenapa wujud magic arm milik Laila seperti itu, tapi berkat itu, dia tak perlu cemas dengan batas jumlah magic arm yang dia panggil selama dia memiliki energi sihir.
"Hya!!"
Laila mengayunkan kedua pedangnya dan melatih teknik pedang ganda yang masih belum dia kuasai.
Dia mulai berlatih teknik pedang ganda karena sedikit merasa sia sia bisa menciptakan pedang jumlah terbatas, tapi hanya menggunakan satu.
Meskipun begitu, teknik pedang ganda lebih sulit daripada yang dia pikirkan.
Jika satu pedang, dia akan mampu bertarung dengan mudah, tapi jika menggunakan dua pedang, entah mengapa dia justru kacau atau belum menemukan tekhnik yang cocok.
Jika ada teman atau guru yang mempunyai magic arm berupa pedang ganda, dia akan tertolong, tapi magic arm tipe ini cukup langka. Apalagi mereka belum tentu memberi tahu Laila karena memberi tahu teknik, sama saja memberi tahu kelemahan mereka.
"Ha!"
Laila mengayunkan pedangnya secara horizontal, diagonal dan vertikal beberapa kali. Kadang dia juga melompat sambil menebas.
Tapi entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang kurang. Tapi apa itu?
"HA...ha... ha..."
Keringat sudah mengalir deras.
Teknik pedang ganda lebih banyak menguras stamina daripada menggunakan satu pedang. Jika dia tak menangani masalah dasar itu, mustahil dia bisa menguasai teknik pedang ganda.
Meskipun begitu, dia memutuskan untuk terus berlatih.
"Hya!! "
Dia mengayunkan pedangnya, tapi-
"Huh?"
Scarflare di tangan kirinya sudah tak ada di gengamannya.
Kemana Scarflare yang satunya pergi?
Buuuk.
Disaat kebingungan dia mendengar suara benda terjatuh yang berasal dari pohon besar yang tak jauh di belakangnya.
Itu bukan benda, itu adalah manusia.
Dan manusia itu adalah pemuda bertopeng yang selalu memakai jubah.
Pemuda itu menepuk nepuk tubuhnya beberapa kali untuk menghilangkan kotoran saat terjatuh dan tangan kiri pemuda itu menggengam pedang merah, Scarflare.
"Ya ampun, apa kau ingin membunuhku? Apakah aku berbuat salah kepadamu, Nona?"
Pemuda itu mengeluh. Dia tak menyangka bertemu dengan gadis itu untuk ketiga kalinya.
"Maaf, aku tidak sen-Hey bukankah aku yang seharusnya bertanya kenapa kau ada di sini?"
"Haaa... kenapa aku selalu sial saat bertemu denganmu?"
"Ugg."
Laila sadar apa yang dikatakan pemuda itu benar, tapi itu tak menjawab pertanyaannya.
"Aku cuma tidur di atas pohon, tapi aku terbangun gara gara sebuah pedang hampir mengenai kepalaku. Jadi apa alasanmu menyerangku kali ini?"
".............."
Laila terdiam dan berpikir.
"Aku cuma kelelahan dan tak sengaja melempar pedangku. Itu saja. Jadi maafkan aku!"
Laila mengakui kesalahannya dan menunduk sebagai permintaan maaf.
"Baiklah, akan kumaafkan. Tapi kuharap ini yang terakhir kalinya karena aku bisa saja menganggapmu musuh dan tak sengaja menyerangmu."
Pemuda itu tersenyum, tapi perkataannya sedikit membuat Laila takut.
"Ha... "
Laila mendesah. Dia lalu berjalan melewati pemuda itu dan duduk di bawah pohon untuk beristirahat.
Pemuda itu juga ikut duduk di bawah pohon tak jauh dari Laila.
"Jadi kenapa kau ada disini? Apa kau tak tahu ini adalah tempat latihan Shiryuu Academy? Jangan jangan kau ini.... mata mata?"
Hanya itu yang terpikirkan oleh Laila, jika bukan mata mata, kenapa pemuda itu ada di tempat seperti ini?
"Mata mata? Hmmm... Itu benar, tapi juga salah."
"Eh?"
Laila tak terlalu mengerti, namun dia sudah memegang erat Scarflare untuk berjaga jaga jika pemuda itu adalah musuh.
"Tenang saja. Aku hanya pernah menjadi mata mata, hanya itu. Aku bukan musuhmu, yang kumaksud adalah aku menjadi mata mata negeri ini."
"Kau benar seorang mata mata. Hey mana ada orang yang percaya?"
"Justru karena tak ada yang percaya, maka aku menjadi mata mata."
"Eh?"
Laila menyadari apa yang dikatakan pemuda itu memang benar. Justru karena tak ada yang percaya, maka itu menjadi alasan yang sempurna agar tak dicurigai musuh.
Tapi bukankah itu pekerjaan berbahaya?
Apakah pemuda itu berbohong?
"Yahhh... itu pekerjaan yang memalukan, jadi aku tak mau membahasnya. Lagipula aku hanya melakukannya sekali, jujur saja itu membuatku trauma sampai sekarang."
"Apa kau serius?"
"Ya. ....Sudahlah. Aku tak ingin membahasnya."
Laila tertawa kecil saat mendengar pemuda itu.
Pekerjaan itu pasti sangat menakutkan.
"Lalu kenapa kau ada disini?'
"Cuma kebetulan. Aku sedang mencari makan malam dan menemukan danau ini. Karena kekenyangan dan mengantuk, jadi aku tidur dan ada seorang yang membangunkanku dengan sebuah pedang."
"Aha ha.."
Laila tertawa pahit, namun setelah beberapa saat, dia menyadari kalau ada sesuatu yang aneh.
"Makan malam? Kenapa kau mencarinya disini dan bukannya di kota? Kau punya uang kan?"
"Kau ini mengatakan seolah olah aku tak punya uang. Dengar, aku punya uang, tapi ada di bank, jadi terpaksa aku mencari makan malam disini."
"Kau tidak punya uang kan?"
".........."
Secara teknis, pemuda itu memang tak punya uang saat ini.
Pemuda itu akhirnya menunduk lemas dan terdiam.
Dia tak bisa berkata apa apa lagi.
Keheninganpun tercipta untuk beberapa menit dan hanya terdengar hembusan angin yang cukup kencang.
Nyaman dan tenang. Itulah yang mereka rasakan saat ini.
"Hmmm?"
Saat menoleh ke arah lain, Laila dikejutkan oleh beberapa sisa api unggun tak jauh dari tempatnya duduk. Tak hanya itu, dia juga menemukan kepala ikan Rellfish yang terpotong.
(Jangan bilang makan malam dia adalah ikan?)
"Aha ha..."
Laila tersenyum kecut, tak berapa lama kemudian, dia berdiri.
Rasa capek sudah sedikit menghilang. Jadi dia berniat melanjutkan latihannya lagi.
(Kenapa mereka bertiga lama sekali?)
Laila tak mengerti. Seharusnya mereka bertiga sudah sampai sejak tadi. Apa terjadi sesuatu?
"?"
Pemuda itu melirik Laila yang berdiri dan memasang kuda kuda.
Disaat itulah pemuda itu melihat pedang baru muncul di tangan kiri Laila.
__ADS_1
"Heeeehhh...pedang ganda kah?"
Pemuda itu tersenyum saat melihat Laila berlatih.
Tapi setelah beberapa saat, pemuda itu menyadari bahwa teknik Laila sedikit tak seimbang.
"Nona, apa kau mau aku menjadi latih tandingmu?"
Pemuda itu berdiri dan menawarkan dirinya menjadi teman latihan Laila.
Disaat itulah Laila berhenti bergerak dan menaikkan alisnya seolah berkata "Apa katamu?".
"Latih tanding? Apa kau yakin? Bukankah kau buk-"
"Bukan penyihir? Itu benar, tapi blade art tak ada hubungannya dengan penyihir atau bukan penyihir kan?"
"...................... Ya kau benar." Ucap Laila sambil tersenyum. "Baiklah. Kau boleh menjadi lawanku, tapi jangan menangis saat kau terluka."
"Iya iya. Tapi sebelum itu, pinjamkan aku satu pedangmu lagi. Dengan begitu, aku bisa menunjukkan teknik pedang ganda."
"Eh?"
Terkejut.
Ya. Itu adalah reaksi Laila. Tidak hanya Laila, pasti semua orang akan terkejut jika mendengar permintaan pemuda itu.
Laila terkejut bukan karena pemuda itu menyadari bahwa magic arm milik Laila berjumlah lebih dari tiga. Yang menjadi masalah adalah pemuda itu meminta Laila meminjamkan Scarflare.
Apakah pemuda itu bodoh?
magic arm atau magic beast hanya bisa digunakan oleh penyihir yang menciptakannya, dan jika mencoba memakai magic arm atau magic beast milik penyihir lain, maka akan terjadi penolakan atau akan langsung menghilang. Hal ini karena wujud sihir adalah perwujudan dari jiwa penyihir, tapi-
Pemuda itu bisa memegang Scarflare.
Ini tidak normal.
"Apa kau tak mau meminjami aku?"
"Ah.. tidak. Bukan begitu, aku hanya heran kenapa kau bisa menggunakan Scarflare."
"Entahlah. Aku bisa menggunakan semua magic arm tapi aku tak bisa menggunakan magic beast.. Itu saja. Jadi....?"
"............."
Laila terdiam dan tak bisa berkata apa apa.
Apakah pemuda itu berkata jujur?
Atau dia bisa melakukannya karena menggunakan trik tertentu?
Tapi tangan yang menggenggam Scarflare adalah tangan kosong.
Siapa pemuda itu sebenarnya?
"Baiklah. Tangkap!"
Laila melempar Scarflare di tangan kanannya ke pemuda itu, lalu menciptakan Scarflare baru di kedua tangannya. Sekarang dua pengguna pedang ganda siap bertarung.
Tapi disaat itulah 3 teman Laila datang dan membawa beberapa makanan dan minuman.
Inilah alasan mereka lama.
"Hmm.. apa yang kita lewatkan?"
Aleca dan Mitra menggelengkan kepalanya saat melihat pemuda bertopeng putih dan Laila bersiap bertarung.
Keduanya saling memasang kuda kuda. Perbedaannya adalah kuda kuda kanan Laila berada sedikit ke depan, sedangkan pemuda itu sejajar.
(Dia...)
Laila menyadari bahwa pemuda itu pengguna blade art dari cara memegang dan kuda kuda yang kokoh. Laila akhirnya mengerti kenapa pemuda itu menawarkan diri menjadi latih tandingnya.
Meskipun bukan penyihir, Laila tahu pemuda itu kuat. Tapi seberapa kuat?
(Ini kesempatan yang bagus untuk mencari tahu.)
Laila tersenyum, disaat yang bersamaan, dia menendang tanah dan maju.
Pemuda itu juga maju.
"Hyaa!''
Laila menyerang dengan pedang di tangan kanannya.
Tapi pemuda itu berhasil menahan dengan kedua pedangnya
"Nona, inti dari pedang ganda adalah keseimbangan kekuatan tangan kiri dan tangan. Jika kau hanya menggunakan salah satu tanganmu sementara kau memegang dua pedang, maka kau tak ada bedanya dengan menggunakan satu pedang."
"Eh?"
Laila terdorong mundur beberapa meter.
Hanya dengan sekali adu pedang. Laila tahu tenaga, kecepatan, teknik pemuda itu jauh di atas Laila.
"Tak hanya itu, kau harus bisa menyelaraskan teknik pedangmu agar bisa menggerakkan dua pedang secara harmonis. Hanya ini yang bisa kusampaikan, tidak, satu hal lagi. Latihlah tangan kirimu. Setelah tangan kirimu mempunyai kekuatan yang sama dengan tangan kananmu, barulah kau mulai latihan teknik pedang ganda lagi."
".......Begitu rupanya. Jadi itulah alasan kenapa aku bisa melepaskan Scarflare tadi."
"Ya. Begitu- ?"
Pemuda itu tiba tiba dikejutkan oleh getaran yang berasal dari ponselnya.
Pemuda itu menancapkan Scarflare di tangan kanannya ke tanah lalu mengambil ponselnya.
Pemuda itu lalu menjawab panggilan.
"Hmmm....Baiklah aku akan segera kesana."
Laila bisa menebak apa yang akan dikatakan pemuda itu.
"Tampaknya kita harus berpisah, tapi aku ingin menunjukkan kepadamu kekuatan sebenarnya dari pedang ganda. Bagaimana? Masih terus lanjut?"
"....Baiklah. Kurasa tak ada salahnya."
Setelah mengambil Scarflare. Pemuda itu mengarahkan pedang kanannya sedikit ke belakang, sedangkan pedang kirinya sedikit ke depan.
"?!"
Menyadari pemuda itu akan serius, Laila juga akan bertarung dengan serius.
Laila menyilangkan dua pedangnya ke depan dan mengambil posisi bertahan.
Pemuda itu dengan cepat menendang tanah dan melaju ke arah Laila.
"........hnn."
Laila tersenyum kecil karena sudah menduga serangan pemuda itu.
Tapi Laila dikejutkan saat pemuda itu tiba tiba sudah berada di depannya.
(Leap?)
Klaang...
Pedang Laila dan pemuda itu beradu sekali lagi.
Laila terdorong ke belakang, sementara pemuda itu melompat ke belakang dan menggunakan momentum saat mendarat dan langsung melesat ke arah Laila.
"Secret Blade Art [Twin Moon]"
Setelah mendengar nama teknik pemuda itu, Laila tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
Dia pingsan dan ketika sadar, dia sudah berada di ruang perawatan sekolah.
"Uhmm... A-apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada disini?"
Laila membuka matanya. Kepalanya pusing dan dia merasakan nyeri di seluruh bagian tubuhnya.
"Kau terkena teknik pedang pemuda itu dan pingsan."
"Kau tahu, ini adalah kedua kalinya kami memapahmu ke sekolah, jadi berterima kasihlah!" Ucap Mitra dengan nada sedikit jengkel.
"Unn... unn.."
Ada tiga orang gadis yang menunggu Laila. Tentu saja mereka Aleca, Mitra dan Sella yang sudah berganti seragam.
Mereka terlihat marah, namun mereka juga terlihat cemas karena Laila pingsan lebih dari 4 jam.
Laila kemudian bangun. Dia sudah sadar sepenuhnya.
Dan dia hanya memakai celana dalam dan pakaian dalam.
Dia tak berusaha menutupi atau malu karena hanya ada gadis di tempat itu.
"Pemuda? ..... Dimana dia sekarang?"
"Hah.. Kenapa kau menanyakan dia? Apa kau tahu betapa khawatirnya kami saat mengira kau sudah mati, dasar bodoh!"
Mitra akhirnya meledak karena orang yang dia cemaskan justru menanyakan orang yang melukainya.
Itu membuat Laila senang karena Mitra begitu peduli kepadanya.
"Sudahlah, kalian semua harusnya bersyukur Laila terkena serangan magic arm, jika dia terkena serangan pedang logam, dia pasti sudah mati menjadi potongan daging. Fu fu..."
"Dokter Sfara.... ummm.. apa maksudmu?"
Seorang wanita berdada besar berambut merah memakai jaket lab tiba tiba datang.
Dia adalah salah satu dokter di Shiryuu Magic School yang merawat Laila.
"Kalian pasti sudah tahu dari bekas tebasan pedang di seragam Laila yang berjumlah lebih dari sepuluh. Tak hanya itu, serangannya juga mengincar tempat vital. Kau sungguh beruntung, Laila Ku ku ku"
"""".......................................""""
Apa kau serius?
Itulah yang ada di benak mereka semua.
"Ngomong ngomong siapa pemuda yang kau temui itu? Dia pasti cukup kuat karena berhasil mengalahkan salah satu dari sepuluh besar di Shiryuu Magic School dengan mudah. Aku ingin sekali bertemu dan memeriksa seluruh tubuh pemuda itu secara teliti.. Fu fu......"
Sifat buruk Sfara muncul dan membuat mereka berempat mendesah dalam.
Tapi disaat itu pula 3 teman Laila menoleh ke arah Laila dengan tatapan penasaran.
"Entahlah, aku belum sempat menanyakan namanya."
""""Huh?""""
Pada akhirnya, Laila mendapat masalah baru karena kekalahan dan karena kebodohannya.
Tapi sebagian besar berpikir bahwa Laila berbohong tentang identitas pemuda itu.
Pemuda itu adalah pembawa masalah. Benarkan?
__________________
_______
__
__ADS_1
Dua hari berlalu sejak hari itu.
Pemuda bertopeng itu masih menjadi pembicaraan hangat di Shiryuu Magic School.
Itu wajar karena yang dikalahkan pemuda itu adalah salah satu dari sepuluh besar dan seorang putri paladin terkuat.
"Tugas kita hari ini benar benar sulit. Apakah kalian yakin kita bisa selesai tepat waktu?"
Mitra berwajah suram saat mengingat tugas yang diberikan guru mereka.
Saat ini mereka berempat sedang berjalan bersama menuju ke perpustakaan kota, yaitu Aste Library.
Langit sudah hampir gelap pertanda sebentar lagi malam.
"Ya. Aku setuju. Aku tak yakin kita bisa menyelesaikan tugas ini. Ibu guru Jill memang iblis."
Laila, Sella, dan Mitra mengangguk tanda setuju dengan perkataan Aleca.
"Tugas kita adalah membuat laporan tentang perkembangan teknologi yang menggunakan sihir, Magitec dan kita hanya punya waktu sampai besok. Ini sungguh tidak adil. Kenapa kita tak diberi tugas mudah seperti sihir terbang atau sihir pemulih?"
"Mitra, kau tahu. Kupikir tugas kita tak terlalu sulit karena semua catatan ada di perpustakaan." Ucap Laila.
"Yupp. Apalagi kita sudah punya bukti kemajuan Magitec, yaitu ponsel." tambah Sella.
"Yang menjadi masalah adalah kita harus menyusun laporan perkembangan Magitec, kurasa kita hanya akan kesulitan menyusun daripada mencari data perkembangan Magitec."
Tak berapa lama kemudian mereka berempatpun akhirnya tiba di Aste Library.
Gedung tua sepanjang 200 meter dan berlantai 5. Itulah yang mereka lihat.
Tiang tinggi dan pintu besar itulah jalan masuk ke perpustakaan itu.
Aste Library merupakan perpustakaan terlengkap yang menyimpan milyaran buku dari yang terbaru dan yang paling lama yaitu buku berusia 500 tahun.
Mitos yang paling terkenal dari perpustakaan ini adalah salah satu buku di perpustakaan merupakan Grimoire yang mampu mengubah seluruh dunia ini atau menghancurkan dunia.
Tapi sampai sekarang tak ada yang menemukan Grimoire itu sejak perpustakaan ini dibangun 300 tahun yang lalu.
Sebagai perpustakaan terlengkap, wajar jika pengunjung perpustakaan ini bisa mencapai 10000 per hari.
Laila dan ketiga temannya berjalan menuju ke penjaga perpustakaan dan menanyakan tempat buku yang menyimpan data perkembangan Magitec.
Meskipun hanya sebagian besar data Magitec diperlihatkan kepada masyarakat umum, namun itu sudah cukup mengingat adanya kemungkinan Magitec akan digunakan untuk kejahatan.
Setelah menanyakan tempat buku, penjaga itu dengan senang hati menunjukkan tempat itu pada Laila dan teman temannya.
Tempat itu ternyata cukup jauh dan berada di lantai atas perpustakaan. Terima kasih kepada lift yang mengantar mereka dengan mudah dan cepat.
Setelah itu mereka akhirnya menemukan 3 rak penuh buku yang berisi sekitar 1000 buku lebih yang berisi data perkembangan Magitec.
""""..................................................""""
Menyerah, itulah yang mereka pikirkan.
"Baiklah, ada yang punya usul agar kita cepat menyelesaikan tugas kita?" tanya Laila
"Tidak ada."
"Aku akan menulis surat wasiat."
"..............."
Sella sudah tak bernyawa dan tak bersuara lagi.
"Kalian terlalu cepat menyerah. Bagaimana kalau kita mencari secara terpisah dan mencari 1 buku yang merangkum perkembangan Magitec atau setidaknya mencari buku yang isinya mendekati itu. Aku yakin pasti ada. "
"""......................"""
Kali ini mereka bertiga sudah tak bernyawa, tapi Laila punya cara agar mereka bersemangat.
"Apa kalian ingat hukuman jika tak menyelesaikan tugas?"
"""?!"""
Setelah mendengar itu, mereka dengan cepat bangkit dan bersemangat.
"Ayo cepat kita lakukan. aku tak pernah mau mencicipi kare kegelapan buatan Bu guru Jill"
Mereka berempat mengangguk dan mulai mencari buku secara acak.
Kare Kegelapan buatan guru mereka, Jill merupakan kare paling terkenal di sekolah.
Meskipun bahan yang dipakai seperti kare pada umumnya, namun selalu berakhir menjadi kare kegelapan. Dengan kata lain, Jill tak bisa memasak.
Tentu saja rasanya luar biasa tidak enak.
Tak hanya itu, Jill cukup pintar untuk memanfaatkan kare kegelapan buatannya sebagai hukuman. Atau menjadikan muridnya sebagai pencicip kare?
"?"
Laila sedikit merasa aneh saat menemukan rak kosong yang cukup untuk menyimpan 20 buku.
Apakah ada orang yang membaca 20 buku sekaligus?
30 menit berlalu, mereka terus mencari buku yang berisi perkembangan Magitec, tapi mereka hanya menemukan ringkasan super panjang.
"Haaa..... kita istirahat sebentar. Kalian setuju?"
Teman Laila mengangguk tanda setuju, namun tanda tanda menyerah sudah terlihat.
Ini wajar karena mereka sudah mencari 200 buku, tapi belum menemukan buku yang mereka cari.
Masih ada 800 buku lagi. Mereka juga belum menyusun laporan.
Tap tap tap tap.
Disaat mereka putus asa, mereka berempat mendengar suara langkah kaki yang datang mendekat. Suara itu berasal dari seorang lelaki.
Laki laki itu membawa 20 buku sekaligus yang menutupi wajahnya. Lalu lelaki itu berhenti dan menaruh buku di lantai lalu menyusunnya kembali di rak buku yang kosong.
Disaat itulah Laila melihat orang yang menebas dirinya dengan Scarflare.
"Aaaaa...Ke-kenapa kau ada disini?"
"?"
Laki laki itu menoleh ke arah Laila yang berteriak karena terkejut.
Teman Laila juga terkejut dan menoleh ke arah lelaki itu.
Lelaki bertopeng putih memakai jaket jeans, kaos dalam warna putih dan celana panjang jeans berwarna hitam. Dia berpakaian keren hari ini. (?)
"Sssssst."
Laki laki itu justru menaruh telunjuknya ke mulut dan memperingatkan Laila agar tidak berisik.
Laila dan teman temannya mendekati pemuda itu karena penasaran.
"Ada apa lagi, Nona. tidak, Nona nona manis. Benarkan?"
"Sudahlah, aku tak ingin mendengarkan rayuan gombalmu itu. Yang ingin kutanyakan kenapa kau ada disini?"
"""Unn.....unn.."""
Merekapun akhirnya terpaksa mengobrol dengan suara lirih karena tak ingin mengganggu orang lain.
"Tentu saja aku membaca buku. Aku sudah disini selama dua hari, kau tahu."
"2 hari?"
Pemuda itu mengangguk.
"Lalu kalian berempat?"
"Kami mencari buku sebagai bahan laporan perkembangan Magitec, tapi kami hanya menemukan buku tebal."
"Begitu rupanya. Kalau begitu aku akan membantu kalian, tapi aku hanya akan mencarikan buku saja. Bagaimana?"
Itu bukan tawaran yang buruk, tapi-
"Apa kau bisa menemukan buku yang kami cari dalam waktu singkat? Asal kau tahu, kami sudah lelah dan tak punya banyak waktu."
"Ohhh... tenang saja."
Pemuda itu tiba tiba melompat dan mengambil beberapa buku di saat yang bersamaan.
Setelah mendarat, dia memberikan 4 buku tebal ke Laila.
"Silahkan. Ini sesuai janjiku!"
""""Huh?...............Eeeeeeeeeeeeehhhh?""""
Sekarang mereka berempat yang membuat kebisingan.
Ini wajar karena buku yang mereka cari bisa ditemukan dalam hitungan detik.
"Kalian lihat isi buku itu, aku yakin itu semua yang kalian cari."
Tanpa banyak kata, Laila dan ketiga temannya mengambil masing masing 1 buku dan membukanya.
Mata mereka berempat melebar saat melihat isi buku yang merupakan rangkuman Magitec.
"Ba-bagaimana mungkin?"
"Kau pikir apa yang kulakukan selama 2 hari di sini? Aku hanya sempat membaca buku itu, lalu mengembalikan ke posisi semula. Itu saja."
"Hanya itu?"
"Ya. Dan aku sekarang harus pergi. Aku sudah menemukan yang kucari. Jadi sampai jumpa lagi!"
Pemuda itu pergi dan melambaikan tangannya ke arah belakang.
Setelah beberapa saat, pemuda itu tak terlihat lagi di tikungan rak.
"Kau tahu Laila?" ucap Aleca "Aku senang sekarang kita bisa menyelesaikan tugas dengan cepat, tapi aku menyesal karena tak sempat menanyakan nama dan nomor telepon pemuda keren itu. Benarkan Mitra, Sella?"
"Yuup."
"Unn ..Unn.."
Keren?
"Apa kalian bertiga serius?"
"Tentu saja."
"Ini juga salahmu, kau tahu?" Ucap Mitra.
"Apa maksud kalian? Ahhh sudahlah. Ayo cepat kita selesaikan laporan kita. Apa kalian tak ingin segera pulang?"
Itulah kisah bagaimana cara mereka menyelesaikan tugas dan selamat dari Kare Kegelapan karya Jill.
Satu hal yang tak mereka sangka, mereka berempat adalah satu satunya kelompok yang berhasil menyelesaikan tugas dari 8 kelompok.
Dengan kata lain sejak awal Jill memang memberikan tugas yang mustahil diselesaikan.
Tapi berkat pemuda itu, mereka berhasil selamat.
Sebagai catatan: Jill ternyata mencoba resep baru kare kegelapan buatannya, dan hasilnya bisa ditebak. 7 kelompok yang mencicipi kare kegelapan semuanya pingsan.
__ADS_1
Pemuda itu kini pahlawan, benarkan?