Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Silent Night


__ADS_3

Setelah Sei menyebutkan semua nama peserta, dia bergabung untuk menikmati acara. Ini juga sebuah isyarat kalau semua bebas melakukan apapun selama tak berbuat buruk.


Para orang penting dan tamu undangan mulai menemui murid atau peserta yang mereka anggap menarik dari perkenalan singkat mereka.


Tentu saja, hal ini juga terjadi pada Fila.


Ada beberapa orang yang mendekatinya. Salah satunya adalah seorang yang mengenal ayahnya. Tapi ada juga yang mendekati karena tertarik dengan kemampuannya. Maklum saja, kekuatan Fila cukup unik dan misterius karena tak begitu ditunjukkan saat Tribal diadakan.


Fila yang berasal dari keluarga mantan seorang jenderal sudah terbiasa bertemu dengan orang seperti mereka, jadi dia bisa bersikap tenang. Selain itu ada Electra bersamanya. Itu cukup membantu menyingkirkan orang yang memiliki niat buruk padanya.


Untuk Fea sendiri, dia langsung saja pergi setelah berpamitan. Dia pergi menuju kelompok kaisar Sei dan mengobrol dengannya.


Kemudian, Charlmilia datang dengan wajah tak begitu senang. Orang yang mendekati Fila langsung berpamitan seolah takut pada Charlmilia.


"Akhirnya selesai juga. Fila, maaf membuatmu menunggu. Aku yakin kau pasti takut dengan mereka."


"Bukan masalah. Lagipula di sini ada bu Electra. Selain itu belum tentu mereka memiliki niat buruk padaku."


Charmilia langsung menunjukkan raut tak senang.


"Tidak. Aku pikir kau harus memikirkan ini lebih serius lagi."


"Apa maksudmu?"


"Yah.. aku mendengar dari ayah kalau banyak yang ingin paman Irho kembali aktif. Meskipun tak dalam militer, masih banyak jabatan kosong yang bisa dipersiapkan untuknya."


"..."


Ini cukup mengejutkan bagi Fila yang selama ini tak pernah mendengar kabar seperti itu.


"Saat mengundurkan diri, banyak yang menyayangkan hal itu. Dari segi kekuatan mungkin dia kalah jauh dari Leon, tapi Irho memiliki keahlian yang lebih luas."


Yang menjelaskan adalah Electra.


"Lalu pertarungan sebelumnya membuat kemampuannya semakin diakui. Maklum saja, bertarung melawan penyihir elemen suci bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan keahlian khusus. Tak banyak orang seperti dia di negeri ini." Tambah Electra menegaskan.


"Tapi tenang, selama paman Irho tak ingin kembali, ayah akan melindunginya. Yang menjadi masalah adalah mereka mungkin mencari cara lain untuk membuat paman Irho kembali."


"...dan itu adalah aku?"


Electra dan Charmilia mengangguk membenarkan.


Fila tak begitu paham urusan politik, tapi dia mengerti apa yang mereka maksud.


"Ngomong ngomong, di mana Laila?"


"Kami tak tahu. Tiba tiba dia pergi setelah mendengar nama salah satu peserta. Mungkin ini hanya tebakanku, tapi aku cukup yakin peserta itu adalah orang yan-!?"


""!!??""


Mereka tiba tiba dikejutkan oleh tekanan energi sihir yang begitu kuat. Tak hanya mereka saja, banyak merasakan hal yang sama dengan mereka.


Tak berapa lama kemudian tiba tiba pelindung retak dengan begitu mudahnya.


"Tch... Aku tak tahu siapa yang sanggup mengeluarkan tekanan seperti ini, tapi tak diragukan lagi mereka adalah monster."


Sampai membuat Electra mengatakan hal seperti itu, Fila dan Charlmilia terkejut. Tetapi keduanya juga paham kenapa Electra mengatakan hal seperti itu.


Tekanan sihir yang mereka rasakan begitu kuat. Yang mengejutkan, tekanan itu tak hanya berasal dari satu orang, tapi dua orang yang saling beradu.


"Aku merasakan tekanan sihir Laila, tapi aku tak tahu yang satunya."


"Sebaiknya kita ke sana. Tapi jangan lupa untuk waspada. Tekanan yang dimiliki oleh orang lain itu memiliki aura dingin dan begitu gelap."


Tanpa banyak kata lagi, mereka pergi menuju tekanan itu berasal. Tetapi mereka tiba tiba didahului oleh orang yang paling bersemangat jika menemukan hal seperti ini.


"Kakak Victoria"


Meskipun hanya sekilas, ekspresi yang ditunjukkan Victoria tak diragukan lagi adalah pemangsa yang sudah menemukan mangsanya.


Mereka langsung bisa menebak apa yang ada di pikiran Victoria saat ini.


Tak berapa lama kemudian mereka tiba. Di sana mereka menemukan Laila dan seorang gadis sedang beradu mulut dengan sindiran tajam. Ini suatu yang tak pernah mereka lihat terjadi pada Laila.


Sedangkan Kuro hanya berada di antara mereka tanpa mencoba melerai. Tidak lebih tepatnya jika dia tak bisa berbuat apapun. Bahkan matanya seolah meminta bantuan.


Sayangnya, meskipun mereka sedikit lega karena Kuro sudah kembali ke wujud asalnya, mereka sama sekali tak bisa membantu masalahnya saat ini.


Bukan hanya karena mereka tak tahu masalah apa (meskipun bisa menebak mengingat siapa Kuro), tapi ini pertama kalinya Laila begitu keras kepala tak ingin mengalah.


Masalah lainnya adalah tekanan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa merasakan tekanan yang begitu kuat dan berat. Victoria yang berada tak jauh dari mereka bahkan tak bisa mendekat karena merasakan tekanan yang sama.


Tetapi dari semua itu, ada satu pertanyaan yang muncul di kepala mereka.


--Apa hubungan gadis itu dengan Kuro?


Bingung dengan semua yang terjadi ditambah dengan tak mampu berbuat apapun, mereka hanya bisa melihat dan berharap salah satu dari mereka akan mengalah.


"Ahaha.. aku tahu kalian bersemangat untuk bertarung, tapi aku ingin kalian menahan diri sampai besok."


Semua langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka terkejut karena yang melerai adalah kaisar Sei sendiri.


Fea bersama dengannya dan beberapa orang yang merupakan tamu dari negara lain.


"Shiro... Ini terjadi lagi huh..."

__ADS_1


Fea menambahkan dengan sebuah tawa kecil.


"Kaisar Sei, maaf membuatmu melihat hal yang memalukan."


Yang pertama kali meminta maaf adalah Arisa. Ini membuat Laila dan lainnya terkejut. Kejadian ini juga membuat hubungan di antara keduanya semakin jelas.


"Tidak apa apa. Aku mengerti hubungan antara kalian. Ini sangat normal menginginkan cinta dan kasih sayang orang yang kau cintai hanya untukmu seorang."


"Aku tak menyangka kau bisa mengatakan hal itu mengingat kau masih belum memiliki kekasih."


Stab.


Orang orang yang mendengar itu seolah mendengar suatu yang menyakitkan.


"Bisakah kau menutup mulutmu, brengsek. Aku di sini mencoba membantumu."


"Aku berterima kasih untuk itu. Tapi jujur saja ini masalah terlalu rumit untuk orang yang tak pernah memiliki kekasih seperti dirimu."


Stab. Stab.


Suara itu terdengar lagi.


Sei mendesah dan mencoba untuk tetap tenang. Tetapi aura yang keluar dari tubuhnya tak bisa disembunyikan.


"Aku mohon maaf, tapi aku ada urusan sebentar dengannya."


Sei mendekati Kuro dan langsung saja merangkulnya. Mereka sedikit menjauh dari kerumunan dan berbicara di sudut lain.


Tentu pemandangan ini membuat orang merasa aneh. Mengingat perbedaan umur di antara keduanya, mereka terlihat begitu akrab.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja. Entah mengapa aku tak jadi bersemangat berdebat denganmu."


"Aku tahu. Lagipula berdebat untuk membahas barang BEKAS memang bukan hal yang membuat orang bersemangat."


"Aku ingin sekali melihatmu saat menelan perkataanmu sendiri. Asal kau tahu, Shin melakukan hal yang tak mungkin kau pikirkan demi diriku seorang. Tapi tak seru jika mengatakan semua itu sekarang."


"Haha menarik. Aku ingin tahu apa yang Kuro lakukan untukmu."


Keduanya lalu terdiam sesaat, kemudian mengatakan hal yang sama.


""Kita tentukan semuanya besok!!!""


Perang baru saja dimulai.


✡️✡️✡️


Desahan berat terdengar di ruangan yang penuh dengan buku. Sekilas ruangan itu mirip perpustakaan kecil, tetapi pada kenyataannya ini adalah sebuah kamar seseorang.


Dengan banyak pelindung khusus dan kuat, ruangan itu bisa dikatakan sebuah benteng berukuran kecil. Maklum saja, pemilik ruangan itu adalah orang paling penting di kekaisaran.


"..."


(Yah.. mengingat hubungan mereka, ini cukup wajar dan bisa dibilang berakhir dengan baik.)


Dia ingat kejadian 10 tahun yang lalu. Kejadian di mana seorang yang tak dia duga menemuinya. Orang itu mengaku mengetahui semua rahasia yang dia miliki dan tentang kebenaran di balik kejadian 400 tahun yang lalu.


Itulah awal pertemuannya dengan Arisa Himegami dan saat di mana tahu kalau Yamiris telah membuat kontrak.


Ini masalah yang tak bisa diabaikan begitu saja. Bagaimanapun juga seorang yang membuat kontrak dengan salah satu pencipta Orladist adalah seorang yang memiliki kekuatan setara dewa dengan tubuh manusia. Tentu penggunaan kekuatan di luar batas akan mendapatkan sanksi, tapi tak seperti Queen dari Dragon King, Queen dari True Dragon King hanya boleh bergerak jika ada sesuatu yang akan merubah dunia ini.


Ini sama seperti 400 tahun yang lalu. Sama seperti saat di mana ibunya, Maria membuat kontrak dengan Solaris dan menjadi pahlawan dunia.


Mempertimbangkan kejadian masa lalu, dia akhirnya memutuskan untuk membantu apa yang menjadi tujuan Arisa.


Tujuan untuk membalas kebaikan yang dia terima dari orang yang dia cintai.


Sei melakukan apapun yang dia bisa. Bahkan dia merahasiakan eksistensinya dari orang yang begitu penting bagi Sei.


(Aku sudah melakukan sebisaku. Mulai sekarang semuanya tergantung padamu. Entah apakah semuanya berjalan dengan lancar, apakah tujuanmu tercapai atau tidak, semua itu akan terjawab dalam pertarungan nanti)


Mungkin Battle War kali ini adalah pertarungan dua orang yang mengadu cinta mereka, tapi ini lebih dari itu.


Tetapi ada hal lain yang membuatSei merasa terganggu oleh laporan tentang adanya sisa ******* Liberia yang membuat ulah.


"..."


Dia kembali mendesah. Lalu entah apakah karena dia terlalu pusing, sihir yang dia gunakan untuk menjadi sosok pria tua tiba tiba menghilang.


Sosoknya kini berganti oleh sosok seorang pemuda tampan dengan rambut perak yang memantulkan cahaya rembulan. Matanya sama seperti ibunya berwarna biru muda. Tetapi dari semua itu, yang paling mencolok adalah telinga runcing yang menunjukan tanda kalau dia bukanlah manusia.


Di saat memikirkan semua itu, dia ingat kembali perkataan yang cukup menusuk perasaanya.


"Brengsek, dia selalu saja membuatku jengkel. Aku memang belum pernah jatuh cinta, maklum saja aku masih muda. Jangan samakan aku dengan para manusia yang memiliki umur pendek."


Dia mencoba menyangkal dengan fakta dan kebenaran yang ada, tetapi entah mengapa itu sama sekali tak membuat dirinya lebih baik.


"Ugh.. sebaiknya aku segera tidur. Besok adalah acara penti-"


Bam!!


Dengan suara ledakan keras, pintu kamar Sei hancur. Melihat itu Sei sama sekali tak panik karena tahu hanya ada satu orang yang bisa melakukan hal seperti itu.


"Ayah!!!! Aku kemari untuk meminta saran dari... Mu?"


Victoria masuk dengan lantang dan percaya diri, tetapi dia langsung berhenti saat melihat sosok Sei yang berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Sei. .."


Raut wajah yang serius langsung berubah menjadi senang dan penuh ekstasi. Tak hanya itu, raut wajah yang dia tujukan tak salah lagi adalah wajah yang ditunjukan oleh seorang gadis yang jatuh cinta.


"V-Vic, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya di kota Gehe- guh!?"


Mengabaikan perkataan Sei, Victoria menghilang dan tiba tiba muncul sudah memeluk tubuh Sei. Karena perbedaan ukuran tubuh keduanya, Sei dengan mudahnya dipeluk seperti sebuah guling.


"Ah... Aku merasa lebih baik. Wujudmu yang seperti ini sungguh membuatku tak tahan. Kenapa kau tak menggunakan wujud ini saja? Un.. un..."


"...mffhh.."


Sei tak bisa bergerak dan menjawab Victoria karena wajahnya dibungkam oleh dua bukit kenyal Victoria yang berukuran cukup besar.


Dari kekuatan sihir, Sei puluhan kali lebih kuat dari Victoria, tapi Sei kalah segi kekuatan fisik. Tentu dia bisa memberontak jika mau, tetapi dia tak pernah memiliki niat seperti itu. Lagipula tak ada sisi buruk dari kejadian ini.


"Ah.. maaf.. "


Victoria sadar apa yang terjadi pada Sei. Dia melepaskannya, tetapi dia tak melepaskan pelukannya dari Sei.


"Vic, bisakah kau berhenti memperlakukanku seperti anak kecil?"


"..."


Victoria sama sekali tak peduli. Dia hanya bersenandung senang sambil memangku Sei di pangkuannya.


Sei menyerah dan mendesah berat. Ini selalu terjadi padanya saat Victoria melihat wujudnya yang sebenarnya. Seorang setengah elf yang memiliki tubuh tak lebih besar dari anak kecil berusia 14 tahun.


"Vic, kenapa kau kembali ke ibukota?"


"Ah... Aku merasa hidup kembali. Karena Sei tak pernah berubah, aku jadi kekurangan vitamin Sei."


"Bisakah kau tak menganggap aku vitamin? Jangan lupa aku adalah ayahmu!"


"Sei adalah Sei.."


"..."


Percuma saja. Sei tak bisa melakukan apapun jika Victoria sudah seperti ini.


Bagaimanapun juga seorang yang dipanggil Berserker Princess tak lebih dari seorang Shotacon.


"Vic, bisakah kau lebih serius?"


"Baiklah.. tapi jangan coba coba untuk kabur."


"Tch!!"


Victoria hanya tersenyum dan menguatkan pelukannya.


"Sei, apa kau masih ingat dengan janjimu?"


"Jangan kawatir, aku tak pernah memiliki niat untuk mengingkarinya. Tetapi biar aku perjelas, perasanku padamu masih belum berubah."


"Begitu... Sayang sekali.. aku harus berusaha lebih keras lagi agar Sei mau melihatku."


Masih sama seperti dulu. Gadis kecil yang selalu berusaha menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik. Sifat yang tak pernah menyerah inilah sisi terbaik dari Victoria.


"Lalu setelah tau seperti apa lawanmu, apakah kau akan mundur?"


"Tidak akan pernah."


Sebuah jawaban yang penuh percaya diri dan tak kenal takut.


"Jujur saja, mereka mungkin adalah lawan yang paling berat yang pernah kau lawan selama ini."


"Sekuat itukah?"


"Ya. Berbeda dengan dua tahun yang lalu, Battle War kali ini karakter utamanya bukanlah dirimu."


"..."


Senyuman menghilang dari Victoria. Biasanya dia akan langsung membalas dengan penuh percaya diri, tapi kali ini dia tak bisa seperti itu. Bagaimanapun juga dia masih ingat sensasi yang dia rasakan saat merasakan tekanan sihir keduanya.


"Meskipun kau tahu, apakah kau akan masih berusaha untuk menang?"


"Jika aku kalah, apakah Sei akan bersedia menikah denganku?"


"..janji adalah janji..."


"Kalau begitu aku tak punya pilihan lain selain menjadi pemenang, benarkan?"


"..."


"Sei, bolehkah aku tidur denganmu?"


"Entah mengapa aku merasa kesucianku mulai terancam jika bersama denganmu."


Sei hanya mendesah berat. Sedangkan Victoria hanya tersenyum kecut.


Tetapi meskipun mengatakan seperti itu, dia tak bisa kabur dan berakhir tidur dengan Victoria.


Jika dilhat dari sisi moral, bukankah tindakan Sei sudah membuatnya harus bertanggung jawab?


-

__ADS_1


Gelapnya malam mulai berganti dengan cahaya hangat mentari. Ini adalah hari dimulainya Battle War yang sesungguhnya.


__ADS_2