
Witch Reaper. Itu adalah nama legenda yang muncul karena sebuah insiden yang menggemparkan hampir seluruh kekaisaran.
Bermula dari sebuah misi sederhana Knight melakukan penangkapan, insiden itu berakhir dengan sebuah pembantaian. Dari 210 Knight yang dikirim, hanya 10 saja yang masih hidup. Tapi hidup bukan berarti itu suatu yang membahagiakan.
10 orang itu selalu hidup dalam rasa cemas dan akhirnya gila. Dalam diri mereka masih membayangkan bagaimana rekan rekan terbunuh.
Itu bukan suatu yang bisa dilakukan oleh manusia.
Dari situlah sosok legenda Witch Reaper terlahir.
Tapi meskipun pelaku pembantaian itu sudah dikenal, identitas sebenarnya dari Witch Reaper masih menjadi misteri dan akhirnya hanya menjadi sebuah rumor.
Seorang penyihir peringkat Master. Seorang yang memiliki sihir Soul yang unik dan luar biasa. Seorang penyihir yang melatih sihir kegelapan. Bahkan ada yang mengatakan kalau dia adalah sisa dari pasukan Demon King 400 tahun yang lalu.
Pada akhirnya karena tak ada yang tahu kebenarannya, identitas Witch Reaper menjadi sebuah misteri.
Tetapi, saat ini Charl mengatakan kalau identitas Kuro adalah Witch Reaper yang menjadi pelaku pembantaian 200 Knight dua tahun yang lalu?
Siapapun pasti akan tertawa dan tak ada yang percaya dengan suatu yang tak masuk akal itu.
Tapi..
Bagaimana jika tidak?
Para penonton duel menyadari hal ini. Bagaimanapun juga identitas Kuro sebagai peringkat F yang sanggup mengalahkan teman sekelasnya bukanlah suatu yang bisa dilakukan oleh sembarangan orang.
"Pedang itu. Kenapa itu ada di tangan Kuro?"
Mata Riana melebar saat melihat pedang putih di tangan Kuro.
Jika sebagian besar para penonton penasaran oleh identitas Kuro yang sebenarnya, maka Riana tertarik dengan hal lain.
"Hooo..... Anda juga menyadarinya kah?"
Electra tersenyum tipis saat melihat reaksi Riana. Dia tahu betul alasan Riana terkejut.
"Bu-bukankah pedang itu seharusnya tersegel di istana? Tapi kenapa-"
"Sword of King. Pedang sang Demon King yang dulu digunakan untuk menaklukkan dunia seharusnya berada di istana, tapi--"
"Eh?"
Otome terkejut dengan topik yang baru saja dia dengar.
"Pedang itu seharusnya tersegel di ruang rahasia istana, tapi kenapa Kuro memilikinya? Mungkinkah pedang di istana telah dicuri?"
"Tidak. Pedang itu masih tersimpan dengan aman dan masih tersegel, jadi pedang Kuro bukanlah pedang yang ada di istana."
Hanya itu kemungkinan yang terpikirkan Riana, tapi Electra membantahnya.
"......Dengan kata lain, pedang itu hanyalah imitasi. Haaa... syukurlah."
Riana merasa lega. Dia tahu pedang Kuro sama dengan pedang di istana yang pernah dia lihat. Pedang yang jenis katana berwarna putih.
"Imitasi? Apakah benar seperti itu?"
""Eh?""
Tak hanya Riana, Otome juga terkejut saat mendengar perkataan Electra.
"Oltear, kenapa kau ada disini?"
"Sejak tadi aku sudah berada disini, Bu Electra!"
"Aku tak menyadarinya."
"Kuhh.."
Otome benar benar merasa jengkel karena tak dianggap. Tidak, bahkan eksistensinya dianggap tak pernah ada.
"Kau ke arena duel dan siapkan penyihir yang bisa menggunakan sihir penyembuh, kalau bisa yang terbaik!"
"Eh? .....Kenapa?"
"Jeezzzz... Duel kali ini lebih berbahaya dan mempertaruhkan nyawa. Sebagai guru seharusnya kau lebih tahu hal ini."
"Ba-baiklah!!'
Otome pun akhirnya pergi dari ruangan itu.
Setelah Otome pergi, Electra mengunci ruangan dengan sihir agar tak ada orang yang bisa sembarangan masuk lagi seperti Otome.
"Bibi Electra, apa maksud perkataanmu tadi?"
"Hmm... apa maksudmu? Aku hanya bicara sendiri."
"..............."
Riana langsung membuat ekspresi tidak senang.
"Kenapa kita tidak lihat saja duel ini, mungkin saja anda tahu maksud perkataanku...Fu fufu."
Disaat itulah Electra menunjukkan senyuman tipis yang membuat orang langsung berpikir Electra adalah orang jahat. Dia tak jahat, dia hanya licik dan pembuat ulah.
Di arena duel, tekanan besar dikeluarkan oleh Charl dan Kuro. Tekanan itu begitu berat dan kuat. Aura semacam ini hanya dikeluarkan oleh petarung yang sudah sering mengalami pertarungan hidup dan mati.
Tak aneh jika menyangkut dengan Kuro, tapi apakah Charl juga sama?
"Tekanan Divine Contractor memang berbeda dari penyihir biasa, tapi aku masih bisa melihat banyak kekurangan."
"Jika dibandingkan denganmu yang sudah banyak melakukan pembantaian, aku memang masih belum menang darimu, Witch Reaper."
Kuro tersenyum.
"Witch Reaper kah... Itu sungguh nama yang membuat mengingat masa lalu."
"Kau sama sekali tak menyangkalnya kah? Kenapa aku sama sekali tak terkejut."
"Aku tak memiliki alasan untuk menyangkalnya, tapi aku rasa itu sebuah nama untuk suatu yang lain"
Laila begitu terkejut saat mendengar Kuro mengakui dirinya adalah Witch Reaper. Seorang pembantai.
Tapi jika diingat dulu, bukankah Kuro menyebut dirinya seorang pembunuh?
"Yui. Apa itu benar?"
"Apa yang kau rasakan setelah mengetahui kebenarannya? Apa kau membencinya?"
"..."
Laila bungkam.
Kuro seorang pembunuh yang telah membantai 200 Knight. Apa yang dia lakukan termasuk menentang negeri ini. Seorang putri jenderal kekaisaran, Laila seharusnya membenci Kuro atau jika perlu menangkapnya.
Tapi Laila tak bodoh.
Pembantaian yang dilakukan Witch Reaper dulu adalah sebuah tindakan pembelaan diri. Bahkan berkat insiden itu pula terkuak sebuah kebusukan penjabat pemerintah saat itu.
Di kekaisaran, orang penjabat busuk yang mementingkan diri sendiri tak lebih baik dari sampah. Tak aneh jika insiden itu berakhir dengan damai.
"Jika jadi dia, aku juga tak akan segan melakukan hal yang sama. Jangan samakan kami dengan orang bodoh, Yui."
Knox tiba tiba menyela.
"Kau tahu.."
"Itu bukan rahasia lagi. Tapi jika Kuro adalah Witch Reaper yang asli, ini bukan duel yang mudah untuk Charl."
"Aku setuju. Selain itu, aku sudah tahu kalau Kuro masih menyembunyikan taringnya."
Seorang pemuda kekar datang mendekat. Dia adalah Jinn.
"Sepertinya pertarungan itu lebih dari yang aku duga. Kenapa kau tak memberitahu ku?"
"Bodoh. Mana ada yang mau membagi hal sepenting itu dengan kau. Orang yang suka memanfaatkan orang lain."
"Terima kasih. Tapi itu tak masalah. Aku yakin dalam duel ini Kuro akan menunjukkan semuanya. Ini kesempatan yang bagus untuk melihat kelemahannya."
Jinn dan Knox mengangguk bersamaan.
"Kenapa kalian bisa berpikir dapat mengalahkan kak Kuro? Apa kalian bodoh?"
Yui berteriak karena mendengar hal yang sulit dipercaya.
Mereka pasti tahu Witch Reaper, jadi mengalahkan Kuro seharusnya mustahil bagi mereka.
Tapi Knox dan Jinn justru terlihat bersemangat mengalahkan Kuro. Aneh.
"Siapa gadis loli ini?" tanya Knox keherahan.
"Aku adalah tunangan kak Kuro. Ingat itu baik baik."
"Begitu rupanya, sekarang dia mengincar gadis kecil. Jangan kawatir Laila, GSPFL akan selalu mendukungmu."
"Entah mengapa kau mengatakan seolah olah aku akan kalah. Atau hanya perasaanku? Katakan kalau itu hanya perasaanku saja!!"
Tapi tak hanya Jinn, Knox juga menunjukkan ekspresi mengasihani Laila.
Disaat itulah, mereka bertiga berempat dikejutkan oleh suara tembakan dan sedikit suara benturan.
Mereka semua langsung menoleh ke arena dan melihat Charl mengarahkan pistolnya ke arah Kuro.
Sementara itu, pipi Kuro berdarah akibat tergores peluru sihir pistol Charl.
"Aneh, padahal aku sudah mengincar kepalamu."
"Apa kau gemetar setelah tahu siapa diriku? Kenapa tak menyerah saja?"
"Dalam mimpimu."
Tak disangka, duel sudah dimulai secara tiba tiba.
Cuaca menjadi mendung. Matahari tertutup awan abu abu kehitaman seperti menandakan kejadian buruk akan segera terjadi.
__ADS_1
"Byakko!!"
Dengan raungan, Byakko melesat ke arah Kuro dengan kecepatan tinggi. Sampai di depan Kuro, Byakko menyerang Kuro menggunakan cakarnya yang setajam pedang.
Kuro menghindar dengan memiringkan tubuhnya di saat terakhir.
Dia berhasil menghindar, tapi serangan Byakko cukup kuat sehingga membuat lantai arena mengalami bekas cakar meskipun tak terkena cakar Byakko.
(Gelombang pedang angin-kah..)
Tapi itu bukanlah akhir, itu baru awal.
"Fu fu.."
Senyuman muncul di bibir Charl. Dia lalu menekan pelatuk pistol dan menembakkan peluru sihir ke arah Kuro yang menghindari serangan Byakko.
Clang.
Kuro menahan peluru dengan sisi lebar pedangnya. Tapi Charl tak hanya menembak satu tembakan.
5 tembakan lainnya menargetkan Kuro di berbagai tempat. Sekilas Charl seperti tak mengincar bagian vital Kuro, tapi itu bukanlah masalah.
Semua berjalan sesuai prediksi dan rencana Charl.
Dia tahu Kuro bisa melihat peluru yang ditembakkan dengan kecepatan tinggi, jadi dia tahu Kuro pasti akan berhasil menahan tembakannya.
Mengingat Kuro bukan penyihir, maka serangan yang diterima Kuro harus berhasil dihindari atau ditahan.
"Sial!!"
Kuro menyadari Byakko menyerangnya dari samping. Dia harus menghindar, tapi sekarang Charl sedang menembaknya.
Dia harus memilih antara terkena serangan Byakko atau Charl.
Suara metal terdengar saat Kuro menahan peluru Charl. Tapi dia harus menerima akibat pilihannya itu.
Cakar Byakko mengenai tepat bagian dada Kuro. Darah segar berceceran saat tubuh Kuro terpental hingga membentur dinding dengan keras.
"Gahh...!"
Pandangan Kuro memutih sesaat. Lalu tubuhnya terjatuh ke lantai dengan keras. Pedang putihnya tergeletak dan menimbulkan suara lonceng.
Tapi setelah beberapa saat, Kuro bangkit dengan bantuan pedangnya.
Seragam bagian dada robek dan darah segar mengalir, namun dia tetap bangkit.
Ini masih luka ringan bagi Kuro yang sudah sering lolos dari kematian saat melawan penyihir yang lebih kuat dari Charl.
"Kau kuat. Tapi butuh lebih dari ini untuk mengalahkanku."
Entah mengapa Kuro justru tersenyum senang. Dia seolah olah menikmati duel ini.
"Fu fu.. Aku juga berpikiran hal yang sama."
Tak hanya Kuro, Charl juga menunjukkan senyuman yang sama. Mereka seperti bersenang senang.
Tapi bagi sebagian penonton, ini adalah duel yang menakutkan.
Selama ini mereka melakukan duel, tapi tak ada yang terluka serius, karena itulah mereka tak ragu bertarung dengan murid lain. Hal inilah yang membuat banyak yang terkejut saat melihat darah mengalir deras dari dada Kuro terutama bagi para penonton gadis. Mereka bahkan menutup matanya.
"Ini sama saja dengan pertarungan saling membunuh. Benarkan?"
"Ya. Aku setuju. Jadi, menurutmu siapa yang menang?"
"Hmmm... Aku akan mendukung Kuro, tapi lawan dia kali ini bisa dibilang lawan terburuk bagi dia. Meskipun dia menggunakan pedangnya, ini pertama kalinya aku melihat dia terluka separah itu."
"Aku juga berpikiran hal yang sama."
"Apa yang kalian sejak tadi bicarakan? Kalian seolah olah mengatakan Kuro akan kalah."
Laila protes saat mendengar pembicaraan Knox dan Jinn.
Berbeda dengan Laila, Yui justru terlihat murung seolah olah mengatakan Kuro akan kalah.
"Laila, kami hanya mengatakan kenyataan saja. Apa kau tak bisa melihatnya? Kuro saat ini menghadapai musuh terburuknya. Apa kau masih berpikir Kuro bisa menang?"
"Musuh terburuk...?"
Laila menoleh ke arah Kuro yang sedang berhadapan dengan Charl dan Byakko.
Nafas Kuro terengah engah. Darah mengalir dari lukanya yang bisa dibilang cukup dalam. Meskipun begitu, Kuro terlihat menikmati pertarungan ini.
Hal ini juga mengingatkan Laila dengan kejadian 7 bulan lalu. Kuro(Shiro) tersenyum puas saat bertarung.
"Tenang saja. Kak Kuro tetap akan menang! Kau percaya dengan itukan?"
".........."
Laila tak bisa menjawab pertanyaan Yui yang terlihat sedih dan depresi.
Sama seperti yang dikatakan Knox dan Jinn, Charl mungkin bisa dibilang musuh terburuk bagi Kuro, tapi Yui adalah orang yang paling tahu dan mengenal Kuro. Itulah yang membuat dia tetap percaya Kuro akan menang.
"Aku tahu kau percaya kepada Kuro, tapi kemungkinan Kuro memenangkan duel ini sangatlah kecil." Ucap Knox. " Kau juga menyadarinya kan?"
"............."
"Senjata Kuro adalah pedang, sedangkan Charl adalah pistol dan Byakko. Bisa dibilang ini adalah 1 lawan 2. Sejak awal Charl sudah diuntungkan sebagai penyihir tipe Contraktor. Tak hanya itu, kemampuan bertarung Charl kurasa juga seimbang dengan Kuro. Inilah kenapa aku bilang kemungkinan Kuro menang bisa dibilang ...Nol."
Disaat mereka membahas kemungkinan Kuro menang, pertarungan Kuro dan Charl masih terus berlanjut. Tidak. Lebih tepatnya baru saja dimulai.
Kuro menendang lantai. Dia berlari menuju ke arah Byakko dengan pedang yang siap menebas.
"Byakko!!"
Byakko menghadapi Kuro.
Untuk pertama kalinya Charl bergerak ke arah samping kanan dan mengintari Kuro dan Byakko yang sedang bertarung.
Dia berusaha menembak Kuro disaat dia lengah seperti tadi.
Bagi Kuro, meskipun Byakko bisa dikatakan magic beast kelas tinggi, namun di matanya Byakko masih dibilang monster kecil.
Kuro tak berguru blade art pada siapapun. Keahliannya menggunakan pedang didapat dari pengalaman dan latihan kerasnya. Dia bahkan rela berkeliling dunia untuk menjadi lebih kuat.
Dan akhirnya dia mendapatkan kekuatan itu.
Byakko berlari ke arahnya. Jarak mereka sekarang hanya sekitar 5 meter dan terus mendekat. Dia juga melihat Charl berlari ke arah samping dan mengarahkan pistol ke arah dirinya.
"Secret blade art, Beast Cutter."
Kuro menggunakan blade art untuk memotong dua kaki depan Byakko.
Sebenarnya hal ini mustahil jika menggunakan pedang logam biasa, atau magilium, tapi Lic merupakan pedang logam terkuat di dunia. Memotong magic beast adalah hal yang mudah. Tapi kemampuan Lic juga tergantung kepada penggunanya. Hanya Kuro saja yang mampu menggunakan kekuatan penuh Lic.
Selain itu blade art Kuro adalah tekhnik yang dia ciptakan untuk menghadapi penyihir dan monster. Itulah alasan mengapa blade artKuro bisa dibilang tekhnik pedang anti penyihir.
Kedua kombinasi inilah yang membuat Kuro mampu mengalahkan penyihir beranking S bahkan SS.
Tapi bukan berarti dia tak memiliki kelemahan.
Sekuat apapun teknik Kuro, jika tak kena, itu akan percuma.
Setelah memotong kaki depan Byakko, Kuro menoleh ke arah target selanjutnya, yaitu Charl.
Tapi disaat itulah Charl sudah menekan pelatuk pistolnya. Dia memang terkejut Kuro memotong Byakko, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu.
Mengetahui hal itu, Kuro bersiap menggunakan serangan selanjutnya.
Dia memegang Lic secara diagonal lalu dia menebas angin dengan kecepatan tinggi.
"Secret blade art, Cross Wind."
Pedang angin berbentuk silang langsung mengarah ke arah Charl dengan kecepatan tinggi dan sekaligus menahan peluru sihir Charl.
"Whaa..."
Mata Charl melebar saat mengetahui Kuro bisa menciptakan pedang angin seperti dia.
Pedang angin mengarah tepat ke arah Charl, tapi dia tak kawatir. Dia justru tersenyum.
"Aku bercanda."
Lingkaran sihir langsung muncul di tangan Charl dan menahan pedang angin Kuro.
"Jangan senang dulu!!"
"?!"
Kali ini Charl benar benar terkejut karena Kuro sudah berada tepat di depannya dan bersiap menebasnya.
Pedang angin ternyata hanyalah pengalih perhatian. Disaat itulah Kuro berakselerasi ke depan Charl.
Charl langsung menahan serangan Kuro, tapi dia dikejutkan lagi saat lingkaran sihirnya terpotong dengan mudah oleh pedang Kuro.
Charl tahu akan terkena serangan Kuro, jadi dia langsung melompat ke belakang sebelum lingkaran sihir yang digunakan berhasil tertebas sepenuhnya.
"Ya ampun.. Itu pedang yang merepotkan, tapi- Byakko, Wind Hammer"
Kuro langsung melompat ke atas menghindari bola angin sebesar setengah meter. Bola angin itu langsung membentur perisai dan menimbulkan suara palu yang menghantam.
Kuro mendarat dengan tenang dan melihat serangan Charl barusan. Disaat mendarat, darah mengalir lebih deras dari luka Kuro.
Kuro menyadari akan mengalami luka lebih serius jika terkena serangan Byakko
"Bagaimana menurutmu, Witch Reaper?"
Byakko mendekat ke arah Charl setelah kakinya pulih.
"Tidak buruk. ...Untuk penyihir peringkat S."
"Jangan kecewa dulu. Aku masih punya banyak magic art yang belum kutunjukkan kepadamu. Tapi pedang itu benar benar menarik."
Charl tersenyum saat Kuro menaruh pedang di pundaknya dengan santai.
__ADS_1
Dia menyadari pedang putih Kuro bisa dibilang pedang yang memiliki kekuatan setara magic arm, tidak. Mungkin lebih kuat. Berhadapan langsung dengan pedang Kuro membutuhkan cara rumit.
"Tentu menarik. Lic adalah Sword Of King, jadi kenapa kau baru menyadarinya?"
Dia tentu tahu tentang Sword of King. Tentu dia juga tahu kalau banyak pedang imitasi. Tapi pedang Kuro bisa dibilang pedang logam terkuat yang pernah dia lihat.
"Sword of King, yang benar saja. Apa kau berpikir dirimu Demon King ?"
"Demon King? Itu julukan yang lebih keren dari Witch Reaper, tapi Demon King tak bisa menggunakan sihir bukankah terlihat aneh?"
"Kau ternyata bisa berpikir sejauh itu rupanya. Aku terkesan."
"................."
Kuro sering dibilang bodoh. Karena itulah dia tahu apa yang ada dipikiran Charl sekarang.
"Mereka akrab."
"Mereka akur sekali."
"Aku tak percaya dia juga bisa merebut hati seorang pria."
"Kita harus menjaga jarak dari dia mulai sekarang."
Jinn mengangguk setuju dengan Knox.
"Hey, kenapa kalian bisa berpikir seperti itu?"
Laila sekali lagi protes dengan analisa mereka berdua.
"Tapi itu tetap tak mengubah fakta Kuro akan kalah."
"Hoo... mau bertaruh?"
"Aku sebenarnya tak terlalu suka taruhan, tapi ini menarik. Baiklah. 10.000 Yold."
"Setuju."
"Kalian berdua!!"
Mereka kini menggunakan duel Kuro dan Charl sebagai bahan taruhan.
Sebenarnya hal ini sering terjadi. Tentu hal ini dilarang pihak sekolah, tapi masih banyak yang melakukannya.
"Aku punya alasan khusus kenapa Kuro akan kalah di duel ini." Ucap Knox dengan tegas. "Tunangan loli pasti tahu maksudku kan."
".........."
Yui tak menjawab karena tahu apa yang Knox maksud.
"Apa maksudmu?" tanya Laila.
"Yang dia maksud adalah kelemahan Kuro."
Yang menjawab adalah Jinn.
"Kelemahan?"
"Laila, kau tak berpikir Kuro tak mempunyai kelemahan kan?"
"Te-Tentu saja punya. Ayahku bahkan punya kelemahan."
""...............""
Jinn dan Knox terdiam saat mendengar paladin terkuat bahkan punya kelemahan.
Sekarang mereka paham dengan yang dimaksud 'Tak ada yang sempurna. Sekuat apapun, pasti memiliki kelemahan'.
"Aku tak bertanya mengenai ayahmu lagi karena aku tak mau membocorkan rahasia negara. Yang kita bahas adalah Kuro. Dasar gadis tak sensitif."
"Ugghh...."
Setidak sensitif itukah dia?
"Tapi kelemahan apa yang kau maksud?"
"Laila, apa selama ini kau tak menyadarinya? Yahh.. kurasa kau tak menyadarinya karena belum pernah melihat Kuro bertarung, tapi kami berbeda. Aku dan Jinn pernah bertarung dan mengajak berduel dengan Kuro. Meskipun kami kalah, itu bukanlah masalah. Kami tak akan kalah terus dari orang biasa seperti Kuro."
Hanya harga diri sebagai penyihir yang membuat Knox tak menyerah.
"Kuro orang biasa yang bisa menggunakan kekuatan setara penyihir, apa kau pikir itu tak ada resikonya, yahh.. daripada resiko, kurasa lebih tepatnya efek samping!"
"Efek samping?"
"Dia membicarakan akibat setelah Kuro menggunakan tekhniknya." sela Jinn "Kita akan kehabisan mana setelah menggunakan sihir. Semakin besar dan rumit sihir (magic art), semakin besar pula mana yang kita keluarkan. Hal ini juga berlaku kepada Kuro, hanya saja dia menggunakan energi dua kali lipat lebih banyak. Atau bahkan mungkin lebih besar."
Dengan kata lain, untuk menciptakan pedang angin Kuro harus menggunakan energi lebih banyak daripada seorang penyihir. Itulah kenapa dia terus melatih agar staminanya tak mudah terkuras dengan menggunakan beban latihan.
Knox dan Jinn menyadari kelemahan ini.
"Itulah kenapa dia langsung kelelahan dan tertidur setelah duel. Bisa dibilang Kuro sebenarnya tidak cocok dalam pertarungan lama. Kuakui dia kuat, namun dia tak cukup kuat untuk disebut Witch Reaper yang asli."
"""?!"""
Tak hanya Yui dan Laila, Jinn juga terkejut dengan perkataan Knox. Lebih tepatnya kesimpulan Knox.
2 tahun yang lalu, sebuah insiden terjadi. Insiden itu melibatkan klan Blad. 200 knight dibantai oleh seorang yang dikenal sebagai Witch Reaper.
Tak ada yang tahu siapa sebenarnya Witch Reaper. Namun ada beberapa petunjuk mengenai Witch Reaper..
Pedang putih dan seorang bukan penyihir.
Hanya itulah petunjuk mengenai Witch Reaper.
"Kalian tahu alasanku menyebut Kuro bukanlah Witch Reaper-kan? Memang ada yang membantai 200 knight, tapi kemungkinan besar dia adalah seorang penyihir penyihir lebih tinggi dari SSS, yaitu Master atau Paladin."
"Lalu bagaimana dengan tak ditemukan jejak mana di mayat?"
"Jinn, kau seharusnya sudah tahu. Otome sudah memperlihatkannya beberapa hari yang lalu kan?"
"....Maksudmu-"
"Ya. Anticristal. Dengan menggunakan itu, klan Blad menghilangkan jejak mana dari tubuh Knight. Selanjutnya mereka hanya perlu mengaku sebagai pelaku pembantai. Buktinya adalah surat yang ditulis tunangan loli. Apa aku salah?"
".................."
Yui terdiam. Dia tak berusaha menyangkal atau membenarkan dugaan Knox.
Sebenarnya banyak yang berpikiran sama dengan Knox.
Di dunia ini, pedang lebih kuat daripada pisau, pistol lebih kuat daripada pedang, tapi sihir (penyihir) lebih kuat daripada keduanya.
Hal itulah yang membuat banyak yang menganggap keberadaan Witch Reaper hanyalah bualan. Tapi ada beberapa yang percaya dengan keberadaannya.
"Kurasa kita akhiri permainan ini, kau setuju kan?"
"Ha... ha.. Yahh ..aku setuju."
Charl terlihat masih segar. Sementara Kuro terengah engah kelelahan. Pandangan Kuro juga sedikit kabur.
Meskipun dia dalam masalah, namun Kuro tak menunjukkan akan menyerah.
"Baiklah, akan kutunjukkan magic art yang sesunguhnya. Fufu.. Kuro, ku dengar kau pandai menghindar, bahkan bisa menghindari sacred Mmagic art, tapi apa kau bisa menghindari ini?"
"...?"
"Byakko, Wind Ball."
Byakko membuka mulutnya lebar lebar. Puluhan gigi tajam dapat terlihat. Lalu dari mulut Byakko munculah puluhan bola angin dengan berbagai ukuran. Tapi bola angin itu sedikit aneh karena ada pusaran di dalamnya.
Puluhan bola angin itu langsung melayang ke sekitar Kuro dengan perlahan.
Akhirnya Kuro terkepung oleh puluhan bola angin dan tak bisa banyak bergerak.
"... Apa ini? Kau tak ingin main gelembung angin kan?"
"Jangan kawatir, kita sedang tak main gelembung."
"........."
Charl tersenyum licik. Sementara Byakko terus menciptakan gelembung angin sehingga seluruh arena penuh bola angin.
Charl lalu mengarahkan ujung pistolnya ke arah Kuro.
"Kuro, maafkan aku. Tapi kau akan kalah disini."
Charl langsung menekan pelatuk. Peluru sihir melesat ke arah Kuro, tidak, tepatnya ke salah satu di depan Kuro.
"Sial!!"
Setelah memperhatikan gelembung angin dengan teliti, akhirnya Kuro sadar dengan gelembung angin Charl.
Peluru sihir menghancurkan gelembung. Disaat itulah muncul ratusan pisau angin dengan ukuran kecil yang melesat ke berbagai arah. Pisau kecil itu menghancurkan gelembung angin lainnya dan menimbulkan reaksi berantai.
Kini ribuan, bahkan jutaan pisau angin menyerang Kuro dari semua arah.
Seluruh baju seragamnya sobek dan tubuhnya tersayat oleh ribuan pisau angin.
"Gaaahhh!!"
Kuro berteriak kesakitan karena menerima serangan yang mustahil dia hindari.
Ada puluhan pisau angin yang mengarah ke Charl. Namun dia berhasil menahannya dengan magic art Shield dan sifat alami tubuh penyihir.
Setelah beberapa detik, badai pisau angin menghilang dan memperlihatkan tubuh Kuro yang penuh sayatan dan darah.
"Sacred magic art, Knife Storm. Itu serangan yang lumayan kan?"
Disaat yang sama, Kuro terjatuh dan membentur lantai dengan keras. Pedang putihnya juga terlepas dari gengamannya.
Kuro tak sadarkan diri.
"Kuro!!"
__ADS_1
"Kak Kuro!?"
Yui dan Laila hanya bisa melihat dan meneriakkan nama Kuro