
Hari kedua Tribal. Peserta yang tersisa melakukan pertarungan di tiga tempat yang berbeda. Seperti hari kemarin, ini adalah pertarungan yang mengharuskan tiap pasangan untuk melindungi dan menghancurkan kristal milik pasangan yang menjadi lawan mereka.
Dan seperti sebelumnya, ini menjadi tontonan yang menarik bagi para penduduk dan pasangan yang telah selesai bertarung atau masih menunggu giliran untuk mereka bertarung.
Tetapi ada juga yang tak tertarik dengan pertarungan Tribal dan memilih mengrobrol di tempat yang jauh dari keramaian. Dengan kata lain, piknik. Itu sebutan yang cocok untuk kegiatan mereka.
Seperti itulah yang dilakukan Kuro dan teman temannya.
"Aku sudah menduga dia akan mengatur semuanya, tapi ini terlalu mudah dibaca."
Kuro memberikan komentarnya dengan wajah bosan.
Di tangannya beberapa lembar kertas yang berisi data nama peserta Tribal masing masing grub. Dia membutuhkannya data peserta karena dia belum mengetahuinya.
Menurut pengumuman atau aturan yang ditetapkan, pemilihan peserta masing masing grub dipilih secara acak, namun setelah melihat data peserta, Kuro yakin kalau sebenarnya tidak.
(Dia masih saja main main dengan kekuasaan yang dimilikinya)
Kuro mendesah saat mengingat seorang yang menyebalkan.
"Meskipun begitu, dengan ini akan dijamin kalau kita akan mengikuti Battle War bersama kan?" Ucap Charlmilia yang duduk tak jauh darinya. "Aku yakin dia pasti memiliki rencana kenapa dia melakukan hal ini."
"Aku juga berpikir seperti itu."
Fila ikut sependapat.
Sebenarnya tanpa berpikir panjang pun hal ini sudah terlihat jelas dari penempatan pasangan peserta.
"Pertanyaannya adalah kenapa dia melakukan sejauh ini?" Knox ikut bicara sambil sesekali mengunyah roti lapis. "Jika melihat situasinya, aku bisa menduga kalau dia ingin memenangkan Battle War dengan cara apapun. Termasuk menggunakan monster ini."
"Kali ini aku sependapat denganmu, Knox." Tambah Jinn.
"Aku bukan monster."
Meskipun Kuro protes, namun tak ada reaksi berlebihan. Dia bahkan terlihat tak memiliki tenaga untuk itu. Kuro sedikit berbeda dengan dirinya yang selalu terlihat sehat.
"Meskipun begitu, bukankah ini cukup aneh?"
"Fila, apa maksudmu?"
"Ah tidak. Ini hanya perasaanku saja. Dalam hal ini aku pikir kau lebih tahu, Kuro."
Tatapan ketiga orang lainnya juga menunjuknya seolah mereka mengharapkan sesuatu dari Kuro.
"Ha... Jika kalian berpikir aku tahu apapun di dunia ini, kalian salah besar. Seperti yang kalian tahu, aku keluar dari Shadow Knight dan terpaksa bersekolah di sini. Dengan kata lain, bersekolah sebenarnya bagian dari misiku. Yah.. meskipun aku harus mengakui banyak hal yang tak aku perkirakan."
Kuro tertawa kering dengan nada tak semangat.
Orang lain yang melihat keadaan Kuro akan berpikir dia seperti ini karena Laila lebih mementingkan menjaga Riku dan Lic di rumah bersama keluarganya daripada selalu bersama Kuro.
Tetapi itu salah besar.
"Jadi kau sama sekali tak mengetahuinya kah? Aku kecewa denganmu."
"Siapa yang peduli dengan pendapatmu, Knox. Aku hanyalah seorang yang akan mencari tahu hal yang ingin aku tahu saja. Aku sama sekali tak tertarik dengan alasan kenapa dia berbuat sejauh ini."
"Kadang aku tak tahu apakah kau sebenarnya jenius, atau orang bodoh." Ucap Knox dengan desahan berat. "Tetapi jika kalian berempat benar benar bisa ikut dalam Battle War, aku akan memberikan semangat."
Pernyataan Knox mungkin terdengar aneh, namun semuanya tahu kenapa dia seperti itu.
Pada hari pertama Tribal, Knox dan pasangannya kalah dalam pertarungan. Hal yang sama juga berlaku pada Jinn dan pasangannya. Selama dalam pertarungan sebelumnya Jinn dan Knox memang cukup cocok sebagai pasangan bertarung, namun akan berbeda jika dalam urusan sekolah.
Tetapi hal ini mungkin juga ketidakberuntungan mereka yang mendapatkan lawan kelas tiga yang memiliki pengalaman bertarung lebih banyak. Tak hanya itu, pasangan yang mereka lawan adalah mantan peserta Battle War tahun lalu.
Dalam pertarungan itu Jinn maupun Knox lebih unggul dalam kekuatan, namun lawan mereka lebih unggul dalam strategi dan kerja sama. Hasilnya bisa ditebak dengan mudah.
"Aku juga akan mendukung kalian berempat. Meskipun ini bisa dibilang masih terlalu awal." Tambah Jinn.
"Terima kasih. Aku dan Fila akan berusaha sebaik mungkin untuk menang di grub B. Tetapi lawan kalian benar benar kuat. Sepertinya peserta Battle War memang sedikit spesial."
"Kau benar. Aturan Battle War memungkinkan kita untuk melakukan segala cara untuk menang. Dalam hal ini, kekuatan saja tidaklah cukup. Yah.. bisa dibilang aku sangat cocok dalam hal seperti ini."
Keempat lainnya tak memberikan komentarnya. Mereka paham apa yang dimaksud Kuro adalah cara liciknya dalam bertarung.
"...kenapa kalian diam?"
"Ah.. tidak. Kami hanya berpikir pertarungannya kemarin sungguh luar biasa. Hanya dalam satu serangan Laila bisa mengalahkan mereka. Dalam hal kekuatan, aku rasa Laila lebih kuat dari kita semua."
Fila memberikan pendapatnya dengan jujur. Tak ada yang mengalahkannya berpikir seperti itu setelah melihat apa yang terjadi. Bahkan Kuro juga terkejut sama seperti mereka.
Meteor Cannon Blade yang menjadi salah satu magic art terkuat Laila telah berevolusi menjadi suatu yang mengerikan.
Dulu Laila menggabungkan beberapa Scarflare menjadi sebuah meriam besar yang menempel di tangannya, tetapi dalam pertarungan sebelumnya dia menciptakan meriam raksasa yang melayang di depannya. Lalu menggunakan Scarflare lainnya menjadi sumber energi meriam sihir raksasa itu.
Tembakan seperti meriam laser raksasa mengarah ke arah pasangan lawan dengan kekuatan yang mampu melelehkan tanah hingga menjadi lahar panas. Dengan kekuatan sedahsyat itu, meskipun lawan mereka adalah penyihir peringkat A, serangan itu akan mampu membunuh mereka dalam sekali serang.
Syukurlah Laila sejak awal tak tak menargetkan ke arah pasangan lawan dan hanya bertujuan mengetes kekuatannya. Lalu sadar dalam masalah jika Laila serius, akhirnya lawan mereka menyerah. Pertarungan Laila dan Kuro sebagai pasangan peserta Tribal berakhir dengan cara yang tak disangka semua orang.
"Aku benci mengakuinya, pertumbuhan Laila melebihi apa yang aku perkirakan. Tapi jangan kawatir, dia hanya bisa melakukan hal itu 100 kali per hari."
Keempatnya kembali dibuat bungkam oleh salah satu rahasia yang sengaja dibeberkan Kuro. Di saat yang sama mereka mengerti ini adalah salah satu taktik Kuro untuk membuat lawan mereka merasa terintimidasi.
Saat ini Kuro, Charlmilia dan Fila adalah orang yang dekat, namun saat mereka berhasil menjadi peserta dan mengikuti Battle War, mereka akan menjadi musuh yang merebutkan posisi terkuat. Meskipun Battle War akan diadakan di penghujung musim dingin, namun Kuro sudah memulai perang tak terlihat.
"Laila memang luar biasa. Tapi aku, tidak, kami tak akan kalah."
"Benar."
Sayangnya, Fila dan Charlmilia seolah sudah kebal dan semakin bersemangat setelah mendengar hal itu.
Kuro tersenyum seolah sudah menduga hal ini.
"Mengesampingkan masalah Laila, apakah kita baik baik saja santai seperti ini?"
"Apa maksudmu?" Tanya Fila.
"Menurut perhitunganku, saat ini si kembar akan segera bertarung. Apakah sebaiknya kita tak melihatnya?"
Si kembar yang dimaksud Knox adalah Alva dan Alvi.
"Tumben kau memberikan ide seperti ini. Tapi jujur saja aku sebenarnya juga tertarik." Tambah Jinn. "Aku cukup penasaran bagaimana hasil latihan khusus mereka."
Beberapa hari sebelum Tribal diadakan keduanya menghilang atau absen dari sekolah. Menurut kabar atau surat yang diberikan pada Otome, keduanya melakukan latihan khusus dengan seorang yang penting.
Karena tak ada yang tahu dengan siapa dan di mana mereka latihan, pertarungan perdana mereka di Tribal cukup dinantikan.
Dan mungkin karena ingin mengejutkan Kuro dan lainnya, keduanya tak membuat kontak dengan mereka semua sebelum pertarungan dimulai.
"...aku pikir tak ada salahnya melihat bagaimana mereka berkembang." Kuro bangkit dan mulai melangkahkan kakinya. "Sebagai temannya kita harus mendukungnya."
"Begitulah."
"Charl, tunggu aku."
Charlmilia dan Fila mengikuti Kuro.
"Kau sungguh tak peka, dasar brengsek. Jinn, sisanya aku serahkan padamu."
"Maksudmu?"
"Karena kau yang paling banyak makan, kau yang membereskannya. Lagipula membuang sampah di taman sekolah itu dilarang."
Ngomong ngomong mereka piknik di taman sekolah. Tempat itu dipilih karena memiliki udara hangat berkat alat pemanas yang terpasang di seluruh sekolah.
"Sial, kenapa selalu aku!!"
Jinn mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apakah dia orang yang selalu sial, atau orang yang selalu beruntung karena memiliki teman seperti mereka?
♦♦♦
Alva dan Alvi berada di grub A. Itu adalah grub yang sama dengan grub Kuro. Cepat atau lambat keduanya akan berhadapan dengan Laila dan Kuro.
Karena keduanya menjadi saksi pertarungan antara keduanya dengan Maria di ibukota, memikirkan bagaimana bisa menang dari keduanya seolah mimpi.
__ADS_1
Keduanya sadar mereka tak cukup kuat jika dibandingkan Jinn atau Knox yang setidaknya bisa membantu walau sedikit. Level Kuro dan Laila terlalu jauh jika dibandingkan dengan murid sekolah sihir seperti mereka.
Dengan alasan semua itu, apakah keduanya harus menyerah saat akan berhadapan dengan keduanya nanti?
Atau tak usah bertarung sungguh sungguh karena tahu akan kalah?
Bukan itu.
Keduanya tahu kalau mereka masih lemah. Tetapi hal itu pula yang membuat mereka berpikir untuk menjadi lebih kuat daripada yang sekarang. Bukan demi bisa membantu Kuro atau Laila dalam pertarungan yang akan datang, namun demi diri mereka sendiri.
"Kak Alva.."
"Aku tahu Alvi. Dia datang."
Keduanya melihat bangku penonton. Di sana mereka melihat seorang yang keduanya kagumi dan idolakan. Tetapi yang terpenting mereka cintai. Tentu dengan beberapa tambahan.
Mungkin Kuro menonton mereka karena merasa mereka semua adalah teman. Tetapi Alva dan Alvi berharap Kuro melihat mereka dengan alasan yang berbeda. Sebuah alasan spesial .
"Mari kita tunjukan kalau bukan hanya dia saja yang bisa menjadi lebih kuat lagi. Dengan begitu, dia akan memperhatikan kita."
"Un.."
Tanda pertarungan akan segera dimulai telah dihitung mundur. Kedua pasangan telah bersiap dengan memanggil nama sihir mereka masing masing.
Alva memanggil Alviarz. Sebuah tombak biru yang indah dengan elemen air sebagai kekuatan utama. Sedangkan Alvi memanggil Avairz, sebuah panah biru dengan kekuatan elemen es sebagai kekuatan utama.
Di sisi lain, lawan mereka adalah pasangan lelaki kelas 2 dengan salah satu dari mereka adalah penyihir tipe Contractor.
Meskipun kalah jumlah dan pengalaman, namun keduanya tak menunjukan akan gentar menghadapi lawan mereka.
Kemudian, hitungan mundur mencapai 0. Pertarungan dimulai.
♦♦♦
"Oh.. ini sudah dimulai. Seperti yang aku duga, karena lawan mereka ada yang tipe Contractor, lawan mereka mengirim Magic Beast untuk menemani pasangannya."
Wujud Magic Beast lawan adalah seekor kucing besar menyerupai cheetah, namun memiliki tanduk runcing seperti tombak di kepalanya. Sedangkan wujud Magic Arm lawan adalah pedang besar yang memiliki besar hampir sama dengan pemiliknya.
"Ini taktik yang mudah ditebak siapapun. Dalam hal ini Alva dan Alvi harus membuat keputusan apakah mereka melawan bersama atau mengirim salah satu untuk menghadapi lawan mereka.."
"Aku mengerti apa yang kau pikirkan, Charl. Tapi mengingat karakter mereka. Aku bisa menebak apa yang mereka lakukan."
Seolah apa yang diprediksikan Knox benar, Alva dan Alvi mulai bergerak. Alvi menggunakan magic art dan seluruh tempat tiba tiba tertutup oleh kabut tebal.
Penonton dibuat terkejut karena tak bisa melihat pertarungan dengan jelas. Hal yang sama juga berlaku pada lawan mereka.
"Hoo.. ini menarik.."
Kuro yang terlihat bosan tersenyum lebar seolah menemukan mainan baru. Dalam hal ini Magic Art yang dikeluarkan Alvi cukup mengejutkan.
"Dengan memanfaatkan udara dingin di musim ini, mereka membuat kabut yang cukup untuk menutupi seluruh tempat." Komentar Charlmilia. "Mereka cukup cerdas. Hanya saja apakah ini tak menjadi masalah?"
Karena kabut tebal, Alva atau Alvi tak bisa melihat lawan mereka. Ini juga situasi yang cukup buruk mengingat mereka tak bisa menyerang atau tak sengaja menyerang kawan sendiri.
"Aku yakin mereka sudah memiliki cara untuk mengatasi masalah itu. Yang aku ingin tahu adalah apa yang dilakukan lawan mereka."
Tak berapa lama kemudian, pemuda yang menjaga kristal mengeluarkan magic art untuk membuat topan besar yang menyingkirkan kabut hingga hampir menghilang sepenuhnya.
Tetapi di saat itulah keadaan menjadi suatu yang tak bisa ditebak.
""
Ratusan panah es mengarah ke penyihir yang maju bersama magic beast sesaat kabut menghilang sepenuhnya.
Karena serangan mendadak, beberapa anak panah tak bisa dihindari dan membuat tubuh mereka membeku.
Tetapi itu tidak cukup, penyihir itu dengan mudahnya menghancurkan es dengan pedangnya dan dia melesat maju.
Di saat itulah Alva bergerak maju dengan tombaknya. Yang menarik, dia memposisikan tombaknya seperti menembak.
""
Dia menembakan tombak air seperti peluru dengan tekanan tinggi. Gerakan yang cukup cepat membuat magic beast tak bisa menghindar dan akhirnya menghilang menjadi partikel.
Alva dengan mudahnya menghindar, lalu di saat itulah Alvi melepaskan anak panah ke arah tangan yang menggenggam pedang.
Alva tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan menyerang bagian kaki untuk merusak keseimbangan lawan. Kemudian dia bergerak ke belakang untuk memberikan serangan terakhir.
"Tch!! Jangan sombong!! "
Tombak tanah muncul di sekitar penyihir itu dan menyerang Alva hingga membuatnya dia membatalkan serangan.
Tetapi tak ada tanda Alva kecewa atau kesal karena gagal.
"Goki, di atasmu!!"
"!?"
Pasangannya memperingatkan, namun sudah terlambat. Saat melihat ke atas, dia dikejutkan oleh Alvi yang sudah bersiap menembakan anak panah dengan energi sihir yang besar.
"Sacred Magic Art "
Anak panah Alvi mengenai target dan dalam sekejap membekukannya. Mungkin karena terlalu kuat, radius serangan mencapai 10 meter lebih.
Setelah selesai, Alvi mendarat di samping Alva dengan santainya.
""Satu tumbang!!""
Penyataan keduanya yang begitu kompak membuat penonton bersorak dengan penuh semangat.
Dan seperti itulah, mata keduanya menatap target selanjutnya yang sudah kembali memanggil kucing bertanduknya. Kali ini 2 lawan 2.
"Mereka benar benar sudah tumbuh menjadi kuat. Mereka bisa disamakan dengan penyihir peringkat A."
Charlmilia terpukau dengan pertarungan yang ditunjukan keduanya.
"Tetapi yang lebih penting dari itu adalah kerja sama dan keputusan yang mereka ambil untuk menghadapi lawan mereka. Yang menarik, mereka seolah bisa melakukan itu tanpa berkomunikasi sama sekali. Mungkin karena mereka kembar?"
"Analisamu cukup bagus, Knox. Tapi aku merasa ada alasan yang lebih rumit daripada itu."
Jinn yang telah tiba setelah membersihkan perlengkapan piknik ikut berpendapat. Dalam hal ini dia juga merasa terkejut dengan perkembangan keduanya.
Sayangnya, dia tak sadar perkembangan dirinya sendiri yang mampu merasakan suatu yang tak dirasakan oleh orang lain.
"Instingmu semakin tajam saja, Jinn. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku tak tahu kenapa, namun aku merasa ada suatu yang ganjil." Tambah Charlmilia sambil menaruh tangannya di dagu karena berpikir dengan keras. "Ah.. benar, aku merasa kalau perkembangan mereka terlalu abnormal."
Beberapa hari tak cukup untuk membuat keduanya berkembang sejauh ini, dengan kata lain ada faktor lain yang membuat mereka sampai sejauh ini.
Mengingat siapa saja yang berkembang dengan kecepatan tak masuk akal, hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan tersebut.
"Ada kemungkinan mereka berlatih menggunakan ruang dimensi yang sama dengan Laila."
"Tapi bukankah terlalu lama? Selain itu apakah ruangan itu ada banyak sehingga orang lain bisa menggunakannya dengan mudah?"
"I-itu.."
Bantahan Fila mengembalikan pengertian umum yang Charlmilia miliki. Karena dia mengenal Kuro dan tahu ruang dimensi itu ada bukan berarti setiap orang akan bisa menggunakannya. Charlmilia bahkan baru tahu ada ruangan seperti itu setelah mengenal Kuro. Dalam hal ini, siapa yang memberitahu keduanya?
"Kalian terlalu banyak menganalisa." Ucap Kuro secara tiba tiba. "Satu hal yang harus kalian tahu, Alva dan Alvi melakukan hal yang lebih gila dan tak masuk akal. Tindakan mereka bahkan lebih liar dari imajinasi yang bisa kalian bayangkan."
Kuro masih belum menghilangkan senyuman lebarnya. Meskipun hal itu tak cocok dengan wajahnya yang begitu pucat, namun semuanya mengerti kalau Kuro mengetahui sesuatu.
"Uuhh.. memiliki mata dengan kemampuan seperti itu sungguh curang."
Ketiga orang lainnya mengangguk tanda sependapat dengan Knox.
Sementara itu pertarungan terus berlanjut. Bagi lawan Alva dan Alvi, kekalahan pasangannya yang begitu cepat adalah suatu yang tak diperkirakan sebelumnya. Hal ini membuatnya sedikit panik.
Selain itu, serangan Alva yang bisa langsung menghancurkan magic beast miliknya dalam sekali serang membuktikan kalau kekuatan yang keduanya miliki lebih besar dari miliknya.
Situasi benar benar tak berpihak padanya. Meskipun begitu, bukan berarti dia tak melihat celah untuk memenangkan pertarungan ini.
Dia tersenyum karena berhasil menemukan cara untuk menang. Meskipun itu berarti harus menggunakan suatu yang dia simpan sebagai kartu truf.
__ADS_1
"Alvi, dia melakukan sesuatu. Berhati hatilah."
Alvi mengangguk dengan posisi bersiap menembakan panah es.
Lalu lawan mereka menarik sesuatu dari celananya, lebih tepatnya ikat pinggangnya. Awalnya semua berpikir pemuda itu akan melakukan sesuatu yang mesum, tetapi semuanya berubah saat pemuda itu selesai menarik benda itu.
"Itu ... Pedang?"
Ya. Benda yang diambil pemuda itu adalah pedang, tetapi itu bukanlah magic arm. Pedang itu terbuat dari bilah tipis adamantium yang terbagi menjadi beberapa bagian yang dihubungkan oleh mana. Daripada pedang, itu lebih tepat jika disebut cambuk pedang atau pedang ular.
"Liodas, ayo kita tunjukan bagaimana jika kita sudah serius."
Aura pemuda itu berubah total. Kemudian pemuda itu maju bersama dengan magic beastnya dengan gerakan yang serasi.
Alvi langsung saja mencoba merusak formasi dengan panah es dalam jumlah besar. Tetapi dengan mudahnya Liodas menahan mereka dengan beast art . Lalu pemuda itu menyerang dengan cambukan pedang yang begitu indah bagaikan tarian.
Alva dan Alvi menghindar dan menyerang balik. Alva berusaha menyerang dengan magic art yang sebelumnya berhasil menghancurkan Liodas dalam sekali serang.
"Jangan pikir cara yang sama akan berhasil untuk kedua kalinya. ."
Pemuda itu menembakan peluru angin dalam jumlah besar untuk mengganggu persiapan Alva, lalu menyerang dengan cambukan pedang. Tetapi di saat itulah Alvi juga mengganggu serangan pemuda itu dengan anak panahnya. Sayangnya itu tidak cukup. Pemuda itu langsung mengganti serangannya dengan magic art.
""
Liodas menembakan raungan angin dengan target Alva.
""
Alva bertahan dengan dinding air, lalu dia melompat mundur untuk berkumpul dengan Alvi.
Sementara itu, lawannya juga menjaga jarak dengan Liodas.
"Dia cukup bagus."
"Aku juga sependapat. Dia sepertinya seolah sudah terbiasa dengan pertarungan semacam ini."
Fila dan Charlmilia kagum dengan kemampuan lawan Alvi dan Alva. Meskipun dia sendirian, dia mampu menahan keduanya berkat kordinasi yang baik dengan magic beast miliknya. Selain itu, pemuda itu cukup cepat mengambil keputusan.
"Charl, sebagai tipe Contractor, kau pasti menyadari kalau dia.."
Charlmilia mengangguk sependapat dengan Knox.
"Charl, apa yang kalian berdua bicarakan?"
"Ah.. Fila-chan, kau tahu kan ada perbedaan jumlah besar mana yang dibutuhkan oleh tipe Contractor dan tipe User. Kau pasti mendengar kalau tipe Contractor membutuhkan lebih banyak, tetapi itu tak selalu tepat."
"Untuk magic beast dengan ukuran besar seperti milikku memang harus menggunakan mana dalam jumlah besar, tetapi untuk yang lebih kecil seperti milik pemuda itu, penyihir tipe Contractor bisa menggunakan mana dalam jumlah yang bervariasi. Tentu hal ini berpengaruh pada kemampuan magic beast tersebut." Lanjut Knox. "Yang membuatku kagum adalah lawan keduanya mampu memanfaatkan hal ini dengan baik. Saat pertama kali dihancurkan oleh Alva, dia hanya menciptakan magic beast dengan mana yang sedikit. Bisa dikatakan dia menggunakan magic beastnya untuk mengukur kekuatan lawannya."
"Tetapi bukan itu saja yang menarik, teknik pedang pemuda itu cukup bagus. Teknik yang dia gunakan seolah sebuah teknik khusus yang dipelajari dari guru dengan aliran tertentu. Hm.. Kuro, apa kau tahu mengenai hal itu?"
"Seingatku ada sebuah aliran pedang yang disebut Beast Sword Art di negara yang cukup jauh. Ini bisa dibilang aliran kuno yang sudah jarang ditemui saat ini."
Pertarungan terus berlanjut. Alva dan Alvi terus menyerang secara bergantian dengan serangan jarak dekat maupun jarak jauh. Alva lebih fokus menyerang Liodas, dan Alvi lebih fokus menyerang pemuda itu karena selalu mengganggu Alva yang menyerang Liodas.
Sedangkan lawan keduanya terus berusaha menyerang dan menghindari serangan keduanya dengan cara yang membuat semua orang kagum. Saat serangannya diganggu oleh Alvi, dia akan menggunakan magic art, tetapi saat magic art diganggu, dia akan menggunakan sword art. Dia juga menggunakan beast art untuk menyerang secara bergantian.
Situasi seperti ini terus berlangsung cukup lama dan membuat pertarungan cukup sengit dan menarik untuk diikuti.
Tetapi pertarungan ini sudah mulai terlihat pemenangnya.
"Pemuda itu mulai kelelahan. Ini wajar mengingat dia melakukan semua itu sendirian."
"Alva dan Alvi tampaknya menyadari hal ini, jadi mereka bertujuan mengulur waktu daripada menyerang dengan menggunakan magic art yang mencolok. Mereka sepertinya ingin menyembunyikan kekuatan mereka sebanyak mungkin."
"Daripada itu, aku lebih kagum pada orang itu karena bisa melakukan semua itu. Kita sepertinya memiliki orang gila lagi di sekolah ini."
Komentar Knox sedikit berlebihan, tetapi jika membandingkan pemuda itu dengan Kuro, maka Kuro lebih buruk.
"Aku tak gila, aku hanya terlalu kuat."
"...Aku akan memukulmu jika kau berkata seperti itu lagi."
Meskipun itu benar, tapi tak ada yang menyangka Kuro akan mengakui hal itu secara blak blakan.
"Ah.. ini mulai menarik. Dia mulai melakukan sesuatu."
Pemuda itu tiba tiba menarik kembali Liodas. Dia sekarang bertarung seorang diri.
Tetapi bukan itu saja yang dia lakukan. Dia mulai membentuk kuda kuda dengan posisi seorang petarung pedang.
"Dia memanggil kembali magic beast miliknya untuk menghindari kehilangan mana yang lebih besar sekaligus bertujuan untuk memulihkan mananya walau sedikit. Aku tak tahu apakah dia sebenarnya penyihir atau petarung pedang?"
"Ya ampun, apa kau tak punya mata, Knox? Seperti yang kau lihat, dia adalah keduanya. Yang menarik adalah apa yang dia lakukan setelah ini?"
Pemuda itu mengalirkan mana yang tersisa pada pedangnya. Semuanya tahu dari mana yang terpancar dari pedangnya. Dan semua tahu apa yang ingin dilakukan pemuda itu.
Ini adalah serangan terakhir.
Dalam situasi ini, jika Alva dan Alvi berhasil bertahan dan menyerang setelah serangan berlangsung, maka dipastikan keduanya akan menang. Tetapi seorang telah mengajarkan pada keduanya untuk selalu menghormati lawan mereka.
"Alvi..."
Alvi mengangguk dan mundur ke dekat kristal.
Sedangkan Alva maju dengan tombak yang sudah dialiri mana dalam jumlah besar. Sama seperti pemuda itu, dia akan menggunakan salah satu magic art terkuatnya.
Teknik terkuat untuk menentukan pemenang. Itu suatu hal yang membuat semua orang menahan dirinya untuk bernafas dan terus melihat apa yang akan terjadi.
"Sacred Magic Art..."
Sama seperti sebelumnya, Alva menembakan peluru sihir. Tapi kali ini lebih besar.
"Sacred Blade Art..."
Pemuda itu menebas dengan kekuatan penuh sebuah tebasan sihir.
""
""
Kedua serangan beradu menimbulkan gelombang kejut yang cukup dahsyat. Pusaran air Alva lebih unggul dalam kekuatan dan mendorong serangan pemuda itu.
"!?"
Tetapi, pemuda itu sama sekali tak kehilangan senyumannya. Dia seolah sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Aku akan memberitahu satu hal..."
Pemuda itu tiba tiba bersiap melakukan teknik yang sama. Dan ini membuat semuanya terkejut.
"Aku akui kalian kuat, namun kalian salah karena melawanku satu persatu "
Serangan lanjutan terjadi, lebih cepat dan langsung menembus serangan Alva. Tetapi ada yang lebih mengejutkan, serangan itu menembus magic art Alvi dan melesat ke arah yang tak terduga, yaitu menuju kristal yang seharusnya dilindungi.
Karena tak ada yang menyangka pemuda itu ternyata mengincar kristal, Alva dan Alvi tak sempat bereaksi. Hasilnya bisa ditebak. Dengan suara kaca pecah, kristal Alva dan Alvi musnah.
Dan itu membuat mereka kalah.
Setidaknya itulah yang harusnya terjadi. Tetapi pengumuman tanda mereka kalah tak pernah terdengar.
Pemuda itu awalnya bingung. Tetapi saat melihat ekspresi Alva dan Alvi yang begitu tenang, dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi dalam pertarungan ini.
Hasil kesimpulannya membuat dia berkeringat dingin. Dia menemukan suatu yang tak terduga dan sulit dibayangkan oleh semua orang.
"Ahaha.. aku menyerah.. aku tak menyangka akan bertarung dengan monster di pertandingan pertamaku. Aku sungguh sial."
Pengumuman pertarungan berakhir terdengar. Meskipun begitu, penonton dibuat bingung dengan apa yang terjadi.
Kristal Alva dan Alvi hancur, namun mereka belum kalah. Sedangkan lawan mereka menyerah secara tiba tiba. Ini sungguh pertarungan yang tak masuk akal.
Tetapi semua pertanyaan itu terjawab saat melihat sebuah kristal tiba tiba muncul tak jauh dari Alvi. Kristal itu masih dalam keadaan utuh dan sama sekali tak tergores.
Benar. Kristal yang dihancurkan pemuda itu adalah kristal palsu yang diciptakan Alvi. Lalu mengingat kekuatannya sudah habis untuk serangan kejutan, maka tak ada alasan lagi untuk menang.
__ADS_1
Sayangnya, bukan itu yang membuat pemuda itu memanggil keduanya monster.