
Riku dan Lunaris kembali ke ibukota setelah bulan madu singkat mereka.
Tentu saja bukan hanya bulan madu yang mereka lakukan di kota Panese. Mereka juga sering ke fasilitas untuk melihat keadaan Adam dan menyelidiki berbagai hal tentang Relic (Cursed Arm).
Ada alasan kenapa Riku melakukan semua itu. Entah mengapa, dia merasa akhir akhir ini dia sering berurusan dengan Cursed Arm. Kebetulan atau tidak, dia ingin bersiap jika keadaan mulai memburuk.
Dunia saat ini sedang tak tenang karena Dragonia berperang dengan negara lain. Entah itu sudah cukup, atau itu semua hanya awal. Terlalu banyak hal yang tak bisa ditebak.
Tujuan pertama mereka adalah sekolah, Flame Academy. Helen sudah memberikan tentang laporan misi mereka. Dan mengingat misi mereka jauh lebih berbahaya daripada seharusnya, poin kontribusi yang didapat juga bertambah.
Helen sempat mengirim pesan.
--mendapatkan poin dalam jumlah besar itu menyenangkan, tapi aku tak ingin mengalami hal seperti itu lagi dalam waktu dekat. Lain kali biarkan aku yang memilih misi.
Tentu saja Riku merasa itu hal yang normal bagi penyihir muda seperti Helen dan lainnnya. Mereka kurang memiliki pengalaman dalam pertarungan yang melibatkan nyawa.
Meskipun tujuan sebenarnya dari misi adalah untuk melatih para murid, itu masih dalam batas nyawa para murid tak terancam.
Apa yang dibutuhkan oleh Helen dan lainnya adalah waktu. Jika mereka bisa menggunakan kejadian kali ini sebagai pendorong semangat baru untuk menjadi lebih kuat, maka masa depan mereka akan lebih baik.
Tapi jika tidak, tak ada yang tahu masa depan apa yang menanti mereka.
Mereka lalu berpisah dan pergi ke kelas masing masing.
Saat tiba di kelas B, Riku langsung mendapatkan perhatian. Tapi berbeda dengan sebelumnya, entah mengapa dia merasa kalau perhatian yang dia terima kali ini lebih besar.
Dia mencoba tak peduli dan duduk di tempatnya. Di saat itulah seorang gadis menyapanya.
"Um.. kalau boleh tahu, apakah kau baru kembali dari kota Panese?"
Riku mengangguk.
Gadis yang bertanya bernama Siles. Dia memiliki tubuh kecil sehingga terlihat seperti anak di bawah umur. Karena dia unik, Riku mudah mengingatnya.
"Kalau begitu apakah semua cerita itu benar?"
"Cerita tentang apa?"
"Tentang kalian bertarung dengan Wyvern dan mengalahkan salah satu anggota Hades Hall."
"Ohh.."
Riku akhirnya mengerti. Misi yang mereka terima memang terlalu luar biasa karena diselesaikan oleh penyihir peringkat B.
Riku bisa menebak siapa yang membuka mulutnya tentang itu. Tapi ini membuatnya tenang.
(Sepertinya mereka menepati janji)
Riku tak melarang Helen dan lainnya bercerita tentang perjalanan mereka dan musuh yang mereka hadapi. Tapi dia melarang keras tentang pertemuan mereka dengan naga angin dan akhir pertarungan mereka.
Masalah itu masih terlalu rumit. Dan karena tak tahu siapa musuh yang sebenarnya, sedikit orang yang tahu lebih baik.
"Kami memang berhadapan dengan Wyvern dan anggota dari Hades Hall. Yah.. beruntung kami bersama dengan Lunaris, jadi dia bisa mengalahkannya."
Mata Siles tiba tiba berbinar binar dan tersenyum lebar.
"Sudah aku duga. Nona Lunaris memang luar biasa. Aku iri karena tak memiliki kesempatan melaksanakan misi bersama dengannya dan melihat langsung bagaimana dia mengalahkan musuh."
"..."
Riku tak bisa berkata kata. Dia akhirnya mengerti rasa tertarik teman sekelasnya bukanlah pada dirinya atau Helen dan lainnya, tapi pada Lunaris.
--sepertinya dia terlalu meremehkan ketenaran Lunaris.
"Ngomong ngomong, bagaimana cara nona Lunaris mengalahkan musuh?"
Kerumunan mulai mengelilinginya seperti semut yang berebut gula.
"Bukankah ketua kelas sudah menceritakannya?"
Dia bisa menebak bagaimana Lunaris melakukannya, tapi dia tak melihat pertarungan secara langsung. Helen dan lainnya pasti lebih tahu.
"Iya, tapi sebagai tunangannya, aku yakin kau lebih tahu tentang nona Lunaris. Orang luar seperti mereka tak bisa diharapkan."
Riku bisa mendengar suara seorang yang kesal. Abaikan.
"Kau sepertinya begitu tertarik?"
Riku sedikit terkejut karena sebelum dia pergi melakukan misi, hubungan teman sekelasnya bisa dibilang begitu kaku, tapi sekarang kekakuan itu menghilang karena rasa penasaran.
Mungkin dia harus berterima kasih pada Lunaris.
"Tentu saja. Kami adalah Moon Prayer. Kami adalah pemuja nona Lunaris. Tentu saja kami ingin tahu segala tindakan heroiknya."
Lunaris, sejak kapan kau menjadi orang suci? Riku merasa rumit karena tahu betul sosok Lunaris jauh dari kata suci.
Mesum, mungkin lebih tepat.
Riku mendesah.
"Maaf, tapi aku tak begitu tahu detail pertarungan itu karena berada di lokasi lain. Selain itu kami baru saja reuni setelah tak bertemu 3 tahun, jadi ada banyak hal baru yang aku tak tahu tentangnya."
"..."
Tiba tiba suasana menjadi bisu dan dingin.
--apa aku salah ucap? Riku mencoba memberikan jawaban yang paling tepat, tapi tampaknya itu mendapat reaksi yang tak dia harapkan.
"Tch?! Dasar tak berguna. Tunangan apa macam kau ini? Sementara nona Lunaris bertarung, kau justru berada di tempat lain? Sungguh memalukan!!"
Dengan cepat dia mendapatkan cemooh dan kutukan. Kerumunan yang mengelilinginya langsung menghilang seperti ilusi.
Apa kesalahannya?
Saat itu dia memang ada hal lain yang lebih penting (menurut Riku), jadi dia memilih untuk tak melihat. Lagipula dia tahu betul kalau Lunaris bisa mengalahkan anggota Hades Hall peringkat Perak. Itupun tiga tahun yang lalu.
Karena itulah, jika ada yang bertanya tentang sekuat apa Lunaris. Jawabannya hanya dua kata...-
Tidak tahu.
Jam pelajaran akhirnya dimulai, tapi bukan bu guru Melisa yang mengajar, tapi orang lain. Riku sedikit merasa ada yang janggal.
Bukankah sudah satu minggu lebih dia pergi?
Jam istirahat, Riku makan siang dengan Helen dan lainnya. Berkumpul seperti ini seperti sudah mulai menjadi kebiasaan. Ini adalah tanda kalau Riku sudah diterima di antara mereka.
Tiba tiba Helen membuka pembicraan denga sesuatu yang membuat Riku terkejut.
"Riku, apa kau sudah mendengar tentang penyerangan kota Horuse?"
__ADS_1
"Apa yang kau maksud?"
Riku tak begitu peduli dengan sesuatu yang bukan urusannya. Bukan berarti dia tak mendengar atau membaca berita, tapi saat dia bersama dengan Lunaris, dia akan melupakan semuanya kecuali kekasihnya itu.
"Kau ingat kalau kita dibiarkan untuk belajar sendiri oleh Bu Melisa." Sambung Guy. "Ternyata dia belum kembali karena masalah penyerangan kota Horuse oleh beberapa orang misterius."
"Begitu. Seingatku itu adalah kota pertambangan. Apakah ada petunjuk siapa yang melakukan penyerangan?"
"Itu masih belum jelas. Pelaku diperkirakan kurang dari 20 orang, tapi mereka semua terdiri dari penyihir peringkat tinggi. Pelaku juga menyandera warga kota sehingga mereka sulit ditangani."
"Itu cukup masalah."
Kasus penyerangan bukanlah suatu yang jarang terjadi. Para Knight biasanya dikerahkan untuk melawan penyerang. Hanya tinggal menunggu waktu saja penyerangan akan berhasil dihentikan.
(Tapi ini terlalu lama)
Untuk memastikan keadaan tetam aman, kekaisaran tak ragu mengirim Knight dalam jumlah banyak tergantung situasi.
Bu guru Melisa sendiri sepertinya seorang Knight dengan pangkat tinggi. Itu artinya dia memiliki kekuatan yang cukup kuat.
(Apakah musuh terlalu kuat?)
Riku menggelengkan kepalanya membantah pemikiran itu. Ada banyak faktor kenapa penyerangan sulit dihentikan. Yang paling masuk akal saat ini adalah penyerangan sudah direncanakan dengan matang dan memperkirakan semua skenario.
Bahkan termasuk respon dari kekaisaran.
"Tenang saja. Meskipun butuh waktu, tapi aku yakin Knight akan berhasil menyelamatkan warga kota Horuse."
"..."
Riku hanya diam.
--Jam pulang sekolah, Riku bersama dengan Helen berkeliling Flame Academy untuk menemukan klub yang cocok dengan Riku.
Riku tahu kalau di sekolah ada banyak klub yang bisa diikuti tergantung niat dan bakat para murid. Tak ada yang dipaksa untuk bergabung dan Riku sendiri merasa mengikuti klub bukanlah suatu yang penting, tapi Helen memberitahu kalau mengikuti klub akan mendapatkan poin tambahan, jadi tak ada salahnya mengikuti klub.
Tetapi tetap saja Riku tak memiliki niat bergabung. Dia berkeliling karena menghargai niat tulus dari Helen. Lagipula tak ada salahnya melakukannya.
Legend Hunter, Magic Research, Adventure Club, History Seeker Club dan banyak klub lain yang keduanya datangi, tapi tak ada yang membuat Riku tertarik untuk bergabung.
Lalu pada kunjungan klub terakhir, Magic and Science Research, Riku sedikit terkejut karena melihat bangunan klub yang begitu besar jika dibandingkan dengan klub klub sebelumnya.
"Klub ini pasti memiliki banyak anggota. Aku terkejut ada banyak yang memiliki niat terhadap hal ini."
"Itu salah. Justru kebalikannya, anggota klub penelitian sihir dan teknologi sangatlah sedikit. Hanya saja karena posisi mereka sedikit spesial di sekolah, maka bangunan lebih besar dan luas daripada yang lain. Lalu ada banyak penelitian yang berbahaya, jadi ini juga untuk keamanan."
Riku baru sadar kalau bangunan itu juga berada di tempat yang cukup jauh dari keramaian. Ada beberapa sihir pelindung yang mengelilingi bangunan, tapi tampaknya tujuannya bukanlah melindungi dari serangan dari luar, tapi dari dalam.
"Hmm.. sepertinya cukup menarik."
Riku lalu menekan bel di depan pintu. Tak berapa lama kemudian mereka mendapatkan respon. .
[Siapa?]
"Namaku Riku. Dan dia Helen. Kami ingin melihat keadaan klub. Apakah boleh?"
[...Tidak. Kami saat ini tak menerima tamu atau anggota baru. Maaf terdengar tak sopan, tapi bisakah kalian segera pergi? Kami sangat sibuk saat ini.]
"Baiklah, maaf mengganggu."
Tanpa banyak kata, Riku berbalik arah dan pergi. Helen mengikuti.
"Entahlah. Terlalu cepat menyimpulkan seperti itu. Tapi terima kasih sudah menemani. Jika aku memiliki niat bergabung dengan klub, aku akan segera melakukannya."
Helen mendesah. Dia mengerti kalau Riku tak begitu peduli dengan poin kontribusi seperti murid lain. Mungkin karena posisinya sebagai putra keluarga Kagami, tapi insting Helen mengatakan ada alasan lain daripada itu.
Dia tak ingin begitu ikut campur dengan urusan keluarga berpengaruh di kekaisaran, sayangnya itu sedikit sulit.
--Tiga hari kemudian, Flame Academy begitu berisik di pagi hari. Riku tak mengerti dan bertanya pada Lunaris. Sebagai anggota OSIS, dia pasti tahu jika ada acara di sekolah.
"Hari ini kita akan kedatangan tamu penting. Jadi sekolah mempersiapkan penyambutan."
"Begitu. Apa harus seheboh ini?"
"Tidak juga, tapi kau akan segera tahu kenapa seperti ini fufu.."
Lunaris tertawa kecil seolah ingin memberikan sebuah kejutan pada Riku.
Riku sendiri banyak mengenal orang terkenal dan penting, jadi dia tak begitu terkejut siapapun yang akan datang. Hanya saja dia tak ingin mendapatkan masalah dari tamu itu.
Jam pelajaran akhirnya dimulai seperti biasa. Sebelum mulai pelajaran, guru tiba-tiba memberitahu kalau hari ini mereka mendapatkan murid baru.
Ini sungguh mengejutkan. Kelas mereka belum lama ini mendapat murid pindahan, dan sekarang mereka kedatangan lagi. Bisa ditebak kalau semua ini ada hubungannya dengan Riku. Meskipun itu masih awal menyimpulkan.
"Nona Silvye, silahkan masuk!!"
Seorang gadis cantik memasuki ruangan. Rambut perak putih yang begitu bersih suci terurai begitu lembut. Matanya kuning keemasan memancarkan cahaya. Bibir kecil kemerahan seperti mawar mekar.
Dia mengeluarkan aura yang begitu lemah lembut dan menenangkan. Semuanya bagaikan seolah melihat sosok dewi yang turun dari surga.
Tetapi dari semua itu, yang paling mencolok dari sosok gadis itu adalah telinga yang lebih panjang dan runcing dari manusia biasa. Sebuah karakteristik yang hanya dimiliki oleh ras elf.
"Anda bisa memperkenalkan diri."
"Nama saya Silvye Forestia Barlan. Karena alasan tertentu saya akan berada disini mulai hari ini. Aku harap kita bisa mengakrabkan diri. Salam kenal semuanya."
Tak ada yang menjawab. Semuanya diam membisu. Tak ada yang menyangka selain cantik bagaikan dewi, dia memiliki suara bagaikan peri.
Mereka merasa beruntung karena sosok seperti Sylvye berada di kelas mereka.
"Anda bisa duduk di bangku kosong di sana. "
Silvyie mengangguk dan menuju ke tempatnya.
"Aku yakin ada banyak hal yang ingin kalian tanyakan mengenai nona Silvyie, aku ingatkan, dia adalah tamu penting, jadi jangan terlalu memaksakan. Helen, aku tugaskan kau untuk memperkenalkan sekolah kita padanya."
Tapi di saat itulah Silvyie mengangkat tangannya.
"Maaf, tapi aku ingin Riku yang mengantarkanku. Kami adalah teman masa kecil."
"Begitu. Kalau itu maumu, maka tak masalah. Riku, kau bisa melakukannya kan?"
Riku tak membalas. Justru dia begitu sibuk menulis sesuatu di selembar kertas.
Sebuah kertas yang berisikan wasiatnya jika dia mati tak lama lagi.
"Riku, lama tak jumpa."
Senyuman Silvyie bagi sebagian orang adalah senyuman malaikat suci, tapi bagi Riku itu adalah senyuman malaikat kematian.
__ADS_1
----
---
Jam istirahat, para murid mengelilingi Silvyie seperti semut yang tertarik oleh gula, sayangnya, Silvyie lebih manis daripada gula.
Dia begitu ramah dan mudah diajak bicara. Jadi dengan cepat dia begitu populer di kelas. Yang membuat murid kelas begitu senang adalah Silvyie begitu mudah mengingat nama mereka.
Bagi karakter tak penting seperti mereka, mereka akan bahagia diingat oleh malaikat seperti Silvyie.
Hanya ada satu orang yang membuat reaksi berbeda dari lainnya.
(Aku harus kabur dari sini sebelum terlambat)
Riku mencoba mencari kesempatan untuk segera pergi. Tapi dia sudah disuruh menemani Silvyie saat istirahat. Jika dia pergi tanpa alasan jelas, dia akan dibenci.
Di saat itulah dia melihat Helen yang sedang melihat catatan kecil.
(Ini kesempatan)
Riku bangkit dan menuju ke tempat Helen.
"Ketua, bisakah kau menggantikanku mengantar Silvye?"
"Itu tak masalah. Tapi kenapa kau tak melakukannya sendiri?"
"Aku merasa sakit perut, jadi aku harus segera ke kamar mandi. Terima kasih sudah menggantikanku."
Riku membuat ekspresi kesakitan dan langsung saja pergi tanpa memberikan alasan.
Helen tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melihat dan berpikir 'apa yang diperbuat oleh orang ini?'.
Pada akhirnya Helen yang mengantar Silvye berkeliling sekolah seperti saat dia mengantar Riku.
"Apakah Riku senang di sekolah?"
"Sepertinya begitu."
Sebagai teman masa kecil, Silvyie menanyakan tentang Riku bukanlah suatu yang aneh bagi Helen.
"Maaf jika tak sopan, tapi apakah nona Silvyie harus bersekolah di Flame Academy hanya demi Riku?"
"Apakah itu terlihat jelas? Yah.. itu wajar kah."
Silvyie tersenyum, tapi itu senyuman misterius yang memiliki banyak arti.
"Tidak, bukan hanya itu saja. Maksudku, kenapa harus kelas B?"
"Oh.. itu."
Seorang yang penting seperti Silvyie pasti memiliki bakat dan kapasitas sihir yang besar. Tak salah jika Silvyie akan memiliki peringkat S atau lebih tinggi dalam peringkat manusia. Apalagi elf terkenal dengan kontrak mereka dengan para roh.
Mengingat semua itu, berada di kelas B sedikit terasa janggal. Jika menyangkut Riku, dia juga tak harus berada di kelas B, dia masih bisa berada di kelas S karena Lunaris ada di sana.
Di saat itulah Helen sadar.
(Mungkinkah karena mereka adalah saingan cinta? Jika seperti itu, itu menjelaskan semuanya)
Mengenal sosok Riku yang begitu mencintai Lunaris akan membuat orang sulit berpikir seperti itu, tapi mereka membicarakan keluarga Kagami di sini. Sebuah keluarga yang terkenal karena kepala keluarga memiliki banyak istri.
Tak aneh jika anaknya mengikuti jejak ayahnya.
"Kau salah jika berpikir aku memiliki kekuatan hebat. Dalam hal sihir, kemampuanku tak jauh berbeda dari kalian. Karena itulah aku berada di kelas B. Satu kelas dengan Riku hanyalah kebetulan yang menyenangkan."
"..."
Karena merasa ada hal yang tak pantas dia dengar, Helen berhenti bertanya. Dia paham ada hal yang seharusnya tak dia ketahui.
Kemudian, jam istirahat selesai. Helen dan Silvyie kembali ke kelas, tapi sejak saat itu Riku tak kembali lagi.
---jam pulang sekolah, Silvyie dijemput oleh Lunaris, Saria dan Aura. Mengingat Silvyie dan Riku adalah teman masa kecil, tak aneh jika mereka saling mengenal.
Pada kenyataannya, keluarga Kagami dan keluarga Silvyie cukup dekat. Mereka sering mengunjungi satu sama lain.
Hal ini begitu normal bagi keluarga Kagami, tapi bagi orang umum, hal seperti itu adalah sebuah perlakuan spesial.
Elf begitu tertutup dengan ras lain. Negeri mereka berada di tengah hutan paling besar di dunia, hutan Gedbang. Hutan itu tak hanya lebih luas dari hutan Rukia, tapi juga ada pelindung dari elf yang membuat orang memasuki hutan tersesat.
Sejak dulu elf dikenal sebagai ras yang netral. Mereka tak bergabung dalam sebuah pihak atau berpartisipasi dalam perang.
Tetapi tetap saja kemampuan elf yang mudah membuat kontrak dengan para roh membuat ras lain iri. Bahkan termasuk manusia.
Kunjungan Silvyie bisa dibilang semacam sebuah pertanda kalau elf mulai membuka diri, tapi pada kenyataannya dia ke kekaisaran untuk melindungi diri dari ancaman.
Hal itu diberitahukan pada Lunaris setelah dia kembali dari kota Panese dan Lunaris ditugaskan menjadi sebagai pengawal, tapi Lunaris menolak dan mengajukan Riku sebagai pengawal mengingat hubungan mereka.
"Jadi kau belum memberitahunya?"
"..."
Silvyie mengangguk pelan.
"Ya ampun, apa yang dilakukan kakak bodoh itu? Teman masa kecil datang, bukannya senang, dia justru pergi ke tempat entah berantah."
"Aku ingin sekali memukulnya untuk memberikan pelajaran."
Aura dan Saria terlihat begitu marah. Di keluarga Kagami selalu mengajarkan untuk memperlakukan wanita dengan baik. Apa yang dilakukan Riku pada Silvyie melanggar ajaran itu.
"Riku pasti memiliki alasan. Jangan terlalu keras padanya."
"Jeezz... Kau terlalu lembut padanya. Dulu dia begitu penurut, tapi sekarang dia sering kali membantah. Aku memang harus mendidiknya lagi."
"Kak Lunaris, aku akan membantumu."
"Jangan lupakan aku!"
Lunaris dan si kembar merencanakan sesuatu yang buruk tanpa Riku ketahui.
"Mengesampingkan itu, apa kau akan tinggal di rumah ayah atau kami?"
Rumah kami yang dimaksud adalah rumah yang Riku dan Lunaris tinggali. Mengingat Silvyie sedang berlindung, rumah keluarga utama Kagami adalah pilihan terbaik.
Tapi jika tinggal di rumah Riku, Lunaris dan Riku akan mudah melindungi Silvyie, jadi kedua pilihan tak ada yang buruk.
"Aku ingin tinggal bersama kalian, tapi apakah tak merepotkan?"
"Tidak masalah. Ada banyak kamar kosong. Riku pasti tak keberatan."
"Kalau begitu, mohon kerja samanya."
__ADS_1
Lunaris tersenyum. Tapi itu bukan hanya senyuman senang, tapi sebuah senyuman yang merencanakan sesuatu yang licik.