
Seminggu kemudian, kasus pembunuhan terjadi di ibukota.
Pembunuh itu hanya mengincar para Knight dan ternyata korban sudah mencapai 10 Knight. Tak butuh waktu lama untuk menemukan pelakunya. Seorang penyihir tipe User peringkat SS, Gio Sevarez.
Dia sebenarnya seorang penjahat yang sudah lama dicari, tapi sampai sekarang Gio selalu berhasil lolos.
Hal ini membuat ibukota tak tenang dan tak aman. Jam malam diberlakukan dan Knight juga ditambah, namun korban justru semakin bertambah.
Apakah Gio sekuat itu?
Apakah karena dia mempunyai sihir khusus Soul?
"Hmmm... Jadi inikah Gio Sevarez."
Laila duduk di ruang tamu di temani oleh secangkir teh yang berada di meja kaca tak jauh darinya.
Dia sedang melihat berita, lebih tepatnya informasi yang disebarkan pemerintah kekaisaran tentang pembunuh bernama Gio Sevarez.
Layar ponselnya menunjukkan pria tua yang terlihat menakutkan.
"Dia pasti menarik perhatian, tapi kenapa belum tertangkap?"
"Tentu karena dia pintar bersembunyi, Nona."
"Guhh... Aku tahu. Yang kumaksud kenapa dia belum tertangkap atau kenapa tempat persembunyiannya belum ketahuan."
"Tentu karena dia pintar bersembunyi, Nona."
"Uggg.. "
Laila tak bisa membantah perkataan Shopie. Memang apa yang dikatakan Shopie benar, tapi Laila setidaknya ingin mendengar jawaban yang sedikit berbeda.
Shopie berdiri di dekat Laila dan menemani Laila mengobrol.
Tapi seperti yang terlihat, Shopie terlalu serius ketika membahas sesuatu.
Meskipun sebenarnya ingin membahas masalah ini bersama ibu atau neneknya, namun mereka berdua sekarang sedang belanja bersama. Apakah mereka tak malu dengan umur?
Sementara itu, adik perempuannya sedang berada di rumah temannya. Kakak laki lakinya entah dimana karena berkeliling dunia.
Ini adalah hari libur dan ini adalah hari paling membosankan dalam kehidupan Laila.
"Haaa..."
Laila mendesah dan mengambil cangkir teh. Dia minum seteguk lalu berdiri.
"Shopie, panggilkan Hyura. Aku ingin pergi ke suatu tempat."
"Bolehkah aku tahu tujuan anda, Nona?"
"Aku cuma mau membeli beberapa buku. Jadi kau tak usah kuatir."
"Baiklah, saya mengerti, tapi kenapa tak pesan saja?"
"Buku yang kubeli adalah buku pribadi, apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Siapa lelaki bertopeng yang pernah dirumorkan berpacaran dengan anda? Terus terang Nyonya Lia penasaran sekali."
"Uggg.. .."
Laila sekarang merasa jengkel. Dia tak menyangka ibunya akan ikut ikutan membahas pemuda bertopeng.
Setelah berganti pakaian, Laila pergi diantar Hyura ke toko buku yang tak jauh dari perumahan elit.
Laila turun dari kereta dan langsung menjadi pusat perhatian.
Kecantikannya memang setara dengan putri kekaisaran ini, bahkan ada yang mengatakan dia lebih cantik, tapi Laila tak pernah memikirkan itu.
Pakaian Laila hari ini adalah kaos tanpa lengan berwarna putih dan rok mini merah. Tas kecil dan sepatu merah juga menambah kecantikan Laila. Selain itu, gaya rambut Laila sedikit berbeda hari ini, yaitu twintail.
Setelah meminta Hyura untuk meninggalkannya, dia memasuki toko buku berlantai 5. Ini toko buku yang cukup lengkap, jadi Laila tak perlu pergi ke toko buku yang lebih besar.
Buku pribadi yang Laila cari adalah buku bergambar yang dipanggil manga.
Manga pertama kali muncul 100 tahun yang lalu, namun baru 10 tahun ini perkembangan manga meningkat pesat. Cerita yang menarik dan mudah dimengerti inilah alasan kenapa manga cepat populer. Dan Manga yang paling populer saat ini berjudul Fated Lover.
Hampir semua teman Laila pernah membaca dan membicarakan manga itu, dan karena Laila belum pernah membaca, maka dia selalu menjadi pendengar. Dengan kata lain dia ketinggalan informasi.
Dia membenci itu dan juga membuat dia penasaran, apa yang menarik dari Fated Lover.
Setelah naik beberapa lantai, tepatnya di lantai 4, dia melangkahkan kakinya menuju bagian yang menjual manga dan novel.
Laila cukup terkejut saat melihat ratusan berbagai judul manga yang bersampul gambar menarik , tapi dia tak menemukan manga yang berjudul Fated Lover. Apakah sudah habis?
Tidak.
Setelah mencari beberapa menit, dia menemukan buku yang dia cari. Dia cukup beruntung karena masih ada beberapa buku yang belum terjual.
Dia mengambil salah satu buku dan melihat beberapa lembar.
"Whaa... apa ini?"
Mata Laila langsung berbinar binar saat melihat beberapa lembar penuh gambar menarik. Tak hanya itu, kisah cerita yang disuguhkan ternyata sangat romantis. Dan yang paling penting, karakter laki laki di manga itu begitu tampan.
Sebagai gadis yang tak berpengalaman dalam cinta, manga itu bisa menjadi referensi yang bagus.
Dan karena terlalu asik melihat buku, Laila tak menyadari kalau penjaga toko sudah berdiri di belakangnya dengan wajah menyeramkan.
"Nona, apa kau tahu kalau di toko ini mempunyai aturan 'membaca berarti membeli'?"
"Huuh?"
Akhirnya Laila menoleh ke arah belakang dan tersenyum pahit.
Setelah membeli buku yang dia cari, Laila ingin segera membaca karena penasaran dengan lanjutan cerita dalam buku itu.
Dia berjalan menelusuri trotoar dan akhirnya menemukan restoran outdoor, tapi restoran itu sudah penuh kecuali satu meja. Tidak. Meja itu sudah di duduki oleh satu orang lelaki yang sedang membaca majalah dengan serius, mungkin.
Laila berpikir seperti itu karena lelaki itu membaca tepat di depan wajahnya sehingga wajahnya tak terlihat.
Lelaki itu tak memesan apapun. Itu bisa terlihat dari mejanya yang bersih.
(Dia pasti tak keberatan jika aku duduk berseberangan dengannya kan?)
Daripada bingung, lebih baik dia bertanya langsung. Jika tidak boleh, Laila akan langsung pergi dan mencari tempat lain. Itulah yang Laila pikirkan saat berjalan menuju meja yang masih memiliki 3 kursi kosong itu.
"Umm... tuan, bolehkah aku duduk di meja ini, kebetulan tak ada meja yang kosong."
"............."
Laila bertanya dan memberikan alasan kenapa dia ingin duduk di meja itu, tapi laki laki itu hanya terdiam.
Laila menganggap itu sebagai jawaban "Ya.", karena itulah dia tanpa ragu duduk berseberangan dengan lelaki itu.
Tak berapa lama, pelayan datang dan menanyakan pesanan Laila.
"Umm.. aku pesan satu cangkir teh."
"Kalau aku pesan satu cangkir kopi hitam."
"Baiklah, silahkan tunggu sebentar."
"Eh?"
Laila terkejut bukan main saat mendengar suara tak asing lelaki itu.
Sementara itu pelayan pergi untuk membuat pesanan mereka berdua.
"Yo.. kita bertemu lagi, Nona."
"Sudah kuduga itu kau..."
Lelaki itu ternyata pemuda bertopeng.
Pemuda itu hari ini berpakaian tak jauh berbeda saat berada di perpustakaan. Mungkinkah itu gaya berpakaiannya?
Pemuda itu menaruh majalah di atas meja, lalu melirik ke arah Laila.
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Tidak, aku hanya penasaran, mungkinkah kau itu ...... Stalker (Penguntit)?"
Wajah Laila merah karena marah dan sekaligus terkejut.
"Huh.. jangan bercanda. Bukankah kau yang seorang Stalker? Terus terang, aku juga heran kenapa aku selalu bertemu denganmu. Hoo... jangan bilang kau jatuh cinta kepadaku dan mencoba mengincarku? Dengar, aku bukanlah gadis gam-"
"Ha ha ha..."
Pemuda itu tertawa dengan keras saat mendengar itu. Dia bahkan membuat orang disekitar mereka melirik ke arah mereka.
Wajah Laila memerah karena merasa malu menjadi pusat perhatian.
"Hei.. apanya yang lucu?"
"Coba kau ingat kembali pertemuan kita. Aku yang mendekatimu atau kau yang mendekati aku?"
"I-itu...."
Laila tak bisa mengelak ketika menyadari apa yang dikatakan pemuda itu benar.
Lailalah yang selalu mendatangi/menemukan pemuda itu. Bukankah hal itu membuat Laila menjadi stalker?
"Sudahlah. Lagipula pertemuan kita cuma kebetulan. Jadi kenapa kau ada disini, Nona? Mungkinkah kau sedang berkencan?"
"Ke-kencan? Ja-jangan bercanda. Aku belum mempunyai pacar, jadi mana mungkin aku berkencan, bodoh!"
"Begitu rupanya. Sayang sekali, padahal kukira kau berpakaian semanis itu karena ingin berkencan."
"Ma-manis?"
Wajah Laila memerah karena mendengar pujian pemuda itu.
Ini baru pertama kalinya dia dibilang manis oleh lelaki secara langsung, jadi dia tak tahu merespon apa.
Memang cukup banyak yang menyatakan cinta kepada Laila, namun hanya itu. Kebanyakan lelaki itu adalah lelaki yang tak dikenal Laila, jadi mana mungkin Laila mempunyai perasaan kepada mereka.
Itulah resiko menjadi populer.
Di saat itulah, pelayan datang membawa pesanan mereka. Pelayan itu menaruh di meja lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ya. Manis dan cantik."
Sayangnya, pemuda itu mengucapkan dengan nada datar.
"Kau pasti mempermainkanku kan?"
"Tidak. Aku mengatakannya dari lubuk hatiku yang paling terdalam. Yah.. tapi jika kau menganggap aku mempermainkanmu, tak apalah. Aku sama sekali tak keberatan atau marah."
"Bukankah aku yang seharusnya marah disini?"
"Ahh kau benar."
"................................"
Laila terdiam. Dia sudah tak bisa berkata apa apa lagi.
Dia mendesah dan melonggarkan bahunya.
Dia kesal saat dipermainkan oleh lelaki yang bahkan tidak dia kenal. Tapi, kenapa pemuda itu ada disini?
".................."
"............."
Sunyi. Tak ada yang saling bicara atau mencoba memulai pembicaraan lagi.
Laila tak ingin mulai bicara karena dia tak ingin dipermainkan lagi oleh pemuda itu.
Sementara itu pemuda itu hanya kembali membaca majalah dan tak mempedulikan Laila. Ini adalah pertama kalinya Laila bertemu dengan orang semacam pemuda itu.
Karena tak tahu apa yang harus dia lakukan, Laila minum seteguk teh hangat lalu membaca manga yang tadi dia beli.
Butuh waktu cukup lama untuk membaca buku itu, namun Laila sudah tahu inti dari cerita di manga itu.
Cerita antara dua insan yang berawal dari sebuah pertemuan tak terduga, lalu berlanjut hingga menjadi sepasang kekasih.
Romantis. Itulah yang dipikirkan Laila saat membaca manga itu.
"... Fated Lover kah, kalian memang mudah suka dengan cerita murahan."
"Huh?"
Pemuda itu tiba tiba berbicara saat melihat Laila asik membaca manga.
Laila tak terlalu mengerti maksud pemuda itu, namun Laila tahu pemuda itu sedang menjelek jelekan cerita di manga itu.
Itu membuat Laila marah.
"Apa maksudmu dengan cerita murahan?"
"..........."
Tapi pemuda itu tak menjawab dan justru berdiri. Pemuda itu lalu mengambil sesuatu dari sakunya.
Itu uang. Uang itu diletakkan di atas meja dan pemuda itupun melangkah pergi mengabaikan Laila.
"? Hey aku belum selesai."
"..............."
Pemuda itu tetap mengacuhkan Laila. Bahkan dia terlihat seolah olah menganggap Laila tak pernah ada.
"Khhh...."
__ADS_1
Itu membuat Laila jengkel. Ini bahkan baru pertama kalinya Laila semarah itu.
Tanpa pikir panjang, Laila mengambil uang dan menaruhnya di atas meja lalu mengejar pemuda itu, tapi-
(Dimana dia?)
Laila tak menyangka pemuda itu sudah tak terlihat di kerumunan orang yang berjalan kaki. Ini membuat Laila semakin marah.
Dia berlari ke berbagai tempat, namun dia tak menemukan pemuda bertopeng itu.
Lalu, sampailah dia di sebuah taman kota. Meskipun dia tak tahu kenapa kakinya mengantar dia ke taman itu, namun tak salahnya mencari di tempat itu.
Setelah cukup lama mencari, dia menemukan sekelompok anak anak yang berkumpul di tempat menjual es krim, tapi tak hanya anak anak yang berada disana.
Pemuda bertopeng itu ternyata juga disana sedang membagikan beberapa es krim kepada anak anak.
"Apa yang dia lakukan?"
Laila tak terlalu mengerti, namun tampaknya pemuda itu membelikan es krim kepada semua anak anak yang berjumlah 20an.
Setelah beberapa menit, semua anak mendapatkan masing masing satu es krim dan pergi meninggalkan pemuda itu.
Tapi setelah anak anak itu pergi, pemuda itu memesan es krim yang 3 kali lebih besar.
"Aha.. ha ."
Laila hanya bisa tersenyum pahit melihat itu.
Pemuda itu curang, benarkan?
Laila tanpa pikir panjang mendekat. Dia masih ingin tahu kenapa pemuda itu mengatakan Fated Lover adalah cerita murahan.
".........?"
Pemuda itu tampaknya menyadari kedatangan Laila dan menoleh ke arah Laila.
"Akhirnya aku bisa menemuk-"
"Apa kau mau es krim?"
Pemuda itu memotong perkataan Laila, lalu dia memesan satu es krim yang sama dengan miliknya untuk Laila.
Tak ada alasan menolak.
Akhirnya setelah menemukan kursi panjang di bawah pohon, mereka berdua makan es krim bersama.
Keheningan terjadi saat mereka menjilati es krim di tangan kanan mereka.
Tapi itu bukan masalah karena Laila merasa itulah yang terbaik. Dia akan menanyakan setelah selesai makan es krim.
Setelah es krim mereka habis, akhirnya Laila punya kesempatan untuk menanyakan kenapa pemuda itu mengatakan Fated Lover adalah cerita murahan.
"Hei.. ke-"
Tapi sekali lagi dia mengurungkan niatnya saat melihat pemuda itu mendapatkan sebuah panggilan telepon. Pemuda yang sibuk?
Pemuda itu mengambil ponselnya, lalu menjawab. Dia tampaknya tak terlalu peduli Laila mendengarkan pembicaraannya.
"Apa kau bilang, kalian sudah menemukannya? Bagus. Jangan merepot- Huhh.. kau pasti bercanda. Aku tak mau melakukannya."
Pemuda itu terlihat marah dan langsung menutup teleponnya. Tapi tak berapa lama kemudian, ponsel pemuda itu bergetar tanda ada panggilan masuk.
Pemuda itu tak menjawab. Dia justru menggenggam ponselnya, lalu meremasnya hingga hancur dan membuangnya ke tempat sampah tak jauh dari mereka.
Melihat itu, Laila tersenyum kecut. Ini baru pertama kalinya melihat seseorang membuang ponsel dengan mudah.
"Hey.."
Tapi Laila dikejutkan lagi ketika pemuda itu berdiri dan berniat pergi lagi.
Tentu saja Laila tak bisa membiarkan hal ini terulang dan langsung menggenggam tangan pemuda itu.
"Jika kau ingin bicara, kita akan berbicara di tempat lain. Untuk sekarang sebaiknya kita cepat pergi dari sini!"
"Huh. . apa maksudmu?"
"Nona, maukah kau berkencan denganku?"
"Eh? Eeeeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhhhh?"
Entah bagaimana bisa Laila mau menerima ajakan kencan pemuda itu, tapi dia tak sama sekali menolak. Setelah itu, dia diajak pemuda itu pergi menuju sebuah mall.
Wajah Laila memerah karena ini baru pertama kalinya berjalan bersama seorang laki laki. Ini adalah kencan pertamanya.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai mall itu, tapi kenapa harus pergi ke mall?
"Hei kenapa tiba tiba mengajakku ke mall? Apa kau pikir aku gadis yang suka belanja?"
"Tidak. Memang tujuanku adalah mall itu, tapi jika ingin belanja, aku tak keberatan membelikan apapun yang kau mau."
"Tidak usah. Aku punya uang, jadi kau tak usah membelikanku."
Meskipun kaya, tapi uang saku Laila dibatasi. Hal itu bertujuan agar Laila belajar menghargai uang, namun sekarang uang saku bulanan Laila tinggal sedikit, jadi dia memutuskan untuk tidak belanja.
Tapi sekarang dia pergi ke mall yang merupakan tempat paling menggoda untuk para gadis. Ini benar benar buruk.
"Kau tak usah malu. Lagipula kita berkencan hari ini, jadi biarkan aku mentraktirmu."
"............."
Laila terdiam karena tak tahu harus menjawab apa.
Meskipun secara teknis mereka berkencan, tapi Laila merasa kalau pemuda itu mengajak Laila karena ada alasan tertentu atau karena menginginkan sesuatu.
Apakah pemuda itu tahu kalau Laila seorang putri paladin?
"Nona, kau ingin menanyakan kenapa alu bilang Fated Lover adalah cerita murahan, benarkan?"
"Eh? Ya... begitulah."
Tak disangka, pemuda bertopeng itu justru yang memulai pembicaraan mengenai Fate of Love.
"Mudahnya itu hanya pendapat pribadiku, tapi kenapa kau semarah itu?"
"Tentu aku marah karena kau menjelek jelekkan sesuatu yang kusuka, tapi aku tahu kau pasti punya alasan lain kenapa bilang Fated Lover adalah cerita murahan, apa aku salah?"
Pemuda itu tersenyum kecil saat mendengar itu.
Dan disaat yang bersamaan, mereka sudah sampai di Lotus Mall.
Mereka berdua masuk melewati pintu otomatis dan menuju lantai bawah tanah yang menjual berbagai benda sihir.
Lotus mall terdiri dari 6 lantai dan memiliki 3 lantai bawah tanah yang dikhususkan tempat menjual benda sihir. Lantai 1 sampai 6 adalah tempat menjual barang kebutuhan sehari hari dan teknologi terbaru yang menggunakan sihir [Magitec].
Lantai bawah tanah pertama, itulah tempat mereka saat ini.
Tempat itu dipenuhi berbagai toko yang menjual benda sihir yang umum. Ramuan, batu batuan, aksesoris, buku mantra, bola sihir, dan senjata juga ada.
Benda sihir yang dijual bebas adalah jenis benda sihir umum yang bisa digunakan oleh penyihir maupun non penyihir. Dan jika ingin mendapatkan benda sihir langka, maka orang itu harus mencarinya di dungeon atau mengalahkan monster. Tapi benda sihir langka juga ada, namun tentu saja lebih mahal puluhan kali lipat.
Saat ini dia sudah berjalan melewati puluhan toko, namun tampaknya pemuda itu ingin ke sebuah toko khusus.
"Tidak. Aku sedang ingin bertanya. Yahh bisa dibilang mencari informasi. Tapi jika kau ingin sesuatu bilang saja. Aku akan membelikannya untukmu."
"Aha ha... Aku tak menginginkan sesuatu, tapi jika kau kesini untuk mencari informasi, mungkinkah kau sedang menjadi mata mata lagi?"
"Aku terkejut kau masih mengingatnya, tapi kali ini bukan mata mata. Kita kali ini menjadi detektif yang membantu masyarakat. ku ku... "
"Kita? Kenapa aku juga termasuk?"
Semoga dia tak terlibat hal yang merepotkan. Itulah doa Laila, namun tampaknya itu sudah terlambat.
"Ya. Tenang saja. Kau hanya menemaniku dan tak akan terlibat hal berbahaya."
"Ahhhh..."
Laila tak percaya omongan pemuda itu.
Namun sekarang dia tahu alasan diajak berkencan.
Setelah beberapa saat, Laila dan pemuda itu berhenti di sebuah toko yang menjual senjata.
Pedang, tombak, panah, sabit, pisau tersedia di toko itu dan semuanya berbahan Magilium. Dengan kata lain, toko itu adalah toko khusus yang menyediakan senjata untuk penyihir. Tapi kenapa pemuda itu ke toko ini?
Dia bukan seorang penyihir kan?
"Kau tunggulah disini. Aku akan memesan beberapa pedang dan bertanya kepada pemilik toko. Jadilah gadis yang baik, apa kau mengerti?"
"Iya iya.."
Setelah itu, pemuda bertopeng memasuki toko.
Laila dapat melihat pemuda itu berbicara dengan pemilik toko yang merupakan lelaki besar dan gendut.
(Sial, aku diperlakukan seperti anak kecil.)
Meskipun marah, namun dia tak bisa berbuat banyak karena ini mungkin cara agar tak melibatkan Laila, tapi dia sedikit mendengar kalau pemuda itu menyebut nama Gio Sevarez.
Mungkinkah informasi yang dicari adalah mengenai Gio Sevarez?
Tak berapa lama kemudian pemuda itu keluar dari toko tanpa membawa apapun di tangannya.
"Baiklah, sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan. Jadi sekarang ayo kita pergi ke lantai atas!"
"Huh? Lantai atas?"
Meskipun tak terlalu mengerti, Laila akhirnya ikut pergi ke lantai atas bersama pemuda itu, tepatnya lantai 4.
Lantai itu tempat menjual Magitec yang didominasi ponsel dan komputer sihir.
Laila sekarang tahu apa yang ingin pemuda itu beli.
"Kau menghancurkan ponselmu lalu membeli yang baru, kau sudah gila."
"Tidak juga. Aku menghancurkannya karena orang itu akan menghubungiku terus, jadi aku tak punya pilihan selain menghancurkannya."
Mereka sekarang berada di toko yang menjual ponsel model terbaru.
Puluhan ponsel terbaru dipajang di toko dan membuat Laila mendesah dalam hati. Meskipun ponsel miliknya belum terlalu ketinggalan zaman, namun semua model terbaru memiliki puluhan fitur yang tak ada di ponselnya.
Terkutuklah para pengembang ponsel.
Selain itu, ponsel Laila dibeli dengan uang yang ditabung selama 3 bulan. Inilah kehidupan putri paladin terkuat.
Dia dan saudaranya tak pernah dimanja oleh orang tua mereka.
"Kenapa kau tak mematikannya saja, dengan begitu dia pasti tak akan bisa menghubungimu kan?"
"Kau tahu, orang yang menghubungiku mempunyai sihir yang mampu menghidupkan ponsel dari jarak jauh, jadi saranmu tak ada gunanya."
"Apa ada penyihir yang memiliki sihir seperti itu?"
"Kau tak tahu apapun tentang dia. Jadi sebaiknya jangan banyak tanya!"
"Ya sudahlah, ... eh?"
Laila terkejut saat penjaga toko memberikan ponsel model terbaru kepada Laila.
"Terimalah sebagai bayaran karena menemaniku.. he he.."
"Kau membelikanku?"
"Begitulah. Aku selalu membeli 10 ponsel sekaligus, jadi terima saja salah satunya."
"Eh?"
Sekali lagi Laila dipermainkan pemuda itu.
Disaat dia merasa sedikit senang, pemuda itu justru menghancurkan kesenangan Laila dalam hitungan detik.
Laila seperti diberi sisa oleh pemuda bertopeng itu, tapi tak apalah. Laila tetap mendapat ponsel baru gratis.
Setelah membayar ponsel dengan Golden Yold Card yang digunakan sebagai pengganti uang, pemuda itu pergi dan hanya membawa satu buah ponsel. Apakah membeli 10 ponsel hanya bohong?
"Hentikan tatapan curigamu itu! Aku membeli dan meminta mengantar ke rumahku seperti pedang yang kubeli."
"Aha ha .."
Laila tertawa pahit.
Setelah itu mereka berdua berjalan ke sebuah restoran yang berada di lantai yang sama.
Pemuda itu memesan steak. Laila juga dipesankan steak oleh pemuda itu. Tak ada pilihan, Laila akhirnya juga makan steak bersama dengan pemuda itu.
Dari cara makan pemuda itu, Laila tahu pemuda itu adalah orang kaya atau keturunan bangsawan.
Atau tidak.
Kenapa bangsawan menjadi mata mata dan detektif?
Ini aneh dan tidak normal kan?
Sekitar 15 menit mereka selesai makan. Pemuda itu tiba tiba mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku sudah mendapatkan informasi tentang dia. Suruh kumpulan orang tak berguna itu ke timur ibukota dan mencari cafe Inferio, tepatnya bawah tanah cafe. Aku yakin kalian bisa menemukan dia di sana."
Sambungan lalu terputus. Pemuda itu memasukan ponsel ke sakunya dan menyadari Laila menatap dengan tatapan penasaran.
"Dia? Apa yang kau maksud Gio Sevarez?"
Laila bertanya karena dia juga penasaran dengan perkembangan penangkapan Gio Sevarez.
"Sudah kukira kau mendengarnya kah. Ya....... kurasa tak apa apa memberi tahumu. Aku yakin sebentar lagi dia akan tertangkap. Tapi sebaiknya kita ke tempat lain untuk berganti suasana, bagaimana? Lagipula kita masih berkencan kan?"
__ADS_1
"Ha ha.. tempat lain?"
Laila tak mengerti, namun dia mengerti setelah pergi ke Game Center yang berada di lantai 2.
"Kenapa kita kesini?" tanya Laila.
"Tentu mengobrol sambil bermain. Apa kau lebih suka mengobrol di pemandian air panas?"
"Hentikan lelucon mesummu itu. Tapi jika niatmu ingin menantangku, maka aku tak akan mengalah."
Merekapun akhirnya mulai pertandingan antara mereka.
Di game center terdapat dua jenis permainan. Permainan yang membutuhkan sihir dan yang tidak membutuhkan sihir.
Mereka mencoba permainan darts, tapi bukan darts biasa.
Darts di game center ini memiliki target yang bergerak secara acak. Pemain diperbolehkan memakai sihir dan hanya memiliki 3 kali kesempatan melempar dari jarak 5 meter.
Ini permainan mudah, tapi belum pernah ada yang berhasil tepat mengenai target.
"Bagaimana dengan permainan ini, apa kau berani mencobanya?"
Laila menantang pemuda itu. Dia juga terlihat lebih bersemangat.
"Tentu saja. Ini permainan mudah."
"Ho ho.. kau akan menyesali kata katamu. Kalau begitu siapa yang mencoba terlebih dahulu? Aku atau kau?"
"Terserah. Bagiku tak ada bedanya."
Akhirnya Laila mencoba terlebih dahulu. Dia bersiap melempar panah pertama dan mengalirkan mana ke panah yang ujungnya terbuat dari magilium.
Dia berkonsentrasi dan memperhatikan tengah target yang bergerak acak dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
"Hyaa!"
Dia melempar setelah memprediksi jalur target, tapi target ternyata tak berada di jalur yang dia perkirakan.
Lemparannya akan meleset.
Tapi itu belum berakhir. Laila dengan cepat membelokan panah dan akhirnya menancap hampir di tengah target.
"Lumayan..."
"Apakah itu komentarmu? Lihat saja, ini baru pemanasan!"
Meskipun tak mengenai target, namun hasil lemparan Laila menarik perhatian pengunjung game center.
Mungkin lemparan Laila adalah lemparan yang paling mendekati target.
Setelah itu, Laila melempar 2 panah yang tersisa, tapi hasilnya tak jauh berbeda.
"Jeeeezzz... kenapa bisa begitu. Aku tak percaya gagal melakukannya."
Laila terlihat jengkel karena tak bisa mengenai target.
"Jangan cemberut. Hasil lemparanmu sudah cukup bagus kok, tapi gagal tetaplah gagal, benarkan?"
"Kalau begitu coba saja sendiri dan buktikan lemparanmu lebih baik dariku, ...meskipun itu mustahil Ku ku..."
Pemuda itu mengambil panah pertama dan melemparnya, tak hanya itu, dia melempar 2 panah yang tersisa hampir disaat bersamaan.
Dan hasilnya adalah-
"Ini bohong kan?"
Laila tak percaya saat 3 panah pemuda itu mengenai target tepat di tengah.
Tak hanya Laila, pengunjung Game Center juga tak bisa berkata apa apa.
Tapi setelah beberapa saat, teriakan terdengar dari semua pengunjung Game Center.
"Sudah kubilang ini mudah kan?"
"Aha ha ha... Apa kau manusia?"
"Kau tahu, aku sering berlatih melempar benda. Dari seratus lemparan, tak ada satupun yang meleset dari target."
Setelah mendengar itu, Laila sekarang lebih yakin kalau pemuda bertopeng itu bukan manusia.
Dia juga sadar jika memainkan permainan yang mengandalkan ketepatan, maka pemuda itu tak akan terkalahkan.
Dia merasa menyesal memainkan permaian itu, tidak, pemuda itu yang curang karena memiliki kekuatan seperti itu. Apa gunanya memainkan game?
"Tapi sayang sekali permainan ini tak ada hadiahnya meskipun sulit, terus terang aku heran kenapa permainan seperti ini ada?"
"Itu tidak benar."
""?!""
Laila dan pemuda itu dikejutkan oleh suara seorang lelaki berusia 30an yang membawa boneka beruang besar berwarna pink di kedua tangannya. Lelaki itu adalah penjaga yang mengawasi permainan.
"Permainan itu memiliki hadiah. Ini silahkan ambil untuk pacarmu!"
Lelaki itu memberikan boneka beruang kepada Laila, disaat itulah Laila menoleh ke arah pemuda itu untuk memberi tanda "Apakah tak apa apa?".
Pemuda itu tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih, tapi dia bukan pacarku."
"........eh?"
Lelaki itu terbengong untuk sesaat, namun dia tersenyum.
"Tapi kenapa permainan ini hanya berhadiah boneka beruang? Pasti hadiah sebenarnya tak hanya itu kan?"
"Hei , itu tak sopan tahu. Apa hadiah ini tidak cukup untukmu?"
Laila protes karena pemuda itu menanyakan hal kasar, tapi jika dipikir pikir pemuda itu ada benarnya.
"Tenanglah nona, pacarmu itu benar. Dulu hadiah untuk bagi yang berhasil mengenai target adalah uang. Satu panah 500.000 Yold, dua panah 1.000.000 Yold dan 3 panah 10.000.000 Yold."
"Huh... 10.000.000 Yold?"
"Yahh tapi itu dulu saat promosi. Dan karena ini baru pertama kalinya setelah 6 tahun, jadi kami hanya bisa memberi hadiah boneka. He he..."
Dengan kata lain, secara teknis pemuda itu sudah memenangkan 10.000.000 Yold.
"Apakah hadiahnya tidak cukup?"
Penjaga itu terlihat ketakutan dan merasa bersalah.
Laila dan pemuda itu melirik satu sama lain dan tersenyum. Lalu mereka mengangguk bersamaan.
"Tidak. Ini sudah lebih dari cukup."
Setelah mendapatkan boneka beruang besar, Laila dan pemuda itu pergi dari game center. Mereka sadar akan percuma tetap berada disana.
Terima kasih kepada pemuda yang memiliki keakuratan di luar batas manusia. Berkat dia, sekarang mereka tak jadi membahas masalah yang ingin mereka bicarakan, yaitu tentang Gio Sevarez.
Mereka sekarang sudah berada di luar mall dan berjalan tanpa arah tujuan. Satu hal yang ketahui adalah, jika ingin membicarakan topik rahasia seperti mengenai Gio Sevarez, mereka harus menemukan tempat sepi.
Itu tempat yang sulit mengingat ini adalah ibukota negeri terbesar di tanah Orladist.
"Sekarang kita mau kemana?"
Laila bertanya karena tak tahu tujuan mereka sekarang.
"Itu terserah kau, apakah kau ingin membicarakan ini atau tidak, tapi aku sarankan untuk tak membicarakan ini. Jadi apa jawabanmu?"
"Aku tetap ingin tahu. Aku paham resikonya, jadi beritahu aku!"
"Baiklah kalau begitu. Jika itu maumu, maka kau harus ikut denganku. Tapi kau jangan menyesal atau kabur, mengerti?"
"............"
Meskipun perkataan pemuda itu sedikit membuat Laila takut, namun dia mengangguk tanda mengerti.
Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya sampai di tempat yang tak pernah diduga Laila.
"Jadi kita akan berbicara di pemandian air panas? Hey.. jangan bilang kau sudah merencanakan ini sebelumnya?"
Di depan Laila, sebuah bangunan 3 lantai yang merupakan tempat pemandian air panas berdiri kokoh.
Biasanya air panas ditemukan di dekat gunung berapi, tapi dengan bantuan sihir, air panas dapat dirasakan meskipun berada di tengah kota.
"Jangan bicara yang bukan bukan. Tujuan kita bukan tempat ini, tapi disebelahnya."
"Huh?"
Laila kemudian melirik bangunan yang terletak di samping pemandian air panas.
Itu adalah bangunan dengan desain unik mirip bangunan Jepang, dan-
"BUKANKAH ITU SAMA SAJA!"
Bangunan desain unik itu juga merupakan pemandian air panas, karena itulah Laila berteriak.
"Sudah sudah, jangan ribut dan ikut saja."
Pemuda itu mengabaikan Laila dan masuk.
"Hei, tunggu aku!"
Laila tak punya pilihan selain menyusul.
Laila langsung terkesan saat melihat desain bangunan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Pemuda itu mendekat ke penjaga dan bertanya.
"Ghina, Tomo ada kan?"
"Ya. Aku akan segera memanggilkannya."
Gadis bernama Ghina itu sudah mengenal pemuda bertopeng itu. Mereka bahkan terlihat akrab.
"Kalau begitu aku akan menunggu di tempat biasa, jadi sampaikan kepadanya."
"Baiklah, saya mengerti."
Setelah mengatakan itu, pemuda itu tanpa ragu memasuki ruangan yang lebih dalam setelah melepas sepatu.
Laila tak terlalu mengerti, namun dengan cepat dia melepas sepatu dan pergi menyusul pemuda itu.
Setelah memasuki ruangan cukup dalam, mereka sampai di depan dua pintu berwarna merah dan biru.
"Kau masuk ke pintu merah dan bergantilah. Boneka itu taruh saja di dalam."
"..ha.."
Laila mendesah dalam, tapi dia menuruti pemuda itu dan masuk ke dalam.
Di dalam ruangan, Laila melihat berbagai jenis pakaian renang yang digantung rapi.
"Jangan bilang kalau aku disuruh berganti baju dengan pakaian renang?"
Wajah Laila langsung merah padam.
Tapi dia sekarang mengerti apa yang dimaksud tak boleh menyesal.
"Haa.. lebih baik daripada tak memakai apapun.."
Setelah berganti pakaian dengan bikini berwarna merah, Laila pergi ke pintu lain.
Dia langsung dikejutkan oleh pemandangan yang benar benar berbeda.
Ruangan luas dengan banyak pohon bambu kecil ditanam di berbagai sudut menyerupai hutan dalam ruangan. Dan di tengah ruangan dia menemukan kolam yang berisi air hangat dan seorang pemuda bertopeng memakai celana renang.
Apa dia serius?
Laila hanya bisa mendesah dalam ketika dia tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam kolam.
Setelah masuk ke dalam kolam dan merendam tubuhnya, Laila dapat merasakan rasa capek di seluruh tubuhnya perlahan lahan menghilang.
Tapi bukan saatnya untuk bersenang senang.
"Jadi pertama tama apa kau ingin beritahukan tentang Gio Sevarez, Mesum?"
"Jangan memanggilku seperti itu! Aku memang tertarik pada tubuhmu, tapi aku bisa menahan diri. Lagipula kelihatannya 'itu' masih dalam pertumbuhan, benarkan?"
"Ugg... dasar mesum."
Tentu Laila tahu apa yang dimaksud pemuda itu, yaitu tentang dadanya yang masih kecil B cup. Tapi tak apa, Laila yakin bisa lebih besar karena ibu dan neneknya memiliki dada F cup saat muda.
Karena marah, Laila menciptakan bola api di tangannya dan melempar ke pemuda bertopeng mesum itu.
Tak disangka, pemuda itu memukul air kolam dan menjadikannya perisai. Bola api langsung menghilang dan membuat air menjadi uap yang menyebar ke segala arah.
"Kau tahu sihir dilarang di tempat ini?! Jika ingin membahas Gio, kita harus menunggu temanku, baru kita bisa mulai. Jadi sambil menunggu dia datang, kau boleh menanyakan apapun. Aku akan menjawabnya dengan jujur. Anggap saja sebagai permintaan maaf, bagaimana?"
"Baiklah, tapi kau benar benar akan menjawab jujur kan?"
"Ya, tapi hanya satu pertanyaan."
Sekarang apa yang harus dia tanyakan?
Nama, alamat, nomor telefon atau siapa sebenarnya dia?
Laila yakin tak perlu menanyakan itu, tapi dia punya pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya.
"Baiklah, yang ingin kutanyakan adalah alasan sebenarnya kenapa kau menyebut Fated Lover adalah cerita murahan, tidak.. kau pasti berpikir bahwa itu adalah cerita sampah, benarkan? Jadi sesuai janjimu, cepat jawab aku dengan jujur!!"
".........................."
__ADS_1
Pemuda itu hanya terdiam, namun dia tiba tiba menunjukkan senyum licik dan berbahaya.
Laila tahu ini adalah sebuah pertanda buruk. Apakah dia menanyakan pertanyaan yang tak seharusnya dia tanyakan?