
Bu.. .buu.. Suara manis dari Riku membuat siapapun tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Tubuhnya yang lembut dan tatapan mata yang polos membuatnya bagaikan seorang malaikat kecil.
Selain itu, sikapnya yang selalu tersenyum lugu membuat orang di sekitarnya untuk selalu memeluk dan menyentuhnya. Bahkan True Dragon King tak bisa menahan dirinya.
"Hehe... Riku, apa kau senang karena akhirnya bertemu dengan Ayah?"
Riku tertawa senang. Dan itu merupakan serangan mematikan bagi jiwa Solaris.
"Uuu... Aku ingin sekali membawamu bersamaku... Hmm.. Bagaimana kalau aku membawa tanpa sepengatahua- aku hanya bercanda..heheheh..."
Tekanan membunuh kembali seperti normal setelah Solaris mengurungkan niatnya untuk menculik Riku.
Sementara itu, Laila dan Kuro hanya tersenyum kecut saat melihat salah satu dewa terkuat terus menempel pada buah hati mereka.
"Dia mungkin akan menjadi pria yang lebih populer daripada aku."
"Jangan mengatakan hal yang membuatku khawatir. Jika ada orang seperti kalian lagi, aku akan pusing. Tetapi jika dilihat sekarang, itu mungkin akan terjadi."
Laila lalu menyandarkan kepalanya di pundak Kuro. Kuro membalasnya dengan sebuah pelukan.
"Kita pikirkan masalah itu nanti. Yang terpenting saat ini aku sungguh senang dan bahagia. Tetapi disaat yang sama aku juga sedih."
"Kenapa?"
"Aku tak bisa melihat dirimu saat mengandung Riku dan tak bisa bersamamu disaat sulit. Sebagai kekasihmu aku merasa tak berguna."
Mendengar itu, Laila menaruh tangannya di pipi Kuro dan memberikan ciuman.
"Aku tahu. Saat itu aku juga merasa kalau membutuhkanmu. Bahkan aku ingin kau selalu di sisiku. ...tetapi aku sadar mungkin ini adalah yang terbaik. Jika aku mengandung dalam kondisi normal, aku tak tahu apakah bisa menjaga Riku atau tidak. Karena itulah aku sangat berterima kasih saat kau mengirim diriku ke tempat Solaris. Berkat itu aku bisa melahirkan Riku dengan aman dan mendapat kekuatan yang cukup untuk menolong Lic."
Pada hari itu, setelah Laila memasuki ruang latihan, dia tiba di sebuah pulau terapung di dimensi lain. Dia tahu berada di dimensi lain karena langit berwarna putih terang, namun tak begitu terang sehingga matanya bisa melihat dengan baik.
Saat melihat ke sekeliling, Laila menemukan sebuah gubuk kecil di dekat sebuah danau yang airnya mengalir ke bawah pulau dan tak terlihat lagi.
Awalnya dia ragu untuk mendekat, namun dia ingat kalau saat ini dia berada di tempat yang cocok dengan latihannya, jadi dia akhirnya melangkah maju.
Setelah tiba di depan gubuk, Laila berniat mengetuk, namun sebelum terjadi pintu sudah terbuka.
Saat masuk dia terkejut oleh isi yang sangat luas. Jika melihat ukuran gubuk yang kecil, semua itu sungguh mustahil. Hanya sihir yang bisa melakukan semua ini.
Lalu seperti dituntun oleh seseorang, dia melangkahkan kakinya menuju suatu tempat. Dia terkejut saat tiba tiba di sekitarnya berubah menjadi rak tinggi yang penuh dengan buku. Dia bagai berada di sebuah labirin raksasa. Namun dia terus melangkahkan kakinya tanpa takut akan tersesat.
Akhirnya dia menemukan seseorang. Seorang wanita yang terlihat bagaikan orang suci sedang membaca buku dengan serius.
Inilah pertemuan Laila dengan Solaris.
Solaris menyambut Laila dengan senang. Dia senang karena dia jarang menerima tamu, atau lebih tepatnya tak sembarangan orang bisa bertemu dengannya.
Tak merasakan niat buruk, justru niat yang baik dan hangat, Laila akhirnya mulai menjelaskan siapa dan tujuan apa dia ke tempat itu.
Solaris sudah mengetahui semuanya, jadi Laila hanya perlu menjelaskan beberapa hal.
Disaat itulah Laila terkejut, sangat terkejut. Dia tak menyangka kalau wanita di depannya adalah salah satu dewa pencipta tanah Orladist. Lebih tepatnya hanya tubuh yang diciptakan oleh Solaris.
Butuh waktu bagi Laila untuk menerima kenyataan, namun dia dengan cepat menerima apa yang terjadi. Lagipula tak ada alasan untuk berbohong pada Laila. Selain itu dia merasa harus bersyukur karena bertemu dengan seorang yang mustahil ditemui.
Tanpa banyak waktu akhirnya Laila menanyakan tentang latihannya. Namun Solaris justru bertanya balik.
[Apa tak apa apa kau berlatih saat mengandung?]
Saat mendengar itu, Laila bagaikan tersambar petir. Bagaimanpun apa yang Solaris katakan suatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Tidak. Jika mengingat berapa banyak melakukan 'itu' dengan Kuro, maka tak heran jika dia mengandung. Usia kandungan Laila bisa dibilang muda, karena itulah Laila tak menyadarinya.
Tetapi kenapa di saat seperti ini?
Saat itu Laila merasakan suatu yang rumit. Dia senang dan bahagia. Bahkan saat ini dia ingin segera memberi tahu Kuro kabar bahagia itu. Tetapi disaat yang sama dia ingat dengan Lic, putri mereka.
Disaat sedang bingung jalan apa yang harus dia pilih, Solaris memberikan solusi, lebih tepatnya sebuah saran.
Pertama, Laila kembali ke dunia nyata dan memberi tahu keadaan dirinya dan tentu saja tentang kehamilannya. Tetapi tidak ada jaminan Laila bisa kembali bertemu dengan Solaris dan berlatih. Dengan kata lain Laila tak bisa bertambah kuat dan tak bisa menyelamatkan Lic.
Kedua, Laila tetap di tempat itu sampai dia melahirkan. Konsep waktu tak ada di tempat itu, jadi tak perlu khawatir tentang berapa lama Laila meninggalkan Kuro. Sambil menunggu Laila akan berlatih secara teori, sedangkan latihan yang sesungguhnya setelah bayi Laila lahir.
Mempertimbangkan sisi buruk dan sisi baik, maka pilihan Laila sudah diputuskan.
Laila tak tahu berapa lama di tempat itu, namun dia merasa nyaman dan tenang. Dia juga tak perlu khawatir dengan makanan, tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. Semua itu sudah tersedia di tempat itu.
Waktu berlalu dan akhirnya perutnya semakin membesar. Karena ini pertama kalinya dia mengandung, maka banyak hal yang tak dia ketahui. Syukurlah Solaris bisa menenangkan Laila dengan memberi tahu segala hal yang harus dia lakukan.
Dia merasa rindu dengan Kuro. Jika diingat berapa lama manusia mengandung, maka dia sudah meninggalkan Kuro selama 7 bulan lebih. Dia memang sudah tahu kalau dimensi itu memiliki waktu yang berbeda, namun dia tak menyangka akan serindu itu.
Tetapi dengan tekad yang kuat dan demi masa depan, Laila menahan dirinya. Tak lupa dia juga belajar secara teori mengenai sihir dari Solaris. Meskipun sihir yang dia pelajari hanya sebagian kecil dari pengetahuan Solaris, Laila merasa bersyukur.
Akhirnya waktu kelahiran telah tiba. Solaris bertugas menjadi bidan yang mengurus Laila. Dan seperti itulah Laila melahirkan dengan lancar.
Setelah kelahiran Riku, Laila butuh waktu untuk pulih. Sementara itu dia juga berlatih menjadi ibu yang baik bagi Riku.
Kemudian waktu yang ditungg upun tiba. Kondisi Laila sudah pulih dan akhirnya dia memulai latihan yang sesungguhnya.
Latihan itu bisa dibilang sebuah latihan neraka, tetapi setelah latihan dia selalu diobati oleh senyuman Riku. Semua rasa lelah langsung menghilang bagaikan sebuah ilusi.
Hal ini terus dia lakukan sampai tiba waktunya untuk keluar.
Sebelum pergi, Solaris memberi tahu kalau meskipun Laila menjadi kuat, namun dia belum cukup untuk mengalahkan musuh. Karena itulah Solaris memberikan perlindungan suci padanya (Hokami) dan segel untuk Lic.
Inilah kejadian yang diceritakan Laila pada Kuro selama dia berada di Parallel Field. Dan hal inilah yang membuat Kuro merasa bersalah.
"Tetapi itu tak memungkiri kalau aku tak berada di sisimu. Seharusnya saat itu aku ikut denganmu."
"Kuro, cukup. Aku tak ingin mendengarkan penyesalanmu. Yang aku ingin dengar dan lihat adalah kebahagiaanmu. Semua yang terjadi tak bisa diulang. Selain itu jika kau ingin berada di sisiku saat itu terjadi, maka kau hanya perlu menunggu kesempatan selanjutnya."
Kuro tercengang, namun dia kemudian tersenyum.
"...Sepertinya aku memang tak akan bisa memang berdebat denganmu."
"Hehehe...Mana mungkin kau bisa."
"Iya... .iya. Ngomong ngomong sampai kapan kau akan membiarkan Solaris menyentuh Riku?"
Sifat ayah Kuro mulai bangkit. Dia cemburu melihat keakraban Riku dengan Solaris.
"Tidak apa apa. Selama ini Solaris juga merawat Riku. Aku yakin Riku menganggap Solaris sebagai ibu keduanya."
"Oh begitu. Pantas saja dia tak ragu minum susu dari Solaris... Huh?"
Seperti yang dibilang Kuro, Riku sangat menikmati minum susu dari Solaris. Riku bahkan terlihat mengantuk dan mulai tertidur.
"Kenapa kau terkejut seperti itu? Apa kau juga ingin jatah susu? Aku tak menyangka kau memiliki niat untuk permainan seperti itu."
"Kau membuatnya terdengar seperti aku orang paling mesum di dunia. Itu ide yang bagus, tapi kali ini bukan itu maksudku."
Kuro bangkit dan mendekati Solaris. Laila juga mengikutinya.
[Jangan iri pada anakmu hanya karena aku tak pernah memberimu susu.]
"Aku tak ingin mendengar itu darimu. Yang aku ingin tahu adalah sudah berapa lama kau memberi Riku susu?"
[Dengar, karena aku adalah dewa yang mewakili cinta, kedamaian, dan semua hal tentang kehidupan, maka mana mungkin aku tak bisa menahan diri untuk tak memberikan susu di saat dia lahir.]
Mendengar itu Kuro membeku.
"Kuro, apa ada yang salah?"
__ADS_1
"L-Laila, coba kau pikir sebentar. Solaris adalah salah satu dewa tertinggi. Sedangkan Riku adalah manusia. Apa yang terjadi jika manusia menerima susu dari tubuh dewa secara langsung sejak dari bayi?"
Laila terdiam. Ini pertama kalinya dia memikirkan perbedaan Solaris dan Riku. Memang saat ini Solaris menggunakan tubuh manusia, namun itu tak merubah fakta kalau dia adalah True Dragon King.
Jika dipikirkan dengan baik, tindakan Solaris bisa dibilang tak wajar meskipun dia adalah dewa yang mewakili kehidupan.
Setelah memikirkannya, hanya satu kemungkinan yang terjadi.
"Hmm... Bukankah itu artinya Riku mendapatkan perlindungan suci dari Solaris? Apa ada yang salah dengan itu?"
Tepat. Hanya itu yang terjadi jika dewa melibatkan diri secara langsung pada kehidupan dunia manusia. Hal ini bisa dibilang sebuah berkah suci yang tak mungkin didapat untuk kedua kalinya.
Tetapi Kuro sama sekali tak senang dengan itu.
"Laila, biar aku perjelas. Ketika Ruby atau Dragon King lain memberikan perlindungan suci pada manusia, mereka akan mendapatkan kekuatan yang melebihi akal manusia. Kita berbicara tentang dewa tingkat rendah di sini, lalu apa yang bisa terjadi jika dewa tertinggi memberikan berkah secara langsung?"
"..."
Lagi, Laila terdiam.
"Dulu Solaris pernah memberikan perlindungan suci. Itu sebuah perlindungan suci yang bertujuan untuk membuat anak itu selalu sehat, namun yang terjadi adalah anak itu menjadi abadi. Lebih tepatnya hampir abadi. Karena itulah aku sangat ingin tahu efek perlindungan suci yang kau berikan, ...Solaris?"
Kuro memegang pundak Solaris dengan tatapan dingin dan haus darah. Tentu Kuro tak bisa mengalahkan Solaris jika tentang kekuatan, namun saat ini sifatnya sebagai seorang ayah mengalahkan semua itu.
Solaris tentu sadar saat ini dia memancing amarah dua orang yang paling berbahaya di dunia. Karena itulah dia gemetar ketakutan.
[Err.... King, aku tahu apa yang kau pikirkan tetapi...]
"Dengan kata lain, perlindungan suci dari Solaris lebih mirip sebuah kutukan daripada berkah. Sebagai ibu aku mulai khawatir dengan masa depan Riku. Solaris, aku juga ingin tahu perlindungan suci yang kau berikan? Kau tak keberatan kan?"
Sama seperti Kuro, Laila memegang pundak Solaris yang lain.
Tekanan dingin dan aura membunuh dikeluarkan oleh Laila dan Kuro. Saat ini keduanya adalah orang yang sanggup mengalahkan True Dragon King.
[B-Baiklah.. Aku akan memberi tahu, tetapi tolong jangan tekan aku seperti ini.]
Sebagai seorang True Dragon King, untuk pertama kalinya Solaris terancam bahaya.
Sementara itu, Riku tersenyum senang dalam tidurnya.
___________
_____
_
"Aku tak percaya dia membuat kita dalam masalah."
"Ya. Tapi begitulah Solaris. Dia selalu seperti itu saat aku berada di sana."
Keduanya melihat Lic dan Riku yang tidur pulas di kasur yang sama. Melihat itu, keduanya benar benar bagai saudara yang terlahir dari buah cinta keduanya.
"Kita memang belum tahu perlindungan suci apa yang diberikan Solaris. Tetapi jika Riku dalam masalah karena itu, aku berjanji akan menghukumnya dengan berat."
Perlindungan suci yang diberikan pada Riku suatu yang bahkan tak diketahui oleh Solaris. Ini cukup mengejutkan mengingat dialah yang memberikan perlindungan suci. Inilah alasan kenapa keduanya tak puas saat mendengar penjelasan dari Solaris.
Tetapi meskipun tak masuk akal, namun Solaris tak pernah memberikan susu ibu pada manusia sebelumnya, jadi dia tak tahu efek apa yang terjadi pada Riku. Satu hal yang pasti, Riku akan memiliki takdir yang kuat.
"Tidak ada gunanya khawatir saat ini. Kuro, bagaimana kalau kita istirahat."
"Ya. Aku rasa kita memang butuh itu."
Keduanya lalu pergi dari kamar Riku dan Lic (kamar sementara). Untuk berjaga jaga jika keduanya bangun, Laila dan Kuro memilih kamar sebelah.
Sama seperti biasa, Laila berganti dengan piya-tidak, lebih tepat jika dia melepas pakaiannya dan hanya meninggalkan pakaian dalam.
Untuk Kuro, dia hanya melepas bajunya. Kemudian keduanya ke tempat tidur seperti biasa.
"Selamat malam."
Keduanya berpelukan dan memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian-
Suara bel pintu terdengar. Tak hanya satu kali, namun berkali kali seperti seorang pengganggu.
"Aku akan membunuh siapapun yang mengganggu waktu tidurku."
Kuro bangun dengan membawa pedangnya tepat ke depan rumah. Lalu dengan aura besar dan haus darah dia membuka pintu dengan pedang yang siap dihunuskan.
Tetapi saat melihat siapa yang datang, Kuro langsung membeku.
"Hoo... Sekarang kau berani mengacungkan senjata itu padaku? Sepertinya aku harus memikirkan ulang apakah aku merestui hubungan kalian."
"A-Ayah Macho, kenapa kau datang di saat seperti ini?"
Ya. Tamu pengganggu mereka adalah ayah Laila. Sang paladin terkuat.
Mungkin karena sikap Kuro, dia mengeluarkan aura yang membuat kaki membeku. Bahkan termasuk Kuro.
Leon mengenakan pakaian Imperial Knight dan membawa sesuatu di tangannya.
"Aku datang ke rumah calon menantuku yang hanya berada di depan rumahku sendiri, apakah aku butuh alasan?"
"Ah.. Tidak. Bukan itu maksudku. Mari silahkan masuk."
"..."
Tanpa banyak kata Leon masukkan menuju ruang tamu. Saat itulah mata Leon melirik ke berbagai sudut rumah.
"Aku akan memanggil Laila dan membuatkan minuman. Maklum saja, semua pelayan di rumah ini sedang tak ada."
"Kau tak usah repot. Aku hanya datang sebentar, kau cukup memanggil Laila."
"...baiklah."
Kuro pergi dan setelah berapa saat, dia kembali bersama Laila. Tentu keduanya telah berganti baju agar lebih sopan di depan Leon.
"Ayah.."
"Laila. Aku senang kau sehat saja."
Laila dengan cepat memeluk Leon. Keduanya terlihat rindu satu sama lain.
"Bukankah ayah tahu kalau aku hanya kecapekan? Jangan terlalu khawatir seperti itu."
"Apa kau melarang seorang ayah khawatir dengan putrinya sendiri?"
Setelah pertarungan, Laila dan Kuro berpisah dengan pihak lain. Saat itu bukanlah situasi yang cocok karena masih banyak yang harus dibicarakan. Terutama tentang Lic yang menjadi sumber bencana itu.
Tetapi Kuro dan Laila menghunuskan pedang pada siapapun yang mencoba menyentuh Lic, karena itulah tak ada yang berani menyentuh Lic.
Setelah itu keduanya pulang ke rumah dan beristirahat untuk memulihkan diri. Karena itulah sampai saat ini keduanya tak tahu apa yang terjadi pada Charlmilia dan lainnya. Tidak, lebih tepatnya kalau mereka tak terlalu peduli.
"Tidak. Hanya saja aku heran kenapa ayah datang larut malam seperti ini. Aku pikir kau akan datang besok bersama ibu dan lainnya."
Anggota keluarga Laila selama pertarungan diungsikan ke tempat yang aman. Bisa dibilang tempat khusus untuk para bangsawan. Bagaimanapun juga jika terjadi apa apa pada mereka, pihak pemerintah akan berhadapan dengan kemarahan Leon.
Setelah semua pertarungan selesai, direncanakan kalau besok pagi warga bisa kembali ke ibukota. Untuk warga yang rumahnya rusak, pihak pemerintah akan membangun ulang.
"Aku memang berencana seperti itu. Tetapi saat ini ada masalah yang mendesak sehingga aku harus datang untuk menemui kalian selarut ini."
Karena paham Leon akan berbicara serius, ketiganya duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Baiklah, aku langsung saja."
"..."
"..."
"Aku datang kemari untuk memberikan ini pada kalian."
Leon menyerahkan sebuah kertas tebal yang tersegel oleh sihir. Saat Kuro menerimanya, segel menghilang dan Kuro langsung membuka isinya.
"Ini kan..."
"Kami diundang ke istana untuk menemui kaisar?"
Keduanya saling menatap satu sama lain karena terkejut.
"Ini suatu yang normal mengingat apa yang kalian raih di pertarungan kemarin malam. Tentu aku tak tahu apakah dia ingin memberikan hadiah atau semacamnya, satu hal yang pasti, aku tahu paman Sei bukanlah orang yang suka mengundang orang tanpa alasan."
Alasan kenapa Leon memanggil kaisar dengan sebutan paman, selain karena usia, Leon sudah mengenal Sei sejak kecil. Dengan kata lain dia dan kaisar bisa dibilang akrab.
"Selain kalian berdua, teman teman kalian juga diundang oleh paman Sei." tambah Leon.
Setelah mendengar itu, reaksi keduanya bukannya senang, namun terlihat waspada.
Ini wajar karena saat ini Lic yang menjadi sumber bencana ada di tangan mereka. Dengan kekuatan sedahsyat itu, maka wajar jika pihak pemerintah akan merebut paksa Lic atau melakukan hal buruk seperti penyegelan.
Selain alasan itu, alasan lainnya mungkin karena Laila mampu menggunakan Hokami atau bisa juga karena Kuro mampu menggunakan Darkness Art. Mengingat semua itu, datang ke istana bukanlah pilihan yang tepat, namun jika mereka menolak, itu sama saja dengan tak menghormati kaisar. Jika itu terjadi, maka posisi ayah Laila akan menjadi buruk.
"Kami tak punya pilihan selain datang kah."
"Jangan khawatir, apapun yang terjadi aku tak akan membiarkan mereka mengambil Lic."
"Terima kasih, Kuro. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku mungkin memilih menghancurkan istana jika hal itu terjadi."
Wajah Leon menjadi pucat pasi.
Saat ini Laila mampu melakukan apa yang dia bilang, jadi dia khawatir Laila akan benar benar melakukannya.
Mungkin hal ini karena terkena pengaruh Kuro, tetapi bisa juga karena keluarga Leon memang selalu melindungi keluarga mereka dengan kekuatan penuh.
"Tenang saja, aku yakin dia tak akan melakukan hal sejauh itu. Selain itu bukankah Izriva sekarang tersegel?"
"Memang. Tapi darimana ayah tahu? Kami belum memberi tahu siapapun mengenai itu."
Tatapan Laila menjadi tajam. Dan itu membuat Leon berkeringat dingin. Dia sudah hafal betul sifat wanita di keluarganya, jadi ini adalah salah satu hal yang Leon tak bisa tangani.
"A-anggap saja kami punya informan yang bagus seperti Kuro ahahaha..."
Keduanya sama sekali tak bisa tertawa.
Kuro mulai bicara.
"Aku mengerti. Intinya kami harus datang ke istana untuk bertemu kaisar. Sudah lama aku tak bertemu dengannya."
"Eh.. Kuro, kau pernah bertemu dengannya secara langsung?"
"Semacam itulah."
"Muu.. Aku kesal saat kau seperti ini."
"Ehem.."
Leon mengembalikan mereka ke dunia normal.
"Aku senang kalian masih mesra seperti ini, tetapi sepertinya aku harus pergi. Masih banyak urusan seperti bagaimana cara mengembalikan kondisi kota."
Leon berdiri. Kuro dan Laila mengikuti.
"Ini bukan saat yang tepat untuk bicara, karena itulah aku mengharapkan kita semua bisa berkumpul untuk membicarakan semua ini. Tentu termasuk pernikahan kalian."
Keduanya langsung terlihat senang, meskipun Kuro tak menunjukannya secara langsung.
Leon akhirnya pergi. Laila dan Kuro mengantarnya sampai ke depan pintu.
"Laila, jaga dirimu baik ba-"
Belum selesai, terdengar suara tangisan anak kecil.
"Ah.. Riku bangun. Mungkin dia mengompol. Ayah, sampai besok."
Tanpa banyak kata, atau pelukan perpisahan, Laila meninggalkan Leon dan Kuro.
"Err... Siapa Riku?"
"Cucumu, Ayah Macho."
Kemudian, Kuro menutup pintu dengan keras seolah mengusir Leon dari rumahnya.
Saat sudah tak melihat Leon, Kuro tersenyum puas.
"Ah.. Laila benar benar menjadi seorang ibu. Aku benar benar senang."
Kemudian Kuro menyusul Laila ke kamar Riku meninggalkan Leon yang berulang kali menggedor pintu, tapi tak ada yang menggubris.
"Apa maksudmu dengan cucu? Hey keparat, beritahu aku!!"
________
___
_
Di waktu yang sama, seorang gadis sedang memandang bulan sendirian di beranda rumahnya.
Sama seperti rumah Kuro dan Laila, rumahnya berada di wilayah para bangsawan. Hanya saja ukuran lebih kecil dan berada di pinggiran. Selain menunjukkan status, rumah juga menunjukkan perekonomian keluarganya.
Rambutnya terurai saat terhembus oleh angin malam yang dingin. Selain memang cuaca mulai memasuki musim gugur, namun memang tak ada awan sehingga angin lebih dingin dari biasanya.
Di tangannya, sebuah undangan untuknya dia pegang. Itu adalah undangan untuk bertemu dengan kaisar.
Meskipun ini kesempatan yang mungkin tak akan datang dua kali, namun saat ini undangan itu bagaikan sebuah masalah baru.
Ayahnya dikenal sebagai seorang yang ambisius. Semua tahu itu dan sudah menjadi bahan lelucon kemanapun dia pergi. Namun sebanyak , setinggi apapun yang ingin dicapai oleh ayahnya, semua orang tahu kalau itu sia sia saja.
...Kecuali kau membuat sebuah prestasi yang membuat pihak kekaisaran mengakuimu.
Inilah yang terjadi saat ini. Meskipun kemarin dia bertarung bukan demi negara atau bahkan demi untuk mendapat prestasi, namun itu adalah sebuah undangan dari seribu macam masalah.
Salah satu contohnya undangan pernikahan dan berbagai macam undangan politik atau juga bisnis pada keluarganya.
Baginya semua itu bukan masalah. Dengan statusnya yang menjadi seorang Queen, saat ini dia menjadi sosok yang spesial, karena itulah aturan dunia tak berlaku padanya. Jika dia mau, bahkan dia bisa memutus hubungan keluarga dengan keluarganya saat ini.
Tetapi dia tak melakukan itu. Belum. Saat ini ada masalah yang lebih besar daripada masalah keluarganya.
Masalah itu adalah perasaannya.
"...aku sudah memutuskan untuk menyatakan perasaanku. Jujur aja aku merasa takut dengan jawaban yang aku terima."
Dia tak perlu banyak berpikir untuk tahu apa yang akan dia terima. Meskipun begitu, membayangkannya saja sudah membuat hatinya sakit.
Dia tak tahu apa yang akan dia rasakan jika dia benar benar mendengar itu dari mulut Kuro secara langsung.
"Tidak. Mungkin ini akan menyakitkan, namun mungkin sudah saatnya untuk melangkah maju."
__ADS_1
Tetapi selama dia belum mendengar jawaban langsung dari Kuro, bukan berarti dia harus menyerah dengan perasaannya.