Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
End Eyes of Balor


__ADS_3

Dengan deklarasi perang, tak ada alasan lagi untuk Kuro menahan diri.


Setiap ayunan dari pedangnya langsung memusnahkan apapun yang menyentuhnya. Tak peduli apakah itu sihir, pertahanan dan semua serangan yang dilancarkan oleh Airs.


Tetapi entah mengapa setiap kali serangan Kuro hendak menyentuh tubuh Airs, ada sesuatu yang membuat serangannya tak sampai.


"Kau memang memiliki serangan yang kuat, tapi itu sama sekali tak berguna jika tak mengenai sasaran."


"..."


Kuro tak peduli dan terus menyerang. Dia tahu alasan kenapa tak bisa mengenai Airs bukan karena Airs bisa menghindar, tapi karena tubuh Kuro tak bisa bergerak seperti apa yang dia inginkan.


Sihir yang memanipulasi pikiran dan pengendalian lainnya memang tak berpengaruh pada Kuro, tapi bukan berarti itu tak memiliki efek. Terutama kekuatan yang berasal dari Cursed Arm.


Kuro lalu menggunakan Dominator, bukan pada Airs, tapi pada tubuhnya sendiri. Tubuhnya bisa digerakkan seperti semula. Dan dia tanpa ragu kembali menyerang.


Sebuah senyuman muncul di bibir Airs.


Suara benturan logam terdengar dari dua pedang yang beradu. Pedang itu berasal dari Pandora yang telah lepas dari pengaruh Dominator.


Tidak, kali ini Pandora telah dikendalikan oleh Airs.


"Di dunia ini memang tak ada yang bisa menangkis pedangmu, tapi itu karena tak ada yang bisa menggunakan kegelapan seperti dirimu. Tidak, aku rasa ada yang bisa melakukannya. Benarkan?"


"..."


Kuro tak menjawab.


Pandora merupakan perwujudan kegelapan hati Fila, tak aneh jika bisa melakukannya. Lalu karena pengaruh Eyes of Balor, itu membuat Pandora bisa bertahan.


Ya. Hanya bertahan.


Dengan beberapa kali serangan, pedang Pandora hancur dan sekali lagi Kuro memusnahkan Pandora dari dunia.


"..."


Tetapi Pandora tetap kembali muncul. Tak hanya satu, tapi puluhan dan mengepung Kuro dari semua arah.


Lalu ada satu lagi sosok yang membuat Kuro semakin marah. Itu adalah sosok Charmilia yang menggunakan Dragon Gear.


"Kau memang lebih kuat, tapi saat ini situasi kita adalah sama. Jika dirimu adalah King yang dulu, kau bisa mengalahkanku dengan mudah, tetapi dengan dirimu yang sekarang, apa mungkin kau bisa?"


Airs sudah bisa melihat semuanya. Ini tak aneh mengingat Eyes of Balor adalah mata sihir.


Setiap King akan tetap saling terhubung meskipun mereka berbeda setiap generasi. Itu adalah salah satu yang membedakan King dengan Queen yang dipilih oleh Dragon King.


"Haha.. jangan sombong, Black. Itu sama sekali tak sesuai dengan dirimu. Memang aku lebih lemah jika dibandingkan dengan diriku yang dulu, tapi kau lupa satu hal."


"..."


"Aku tidak sendirian."


Sebuah Scarflare muncul di depan Kuro dari dalam tanah. Airs tak menyembunyikan keterkejutannya, tapi senyuman memuakkan masih belum menghilang.


"Apa dengan menambah pedang yang kau miliki bisa membuatmu menang?"


Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, memang menambah pedang tak membuat Kuro berhasil menang. Apalagi dengan kekuatan kegelapan, tak semua senjata bisa bertahan.


Tetapi itu bukan alasan Kuro menggunakan Scarflare.


"Assimilate!!"


Kuro mendekatkan Scarflare pada Lic. Dia lalu menggunakan Authority.


Dengan itu Kuro menciptakan pedang baru hasil penyatuan antara dirinya dengan Laila.


"Licflare!"


Pedang Kuro berubah menjadi merah membara yang bercampur dengan hitam kegelapan.


Pedang yang sebelumnya hanya memancarkan kegelapan, kini menjadi pedang yang begitu indah penuh dengan cahaya dan kegelapan yang saling menyatu.


Airs tanpa sadar melangkah mundur. Dia paham kalau pedang itu bukan hanya pedang dari hasil penggabungan saja.


"Seperti biasa kalian sungguh di luar akal manusia. Tak ada orang yang bisa menyatukan kegelapan dan cahaya selain dirimu."


"Terima kasih pujiannya. Dan sekarang ini adalah saatnya untuk mengakhiri ini."


"Cobalah jika kau bisa."


Puluhan Pandora dan Charmilia mulai menyerang.


Pandora menciptakan berbagai senjata seperti pedang, tombak, palu, rantai, dan tentu saja tak lupa tentakel dalam berbagai ukuran. Lalu Charmilia memperkuat serangan Pandora dengan elemen petir.


Dengan kekuatan besar yang berada di tangannya, mungkin terlihat wajar jika Kuro akan memilih melawan balik, tetapi dia memilih menghindar dengan Accel Art. Lebih tepatnya ke langit.


"..."


Kuro bisa melihat seberapa besar kekuatan setiap serangan. Karena itulah dia tak bisa melawan secara langsung.


Saat ini tubuhnya tak memiliki pertahanan, karena itulah satu serangan mengenainya, dia akan tamat.


"Laila, pinjamkan aku kekuatanmu!!"


Badai api menggeliat dari Licflare. Kuro lalu berputar di udara dan kemudian mengeksekusi teknik.


"Cursed Holy Art "


Api hitam kemerahan menelan semuanya. Semua Pandora, hutan pasir besi, Charmilia dan tentu saja tubuh Airs.


Melihat dampak serangan, mungkin sekilas terlihat Kuro tak memiliki ampun dan bebas menyerang karena efek Doll. Bahkan dengan kekuatan kegelapannya, mungkin tak akan ada yang selamat.


Tetapi setelah api menghilang, akhirnya terlihat sosok yang masih tersisa. Charmilia, Airs dan Fila yang masih terkurung dalam kotak hitam.


Hanya saja, berbeda dengan Charmilia dan Fila, tubuh Airs tampak terbakar dengan sekujur tubuh penuh luka. Bahkan bagian matanya masih berasap hitam.


Airs tersungkur dan mengerang kesakitan.


Kuro berdiri di depannya dengan pedang dihunuskan ke arah lehernya.


"Ba-bagaimana mungkin...?"


"Kau bertanya bagaimana mungkin kekuatan kegelapan bisa memiliki efek seperti ini?"


Kuro tersenyum.


"Kekuatan kegelapan memang kekuatan yang tak mungkin dikendalikan, bahkan dengan kondisiku sekarang, mengontrol secara penuh adalah hal yang mustahil. Tetapi berkat cahayaku, aku berhasil mengendalikannya."


"Mustahil!!"


"Ini adalah kenyataan. Dengan ini aku bahkan bisa memilih siapa saja yang aku serang. Kau mengerti?"


"..kuh!!!"


Airs yang penuh senyuman sombong kini menghilang berganti dengan seorang pecundang yang kalah dalam perang.


Api hitam kemerahan sekali lagi menggeliat.


"Sampai jumpa, Black!!"


Kuro bersiap menghancurkan Eyes of Balor. Dengan kekuatannya sekarang, menghancurkan Eyes of Balor tanpa melukai Airs bukanlah suatu yang mustahil dilakukan.


Tetapi, sesaat sebelum api itu menyentuh Airs, senyuman lebar kembali muncul.


"Pada akhirnya akulah yang tertawa paling terakhir, King!!"


"!?"


Airs tiba tiba menghilang dan muncul di depan mata Kuro. Mata Airs lalu bercahaya.


"Soul Chain!!"


Embun hitam muncul dari Airs dan langsung masuk ke tubuh Kuro.


Kuro lalu tak bergerak seperti boneka yang talinya terputus.


Para penonton yang melihat itu memiliki pemikiran yang sama. Mimpi buruk terburuk baru saja dimulai.


Bersamaan dengan itu, kegelapan meluap dari tubuh Kuro seperti dimulainya akhir dari dunia.


💠💠💠💠


"Yang mulia kaisar. Karena bahaya yang terjadi, saya mohon anda untuk segera berlindung."


Salah satu Holy Knight panik dan langsung memberi saran untuk evakuasi.

__ADS_1


Pertarungan Battle War sejak awal memang tak berjalan seperti biasanya, tapi Cursed Arm dan kekuatan kegelapan sudah terlalu tak normal untuk dicerna oleh otak manusia.


"Jangan khawatir, dia bukanlah orang yang mudah dikendalikan. Apalagi oleh barang palsu seperti Cursed Arm. Benarkan, Sei?"


Yang menjawab adalah Fea. Sama seperti kaisar Sei, dia adalah satu satunya yang sama sekali tak panik.


Para undangan dan tamu penting terlihat gemetar dengan penuh ketakutan, tetapi mereka tak bisa pergi sementara kaisar Sei sama sekali belum bergerak dari tempatnya.


"Kebiasaan buruknya untuk bermain main sungguh membuat orang lain repot."


Sei mendesah dalam.


Kuro adalah seorang yang akan menyelesaikan masalahnya dengan cara rumit, karena itulah Kuro sering membuat orang lain ikut terlibat dengan masalahnya.


"Dia hanya terlalu baik." Ucap Fea dengan senyuman lebar.


"Jika dirinya yang dulu, mungkin dia akan langsung menghancurkan Airs tanpa harus berbelit-belit seperti ini."


Kuro mendapatkan julukan Demon King bukanlah tanpa alasan. Meskipun kadang sejarah terlalu dibesar-besarkan, tapi untuk kasus Kuro di masa lalu, kekejaman dalam cerita mungkin terlalu lembut.


"Haha.. kau tak bisa mengatakan seperti itu. Bukanlah dia salah satu murid sekolah negeri ini?"


"Di negeri ini tak ada ampunan bagi kriminal. Semua yang dia lakukan sudah cukup menjadi alasan untuk mengeksekusi dirinya."


Fea hanya tersenyum kecut.


Meskipun terdengar tak kenal belas kasih, tapi itulah aturan yang membuat kekaisaran sampai sekarang menjadi negara terkuat. Tak hanya rakyat yang patuh, tapi juga mengerti kalau berbuat kriminal akan merugikan diri sendiri.


Tentu saja aturan seperti itu memiliki celah. Jika rakyat kekaisaran menderita oleh aturan pemerintah, maka kekaisaran cepat atau lambat akan segera runtuh.


Tetapi selama ini belum pernah terjadi. Faktor utama hal itu adalah tak ada perpecahan karena kaisar tak pernah berganti.


"Haha.. jadi kita hanya perlu menonton? Jika bisa aku ingin popcorn."


"Aku sudah menyiapkannya."


Melihat situasi krisis seperti ini, tindakan keduanya benar benar berada di luar akal manusia.


Tapi itu wajar, sejak awal tak ada yang menganggap keduanya manusia normal.


Atau bahkan, apakah mereka bisa disebut manusia?


💠💠💠


Di dalam kegelapan, sebuah cahaya hitam keunguan menyala seperti obor kecil.


Obor itu lalu berubah menjadi sebuah bola mata dengan pupil berwarna emas seperti milik ular. Inilah wujud sebenarnya dari Eyes of Balor.


"Hahahahahahahaha hahahahaha...bodoh. Sebagai King, kau begitu ceroboh karena memberikan kesempatan ini padaku kukukuku."


Eyes of Balor tertawa senang penuh dengan ekstasi. Dia tak menyangka semua rencana yang rumit telah berjalan dengan sukses.


Tidak, mungkin lebih tepat jika dia mendapatkan jauh apa yang melebihi perkiraannya.


Sebagai Cursed Arm, dia ingin mendapatkan wadah yang sesuai dengan dirinya. Dengan demikian, dia bisa mencapai tujuan terbesar setiap Cursed Arm, yaitu kebangkitan sepenuhnya.


Awalnya dia kecewa karena mendapatkan wadah yang sama sekali tak berguna seperti Airs, tapi saat tahu di masa ini ada King yang bangkit kembali, maka dia tak menyembunyikan rasa senangnya. Apalagi saat ini King adalah yang terlemah. Tak diragukan lagi, jika dia bisa menguasai King, dia akan mampu bangkit sepenuhnya.


Diperlukan waktu yang tak sedikit dan cara yang begitu rumit. Tapi semua itu setimpal saat mendapatkan hasilnya.


"Akhirnya aku akan bebas..."


Puluhan rantai hitam keunguan muncul dari seluruh tubuhnya. Itu adalah perwujudan kekuatan Eyes of Balor yang mampu mengekang kehendak, pikiran dan jiwa orang yang menggunakannya, Soul Chain.


Untuk menguasai Kuro yang pertama kali dia lakukan adalah menemukan jiwa milik Kuro, tetapi-


"...."


Dia tak menemukan sosok jiwa Kuro dimanapun.


Dia menyebarkan seluruh rantai ke segala arah, tapi dia tak menemukan apapun.


Bagaimana mungkin?


King memang spesial, tapi jiwa mereka tetaplah jiwa manusia biasa yang terhubung pada jiwa King sejati. Dari situlah mereka bisa menggunakan kekuatan tak manusiawi seperti Authority. Seharusnya saat dia merasuki tubuh Kuro, dia akan langsung berhadapan dengan jiwanya.


"Kenapa...?"


Dia mulai bertanya tentang keanehan yang terjadi, lalu di saat itulah sepasang mata putih muncul di depan matanya.


"!?"


Kemudian, puluhan pasang mata lainnya muncul dari seluruh tempat dengan berbagai ukuran seolah mengawasinya.


Sebagai Cursed Arm, dia tak memiliki rasa takut. Tapi entah mengapa dia merasakan sebuah teror yang tak terlihat.


Mungkin inilah yang dinamakan sebagai firasat buruk.


Selanjutnya, yang muncul adalah sebuah sosok besar seperti raksasa. Ukuran Eyes of Balor bagaikan sebuah kelereng di depan sosok itu.


Hal ini berkebalikan seperti yang sudah sudah. Jika orang biasa, jiwa milik mereka lah yang seukuran kelereng.


"W-wujud itu...."


Tak diragukan lagi itu adalah wujud jiwa milik Kuro. Hanya saja wujudnya saat ini memiliki bagian yang retak di berbagai tempat seperti kayu yang lapuk. Dari setiap retakan menghilang menjadi partikel cahaya emas.


Itu memang suatu yang aneh, tapi bukan itu yang menjadi masalah.


Jiwa dengan ukuran sebesar itu bukanlah jiwa milik manusia biasa. Lalu normalnya berukuran bola kecil dengan api seperti sebuah obor.


Wujud jiwa Kuro selain ukuran yang tak normal, wujudnya bisa dikatakan sangat sempurna.


Dengan kata lain,..


"Kau bukanlah King? Tidak, mungkinkah....?"


Kuro hanya tersenyum kecil. Dia lalu memungut Eyes of Balor seperti mengambil sebuah biji kelereng dan mendekatkan ke wajahnya.


"Aku adalah King, tapi di saat yang sama bukan. Kau diciptakan dengan tujuan untuk meniru kekuatan Authority yang aku gunakan, tak mengherankan jika kau tak tahu siapa diriku."


"..."


Jika dia punya keringat, Eyes of Balor sudah berkeringat deras.


Dia tahu sosok di depannya ini bukanlah sosok King yang seperti dia harapkan. Lalu dari perbedaan ukuran jiwa keduanya, Eyes of Balor tahu mustahil dia menguasai jiwa Kuro.


"Yah.. tak ada gunanya membahas itu. Sekarang apa yang aku lakukan padamu?"


Eyes of Balor tahu nasib yang akan menimpanya. Awalnya dia berpikir kalau semua berjalan seperti yang dia inginkan, tapi pada kenyataannya dia menari di telapak tangan Kuro.


"Tu-tunggu!! Jangan hancurkan aku!!"


"Kenapa? Kau hanyalah makhluk rendahan yang diciptakan dengan tujuan menghancurkan. Kau sadar dengan itu kan?"


Sebagai Cursed Arm, dia tak bisa membantah hal itu.


"Sebagai benda yang diciptakan untuk menghancurkan, kau pasti tahu masa depan yang akan menantimu. Menyerahlah, tak ada negosiasi untukmu."


"Tch!!"


Dia berpikir bisa menghindar, tapi dia paham Kuro tak membiarkan hal itu. Atau lebih tepat apapun yang dia katakan tak akan membuat Kuro mengampuninya.


Meskipun tahu percuma, Eyes of Balor menyerang dengan Soul Chain. Puluhan rantai menyerang tepat ke arah kepala Kuro, tapi semua itu langsung dimusnahkan oleh rantai emas yang muncul dari udara kosong.


"..."


Dia langsung tahu apa sebenarnya rantai emas itu. Itu adalah perwujudan kekuatan yang sama dengan Soul Chain, Dominator.


Tetapi jika dibandingkan, keduanya bagaikan langit dan bumi. Bahkan Eyes of Balor bisa tahu apa yang terjadi jika Kuro menggunakan kekuatan itu dengan tujuan egois.


Tak hanya menghancurkan dunia, tapi juga bisa membentuk dunia hanya dengan salah satu Authority saja.


Sosok yang memiliki kekuatan seperti itu tak diragukan lagi bukanlah manusia. Mereka bahkan tak pantas disamakan dengan makhluk rendahan seperti manusia.


"King... Kenapa?"


Itu adalah pertanyaan terakhir sebelum Eyes of Balor dihancurkan oleh rantai emas Dominator.


Atau bisa juga disebut sebagai World Chain.


"..."


Kuro tahu pertanyaan terakhir Eyes of Balor bukanlah demi pengampunan.


💠💠💠

__ADS_1


Banyak yang berpikir sesuatu akan segera terjadi saat kegelapan meluap dari tubuh Kuro. Mereka seolah melihat legenda paling mengerikan hidup kembali.


Fakta kalau Kuro adalah keturunan Demon King sudah menyebar luas. Hal itu membuat banyak yang tertarik padanya, tapi di saat yang sama juga takut. Apalagi rumor tentang kekejamannya saat menjadi bagian anggota pasukan khusus kekaisaran juga menyebar luas.


Untuk rumor mengenai pekerjaan Kuro sebagai Shadow Knight, rumor seperti itu sebenarnya sudah ditekan. Tidak, bahkan sudah dirahasiakan untuk menjaga privasi setiap mantan anggota dan membuat mereka bisa kembali ke jalan cahaya.


Tetapi, status Kuro yang tak normal dan juga salah satu peserta Battle War membuat privasi dan rahasia yang dia miliki akan dicari secara menyeluruh entah apakah itu dari peserta lain, atau dari pihak media.


"....Kuro.."


Sebagai istri dan orang tercinta Kuro, Laila tak begitu senang dengan rumor buruk yang dimiliki Kuro, tetapi dia juga tak bisa membantah semua itu salah.


Pada akhirnya, meskipun dia banyak mendengar cibiran dan hinaan dari orang sekitar, dia tak begitu peduli selama itu tak mengganggu kehidupan normal mereka.


"Ini menarik..."


"..."


"Jangan menatapku seperti itu. Kau tahu kan kalau elemen kegelapan tak ada yang bisa menggunakannya selain suamimu. Jika itu benar, bukankah kau tak perlu khawatir?"


"Aku tak pernah bilang kalau aku tak mempercayainya. Sejak aku mengenalnya dulu, dia selalu berbuat hal yang di luar akal manusia."


Laila mengingat masa lalu mereka sebagai Alice dan Shiro. Itu sungguh membuat Laila bernostalgia.


Lalu jika Kuro masih belum berubah sama seperti dulu, maka tak perlu ada yang dikhawatirkan.


Dan itu benar.


Kegelapan yang meluap perlahan menghilang bagai angin lalu. Yang tersisa dari itu adalah Kuro dan lainnya.


Laila dan Mitra dengan cepat mendekat. Selain mereka ingin cepat melihat kondisi Kuro, mereka juga harus waspada dengan peserta lain yang memanfaatkan situasi seperti ini.


Tetapi kekhawatiran mereka sepertinya tak diperlukan.


"Kuro, kau baik baik saja?"


"Ha.. ha... Ha... Tidak masalah. Aku hanya terlalu banyak menggunakan kekuatanku."


Nafas Kuro terengah-engah. Wajahnya juga pucat seolah akan pingsan kapan saja.


Jika dibandingkan dengan dulu, saat ini Kuro memang jauh berbeda, lebih tepatnya sangat jauh lebih lemah, tapi sepertinya Laila harus memikirkan masalah ini lebih serius.


Lalu dengan kekuatan sihir pendeteksi, dia bisa merasakan kalau energi dalam diri Kuro kacau balau dan begitu rumit seperti benang kusut. Itu sangat berbeda dengan energi yang biasanya bergerak seperti sebuah aliran sungai.


"!?"


Tetapi energi yang Laila rasakan langsung menjadi stabil kembali. Energi Kuro yang kusut telah kembali seperti semula. Itu juga terlihat dari tanda Kuro sudah tak pucat lagi.


"Laila, apa ada yang salah?"


"....Tidak. Aku senang kau baik baik saja."


"Daripada memikirkanku, kita memiliki masalah yang lebih penting."


Mereka semua lalu melirik ke arah Airs dan Charmilia. Keduanya masih tak sadarkan diri dan hanya tergeletak di tanah.


Keduanya tampak tertidur pulas setelah semua yang terjadi.


"Dia tak sadarkan diri seperti mayat."


Mitra memeriksa kondisi Airs. Meskipun tak sebaik Laila, Mitra bisa tahu kalau kondisi Airs cukup membahayakan.


"Itu adalah bayaran yang dia terima. Yah... Dia beruntung masih hidup. Meskipun aku tak tahu apakah ini terbaik untuknya."


Laila dan Mitra tak bisa berkata apa apa. Kondisi Airs seperti seorang yang sekarat. Bahkan keduanya tak bisa merasakan energi sihir dalam tubuh Airs seperti orang biasa.


Ya. Karir Airs sebagai penyihir telah selesai.


"Kita urus masalah Airs nanti. Kita punya dua putri yang perlu dibangunkan."


Kuro menunjuk ke arah Charmilia dan Fila yang masih berada dalam kubus hitam.


"Apa kau yang jadi pangerannya?" Tanya Laila dengan tawa cekikikan.


"Entahlah, tapi satu hal yang pasti, aku tak akan pernah menjadi pangeran. Pandora, bisakah kau menunjukkan wujudmu. Kita punya masalah di sini."


Laila dan Mitra terkejut, tapi seperti kata Kuro, Pandora kembali muncul. Tetapi tak seperti sebelumnya, aura gelap yang menyelimutinya telah menghilang.


"Kau tahu?"


Kuro hanya tersenyum.


"Tenang saja. Aku akan menolong Fila untuk keluar dari kegelapan yang menyelimutinya."


Mendengar itu Pandora meneteskan air mata dan akhirnya menangis sepenuhnya. Mitra dan Laila tak begitu mengerti hanya menatap keheranan.


"Terima kasih. Hanya kau yang bisa menolong tuanku. Jadilah cahaya baru dan tunjukan padanya kalau dunia ini memiliki hal yang indah."


"Tentu."


Apa yang sebenarnya terjadi?


Kuro hanya tersenyum melihat reaksi mereka.


Dia lalu melangkah ke arah Charmilia. Dia mengangkatnya dengan gendongan ala tuan putri. Kemudian, yang terjadi tak bisa ditebak oleh semuanya.


Kuro mencium Charmilia.


Mitra melebarkan matanya karena tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia bahkan menarik pakaian Laila seolah bertanya 'apakah ini akan baik baik saja?'


Laila hanya tertawa kecil karena tahu apa yang akan terjadi.


Mengabaikan semuanya, Kuro memberikan ciuman mesra seperti seorang kekasih. Bibir Charmilia yang lembut dan manis dia rasakan dengan jelas. Sensasi yang dia rasakan belum berubah setelah ciuman pertama keduanya.


Tetapi dia tak memiliki waktu memikirkan hal yang tak perlu. Dia melakukan hal yang harus dia lakukan. Menghancurkan sihir pengendali Eyes of Balor yang masih tersisa.


Memang Kuro sudah menghancurkan intinya, tapi pengaruh Eyes of Balor masih tak hilang sepenuhnya. Itu adalah salah satu alasan kenapa Eyes of Balor dikenal sebagai salah satu yang paling berbahaya. Dan jika dibiarkan begitu saja, Charmilia akan kehilangan pikirannya.


"Dominator!!"


Rantai emas muncul dari tubuh Kuro dan memasuki tubuh Charmilia. Menuju bagian terdalam jiwa dan menghancurkan Soul Chain.


Apa yang dilakukannya tak terlihat oleh mata, tapi rantai emas yang muncul terlihat jelas oleh mata telanjang. Laila dan Mitra dibuat terkejut oleh visualisasi kekuatan Kuro yang terlihat untuk pertama kalinya.


"Dengan ini semuanya akan baik baik saja."


Kuro melepaskan ciumannya dan melihat keadaan Charmilia. Nafasnya sudah kembali seperti semula dan wajahnya terlihat lebih segar.


Di saat yang sama mata Charmilia terbuka. Dia melebarkan matanya karena terkejut oleh situasi yang tak terduga. Wajahnya memerah malu bercampur dengan panik.


Charlmilia untuk sesaat mencoba meronta, tapi tubuhnya tak bisa berbohong. Dia menikmati momen ini.


"Charlia?"


"....Kuro?"


Siapapun bisa melihat ada aura pink di antara mereka.


Tetapi-


"Ini bukan saatnya melakukan ini."


Dengan mudahnya Kuro melepaskan Charmilia hingga membuatnya terjatuh ke tanah dengan cukup keras. Aura pink langsung menghilang seolah tak pernah ada.


Charmilia dibuat linglung seperti orang bodoh, tapi dia tahu tak bisa protes.


"Laila...?"


"Lakukan sesukamu. Biarkan aku yang mengurus sisanya."


Kuro lalu melangkahkan kakinya ke arah kubus hitam yang mengurung Fila.


Charmilia masih bingung dengan apa yang terjadi, namun dia dengan cepat mengerti apa yang akan Kuro lakukan.


Setelah mendekat, Kuro menyentuh kotak hitam yang terbuat dari pasir besi. Sekilas terlihat seperti sebuah benteng yang kokoh, tetapi Kuro tahu kalau ada sebuah pengecualian.


Yaitu pada orang yang ingin Fila temui.


Sayangnya, orang itu bukanlah Kuro.


"Fila, aku masuk..."


Dengan menggunakan salah satu Authority, Dominator, dia memaksa masuk.


Setelah itu sosok Kuro menghilang tertelan oleh pasir hitam.

__ADS_1


__ADS_2