Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Faker


__ADS_3

Leon danĀ  Charlmilia terus maju ke tempat markas musuh yang sudah diketahui lokasinya. Sampai saat ini musuh terkuat yang pernah Leon lawan adalah homunculus setinggi dua meter dengan tubuh kekar dan memiliki pertahanan tinggi, namun dengan dua atau tiga kali pukulan, musuh sudah menjadi bongkahan daging.


Bagi Charlmilia yang melihat kejadian itu hanya bisa terkagum. Bagaimana tidak, meskipun terlihat lemah, namun saat berhadapan, dia merasakan tekanan mana yang begitu besar. Sepertinya musuh benar benar menciptakan lawan yang cocok bagi setiap penyihir, namun itu masih belum cukup untuk menghentikan Leon.


Sesekali Charlmilia berkomunikasi dengan Alva dan Alvi yang ikut menjadi pengawas pertarungan. Mereka mungkin lebih kuat setelah berlatih dengan Kuro, namun mereka masih belum cukup. Alasan kenapa Charlmilia diperbolehkan ikut karena dia adalah penyihir peringkat SSS.


Peringkat itu menunjukkan kalau dia adalah penyihir yang kuat, namun dari pertempuran ini dia sadar masih belum bisa dibandingkan dengan penyihir berpengalaman seperti Leon.


Bukan karena Leon adalah penyihir terkuat, namun dari cara bertarung, teknik, sihir dan kekuatan fisik sangat berbeda dengannya. Bukan perbedaan jenis kelamin, namun cara menggunakannya.


Alasan Leon hanya menggunakan tinju, bukan karena lawan terlalu lemah. Namun itu adalah teknik yang memanipulasi mana di kepalan tangan sehingga menghasilkan serangan mematikan. Setiap pukulan mungkin setara dengan Sacred Magic Art.


Tak hanya itu saja yang Charlmilia sadari. Dari gerakan Leon, dia bisa mengetahui kalau tak ada gerakan yang percuma. Bisa dibilang setiap gerakan merupakan teknik untuk membunuh dan menghancurkan lawan.


"Ini yang terakhir... Kita segera masuk. Bersiaplah..."


"Aku mengerti, Paman."


Mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Sebuah pintu logam raksasa di depan mereka seolah menjadi benteng terakhir sebelum mereka menghadapi musuh terakhir.


Leon memukul pintu dan menghasilkan suara hentuman keras. Pukulannya dapat menghancurkan pertahanan terkuat penyihir manapun, namun pintu metal itu tak tergores sama sekali.


Charlmilia tentu terkejut, namun Leon terlihat tenang sambil bersiap memukul sekali lagi.


Suara benturan kembali menggema, namun kejadian serupa masih terjadi.


"...begitu rupanya..."


Leon menggela nafas dan mundur beberapa langkah.


"Paman, apa yang terjadi..? Kenapa pintu ini tak mau terbuka..?"


Di mata Charlmilia ini mungkin kejadian yang sulit dipercaya, namun Leon bersikap biasa seolah sudah mengetahui apa yang menyebabkan pukulannya tak mempan.


"Mereka menggunakan sihir kuno untuk melindungi pintu ini. Ini sedikit merepotkan, namun bukan masalah besar."


"Sihir kuno?"


"Sihir ini memindahkan serangan ke tempat lain. Mudahnya seperti teleportasi, namun hanya memindahkan kekuatan serangan."


"Tunggu, bukankah itu artinya..."


Leon mengangguk tanda apa yang dipikirkan Charlmilia tepat.


"Jika aku tak mengurangi kekuatanku, mungkin saja aku menghancurkan kota. Secara tak langsung aku bisa membunuh seseorang."


Misalnya, jika sihir itu memindahkan serangan ke sebuah kota dengan padat penduduk, serangan itu akan menghancurkan segalanya. Itu suatu hal yang tak keduanya inginkan.


"Untuk berjaga jaga tanyakan pada pengawas. Kita tak ingin hal buruk terjadi."


Charlmilia langsung melakukan perintah Leon. Dan setelah mereka menunggu beberapa menit, mereka mendapatkan jawaban.


"Saat ini tak terjadi masalah di ibukota. Butuh waktu untuk memeriksa bagian wilayah lain. Paman, apa yang harus kita lakukan?"


"Tentu kita akan menghancurkan pintu ini."


"Eh?"


Meskipun dampak tak terjadi di ibukota, namun bisa saja terjadi di wilayah lain. Leon seharusnya paham hal ini, namun dia tak terlihat kawatir.


"Counter Gate memang bisa memindahkan semua serangan, namun serangan yang bisa dipindahkan hanyalah sihir. Dengan kata lain..."


Leon mengepalkan tangannya dan bersiap memukul. Aura besar terpancar dari tubuhnya. Namun aura itu bukanlah sihir.


(Itu kan...)


Charlmilia sering melihat pemandangan itu, namun dia tak menyangka dia akan melihatnya terjadi kepada Leon.


Ki. Itu adalah kekuatan Kuro. Dan setahu Charlmilia, ki bukanlah hal yang mudah dipelajari, apalagi oleh penyihir. Namun Leon saat ini menggunakan ki bagaikan suatu hal yang biasa.


Lalu dengan suara benturan keras, pintu besi raksasa hancur berkeping keping.


"Fuuuu.. Sudah lama aku tak menggunakannya. Tak peduli kecil atau besar, tetap saja ini membuatku lelah."


Keringat keluar dari Leon. Ini baru pertama kalinya terjadi.


"Oh.. Apa kau terkejut aku bisa menggunakan ki seperti bocah itu?"


"Y-Ya..."


Jika paladin terkuat di dunia bisa menggunakan kekuatan selain sihir, apa yang terjadi jika dia di pihak kejahatan?


"Ibuku menyuruhku untuk menguasai ini. Jujur saja aku pikir tak membutuhkannya, namun ibu terus memaksaku. Meskipun aku menguasainya, namun menggunakan ki menguras tenagaku hingga 10 kali lipat dari energi yang biasa digunakan. Jika bisa aku tak ingin menggunakan ki lagi."


Leon lalu mendesah berat.


"Sudahlah, kita masuk. Kita tak ingin membuat tuan rumah menunggu lebih lama lagi."


"Bagaimana dengan yang lain?"


Karena tak tahu musuh yang menunggu mereka, menunggu bantuan mungkin pilihan terbaik.


"Tidak apa apa meninggalkan mereka. Lagipula tujuan mereka ke tempat ini. Meskipun terlihat mudah, namun mungkin musuh lebih berat untuk mereka."


Begitu rupanya. Musuh terlihat lemah karena mereka melawan monster.


Charlmilia hanya bisa tersenyum kecut.


Keduanya lalu masuk.


Tak seperti ruangan sebelumnya yang penuh dengan tiang penyangga, ruangan yang mereka masuki luas seperti stadiun sepak bola.


Cahaya kecil tiba tiba muncul dan menerangi seluruh ruangan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah benda menyerupai salib besar. Di salib itu, seorang anak kecil terlihat. Gadis kecil itu terikat oleh tali hitam menyerupai tanaman rambat berduri.


"Lic..."


Tak diragukan lagi, gadis kecil itu merupakan Lic. Namun tak seperti yang dulu dia ingat, kini rambutnya sebagian besar mulai berwarna hitam.


Dia tak peduli dengan itu, dan berlari dengan kecepatan penuh menuju Lic.


"Berhenti!"


Leon mencoba menghentikan Charlmilia, namun Charlmilia tak peduli. Dia telah menemukan Lic. .


(Kuro.. Laila..)


Meskipun harapan terbesarnya sulit tercapai, namun saat ini dia tak memikirkan kepentingannya. Menemukan Lic dan membawanya kembali ke mereka berdua merupakan hal paling dia inginkan saat ini. Daripada berusaha memiliki Kuro, saat ini dia lebih memilih untuk melihat senyuman keduanya. Tidak, mereka bertiga.


Aku akan membawa Lic. Itulah yang dia pikirkan sambil terus berlari menuju Lic.


Tapi disaat dia hampir setengah jalan, sebuah cahaya melesat dan setelah itu, cipratan darah berceceran di lantai.


"..Paman?"


Tangan Leon berdarah karena menahan tebasan pedang dari sosok misterius yang tiba tiba muncul.


"Tidak apa apa. Aku mengerti apa yang kau inginkan, namun kau harus lebih waspada. Apalagi saat ini kau berada di wilayah musuh."


"Maaf, Paman."


Setelah itu dia memanggil magic beast miliknya. Harimau putih muncul dan langsung saja Charlmilia mengevolusikan Byakko menjadi Byakkura. Dia tak menggunakan Thunder God Form karena masih belum tahu apa yang dimiliki musuh.


Cahaya putih pertanda plasma telah disiapkan untuk menyerang musuh, namun saat melihat sosok yang terlihat dengan pedang putih di tangannya, Charlmilia hanya bisa terdiam mematung dengan mata melebar.


Sosok musuh yang berada tepat di depan mereka tak diragukan sosok yang paling ingin dia miliki.


"...Ku-Kuro?"


Ya. Sosok pemuda dengan rambut hitam dan pedang putih. Dengan wajah yang dingin dan tatapan tajam. Tak diragukan lagi dia adalah Kuro yang selama ini dia kenal.


Tetapi-


"Tidak.. Meskipun kau memiliki penampilan yang sama dengan Kuro, namun kau tak lebih dari penipu."


Charlmilia tanpa ragu menembakan bola plasma ke arah penipu. Tapi seperti Kuro yang asli, bola plasma itu terbelah menjadi dua dengan kecepatan yang tak bisa terlihat oleh mata.


Mata Charlmilia melebar. Serangannya seharusnya tak mudah ditangkis, namun penipu itu dengan mudah melakukannya.


Charlmilia bersiap menyerang lagi, namun tangan besar menghalanginya.


"Aku mengerti keinginan untuk membelah pemuda itu, namun kau harus ingat. Ketika kau meremehkan kemampuan musuh, kau akan kalah. Biarkan aku yang menghadapinya. Sebaiknya kau berhati hati dengan lingkaran sihir di lantai. Entah mengapa aku memiliki firasat buruk tentang itu.."


Charlmilia akhirnya melihat pola aneh di lantai. Setelah diperhatikan dengan baik pola itu merupakan lingkaran sihir dengan luas yang luar biasa. Seluruh tempat penuh dengan pola. Bahkan dinding dan tiang juga penuh dengan pola. Tak diragukan lagi ritual sihir skala besar akan segera dilaksanakan.


Charlmilia kembali fokus ke pertarungan, namun disaat itulah tiga orang gadis muncul di dekat penipu. Dari data yang pernah Charlmilia baca, ketiganya merupakan anggota kelompok yang disebut Silver Viper.


Ketiganya tersenyum tipis sambil menunjukkan tubuh yang tertutupi oleh pakaian tipis dan menggairahkan lelaki.


"Apa kalian sudah selesai?"


Penipu itu berkata. Dan suaranya sama seperti Kuro.


"Tentu, Tuan muda. Ini lebih mudah daripada mengambil permen dari bayi fufu..fu.."


Salah satu dari Silver Viper yang berambut perak panjang mendekat dan memeluk tubuh penipu. Hal yang sama dilakukan dua wanita lainnya. Bisa dibilang ketiga wanita itu anggota haremnya.


"Pasukan terkuat di negeri ini tak lebih dari serangga. Mereka memang kuat, namun tak peduli sekuat apapun, taring kami akan selalu menembusnya."


"Kau mulai lagi, Yuko. Kau sepertinya lupa kalau kau hampir mati. Apa yang terjadi jika aku tak menolongmu?"


"Aku mengerti, Tyua. Aku akan mentraktirmu makan. Dan berdoalah pada dada penuh lemakmu itu agar segera bertambah besar."


Tyua merupakan gadis dengan rambut merah. Dan yang membuatnya menonjol adalah dadanya paling besar di antara ketiganya.

__ADS_1


"Ya ampun, apa kau tak bisa berhenti makan? Karena itulah badan kalian gemuk semua."


"Diam wanita j*lang!!."


"Aku tak peduli denganmu, Gloria."


Gloria merupakan wanita dengan rambut pirang. Meskipun dadanya tak sebesar Tyua, namun dia memiliki tubuh yang ramping.


"Aku akan membunuh kalian berdua."


Percikan terjadi di antara ketiganya dan setelah beberapa saat, ketiganya membuang muka secara bersamaan.


"Aku tak terlalu peduli dengan kalian, namun bisakah kalian fokus? Kita memiliki musuh paling berbahaya disini."


Atmosfer pertarungan yang semulanya tegang kini mulai mencair oleh pertengkaran anak kecil musuh mereka.


Sebuah cahaya melesat ke arah keempatnya. Yuko dengan santainya menggerakkan tangannya seperti melakukan tebasan dan cahaya itu meleset dari target mengenai lantai.


"Kami sedang memiliki pembicaraan serius di sini. Bisakah kau lebih bersabar, nona ...dada sapi.."


"Siapa yang kau panggil dada sapi?"


Tyua yang tak jauh darinya protes.


"Aku tak meledekmu, namun kau bisa melihatnya sendiri kan, gadis kecil itu sama seperti dirimu."


"Bukankah itu artinya kau juga bilang aku dada sapi..?"


"Kau pintar..."


Tyua memerah karena marah, namun dia merasakan amarah yang lebih besar dari gadis yanga menyerang mereka.


Charlmilia kembali menyerang, kali ini dengan serangan 7 Plasma Blade. Serangan mengenai target dan menghasilkan ledakan keras, namun setelah asap menghilang, tak ada satupun sosok yang terlihat.


"Fufu.. Dia cukup manis.. Aku jadi tak tahan untuk memberikan pelajaran.."


Meskipun sosok tak ada, namun dari suara bisa diketahui kalau itu adalah Yuko. Lalu kilatan kecil terlihat. Insting Charlmilia memberi tahu untuk segera menghindar.


Dari tempatnya semula, bekas tebasan tipis membelah lantai hingga sepanjang 10 meter lebih.


(Apa itu tadi...?)


Dia tak tahu apakah itu magic arm atau senjata musuh, namun dia sadar senjata mereka berbahaya.


Kilatan lainnya muncul dari arah yang berbeda. Charlmilia sekali lagi sambil mengamati serangan musuh. Dia ingin memakai Byakkura, namun dia tak bisa karena tak mengetahui keberadaan musuh.


Sementara itu, Leon masih tak bergerak. Dia tak membantu Charlmilia karena dia percaya dia bisa bertahan. Tentu tak lama karena dia baru saja mendengar kabar kalau semua pasukannya tak bisa datang.


Mereka tak mati, hanya saja mereka tak bisa bergerak karena racun.


"Pak Tua, sepertinya kau adalah lawanku. Bagaimana kalau kita buat ini sedikit menarik?"


Pemuda muncul di depannya seperti kilat. Meskipun memiliki penampilan yang sama dengan calon menantunya, namun tak ada rasa ingin menahan diri.


"Aku tak terlalu peduli dan aku tak ingin peduli. Hanya saja aku ingin tahu kenapa kau memakai penampilan seperti itu? Mungkinkah wajahmu tak terlalu tampan?"


"Fufu... Aku sebenarnya lebih tampan dari senior Kuro, namun karena suatu hal, aku terjebak dengan wajah ini. Yah.. Syukurlah, sebenarnya aku cukup senang dengan situasi ini."


Bodoh. Itulah yang ingin dikatakan Leon. Namun setelah memikirkan kembali, semua itu tidaklah penting.


"Begitu ya.."


Aura besar keluar dari tubuh Leon. Setelah itu perlahan aura itu membentuk pelindung baja di seluruh tubuhnya.


"Aku tak terlalu peduli. Namun ini kesempatan yang bagus untuk menghajar orang yang telah berani merayu putriku."


Senyuman lebar muncul di Leon. Itu adalah senyuman yang tak pernah dia tunjukkan kepada siapapun. Senyuman yang menunjukkan kalau saat ini dia sangat puas.


Alasan kenapa begitu senang sangatlah sederhana. Selama ini dia ingin sekali menghajar Kuro, namun dia tak bisa melakukannya. Tapi sekarang ada musuh yang memiliki wajah seperti dirinya. Dengan kata lain..


"Kau akan menjadi pelampiasan amarahku. Aku sarankan sebaiknya jangan mudah mati bocah. Hancurkan dan hanguskan, Regulus"


Aura akhirnya membetuk pelindung baja sempurna. Pelindung baja dengan bentuk singa emas dan memancarkan kekuatan besar yang sanggup membuat orang gemetar hingga ingin segera berlari.


Lautan api mulai menyambar dan menghancurkan lantai. Leon kini bagaikan singa iblis yang membakar segalanya menjadi debu.


"Haha.. Jadi inikah Magic Gear.. Jujur saja aku baru pertama kali melawan monster sepertimu, Pak tua."


Penyihir yang mampu menggunakan Magic Gear, itulah penyihir yang disebut sebagai Master. Magic Gear merupakan perwujudan sempurna dari sihir sang penyihir. Dan seorang Master memiliki kekuatan yang bisa disamakan dengan 100 penyihir.


Sayangnya, bagi Leon yang seorang Paladin, Magic Gear bukanlah perwujudan kekuatan aslinya.


"Oh.. Benar, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Itsuki. Pemimpin dari White Sun. Meskipun kau menyeramkan, namun aku pernah mengalami hal yang lebih menakutkan, jadi jangan pikir aku akan takut denganmu."


Bersamaan dengan itu, Itsuki mengeluarkan aura besar yang menutupi seluruh tubuhnya. Dan kemudian, tubuhnya mulai membentuk pelindung baja yang sama dengan Leon.


"Maaf saja, aku tak ingin kalah.. Lagipula aku punya impian yang harus aku capai.. Dainsleif"


Dalam sekejap, Itsuki diselimuti pelindung baja putih yang memiliki bentuk bagaikan ksatria suci, namun sayangnya armor itu memancarkan aura hitam yang menyeramkan.


Itsuki menghunuskan pedangnya ke samping. Dan langsung maju menyerang.


"Cepat, namun kau terlalu naif."


Itsuki hanya bisa melebarkan matanya. Kecepatan dan kekuatannya sudah meningkat puluhan kali lipat daripada dirinya yang biasa. Namun dia masih belum menembus pertahanan Leon.


"Aku akui kau cukup cerdas memilih tempat ini sebagai tempat bertarung. Aku mungkin tak bisa mengeluarkan semua kekuatanku, namun jangan kau pikir hanya karena kau bisa menggunakan Cursed Gear, bukan berarti kau bisa mengalahkanku."


Dari tangan Leon muncul cakar emas yang penuh dengan aura membara.


"Jangan mati!"


"?!"


Insting Itsuki memperingatkan dirinya kalau akan mati jika menerima serangan Leon. Dengan kecepatan penuh dia berusaha menghindar serangan yang dihunuskan tepat ke dadanya. Sayangnya itu terlambat, Cursed Gear Dainsleif di tangan Leon bagaikan sebuah kertas. Pelindung hancur berkeping keping dan darah segar tercecer di lantai.


"Ga..!"


Setelah itu, Leon menendang tubuh Itsuki sehingga melesat jauh dengan kecepatan yang luar biasa. Dan setelah menembus 18 tiang penyangga, tubuh Itsuki barulah berhenti.


Dia terhempas lebih dari satu kilometer dari tempatnya semula. Dia sekarat dan hanya menunggu waktu hingga dia mati. Tetapi..-


"Aku.. Tak peduli.. Lagi.. Dainsleif, ambil tubuhku..!"


Luka Itsuki pulih dengan kecepatan luar biasa. Tulang tulang yang patah satu persatu menyambung hingga membuat tubuh Itsuki kembali seperti semula. Bersamaan dengan itu, pelindung baja putih Dainsleif dipenuhi oleh garis garis merah yang menyebar ke seluruh tubuh bagaikan kutukan.


Leon muncul kurang satu detik dari tempatnya semula dan melihat pemandangan yang tak menyenangkan.


"Kau mengorbankan diri hanya demi kekuatan. Sungguh menyedihkan. Kau bahkan tak pantas untuk berhadapan denganku."


Meskipun tak melihat wajah Itsuki, namun Leon tahu Itsuki sedang tersenyum.


"Haha.. Lucu.. Aku tak menyangka akan mendengar kalimat itu lagi dari mulutmu, Pak Tua."


Itsuki melepaskan diri dari dinding yang membelenggunya. Dia turun dan mendarat dengan sempurna.


Dia melirik pedang putih tiruan yang kini telah patah hingga tak berbentuk lagi. Dia tak merasa kecewa atau sedih. Sesempurna dia meniru pedang Kuro, sampai kapanpun juga itu tak lebih dari pedang palsu.


Dia memejamkan matanya sesaat lalu melihat Leon yang penuh dengan haus darah. Jika dirinya yang lama, mungkin hanya menatap Leon langsung membuatnya ingin mati.


Tapi itu wajar. Leon adalah penyihir terkuat di kekaisaran ini. Mungkin semua orang berpikir dirinya bodoh karena mencari masalah dengan Leon.


(Semuanya baik baik saja..)


Setelah menghela nafas, dia kembali tenang. Meskipun tubuhnya kini pulih, namun dia merasakan seolah tubuhnya diambil alih oleh sesuatu yang mengerikan.


Kemudian, pedang putihnya tergantikan oleh pedang hitam indah yang memiliki garis merah. Indah, namun aura menyeramkan membuat pedang di tangannya lebih pantas disebut pedang terkutuk.


Sebelum bertarung, dia menghubungi tiga rekannya.


[Lakukan atau tidak sama sekali. Kalian yang menentukan.]


Dia tak mendapat jawaban. Dia tak memerlukannya. Yang terpenting saat ini semua mengerti apa yang harus mereka lakukan.


Itsuki kembali fokus ke Leon.


Cakar dari armornya kini berganti dengan pedang besar dua sisi dengan cahaya panas yang melelehkan sekitarnya.


(Ini sama sekali tak lucu..)


Anehnya, dia justru tersenyum.


Tanpa dia sadari, tubuhnya menendang lantai dan menghunuskan pedangnya ke arah Leon. Seperti yang diduga, Leon mampu bertahan dengan sisi lebar pedangnya. Namun tubuh Leon kali ini terdorong beberapa cm. Itu sudah cukup menjadi tanda bagi Itsuki.


Dia mengerahkan kekuatan yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, rasa sakit lebih kuat dia rasakan.


Dia melakukan dua kali tebasan berutun. Tapi itu tidak cukup. Dia menyerang lagi. Menambah kecepatan dan kekuatan yang lebih besar lagi. Sayangnya, monster di depannya masih bisa bertahan. Serangannya bahkan belum mampu menggores pelindung baja lawannya.


Apa masih belum cukup? Apakah dia masih begitu lemah?


Sambil terus menyerang dia memikirkan kembali semua itu. Disaat itulah sebuah tebasan kembali mengoyak daging dan pelindungnya. Dia tak hanya merasa sakit, namun kali ini juga rasa terbakar di seluruh tubuhnya.


"..."


Dengan tekadnya, dia tak berteriak dan menahan rasa sakit. Dalam sekejap luka dan pelindungnya kembali seperti semula.


Itsuki kembali menyerang dengan mengerahkan segala yang dia miliki.


"Tch!"


Itsuki menebas dari atas dengan kekuatan penuh. Tetapi serangannya berhasil ditahan dengan satu tangan.


"Aku mengerti kau berusaha keras untuk memenuhi impianmu, namun kau membuat kesalahan."

__ADS_1


Dengan kecepatan tak terlihat oleh mata, Leon mendorong Itsuki dan dia sekali lagi menendang tubuh Itsuki menuju lokasi Charlmilia berada. Tubuhnya menembus dinding dan akan segera menabrak Lic yang tertidur lelap, namun sebelum itu terjadi, Leon muncul dan menendang kepala Itsuki hingga membentur lantai bagaikan gempa bumi.


Pelindung yang menutupi kepalanya hancur dan menunjukan kepala Itsuki yang berlumuran darah. Dia masih hidup. Namun lukanya terlihat sangat parah.


Enam bola api muncul di atasnya. Bola api itu berubah bentuk menjadi tombak dan akhirnya menembus dua tangan dan dua paha Itsuki. Sisanya menembus dada dan perutnya.


Cursed Gear tampaknya tak memiliki arti di mata sihir Leon.


"Ga.. Gah..."


Darah dimuntahkan dari mulutnya bersamaan dengan darah yang berceceran dari lukanya.


Tak berapa lama kemudian, sosok Leon muncul di dekatnya. Dia tak menunjukkan belas kasihan, tapi juga tak menunjukkan rasa haus darah ingin segera membunuh Itsuki.


"Apa ada yang ingin kau katakan?"


"..ha..ha.. Apa ..kau aka..n mengabulkan permintaanku?"


"Jangan bercanda. Aku akan membunuhmu dan membawa gadis kecil itu pulang. Jika tidak, aku tak bisa melihat senyuman putriku."


Itsuki tersenyum.


"Haha.. Sepertinya aku ...mengambil... Ses..suatu yang tak se..harusnya.. kuambil.. Kah.."


Tak ada sepatah kata dari Leon. Dia tak ingin membantah, namun juga tak ingin mengiyakan.


Leon lalu melirik ke arah pertarungan yang tak jauh darinya.


(Sepertinya dia tak perlu bantuan..)


Sementara itu, Charlmilia bertarung dengan keras. Dia menggunakan Plasma Rain dan menyebarkannya ke segala arah untuk menemukan musuh yang tak terlihat.


Salah satu anggota Silver Viper memiliki kekuatan untuk membuat tubuh mereka tak terlihat. Dengan menggunakan kemampuan itu, mereka menyerang lawan dengan menggunakan racun mematikan seperti ular berbisa. Dari situlah nama Silver Viper.


Tapi bukan hanya itu saja yang membuat mereka mematikan. Mereka ahli mengendalikan orang lain dengan sihir pengendali seperti yang mereka lakukan untuk menculik Lic di kota Areshia.


Terakhir, salah satu dari mereka memiliki magic arm yang tak biasa. Dari data yang Charlmilia baca, dia bisa menebak semua pola yang dilakukan musuh.


Dengan alasan semua itu, dia menggunakan Plasma Rain, namun cara itu tak berhasil.


Dia menghindar dan terus menghindar sambil mencoba menyerang. Tapi sejauh ini tak memberikan hasil. Bahkan dengan bantuan Byakkura, sejauh ini tak ada tanda berhasil.


(Mereka sangat merepotkan..)


Charlmilia sadar. Satu kali serangan mereka mengenai dirinya, maka akibatnya akan fatal. Racun yang mereka gunakan bisa membunuh hanya dalam kurun waktu beberapa detik saja.


Ketika sedang memikirkan itu, tiba tiba salah satu musuh di udara dengan kilauan benda tipis di sekitarnya. Itu adalah wujud magic armnya berupa tali kawat tipis.


"...aku ingin segera mencincangmu..."


Yuko menari dengan benang tipis di sekitarnya. Lalu dengan kecepatan tak terlihat oleh mata, salah satu benang melesat tepat ke arah leher Charlmilia.


Charlmilia menghindar dengan jarak tipis, namun disaat itulah benang lainnya muncul dan berbelok ke arah matanya.


Ini adalah akhir. Siapapun akan berpikir seperti itu, namun sebelum menyentuh kulit Charlmilia, benang itu tertahan oleh sesuatu.


"..."


Yuko terdiam karena tak mengerti apa yang terjadi, namun setelah menajamkan indera penglihatan dan perasaannya untuk melihat aliran mana. Barulah setelah itu, dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


"Jangan pikir aku hanya berdiam diri tanpa melakukan persiapan..."


Aura muncul di sekitar Charlmilia dan membentuk sebuah perisai tipis. Namun itu bukan perisai biasa. Perisai itu terbuat dari gabungan elemen angin dan elemen petir.


"Tch.. Merepotkan.."


Yuko terlihat kecewa, namun dengan cepat berganti dengan senyuman. Charlmilia langsung bertindak waspada. Dia tak tahu apa yang direncanakan musuh.


"!?"


Tiba tiba dia merasa sesuatu bagaikan tersengat listrik. Walau sesaat, namun itu sesuatu yang aneh. Dugaan Charlmilia terbukti dari senyuman Yuko tak menghilang.


"Byakkura.."


Dia memutuskan untuk menyerang. Meskipun masih ada musuh lainnya, namun yang terpenting adalah mengalahkan musuh yang paling berbahaya.


Disaat itulah Charlmilia merasakan keanehan. Byakkura tak meresponnya. Link seolah memudar.


"Mungkinkah..."


Charlmilia memiliki firasat buruk. Dan firasat itu menjadi kenyataan.


Byakkura tiba tiba bergerak ke arahnya dan menyerang dengan dua pisau di tangannya. Karena tahu betul batas dan potensi Byakkura, menghindar bukanlah hal sulit. Namun disaat yang sama musuh mulai menghilang dan menyerang.


"Sial!!"


Serangan datang dari tiga arah segaligus. Dia memiliki pertahanan, namun dia tak mungkin bertahan dari tiga serangan sekaligus.


Dia juga berusaha mengembalikan Byakkura, namun dia tak bisa. Dia tak menyangka kekuatan musuh bisa memiliki pengaruh seperti itu.


Byakkura meraung dengan keras. Charlmilia melompat untuk menghindar. Di atas dia memanggil senjata milik Byakkura dan menggunakannya untuk menahan serangan musuh yang datang dari dua arah berbeda.


"Disana!"


Dia melempar salah satu pedang ke sudut tiang. Disana pedang itu menancap ke suatu benda tak terlihat dan akhirnya darah menetes dari bilah pedangnya.


Tak berapa lama kemudian, sosok seorang gadis terlihat dengan pedang menusuk di dadanya.


"Beraninya kau..!!"


Yuko kembali muncul dan menyerang dengan puluhan benang sekaligus. Dengan menggunakan plasma, Charlmilia menahan serangan dari semua arah.


Sosok gadis lainya muncul di dekat gadis yang tertusuk dengan ekspresi sedih bercampur dengan amarah.


"Tyua, bertahanlah."


Gloria mengambil botol dan berusaha meminumkan melalui mulut, namun tiba tiba botol itu hancur.


Dengan wajah merah, dia melihat ke arah Charlmilia yang merupakan pelaku dari hancurnya botol yang berisi ramuan pemulih.


"Dasar bia-..."


Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah panah menembus jantungnya. Itu juga merupakan panah yang terbuat dari plasma yang dilemparkan dengan kecepatan tinggi.


Dua tumbang dan yang tersisa hanyalah satu orang wanita.


"..."


Charlmilia kembali fokus ke arah Yuko setelah membunuh dua rekannya. Karena pengguna sihir menghilang telah mati, maka Yuko tak bisa menggunakan triknya.


"Jika kau marah, maka akhirnya kau mengerti apa yang dirasakan oleh keluarga yang kau bantai."


"..."


Hanya tatapan kebencian dan amarah yang ditunjukan Yuko. Dia terlihat ingin sekali membunuh dan menyiksa Charlmilia.


"Aku tahu kau membenciku... Aku tahu kau juga ingin sekali membunuhku..."


"Jangan salah sangka, wanita j*lang."


"..."


"Sejak awal kami sadar suatu saat kami akan mendapatkan balasan dari perbuatan kami. Namun aku tak terima jika kami mendapatkan balasan sebelum impian kami terwujud."


Aura dan tekanan mana Yuko meningkat. Bersamaan dengan itu, benang benang putih dan tipis mulai memancarkan aura hitam yang berbahaya dan menakutkan.


Charlmilia berkeringat dingin. Dia ingat betul sensasi dari tekanan mana yang dia rasakan saat ini.


Sayangnya, Yuko tak membiarkan Charlmilia berpikir atau merasa takut. Benang benang menyerang Charlmilia dan bersiap membuat dia menjadi potongan daging.


Namun disaat itulah,


"Lightning Flash"


Petir menyambar tubuh Yuko dan membuatnya menjadi abu sebelum benang benang menyentuh sehelai rambut Charlmilia.


Charlmilia menghela nafas setelah berhasil mengalahkan musuh. Namun dalam hati dia tak bisa lupa dengan apa yang dia baru saja rasakan.


(Tekanan mana itu...)


Saat sedang memikirkan itu, tiba tiba badannya menjadi berat seolah terbuat dari baja. Byakkura yang telah berubah menjadi Thunder God Form disaat detik terakhir juga bernasib sama.


"Kuh!! Apa ...ini.."


Tubuhnya semakin berat dan akhirnya membuat tubuhnya tersungkur. Setelah itu dia menyadari apa yang terjadi. Lingkaran sihir di lantai mulai bercahaya. Itu adalah tanda sihir telah aktif.


Sementara itu, Leon juga tak jauh berbeda. Meskipun dia merasakan hal yang sama dengan Charlmilia, namun dia masih bisa bertahan.


Dengan tatapan dingin dia melihat ke arah Itsuki.


"Sihir gravitasi kah... Sepertinya sihir ini aktif setelah ketiga temanmu mati.. Sungguh cara yang menyedihkan... Aku sungguh kasihan padamu.."


Disaat selesai bicara, sihir gravitasi semakin kuat menekan tubuh Leon ke bawah. Tentu Itsuki juga tak jauh berbeda.


"Sungguh aku tak mengerti apa artinya ka-"


Tiba tiba lingkaran sihir muncul di tubuh Itsuki dan menyebar hingga beberapa meter. Tentu Leon masuk ke dalam jangkauannya.


"Kau tahu... Pak tua, .. Kami tak butuh menang, karena ..itulah kematian bukanlah suatu...kega..galan.."


Lingkaran sihir di bawah kaki Leon mulai bersinar terang dan menggandakan efek sihir gravitasi. Dia mulai tersungkur dan tak bisa bergerak.


Disaat itulah, Itsuki tersenyum dan cahaya menyinari seluruh tempat itu.

__ADS_1


Setelah cahaya menghilang, yang tersisa hanyalah Lic yang terikat di sebuah salib besar.


__ADS_2