
Sudah beberapa jam berlalu sejak keberangkatan dari kota Amaria. Cuaca bisa dibilang tak terlalu bersahabat karena salju turun cukup lebat. Syukurlah dengan adanya penghangat ruangan, mereka tak perlu repot repot menggunakan sihir untuk menjaga suhu tubuh.
Selama itu pula mereka melakukan hal yang bisa mereka lakukan di kamar seperti bermain kartu untuk menghabiskan waktu. Untuk Gemini dan Sagita, mereka bergantian berjaga sehingga salah satu dari mereka bisa menemani Fila dan Charlmilia bermain.
Tujuan melakukan ini demi mempererat hubungan di antara mereka, tetapi ada satu masalah yang membuat usaha itu menjadi percuma.
"Aku kalah lagi..."
"Aku juga menyerah."
Charmilia dan Sagita tak memiliki kesempatan menang melawan satu orang yang terlihat lembut di luar, namun memiliki racun mematikan di dalam. Tentu orang itu adalah Fila.
"Ini kemenanganku yang ke 20 berturut turut. Apakah mau lanjut?"
"Tidak. Aku sama sekali tak pernah berpikir kalau kau sehebat ini. Wajahku sudah tak memiliki tempat lagi untuk dicoret."
"Aku juga."
Dari ketiga orang yang kalah (korban), hanya wajah Fila saja yang masih cantik jelita seperti malaikat. Ini adalah hasil dari hukuman permainan, jadi tak ada yang bisa protes.
"Kalau begitu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Hmm...?"
Charlmilia berpikir keras, di saat itulah dia melirik jam dan sadar kalau sudah saatnya makan malam.
"Sebaiknya kita makan malam saja dulu. Di kapal ini ada kantin. Fila, bagaimana kalau kita ke sana?"
"Sebelumnya aku minta maaf, putri Charlmilia. Tapi kami belum memeriksa keamanan makanan di kapal ini. Akan lebih baik jika makan malam di antar ke kamar ini. Lagipula kita penumpang VIP. Ini pasti bukan masalah besar bagi mereka."
"Sagita, bisakah kau tenang? Tak ada yang tahu kalau aku tuan putri di sini. Lagipula kemungkinan makanan beracun sangat kecil."
"Itu benar, tapi lebih baik berjaga jaga. Kaisar Sei telah memerintahkan kami untuk menjaga anda agar kejadian dulu tak terulang."
"Aku sudah berkali kali mendengar itu, ta- baiklah. Aku akan memesan. Setelah itu sebaiknya kita jalan jalan saja."
Charmilia menyerah. Dia tahu keduanya sangat keras dalam menjalankan tugasnya, namun dia berharap mereka lebih santai.
Setelah makan malam, mereka berempat pergi keluar dari kamar.
Tempat penumpang VIP terletak terpisah dengan penumpang biasa. Terletak di bagian atas dengan jendela yang bisa melihat pemandangan udara dari langit dengan bebas.
Tak hanya itu, juga terdapat sebuah restoran kecil dengan makanan yang mewah. Sayangnya, bukan itu tujuan Charlmilia dan lainnya.
"Akan menyenangkan jika bisa bermain salju di luar. Aku tak suka cuaca seperti ini."
"Mau bagaimana lagi. Jika mau, kita bisa melakukannya besok."
"Ya. Kau benar."
Charmilia kembali melanjutkan berjalan menelusuri lorong sambil melihat ke arah jendela. Di saat itulah dia melihat sesuatu.
"Hm?"
"Ada apa?"
Charlmilia menunjuk ke jendela. Tepatnya tempat yang terlihat dari jendela.
"Itu orang? Sedang apa mereka di cuaca seperti ini?"
Fila terlihat penasaran.
"Mungkin mereka adalah penyihir es. Maklum saja, cuaca seperti ini bagaikan surga bagi mereka."
"Aku tahu maksudmu, Sagita. Tapi penyihir es tak akan melakukan hal seceroboh ini. Meskipun mereka tahan terhadap suhu dingin bukan berarti membuat mereka kebal."
"Charl, apa kau lupa kalau kita bisa menggunakan alat sihir untuk berada di cuaca seperti ini?"
"Hm..? Kau benar..." Charmilia terdiam sesaat, lalu tiba tiba dia memasang wajah tak senang. "Aku jadi iri."
"Bagaimana kalau kita melihat ke luar sebentar?"
Tak ada yang menolak.
Mereka keluar dari ujung lorong. Selain dek kapal yang terlihat jelas, mereka juga melihat hujan salju yang turun cukup lebat.
Udara dingin dan es langsung menyentuh tubuh mereka. Kesalahan pertama mereka adalah tak menggunakan pakaian hangat. Maklum saja, tak ada dari mereka yang berpikir untuk keluar menuju dek.
Untuk mengatasi ini, mereka mengendalikan energi sihir di tubuh mereka untuk menjaga suhu tubuh agar tak berkurang. Teknik ini tak memakan banyak energi sihir, tapi tak baik digunakan dalam jangka waktu lama.
Mereka mendekat dan akhirnya mulai melihat jelas siapa dan apa yang mereka lakukan di atas dek kapal.
"Mereka menari.."
"Tapi tak hanya itu, saljunya..."
Dua orang terlihat sedang menari di tengah hujan salju. Sesekali mereka berputar dan melompat kecil dengan gerakan yang begitu indah. Yang menarik, tak ada satupun musik yang mengiringi tarian mereka.
Tetapi sebagai gantinya, salju yang berada di sekitar mereka bergerak dengan cara tak biasa. Salju turun dengan cepat, tapi di sekitar mereka turun dengan lambat seolah terdapat sebuah penyaring yang melindungi mereka. Lalu ada beberapa salju yang bergerak ke berbagai tempat mengiringi tarian mereka. Meskipun kecil, mereka bisa merasakan sebuah kehidupan di salju itu.
"Spirit es?"
Benar. Eksistensi yang mengiringi tarian mereka tak lain adalah spirit.
Tetapi bukan hanya itu saja yang membuat tarian mereka berdua begitu indah. Lalu ada hal lain yang membuat Charlmilia dan lainnya tak bisa melepaskan mata mereka dari tarian mereka.
"Ini begitu romantis. Dia benar benar tahu bagaimana cara membuat kita iri."
"Kau benar, Charl."
Orang yang melakukan tarian di tengah hujan salju tak lain adalah orang yang mereka kenal dengan baik.
Laila dan Kuro. Mereka menari dengan begitu senang dan bahagia seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Pemandangan itu sangat membuat orang iri, terutama bagi yang memiliki perasaan pada Kuro. Kapan aku akan menjadi tuan putri yang menari bersamaan dengan pangeran?
Pertanyaan yang bercampur dengan rasa iri memenuhi kepala keduanya. Meskipun begitu, mereka hanya bisa tersenyum kecut tanpa bisa berbuat apapun.
Jika ingin, mereka bisa mendekat untuk menghentikan tarian mereka, tapi ada sebuah dorongan yang menghentikan keinginan tersebut.
Kemudian, sekitar 10 menit kemudian akhirnya Laila dan Kuro berhenti menari bersamaan dengan spirit es yang menghilang.
Charlmilia dan Fila mendekat diikuti Sagita dan Gemini.
"Itu sungguh tarian yang indah..."
"Aku belum pernah melihat tarian itu sebelumnya, tapi aku tak bisa bohong kalau tarian kalian berdua begitu mengagumkan dan menyentuh."
Kuro dan Laila tak menjawab dan justru melirik satu sama lain.
"Ah.. apakah kalian tak mengenali kami? Padahal aku tak mengubah suaraku."
"Tidak. Aku tahu kalau itu kau, Charlia. Yang membuat kami bingung adalah kenapa kalian berdua ada di kapal udara ini?"
"Sudah jelas kami akan ke kota Gehenna untuk pertarungan Battle War. Bukankah kalian sama?"
Laila dan Kuro tak langsung menjawab dan sekali lagi melirik satu sama lain. Itu sudah cukup memberikan jawaban pada pertanyaan Charlmilia.
"Jangan bilang kalau kalian sudah ke sana dan naik ke kapal udara ini hanya untuk piknik?"
"Err... Semacam itulah."
"..."
"..."
Fila dan Charlmilia tahu kalau Kuro pasti akan melakukan hal itu. Tapi mendengar itu secara langsung membuat mereka bungkam dan sekaligus jengkel.
"Setelah kami tahu kalau lokasi Battle War adalah pulau melayang Avalon, aku meminta Guila untuk mengantar kami ke sana. Setelah bertemu dengan panitia, kami kembali."
Laila menambahkan. Dengan senyuman yang begitu percaya diri.
"Itu benar benar seperti kalian berdua. Tapi aku tak mengerti kenapa kalian naik kapal udara ini jika sudah pergi ke sana. Lalu jika piknik, bukankah musim seperti ini sama sekali tak cocok?"
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu. Aku lebih memilih tidur di rumah dan merawat Riku daripada keluar di udara sedingin ini. Tapi tiba tiba tadi pagi Kuro memberi usul untuk naik kapal udara ke kota Gehenna."
Fila dan Charlmilia melirik Kuro dengan tatapan penuh kecurigaan.
__ADS_1
"Tentu aku awalnya menolak karena tak memiliki alasan, namun Kuro bersikeras dengan alasan ingin berganti suasana. Pada akhirnya aku menerima. Lagipula aku tak pernah naik kapal udara sebelumnya. Ini juga menjadi pengalaman yang bagus untuk Riku dan Lic."
Tatapan keduanya semakin dalam. Mereka sekarang yakin kalau ada sebuah alasan kenapa Kuro bersikeras mengajak Laila.
"Begitu rupanya. Apa kau tak takut kalau Kuro merencanakan sesuatu?" Tanya Fila dengan senyuman tipis.
Mata Kuro dan Fila bertemu, tapi Kuro langsung menghindar.
"Melihat sifat dia, aku yakin dia merencanakan suatu lagi atau melakukan sesuatu yang tak terduga lagi. Sayang dia sama sekali tak memberitahu, jadi aku menyerah."
"Laila..."
Kuro menunjukan tatapan rasa bersalah, namun tak ada yang peduli.
"Daripada memikirkan masalah Kuro yang tak jelas, aku lebih penasaran dengan penampilan kalian. Aku mengerti tujuan kalian, tapi bukankah kalian terlalu mudah dikenali."
"Kau juga berpikir seperti itu? Aku mengubah rambutku karena ini metode yang paling cepat. Untuk yang lainnya sedikit merepotkan dan sulit diubah."
"Hmm... Bolehkah aku tahu metode lain itu? Sejujurnya aku juga ingin sekali kali menyamar tanpa ada yang mengenaliku sebagai putri jendral."
Keduanya benar benar akrab. Ini suatu yang jarang sekali terlihat mengingat mereka sering bersaing untuk merebutkan Kuro.
"Sebenarnya Gemini yang mendapatkan semuanya. Aku tak tahu dari mana dia mendapatkannya jadi kau bisa bertanya padanya."
Gemini mengangguk sebagai tanda mempersilahkan.
"Yang membuatku tertarik, ada ramuan yang memiliki efek mengubah kelamin walau hanya untuk sementara waktu. Kau pasti bisa membayangkan apa yang bisa kita lakukan dengan itu." Tambah Charlmilia.
"Aku ada urusan, jadi aku permisi dulu."
"Kuro, jangan bergerak."
"Baik!!"
Untuk alasan tertentu dia sama sekali tak bisa menolak Laila. Tetapi saat ini instingnya mengatakan dirinya dalam bahaya jika tak segera pergi dari sana secepatnya.
Sayangnya, dia sama sekali tak bisa bergerak jika Laila sudah seperti itu. Dia tak takut pada Laila, namun entah mengapa tubuhnya secara refleks langsung menurut dan tak berdaya memberontak.
Mungkin inilah yang dinamakan 'kekuatan seorang istri'. Sayangnya Kuro ingat kalau wanita di rumah Laila memang memiliki kekuatan untuk menaklukan suami mereka meskipun dia seorang Paladin terkuat. Tak mengherankan jika Kuro bernasib sama dengan mereka meskipun dia seorang King yang memiliki kekuatan untuk membunuh seorang Dewa.
"Aku bisa membayangkannya. Dengan itu memang kita bisa melakukan banyak hal."
"Aku setuju. Karena itulah ramuan itu aku pikir harus digunakan oleh orang yang tepat. Dan aku pikir kau adalah orang itu."
Charlmilia memberikan sebotol kecil dengan cairan berwarna pink.
"Terima kasih. Jangan kawatir, aku berjanji akan menggunakannya sebaik mungkin. Kuro, kita kembali ke kamar dan bermesraan."
"Err.. Laila... Aku pikir ini buka-"
"Hee.. jadi kau tak ingin bermesraan denganku? Suamiku sendiri menolak diriku? Meskipun aku bilang tak apa apa mencari istri lagi, namun aku tak menyangka kau akan menolakku secepat ini.."
"Baiklah aku mengerti. Aku mengerti. Bisakah kau berhenti membicarakan hal itu di sini?"
Kemudian mereka tak terlihat lagi setelah mereka masuk.
Setelah itu Charlmilia dan Fila mendesah dalam. Tetapi mereka kemudian tersenyum kecil dan tertawa karena merasa lega.
"Mereka sangat pandai membuat orang iri dengan kemesraan mereka. Aku sedikit lega karena bisa mengganggu mereka."
"Aku juga merasakannya, Fila. Lalu membayangkan bagaimana Laila menggunakan ramuan sihir itu benar benar membuatku penasaran."
"Fufu.. mungkin saja besok kita akan mendengar 'keperawananku diambil oleh istriku' dari mulut Kuro-kun. Fufu.. aku tak bisa berhenti tertawa jika membayangkan ini terus."
"Mou... Hentikan itu. Aku juga penasaran, tapi jika benar benar itu terjadi, aku merasa kasihan pada Kuro."
"...Charl."
"Ya..."
"Aku tadi mendengar informasi penting. Katakan kalau itu bukan hanya mimpi."
"Aku juga ingin seperti itu, Fila.."
'aku mengizinkanmu mencari istri lagi'. Tak salah lagi itu yang Laila katakan.
Tetapi dari reaksi Kuro tadi juga bisa dipastikan kalau Kuro hanya ingin mencintai Laila seorang. Perjuangan mereka tidaklah mudah.
"Aku tak tahu mana harapan kita yang lebih dulu terkabul, tapi satu hal yang pasti..."
"Jika Kuromenghilang, semua harapan itu tak ada satupun yang terkabul."
Tanpa harus bicara, keduanya mengerti. Saat ini mereka memiliki alasan lain untuk menghentikan Kuro.
Di saat itulah tiba tiba salju di bawah kaki mereka bersinar terang. Lalu semua salju yang berada di sekitar mereka berhenti bergerak dan membentuk sebuah kepingan salju yang terlihat seperti sebuah kaca.
Tak hanya Charlmilia dan Fila, Gemini dan Sagita juga tercengang dengan apa yang baru saja terjadi. Tanpa ada yang menggunakan sihir, sebuah fenomena yang tak bisa dijelaskan terjadi tepat di depan mata mereka.
Fila kemudian sadar, saat melihat bawah mereka, ternyata mereka berada di sebuah lingkaran sihir besar yang begitu rumit. Dengan pengetahuannya sekarang dia tak mengerti untuk apa fungsi lingkaran sihir itu. Tapi dia tahu, tarian indah Kuro dan Laila dilakukan bukan tanpa memiliki tujuan.
"Ahaha.. mereka membuat lingkaran sihir serumit ini dengan hanya berdansa."
"Tidak. Jika mengingat tarian mereka tadi, Kuro lah yang membimbing gerakan Laila. Jika benar, aku pikir semua ini merupakan kejutan untuk Laila."
Kuro bênar benar tahu bagaimana cara membuat suasana begitu romantis. Tapi karena keduanya muncul, usaha itu gagal dan berakhir dengan nasib yang sulit dibayangkan.
Mereka tak tahu apakah itu sebuah kebetulan belaka, namun sihir itu juga menjadi tanda kalau usaha mereka diberkati oleh takdir.
✡️✡️✡️
Perjalanan menggunakan kapal udara di malam itu begitu tenang tanpa ada masalah apapun. Hanya saja karena salju turun cukup lebat, perjalanan yang membutuhkan waktu dua hari akan mengalami perubahan.
Sebelum ke kota Gehenna, kapal udara itu akan singgah di beberapa kota untuk menurunkan penumpang dan barang barang. Kota yang pertama mereka singgahi adalah kota yang terletak di antara gunung yang bernama Auria.
Kota Auria dikenal sebagai kota penghasil sayur dan buah dengan kualitas baik pada musim tanam. Tetapi karena sekarang musim dingin, tak ada tanaman yang bisa ditanam dan hanya menunjukan ladang yang begitu putih bersih.
Di musim inilah kota Auria kadang mengalami kekurangan pasokan makanan. Lalu karena jalan untuk mencapai kota Aria cukup curam untuk kereta, maka keberadaan kapal udara dibutuhkan di kota ini.
Tempat pendaratan kapal udara di kota ini cukup kecil dan hanya bisa untuk 3 kapal udara saja. Itu sudah cukup karena kapal udara tak datang setiap hari seperti di kota Amaria.
Di saat mendarat inilah para penumpang diberikan kesempatan untuk melihat lihat walau dengan waktu terbatas.
Tetapi sebelum itu.
"Lic, habiskan sarapanmu. Aku tahu kau tak suka tomat, tapi itu bagus untukmu."
"Mu...."
Dengan wajah cemberut bercampur tak senang, Lic makan irisan tomat dengan perlahan.
Sementara Lic mencoba makan makanan yang dia tak sukai, Laila menyuapi Riku dengan makanan khusus balita. Karena Riku cukup banyak bergerak, itu sedikit menyulitkan Laila. Dia kadang harus mengejar Riku saat Riku memberontak.
Sarapan yang mereka nikmati saat ini adalah makanan yang diberikan oleh pelayanan kapal. Sama seperti Fila dan Charlmilia, mereka menggunakan kamar VIP khusus untuk keluarga. Jadi semua itu sudah wajar disiapkan.
Yang menjadi masalah adalah saat ini tak ada sosok Kuro menemani mereka sarapan.
Laila mendesah.
"Kuro, sampai kapan kau tidur? Aku memang sedikit keterlaluan tadi malam, tapi mau bagaimana lagi, aku seolah dirasuki oleh iblis sehingga tak bisa mengendalikan diri."
"..."
"Setelah sarapan aku berencana mengajak Riku dan Lic untuk melihat lihat kota, jadi cepat bangun dan bersiap."
Kuro sekali lagi tak menjawab. Laila sekali lagi mendesah karena mengerti alasan Kuro seperti itu.
Kamar mereka terbagi menjadi dua bagian yang terpisahkan pintu. Bagian untuk anak anak dan orang tua. Meja makan berada di dekat kamar Kuro dan Laila. Karena itulah dia bisa melihat Kuro yang bersembunyi dalam selimut.
Pada akhirnya setelah selesai sarapan, Kuro sama sekali tak bersiap. Laila jengkel akhirnya memutuskan untuk memandikan Lic dan Riku sebelum jalan jalan.
Jika Kuro juga belum bersiap setelah anak mereka mandi, Laila akan benar benar marah dan akan memaksa Kuro keluar dari tempat tidur.
Kemudian, sekitar setengah jam lebih. Lic dan Riku sudah siap dengan pakaian hangat yang tebal terbuat dari bulu. Laila juga sama.
"Akhirnya kau bersiap juga, tapi setiap kali melihatmu seperti ini, entah mengapa aku ingin menyerangmu lagi."
"..."
__ADS_1
Kuro masih terdiam dengan wajah merah karena malu sekaligus jengkel. Tetapi dia tak bisa berbuat apapun dan pasrah.
Bagaimanapun juga dia tak akan bisa menang dari Laila.
"Oh, iya. Aku lupa kalau kita akan bersama dengan Fila dan Charlmilia. Aku harap kau menyapa mereka dengan baik."
"..."
Tak diragukan lagi Laila adalah iblis.
✡️✡️✡️
Di dek kapal, para pekerja kapal udara menurunkan barang barang. Terlihat juga saudagar yang mengawasi proses tersebut karena tak ingin ada barang yang rusak karena itu akan mempengaruhi nilai jual.
Di antara orang orang itu, 4 orang wanita terlihat sedang menunggu seseorang. Mereka semua mengenakan pakaian tebal yang terbuat dari bulu yang juga ditambah dengan sihir untuk menghangatkan badan.
"Ah.. mereka datang."
Laila dan keluarganya akhirnya terlihat. Lic yang begitu manis mengenakan pakaian hangat berwarna putih yang sangat cocok dengan rambutnya. Riku juga terlihat lucu dan menggemaskan berada di gendongan Laila.
Tetapi yang aneh, mereka tak melihat Kuro dimanapun. Yang ada justru seorang gadis yang ikut bersama mereka.
Gadis cantik itu berambut panjang lurus berwarna perak. Matanya hitam dan berwarna putih. Tubuhnya terlihat langsing meskipun memakai pakaian hangat yang menutupi tubuhnya.
Dari segi kecantikan, gadis itu bisa dibilang tak terlalu spesial. Bahkan bisa terlihat jelas kalau dia kalah cantik dari Laila. Tetapi saat melihatnya, entah mengapa ada sesuatu yang membuat hati keempatnya merasakan sebuah dorongan.
"To-tolong jangan melihatku seperti itu. Itu memalukan."
Suara gadis itu begitu lemah lembut seolah tak memiliki kekuatan, tetapi itu serangan mematikan yang membuat hati mereka ingin meledak.
Mereka tahu dia adalah seorang gadis seperti mereka, namun dorongan besar itu membuat mereka seolah merasa tak apa apa melanggar garis batas.
"L-Laila... Siapa dia?"
"Aku tak pernah melihat dia sebelumnya. Darimana kau mengenal dia?"
Untuk pertama kalinya mereka merasa pesona Riku dan Lic terkalahkan oleh suatu yang lain. Laila tersenyum karena mengetahui alasan itu terjadi.
"Ahaha.. aku tahu kalian menyukai Kuro, tapi aku tak menyangka kalau kalian lebih bernafsu jika Kuro seorang gadis."
""!?""
Atmosfer membeku. Mereka terkejut karena tak menyangka gadis itu ternyata Kuro.
Tetapi mereka ingat kejadian tadi malam, jadi jika melihat Kuro menjadi seorang gadis, itu bukan suatu yang mengherankan.
"Ta-tapi bukankah..."
"Aku akan menjelaskannya. Bagaimana kalau kita belanja kebutuhan Kuro, tidak. Ruko.. benarkan?"
Laila mengatakan itu dengan senyuman licik seolah menikmati apa yang terjadi pada Kuro.
Bagaimanapun juga ini terasa aneh karena Kuro tak merasa melakukan sesuatu yang membuat Laila marah.
✡️✡️✡️
Ramuan sihir yang diberikan Charlmilia bernama Cromochanche. Ramuan ini memiliki kegunaan untuk merubah jenis kelamin dalam jangka waktu tertentu tergantung dosis yang diminum.
Untuk memberikan efek beberapa jam, cukup meminum satu tetes yang dicampurkan pada minuman atau makanan. Minum secara langsung juga bisa, tetapi rasa yang pahit tak begitu disukai.
"Aku meminum terlebih dahulu karena mendengar penjelasan Kuro ramuan itu tak berbahaya. Sampai sekarang aku masih ingat betul bagaimana rasanya memiliki 'itu'."
Wajah gadis lainnya memerah. Mereka bisa dikatakan dewasa, tetapi belum pernah melihatnya secara langsung (kecuali Charlmilia karena insiden).
"Aku ingin tahu bagaimana wajahmu jika menjadi lelaki. Apakah tampan?"
Laila tersenyum dan memberikan Cristal Age pada Fila.
"Aku mengambil dan merekam kejadian tadi malam. Maklum saja, ini kejadian langka."
"Hoho.."
Mereka lalu melihat foto Laila yang bisa dibilang sangat tampan. Dia bahkan lebih tampan dari Kuro. Selain tampan, dia juga memiliki tubuh yang bagus.
"Perubahan tergantung genetik masing masing. Jika dia tampan, maka dia akan menjadi cantik. Begitu pula kebalikannya."
"Kuro, aku tak menyangka kau menjelaskan itu dengan santainya."
Wajah manis Kuro cemberut.
"Jangan salah paham. Aku masih belum terima kejadian tadi malam. Harga diriku sebagai laki laki seolah tak berarti."
"Tapi kau perempuan, jadi tak apa apa menyerangmu."
"Kuh.."
Kuro tak bisa membantah.
Pemandangan ini membuat orang ingin tertawa. Tak ada yang menyangka Kuro akan takhluk seperti ini.
"Mama.. aku menemukan barang yang kau cari.."
Lic berteriak memberitahu. Dia bersama dengan Gemini dan Sagita yang ikut menjaga Riku di depan mereka.
"Sekarang, bagaimana kalau kita belanja?"
"Kau sungguh menikmati hal ini kan?"
Meskipun protes, tak ada yang peduli dengannya.
Kemudian, mereka memasuki toko berukuran sedang yang khusus untuk pakaian wanita. Selain pakaian musim dingin, pakaian biasa juga banyak. Hanya saja mereka saat ini butuh hal lain yang lebih penting dan darurat.
"Ukuran dadamu B-cup huh.. entah mengapa aku tak terlalu terkejut."
"Biarkan aku sendiri. Ngomong ngomong, jangan pilih dengan model erotis, bagiku yang biasa saja sudah cukup."
"Aku mengerti alasanmu, tapi kau akan berubah seperti itu sepuluh hari lebih. Jadi mana mungkin aku memilihkanmu model biasa saja. Lagipula seorang gadis harus memakai pakaian yang manis."
"Salah siapa aku terjebak dalam situasi seperti ini? Dan tolong jangan paksakan hal itu. Aku tak ingin menikmati menjadi seorang wanita."
Jika Laila minum hanya setetes, Kuro minum dengan dosis yang lebih besar. Lebih tepatnya sisa satu botol dia minum. Yang memaksakan tentu saja Laila saat dia lengah karena memberikan penjelasan.
Lalu setelah Kuro berubah menjadi cantik jelita, tiba tiba Laila menyerang dirinya dengan simbol seorang lelaki. Benar. Tebakan Fila dan Charlmilia tentang Kuro kehilangan keperawanannya oleh Laila benar benar terjadi. Bahkan Laila seolah menjadi binatang buas yang belum puas sebelum dia kembali normal.
Kejadian tadi malam bagaikan mimpi buruk bagi Kuro, tetapi karena yang menyerang dia adalah Laila, maka dia bisa memaafkannya meskipun dia mengalami trauma berat.
"Ruko, bagaimana dengan ini?"
"Jangan memanggilku Ruko. Dan sudah aku bilang jangan memilihkanku pakaian dalam erotis. Apa kau berencana menyerangku lagi?"
Laila memilihkan celana dalam hitam dengan tali tipis. Kuro bahkan tak tahu kenapa Laila begitu antusias.
Lalu saat dia melirik gadis lainnya, dia menemukan kalau mereka juga memilih pakaian yang luar biasa (dalam artian lain).
"Ka-kalian..."
Dia benar benar terkejut. Dia seolah mengalami mimpi buruk tanpa akhir.
"Ruko... kau harus mencoba ini!"
"Ini juga. Aku rasa gothic lolita sangat cocok untukmu."
"Bagaimana dengan ini? Tunggu, bagaimana kalau kita dandani dia?"
"O...Fila. Kau sungguh memiliki ide cemerlang."
"Jangan lupa sepatu dan aksesoris lainnya."
"..."
Memprediksi apa yang terjadi padanya jika dia terus berada di sana, Kuro mencoba lari dari para gadis yang mulai kehilangan kendali.
Tetapi saat mencoba pergi, dia tertangkap dan pada akhirnya menjadi mainan mereka bertiga.
"Riku... Aku pikir ini bukan pemandangan yang bagus untuk kau lihat. Sebaiknya kita keluar saja sampai mereka selesai."
"Mu?"
__ADS_1
Sebagai kakak, Lic bertindak cepat agar otak suci Riku tak tercemar. Orang tua mereka bisa dibilang begitu romantis, namun mereka kadang lupa melakukannya di tempat yang kurang tepat.