
Suara pedang saling beradu terdengar di udara. Suara itu terdengar begitu mematikan, tetapi di saat yang sama seperti sebuah suara musik.
Kuro dan Serge saling menebas dengan serangan terbaik mereka. Tak ada yang ingin saling mengalah atau mundur. Keduanya hanya fokus untuk mengalahkan lawan.
"..."
"..."
Kedua mata mereka sekali lagi bertemu. Di waktu yang sesaat itu, mereka bisa mengerti apa yang ingin dikatakan masing masing tanpa harus berucap.
Dengan teknik yang hampir sama, mereka menciptakan pijakan di udara dan bergerak seperti di daratan. Tak hanya cepat, tapi juga tepat. Mereka tahu jika melakukan kesalahan kecil saja, mereka akan terbebas oleh pedang lawan. Hanya dengan satu tebasan saja menentukan kalah dan menang dalam pertarungan ini.
Berbeda dengan Serge, Kuro memiliki dua pedang yang bisa dia gunakan dengan bebas. Tetapi dalam Battle War ini dia belum sekalipun menarik pedang putihnya dari sarungnya. Ini bukan karena dia tak ingin menggunakan pedang itu. Hanya saja, dia memiliki alasan kuat kenapa dia tak menggunakannya.
Salah satu alasan itu adalah kekuatan kegelapan yang dimiliki oleh pedang itu.
Kekuatan kegelapan begitu dahsyat dan di saat yang sama begitu liar. Memang dia selama ini terlihat bisa menggunakan kekuatan itu dengan bebas, tetapi dia bisa melakukan itu karena menggunakan salah satu Authority.
Kegelapan yang ada di pedang itu adalah kegelapan yang berbeda dengan kegelapan yang dia miliki dalam salah satu Authority. Jika dia melepaskan kekuatan itu secara sembarangan, dia tak tahu apakah bisa mengendalikannya atau tidak.
Jika itu terjadi, Battle War kali ini akan menjadi bencana besar. Karena inilah selama Kuro tak terdesak, dia tak akan pernah menggunakan pedang putih yang menjadi simbolnya selama ini. Beruntung, pedang hitamnya adalah salah satu pedang terbaik yang pernah dia miliki.
"Sudah aku duga kau memang kuat."
"Kau juga."
Sekali lagi kedua pedang beradu. Dalam pertarungan ini Kuro sudah bisa melihat sejauh mana kekuatan Serge. Tak ada alasan untuk menahan diri lagi.
Kuro kali ini berinisiatif untuk menyerang dengan tenaga yang lebih besar dan lebih cepat, tetapi sesaat sebelum kedua pedang beradu, pedang Serge membelok dan menyerang Kuro dari titik buta.
Kuro langsung menggunakan Brain Burst dan Accell Art memaksa tubuhnya untuk bergerak menghindar hanya berjarak setipis kertas dan menyerang balik.
Tentu saja serangan itu tak begitu efektif. Serge juga mampu menghindar dengan gerakan minimal seolah sudah memprediksi apa yang Kuro lakukan. Lalu Serge menjaga jarak dan melesat dengan teknik tebasan.
"..."
Kuro berhasil menahan dengan sisi lebar pedangnya. Dia lalu menghentikan perlawanannya hingga terdorong ke belakang dengan cepat.
Serge tak diam saja dan mengejar.
"!?"
Tetapi itu adalah kesalahan. Saat Kuro berhasil mendarat di salah satu cabang pohon, dalam waktu yang sesingkat itu dia sudah dalam posisi kuda kuda dengan pedang tersarung.
Tak diragukan lagi Kuro bersiap untuk menggunakan teknik pedang. Kemudian..-
"Sword Roar!!!"
Kuro menarik pedang bersamaan dengan itu teknik tereksekusi. Raungan keras menghantam tubuh Serge bersamaan dengan bilah pedang yang tak terlihat.
"Kuh!!!"
Beruntung, meskipun itu adalah teknik yang luar biasa, itu adalah teknik yang hanya bertujuan untuk menghempaskan lawannya. Serge merasakan tubuhnya seperti terkena sayatan silet dalam jumlah besar, tetapi tak lebih dari itu.
Serge terus melesat mengabaikan dampak yang dia terima dan menyerang Kuro. Arena mereka berganti menjadi hutan yang dipenuhi oleh pepohonan. Dalam arena seperti ini Kuro mudah untuk bersembunyi dan menyerang balik, karena itulah Serge tak akan membiarkan Kuro melakukan hal itu.
"!?"
Usaha Serge sia sia saat Kuro menghilang di balik pohon. Serge merasakan dalam bahaya dan di saat yang sama dia langsung menggunakan semua teknik terbaiknya untuk merasakan keberadaan Kuro.
Secara reflek dia menggerakkan tubuhnya ke atas. Tempat berpijaknya tiba tiba terbelah oleh teknik tebasan sepanjang 20 meter.
"Teknik dari aliran pedang Death Phantom, Silence. Sudah aku duga kau memang menguasai banyak teknik dari berbagai macam aliran pedang, Kuro. Tidak, King of Sword."
Kuro muncul dari balik sebuah pohon. Berbeda dengan sebelumnya, atmosfer dari Kuro begitu tenang.
Serge tahu ini bukan berarti Kuro sama sekali tak berniat bertarung. Justru kebalikannya, atmosfer yang dikeluarkan Kuro adalah tanda kalau Kuro sudah mulai serius.
"Seharusnya kau sudah tahu hal itu dari awal, Serge. Bagaimanapun juga kau juga seorang King of Sword."
"Hmmph!! Jika dibandingkan dengan dirimu, gelar yang aku miliki sama sekali tak berguna. Bagaimanapun juga aku bukanlah orang jenius yang menguasai setiap aliran pedang yang ada di dunia. Yah bukan berarti aku akan kalah darimu."
Kuro hanya terdiam. Dia lalu menghilang dan muncul di depan Serge dengan pedang yang siap menebas. Anehnya, tak ada tanda Serge melakukan perlawanan. Apakah dia sudah pasrah, atau karena dia tahu tak bisa menghindar?
Tetapi saat pedangnya menyentuh tubuh Serge, pedang itu menembus Serge seolah terbuat dari asap. Setelah itu tubuh Serge menghilang.
"!?"
Kali ini giliran Kuro yang terkejut. Dengan kemampuan matanya, dia bisa melihat hampir secara 360 derajat. Lalu dia juga bisa melihat keberadaan atau sosok seseorang dari sudut pandang yang berbeda seperti aura yang dikeluarkan oleh orang itu. Karena inilah tak ada yang bisa lolos dari mata Kuro meskipun dia belum mengaktifkan kekuatan Eyes of Origin secara penuh.
Tetapi apa yang baru saja terjadi tak bisa dijelaskan oleh matanya.
"..."
Kuro merasakan hawa keberadaan dari berbagai sudut dengan aura yang sama.
Dari berbagai arah pisau dilemparkan ke arahnya dengan kecepatan melebihi peluru. Kuro menghindar dengan melompat ke atas, tetapi pisau berbelok arah dan mengikutinya.
Kuro memutuskan untuk menghancurkan beberapa pisau yang kemungkinan akan mengenai dirinya, sayangnya saat menebas pisau, pedang Kuro menembus pisau dan akhirnya menghujani tubuhnya.
Tak ada luka di tubuh Kuro, hanya saja Doll miliknya pasti mengalami kerusakan.
"Tch!!"
Sekali lagi Kuro dikepung oleh pisau dari berbagai arah. Jika melihat kejadian tadi, tak ada gunanya menyerang, jadi dia memutuskan untuk lari.
Rencana Kuro sederhana. Dia berencana membuat pisau pisau itu meleset dengan mengenai pohon yang cukup banyak di sana.
"..."
Sialnya, sama seperti saat pedangnya mengenai pisau, pisau pisau itu menembus pohon dan kembali lagi mengejar Kuro.
Bukan hanya itu saja yang menjadi masalah. Pisau pisau terus bertambah hingga mencapai ratusan lebih.
(Pisau pisau itu bukanlah ilusi atau bayangan biasa)
Kuro berayun di cabang pohon dan melompat ke atas. Dia lalu menggunakan Accell Art untuk menjaga jarak.
(Yang menjadi masalah, apakah semua itu adalah magic arm atau adalah hasil kekuatan Soul milik Serge?)
Sekali lagi dia mengingat siapa sosok yang dia lawan kali ini. Dia sudah mendapatkan data tentang mereka semua dan sudah menghafalnya.
Serge Siale merupakan penyihir tipe User peringkat C. Magic arm miliknya adalah sebuah belati kecil yang sangat mirip dengan pisau dapur.
Dengan wujud magic arm yang kurang cocok untuk bertarung dan peringkat biasa saja membuatnya menjadi penyihir dengan kemampuan yang biasa biasa saja.
Yang mengagumkan, untuk mengatasi kelemahannya itu Serge berlatih teknik pedang dengan keras hingga kekuatannya bisa disamakan dengan penyihir peringkat S. Dengan kekuatan itulah dia berhasil menjadi salah satu peserta Battle War.
Tetapi ada hal lain yang lebih menarik dari itu.
(Kalau tak salah dia berasal dari negeri itu.... Tak heran dia memiliki bakat dalam teknik pedang)
Latar belakang Serge cukup unik. Dia bukanlah penduduk asli kekaisaran.
Serge berasal dari kerajaan Baldia. Sebuah kerajaan kecil yang berbatasan langsung dengan kekaisaran Houou.
__ADS_1
Meskipun kecil, kerajaan Baldia cukup makmur karena memiliki pertambangan batu sihir terbesar di dunia. Tetapi yang membuat kerajaan Baldia terkenal adalah budaya mereka terhadap tipe penyihir.
Tak seperti negara pada umumnya yang memperlakukan penyihir tipe User dan Contractor dengan setara, di kerajaan Baldia penyihir tipe User lebih diunggulkan atau diperlakukan khusus.
Di kerajaan ini penyihir tipe Contractor dianggap pengecut karena mengandalkan magic beast mereka untuk bertarung. Dengan karakteristik sihir tipe Contractor, anggapan seperti ini cukup umum, tetapi di kerajaan Balgia anggapan ini sudah ekstrim.
Bagi Serge yang memiliki magic arm berupa sebuah pisau, anggapan negatif terhadap penyihir tipe Contractor bukan berarti membuatnya diperlakukan spesial. Bahkan tak sedikit yang menganggapnya tak berguna.
Beruntung, setiap tahun di kerajaan Baldia diadakan turnamen pertarungan antara penyihir tipe User. Turnamen ini sangat terkenal hingga banyak penduduk negara lain yang rela datang jauh jauh hanya untuk melihat jalannya turnamen.
Dalam turnamen ini, pemenang tak hanya akan mendapatkan hadiah berupa uang, tapi juga sebuah penghormatan besar dari seluruh penduduk kerajaan Balgia.
Dan dari semua hadiah itu, ada satu hadiah yang paling spesial di antara semuanya, yaitu sebuah gelar King of Sword.
Gelar yang dimiliki Serge adalah bukti dia menjadi pemenang dalam turnamen itu dan membuktikan kalau magic arm miliknya tak ada hubungannya dengan kekuatan yang dia miliki. Dengan semua itu, tak mengherankan jika Serge sanggup mengimbangi Kuro dalam teknik pedang.
"...hanya saja, aku tak menyangka orang seperti dia bisa menjadi penduduk negeri ini."
Menjadi penduduk kekaisaran memiliki syarat yang begitu rumit. Apalagi bagi seorang seperti Serge yang memiliki gelar hebat.
Orang orang seperti Serge akan dicurigai sebagai mata mata atau seorang yang memiliki tujuan tertentu pada kekaisaran. Dan tentu saja tak akan membiarkan Serge masuk sekolah sihir apalagi menjadi peserta Battle War.
Tetapi Serge tak hanya bersekolah, tapi juga menjadi peserta Battle War yang mewakili sekolah sihir dari pasukan elit kekaisaran.
"..."
Entah mengapa perlakuan yang didapatkan Serge cukup mencurigakan. Mungkin saja ada seorang yang memiliki jabatan tinggi melakukan sesuatu dari balik bayangan.
(Tetapi aku tak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu sekarang)
Kuro untuk memutuskan lebih serius menghadapi Serge.
Kuro menyuntikan energi Ki pada pedangnya. Pedang hitamnya dipenuhi oleh aura putih dan di saat yang sama Kuro mengaktifkan Eyes of Origin dalam beberapa detik.
"Kuh.."
Dia menggigit bibir bawahnya saat tahu kekuatannya terkuras banyak hanya dengan mengaktifkan matanya itu.
(Aku tahu tubuh ini sudah mencapai batas, tapi aku tak menyangka harus di saat seperti ini..)
Ini lebih cepat dari yang Kuro perkirakan.
Sejak awal dia memang sudah tahu kalau tubuhnya saat ini begitu lemah jika dibandingkan dengan tubuhnya di masa lalu. Bahkan tubuhnya saat ini tak bisa menampung kekuatan 1 persen dari kekuatan aslinya.
Dengan tubuh seperti itu, Kuro tak memiliki pilihan selain memilih Authority dengan dampak balik yang paling minimal. Tetapi meskipun begitu, tubuhnya tetap tak bisa menahan kekuatan Authority.
(Yah.. aku tak punya pilihan lain...)
Hasil dari menggunakan kekuatan Eyes of Origin setimpal dengan apa yang dia dapat. Dia mengerti bagaimana pisau pisau itu terus mengejarnya.
"..."
Kuro berhenti dan menebas salah satu pisau. Di saat itulah pisau yang semula berjumlah ratusan tiba tiba berkurang.
Dia melakukan hal yang sama pada kelompok pisau lainnya. Dan akhirnya pisau pisau itu menghilang sepenuhnya.
"Aku tak menyangka kau sudah mengetahui rahasia kekuatanku secepat ini.."
Serge muncul dari balik bayangan pohon. Dia terlihat begitu santai seolah tak begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Kuro.
"Kau sebenarnya seorang penyihir peringkat SS, benarkan?"
Serge hanya tersenyum kecil sebagai jawaban.
"Kemampuanmu adalah menciptakan tiruan dari benda yang kau sentuh. Tetapi yang membuatku terkejut adalah kekuatanmu untuk mengendalikan benda mengejarku. Sungguh, aku tak menyangka menemukan seorang yang memiliki kekuatan yang mirip dengan Laila."
"..."
"Tetapi aku merasa ini bukanlah teknik andalanmu. Kau adalah seorang pendekar pedang, bukan penyihir. Mengandalkan kemampuan sihir seperti ini hanya akan merugikanmu."
Serge tersenyum. Di saat yang sama dia memasang kuda kuda dengan kaki kanan ke belakang.
"Kau benar, tetapi itu cukup efektif menghadapi lawan seperti dirimu."
Apakah Serge tahu kalau dampak balik kekuatannya cukup besar? Tak ada bukti, tapi Kuro harus waspada dengan hal ini.
Serge tiba tiba menghilang dan muncul di depan Kuro. Benturan pedang sekali lagi terjadi dengan kekuatan yang membuat gelombang kejut pada sekitarnya.
Tak seperti sebelumnya, serangan Serge menjadi lebih cepat dan berat. Tapi belum cukup untuk mengalahkan Kuro.
Kuro membalas dengan serangan tajam dan mengincar titik vital, tetapi sekali saat pedang menyentuh Serge, pedang itu menembus Serge.
(Tidak. Tidak. Trik yang sama tak akan berhasil.)
Sesaat setelah menembus tubuh Serge, Kuro menggunakan Accell Art untuk membelokkan pedang hingga menembus tubuh Serge berkali kali.
Berbeda dengan kemampuan menciptakan ilusi benda mati, ada jeda waktu untuk menciptakan ilusi benda hidup. Kuro hanya mencegahnya sebelum itu terjadi.
"Tch!!"
Suara benturan logam kembali terdengar bersamaan dengan suara kesal Serge. Tubuh Serge yang semula seperti asap kini kembali menjadi tubuh manusia biasa yang bisa diserang. Dengan ini tak ada pilihan lain bagi Serge untuk bertahan.
(Kekuatanmu yang sebenarnya lebih tepat jika menciptakan ilusi dan mengubahnya menjadi kenyataan dalam waktu tertentu)
Serge kemungkinan hanya bisa menciptakan ilusi benda yang sudah ada. Jika dia bisa melakukan hal lebih, dia pasti sudah melakukannya sejak awal.
(Kekuatan yang sungguh menarik)
Kuro senang dengan apa yang bisa dilakukan lawannya.
(Tetapi masih ada yang janggal)
Bagaimana bisa Serge membuat pisau pisau tadi mengejarnya? Jika itu kemampuan dari telekinesis, pasti Serge tak hanya akan menggunakan pisau saja.
Kuro tak mengerti. Dalam hidupnya dia memang pernah berhadapan dengan pemilik kekuatan yang lebih hebat dari kekuatan milik Serge, tapi untuk pertama kalinya Kuro merasa tertarik dengan kekuatan lawan.
"Niva!!"
Untuk pertama kalinya Serge menyebut nama magic arm miliknya dengan jelas. Sebuah pisau kecil muncul di tangan kiri Serge dan menggunakannya untuk menyerang.
Kuro berhasil bertahan dengan memprioritaskan untuk menghindari tebasan pedang yang memiliki jangkauan lebih besar, tetapi inilah yang diincar Serge.
Saat bertahan, Serge dengan cepat melempar pisau dan tiba tiba pisau kembali menjadi banyak.
Kuro tak punya pilihan selain menghindar dengan menggerakkan tubuhnya seminimal mungkin, tetapi itu tak cukup sehingga dia merasakan sakit di dua tempat tubuhnya.
"Kau memilih untuk menerima luka kecil daripada kekalahan huh.. "
"Jangan harap kau mudah mengalahkanku."
Jika Kuro memilih menghindar sepenuhnya, kemungkinan Serge akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Kuro.
"Aku tahu itu tak akan mudah."
Sambil menyerang, Serge menggerakkan tangan kirinya dengan lincah seperti pengendali, bersamaan dengan itu pisau pisau kembali mengincar Kuro.
__ADS_1
(Begitu rupanya..)
Sekarang Kuro mengerti bagaimana Serge membuat pisau pisau itu mengincar dirinya.
Serge pasti menggunakan sihir pengendali.
(Tapi...)
Tak ada waktu untuk memikirkan hal lain yang belum tentu benar. Kuro harus fokus untuk menghentikan kombinasi serangan Serge.
Luka dari pisau memang ringan, tapi dalam pertarungan yang menggunakan Doll sebagai pengganti, kerusakan kecil saja akan berdampak buruk karena Doll tak bisa kembali utuh seperti sedia kala.
"Haaa!!"
Dengan teriakan keras, Kuro mendorong Serge.
"Percuma!!"
Pisau pisau Serge akan tetap mengenai tubuh Kuro meskipun berusaha menghindar saat menjaga jarak. Tetapi Serge dikejutkan oleh tindakan Kuro yang justru menyerang dirinya.
Dalam hati Serge tersenyum senang. Dia tahu Kuro ternyata sudah menyerah untuk menghindari serangannya dan memilih untuk mengalahkan dirinya sebelum Doll milik Kuro hancur.
"Apa!!"
Sayangnya, semua dugaan Serge terbantah saat pisau pisau terpantul oleh sebuah dinding tak terlihat sesaat sebelum menyentuh tubuh Kuro.
Dengan cepat Serge kembali fokus dari kebingungannya, tetapi bingung dalam waktu sedikit itu adalah kesalahan fatal.
Kuro berhasil menebas tubuh Serge dari bawah secara melintang. Tak diragukan lagi itu adalah serangan dengan niat membunuh. Doll milik Serge menerima dampak serangan hingga hampir terpotong menjadi dua, tetapi masih belum hancur.
"Tch!!"
Sekali lagi berkat Doll, Serge hanya merasa nyeri di bagian yang terkena serangan. Dengan cepat dia kembali memposisikan tubuhnya untuk menyerang.
Di saat itulah dia melihat pantulan bayangannya sendiri di sebuah pedang hitam yang berputar di depannya. Benar, itu adalah pedang yang dilemparkan Kuro.
"Guha!!!"
Dia merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Rasa sakit itu berasal dari pukulan keras Kuro. Tubuh Serge terpental ke belakang sejauh puluhan meter dan akhirnya berhenti setelah menghantam di pohon.
Kuro menangkap kembali pedangnya dan mendekati tubuh Serge yang sudah berhenti bergerak. Meskipun begitu, Kuro tak lengah karena Serge belum kalah.
"Mengesankan. Ini kedua kalinya ada yang sanggup menerima kombinasi seranganku secara berurutan."
Apa yang dilakukan Kuro hanyalah dua serangan kombinasi menebas lalu memukul. Kuro jarang menggunakan kombinasi ini karena kebanyakan lawannya akan terbelah menjadi dua terlebih dahulu setelah menerima serangan pertama. Hanya dalam kondisi tertentu seperti ini Kuro menggunakanya.
Lalu untuk mengatasi serangan pisau Serge, Kuro juga mengaktifkan kemampuan yang jarang dia gunakan.
Sama seperti penyihir yang bisa menggunakan mana untuk melindungi tubuh mereka dari serangan sihir, Kuro menggunakan ki untuk membuat lapisan pelindung dengan fungsi yang sama. Untuk seorang master menggunakan ki seperti Kuro, teknik ini tak hanya menjadi pelindung, tapi juga bisa berfungsi untuk mempercepat gerakan dan memperkuat serangan.
Pukulan Kuro diperkuat oleh ki yang digabungkan dengan seni bela diri dengan bertujuan untuk menghancurkan organ dalam musuh. Jika tak ada Doll, tubuh Serge mungkin sudah hancur dan kalah.
(Dia lebih keras kepala daripada yang aku duga)
Ketahanan yang Serge miliki benar benar mengesankan. Dengan ini Kuro bisa tahu kalau Serge bukan hanya kuat karena dia berbakat menjadi pendekar pedang, tapi juga seorang yang pekerja keras.
Pertanyaannya, kenapa dia melakukan sejauh ini?
"Ha... Ha... Itu pukulan yang ba..gus."
Serge kembali bangkit. Meskipun tubuhnya terasa sakit semua, itu belum cukup untuk membuatnya tumbang.
"Tapi aku sungguh kecewa denganmu."
"Apakah karena aku mengasihanimu? Tidak, kau salah. Jika dalam pertempuran nyata, kau sudah lama mati."
"..."
Serge tak membantah karena dia tahu hal itu. Tetapi hal ini juga berlaku pada Kuro yang menerima serangannya.
"Yah.. tak apa. Jujur saja aku sangat terkesan padamu. Lalu mata yang kau miliki itu benar benar indah."
Tatapan mata Serge merupakan tatapan mata yang penuh dengan cahaya. Penuh dengan harapan dan penuh dengan impian. Kuro bisa merasakan ada tekad yang luar biasa dalam mata itu.
"Di kampung halamanku, banyak yang menyebut mataku ini adalah mata yang kotor."
"Begitu? Aku tak peduli dengan pendapat orang lain. Yang terpenting saat ini adalah, ....apakah kau masih bisa lanjut?"
Serge memasang kuda kuda. Tubuhnya gemetar, tetapi dia masih menunjukkan kalau masih bisa bertarung.
(Sungguh, orang seperti dia.. )
Berapa kalipun Kuro melihat tipe orang seperti Serge, dia merasa senang. Bukan karena Kuro menyukai mereka, hanya saja dia akan ingat dengan masa lalunya yang pernah memiliki mata seperti itu.
Dan tentu saja keputus asaan yang akan terjadi jika mereka berada di jalan yang salah.
"....kenapa kau sejauh ini? Sejak awal kau pasti sudah tahu kalau kau tak mungkin bisa mengalahkanku. Bahkan meskipun kau menggunakan cara yang tak biasa kau gunakan hanya demi melawanku."
Bagi Kuro, apa yang dilakukan Serge begitu aneh. Ini tak akan begitu mengejutkan jika Kuro sudah mengenal Serge sebelumnya, tapi kenyataannya tidak.
Sebagai seorang yang bersekolah di Knight Academy, Serge atau Gustav pasti sudah diajarkan untuk bekerja sama. Mementingkan kemenangan daripada kepentingan individu adalah hal yang paling ditekankan dalam Knight Academy. Apalagi dalam Battle War yang menentukan kewibawaan dan kehormatan sekolah, maka bekerja sama dengan rekan sekolah adalah cara yang paling ampuh untuk bisa menang.
Tetapi Serge maupun Gustav mengabaikan hal ini seolah memiliki tujuan lain. Ya, bisa terlihat jelas kalau tujuan itu tak lain adalah Kuro dan Laila.
Masalahnya, kenapa mereka mengincar Kuro dan Laila? Tidak, lebih tepatnya kenapa mereka begitu terobsesi dengan keduanya?
Jika mengenai Gustav, Laila dan Gustav pernah bertemu beberapa kali dalam acara pesta. Sebagai seorang yang mengakui kecantikan Laila, maka Kuro tak heran jika Gustav akan tertarik pada Laila.
Entah apa yang dipikirkan Gustav, tetapi mungkin dia hanya menunjukan tekadnya saja.
Yang tersisa hanyalah Serge.
"...Aku akui memang cara yang aku gunakan sama sekali tidak keren. Bahkan aku menggunakan teknik yang aku sembunyikan selama ini hanya demi melawanmu. Dan seperti yang kau bilang, itu belum cukup."
Tidak. Cara yang dilakukan Serge cukup keren. Dia bahkan mampu memaksa Kuro mengeluarkan kemampuan yang ingin dia sembunyikan dalam pertarungan ini.
"Tetapi jika kau ingin tahu, maka aku akan menjawabnya dengan pedangku ini."
"...aku mengerti."
Serge sudah bertekad untuk bertarung dengan menggunakan semua yang dia miliki.
Jika seperti ini, maka tak ada alasan lagi bagi Kuro untuk tak menjawab tantangan itu dengan apa yang dia miliki.
"..."
Kuro mengaktifkan Eyes of Origin secara penuh.
Aura Kuro berubah drastis bersamaan dengan aura putih yang keluar dari tubuhnya.
"..kuku..."
Melihat itu, Serge tersenyum dan mengaktifkan kekuatan yang dia simpan untuk melawan Kuro.
"Inilah yang aku tunggu!!! Limit Breakk!!!"
__ADS_1
Babak kedua, dimulai.