Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Pandora


__ADS_3

"Rhino!!!"


Geze telah memanggil nama sihirnya. Laila langung merasakan aura luar biasa menyelimuti Geze.


Selama ini Geze dikenal tak pernah menggunakan sihirnya, karena itulah sihir Geze dikatakan cukup misterius. Tetapi banyak yang memujinya karena meskipun tanpa menggunakan sihirnya, dia menjadi salah satu yang terbaik.


Melihat bagaimana Geze bertarung, sihir Geze pasti berhubungan dengan keahliannya, pertahanan.


"...?"


Tetapi meskipun sudah memanggil sihirnya, Laila tak ada sesuatu yang baru dari Geze kecuali aura yang dikeluarkannya semakin membesar dan kuat.


Wujud seperti apa nama sihir Geze? Sayangnya Laila tak memiliki waktu memikirkan itu.


Geze lalu memposisikan dua tangannya di tanah dan kakinya menginjak ke belakang seperti sebuah banteng yang bersiap menyeruduk.


"Royal Crush!!!"


"!?"


Laila terkejut saat Geze melesat ke arahnya dengan mendorong tubuhnya dengan kecepatan yang melebihi peluru.


Insting Laila berteriak untuk menghindar. Dia berhasil, tapi serangan Geze masih belum selesai.


Geze kembali menyerang dengan gerakan yang tak kalah cepat. Dan semakin cepat.


Laila yang berada di ruang lingkup serangan tak bisa berbuat banyak. Serangan itu tak hanya kuat, tapi juga menimbulkan gelombang kejut yang membuat Laila kehilangan keseimbangan. Jika dia masih seperti dulu dia pasti sudah jatuh. Dan itu menjadi hal yang fatal dalam pertarungan ini.


"Kuh..."


Laila sadar terus menghindar tak akan menyelesaikan pertarungan ini. Harga dirinya juga tak membiarkan berakhir dengan cara seperti ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan?


Meskipun menggunakan salah satu magic art simpanannya, dia masih belum bisa mengalah Geze.


(Andai aku bisa menghentikan gerakannya walau hanya sesaat)


Di saat itulah dia merasakan hawa keberadaan yang mendekat. Musuh baru?


Jika iya dia harus bersiap untuk menghadapi mereka sekaligus, tapi untuk sekarang...


"Scarflare, Holy Flame!!!!"


Scarflare di tangan Laila mulai bercahaya terang menyilaukan. Salju dalam radius 500 meter langsung lenyap tak tersisa oleh panas yang dihasilkan oleh Scarflare.


Dia lalu menebas Geze yang melesat ke arahnya dengan kekuatan penuh.


Gelombang kejut dari kekuatan yang beradu membuat gempa bumi kecil. Itu hanyalah sebagian bukti dari kekuatan keduanya.


"Kuh!!!"


Tanah yang menjadi pijakan Laila tak bisa menahan kekuatan dan hancur. Laila tak menyangka kekuatan Geze lebih dari perkiraannya.


Dia memperkuat serangannya, tetapi itu masih belum cukup. Tubuhnya mulai kalah dan terdorong ke belakang.


"!?"


Dia dikejutkan oleh suara retak dari Scarflare. Retakan itu membesar dan akhirnya Scarflare hancur sepenuhnya.


Tubuh Laila menerima serangan telak. Meskipun dampak sudah dialihkan pada Doll, Laila masih bisa merasakan tubuhnya terhantam dengan keras.


Tubuh Laila terpental beberapa meter sebelum akhirnya berhenti setelah Laila menghilangkan momentum dengan melompat di udara. Jika orang biasa, pasti sudah kalah dengan tubuh hancur berkeping keping, tetapi berkat sistem Battle War dan teknik yang dia pelajari dari Kuro, Laila bisa meminimalkan efek serangan.


"..."


Laila sekali lagi memanggil Scarflare dan bersiap untuk menghadapi serangan selanjutnya, tapi di saat itulah dia merasakan suatu yang berbeda dari serangan Geze sebelumnya.


Gerakan Geze lebih lambat. Bahkan Laila bisa melihat ke mana serangan Geze diarahkan.


"Hmm... Mungkinkah?"


Apa yang terjadi pada Geze sebenarnya bukanlah suatu yang aneh. Bahkan sangat normal bagi para penyihir.


Setiap serangan sihir (magic art) adalah teknik yang menggunakan mana sebagai energi. Semakin kuat dan rumit sihir, maka semakin besar pula energi yang diperlukan.


Sejak bertarung melawan Fila, Geze sudah menggunakan sihir tingkat tinggi. Lalu dia juga menggunakannya secara terus menerus melawan Laila.


Geze seorang penyihir yang kuat, tetapi dalam kapasitas sihir dia kalah jauh dari Laila. Apalagi Laila bisa menggunakan Re;Break untuk mengisi kembali energi sihirnya.


Laila tak menyangka kesempatan muncul karena perbedaan bakat, tapi dia tak akan membiarkan kesempatan ini menghilang.


"!?"


Tapi di saat itulah Laila sadar. Selain Geze, dia tak merasakan tekanan sihir lain. Dengan kata lain, Airs sudah pergi dari tempat itu.


Pantas saja dia merasa aneh karena bertarung melawan Geze sendirian.


Mungkinkah Geze hanyalah umpan untuk memisahkan dirinya dengan Kuro?


"Tch!! Scarflare, Reconstruction"


Dia tak tahu kenapa, tapi dia merasa jengkel. Dia juga merasakan perasaan tak enak.


Laila kembali memanggil Scarflare dan langsung menggunakan Reconstruction. Berbeda dengan Transform yang mengubah bentuk pedang, Reconstruction adalah teknik yang menggunakan Re;Break dengan tujuan mengubah Scarflare dari bentuk dasar ke senjata baru yang berbeda.


Sihir ini tak hanya membuat senjata sihir (magic arm) Laila menjadi lebih kuat, tapi juga membuat Laila bisa membuat magic arm apapun sesuai kebutuhan.


Dalam hal ini, senjata yang dia pilih adalah..


"Scarbuster!!!"


--sebuah palu sebesar ukuran Laila.


Dia lalu mengayunkannya pada Geze yang menerjang ke arahnya dengan kekuatan penuh.


Sekali lagi gelombang kejut terjadi saat kedua kekuatan saling beradu. Laila terdorong, tapi dia menguatkan kekuatan pukulannya bersamaan dengan efek sihir dari palunya.


Sebuah pendorong roket muncul dan menambah kekuatan pukulan Laila.


Geze yang selama ini tak pernah kalah dalam beradu kekuatan untuk pertama kalinya dihentikan. Pada akhirnya Geze terdorong ke belakang dengan keras.


"Gah!!"


Geze mengerang kesakitan dan tumbang ke tanah.


"..."


Melihat dampak serangannya, Laila tahu kalau Doll milik Geze pasti rusak cukup parah. Dengan satu serangan lagi dia akan mengakhiri semuanya.


"Guh!!! Apa yang sebenarnya terj-!?"


"..."


Tanpa ada keraguan Laila mulai menyerang dengan kekuatan penuh, tetapi sebelum senjatanya menyentuh Geze, dia berhenti beberapa milimeter.


"Ah... Terima kasih. Aku pikir aku akan mati."


Geze menghela nafas dalam. Dia terlihat begitu bersyukur karena tak menerima hantaman palu mematikan dari Laila.


Melihat tingkah laku Geze, Laila merasakan sesuatu yang ganjil. Orang yang di depannya begitu berbeda dengan orang yang dia lawan sebelumnya.


Mereka memiliki tubuh dan aura yang sama, tapi mereka berbeda.


Ini aneh.

__ADS_1


"Ngomong ngomong, di mana aku? Di sini begitu dingin."


Geze mulai bertingkah aneh dengan bertanya sesuatu yang sudah jelas diketahui oleh semua orang. Apakah ini salah satu strateginya untuk mengalihkan perhatian dan menyerang Laila saat lengah?


Siapapun bisa tahu kalau usaha ini akan sia sia saja. Tetapi yang menjadi masalah adalah Laila sama sekali tak merasakan Geze berbohong atau berusaha mengalihkan perhatian.


"Jangan berpura pura!!! Setelah semua yang kau lakukan dan bagaimana kita bertarung dengan kehormatan, kau melupakannya begitu saja! Aku tak terima ini!!!"


Laila kembali bersiap mengayunkan Scarbuster dengan kekuatan penuh.


"Tu-tungguu!! Ak-"


Laila tak menunggu lagi. Apa yang Geze katakan tak akan berpengaruh.


Tetapi sesaat sebelum menyentuh tubuh Geze, serangan Laila dihentikan oleh sebuah perisai tipis.


Melihat itu Laila langsung melompat mundur. Perisai itu bukanlah sihir pelindung yang dikeluarkan oleh Geze, dengan kata lain itu adalah sihir milik orang lain.


Laila melirik ke segala arah dengan penuh waspada bersiap menghadapi musuh baru. Sedangkan Geze yang berhasil selamat kembali menghela nafas lega.


"Icicle Prison!!"


Sayangnya, baru sesaat merasa lega, Geze dikejutkan oleh penjara es yang mengurung dirinya. Geze berusaha keluar, tetapi es itu lebih kuat daripada yang terlihat.


Lalu sosok seorang gadis muncul.


"Percuma saja. Jika dirimu yang biasa kau pasti bisa keluar, tapi dengan dirimu yang sekarang itu mustahil."


"..."


Geze tak banyak berkata, tapi dia mengerti apa yang dikatakan sosok itu benar. Dia akhirnya menyerah untuk berusaha keluar.


Sosok itu kemudian melirik ke arah Laila yang masih terlihat waspada.


"Jangan cemas, saat ini aku tak ingin bertarung denganmu. Lagipula kau masih memiliki urusan yang lebih penting, benarkan?"


"Aku akan percaya padamu, Mitra. Sebelum itu kau beritahu kenapa kau kemari?"


Mitra cekikikan.


"Apakah membantu teman yang dalam masalah bisa dijadikan sebagai alasan?"


"..."


Laila dan Mitra adalah teman baik, tetapi karena itulah keduanya paham mereka tak bisa begitu saja mengalah atau saling membantu. Keduanya saat ini hanya berusaha menjadi pemenang.


Mengingat itu, apa yang dikatakan Mitra bukan menjadi alasan untuk percaya padanya, tetapi Laila bisa merasakan untuk sekarang dia bisa mempercayai temannya itu.


"Jika kau mau aku bisa bertarung denganmu, tapi apakah kita memiliki waktu untuk melakukannya?"


".....baiklah."


Laila menyerah. Dia memang tak memiliki waktu.


"Tapi jawab aku dengan jujur, kenapa kau kemari?"


"Menurutmu apakah itu tak mengganggu?" Jawab Mitra sambil melirik ke arah hutan pasir besi. "Seperti yang kau ketahui, sekolah kami lebih mengutamakan untuk mempelajari sihir jenis baru dan juga ingin mengungkap sihir sejati. Kehilangan kendali atas sihir sangatlah jarang, aku hanya ingin mengungkap misteri yang menyebabkannya."


"Kau benar benar berubah huh.."


Laila mengenal Mitra sebagai seorang pembuat ulah. Di saat yang sama, dia juga dikenal sebagai orang eksentrik yang tak akan melakukan apapun kecuali sesuatu yang membuatnya tertarik.


Memang benar kasus Fila cukup jarang terjadi, tapi alasan yang digunakan Mitra kurang kuat bagi Laila.


Hal ini membuat Laila ingat dengan Kuro yang selalu mengatakan kebenaran, tetapi di saat yang sama sebuah kebohongan. Mitra adalah orang yang sama dengan Kuro.


"Kau bisa menyebutnya sebagai pertumbuhan."


"..."


"..."


"Daripada membahas tak penting, sebaiknya kita melakukan penyelidikan sedikit mengenai pembuat ulah yang menjadi sumber masalah kali ini. Mari?"


Laila mendesah kecil sebagai tanda setuju.


Keduanya lalu mendekati Geze yang duduk diam seperti seorang pertapa.


"Bisakah kau berhenti mencoba mengumpulkan energi sihir?"


"Haha...ketahuan juga kah..?"


"..."


Laila cukup terkejut Mitra juga menyadari apa yang Geze lakukan.


"Jangan remehkan murid Shiryuu Academy. Untuk sekarang, kami akan mengajukan pertanyaan dan kau haru menjawab. Jangan mencoba berbohong karena itu hanya akan mengantarmu ke neraka lebih cepat."


Mitra menjentikkan jarinya dan Laila sudah bersiap dengan Scarbuster.


Geze pucat pasi ketika menyadari nasibnya. Entah mengapa dia merasakan sebuah kekuatan yang membuat bulu kuduknya berdiri.


Wanita di depannya adalah tipe orang yang tak ingin kau jadikan musuh.


"Baiklah. Aku mengerti. Sebelum itu, aku akan mengatakan satu hal. Jujur saja aku kurang paham apa yang terjadi."


Mitra dan Laila melirik satu sama lain. Untuk sekarang Geze berkata jujur.


"Maksudmu?"


"Seperti yang aku bilang tadi. Aku mengerti dari pembicaraan kalian, saat ini aku berada dalam sebuah kompetisi. Tetapi aku sama sekali tak ingat kenapa aku ikut dalam hal merepotkan ini."


Geze sebenarnya memiliki reputasi murid yang pintar. Apalagi dalam mengamati situasi, dia adalah salah satu yang terbaik. Lalu dia juga tipe orang yang tak ingin terlibat dengan sebuah masalah. Dan daripada melakukan kekerasan, dia akan lebih memilih jalan damai.


"Sudah aku duga, dia terpengaruh oleh sihir pengendali pikiran."


"Aku juga merasa aneh karena aku merasa bertarung dengan boneka." Sambung Laila. "Tapi apakah ada penyihir di sekolah yang mampu melakukan sihir sekuat itu?"


Sihir pengendali pikiran merupakan sihir yang memanipulasi pikiran orang lain. Jika target orang biasa, sihir ini akan sangat mudah dilakukan, tetapi berbeda jika target adalah penyihir.


Mana selain digunakan sebagai sumber energi melakukan sihir, mana juga memiliki kekuatan untuk melindungi tubuh penyihir dari serangan sihir, entah apakah itu berupa serangan fisik atau psikis.


Lalu sihir pengendali pikiran juga memiliki kelemahan seperti tak akan memiliki pengaruh kuat terhadap penyihir dengan kapasitas mana yang lebih besar dari pengguna.


Mengingat kekuatan Geze, sihir pengendali pikiran seharusnya tak begitu memiliki pengaruh besar. Sayangnya, melihat bagaimana reaksi dan perilaku Geze, tak diragukan lagi dia terkena sihir pengendali pikiran dari penyihir yang kuat.


Melihat situasi mereka, Mitra dan Laila cukup mudah menyadari siapa di balik semua ini.


"Bisakah kau menceritakan siapa pasanganmu?" Tanya Laila.


"Kenapa kalian masih menanyakan hal itu? Tentu saja pasanganku adalah Kevin sang Frozen Spea-"


Belum sempat selesai bicara, Geze dihantam oleh Scarbuster hingga hancur menjadi partikel.


Setelah itu pengumuman terdengar tanda Geze benar benar tersingkir.


"..apa?"


"Tidak apa apa. Aku hanya heran kenapa kau cepat sekali mengambil keputusan?"


Ini terlalu berlebihan. Jika ini bukan pertandingan, Mitra sulit membayangkan nasib yang menjadi korban senjata Laila.


"Tidak ada gunanya bertanya lagi. Kau pasti sadar kalau dia sudah lama dikendalikan."

__ADS_1


"Memang benar, ta-tapi..."


"Sekarang suamiku sedang bertarung di sana. Karena urusan di sini selesai, aku akan segera membantunya."


Laila mulai melangkah menuju tempat Kuro. Di saat itulah...


"Gabriel..."


Mitra memanggil nama sihirnya.


"Icicles Spear!!"


Ratusan tombak es menghujani Laila dari seluruh penjuru.


💠💠💠💠


"Kau tak terlihat terkejut setelah tahu siapa diriku ini. Kau memang pantas dipanggil seorang King."


"Yah... Aku sudah pernah melihat perwujudan sihir yang memiliki ego seperti dirimu. Hanya saja aku merasa kau sedikit spesial."


Masa lalunya sebagai Demon King membuat Kuro memiliki banyak pengalaman yang tak pernah dimiliki orang lain. Meskipun begitu, fenomena yang terjadi pada Pandora sangatlah langka dan bahkan bisa dikatakan sebagai sebuah keajaiban.


Tetapi sayangnya itu juga disebut sebuah kutukan.


Mengingat kejadian masa lalu, ini bukan suatu kejadian yang bagus.


"Kalau begitu kau pasti tujuanku ada di dunia ini."


"Ya. Dan itu benar benar masalah besar untukku."


Kuro menghilang dan dalam sekejap gelombang kejut menghancurkan pasir besi yang berada di tempat itu. Bersamaan dengan itu suara pedang saling beradu terdengar memecah keheningan.


Beberapa kali sosok Kuro dan Fila terlihat saling beradu senjata. Pertarungan keduanya bahkan sudah melebihi tingkat pertarungan yang bisa dilakukan manusia.


Memang. Itulah kenyataannya.


Sebagai perwujudan sihir, Pandora tak memiliki batas seperti yang dimiliki oleh manusia. Dan selama dia memiliki pasokan sihir, maka dia akan bisa terus bertarung tak peduli apakah tubuhnya tertebas oleh pedang atau hancur. Tubuh Pandora akan kembali utuh seperti sedia kala.


Dalam waktu yang singkat itu, keduanya telah beradu ratusan tebasan dan terus bertambah seiring berjalannya waktu.


Mungkin tak ada yang melihat, tapi Kuro sudah puluhan kali memenggal kepala, memotong bagian tubuh dan menusuk tubuh Pandora. Semua itu serangan vital yang sanggup membunuh manusia dalam sekali serangan.


(Energi sihir yang terkumpul menjadi sumber untuk terus beregenerasi. Ini sungguh merepotkan)


Perwujudan sihir yang memiliki ego memiliki satu tujuan, mereka akan mengabulkan keinginan terbesar pemilik mereka dengan cara apapun. Sayangnya, ketika mereka melakukannya, mereka tak peduli dengan keadaan orang lain, bahkan pada pemilik mereka.


Tak aneh jika setiap kejadian ini terjadi, maka bencana akan mengikutinya.


Kejadian masa lalu membuat Kuro tahu hanya ada satu cara untuk menghentikan semua ini. Itu adalah dengan mengabulkan keinginan terdalam pemilik dengan cara damai.


Sayangnya, itu jika dalam kondisi normal.


Fila saat ini tak berada dalam keadaan sadar. Tak ada yang tahu apa yang menjadi keinginannya.


Sebagai temannya, Kuro juga tak memiliki petunjuk. Fila selalu menjaga jarak dengan orang di sekitarnya sehingga membuat tak ada yang tahu apa yang dia pikirkan.


(Cara lain untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menghancurkan Link antara mereka berdua, tapi...)


Cara kedua adalah cara yang mustahil dilakukan selain Kuro. Dengan matanya, dia bisa melihat Link antara Fila dan Pandora lalu menghancurkannya, tetapi cara ini memiliki efek samping yang buruk.


Akan lebih baik jika digunakan sebagai cara terakhir.


"Kau tak tahu kapan untuk menyerah huh..."


Kepala Pandora sekali lagi terpenggal, tapi senyuman masih belum menghilang dari bibirnya.


"..."


Kuro memutuskan untuk menjaga jarak. Jika ini terus berlanjut, hanya dia saja yang kehilangan tenaga. Lagipula kekuatan yang dia gunakan saat ini tak bisa digunakan secara terus menerus.


Ini sangat penting untuk mengetahui tujuan Pandora yang sebenarnya.


"Apa maumu yang sebenarnya?"


"Apa itu cara yang benar untuk bertanya? Menghunuskan pedang pada gadis yang tak berdaya?"


"Kau bukan seorang gadis!!"


"Kuku... Secara dasar aku memang bukan. Aku hanyalah mengambil bentuk dari wujud paling sempurna yang dimiliki oleh tuanku."


"..."


"Tapi kau tak bisa menipuku. Dengan matamu itu, kau pasti tahu siapa aku sebenarnya. Iya kan?"


Kuro tak bisa membantah. Senyuman Pandora yang terlihat licik bagai iblis kecil sudah menunjukkan semuanya.


Pandora saat ini bukan hanya magic beast yang memiliki ego, tapi juga memiliki bagian penting Fila.


Kebencian, kemarahan, kedengkian, rasa iri, nafsu, keserakahan dan masih banyak hal negatif lain yang membentuk Pandora.


Ya. Pandora adalah perwujudan dari sisi negatif Fila.


"Ini menjelaskan kenapa Fila begitu tak stabil kah..."


Sejak pertama kali bertemu dengan Fila, Kuro merasa kalau Fila adalah seseorang yang kekurangan sesuatu. Entah apakah itu, tapi Kuro tak ingin terlibat terlalu dalam mengingat hubungan mereka.


"Tak hanya itu, dia tak lebih dari seorang monster berwujud manusia."


"!?"


Kuro terkejut saat sosok tak dikenal tiba tiba menyela. Tak seperti dirinya yang diserang oleh pasir besi, sosok itu sama sekali tak diserang. Dia bahkan berjalan dengan begitu santainya.


"Airs..."


Sosok itu adalah pemuda yang menjadi pasangan Geze. Wajahnya tak terlalu tampan, tapi juga tak begitu jelek. Dia adalah salah satu contoh pemuda biasa yang ditemukan manapun.


Hanya saja, salah satu matanya berwarna hitam dengan pupil merah seperti iblis dan sebuah tatto terlihat seperti akar tergambar di dekat matanya.


"Salam kenal, Kuro. Tidak, bagaimana jika aku sebut Shiroyasha."


"...Cursed Arm, Eyes of Balor huh... Itu menjelaskan semuanya."


💠💠💠💠


Sejak kecil gadis itu memiliki segalanya. Orang tua yang penyayang, teman yang baik, dan harta yang membuat mereka menjadi salah satu orang paling terhormat di negeri itu.


Selain penyayang, orang tuanya adalah salah satu penyihir paling kuat dan berbakat. Tak ada yang tak mengenal keduanya, bahkan musuh musuh mengagumi dan sekaligus menakuti mereka.


Sebagai seorang anak, gadis itu memiliki bakat yang tak kalah dari orang tuanya. Tidak, mungkin lebih tepat jika dia terlalu berbakat.


Sayangnya, bakatnya itu juga disebut sebagai kutukan.


Jika dibandingkan dengan anak lainnya yang sudah bisa menggunakan sihir bagai mainan, setiap sihir yang gadis itu lakukan akan menjadi sebuah bencana. Orang di sekitarnya akan terluka dan kerusakan akan selalu terjadi.


Teman teman yang semula dekat perlahan menjauh. Orang orang yang dulu memujinya perlahan memakinya dan menghinanya. Orang yang menyayanginya mulai takut kepadanya. Dan perlahan orang orang di sekitarnya melihat sosoknya bagaikan seorang monster.


Mengalami pengalaman pahit sejak usia dini membuat hati gadis kecil itu hancur. Dunia yang penuh warna warni perlahan menjadi abu abu tanpa warna.


Kepercayaan pada orang lain perlahan menghilang. Rasa takut berubah menjadi kebencian. Kepalsuan yang dia rasakan membuat tak ada satu hal yang bisa dia sukai.


Hanya ada sisi gelap dalam hati gadis itu. Lalu lahirlah sebuah sosok dari kegelapan yang menjadi kurungan hati gadis itu.


Pandora.

__ADS_1


__ADS_2