
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini. Mungkin kita tidak akan hidup seperti dulu, tapi aku menjamin di sini nyaman."
Itulah ingatan saat pertama kali dia pindah ke kota Areshia.
Sebagai seorang mantan jendral, pekerjaan sebagai tukang besi sangatlah jauh berbeda dengan pekerjaannya yang dulu.
Awalnya tak ada satu pun pelanggan selama berhari-hari. Ini suatu ini yang tak aneh mengingat kota itu terletak di pinggiran. Tetapi perlahan keadaan berubah saat banyak yang mulai mengenal kualitas senjata buatan ayahnya.
Perlahan tapi pasti dia dan ayahnya mulai membangun kehidupan baru di kota Areshia. Kehidupan mewah yang selama ini dia rasakan telah berganti, tetapi entah mengapa dia sama sekali tak kecewa atau sedih.
Seringkali dia melihat foto yang terpajang di dinding. Foto itu adalah milik ibunya yang kini meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Dia tak begitu ingat kejadian yang telah merebut segalanya dari dirinya. Bohong jika dia tidak bersedih, tapi entah mengapa perasaan sedih itu menghilang seolah tak pernah ada.
Apa yang terjadi pada dirinya?
Entah mengapa dia merasa sesuatu yang penting telah hilang dari dirinya tetapi dia tidak tahu apa itu.
Suatu hari dia melihat seekor anak anjing yang menjadi mainan anak-anak nakal di sebuah gang. Normalnya orang pasti akan iba atau marah melihat tingkah mereka. Atau setidaknya menyuruh mereka berhenti melakukan semua tindakan tak menyenangkan itu, tetapi dia hanya melihat tanpa merasakan apapun.
Rasa sedih, marah, kecewa, jengkel. Semua itu tak dia rasakan.
Akhirnya waktu berlalu. Anak-anak itu pergi meninggalkan anak anjing itu tergeletak di jalanan.
Dia mendekat. Lalu saat melihat kondisi anak anjing itu, dia hanya terdiam.
Anak anjing itu terluka parah dan dan tak bergerak lagi. Dengan kata lain sudah mati.
Disaat itulah dia sadar apa yang hilang dari dirinya. Sesuatu yang membuat dirinya disebut manusia.
💠💠ðŸ’
Sejak saat itu dia merasa kehidupan damai yang dia rasakan terasa hampa.
Hari-hari berlalu tanpa ada kesenangan dan kebahagiaan. Dia masih merasakan sebuah kasih sayang hari ayahnya tapi tidak lebih dari itu.
Hal yang berbeda lainnya adalah bahwa dia tidak bisa menggunakan sihir dengan baik. Bahkan sihir sederhana seperti memanipulasi elemen.
Lalu dia sadar kalau dia bahkan lupa dengan nama sihirnya.
Setiap kali berusaha mengingatnya dia akan selalu mengalami sakit kepala yang luar biasa. Seolah sihirnya menolak dirinya sendiri.
Awalnya dia merasa bingung dan sedih. Tetapi dia tahu kalau semua ini memiliki sisi baik.
Setidaknya dia tidak perlu takut akan melukai orang lain di sekitarnya.
Pada hari itu kehidupan dia telah memulai babak baru yang sebenarnya. Meskipun itu kehidupan yang dibangun dari pelarian.
💠💠ðŸ’
Waktu pun berlalu. Dia mulai terbiasa dengan kehidupan yang sekarang.
Selalu tersenyum meskipun itu penuh kepalsuan. Dia selalu bersembunyi di balik topeng.
Tetapi suatu hari dia kedatangan seorang yang tak dia pernah duga. Seorang pemuda yang cukup tampan.
Sekilas pemuda itu terlihat biasa saja . Tak ada yang spesial maupun mencolok.
Meskipun begitu dia merasakan sesuatu yang berbeda dari pemuda itu. Entah apa itu, tapi itu membuatnya nyaman.
Lalu untuk pertama kalinya dia tersenyum dengan tulus meskipun dengan alasan yang konyol. Tak hanya itu dia juga marah karena sebab yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun.
Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam bersama pemuda itu, dia merasa sesuatu yang hilang dari dirinya telah kembali walaupun sedikit.
Sungguh pemuda yang aneh. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan semua ini pada dirinya? Padahal dia hanyalah orang yang baru saja dia kenal.
Lalu bertemu lah dia dengan seorang gadis. Tak hanya cantik tapi dia tahu kalau gadis itu sungguh spesial.
Kenapa aku tak bisa seperti gadis itu?
Apa yang membedakan kami berdua?
Pertanyaan itu terjawab saat mereka berhasil mengalahkan musuh yang menyerang.
Gadis itu adalah seorang yang pemberani dan tak kenal takut menggunakan kekuatan yang dia miliki untuk melakukan apa yang dia yakini benar.
Tak hanya gadis itu, tapi pemuda itu juga sama. Bahkan caranya lebih berbahaya dan membuat orang berpikir kalau dia sudah gila dan tak sayang dengan nyawanya sendiri.
Bagi Fila yang selalu bersembunyi di balik topeng dan rasa takut, apa yang mereka berdua lakukan sungguh menyilaukan.
Di saat itulah salah satu yang hilang perlahan kini kembali. Sesuatu itu yang disebut sebagai rasa iri.
💠💠ðŸ’
Waktu berlalu. Dia mendengar kabar kalau gadis dan pemuda itu kini menjadi pasangan kekasih. Tak hanya itu mereka juga melakukan pertempuran di negara lain dengan hasil pencapaian yang luar biasa.
Jika dibandingkan dengan dirinya yang tak melakukan apapun, kedua orang itu sangatlah spesial.
Kenapa mereka bisa seperti itu?
Kenapa mereka sangat berbeda dengan dirinya?
Kenapa mereka selalu bisa melangkah lebih jauh?
Dia sadar kalau jika seperti ini terus dia lah yang tertinggal.
Tidak. Dia sudah tertinggal.
Bahkan gadis yang baru saja muncul dalam dunia mereka sudah melangkah lebih jauh dari dirinya.
Kenapa dia tak bisa seperti mereka?
💠💠💠ðŸ’
Suatu hari pemuda itu datang meminta dibuatkan sebuah senjata.
Permintaan itu sedikit terasa aneh mengingat senjata yang dimiliki pemuda itu bukanlah senjata biasa yang akan mudah rusak. Bahkan dulu saat dia bercerita mengenai itu pada ayahnya, ayahnya bahkan sempat mengatakan senjata itu bukanlah sesuatu yang dibuat oleh manusia.
Awalnya dia tak mengerti, tapi dia akhirnya tahu apa yang dimaksud oleh ayahnya.
Hingga saat dimana dia tahu itu memang bukan sesuatu yang seharusnya ada di dunia ini.
Dengan mengetahui hal itu, membuatkan senjata yang sanggup menyamai atau mendekati senjata pemuda itu adalah suatu yang mustahil. Bahkan bagi ayahnya yang terkenal dengan kemampuannya sebagai seorang pembuat senjata.
Dia ingin menolak, tapi mulutnya tak bisa mengatakannya. Dia merasa jika dia menolak, dia akan lebih jauh ketinggalan dari mereka.
Dia tak mau hal itu.
Lalu karena sudah terlanjur menerima permintaan, maka dia setidaknya harus membuat satu buah senjata untuk pemuda itu.
Tapi bagaimana?
Selama ini dia memang membantu ayahnya, tapi dia belum pernah menyentuh palu atau membuat satu pun senjata selain yang pernah dia buat untuk Laila. Dia sudah gila karena menerima permintaan pemuda itu.
Dan meskipun dia sudah tahu seluruh teori membuat senjata dari ayahnya, tapi dia belum pernah praktek karena tak bisa menggunakan sihir dengan baik.
Tak diragukan lagi ini adalah jalan buntu.
Apakah dia harus menyerah?
Tidak. Ia tak bisa melakukannya.
Jika dia gagal di sini, dia akan tertinggal dari semuanya.
Di saat sedang putus asa itulah ayahnya mendekat dan mulai memberikan bantuan.
Dia memberitahu kunci membuat senjata bukanlah tentang hanya menempa besi dan memberikan bentuk, tapi membuat dengan sepenuh hati dan memikirkan bagaimana senjata itu akan digunakan.
Dengan petunjuk itu, dia mulai memikirkan kembali apa yang harus dia lakukan.
Bagi pemuda itu, pedang itu bukan hanya sebuah senjata yang akan menebas lawannya, tapi juga sebuah alat untuk melindungi yang berharga baginya.
__ADS_1
Tak ada yang lebih membahagiakan dan membanggakan selain tahu senjata yang dia ciptakan akan membuat orang lain terlindungi.
Bukankah itu yang dia pikirkan saat membuat senjata untuk Laila untuk pertama kalinya?
Saat memikirkan itu, dia tanpa sadar tersenyum dengan sendirinya.
Dia merasakan beban yang selama ini dia rasakan berkurang. Selain itu, dia tahu satu hal.
Selama ini dia tak pernah bisa menggunakan kekuatannya karena menggunakan kekuatan itu untuk dirinya sendiri.
Sekarang, jika dia...
"Benar. Jika ingin berubah, maka yang pertama kali harus aku ubah adalah diriku."
Seluruh pandangannya tentang dunia langsung berubah. Warna yang sempat menghilang kini telah kembali dengan penuh warna yang lebih indah.
Dan bersamaan dengan semua itu dia ingat kembali dengan nama sihir yang menjadi perwujudan dari jiwanya.
Pandora.
💠💠ðŸ’
Dengan kekuatan yang sudah kembali, dia segera mulai membuat senjata. Tapi bukan berarti itu semudah membuat bentuk pedang dari pasir besi.
Pedang yang pemuda itu pesan bukanlah pedang biasa. Bahkan itu pedang yang lebih sulit dibuat dari pedang untuk para penyihir.
Lalu dia juga harus memikirkan bahannya. Logam biasa tak akan cukup, atau bahkan akan langsung hancur jika pemuda itu yang menggunakannya.
Dalam hal ini, ayahnya juga setuju.
Untuk pertama kalinya ayahnya dan dirinya setuju akan satu hal yang sama. Dan untuk pertama kalinya juga mereka membuat senjata yang benar benar begitu spesial dan berbeda.
Mereka memilih menggunakan bahan yang tak pernah digunakan sebelumnya. Lalu untuk proses pembentukan, dia dan ayahnya bekerja sangat keras untuk tak kehilangan konsentrasi walau sedikitpun karena akan langsung membuat mereka mengulangi proses dari awal.
Ini mungkin menjadi pekerjaan paling melelahkan dalam hidup keduanya.
Lalu hampir satu bulan berlalu, mereka akhirnya selesai tinggal melakukan proses akhir.
Tetapi di saat itulah mereka kedatangan tamu yang tak terduga. Tamu itu memberitahukan kalau ibukota dalam keadaan darurat.
Sebagai seorang mantan jenderal, ini sesuatu yang bukan menjadi urusan ayahnya lagi, tapi melihat kemungkinan siapa yang akan menjadi lawan, tak ada pilihan lain selain ayahnya bergerak maju.
Setelah ayahnya pergi, dia fokus melakukan pekerjaan terakhir untuk menyelesaikan pedang untuk pemuda itu. Dalam hati dia khawatir, tapi dia percaya mereka semua akan baik baik saja.
Dan itu benar. Beberapa hari kemudian, dia mendengar kalau ibukota telah kembali aman. Kerusakan akibat pertarungan cukup besar, tapi karena korban bisa diminimalkan, maka ini adalah salah satu kemenangan besar.
Aku harus melakukan apa yang aku bisa walau itu kecil.
Jika dirinya yang lama, dia pasti tak akan merasa puas. Tapi dirinya yang sekarang bisa menerima hal itu dengan mudah.
Itu tak hanya bukti kalau pikirannya mulai terbuka, tapi juga tanda kedewasaan.
Sayangnya, dia sekali lagi harus dihadapkan dengan kenyataan pahit.
Ketika dia berhasil melangkah satu langkah, orang orang yang ingin dia raih melangkah 10 langkah daripada darinya. Jangankan mengejar, dia semakin tertinggal.
Lalu dengan ditunjukkannya hubungan keluarga yang begitu harmonis, itu membuat hatinya semakin merasa iri pada mereka.
Satu hal yang dia syukuri adalah pedang buatannya melebihi apa yang dia perkirakan.
Tetapi, dia tak bisa membohongi dirinya sendiri.
Dia ingin seperti mereka.
💠💠ðŸ’
Tak berapa lama kemudian, dia mendapatkan kesempatan itu.
Sayangnya, kesempatan itu juga menjadi kabar yang tak menyenangkan baginya. Dia mengetahui kenyataan pahit tentang orang yang ingin dia raih.
Dihadapkan dengan pilihan yang sulit, dia akhirnya memutuskan untuk mencoba melangkah bersama.
Dia memiliki firasat, jika dia tak melakukannya, dia akan menyesal.
Untuk pertama kalinya dia benar benar bahagia. Kegelapan yang dia rasakan perlahan mulai berganti dengan cahaya baru. Meskipun pencapaian yang ingin dia raih masih terasa jauh, tapi ini adalah langkah awal.
Akan menyenangkan jika hal ini terus berlangsung selamanya.
Tetapi, dia kembali diingatkan siapa sebenarnya dirinya.
Seorang monster yang berwujud seorang gadis.
💠💠ðŸ’
Setelah memasuki kubus hitam kegelapan, Kuro merasakan dirinya diserang oleh perasaan negatif yang begitu gelap. Orang normal pasti akan kehilangan kewarasannya dalam kurun beberapa detik saja, tetapi bagi Kuro ini bagaikan bernafas di dalam udara segar.
Alasan kenapa dia bisa mengatasi dengan begitu mudah bukan hanya karena dia memiliki Authority, Darkness. Tetapi juga karena baginya kegelapan dan cahaya bukanlah suatu yang harus ditakutkan.
Keduanya memang berbeda, tapi di saat yang sama adalah satu.
"..."
Di saat yang sama, dia bisa melihat dan mengerti apa yang membuat Fila menjadi seperti ini.
Sekilas kurungan ini dibuat untuk melindungi diri Fila, tapi pada kenyataannya ini adalah sebuah kurungan yang Fila ciptakan untuk dirinya sendiri.
Sebuah kurungan yang tak hanya membuat orang lain tak bisa masuk, tapi juga membuat dirinya tak bisa keluar. Dia ingin selamanya sendirian.
(Sungguh, dia gadis yang merepotkan)
Dalam hati Kuro mengeluh, tapi karena itulah ia tak bisa meninggalkan Fila sendirian.
Sama seperti Charmilia, Fila adalah orang yang spesial bagi Kuro. Meskipun dia tak bisa mengatakan itu sebuah perasaan cinta seperti yang dia rasakan pada Laila dan Charmilia.
Lalu entah berapa lama waktu berlalu, dia akhirnya sampai di tempat tujuan. Dia menemukan seorang gadis yang duduk memeluk lututnya dengan ekspresi penuh kesedihan.
"Aku datang menjemputmu, Fila."
Dengan senyuman, Kuro mengulurkan tangannya.
Sayangnya, dia tak mendapatkan respon berarti.
Kuro mendesah. Jika mau dia bisa mengeluarkan Fila secara paksa, tapi itu tak akan pernah mengeluarkan Fila dari kurungan yang sebenarnya.
Kurungan yang berasal dari hatinya.
"Semuanya sudah menunggu. Kau tahu ini bukan saatnya untuk bersenang senang sendirian."
Bersenang senang mungkin kata yang kurang tepat, tapi ungkapan itu cocok untuk keadaan Fila yang memilih menyendiri meninggalkan teman temannya.
"... Kenapa?"
Kuro tersenyum.
"Kenapa aku datang? Atau kenapa aku perlu melakukan ini? Atau kenapa aku tak bisa membiarkanmu sendirian?"
Fila hanya terdiam.
"Itu sungguh pertanyaan bodoh." Tambah Kuro.
"!?"
"Di dunia ini tak ada yang bisa hidup sendirian. Apalagi manusia, mereka tak akan bisa hidup sendirian tanpa orang lain."
"..."
Anehnya, meskipun terdiam, Fila tersenyum kecil.
Entah mengapa itu jawaban yang jauh berbeda dari yang dia harapkan.
Tapi begitulah Kuro.
"Tapi bukan karena itu saja aku tak bisa membiarkanmu sendirian. Mana mungkin aku bahagia sendirian di saat temanku yang berharga berada dalam kesusahan seperti ini."
__ADS_1
"Jadi karena kasihan huh...?"
"Ya. Aku kasihan padamu yang tak pernah mengalami apa itu kebahagiaan. Apakah itu salah?"
"Bahagia atau tidak, bagaimana kau bisa tahu? Jangan sok tahu tentang diriku. Kau hanyalah orang yang kebetulan masuk dalam hidupku, jangan seolah mengatakan kau tahu semua tentangku!!!"
Fila bangkit dan memukul tubuh Kuro. Itu pukulan yang cukup kuat untuk ukuran seorang gadis. Fila sama sekali tak menahan diri.
Dengan seluruh tempat yang menjadi kekuasan Fila, kekuatan Fila saat ini lebih kuat dari gadis biasa.
Tetapi Kuro tak berdiam diri menerima semua itu. Dia menangkap tangan Fila dan menatap mata Fila secara langsung dari dekat.
"Kalau aku tak merasa kasihan, apa yang harus aku rasakan pada saat melihatmu seperti ini, Fila!!!!" Teriak Kuro dengan keras.
"!?"
Ini pertama kalinya Kuro berteriak seperti itu. Tak hanya marah, tapi rasa sedih juga terasa dari suaranya.
Sadar telah apa yang dia perbuat, Fila akhirnya tak melawan. Dia menyerah.
"Apa kau sadar seperti apa dirimu saat ini? Kau ini sungguh menyedihkan. Kau adalah orang yang butuh kasihan, kenapa aku salah kasihan padamu?"
"...aku bukanlah orang yang pantas mendapatkan kasihan dari kalian semua."
Fila menunduk penuh dengan kesedihan. Meskipun dia senang dengan apa yang dia terima, tapi itu tak bisa mengubah siapa dirinya yang sebenarnya.
Seorang monster.
Ya. Dia adalah monster yang tak butuh kasihan.
"Ini bukan karena aku tampak menyedihkan. Aku adalah sesosok monster yang hanya bisa melukai orang lain di sekitarku. Bahkan dengan tanganku sendiri, aku..."
"..."
"...Airs sama sekali tak salah balas dendam padaku. Bagaimanapun juga aku sudah membunuh anggota keluarganya."
Meskipun apa yang diperlihatkan Airs adalah sebuah ilusi, tapi itu membuat Fila ingat apa yang terjadi pada hari itu. Hari di mana dia kehilangan segalanya dan hari di mana dia melarikan diri dari kenyataan.
Di hari itu pula dia telah menodai tangannya dengan darah orang yang setia pada keluarganya.
Tak ada yang salah dengan perlakuan yang dia terima dari Airs. Dia memang pantas mendapatkan semua itu.
"Tidak. Kau tak pantas mendapatkan semua ini!!"
Tetapi Kuro tanpa ragu membantah semua itu.
"Justru sebaliknya, orang yang kau bunuh itu perlu mendapatkan balasan yang lebih buruk daripada yang kau berikan!! Membunuhnya saj-!!!"
Plak. Fila menghentikan Kuro dengan tamparan keras.
"Jangan lanjutkan!! Kau tak pantas mengatakan hal itu tentang Honda!!"
Tetapi Kuro sama sekali tak berhenti.
"Kenapa? Seorang pengkhianat memang harus mendapatkan hukuman setimpal. Jika bukan karena dia, kau tak akan kehilangan ibumu."
"!?"
Kuro mengungkapkan kebenaran pada hari yang menjadi tragedi bagi keluarga Fila.
💠💠ðŸ’
Sebagai seorang ayah, Fila adalah putri yang paling dia banggakan. Meskipun di mata orang lain dia adalah seorang monster, itu tak mengubah apa yang dia lihat dan apa yang dia rasakan pada Fila.
Dia sangat mencintai putrinya itu lebih dari apapun di dunia ini. Bahkan jika dunia memusuhinya, dia akan tetap di pihaknya.
Fila hanyalah seorang gadis yang terlalu memiliki banyak bakat.
Saking banyaknya, bakat itu kini berubah menjadi kutukan.
Apakah ada yang salah dengan itu?
Jika itu kutukan, maka Fila hanya perlu mengubah itu menjadi kekuatan. Itulah yang dia percayai dan suatu hari nanti Fila akan mewujudkan hal itu.
Sayangnya, mungkin kasih sayangnya telah membutakan dirinya dari kenyataan yang ada.
Di depannya dan Flair, Fila terlihat bahagia, tapi di balik semua itu, dia menyimpan kesedihan yang tak terlihat.
Kesedihan itu perlahan menumpuk hingga menjadi kegelapan gelap di hati Fila tanpa ada yang menyadari.
Kegelapan itu akhirnya terlepas saat Flair terbunuh. Apa yang Irho lihat pada hari itu tak pernah dia lupakan.
Bahkan untuk sesaat dia berpikir Fila memang seorang monster.
Dia lupa alasan kenapa dia bisa berpikir seperti itu pada putrinya sendiri.
Tetapi semua itu tidak penting. Ada sesuatu yang harus dia lakukan daripada memikirkan hal tersebut.
Rasa sedih atas kehilangan Flair membuat Irho tak bisa berpikir dengan tenang. Dia berniat menghancurkan pelaku di balik semua ini sampai ke akar tanpa memberi ampun siapapun. Bahkan keluarga mereka.
Tak hanya dia, orang orang yang memiliki hubungan dengan keluarganya juga hendak melakukan hal yang sama. Bahkan sang kaisar yang memiliki kewenangan mutlak tak sanggup menghentikan niat yang sudah menjadi api membara.
Meskipun ini tak pantas dilakukan, tapi ini diperlukan untuk menjadi contoh bagi orang yang ingin memiliki niat buruk pada kekaisaran.
Semua tahu perang tak lama lagi akan terjadi. Dan tak ada yang bisa menghentikannya.
Tetapi,
"Ayah, di mana ibu? Kenapa dia tak bersamaku?"
Dua pertanyaan itu bagaikan sayatan tajam bagi Irho. Dia sadar balas dendam yang akan dia lakukan bukanlah jalan yang tepat.
Dia berpikir kembali kenapa tragedi ini menimpa keluarganya.
Musuh tahu resiko yang akan mereka alami jika melakukan serangan, tetapi mereka tetap melakukannya. Dengan kata lain, mereka sudah bertekad akan tetap melakukannya dengan menerima semua resiko semua keluarga mereka akan musnah.
Saat menyelidiki siapa saja yang terlibat, dia tahu kalau sebagian besar penyerang sudah tak memiliki keluarga atau saudara. Mereka hanyalah kelompok yang terkumpul dengan tujuan yang sama dan dengan alasan yang sama.
Kenapa mereka bisa berbuat sejauh itu?
Irho sudah tahu jawabannya. Semua ini tak lain adalah karma yang dia terima.
Sebagai seorang jenderal, dia sudah membunuh dengan jumlah yang tak terhitung selama masa pertempuran untuk melindungi kekaisaran. Jika dilihat dari sisi pekerjaan dan kewajiban, semua itu hal yang begitu membanggakan, tetapi jika dilihat dari sisi kemanusiaan, apa yang dilakukan Irho tak lebih dari pembunuhan.
Semua itu perlahan menjadi benih benih kebencian. Entah apakah itu pada musuh, atau pada orang sekitar yang merasa iri dengannya.
Balas dendam pada orang yang melakukan semua ini mungkin bukan pilihan yang salah, tapi juga bukan jalan yang benar. Apakah ada yang bisa menjamin benih kebencian itu akan hilang setelah dia menghabisi semuanya?
Tidak. Tidak akan. Itu hanya akan menjadi benih kebencian yang baru.
Apakah dia harus melupakan balas dendam? Jika itu dilakukan, kepada siapa dia melampiaskan semua amarah dan kebencian yang dia rasakan sekarang ini?
Untuk pertama kalinya Irho merasa bimbang dengan apa yang harus dia pilih.
Dalam kebingungannya itu, dia ingat satu hal yang tersisa dalam hidupnya.
Fila. Putrinya tercinta dan satu satunya.
Kenapa dia harus berpikir apa yang harus dia lakukan? Bukankah dia sudah memiliki jawabannya?
Pada saat itulah, Irho memutuskan untuk memilih melindungi satu satunya apa yang dia miliki. Dia berhenti menjadi jenderal dan memulai hidup baru di kota Areshia.
Mungkin ini bisa dibilang melarikan diri, tetapi itu bukan pilihan yang salah. Hanya satu pilihan di antara banyak pilihan.
Sayangnya, orang orang yang mengerti kebencian Irho tak berhenti. Mereka tetap menghabisi orang yang berada di balik kematian Flair.
Mendengar itu Irho tak begitu terkejut mengingat siapa mereka. Tetapi dia paham, itu tak akan mengakhiri benih kebencian yang ada.
Entah kapan benih itu akan tumbuh. Yang bisa Irho lakukan hanyalah bersiap.
Selama ini dia berpikir 'jika membunuh, berarti harus siap untuk dibunuh'. Tetapi dia lupa, saat membunuh atau terbunuh, bukan berarti itu akan membuat semuanya selesai.
Itu adalah awal.
__ADS_1