
"Fuue..."
Mata Laila berkubang kunang. Dia masih merasa pusing dan tak percaya dengan apa yang dia lakukan dengan Kuro semalam.
Bagi penyihir, melakukan hal ini adalah sebuah tabu karena ini akan merusak masa depan mereka, tapi tak ada rasa penyesalan dari hati Laila.
Melirik Kuro yang masih tidur, Laila kembali memejamkan matanya. Dia lelah.
Di saat yang sama, dia berpikir.
(Kuro, apa kau benar benar terluka? Tadi malam itu terlalu kasar.)
Meskipun ini pengalaman pertamanya, karena dia selalu bermimpi tentang apa yang dilakukan pasangan bodoh, dia tak begitu terkejut.
Tapi setidaknya dia ingin lebih lembut lagi.
---
Laila kembali bangun saat sore hari. Dia masih menemukan Kuro masih tertidur lelap di pelukannya.
Laila tersenyum kecil. Lalu memberikan sebuah ciuman di bibir Kuro, dia bangun dan bersiap.
Dia mandi dan setelah berganti pakaian, dia pergi untuk mencari makan malam. Tapi belum sempat pergi, dia bertemu dengan Yui yang membawa makanan untuk mereka berdua.
"Aku sebenarnya ingin membawa makan malam untuk kalian kemarin, tapi aku tak menyangka akan menemukan kalau kak Kuro sudah makan sesuatu yang lebih nikmat. Ah... Aku sungguh iri."
"..."
Tak diragukan lagi, Yui sudah tahu.
Wajah Laila langsung merah padam seperti pencuri yang ketahuan.
Hubungan dengan Kuro saat ini masih belum jelas. Meskipun saat ini bisa dibilang keduanya sudah melanggar garis batas hubungan normal, tapi masih ada jurang yang harus mereka lewati.
Tepat tengah malam, akhirnya Kuro bangun. Dia menemukan saat ini tidur di samping Laila tanpa mengenakan pakaian satupun.
Kepalanya pusing dan dia langsung saja ingat apa yang dia lakukan dengan Laila.
(Sial...!!!)
Dia sama sekali tak menyesal, tapi ini semua merusak rencananya.
(Aku tak tahu kenapa 'dia' melakukan ini. Tapi ini akan membuatku dalam masalah besar)
Kuro mendesah dalam. Dan akhirnya memutuskan untuk tak peduli lagi. Dia kembali memejamkan mata sebelum mengubur wajahnya di dada Laila yang lembut.
(Ini sungguh surga.. )
----
__
Keesokan paginya Kuro dan Laila akhirnya bangun seperti biasa. Tapi saat wajah mereka bertemu satu sama lain, keduanya saling diam membisu dengan wajah canggung.
Dengan wajah memerah, Laila bangun dan langsung mengenakan pakaian.
Setelah semua apa yang mereka lakukan, menunjukkan seluruh tubuh sebenarnya bukanlah suatu yang memalukan lagi, tapi tetap saja Laila masih malu.
"A-aku akan mencari sarapan. Kau tunggu sebentar.."
Laila pergi dengan panik dan malu malu.
Melihat itu membuat Kuro tersenyum. Meskipun dia sudah bangun sepenuhnya, tapi tubuhnya masih belum pulih. Dia masih merasa berat.
(Jika aku memanggil 'dia', aku memang akan semakin kuat, tapi efek samping juga luar biasa. Aku masih belum terbiasa dengan ini...)
Cursed blade art, Witch Reaper memiliki efek samping yang luar biasa pada tubuhnya, tapi itu semua tak sebanding dengan saat memanggil eksistensi itu.
Dan yang paling mengkhawatirkan Kuro bukan hanya efek samping setelah memanggilnya, tapi kenangan dan ingatan yang akan mereka bagi saat kondisi tubuh sudah pulih.
Eksistensi 'itu' bisa dibilang semacam kepribadian ganda, tapi di saat yang sama bukan.
Semakin sering dia memanggil eksistensi itu, dia akan semakin kuat, tapi di saat yang sama dia akan kembali mengingat siapa dirinya yang sebenarnya.
Itu membuat Kuro takut.
Tak butuh waktu lama Laila kembali. Dia membawa beberapa makanan yang dibungkus.
"Cepat sekali?"
"Aku bertemu dengan Yui yang mengantar makanan. Jadi aku tak butuh waktu lama."
"..."
Yui adik yang perhatian, tapi ada sesuatu yang mencurigakan.
Dengan tenaga yang terkumpul, Kuro melangkahkan kakinya menuju meja makan dan makan bersama dengan Laila.
Sarapan mereka penuh dengan keheningan.
Seolah tak bisa menahan keheningan, Laila mulai pembicaraan.
"Ngomong ngomong, apa hubungan kita?"
"Kenapa kau masih bertanya?" Jawab Kuro dengan santai. "Aku mencintaimu dan kau mencintaiku, apa perlu ada yang dipastikan lagi?"
Wajah Laila memerah. Dia tak menyangka Kuro akan terang terangan.
Tapi dia senang. Akhirnya Kuro mau mengakui hubungan mereka sebagai sepasang kekasih yang sebenarnya, bukan kekasih berlandaskan janji.
"Selain itu, setelah apa yang aku lakukan padamu, aku harus segera melamarmu. Oh benar.. sebaiknya kita pindah dari asrama karena aku tak ingin diganggu. Bagaimana kalau membeli rumah kecil tak jauh dari sekolah?"
"..."
__ADS_1
Laila diam membisu. Dia tak menyangka Kuro akan berpikir sejauh itu.
Tak berapa lama kemudian, senyuman lebar penuh kebahagiaan muncul di bibir Laila.
"Kau sungguh berani..."
"Maksudmu?"
"Tidak. Orang biasa akan takut mendekatiku, tapi kau seolah tak mengenal takut. Apa karena kau Witch Reaper?" Ucap Laila dengan tawa kecil.
"Aku akan mendapatkan apa yang menjadi milikku. Dan aku tak akan menyerahkan milikku pada siapapun. Ayahmu memang memiliki latar belakang yang menakjubkan, tapi semuanya tak akan berarti di hadapanku"
"Ahaha... Aku menantikan saat kau melamarku."
Bagi Laila apa yang dikatakan Kuro tak lebih dari sebuah candaan. Dia ingin melihat saat Kuro gemetar di hadapan ayahnya.
Mungkin tak banyak yang tahu, tapi ayah Laila begitu memanjakannya.
Apa yang terjadi jika dia tahu ada seorang yang sudah mengambil kesucian Laila dan akan melamarnya?
Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Setelah itu keduanya mengobrol dengan penuh kebahagiaan. Tapi di saat Kuro menanyakan tentang Charlmilia, Laila langsung tak senang. Dia cemburu.
Ini membuat Kuro harus menjelaskan hubungannya dengan Charlmilia di masa lalu tak lebih dari hubungan bisnis. Yang menarik, pertemuan dengan Charlmilia ternyata bertepatan dengan pertemuannya dengan Laila saat di restoran.
Kebetulan yang mengerikan.
Tentu saja Kuro tak menjelaskan kalau saat itu Charlmilia berpakaian seperti gadis pada umumnya dan terlihat begitu cantik. Dia tahu tak cukup bodoh untuk membuat dirinya dalam masalah.
"Berkat air mata Phoenix yang kau berikan, dia tak mengalami luka berarti. Dia bahkan saat ini sudah sehat. Bahkan lebih sehat daripada dirimu."
"Syukurlah. Aku tak ingin jendral Magil mencari ku hanya karena masalah sepele."
Kau hampir memutilasi anak jendral dan bilang itu masalah sepele? Witch Reaper memang luar biasa.
"Sebaiknya kau beristirahat. Kau harus segera pulih."
Kuro mengangguk.
"Ya. Aku harus segera pulih karena harus segera pergi."
"....eh?"
Apa maksudnya?
Tapi saat melihat Kuro begitu tenang seolah itu suatu yang akan terjadi cepat atau lambat, Laila memastikannya.
"Bo-bolehkah aku tahu alasan kau pergi?"
"Beberapa hari lagi adalah peringatan kematian ibuku, jadi aku ingin pulang."
"Huh?"
"Ka-kalau begitu, kau akan kembali?"
"Ya, aku akan kembali."
Laila tersenyum senang saat mendengar itu.
"Tapi aku tak akan kembali ke sekolah ini. Mungkin aku akan melanjutkan misiku sebagai anggota Shadow Knight."
"................."
Waktu langsung terasa membeku saat mendengar dia tak akan bersama dengan Kuro lagi di sekolah.
Tapi dia tak cukup bodoh kalau menjadi kekasih harus selalu bertemu setiap hari dan selalu bersama.
"Laila, aku pernah bilang bahwa ini bukanlah tempatku, ...aku tak berbohong atau hanya karanganku. Sejak awal aku memang tak pernah ada di sekolah ini. Aku hanyalah orang yang menyelinap di sekolah ini."
"....a-apa maksudmu?"
"Pernahkah kau berpikir kenapa hanya kelas kita yang hanya mempunyai murid perempuan dan lelaki yang berjumlah ganjil? Kenapa Charli- maksudku Charmilia pindah ke kelas kita? Pernahkah kau berpikir kenapa Charmilia memilihmu? Dia adalah perempuan karena itulah dia memilihmu yang juga seorang perempuan."
".................."
Laila hanya bisa melebarkan matanya saat menyadari fakta yang mulai tersambung satu sama lain.
Kuro adalah non penyihir, jadi tak ada alasan masuk sekolah sihir yang tak akan berguna untuknya di masa depan. Meskipun ada pengecualian dengan gelar peringkat F, namun Kuro seorang yang mempunyai kemampuan setara penyihir peringkat Master.
Satu hal lagi, Charlmilia sebenarnya bukan murid pindahan, tapi sejak awal memang terdaftar di Kuryuu Academy, karena itulah dia berada di kelas yang sama dengan Laila.
Laila sekarang paham semua yang terjadi.
"...lalu, kenapa kau bersekolah disini?"
"Yahh... Sebenarnya aku dipaksa oleh nenek tua itu. Dia menggunakan kekuasaannya dengan memberikan misi untuk menjadi murid sekolah dan memenangkan Battle War. Itu sungguh ide yang bodoh."
Kuro berhenti sesaat. Dia lalu tersenyum.
"Tapi berkat seorang gadis yang menabrakku, aku jadi mengurungkan niatku dan memilih melakukan perintahnya fufuu.."
".........."
Mata Laila melebar. Dia mengingat kembali saat pertemuan mereka di lorong sekolah untuk yang pertama kali.
"Bagaimanapun juga, aku harus menepati janjiku kepada gadis polos yang dulu pernah kuajak kencan, benarkan Alice?"
Laila terdiam sesaat, tapi dia kemudian menunjukkan senyuman bahagia.
Dia tak menyangka pertemuan yang berdasarkan kebetulan itu membawa mereka sejauh ini. Dan dia tak bisa membayangkan, jika dia tak menabrak Kuro, berapa lama mereka akan bertemu lagi?
"Lalu aku meminta nenek itu untuk memasukan diriku di kelas yang sama denganmu. Kebetulan Charlmilia belum bisa masuk karena ada urusan, jadi itulah yang terjadi. Tapi aku hanya akan bersekolah selama 3 minggu, itulah keputusanku sejak awal."
__ADS_1
Dengan kata lain, Kuro berpacaran dengan Laila atau tidak, Kuro akan tetap pergi dan digantikan Charlmilia.
"Apakah keputusanmu sudah bulat?"
"Ini bukan masalah tekad. Tapi memang aku harus pergi. Sekarang identitasku sebagai Witch Reaper sudah ketahuan. Kau aman karena seorang putri Paladin, tapi aku tak bisa menjamin kau selalu akan aman. Tenang, aku akan melamarmu cepat atau lambat."
Kuro selalu memikirkan Laila. Itulah yang selalu terjadi selama ini, tak peduli apakah dia menunjukkannya secara langsung atau tidak.
".......itu memang masalah..."
Witch Reaper memang sebuah nama yang membuat penyihir ketakutan. Dia tak begitu tahu apa saja yang dilakukan Kuro saat menjadi Shadow Knight, tapi dia tak merasa aneh jika Kuro memiliki musuh.
Laila sadar Kuro melakukan semua ini demi masa depan mereka.
"Tapi jika aku ingin kau selalu di sini, apa yang kau lakukan?"
"?!"
Mana mungkin Laila terima begitu saja alasan Kuro.
"Aku sempat memikirkannya, jika kau pergi, bukankah aku seperti seorang yang dicampakkan?"
Itu suatu yang kasar. Tapi mengingat kejadian setelah Kuro dan Charlmilia duel, tak aneh jika banyak yang berpikir seperti itu.
"Kuro, katakan dengan jujur. Apa kau tak mau bersamaku? Apa kau tak mau bermesraan denganku? Apa kau tak mau membuat sebuah keluarga denganku?"
"Tentu saja aku mau. Aku pergi juga demi masa depan kita!!"
"Dasar egois. Jika kau berani berkata akan pergi lagi, aku akan membunuhmu dan setelah itu bunuh diri."
"....kau bercanda."
Itu sungguh candaan yang berbahaya.
"Kau bisa membuktikan apakah aku bercanda atau tidak saat kau mencoba pergi. Meskipun kau sulit ditangkap, dengan koneksi ayahku, aku akan menangkapmu cepat atau lambat."
"..."
Laila serius. Tatapannya menunjukkannya.
Kuro lalu mendesah.
"Aku memang tak bisa menang darimu. Baiklah. Baiklah. Kau menang. Aku akan tetap bersekolah."
"Itu baru Kuro yang aku kenal."
Laila tersenyum penuh kebahagiaan.
"Baiklah. Kita akan membahas hal lain setelah aku pulang sekolah. Kau kembalilah beristirahat."
Meskipun ada insiden kecil di sekolah, tapi bukan berarti membuat sekolah menghentikan aktivitasnya.
Laila sehat. Jadi tak ada alasan untuk tak berangkat.
Setelah membantu Kuro ke tempat tidur, Laila memberikan sebuah ciuman mesra sebelum pergi.
"Aku sungguh benci dengan takdir. Kenapa aku sekali lagi jatuh cinta padanya?"
Tak ada yang tahu arti dari gumaman Kuro. Ini menjadi misteri yang hanya Kuro ketahui seorang.
Untuk sekarang.
---_
Di ruang kepala sekolah, Electra duduk di mejanya sambil melihat album fotonya.
Ada foto saat dirinya masih muda yang memakai seragam sekolah Kuryuu Academy bersama teman temannya yang berjumlah 20an.
Meskipun penampilannya tak berubah, namun usia Electra tak bisa berbohong.
Salah satu dari lelaki di foto merupakan suaminya yang sudah meninggal terbunuh dalam suatu misi.
Dia membalik beberapa lembar album foto dan terus mengenang masa masa saat masih bersekolah.
Dia tersenyum saat menemukan foto lucu.
Ada kenangan manis, tapi ada juga kenangan pahit. Sebagai orang tua, dia tahu itu.
"Haaa...."
Tiba tiba dia mendesah dan menutup album foto saat mengingat kembali saat Victoria menghubungi Riana.
Victoria ingin segera bertarung dengan Witch Reaper. Dengan kata lain Kuro.
Cursed Blade Art Kuro merupakan trump card yang tak pernah muncul atau terungkap. Itu karena Cursed Blade Art adalah blade art yang digunakan untuk membunuh lawan tak peduli penyihir atau tidak.
Tak ada yang selamat daricursed blade art Kuro. Tidak, hanya ada satu orang yang selamat, yaitu dirinya, penyihir yang dikenal sebagai yang tercepat.
Electra melihat bekas luka di bahunya. Itu adalah bekas luka dari cursed blade art.
Luka itu adalah bukti bahwa Cursed Blade Art mampu membunuh paladin, tapi bukan berarti Cursed Blade Art tak memiliki kelemahan.
Cursed Blade Art mampu membunuh lawannya karena mereka tak tahu kekuatan Kuro, tapi berkat kejadian kemarin siang, trump card Kuro terungkap.
Kuro adalah satu satunya harapan Electra untuk memenangkan Battle War. Itulah alasan dia memaksa Kuro bersekolah.
"Meskipun terungkap, kurasa aku tak perlu kawatir."
Electra paling tahu kekuatan Kuro dan kekuatan Kuro tak hanya sebatas Cursed Blade Art karena Kuro adalah King.
Sebuah eksistensi abnormal yang suatu saat akan menjadi legenda.
Tapi legenda Kuro, baru saja dimulai.
__ADS_1