Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Dragon King, Arrived


__ADS_3

Laila terdiam dan sekaligus terkejut karena baru menyadari mereka berkencan tanpa rencana apapun.


Laila mendesah kecil lalu melihat ke sekelilingnya. Inti kencan adalah bersenang senang dan menghabiskan waktu bersama pasangan (Kuro), jadi selama bersama Kuro, Laila akan pergi kemanapun.


Mereka sekarang berada di tengah kota. Pusat kota lebih di dominasi oleh pertokoan besar. Dari tempatnya saat ini Laila bisa melihat Sirei Mall yang sudah diperbaiki. Bahkan sudah dibuka kembali.


Berkat sihir, bangunan yang rusak mudah diperbaiki, tapi hal ini tak berlaku kepada barang yang dijual karena dibuat di pabrik atau buatan tangan.


Tapi bukan saatnya untuk memikirkan itu. Laila harus menemukan tempat mereka berkencan.


(Tunggu, kenapa aku harus memikirkan ini?)


Bukankah seharusnya ini tugas Kuro yang mengajaknya berkencan?


"Laila, kenapa kita tak membeli itu?"


Laila menoleh ke arah yang Kuro tunjuk, yaitu sebuah toko Crepe yang cukup besar dan ramai.


Laila tahu toko Crepe itu adalah salah satu toko yang terkenal dan sudah memiliki banyak cabang. Bahkan saat di ibukota Laila sering membeli Crepe di toko itu.


Laila sedikit penasaran apakah rasanya berbeda dengan toko di ibukota.


"Baiklah, kurasa lumayan untuk mengganjal perut."


Laila memegangi perutnya yang sedikit keroncongan. Dia belum sempat sarapan berkat ulah Kuro yang bersemangat di pagi hari.


Mereka berdua lalu pergi ke toko Crepe. Kuro memesan coklat pisang, sementara Laila stroberi dan blueberry.


Setelah itu, mereka berjalan bersama sambil makan crepe menuju ke toko lainnya. Mereka memutuskan untuk menjelajahi semua toko untuk menemukan barang yang menarik dan bersenang senang.


"Kuro, bagaimana menurutmu?"


Sekarang mereka berada di toko aksesoris. Laila mecoba pita berwarna merah dan menggunakannya untuk mengikat rambutnya. Sekarang gaya rambut Laila adalah twintail saat pertama kali mereka berkencan.


"Kupikir bagus, tapi kurang cocok dengan kepribadianmu."


"Tch!"


Laila langsung terlihat jengkel dan melepas pita merah yang mengikat rambutnya.


Kebiasaan Kuro yang terlalu jujur dan blak blakan kadang membuat Laila bingung.


"Laila, kenapa kau tak mencoba ini?"


"?"


Saat menoleh, Laila menunjukkan sebuah bando merah tanpa hiasan alias polos.


Laila menerima bando dan mencobanya. Setelah melihat bayangan di cermin, dia memang cocok mengenakan bando itu.


"Hm, aku tak salah kan?"


"Tapi kenapa kau bilang aku tak cocok dengan gaya twintail?"


Mendengar itu, Kuro menunjukkan senyuman tipis yang licik dan berkata:


"Laila, satu hal yang harus kau tahu, twintail hanya cocok untuk gadis tsundere!?"


Laila tak mengerti apa maksud Kuro, tapi melihat Kuro yang begitu semangat, dia yakin itu adalah sebuah visi Kuro (?).


"Huh? Sudahlah, aku juga merasa tak cocok."


"Satu hal lagi, kau tak ingin dikira ikut ikutan Yui kan?"


"Eh?"


Setelah mengingat kalau rambut Yui bergaya twintail (meskipun masih pendek), Laila mendesah dalam.


Apa karena itu Kuro mengatakan Laila tak cocok dengan gaya twintail? Tentu tidak. Laila tahu kalau Kuro berkata jujur.


Laila tak tahu harus senang atau sedih.


"Ya kau benar, lalu pita ini?"


"Bentar, aku akan melakukan sesuatu!"


Laila tak terlalu mengerti saat Kuro mengambil pita dan mulai menata rambut Laila di bagian kanan dekat telinga.


"Selesai, kurasa lebih cocok jika seperti ini?"


Laila lalu menoleh ke arah cermin dan melihat pita merah terikat di rambut Laila bersama dengan sebuah jepit rambut kecil berwarna merah.


Laila sedikit terkejut saat mengetahui aksesoris sederhana dapat membuat penampilan berbeda.


"... kau benar, tapi kau tahu betul mengenai seperti ini?"


"Aku pernah menjadi model, jadi aku tahu berbagai macam gaya rambut yang populer dan cocok."


"..........Eh?"


Apa dia salah dengar?


Saat Laila terkejut karena tak percaya, Kuro sudah memegang tangan Laila dan mengajak Laila pergi dari toko itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang kertas.


"Kuro, mau kemana lagi kita?"


"Karena kota ini membosankan, kurasa kita hanya punya satu tempat."


"Dimana?"


"Sirei mall!"


"Huh?"


Laila tak terlalu mengerti, tapi dia tak bisa berbuat banyak mengingat kota Areshia adalah kota yang tak terlalu besar.


Itulah kenapa kota ini hanya memiliki 2 mall, lalu selebihnya adalah pertokoan kecil.


Hal ini wajar mengingat sebagian besar kota merupakan wilayah Kuryuu Academy, selebihnya adalah tempat tinggal dan beberapa kantor pemerintahan.


Setelah berjalan beberapa menit, Kuro dan Laila memasuki Sirei Mall.


Laila masih ingat betul saat terakhir kali dia memasuki mall. Saat terjadi penyerangan oleh Red Crow, Sirei Mall mengalami kerusakan yang cukup parah, tapi sekarang Laila tak melihat sedikitpun goresan.


Sekarang juga ramai seperti dulu. Knight juga banyak berjaga, tapi jumlahnya sedikit berkurang. Hal ini wajar mengingat pada serangan 2 minggu yang lalu banyak Knight yang tewas.


Laila dan Kuro menuju lantai 2 dan duduk di restoran.


Sekarang Laila mengerti, Kuro sedang lapar, tapi itu wajar mengingat Kuro belum makan seperti Laila.


Laila sedikit terkejut saat Kuro memesan lumayan banyak makanan. Saking banyaknya, pesanan mereka sampai memenuhi meja dan membuat orang memandangi mereka.


Laila tersipu karena malu, tapi dia kemudian menganggap itu wajar.


Laila kemudian memutuskan ini adalah kesempatan untuk bertanya lagi. Ini normal mengingat sampai sekarang dia masih tak tahu siapa sebenarnya kekasihnya.


Laila sempat ingat kalau Kuro pernah berkeliling dunia. Dia ingin tahu pengalaman Kuro saat berkeliling dunia.


Kuro tak ragu menjawab pertanyaan Laila, tapi butuh waktu sekitar 3 jam untuk selesai.


Laila memperhatikan dan mendengarkan cerita Kuro dengan seksama. Kadang Laila tertawa karena tak menyangka Kuro akan mempunyai pengalaman yang lucu.


Selain menaklukan naga di sepanjang perjalanan, Kuro juga pernah bertemu dengan paladin Ice Queen yang ternyata memiliki hubungan dengan Alva dan Alvi.


Kuro dan Ice Queen melakukan perjalanan bersama selama beberapa hari. Dari situlah Kuro tahu tentang magic rt Ice Dust yang sekarang di kuasai oleh Alvi. Tak hanya itu, Ice Quenn juga selalu berpergian untuk menolong dengan sihir penyembuhnya.


Kuro lalu bercerita saat berada di Forestia. Di situlah Kuro memasuki sebuah Dungeon dan..... tersesat selama 2 bulan lebih. Tapi berkat itu dia bertemu dengan pasangan suami istri yang menjelajahi Dungeon.


Setelah mendengar itu, Laila menyadari sesuatu tentang Dungeon yang Kuro bicarakan.


"Mungkinkah Dungeon yang kau maksud Dungeon Aztecia? Kudengar Dungeon itu adalah Dungeon yang paling berbahaya dan tak ada yang pernah keluar hidup hidup."


"Ya. Karena itulah tak ada yang tahu isi Dungeon Aztecia, tapi percuma saja mencari tahu atau membuat peta Dungeon itu karena Dungeon itu selalu berubah."


"Eh? Jangan bilang kalau Dungeon itu ....hidup?"


Sambil makan, Kuro menjawab;


"..Omu.. omu...Bisa dibilang seperti itu... omu omu..., tapi lebih tepatnya dibuat dengan perhitungan yang luar biasa."


"Eh?"


"Dungeon itu akan berubah di waktu tertentu, dan hal itulah yang membuat orang yang memasukinya selalu tersesat dan tak bisa keluar."


"Begitu rupanya... keh.. tapi berapa banyak lagi kau mau makan?"


"Hum?"


Kuro tak terlalu mengerti, tapi setelah melirik piring kosong yang menumpuk sudah segunung, Kuro berkata:


"Aku tak menyadarinya..."


"Ugg..."


Laila tak bisa berkata apa apa mengenai perut monster Kuro yang mampu melahap porsi untuk 20 orang.


"Jadi bagaimana kau bisa keluar?"


"Itu mudah, aku menghafal pola Dungeon saat berubah. Selain itu, cara keluar sebenarnya tertulis di relief dinding Dungeon."


".....................eh?"


"Sudahlah, kau cepat makan, kita akan pergi lagi."


Kuro mengatakan itu saat melihat Laila hanya makan sepiring makanan yang porsinya bisa dibilang kecil.


"Kau ini, .....wanita punya alasan untuk tal makan banyak."


Laila mendesah kecil, sementara Kuro sedang minum jus.


Disaat itulah, Laila bertanya sesuatu yang menurutnya sangat penting dalam hubungan mereka ke depan nanti.


Laila menatap Kuro dengan setengah tertutup sambil menaruh tangannya di dagu lalu bertanya:


"Kuro, ...kapan kau akan melamarku?"


Pernikahan saat usia muda adalah hal yang sudah umum. Bahkan hal ini sudah menjadi tradisi di kalangan kekuarga penyihir tingkat atas.


Hal ini karena mengingat sebagian besar kekuatan penyihir dipengaruhi oleh keturunan, sisanya adalah bakat dan usaha dari penyihir itu sendiri.


Contoh yang paling nyata adalah ayah Laila. Nenek dan Kakek Laila adalah penyihir api tingkat atas, karena itulah ayah Laila bisa menjadi penyihir terkuat.


Hal ini juga berlaku kepada Laila dan Kakak laki lakinya. Mereka berdua memiliki keahlian di atas anak anak lainnya.


Karena inilah sex bebas sangat dilarang dan dianggap tabu bagi penyihir. Bahkan sebelum mereka menikah, penyihir harus menjaga kesucian mereka.


.....dan pantangan itu sudah dilanggar Laila. Demi cinta.


Dia tak menyesal, tapi setelah melanggar pantangan itu, Laila harus menerima konsekuensinya.


Dia sekarang tak suci lagi. Itu artinya dia sekarang tak punya pilihan selain menikah dengan Kuro. Karena itulah dia bertanya dengan senyuman dan tatapan yang membuatmu berpikir Laila adalah Demon Queen.


"Kuro, ....kapan kau akan melamarku?"


Selain untuk menanyakan kelanjutan hubungan mereka, Laila juga bertanya tentang tanggung jawab Kuro.


Sekarang masa depan Laila ada di tangan Kuro, jadi dia tak punya pilihan lain.


Tapi alasan paling penting adalah agar semua tahu bahwa Kuro adalah miliknya. Jika semua orang tahu Kuro adalah miliknya, maka orang yang menyukai Kuro akan menyerah (mungkin). Itulah alasan Laila kenapa dia menanyakan hal itu, namun reaksi Kuro adalah....


"Buuuuuuu... Cough coough."


Kuro langsung menyemburkan minumannya dan tersedak.


...ini adalah reaksi yang wajar.


Setelah baikan, Kuro memperhatikan Laila yang kini menatapnya dengan tatapan penasaran dan menyeramkan. Laila juga tersenyum, tapi itu senyuman yang membuat orang langsung bergidik.


Setelah beberapa saat, Kuro mendesah kecil dan memasang wajah rumit.


"Kenapa kau menanyakan itu? Bukankah aku sudah mengatakan akan segera melakukannya?"


"Yahhh... aku hanya ingin tahu saja fu fu .."


Meskipun Laila mengatakan itu dengan nada riang, namun hal itu membuat Kuro semakin tertekan.


(Wanita itu menyeramkan.....)


Kuro mendesah lagi.


"Kau sudah ingin menikah, padahal kita baru resmi menjadi kekasih belum genap satu minggu, kau ini benar benar......"


"....aha ha.. tapi aku boleh tahu kan? Mengingat sifat mesummu yang tak terkendali, aku harus tahu kepastiannya."


"Ugh.."


Meskipun yang dikatakan Laila adalah kenyataan, namun tetap saja menyakitkan.


"....baiklah, jika kau ingin tahu kapan aku melamarmu, pinjamkan aku ponselmu?"


"Huh?"


Laila langsung bingung. Wajahnya seolah berkata apa hubungan ponselnya dengan kapan Kuro melamarnya?


"Sudahlah, berikan saja. Kau ingin tahu kan?"


Meskipun tak tahu apa yang dipikirkan Kuro, namun Laila memberikan ponselnya.


Ponsel Laila sama dengan ponsel Kuro, jadi Kuro tahu betul apa yang dia lakukan.


Dia membuka daftar kontak dan mencari. Kuro sedikit terkejut saat mengetahui daftar kontak Laila bisa dibilang ...sedikit.


(Dia tak punya teman?)


Setelah menemukan kontak yang dia cari, Kuro tanpa ragu menekan tombol panggil dan mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Ku-Kuro, siapa yang kau panggil?"


"Ayahmu!"


"Ha!?"


Laila langsung melebarkan matanya saat mendengar apa yang Kuro lakukan.


_Di tempat lain, di suatu ruangan. 10 orang sedang duduk di meja bundar. Mereka sedang rapat untuk membahas serangan terjadi oleh kelompok misterius yang belum diketahui identitasnya.


Salah satu dari mereka adalah ayah Laila yang merupakan paladin terkuat. Dia masih berusia 30 an, jadi bisa dibilang masih muda.


Dia memasang wajah serius saat mendengar laporan. Kelompok misterius itu menyerang dan hampir membuat putrinya terbunuh, karena itulah dia tak akan puas sebelum menghancurkan kelompok itu dengan tangannya sendiri.


Tapi dia bersyukur karena putrinya baik baik saja berkat seorang pemuda yang dikenal sebagai Witch Reaper.


Ayah Laila lebih terkejut saat mengetahui Witch Reaper sebenarnya telah menyelamatkan putrinya dua kali, tapi yang membuat dia lebih terkejut lagi adalah Witch Reaper menjadi kekasih putrinya.


Tentu dia menghargai keputusan Laila, tapi mengingat Witch Reaper bukan penyihir, dia mulai merasa kalau hubungan mereka tak bisa dibiarkan.


Dia menentang hubungan Witch Reaper dan Laila, tapi dia tak bisa memaksa mereka berpisah. Jadi dia memutuskan untuk mengamati terlebih dahulu perkembangan hubungan Witch Reaper dan Laila.


"?"


Leon dikejutkan oleh getaran ponselnya. Dia mengambilnya dan melihat putrinya sedang menghubunginya.


Ini merupakan suatu yang jarang terjadi, jadi Leon ingin segera mengangkatnya karena berpikir Laila menghubunginya karena ada masalah penting.


Yang menjadi masalah adalah saat ini dia sedang rapat. Apa yang harus dia lakukan?


Beruntung salah satu temannya tahu apa yang ada di pikiran Leon.


"Leon, jika penting, sebaiknya terima saja. Lagipula rapat sudah hampir selesai dan membahas tidak penting."


"...Maaf."


"Tenang saja. Ini hal yang biasa terjadi."


Leon kemudian pergi dari ruangan itu dan menjawab panggilan.


"Halo, Laila apa ada perlu? Kau tahu aku sedang rapat dan sibuk."


"(Aku memang ada perlu, Ayah?)"


"Huh?"


Leon langsung terkejut saat yang menjawab adalah seorang pemuda.


"Siapa kau? Itu ponsel Laila kan? Mungkinkah kau melakukan sesuatu terhadap Laila? Jika kau melakukan sesuatu, aku akan langsung membunuhmu?!"


Dia serius akan melakukan itu mengingat dia hampir kehilangan Laila dua kali. Tapi yang paling membuatnya menyesal adalah saat terjadi bahaya, Leon tak ada di sisi Laila.


"(Tenang saja, Ayah. Laila baik baik saja. Dia saat ini sedang ada di depanku)"


"Buktinya?"


Setelah beberapa saat,


"(Aku baik baik saja. Jadi jangan kawatir dan membakar sekelilingmu!)"


"Uh, baiklah."


Leon tahu itu adalah suara Laila dan merupakan kebohongan. Laila sangat mirip ibunya, jadi Leon tahu hanya istrinya dan Laila yang mengomelinya seperti itu.


"(Apa Ayah percaya kalau Laila baik baik saja?)"


"Aku percaya, tapi jangan memanggilku Ayah! Aku bukan ayahmu!"


"(Baiklah, ....Ayah.)"


"............"


Leon hanya bisa mendesah karena merasa jengkel.


"Siapa kau dan apa maumu?"


"(Aku hanya ingin tahu kapan Ayah punya waktu luang?)"


"Untuk apa kau menanyakan itu? Satu hal lagi, aku bukan ayahmu!"


"(Aku ingin melamar Laila, jadi aku ingin tahu kapan Ayah punya waktu luang.)"


".....Huh?"


Leon kehabisan kata katanya dan tak tahu apakah yang dia dengar benar atau salah.

__ADS_1


"Hey, jangan bercanda. Siapa kau dan cepat katakan apa maumu yang sebenarnya?"


Leon sudah mulai kehabisan kesabarannya.


"(Aku Kuro Kagami. Kekasih Laila, putrimu. Tadi dia bertanya kapan aku melamarnya, jadi aku menelpon Ayah untuk menanyakan kapan Ayah punya waktu luang.)"


"................"


Leon terdiam dan mulai berpikir.


Pemuda yang mengaku bernama Kuro Kagami adalah kekasih Laila, putrinya. Kuro memanggil dirinya Ayah, dengan kata lain Kuro berpikir dia pasti akan menikah dengan Laila. Hanya ada satu kesimpulannya.


"Bisakah kau memberikan telepon ke Laila?"


"(Uh... tentu.)"


Setelah beberapa saat, Kuro melihat Laila menjawab dengan serius.


Sebaian besar adalah jawaban 'YA', tapi Kuro tak tahu apa yang ditanyakan ayah Laila, jadi dia hanya bisa terdiam.


Panggilan kemudian berakhir, saat itulah Laila mendesah dalam dan memasang wajah rumit.


"Kuro, kenapa kau melakukan ini?"


"Tentu untuk menjawab pertanyaanmu."


"Eh?"


"Jawabannya adalah aku akan melamarmu secepatnya. Aku harus bertanggung jawab terhadapmu, tapi kita harus menyelesaikan satu masalah terlebih dahulu. Aku dan ayahmu adalah orang sibuk. Kami tak tahu kapan punya waktu luang."


"Karena itulah kau menanyakan hal itu?"


"Ya. Selain itu aku sudah memberi tahu bahwa aku merebut kesucianmu, kurasa hanya perlu menunggu saja. Jadi apa yang dikatakan ayahmu?"


"...Dia bilang akan menghubungi jika punya waktu. Haa... ,tapi Ayah marah besar mengetahui hal ini. Aku menyesal bertanya."


Laila terlihat murung, sementara Kuro tersenyum kecil.


"Aku akan melamarmu cepat atau lambat, jadi kau tak perlu menyesal. Anggap saja ini adalah masalah yang harus kita selesaikan."


"Yah.. kau benar."


Laila mulai ceria lagi. Dia sadar kalau apa yang dikatakan Kuro ada benarnya.


Kuro dan Laila pergi setelah membayar tagihan di kasir dengan Yold Card. Setelah itu, mereka berdua keluar dari Sirei mall dan pergi ke tempat kencan mereka selanjutnya. Tapi kemana?


Laila hanya mengikuti kemana Kuro pergi, jadi dia tak tahu mereka akan pergi kemana, tapi setelah diperhatikan lagi, dia tahu kemana arah mereka pergi.


"Kuro, apa kau mau ke rumah Fila?"


Jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju daerah pertokoan tempat Fila tinggal, jadi dia menanyakan itu.


"Tidak. Aku akan pergi ke toko yang ada di dekat rumah Fila. Aku cukup terkejut mereka mempunyai toko di kota ini. Ku ku. "


".......?"


Laila tak terlalu mengerti dan memutuskan untuk mengikuti Kuro. Lagipula dia pasti akan segera tahu.


Setelah beberapa saat berjalan bersama, mereka sampai tempat tujuan mereka.


Sebuah toko yang besar dan mewah. Banyak jeruji seperti penjara di semua jendela dan banyak Knight yang berdiri menjaga toko itu. Ya. Toko yang mereka masuki adalah toko perhiasan.


Tapi toko yang mereka masuki bukanlah toko biasa. Toko itu memiliki cabang di seluruh dunia dan sangat terkenal karena kualitas perhiasan yang mereka jual. Bahkan para bangsawan dan ratu adalah pelanggan tetap mereka.


Yang menjadi masalah, kenapa Kuro mengajak Laila ke toko itu? Mungkinkah?


"Ku-Kuro, mungkinkah kau mau membeli cincin pernikahan?"


Laila gugup dan panik. Menurutnya ini masih terlalu cepat.


"Tidak."


"Eh?"


"Kenapa kau berpikir aku akan membeli cincin pernikahan padahal kita belum menentukan tanggalnya? Ya ampun, kau ini benar benar tak sabaran."


Wajah Laila memerah karena malu.


"Tapi jika kau ingin, kenapa tidak? Kau boleh memilih cincin yang kau suka!"


"Ah... tidak. Lupakan saja."


Setelah berpikir keras, Laila menyadari tawaran Kuro adalah ide buruk. Dia senang, tapi saat melihat koleksi perhiasan yang indah dan tentu saja mahal, Laila akhirnya mengurungkan niatnya, tapi ada suatu yang tak dia mengerti.


"Jika kau tak membeli perhiasan, kenapa kau kemari?"


"3 tahun yang lalu aku pernah memesan barang, meskipun sudah jadi 4 bulan lalu, aku belum sempat mengambilnya. Itulah yang akan kuberikan kepadamu."


"Hm? Kau tak-"


"Sudahlah, kau adalah calon istriku, anggap saja hadiah sekaligus untuk merayakan hari jadi hubungan kita."


"......baiklah. Kalau begitu aku akan senang hati menerimanya."


Tapi setelah dipikir pikir, ada yang aneh.


Kelebihan toko yang mereka masuki adalah dapat memesan perhiasan atau bahkan mendesain perhiasan kesukaan mereka masing masing dan itu akan lebih mahal daripada perhiasan yang umum.


Tapi yang lebih mengejutkan adalah Kuro sudah memikirkan hadiah sejak 3 tahun yang lalu. Aneh. Terlalu aneh.


Kuro dan Laila menuju meja resepsionis. Mereka berdua menjadi pusat perhatian karena terlihat sangat mesra seperti pengantin baru.


Seorang wanita cantik di meja resepsionis melayani Kuro. Setelah memberi tahu keperluan mereka, resepsionis itu menanyakan nama Kuro.


Setelah memberi tahu, resepsionis itu mencari di pusat data lewat komputer. Entah mengapa tiba tiba mata resepsionis itu melebar seperti terkejut.


"Tuan Kuro?"


"Ya?"


"Tolong ikut saya!"


"Ah baiklah."


Setelah mengangguk, wanita itu pergi menuju sebuah ruangan bagian dalam toko.


Kuro berniat mengikutinya, namun sebelum itu,


"Laila, tunggulah sebentar. Kurasa akan sedikit memakan waktu, tak apa apa kan?"


"Eh? Ba-baiklah."


"Kenapa kau tak melihat lihat? Jangan sungkan jika ada perhiasan yang kau suka."


"Ha. ha.. ."


Sambil tertawa kering, Laila melihat Kuro memasuki ruangan yang dimasuki wanita tadi.


(Kuharap dia tak menyerang wanita itu.)


Laila mendesah dan duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


10, 20, 30 menit berlalu, tapi Kuro belum juga keluar. Wanita yang masuk sudah lama keluar dan melanjutkan pekerjaannya.


Laila merasa lega, tapi kenapa Kuro lama sekali?


Laila mulai bosan menunggu. Dia akhirnya memutuskan untuk melihat lihat untuk mengisi waktu.


Dia melirik perhiasan yang tertata rapi di balik kaca khusus.


(Hmmmm... toko ini benar benar.... mahal..)


Di setiap perhiasan, tertera harga yang dijual. Laila cukup terkejut saat melihat harga yang paling murah adalah 78 jt Yold untuk sebuah kalung dengan desain sederhana.


Tapi mengingat kualitas yang bagus, harga itu wajar.


Laila melihat lihat bagian cincin. Entah mengapa dia penasaran dengan cincin seperti apa yang akan dia pakai saat pernikahan. Jadi dia memutuskan untuk menjadikannya referensi.


"Hm?"


Laila tertarik dengan sebuah cincin yang menurutnya sangat berbeda dengan cincin yang ada di toko itu. Cintin itu terpisah dengan cincin lainnya yang menandakan cincin itu spesial.


Cincin keperakan dan berwarna merah di tengahnya. Tak memiliki batu mulia, atau model yang aneh.


(Mungkinkah cincin itu memiliki kekuatan khusus?)


Cincin yang menambah kekuatan atau mempunyai efek khusus sudah menjadi barang umum, tapi setelah memperhatikan baik baik, Laila merasa cincin itu tak memiliki efek khusus.


Yang membuat dia heran kenapa hanya cincin itu yang tak diberi label harga?


"Nona, apakah mau mencobanya?"


"Eh?"


Seorang wanita penjaga toko tiba tiba menawarkan cincin itu kepada Laila.


"Nona, apakah anda mau mencobanya?"


Wanita itu mengulangi pertanyaannya.


"Ahh... tidak. Aku hanya penasaran saja ha haha. "


"Kalau begitu, bolehkah istriku mencobanya?"


"?"


Pasangan suami istri itu memakai pakaian yang mahal. Laila tahu kalau mereka adalah orang kaya atau bangsawan. Tetapi Laila tak mengenal mereka. Kemungkinan mereka berasal dari daerah lain.


Lelaki itu mendekat dan melirik cincin merah yang dipajang dengan tatapan tajam.


"Nona, kenapa kau tak mencoba?"


Lelaki itu melirik ke arah Laila.


"Ah... aku hanya takut merusak barang itu haha. "


Laila menjawab dengan nada setengah bercanda.


"Kau tidak usah kuatir. Tentu jika cincin itu asli."


"Apa maksud anda?"


"Cincin itu adalah salah satu dari Dragonblood Gear series yang hanya ada 9 di dunia. Tepatnya yang pernah dibuat. fufu."


Yang menjawab adalah istri lelaki tersebut.


"Dragonblood Gear?"


Laila tak tahu nama itu, tapi jika diingat ingat, dia pernah melihat cincin serupa. Hanya saja berwarna putih.


Cincin itu dipakai oleh Riana.


Dengan kata lain cincin Riana juga Dragonblood Gear series?


"Ya. Cincin Dragonblood Gear series sedikit spesial, tapi tak memiliki kekuatan khusus untuk meningkatkan sihir atau semacamnya. Lebih tepatnya jika masih belum jelas apakah memiliki efek seperti itu. Tapi jika bertanya tentang Dragonblood Gear, maka lebih tepat jika disebut sebuah karya seni."


"Begitu rupanya."


Singkatnya, cincin itu hanyalah cincin biasa. Laila sekarang tahu itu (sedikit).


"Maaf, kami belum memperkenalkan diri. Namaku Indhi Josef. Dan dia istriku Janes Josef."


Sambil menunduk, Laila memperkenalkan dirinya.


"Namaku Laila Allein Fortisillein. Salam kenal."


Mendengar nama Laila, Indhi dan Janes terlihat terkejut. Tampaknya mereka sadar identitas Laila sebenarnya.


"... mungkinkah kau putri Leon?"


"Eh? Anda mengenal ayahku?"


"Kami adalah teman dulu saat sekolah. Meskipun sekarang kami jarang bertemu."


"Benarkah itu?"


Laila sedikit heran dan tak menyangka bisa bertemu dengan teman ayahnya.


"Ya. Meskipun aku sangat membenci ayahmu, tapi aku dan dia berteman baik."


"Huh?"


Laila tak terlalu mengerti, tapi dia tahu Indhi serius membenci ayahnya. Yang menjadi pertanyaan adalah-


"Kenapa?"


"Dia sangat populer dan semua gadis mengerjarnya. Dia bahkan dikenal playboy. Semua lelaki di sekolah membenci dia. ha ha... "


"....aku mengerti kenapa anda membenci ayahku."


Laila mengerti karena kakaknya juga sama. Populer di kalangan para gadis. Bahkan Kuro tak jauh berbeda dengan ayah dan kakak Laila.


"Kudengar kakakmu juga sangat populer?"


"Ya seperti itulah...."


Setelah tertawa kecil, mereka dikejutkan oleh suara batuk kecil yang berasal dari Janes.


Mereka sadar kalau sudah jauh dari topik utama mereka.


"Maaf, Sayang. Aku tak bisa menahan diri."


"Sudahlah, aku tahu perasaanmu, tapi aku ingin segera mencoba cincin itu."


"Ohh.. iya.. benar juga." Indhi menoleh ke wanita yang menjaga toko dan berkata, "Nona, apakah cincin itu asli?"


"Tentu saja Tuan. Kebetulan kami sedang mencari pemilik cincin di kota ini. Dan anda beruntung karena ini adalah hari terakhir."


Penjaga toko itu terlihat tak berbohong.


"Kalau begitu bolehkah aku melihatnya untuk mengetahui asli atau tidak?"


"Tentu saja. Anda juga bisa mencobanya."


Wanita itu mengambil cincin dan memberikannya kepada Indhi.


Setelah menerimanya, Indhi langsung mengeluarkan kaca pembesar dari saku bajunya. Tentu itu bukan kaca pembesar biasa, tapi kenapa Indhi membawa benda seperti itu?


Indhi lalu melihat dengan teliti bagian tengah cincin yang berwarna merah dengan kaca pembesar.


Setelah beberapa saat, Indhi tersenyum puas.


"Ini asli. Sayang, kau beruntung bisa mencobanya."


"Benarkah itu? Senangnya."


Indhi  memberikan cincin kepada istrinya. Janes menerimanya dan langsung memakainya, tapi setelah memasukan cincin ke jari manisnya, Janes terlihat kecewa.


Indhi tahu apa yang menyebabkan istrinya tidak senang.


Janes kembudian memberikan cincin itu kepada Indhi lagi.


"Kurasa cincin ini tak mau dipakai olehmu kah?"


"Ya. Sayang sekali. Padahal aku sangat berharap."


Indhi dan Janes terlihat kecewa. Laila tak terlalu mengerti, jadi dia bertanya-


"Anoo.. apakah cincin itu spesial?"


"Dragonblood Series adalah cincin paling unik dan spesial di dunia. Dan cincin itu memilih siapa pemiliknya."


"Eh? Aku baru pertama kalinya mendengar cincin seperti itu?"


"Tapi yang paling membuat spesial adalah bagian ini!"


Indhi lalu menunjukkan bagian merah dengan kaca pembesar yang bisa diperbesar 100 kali lipat.


"Eh? Bohong. Mana mungkin.!"


Laila tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat sebuah mesin, tepatnya sebuah gerigi yang bergerak seperti mesin jam berada di tengah bagian merah. Tak hanya bergerak, tapi komponen gear sangat rumit dan berjumlah sangat banyak.


Laila tahu ada penelitian tentang Nano Tecnology (Nanotec), tapi cincin itu benar benar berbeda.


"Itulah kenapa disebut Dragonblood Gear. Sebuah mesin berada di dalam sebuah cincin. Karena itulah ini lebih disebut sebuah karya seni."


"Tapi tak semua orang bisa memakai cincin itu." sambung Janes.


"Lebih mudahnya, lihatlah ini!"


Indhi kemudian memakai cincin di jari kelingking, lalu melepasnya dan memakainya di jarinya berurutan hingga ke jempol lalu melepasnya lagi.


Awalnya Laila tak terlalu mengerti, namun dia menyadari kalau-


"Ukurannya berubah?"


Indhi mengangguk.


"Dragonbood Gear series bukanlah benda sihir, seharusnya mustahil cincin itu bisa berubah ukuran. Karena itulah hanya orang terpilih yang bisa memakainya. Contohnya adalah putri Riana. Dia memakai cincin Dragonblood Gear series berwarna putih."


"Begitu rupanya."


Laila sekarang mengerti kalau cincin itu sangat spesial.


(Cincin yang memilih pemiliknya. Ini benar benar aneh. ...sama seperti Kuro.)


"Karena itulah siapapun boleh mencoba cincin itu asalkan perempuan." tambah Indhi.


"Laila, kenapa kau tak mencobanya? Tak ada salahnya kan?"


Janes menyarankan, tapi Laila menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tak mau."


Dia lebih senang jika cincin yang dia pakai adalah pemberian Kuro. Dan cincin itu tak perlu Dragonblood Gear series.


"Kenapa tidak? Siapa tahu cincin ini memilihmu?"


"Ta-tapi..."


Dia merasa tak enak dengan Kuro, tapi jika dipikir pikir tak ada salahnya mencoba.

__ADS_1


"Sudahlah, coba saja."


Indhi memberikan cincin kepada Laila.


Setelah menerimanya, Laila terdiam dan berpikir memakainya atau tidak.


(Ini hanya mencoba kan? Belum tentu cincin itu memilihku.)


Dengan perlahan, Laila memasukkan cincin itu ke jari manisnya, disaat itulah-


"Laila, maaf. Aku tak menyangka lebih lama yang ku kira."


"?!"


Karena terkejut, Laila langsung memasukkan cincin itu dengan cepat dan menyembunyikan cincin itu dari Kuro.


"Laila?"


Laila kemudian menoleh ke belakang dan melihat Kuro membawa kotak kecil di tangan kanannya.


"Ah.. tidak apa apa. Ha ha..."


Laila menyembunyikan cincin di balik punggungnya dan berusaha melepasnya, tapi-


(eh?)


Cincin itu tak mau lepas.


Laila langsung berkeringat dingin karena tak tahu harus berbuat apa.


"...Kuro? Benarkah itu kau?"


Panik langsung menghilang saat mendengar Janes memanggil nama Kuro seperti teman lama yang sudah lama tak bertemu. Entah mengapa Laila punya firasat buruk.


Anehnya, Kuro juga menunjukkan ekspresi terkejut.


"Eh? Mungkinkah anda Janes dan .......Kindi?"


"Kenapa kau lupa namaku bocah tengik?"


Indhi sepertinya juga mengenal Kuro. Dia terlihat marah saat Kuro tak ingat namanya atau memang dia membenci Kuro.


"Aku bercanda. Mana mungkin aku bisa lupa dengan kalian."


"Kau baru saja ingat kan, Bocah?!"


Indhi mengenal betul sifat Kuro, jadi dia tahu kalau Kuro tak terlalu ingat dengan dirinya.


Dia tak membenci Kuro, hanya saja Kuro benar benar mengingatkan dia kepada orang yang paling dia benci, Leon.


"Jika iya?"


".............."


Indhi terdiam karena tak tahu bereaksi apa.


Disaat itulah Laila merasa kalau mereka bertiga sudah mengenal baik satu sama lain.


"Kuro, kau kenal mereka?"


"Tentu, kau ingat aku pernah tersesat di Dungeon dan bertemu sepasang suami istri."


"......Hey, jangan bilang mereka itu adalah Indhi dan Janes?"


Kuro mengangguk sambil tersenyum.


(Begitu rupanya. Indhi dan Janes adalah orang yang suka menjelajahi Dungeon.)


Itulah alasan kenapa dia selalu membawa kaca pembesar.


"Kuro, Sayang, Laila, kenapa kita tak mencari tempat untuk mengobrol? Ada hal yang ingin kubicarakan setelah lama tak bertemu fufu."


Saran Janes tidak salah. Mereka saat ini berada di tempat yang tak cocok untuk mengobrol.


Kuro dan Indhi mengangguk tanda setuju. Sementara Laila terdiam.


"Aku tahu tempat yang bagus untuk mengobrol."


Mendengar saran Kuro, Indhi dan Janes mengangguk


Kuro lalu melangkah keluar. Indhi dan Janes mengikuti Kuro, sementara Laila... terdiam di tempat.


"Laila, apa yang kau lakukan? Apa kau tak mau ikut?"


"....Ahh... bukannya aku tak mau ikut, tapi..."


".......?"


Laila kemudian menunjukkan cincin [Blood Gear] series yang terpasang di jarinya kepada Kuro dengan berlinang air mata.


"Apa yang harus kulakukan?"


"""......................"""


Kuro, Indhi dan Janes terdiam karena keheranan, tapi mereka menunjukkan ekspresi yang sama. Mereka terkejut.


"Aku memang menyuruh mencari cincin, tapi... "


"Itu hasil yang tak terduga, benarkan Sayang?"


Janes mengangguk.


"Hei... bagaimana ini? Cincin ini tak mau lepas. Cepat beritahu aku bagaimana cara melepasnya?"


Laila bahkan mengeluarkan air matanya. Dia tahu cincin yang ada di tangannya adalah barang langka dan harganya sangat mahal. Jadi wajar dia panik.


"Kau tak perlu melepasnya. Cincin itu memilihmu, jadi kau harus bangga."


"Ta-tapi harganya.."


"Cincin itu gratis, benarkan?" tanya Kuro


"Benar sekali."


"Huh?"


Laila menoleh ke arah wanita penjaga toko yang hanya tersenyum senang, sementara Indhi dan Janes mengangguk tanda membenarkan.


"Tapi kenapa?"


"Sudahlah, jika kau ingin membayar cincin itu, siapkan 500 milyar Yold!"


"Ha?!"


"Sekarang kau lebih suka gratis atau membayarnya?"


Pada akhirnya, Laila pergi setelah bertanya mengenai cincin yang dia pakai. Awalnya dia terkejut, tapi setelah mendengar penjelasan kalau cincin itu memang diberikan kepada orang yang memakainya, beban Laila lebih ringan.


Yang lebih mengejutkan, harga cincin yang Laila pakai ternyata lebih dari yang Kuro sebutkan.


Dan Laila tak punya uang sebanyak itu.


Setelah itu, mereka berempat pergi ke sebuah kedai sederhana yang tak jauh dari toko perhiasan tadi. Di perjalanan, mereka berempat bertemu Fila dan akhirnya Fila bergabung dengan mereka.


Mereka duduk di meja besar untuk enam orang. Laila, Kuro dan Fila duduk bersama, sementara Indhi dan Janes duduk berseberangan dengan mereka.


Catatan: Kuro duduk di tengah Laila dan Fila dan entah mengapa, dia merasa ada kilatan saat Laila dan Fila menatap satu sama lain.


"Fila, apa kau tak membantu paman Irho?"


"Tenang saja, hari ini aku sudah menyelesaikan tugasku, jadi kau tak perlu cemas. Tapi terima kasih mengingatkan, aku bukan orang yang suka bermalas-malasan."


"....................."


Kuro terdiam karena tak bisa berbuat banyak menghadapi mereka berdua.


Meskipun terdengar akrab, Kuro dapat merasakan hawa mencekam dari mereka.


"Tapi kebetulan sekali, kita bisa bertemu setelah beberapa tahun tak bertemu, kira kira berapa tepatnya?"


Indhi membuka topik pembicaraan untuk mengganti atmosfir yang mulai panas.


"3 tahun. Aku tak mengenali kalian berdua karena memakai pakaian seperti itu."


"Hey, jangan menghina, bocah tengik. Bagaimanapun juga kami orang terkenal dan terpandang. Jadi wajar memakai pakaian seperti ini, yah... meskipun kami tak terlalu menyukainya."


"Tapi kenapa kau memakai seragam sekolah? Kau tak mungkin bersekolah di Kuryuu Academy kan?" ucap Janes dengan nada sedikit bercanda.


"Sayang sekali aku memang bersekolah disana."


Indhi dan Janes terdiam untuk sesaat, lalu tertawa dengan keras. Bahkan mereka kehilangan kewibawaan sebagai orang kaya.


"Laila? Siapa sebenarnya mereka berdua?"


"Mereka kenalan Kuro. Tampaknya mereka pernah berpetualang bersama."


"Un un... begitu rupanya."


Meskipun mereka berbisik, Kuro dapat mendengar mereka dengan jelas.


"Aku tak percaya mereka mengizinkanmu masuk sekolah sihir. Jadi kejutan apa yang kau perbuat di sekolah itu?"


Indhi dan Janes mengenal kekuatan Kuro dan tentu kejutan yang akan diperbuat Kuro. Sampai sekarang mereka masih ingat betul dengan Kuro yang membantu mereka menakhlukan Dungeon paling berbahaya di dunia.


"Aku hanya menakhlukan naga dua minggu yang lalu."


"Heehhh.. kau masih saja melakukan itu. Kau seharusnya berhenti melakukan hal gila." kata Janes.


"Meskipun aku ingin berhenti, tapi aku tak tahu cara berhenti. Lagipula yang kuperbuat bisa dilakukan oleh orang lain, jadi tak ada kata spesial."


"Kau benar, perbuatanmu tak ada yang spesial, tapi hanya orang gila yang akan melakukan apa yang kau perbuat."


"Sudahlah, ngomong ngomong, kenapa kalian berdua di kota ini? Apakah kalian berhenti menakhlukan Dungeon?"


"....Tidak, kami tak berhenti. Hanya saja Janes sedang mengandung, jadi kami berhenti untuk sementara."


"Yah.. meskipun baru 4 bulan."


Indhi dan Janes tersenyum bahagia. Janes mengelus perutnya beberapa kali sambil tersenyum.


"Selamat, Janes, Indhi."


"Kuucapkan selamat, semoga kandungan kalian sehat."


Fila dan Laila mengucapkan selamat setelah hanya terdiam dan menjadi pendengar karena tak tahu pembicaraan Kuro dan mereka berdua.


Sedangkan Kuro, entah mengapa justru melirik ke arah Laila. Masih terlalu cepat berharap.


"Terima kasih. Itulah alasan kami berkeliling dunia dan menghabiskan uang Fufu..."


"Dasar kalian ini."


"Kami tak ingin mendengar itu darimu, Bocah!"


Indhi dan Janes adalah penakhluk Dungeon yang sudah terkenal. Dan karena itulah mereka mempunyai banyak uang hasil dari menakhlukan Dungeon.


Tapi yang membuat terkenal adalah karena berhasil menakhlukan Dungeon Astecia di Forestia. Di sana mereka menemukan harta karun tersembunyi yang bernilai triliunan yold.


"Lalu kau sendiri, kenapa ada di toko tadi?"


Indhi bertanya sambil melirik kotak kecil yang berada di atas meja.


Terus terang dia penasaran kenapa Kuro datang ke toko yang seharusnya mustahil Kuro datangi. Jika seperti itu, kotak itu pasti ada hubungannya.


"Ahh.. aku hanya mengambil pesananku."


"Pesanan? Untuk apa kau memesan perhiasan? Tidak, kurasa 'untuk siapa?' adalah pertanyaan yang tepat?"


"Mungkinkah Kuro sudah mendapatkan pacar dan tak bermain main dengan merayu gadis yang baru saja dia temui?"


"Gadis?"


Laila bertanya karena menyadari jika Janes tahu tentang daya tarik Kuro, berarti ada gadis yang bersama dengan mereka bertiga.


"Ya. Aku masih ingat betul gadis itu. Nama gadis itu adalah Yun In. Dia gadis yang cantik dan baik hati-"


"Gadis itu menyukai Kuro?"


Laila memotong perkataan Janes karena tahu apa yang dikatakan Janes selanjutnya.


....dan tebakan Laila benar.


Janes mengangguk tanda membenarkan.


"Ho ho... Kuro... Kurasa aku perlu mendengar cerita gadis yang bernama Yun In dan apa yang kau lakukan saat bersamanya."


"Kuro, aku juga ingin mendengarnya."


Akhirnya Kuro dihadapkan oleh dua wanita cantik yang sekarang bagai iblis.


Kuro berkeringat dingin dan ingin segera kabur, tapi dia sadar kalau kemungkinan dia berhasil kabur adalah nol.


"Bisakah kalian tak membicarakan apa yang terjadi di masa lalu?"


Menyadari Kuro bersikap aneh dan pucat pasi, Janes tersenyum kecil sementara Indhi menunjukkan ekspresi jengkel.


"Ara.... mungkinkah mereka berdua...."


"Laila adalah pacarku dan Fila hanya temanku."


Laila tersenyum senang, sementara Fila sedikit murung setelah Kuro mengatakan hubungan mereka bertiga.


Yang dikatakan Kuro adalah fakta, jadi dia tak harus menyembunyikannya.


"Begitu rupanya."


Entah mengapa Indhi dan Janes mendesah dalam setelah mendengar itu. Sekali lagi mereka dikejutkan oleh Kuro yang berhasil mendapatkan cinta putri paladin.


"Jadi, kau ingin memberikan hadiah kepada Laila?"


Kuro mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Ya, tapi tampaknya dia sudah mendapat hadiah yang tak ternilai..."


"Ug..."


Laila menyembunyikan cincin yang sedang dia pakai dan diam diam mencoba melepasnya, tentu dia tak berhasil.


"Jangan kawatir, aku tidak marah."


Kuro mengelus rambut Laila untuk membuat dia lebih tenang.


"Ta-tapi..."


"Sudahlah, jika aku marah, aku sudah memotong jarimu."


"Jangan bercanda di situasi seperti ini."


Bagi orang yang sudah mengenal Kuro, mereka tahu Kuro tak sedang bercanda. Tentu termasuk Laila.


Dengan air mata phoenix, jari Laila bisa disambung lagi, jadi Kuro pasti tak ragu melakukan itu jika dia marah.


"Maaf, mungkinkah cincin itu sama seperti ini?"


Tiba tiba Fila mengatakan hal yang membuat terkejut sambil menunjukkan sebuah cincin hijau yang dijadikan kalung.


Bagi orang awam, cincin Fila tidaklah begitu spesial, tapi bagi orang yang berada di meja itu tahu betul cincin itu adalah-


"Dragonblood Gear?!"


Indhi terkejut begitu juga dengan Janes. Mereka tak menyangka Fila mempunyai cincin Dragonblood Gear series.


"Eh? Apakah itu nama cincin ini? Aku tak tahu itu."


"Fila, darimana kau mendapatkan itu?" tanya Kuro.


"Ini milik ibuku, tapi setelah ibuku meninggal, ayah memberikan ini kepadaku."


"Pernahkah kau memakainya?" tanya Kuro lagi.


"Ya. Awalnya aku terkejut karena tak mau lepas, tapi setelah 3 bulan, aku bisa melepas dan memakainya kapanpun."


"Huh?"


Masalah mereka langsung teratasi dengan sendirinya.


"Hm? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"


".....tidak. Kami justru berterima kasih, Fila."


"Begitu, aku senang bisa membantu."


Fila tersenyum senang, begitu pula Kuro.


"Jadi..., apa isi kotak itu? Apa kau keberatan kami melihatnya?"


Indhi menanyakan itu dengan nada penasaran.


Kuro hanya tersenyum kecil.


"Tidak, ini bukan sesuatu yang dirahasiakan."


Kuro dengan perlahan membuka kotak kecil di depannya. Laila tak sabar dan penasaran, sementara Fila hanya terdiam.


Tapi sebelum kotak terbuka sepenuhnya, tiba tiba terdengar suara peringatan untuk evakuasi yang cukup keras.


Peringatan evakuasi terdengar di seluruh kota Areshia. Ini sesuatu yang jarang terjadi mengingat kota yang terlindung oleh dinding yang tinggi dan perisai.


Dengan kata lain, mungkinkah musuh seperti Red Crow muncul lagi di tengah kota?


Salah. Tak ada musuh di dalam kota, tapi-


Rooooooooooooaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!


Sebuah raungan keras terdengar hingga membuat kaca bergetar. Raungan itu langsung membuat mereka sadar kalau musuh mereka kali ini adalah monster.


Dan monster itu adalah-


"Naga?!"


Kuro dan keempat orang lainnya keluar dari kedai dan melihat naga yang terbang tepat di atas kota.

__ADS_1


Indhi langsung mengucapkan apa yang ada di pikirannya karena kagum dan sekaligus takut karena dia tahu naga yang terbang di atas kota bukanlah naga biasa.


Naga yang dikenal Crimson Dragon King dan merupakan salah satu dari 13 naga legendaris telah datang.


__ADS_2