Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Rank B


__ADS_3

Sebagai ibukota negara terbesa dan terkuat, kota Phoenix juga menjadi kota dengan penduduk terbanyak di dunia. Hampir 40 persen penduduk kekaisaran tinggal di kota ini. Tak heran, jika di setiap sudut mudah ditemui orang yang melakukan aktivitas.


Di jalanan ramai, pemuda memakai jubah, Riku Kagami melangkahkan kakinya menuju tempat yang akan dia datangi jika sudah sampai di ibukota.


Tempat itu berada di wilayah barat ibukota. Normalnya jika ingin ke sana, dia seharusnya memasuki gerbang di wilayah barat, tapi dia masuk melalui gerbang timur.


Jarak tempuh menjadi dua kali lipat. Dan mengingat luas ibukota, dia bisa sampai di sana jika berlari dengan kekuatan penuh selama 6 jam atau mengendarai kereta selama 12 jam lebih.


Itu jarak yang jauh.


Tetapi itu tak masalah. Sejak awal dia tak terburu buru pergi ke tempat itu. Lebih tepatnya, dia sebenarnya enggan pulang. Jika bisa, dia lebih memilih berpetualang di luar kekaisaran seperti yang dia lakukan beberapa tahun belakangan ini.


Sayangnya dia tak punya pilihan.


Saat sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan, dia mencium aroma lezat dari warung kaki lima yang menjual kue.


Kue itu bukanlah suatu yang langka dan memiliki rasa yang biasa saja, tetapi karena saat ini dia sedang lapar, aromanya telah memicu nafsu makannya.


Tetapi dia hanya bisa mendesah dalam. Dia tak memiliki uang saat ini.


(Jika pulang aku bisa mendapatkan uang dan makanan mewah, tapi aku sama sekali tak mau)


Dia memiliki banyak alasan untuk tak ingin pulang. Dia bahkan akan melakukan apapun agar dapat menunda kepulangannya.


(Sayangnya aku hanya punya waktu 3 hari. Jika tak pulang, aku akan mati)


Riku langsung bergidik seolah mengingat mimpi buruk.


Dia memiliki kemampuan bertarung setara dengan penyihir peringkat S. Lalu dengan sihir dan keahlian khusus yang dia miliki, mengalahkan peringkat S suatu yang mudah tergantung tingkat kecocokan seperti wanita yang dia kalahkan tak lama tadi.


Tetapi semua itu tak berarti di hadapan orang yang memberikan keputusasaan padanya. Baginya orang itu adalah monster sejati yang tak bisa dia kalahkan.


Untuk sekarang dia harus memikirkan bagaimana cara dia makan. Jika tidak, dia mungkin akan mati sebelum sampai di rumah.


Tapi di mana ada tempat yang memberi makan gratis?


Mungkin ada di suatu tempat di kekaisaran, tapi tidak di tempatnya sekarang. Satu satunya pilih adalah dengan mencari pekerjaan sementara atau pekerjaan yang membutuhkan waktu singkat dan langsung menghasilkan uang.


Jika mencari pekerjaan jenis seperti itu, itu hal yang mudah.


Worker Guild atau lebih dikenal sebagai Guild adalah tempat yang tepat. Dulu dikenal sebagai Adventure Guild, tapi karena kurang cocok, namanya diganti. Alasan yang aneh, tapi Riku tak tahu apa yang dipikirkan orang dulu.


Hanya saja, meskipun namanya berubah, tapi tujuan eksistensi Guild masih sama, yaitu menyediakan pekerjaan bagi orang yang tak memiliki pekerjaan tetap.


Di kekaisaran, tanpa kekuatan mencari pekerjaan bukanlah suatu yang mudah, terutama bagi orang yang ingin mendirikan usaha sendiri. Hal itu disebabkan oleh eksistensi penyihir yang masih menjadi pondasi kekuatan kekaisaran.


Jumlah penyihir di kekaisaran bisa dibilang yang paling banyak di seluruh dunia. Dan berbeda dengan negara lain yang menganggap penyihir adalah eksistensi spesial, penyihir di kekaisaran tak lebih dari rakyat biasa. Yang membedakan mereka hanyalah pencapaian dan peringkat.


Semakin tinggi peringkat dan semakin besar pencapaian di kekaisaran, eksistensi penyihir itu akan semakin tinggi. Dan sebaliknya, jika penyihir memiliki peringkat dan pencapaian yang rendah, eksistensi penyihir itu tak lebih dari sebuah rakyat jelata.


Situasi inilah yang menyebabkan Knight menjadi profesi paling menjanjikan dan paling populer di kekaisaran. Siapa yang tak menginginkan penghasilan yang tetap?


Meskipun Knight bisa dibilang profesi yang cukup berbahaya tergantung situasi, terutama menjadi pasukan utama kekaisaran di saat genting, Knight juga menjanjikan promosi yang tak terbatas.


Orang orang yang berada di puncak kekaisaran sebagian besar berasal dari Knight. Tak aneh jika banyak penyihir yang lulus dari Academy langsung menjadi Knight karena berkeinginan memiliki karir yang cemerlang di masa depan nanti.


Tapi hal itu sama sekali tak menarik perhatian pemuda bernama Riku Kagami. Bagaimana dia tertarik? Dia sudah memiliki semua itu.


Sayangnya, memiliki semuanya bukan berarti membuatnya merasakan kebahagiaan.


Mengabaikan masalah itu, dia akhirnya menemukan bangunan Guild setelah bertanya pada beberapa orang di jalan.


Guild itu hanyalah cabang, jadi bangunan tak begitu besar. Bahkan tak lebih besar dari bangunan sekitarnya.


Setelah masuk, dia langsung saja menuju resepsionis.


Sebenarnya dia sudah menjadi anggota Guild dan langsung saja mengambil misi dari papan misi, tapi dia menuju resepsionis karena membutuhkan misi yang lebih spesifik.


"Aku ingin meminta misi yang tak butuh waktu lama pengerjaannya. Apakah misi itu ada?"


"Kami memiliki beberapa. Sebelum itu, bisakah aku menerima kartu anggota anda?"


Riku mengambil sebuah kartu identitas berwarna perak. Warna perak menunjukkan status dan peringkatnya di Guild. Warna itu menunjukkan kalau dia adalah anggota biasa, tetapi resepsionis itu sedikit terkejut karena melihat sesuatu yang tak biasa pada kartu itu.


Itu adalah bintang emas berjumlah 5.


Selain identitas dan peringkat di Guild, ada satu hal lain yang ada di kartu. Hal itu adalah tingkat keberhasilan dan pelaksanaan misi yang berhasil dilakukan.


Jumlah bintang 5 berarti misi yang dilakukan Riku selalu sempurna dan memuaskan. Hal ini begitu jarang terjadi di Guild. Tak aneh jika resepsionis itu terkejut.


"Sepertinya Anda akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang lebih menghasilkan jika memilih yang lain. Apakah masih memilih pekerjaan yang memiliki waktu pendek?"

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku memiliki alasan untuk memilih misi mudah dengan waktu terbatas."


"Begitu. Kalau begitu aku ambilkan."


Resepsionis mengembalikannya kartu identitas dan memberikan beberapa lembar kertas yang menjelaskan tentang misi.


Misi yang ada berupa membersihkan selokan, membantu pekerjaan rumah, menjadi pekerja dalam sebuah proyek, dan pekerjaan lain yang mudah dikerjakan.


Sekilas pekerjaan itu terdengar bisa dilakukan oleh siapapun tanpa perlu meminta bantuan Guild. Memang, tapi orang yang menjalankan misi dari Guild akan dijamin oleh Guild. Hal itu tentu saja memudahkan orang yang ingin mendapatkan bantuan dari tenaga asing.


(Misi di ibukota memang berbeda jika dibandingkan dengan misi di kota lain)


Sejak menjadi anggota Guild, Riku tak pernah menjalankan misi di ibukota. Ini membuatnya sedikit terkejut dengan perbedaan dengan kota lain.


Perbedaan yang paling mencolok adalah jarang sekali ditemukan misi yang berhubungan dengan monster. Sebagian besar misi berhubungan dengan masalah orang orang yang mengandalkan bantuan tambahan.


"Bisakah aku mendapatkan misi yang berhubungan dengan monster?"


Riku memang tak menemukan misi seperti itu, tapi tak mungkin tak ada.


"Misi seperti itu memang ada, tapi itu sudah dipesan oleh Academy."


"Dipesan?"


Ini baru pertama kalinya Riku mendengar kalau misi bisa dipesan.


"Misi menaklukkan monster cukup jarang di ibukota, karena itulah setiap kali muncul akan langsung dipesan oleh Academy sebagai pelatihan murid. Jika dalam waktu tertentu tak ada yang menjalankan misi, barulah misi diberikan pada anggota Guild."


Para murid Academy mudah menemukan lawan penyihir lain sebagai lawan tanding, tapi tidak dengan monster.


Monster yang berada di dekat ibukota sangatlah jarang. Bahkan karena sering dilakukan pembersihan oleh Knight, monster di dekat ibukota bisa dibilang hampir tak pernah ada.


Jika ingin melatih para murid bertarung dengan monster, pihak Academy tidak memiliki pilihan selain pergi keluar ibukota. Pilihan itu tentu saja memerlukan anggaran yang tidak sedikit.


Meskipun pihak sekolah sudah mendapatkan anggaran untuk melakukan misi di luar ibukota, jika ada cara menghemat anggaran, pasti akan dilakukan.


Riku sadar tak bisa berharap banyak pada misi itu.


"Tapi kau sangat beruntung. Misi menaklukkan monster yang tersisa akan diberikan pada anggota Guild jika pihak Academy tak mengambilnya dalam waktu satu jam. Aku bisa memberikannya padamu."


"...terima kasih."


Sayangnya, keberuntungan itu sudah habis. 20 menit sebelum waktu habis, dua murid dari Academy mengambil misi penaklukan misi yang tersisa.


Riku hanya bisa mengutuk dalam hati.


Mengalahkan monster adalah cara tercepat. Jika dia mengambil misi lain, dia harus menahan lapar lebih lama.


Tapi tampaknya dia harus melakukannya.


Riku kemudian memilih untuk mengambil misi lain yang setidaknya membutuhkan waktu paling sedikit. Saat memilih itulah dia didatangi oleh dua murid Academy yang mengambil misi penaklukan.


"Apa kau orang yang ingin mengambil misi penaklukan monster?"


Riku tak begitu mengerti. Tetapi dia tak begitu suka dengan nada gadis itu. Benar, dua murid Academy adalah para gadis. Dan dari seragam berwarna merah yang mereka kenakan, mereka berasal dari Flame Academy.


"Niatnya seperti itu, tapi karena pihak Academy sudah mengambilnya, aku berniat mengambil misi lain. Kalian tak perlu cemas aku akan merebut misi kalian."


Riku menjawab dengan sopan. Dia tahu meladeni mereka hanya membuatnya dalam masalah.


"Kau!!!"


Tapi usaha Riku sia sia. Entah kenapa gadis itu justru marah.


"Tenangkan dirimu, Resla. Itu bukan salahnya berpikir seperti itu setelah sikap yang kau tunjukkan padanya. Ingat, kita menemuinya untuk meminta bantuan, bukan membuat masalah."


Gadis lainnya begitu lemah lembut seperti seorang dewi. Riku merasa tersentuh.


"Maafkan temanku karena tak sopan. Perkenalkan, namaku Lori Von Amerias. Sedangkan dia Resla Von Derial.


Kami berdua berasal dari Flame Academy."


"Salam kenal. Kau bisa memanggilku Riku."


Keduanya tak diragukan lagi adalah bangsawan atau berasal dari keluarga terhormat di kekaisaran. Jika melihat status, keluarga mereka tak akan sebanding dengan keluarga Riku. Karena itulah dia tak memberikan nama belakangnya.


Riku juga tak memberikan nama belakang di kartu identitas Guildnya. Mengingat nama besar keluarganya, pasti akan ada kehebohan jika seorang Kagami menjadi anggota Worker Guild.


Bagaimanapun juga, Kagami adalah keluarga terkuat nomor 2 di kekaisaran.


"Lori, kenapa harus bersikap sopan pada Worker biasa seperti dirinya. Jika mencari bantuan, kita bisa mencari orang lain."

__ADS_1


Worker selain Riku cukup banyak di sana. Seperti Riku, mereka memilih misi dan juga beristirahat setelah menyelesaikan misi.


"Ini bukan masalah Worker biasa atau bukan. Ingat, kita memerlukan orang yang kompeten dan bisa dipercaya. Aku lihat hal itu bisa ditemukan pada Riku."


"Berbeda denganmu, aku tak bisa melihatnya. Lagipula jika ingin dipercaya, seharusnya dia memperlihatkan wajahnya."


Karena Riku tak ingin mencolok, dia masih memakai kerudung jubahnya. Rasa curiga Resla suatu yang normal.


"Jika tak ada keperluan, aku akan mengambil misi. Jika takdir menentukan, kita akan bertemu lagi."


Riku berniat pergi, tapi tangannya dipegang oleh Lori.


"Tunggu. Aku minta maaf karena tak menjelaskan dengan jelas. Selain itu harap maklum, Resla adalah orang yang sulit percaya dengan orang asing. Sebenarnya dia cukup baik pada orang yang sudah dia kenal."


"Lori, kenapa kau berkata seperti itu?"


Wajah Resla memerah. Tak hanya karena malu, tapi juga kesal.


"...kalau begitu, tolong jelaskan."


Lori lalu memberikan kertas yang menjelaskan detail misi. Misi itu berupa pembersihan monster peringkat F, tikus raksasa yang menghuni gorong gorong ibukota.


Melihat lokasi, misi ini tidak cocok dilakukan oleh anak bangsawan seperti mereka. Tak aneh jika misi itu diambil hampir di saat terakhir.


"Ada masalah dengan itu?" Tanya Riku sambil memiringkan kepalanya.


"Akan aku jelaskan dari awal. Di Academy, setiap murid wajib mendapatkan poin kontribusi yang didapat melalui misi. Poin itu menjadi salah satu faktor penting dalam kelulusan nanti. Yang menjadi masalah, jika poin tidak cukup, para murid akan tinggal kelas."


"Apakah kau ingin mengatakan kalau poin kalian tidak cukup?"


"Agak memalukan, sayangnya begitu."


Itu sedikit aneh.


Pihak Academy pasti memiliki cukup misi untuk para murid agar memiliki poin yang cukup untuk naik kelas. Jika tidak, bagaimana mereka bisa meluluskan ribuan penyihir setiap tahun?


Lalu keduanya adalah anak orang yang berpengaruh. Mendapatkan misi seharusnya suatu yang mudah bagi mereka.


"Pihak Academy memang menyiapkan banyak misi untuk para murid, tapi kadang persaingan antara pada murid begitu intens sehingga membuat mereka bersaing untuk mendapatkan poin yang paling banyak. Hasilnya seperti yang terlihat, jika tak beruntung, ada murid yang tidak mendapatkan cukup poin seperti kami."


"Jika seperti itu, bukankah pihak Academy memberikan jalur alternatif agar bisa naik kelas meskipun tak memiliki poin yang cukup?"


"Memang, jalur alternatif itu adalah duel antara para murid. Para murid tidaklah harus menang, yang terpenting adalah menunjukkan kemampuan terbaik dalam pertarungan."


"Kalau begitu bukankah tidak ada masalah?"


Lori menggelengkan kepala dan wajahnya pucat.


"Akan baik baik saja jika kami berdua adalah penyihir yang ahli dalam pertarungan, sayangnya kami berdua bukan."


Meskipun penyihir dikatakan sebagai makhluk yang dilahirkan untuk bertarung, tapi pada kenyataannya penyihir bisa melakukan hal lebih dari itu.


"Aku ahli dalam hal alkimia, sedangkan Resla ahli dalam teknologi sihir. Jika kami bertarung, hasilnya bisa terlihat jelas."


"Karena itulah kalian memilih melaksanakan misi menaklukkan monster?" tanya Riku memastikan.


Meskipun saat ini teknologi sihir dan alkimia mulai mendapatkan perhatian khusus dari pihak kekaisaran, tetap saja kedua bidang itu belum banyak peminatnya.


Sihir bersinonim dengan pertarungan. Tak aneh jika sampai sekarang kekaisaran lebih mengutamakan sihir untuk keperluan militer.


"Begitulah. Kami menemukan misi ini setelah mencari bersusah payah. Yang menjadi masalah lain adalah kami tak memenuhi syarat untuk melaksanakan misi."


Riku akhirnya mulai memperhatikan syarat pelaksanaan.


Syarat itu mudah dia penuhi, tapi tidak dengan keduanya.


'Bagi murid Academy, setidaknya tiga orang dengan peringkat Red atau penyihir peringkat B'


"Kami berdua peringkat C dan peringkat Guild kami adalah White. Jika kami tak mencari orang tambahan yang memenuhi syarat, kami tak bisa melaksanakan misi dan artinya kami tak mendapatkan poin. Karena itulah, tuan Riku, apakah anda mau membantu kami?"


Riku agak terkejut dengan sikap Lori yang begitu hormat padanya.


Tetapi itu tak penting. Setelah mendengar semua itu, bagaimana dia bisa menolak.


"Baiklah, aku akan membantu."


Mendengar itu, Lori tersenyum senang. Lalu meskipun Resla tak menunjukkan rasa senangnya, dia tak melakukan penolakan.


"Kalau begitu kita bisa langsung melaksanakan misi. Oh sebelum itu, bolehkah aku tahu peringkat Riku sebagai penyihir."


"Aku hanyalah penyihir peringkat B."

__ADS_1


__ADS_2