
"Sudah lama aku tak makan ini. Hmm.. sungguh manis.."
Dengan senyuman Charlmilia menikmati sebuah permen yang bisa dibilang cukup jarang ditemukan di ibukota.
Permen transparan dengan bentuk bundar sekilas seperti sebuah lollipop, tetapi itu sebenarnya sebuah ekstrak buah yang kemudian dibekukan. Tentu ini terdengar sederhana, tetapi yang membuatnya sulit ditemukan adalah buah yang dipakai sebagai bahan sangatlah jarang dan sulit diolah.
"Kita beruntung karena masih mendapatkan sisa. Yah.. aku mengerti kenapa permen ini populer, tetapi ini sama saja dengan perampokan."
Karena langka, maka permen dijual terbatas dan harganya mahal. Tetapi tak ada tanda peminat berkurang.
Hal itu karena selain manis, permen itu begitu segar sehingga membuat orang bersemangat lagi. Alasan itulah yang membuat permen itu cocok untuk sebagai hadiah.
"Apa kau mengeluh karena uang?"
"Tidak. Lalu sebaiknya kita pergi kemana lagi? Aku harap kita sedikit menjauhi keramaian karena tempat itulah yang paling dicurigai oleh Holy Knight."
"Fufufu.."
Charlmilia tertawa senang karena saat ini mereka melakukan hal yang bisa dibilang sangat menarik.
"Apa ada yang lucu?"
"Tidak. Aku hanya berpikir kau sudah memiliki ide kemana kita akan pergi. Tetapi sepertinya belum."
"Mau bagaimana lagi. Ini rencana tak terduga. Hm.. bagaimana kalau kita pergi ke tempat pembuatan senjata sihir?"
"Apa tidak ada tempat lain?"
Charlmilia terlihat kecewa, namun jika mengingat siapa Kuro, saran seperti itu sangat wajar.
"Bukannya aku memaksamu, namun di sana ada seorang yang aku ingin kenalkan padamu."
"Siapa?"
Charlmilia terlihat tertarik.
"Kau tahu bangsa Dwarf?".
"Seingatku mereka adalah bangsa yang sekarang hampir punah. Keahlian utama mereka adalah sebagai pengrajin, terutama pengrajin senjata. Senjata yang mereka ciptakan bisa dibilang adalah yang terbaik di dunia."
Kuro tersenyum setelah mendengar itu.
"Benar. Orang yang ingin aku kenalkan padamu adalah salah satu dari mereka. Mungkin kau tak tahu, tetapi sebagian pengetahuan yang kau miliki itu salah."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Entahlah.. "
Mengabaikan Charlmilia, Kuro melangkahkan kakinya. Charlmilia ingin lebih banyak bertanya, tetapi dia tahu percuma. Dia tak punya pilihan selain mengikuti.
Sekitar setengah jam, keduanya tiba di wilayah pembuatan senjata sihir. Bisa dibilang tempat ini adalah tempat yang paling tepat untuk menemukan senjata di ibukota.
Karena banyak tempat pembuatan dan sekaligus toko, maka tak mengherankan jika wilayah ini memiliki suhu yang paling panas. Meskipun begitu, hal ini tak mengurangi niat para pembeli. Dan meskipun beberapa hari yang lalu terjadi kekacauan, semuanya sudah kembali seperti biasa.
"Apa kita akan pergi ke salah satu toko ini?"
"Begitulah."
Tanpa banyak penjelasan Kuro terus melangkahkan kakinya. Dia sering melewati toko besar yang memiliki banyak pembeli dan populer. Selain itu, senjata yang dipajang di toko bisa dibilang kualitas nomor satu. Tetapi tak ada satupun yang membuat Kuro tertarik.
Tentu ini terasa wajar mengingat Kuro memiliki pedang paling kuat di dunia, Lic. Sayang sekali dia tak membawanya saat ini.
Kuro lalu memasuki sebuah toko yang bisa dibilang sepi dan senjata yang dijual bisa dibilang sangat sedikit. Bahkan sebagian merupakan pisau dapur.
"Kuro?"
"..."
Mengabaikan Charlmilia, Kuro langsung saja memasuki toko tanpa permisi.
Dan di saat itulah sebuah benda melayang tepat ke arahnya. Itu adalah sebuah kapak yang dilempar dengan kecepatan tinggi. Normalnya orang akan sulit menghindar, tetapi Kuro hanya memiringkan kepalanya sedikit.
"Seperti biasa kau masih sehat, Hakor."
"Tch! Jadi benar kau huh!"
Seorang pria pendek dengan janggut putih lebat menyambut mereka dengan wajah tak senang. Meskipun pendek, namun dia memiliki tubuh yang kekar dan kuat. Itu bisa terlihat dari ototnya yang terlatih dan besar.
Tak seperti manusia, telinga orang tua ini sedikit panjang dan meruncing.
"Apa kau kecewa?"
Kuro tersenyum dan mengambil kapak yang menancap di tembok. Beratnya mencapai ratusan kilo, tetapi itu bukan hal yang sulit bagi Kuro.
"Ha.. aku hanya berharap kau seorang pelanggan, tapi ternyata hanya seorang bocah tengik. Hm? Siapa gadis yang bersamamu?"
Berbeda dengan sebelumnya, Hakor menunjukan wajah penasaran pada Charlmilia.
"Namaku Charlmilia Ven Cellvain. Salam kenal."
"Kau bisa memanggilku Hakor. Hm.. Cellvain?"
Nada bicara Hakor menjadi lembut dan ramah. Mungkin ini karena Charlmilia adalah seorang gadis.
Perubahan sikap yang dia tunjukan pada orang lain membuat sulit ditebak karakternya. Atau mungkin Hakor adalah tipe orang yang merepotkan.
"Benar. Dia adalah putri jendral Magil Ven Cellvain. Sekarang kau mengerti kenapa aku membawanya?"
"Hmm.."
Hakor menggaruk garuk jenggotnya dan terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Baiklah. Aku mengerti. Sebelum itu, aku akan mengetes dia pantas atau tidak. Nona, senjata apa yang paling nyaman bagimu?"
"Eh? ... aku pikir sebuah rapier."
Charlmilia terkejut dengan arah pembicaraan yang tiba tiba berubah. Tetapi jika bertanya mengenai senjata, maka senjata yang saat ini paling cocok dengannya adalah sebuah rapier.
Memang dia bisa menciptakan Magic Arm berupa pedang kembar, tetapi jika dibandingkan dengan rapier pemberian Irho, maka kekuatan dan kenyamanan sangat berbeda.
"Humu.. kalau tak salah aku punya sesuatu yang seperti itu."
Hakor memasuki belakang toko dan mengambil sesuatu. Suara besi berjatuhan terdengar seperti sebuah kekacauan.
Tak berapa lama kemudian Hakor kembali dengan membawa sebuah pedang, tidak, lebih tepatnya sebuah rapier dengan desain yang sangat biasa. Tak ada ornamen atau sebuah tanda yang menunjukkan itu buatan khusus.
"Kau bisa menggunakan senjata ini. Sekarang, mari kita ke ruang bawah tanah."
Charlmilia menerima dengan tanda tanya.
Tanpa banyak kata, Hakor menekan sebuah tombol rahasia di dinding dan di saat itulah sebuah ruang rahasia terbuka. Anak tangga menuju bawah terlihat dari celah lantai.
"Kuro?"
"Kau hanya cukup mengikutinya. Tenang saja, aku juga akan mengikutimu."
Kemudian ketiganya menuruni anak tangga. Setelah beberapa menit, ketiganya sampai di tempat menyerupai sebuah arena duel.
Senjata banyak terpajang di pinggir arena yang membuat kesan kalau ini adalah toko yang sebenarnya, tetapi jika melihat dengan lebih detail, senjata yang terpajang merupakan senjata tumpul seperti digunakan dengan tujuan berlatih.
"Kuro, jangan bilang kalau..."
"Cepat naiklah dan buktikan pada pria tua itu kalau kau pantas dibuatkan senjata untuknya. Ayahmu pernah melakukan ini, jadi tenang saja."
"Huh?"
Ini baru pertama kalinya dia mendengar hal itu. Dan bagaimana Kuro bisa tahu?
Meskipun banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi dia tak punya pilihan selain naik ke arena. Dia berharap bisa mengetahui jawaban dari pertanyaannya dari pertarungan ini.
Berbeda dengan Charlmilia, Hakor memakai sebuah kapak dua sisi yang hampir sebesar tubuhnya. Bisa terlihat kalau kapak itu sangat berat, tetapi Hakor bisa memegangnya hanya dengan satu tangan seolah terbuat dari kayu kering.
"Kau siap?"
Charlmilia mulai berkeringat dingin. Aura Hakor tiba tiba berubah seperti seorang petarung yang tangguh.
(Aura ini.. tak diragukan lagi dia seorang veteran.)
Dwarf dikenal memiliki umur panjang, tetapi tak sepanjang umur Elf. Meskipun begitu, kekuatan fisik mereka bisa dikatakan sebagai salah satu yang terkuat. Bahkan mereka bisa menghancurkan sihir pertahanan penyihir pert S hanya dengan kekuatan fisik saja.
Sayangnya itu hanya rumor mengingat bangsa Dwarf sekarang tinggal sedikit dan dianggap punah. Karena itulah saat melihat sosok Hakor, Charlmilia saat ini seperti bermimpi.
(Jika dalam kisah itu benar, maka aku tak boleh menahan diri.)
Setelah menghela nafas, Charlmilia memposisikan diri dalam posisi siap bertarung. Dia berniat menggunakan teknik yang dia pakai saat melawan Maria. Dia ingin tahu sejauh mana perbedaannya dengan dulu.
"Aku siap!"
Hakor mengangguk dan melirik Kuro.
"Bocah tengik. Kau yang memberi tanda."
Kuro mengambil bongkahan batu dan melemparnya ke atas arena. Saat batu mendarat, pertarungan keduanya dimulai.
Charlmilia melesat dengan seluruh tubuh mengeluarkan kilatan petir. Dengan ini dia bergerak seperti sebuah railgun. Normalnya bergerak dengan kecepatan seperti itu akan sulit dikendalikan, tetapi Charlmilia bisa melakukannya dengan mudah.
Dia mengincar bagian belakang Hakor yang tak terlindungi. Dan serangannyapun mendarat tepat di bagian pundak belakang Hakor.
"Eh?!"
"Tidak buruk."
Seolah badannya terbuat dari besi, serangan Charlmilia sama sekali tak bisa menembus kulit Hakor. Bukan karena rapier Charlmilia tak tajam, namun seolah ada dinding yang menghalangi serangannya.
Charlmilia sadar Hakor lebih kuat daripada yang terlihat.
Dia lalu mengambil jarak dan sekali lagi melesat. Kali ini dia menyerang dengan teknik tusukan. Mengerti rapier tak akan menahan kekuatannya, dia mencoba menyalurkan elemen petir agar bisa membuat lebih kuat dan tahan lama.
Sadar serangan Charlmilia berbeda dengan sebelumnya, Hakor mulai bertahan. Dia mengayunkan kapak besarnya dan mengeksekusi teknik miliknya.
""
""
Kedua teknik beradu dengan kerasnya hingga menciptakan gelombang kejut.
Sayangnya, dalam hal kekuatan, sudah jelas siapa yang lebih unggul.
"Kuh!!"
Tubuh Charlmilia terpental ke belakang hingga hampir membuatnya terlempar ke luar arena.
"Itu tadi serangan yang bagus. Kau mengingatkanku pada seorang yang dulu menggunakan trik yang sama untuk menyerangku. Jujur saja hentikan itu. Meskipun aku sudah tua, namun serangan semacam itu tak akan mempan."
"..."
__ADS_1
Charlmilia sekali lagi bersiap dengan posisi bertarung dan bersiap menyerang.
Kilatan menyambar dan Charlmilia berubah menjadi banyak lalu menyerang Hakor secara bersamaan.
Dengan desahan berat, Hakor sekali lagi mengayunkan kapaknya. Dia seolah sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Charlmilia.
""
Semua Charlmilia menghilang dan musnah. Sosok yang asli tak terlihat di manapun. Lalu di saat Hakor berhenti, Charlmilia menyerang dari titik buta.
"Bagus. Tetapi itu tidak cukup."
"Kyahh!!!"
Tiba tiba tubuh Charlmilia terpental oleh sesuatu. Dia tak tahu apa yang terjadi, tetapi dia bisa berhasil mendarat.
"Bocah, aku tak mengerti kenapa kau membiarkan nona ini menemuiku, tetapi seharusnya kau tahu apa yang terjadi dia gagal di ujianku."
Mata Hakor fokus pada Kuro. Dia seolah menganggap pertarungannya dengan Charlmilia tak lebih dari latih tanding melawan anak kecil.
"Tentu aku tahu."
"Jika seperti ini terus dia akan gagal. Dia sama sekali tak paham arti dari sebuah senjata. Mana mungkin aku membuatkan senjata untuk seorang seperti dia."
"Kuro, apa yang kalian bicarakan?"
Kuro tersenyum karena merasa wajar Charlmilia ingin tahu.
"Apa kau tahu siapa pak tua ini?"
Charlmilia menggelengkan kepalanya.
"Paman Hakor Defandar adalah pembuat senjata paling terkenal di negeri ini. Sebagian besar senjata harta negara merupakan buatannya. Karena alasan inilah banyak yang ingin dibuatkan senjata olehnya. Tetapi seperti yang kau lihat sendiri, dia bukanlah orang yang akan membuatkan senjata dengan mudah. Sebagai informasi tambahan, dia adalah guru dari paman Irho."
"...Huh?"
Karena terlalu banyak informasi yang dia terima, saat ini otaknya sulit menerimanya. Tetapi dia paham senjata yang dibuat Irho memang kualitas super karena mampu menahan salah satu magic arm terkuat di dunia.
Melihat kemampuan itu, Charlmilia pernah berpikir bagaimana Irho membuatnya. Tentu awalnya dia berpikir semua itu bisa dilakukan karena Irho merupakan penyihir elemen besi, tetapi semua itu salah. Penyihir besi belum tentu bisa melakukan sejauh itu berapa banyak tahun dia berlatih.
Satu satunya penjelasan adalah Irho belajar dari seseorang.
"Irho huh? ...bagaimana kabar bocah tengik itu?"
"Dia baik baik saja. Dia bahkan ikut bertempur dalam pertarungan kami. Ngomong ngomong, Charlmilia pernah menggunakan senjata yang dibuat Irho. Karena itulah aku yakin dia mengerti kalau senjata bukanlah mainan."
"..."
Hakor terdiam dan melihat ke arah Charlmilia dengan teliti.
"Nona, bagaimana pendapatmu dengan senjata yang dia buat?"
Charlmilia tak langsung menjawab dan berusaha mengingat kembali apa yang dia rasakan saat menggunakan rapier buatan Irho.
"Meskipun itu pertama kalinya aku menggunakan senjata yang terbuat dari Orichalcum, tetapi senjata itu begitu sempurna dan nyaman seolah senjata itu dibuat untuk diriku. Karena itulah saat aku tahu senjata itu dia ambil kembali , aku sedikit sedih."
"Lalu?"
"Jika mengenai kualitas, aku bisa menggunakan senjata itu tanpa harus kawatir akan hancur meskipun menerima serangan terkuat di dunia. Sayangnya aku tak tahu sejauh mana kekuatan rapier itu karena aku mengganti senjataku saat pertempuran."
"..."
Hakor sekali termenung dalam lamunannya dan melihat Charlmilia sekali lagi.
"...Baiklah. Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. Jika kau bisa mendaratkan satu serangan padaku, maka kau akan lulus. Aku berjanji akan membuatkan senjata yang membuatmu berpikir untuk tak pernah menggunakan Magic Arm milikmu lagi."
"..."
Charlmilia tak bisa berkata kata setelah mendengar itu. Tetapi jika semua yang dikatakan Kuro tentang Hakor benar, maka tak mengherankan jika banyak yang ingin dibuatkan senjata oleh Hakor.
Entah mengapa dia tersenyum dan darahnya memanas karena tak bisa menahan diri untuk segera bertarung.
"Kau benar benar anaknya. Ekspresi itu sama seperti dulu."
"...maaf, tapi bisakah kau tak menyebut ayahku dalam pertarungan ini!"
"Hoho.. begitu. Sepertinya dia memang tak bisa menjadi ayah yang baik. Kalau begitu kau pasti akan senang setelah mendengar ini. Ayahmu, meskipun sekarang dia seorang jendral, dia tak pernah sekalipun bisa menggores tubuhku, jadi bagaimana kau bisa yakin akan melakukannya?"
"!?"
Charlmilia terkejut, namun di saat yang sama dia semakin bersemangat.
(Jika aku bisa melakukannya, bukankah berarti aku akan... Tidak..)
"Sekarang semua itu tidak penting. Aku adalah diriku sendiri, bukan ayahku. Aku hanya harus menggunakan seluruh kemampuanku dan melakukan yang terbaik."
"Itu semangat yang bagus, Charlia. Tetapi dengan semangat saja kau tak akan bisa menembus dinding pertahanan miliknya. Bagaimanapun juga dia bukanlah penyihir, tetapi pengguna Spirit Art."
"..."
Charlmilia mengangguk tanda mengerti. Di saat yang sama akhirnya dia paham kenapa meskipun dia merasakan Hakor menggunakan sihir, namun sihir itu berbeda dari selama ini yang dia rasakan.
(Jadi inikah pengguna Spirit Art?)
Energi sihir yang terasa bukan hanya kuat, namun seolah hidup dan memiliki pemikiran sendiri. Bisa dibilang inilah yang membedakan Magic Art dan Spirit Art.
(Kalau begitu bukan berarti aku tak memiliki kesempatan)
Selain kekuatan yang seolah hidup, pengguna Spirit Art memperoleh kekuatan mereka dari eksistensi yang disebut Spirit. Jika Magic Art diperlukan membangkitkan kekuatan diri sendiri agar menjadi lebih kuat, maka kekuatan Spirit Art bergantung pada eksistensi spirit yang membuat kontrak dengan pengguna.
Contohnya dalam kasus Laila, jika Laila ingin menggunakan kekuatan Lic mungkin saat ini dia bisa memiliki kekuatan setara Paladin.
Meskipun tak tahu, bukan berarti tak ada cara. Yang menjadi masalah adalah ujian ini mengharuskan Charlmilia menggunakan senjata yang diberikan Hakor untuk membuat goresan padanya.
Sekilas senjata itu terlihat jelek, tetapi setelah mencobanya, bisa dibilang itu adalah senjata yang memiliki kualitas baik.
"Paman, aku mulai!"
Tak ingin terlalu banyak berpikir, dia melesat maju. Menemukan cara menalahkan lawan sambil bertarung adalah ciri khasnya. Mana mungkin dia hanya berdiam diri saja di tempat.
Sama seperti sebelumnya, dia menggunakan elemen petir untuk memperoleh kecepatan tinggi. Dia memilih ini karena hanya inilah waktu Hakor memilih bertahan. Dengan kata lain serangannya akan berakibat fatal atau setidaknya memiliki kekuatan yang cukup untuk menembus dinding pertahanan Hakor.
Lalu dia mengelilinginya sehingga dia terlihat memiliki kembaran.
"Begitu... Hal ini membuatku sulit menebak dari mana arah serangan. Menarik."
Charlmilia menyerang. Dia menusuk dari belakang Hakor. Hakor menyadari serangan dan bertahan, tetapi serangan lainnya datang dari sisi lain. Hakor memilih memperkuat dinding pertahanan dan disaat itulah suara benturan keras terdengar.
"!?"
Lalu di saat Hakor menyadarinya, dia terkepung oleh bayangan Charlmilia.
Ledakan keras terjadi dan akhirnya Charlmilia berhasil mengenai Hakor.
Tetapi-
"Tch!"
Sosok Charlmilia muncul dengan wajah kesal.
Dia memang akan berhasil menembus pertahanan Hakor, tetapi dia mengurungkan niatnya pada serangan terakhir.
"Kau cukup pintar untuk sadar kalau senjata yang kuberikan akan hancur dan itu artinya kau gagal dari ujianku."
Sosok Hakor terlihat tanpa ada luka berarti.
Tetapi untuk alasan tertentu dia terlihat kesal daripada senang.
"Tetapi kenapa kau melakukannya? Kau seharusnya tahu dengan pedang itu kau tak akan mampu menembus pertahananku."
Benar. Senjata yang diberitakan Hakor memang berkualitas baik, namun selama dia menggunakannya, Charlmilia sadar kalau dia tak akan mampu menembus pertahanan Hakor dengan rapier itu.
Tak peduli bagaimana cara dia memperkuat atau menggunakan sihir untuk membuat lebih tahan lama, senjata itu akan hancur saat menembus pertahanan Hakor.
"...!?"
Saat menyadari itu, semuanya sudah terlambat.
"Kau akhirnya menyadarinya. Aku memang membuat sebuah ujian untuk menembus pertahananku dengan senjata yang kuberikan padamu, tetapi bukan berarti kau tak boleh menghancurkannya. Nona, maaf. Kau gagal."
"..."
Entah mengapa Charlmilia tak begitu bersedih saat dia gagal. Itu bukan karena dia tak ingin dibuatkan senjata oleh Hakor, hanya saja saat ini entah mengapa dia merasa lega.
"Kalau begitu maaf, paman Hakor. Jika aku gagal di ujianmu, itu artinya aku memang tak pantas mendapatkan senjata yang melebihi Magic Arm milikku."
"Tch... Ini pertama kalinya ada yang mengatakan itu saat tahu mereka gagal. Apa ada yang salah dengan otakmu?"
Charlmilia justru tersenyum.
"Aku selalu berpikir senjata merupakan suatu yang harus digunakan untuk melindungi seseorang. Tetapi dengan cara melindungi aku di saat yang sama harus menyerang seseorang. Pada akhirnya itu hanyalah sebuah kebenaran yang diselimuti oleh kebohongan. Bagi yang percaya melindungi, maka senjata akan melindungi. Hal ini juga sebaliknya. Tetapi hari ini aku sadar, senjata juga merupakan suatu yang diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan. Entah apakah senjata itu berupa pedang atau sebuah pengetahuan."
Setelah mendengar itu, Hakor tersenyum puas.
"Benar. Senjata bisa berupa dalam bentuk apapun. Bahkan ada pepatah pena lebih tajam dari sebuah pedang. Karena itulah bagi kami para Dwarf, meskipun kami membuat senjata, namun jika senjata itu digunakan oleh orang yang salah sama saja dengan membunuh diri sendiri. Tidak, lebih tepat jika disebut sebuah penyesalan dan sebuah rasa malu yang tak akan hilang meskipun kau mati. Jika kau mengerti hal itu, maka aku tak akan menyesal membuatkanmu."
"...eh?"
Untuk sesaat Charlmilia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kau bisa mengambil pesananmu satu bulan lagi. Sekarang pergi."
"Eh?"
Charlmilia sekali lagi dibuat bingung. Tetapi saat melihat Kuro, dia hanya mengangguk dan memberi tanda untuk segera menuruti Hakor.
"Terima kasih, paman."
Meskipun tak menunjukan wajah senang, namun Hakor menunjukan aura yang penuh semangat. Karena itulah meskipun mereka diusir, Charlmilia justru tersenyum.
♦♦♦
Setelah meninggalkan toko Hakor, keduanya melanjutkan kegiatan tanpa tujuan mereka.
"Paman Hakor sepertinya tipe orang yang tak mau jujur."
"Begitulah. Ngomong ngomong selamat karena berhasil lulus ujian."
"Apa kau berpikir aku lulus?"
Kuro mengangguk dengan senyuman.
"Dia terlihat mendapatkan semangatnya yang baru. Aku yakin dia saat ini sudah mulai menempa logam panas."
"Eh secepat itu?"
__ADS_1
"Ya. Jangan remehkan semangat seorang Dwarf."
Charlmilia tercengang, tetapi dia mengerti kalau bangsa Dwarf memang bangsa pengrajin terbaik.
"Sepertinya aku memang harus mengambil pesananku bulan depan."
"Jika kau penasaran tentang Hakor, aku akan memberitahumu. Jadi jangan sungkan."
"Ahaha.. kau benar. Aku memang penasaran. Bahkan banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tetapi sepertinya harus menahan diri. Kuro, bisakah kita pergi ke tempat itu?"
Kuro melihat tempat yang ditunjuk Charlmilia.
"Kau ingin kita pergi ke menara jam?"
"Ya. Aku ingin melihat sekali matahari terbenam dari sana."
Menara jam yang ada di tengah kota sebenarnya bukan tempat untuk umum. Diperlukan izin khusus untuk bisa naik ke sana.
"Baiklah. Tetapi aku akan meminta bantuan saat aku terjebak dalam masalah."
Charlmilia hanya tersenyum.
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai menara jam. Selama itu mereka harus berhati hati dengan Holy Knight yang sibuk mencari mereka.
Saat tiba, mereka dihadang oleh penjaga yang bertugas mengawasi dan merawat menara. Tentu keduanya dilarang masuk apalagi keduanya tampak mencurigakan. Tetapi saat Charlmilia menunjukan diri, penjaga itu akhirnya mengizinkan mereka.
"Menjadi tuan putri sepertinya banyak keuntungan."
Meskipun belum resmi, tampaknya semua orang sudah mengetahui dia akan menjadi putri. Bisa dibilang ini sisi baik dari rumor yang beredar.
"Jangan lupa kita hanya punya waktu sebentar. "
Charlmilia tertawa cekikikan.
Tak ada lift di menara. Yang ada adalah tangga memutar yang menuju ke atas secara langsung.
Di saat naik itulah mereka bisa melihat mesin jam raksasa yang dibuat dari teknologi sains dan sihir. Menara jam yang mereka masuki sebenarnya merupakan menara jam pertama yang dibangun di ibukota, karena itulah tempat itu bisa dibilang salah satu bangunan paling bersejarah.
Setelah mereka sampai di atas, mereka tiba di atap yang dikelilingi pagar . Ada bebebapa teropong untuk melihat pemandangan kota. Kenapa benda itu ada, itu karena dulu tempat ini dibuka untuk umum. Sayangnya karena menara jam sering rusak akibat orang yang tak bertanggung jawab, maka tempat itu ditutup untuk umum sampai sekarang.
"Kita sepertinya datang tepat waktu. Matahari belum sepenuhnya tenggelam."
Langit sekarang mulai berubah menjadi orange dan bercampur hitam. Itu juga menjadi tanda sudah berapa lama mereka bersenang senang.
"Waktu memang cepat berlalu."
Kuro tersenyum dan melepaskan topengnya. Dia tak butuh itu lagi.
"Ya. Ini hampir setahun berlalu saat kita bertemu. Terima kasih, Kuro."
"Kau tak perlu berterima kasih. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu."
"Tidak. Bukan terima kasih karena kau sengaja membawaku bersenang senang, tetapi suatu yang lain. Jika bukan dirimu, mungkin aku tak akan menjadi diriku yang sekarang."
Kuro memiringkan kepala karena tak mengerti, melihat itu Charlmilia hanya tersenyum.
(Tak apa apa jika kau tak tahu. Itu sudah cukup bagiku.)
"Tetapi bisakah kau memberitahuku siapa yang memintamu melakukan ini? Mungkinkah ayahku?"
Pertemuan Kuro dengan Charlmilia bukanlah sebuah kebetulan. Tak perlu banyak berpikir semua orang pasti akan menyadarinya. Apalagi mengingat mereka bisa lolos dari Holy Knight dengan mudahnya.
Jika melihat dari kedua hal itu, maka hanya ada satu orang yang mampu meminta Kuro, yaitu Sei.
"Semacam itulah."
"Begitu.."
Charlmilia tersenyum.
Dia kemudian melihat pemandangan matahari yang sepenuhnya akan terbenam. Bersamaan dengan itu lampu lampu kota mulai menyala sebagai tanda dunia malam telah dimulai.
"Kuro.."
"Ya?"
"Ini sungguh pemandangan yang indah. Aku senang bisa melihatnya bersamamu."
"Bagiku ini hanyalah tempat baru untuk mengajak Laila."
Mendengar nama Laila disebut, Charlmilia sama sekali tak terkejut.
"... Kuro...apakah kau melihat itu?"
"H-!?"
Kuro menoleh ke arah yang ditunjuk Charlmilia, tetapi di saat itulah dia merasakan bibir yang lembut dari Charlmilia.
Ya. Itu adalah ciuman. Ciuman pertama di antara keduanya.
Setelah beberapa saat, Charlmilia mulai melepaskan ciumannya dan melangkah mundur.
Wajahnya memerah bagai tomat. Di saat inilah Charlmilia tak terlihat tomboy, tapi terlihat seperti gadis pada umumnya. Gadis yang jatuh cinta.
"Maaf Kuro, tetapi aku sudah tak bisa menahan diri lagi. Bagaimanapun juga aku tak ingin menjadi yang tertinggal di antara mereka. Ngomong ngomong bagaimana rasa ciuman pertamaku?"
"....aku pikir manis."
"Ahaha.. mungkin karena aku habis makan permen tadi."
"..."
"..."
Keheningan terjadi di antara keduanya.
"Kuro, ...mungkin kau sudah tahu tentang perasaanku. Tetapi izinkan aku untuk mengatakannya."
"..."
"Kuro, ...aku mencintaimu..."
Angin dingin menerbangkan rambut topi Charlmilia dan membuat rambutnya terurai. Saat ini Charlmilia bagaikan malaikat yang membuat jantung siapapun berdecak kencang.
Bahkan bagi Kuro, serangan Charlmilia cukup mematikan bagi hatinya. Jika dia tak mencintai Laila lebih dulu mungkin dia akan langsung menerima pernyataan cinta Charlmilia.
Karena itulah-
"Charlia, maaf ak-"
"Aku tahu apa yang ingin kau ucapkan, Kuro. Tolong jangan biarkan aku mendengarnya."
Air mata mengalir dari kedua matanya.
Dia memang sudah bersiap akan ditolak, tetapi entah mengapa dia tak mau mendengar itu dari Kuro. Dia takut dan merasa sakit meskipun saat ini tak terluka.
"Maaf karena membuatmu melihat diriku seperti ini. Hanya saja satu hal yang harus kau tahu, ....aku akan selalu menunggumu. Tak peduli apakah aku akan menjadi nomor dua atau tiga, ...aku yakin suatu saat kau pasti akan jatuh cinta padaku. Karena itulah jangan menolakku."
"..."
Kuro tak berkata kata dan hanya bisa menatap Charlmilia yang menangis.
Memang dia sering menolak cinta seorang gadis, hanya saja ini pertama kalinya Kuro merasa suatu yang berat.
Dia tak tahu apakah itu sebuah rasa yang mulai tumbuh atau hanya karena tak ingin membuat Charlmilia lebih sakit lagi, tetapi satu hal yang pasti-
"Tidak. Aku tak menolakmu, Charlia."
"..."
Charlmilia mulai berhenti menangis setelah mendengar perkataan Kuro.
"Kau benar. Mungkin seiring berjalannya waktu aku akan jatuh cinta pada orang lain selain Laila. Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya, bukan karena hanya ingin menghiburmu."
Charlmilia tersenyum karena mendapatkan sebuah harapan baru. Dia merasa pengakuan cintanya adalah tindakan yang tepat.
Tetapi semua itu terkhianati saat mendengar kata Kuro selanjutnya.
"Tetapi sayang sekali aku tak punya waktu untuk mencintai orang lain selain Laila."
"!?"
Entah mengapa Charlmilia tak terlalu terkejut. Mungkin karena dia tahu ini adalah salah satu alasan Kuro menolak dirinya sekarang.
Di saat itulah Kuro tersenyum dan melihat ke arah langit yang penuh bintang.
"Charlia, jika kau menjadi Queen Lapis, aku yakin kau mendengar tentang diriku. Bagaimanapun juga dia memang memiliki mulut yang tak bisa dibungkam."
"..."
Perkataan Kuro mengingatkan Charlmilia pada saat pertemuannya dengan Lapis.
Saat itu Lapis memang menyinggung tentang Kuro, lebih tepatnya tentang King.
[Bagaimana manusia bisa datang kemari? Hm.. begitu rupanya. Kau telah membuat kontak dengan King. ...aneh, seharusnya King sudah tak ada lagi. Tunggu dulu! Karena aku terlalu lama tidur aku tak tahu apa yang terjadi dengan dunia bawah. Tch! Sepertinya aku harus menemui ibu. Tapi aku tak yakin dia memberitahu tentang kebenarannya.]
Saat mengingat itu, Charlmilia langsung mencoba menyambungkan semua kepingan yang mulai terhubung.
"... Kuro, jangan bilang kau..."
Kuro hanya tersenyum penuh misteri.
"Sama seperti Queen yang dipilih oleh Dragon King, lebih tepatnya Dragon God, King juga seorang yang dipilih. Bukti Queen yang dipilih adalah Dragon Gear dan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan dunia. Meskipun begitu, Queen bisa memutus kontrak jika Dragon King sudah merasa tak pantas."
"Kuro... Hentikan. Apapun perkataanmu selanjutnya, aku tak mau mendengarnya."
Tetapi Kuro tak berhenti.
"Tetapi King yang terpilih berbeda. Seorang King yang terpilih memiliki bukti berupa pedang putih dan kekuatan yang disebut sebagai <>. Dengan kekuatan itu kami datang dan melakukan peran kami. Entah itu sebagai penjahat atau sebagai pahlawan, tujuan kami hanyalah menjaga keseimbangan."
"Kuro...!!"
Air mata mengalir deras. Kali ini bukan karena cintanya ditolak. Saat ini ada suatu hal lain yang lebih menyakitkan daripada itu.
"Sayangnya, saat peran kami selesai. Kami tak akan kembali menjadi manusia normal. Kami akan menghilang bersama dengan eksistensi kami. Inilah yang membuat eksistensi King selama ini hanya menjadi sebuah rumor belaka."
".....Kuro... Kau..."
"Begitulah. Itulah alasan kenapa aku tak bisa mencintaimu atau orang lain lagi. Aku hanya ingin mencintai Laila di waktuku yang sedikit ini. Aku tak tahu kapan akan menghilang, tetapi setidaknya aku tak ingin menyesal."
Meskipun kejam, namun tak ada rasa sedih atau kecewa dari mata Kuro. Dia seolah sudah menerima semua hal itu.
"...Kuro. a-apa Laila tahu hal ini?"
"Tentu tidak. Mana mungkin aku membuatnya sedih? Aku tak mungkin bisa melakukan itu."
__ADS_1
"Tetapi, jika Laila tak tahu, bukankah itu sama saja dengan..."
"Aku tahu, Charlia. Aku tahu aku akan menyakitinya jika tak memberitahunya, tetapi hanya inilah yang bisa aku perbuat sebagai seorang suami yang mencintai keluarganya dan sebagai seorang King yang terakhir."