
Sementara itu, Laila, Serriv, Alva dan Alvi telah keluar dari hutan dan menemukan Kazt serta Ash pingsan karena dihajar Kuro. Ada gadis yang menolong Ash. Gadis itu adalah Lilia. Dia memberikan minuman ke Ash.
Setelah beberapa saat Ash sadar dan melihat malaikat didepannya.
"Ash, kau tak apa apa?"
"........"
Ash terbengong karena baru pertama kalinya menyadari bahwa Lilia begitu cantik. Meskipun mereka berteman sejak kecil, ini baru pertama kalinya Ash menganggap Lilia cantik dan manis. Bahkan dia tak peduli dengan Laila untuk sesaat meskipun dia gadis paling cantik di kelas 1.
"Ash?"
"err... Aku tak- eh?... lukaku sudah sembuh?"
Dia merasa aneh saat lukanya tiba tiba sembuh. Dia tak merasakan sakit, tapi dia masih lemas dan tak bisa berdiri.
"Syukurlah, tampaknya air yang diberikan Kuro benar benar manjur."
Lilia tersenyum lembut senang. Hal itu membuat Ash langsung memerah karena melihat senyuman Lilia yang begitu manis. Di saat itulah jantungnya berdebar dengan kencang. Dia telah jatuh cinta.
Sementara itu tak jauh dari mereka berdua, Kazt masih pingsan dan tak ada yang menolongnya. Karena itulah kelompok Laila bermaksud menolongnya, tapi Delia sudah sampai terlebih dahulu dan menendang kepala Kazt. Meskipun kasar, hal itu membuat Kazt sadar dan bangkit. Dia tak terluka parah seperti Ash, tapi tampaknya dia tak bisa bergerak untuk sementara waktu. Dengan kata lain dia baik baik saja dan sebaiknya diabaikan.
Setelah itu, Delia berlari dan bergabung dengan kelompok Laila.
Sekarang mereka berlima berlari bersama. Disaat itulah suara ledakan besar terdengar dan tekanan sihir yang kuat dirasakan oleh mereka berlima.
Tapi tak ada yang merasa kawatir atau cemas seperti tadi. Mereka sudah mulai terbiasa.
"Awalnya aku tak percaya dengan apa yang kalian berdua katakan, tapi apa benar yang menghajar mereka berdua adalah Kuro?"
Laila tersenyum pahit saat melihat luka yang dialami Ash dan Kazt. Laila tahu betul bahwa mereka dihajar hanya dengan ilmu bela diri (martial art).
"Kau sudah melihat buktinya kan, kenapa kau belum percaya?" jawab Alvi.
"Seharusnya kau senang karena tahu Kuro akan berhasil mendapatkan tiketnya, setidaknya hargailah usahanya."
".....ya. Kalian berdua benar.."
Laila tersenyum kecil karena senang bercampur heran.
Selain itu dia tak menyangka kalau Kuro benar benar kuat seperti yang diceritakan Alva dan Alvi, tapi kenapa dia mendapat peringkat F?
"Pering...kat F?"
Mata Laila terbuka lebar karena mulai menyadari bahwa ada yang aneh dengan itu. Dia ingat bahwa peringkat itu sangatlah jarang. Bahkan dalam 20 tahun terakhir tak ada peringkat F di Kuryuu Academy maupun di sekolah lainnya. Aneh. Atau hanya perasaannya saja?
Tapi jika peringkat itu adalah peringkat terlemah, bukankah harusnya ada lebih banyak murid yang peringkat F?
"...?!"
Lalu dia menyadari apa maksud dibalik peringkat F. Dia juga ingat kalau pernah membaca hal itu, tapi sekarang sudah lupa karena dia tak terlalu mempedulikannnya.
"...bodoh..."
Laila tahu kalau Kuro memiliki kecepatan dan kelincahan di atas rata rata. Lalu ditambah dengan hasil pertarungan antara anak lelaki di kelas, bisa menjadi sebuah bukti kalau kemampuan Kuro melebihi apa yang Laila bayangkan.
Tapi tetap saja itu tak mengubah kenyataan tentang Kuro bukanlah seorang penyihir. Ada batas yang bisa dia lakukan.
"...."
Dia kembali ingat kejadian seminggu yang lalu. Apakah kejadian itu akan terulang?
Sekali lagi Laila merasakan perasaan yang begitu takut dan cemas. Tak peduli apa yang orang pikirkan, Kuro sudah menjadi eksistensi spesial di hati Laila.
Laila mempercepat larinya dengan niat menyusul Kuro. Dia adalah sumber dari apa yang terjadi saat ini, setidaknya dia ingin ikut berjuang meskipun itu akan menyakiti harga diri Kuro.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan."
"Jujur saja, kau sebaiknya tak ikut campur urusan Kuro."
"!?"
Tiba tiba dari samping Laila, Alva dan Alvi muncul dan langsung saja menjegal Laila hingga terjatuh. Keduanya lalu menindih tubuh Laila hingga tak bisa bergerak.
"Hei... cepat menyingkir!! Aku harus cepat menyusul Kuro."
Laila memberontak dan berusaha bangkit, namun dia tak bisa karena mereka lebih kuat dan tentu saja berat.
"Setelah menyusulnya, apa yang akan kau lakukan?"
"Membantunya?"
Alva dan Alvi menebak apa yang dipikirkan Laila.
"Begitulah. Aku tahu Kuro itu kuat, tapi tetap saja mengalahkan para lelaki di kelas adalah suatu yang mustahil."
"Kau masih saja berpikir seperti itu setelah melihat apa yang bisa Kuro lakukan."
"Apa kau tak memiliki kepercayaan terhadap Kuro?" lanjut Alvi.
"Ini bukan tentang percaya atau tidak. Ini adalah tentang pertarungan yang mungkin akan membuat Kuro menyesal seumur hidupnya. Aku tak ingin itu terjadi."
Si kembar hanya saling melihat dan kemudian tertawa kecil.
"Sepertinya kau memang tak tahu apapun tentang Kuro. Dengar, aku katakan ini. Kuro itu lebih kuat daripada yang kau pikirkan."
"Saat kami bilang dia bisa mengalahkan semua para murid di kelas bukanlah sebuah kebohongan belaka atau sebuah imajinasi liar. Sebelum memulai menjadi pasangan, kau harus memiliki kepercayaan terhadap pasanganmu masing masing."
"Kak Alva, seperti kita tahu kenapa Kuro tak memiliki niat untuk berlatih dengan Laila."
"Ya.."
Perkataan keduanya membuat Laila bungkam.
Mereka benar.
Meskipun Laila sering menyebut Kuro adalah pasangan atau pacar, tapi dia sama sekali tak mencoba mempercayai kemampuan Kuro.
Bahkan setelah melihat apa yang Kuro lakukan seminggu yang lalu, itu masih belum membuat Laila bisa menyingkirkan sebuah pemikiran sederhana.
Kuro pernyihir peringkat F.
Pemikiran itu yang membuat Laila tak bisa mengakui kemampuan Kuro. Dan dia melakukan hal itu tanpa dia sadari.
Sepertinya pujian tentang peringkat S dan gelar gadis paling cantik membuat pikiran Laila menjadi sempit.
Ada banyak jenis kekuatan di dunia ini. Kekuatan yang dimiliki Kuro mungkin bukanlah sesuatu yang Laila kenal, tapi setelah melihat semua yang terjadi, dia memang harus mengakui kekuatan Kuro.
"Aku sudah tenang. Bisakah kalian menyingkir?"
"Kau sudah menemukan jalan yang kau pilih?"
"Entahlah..."
Mereka lalu melanjutkan lari.
Setelah insiden kecil itu, hubungan di antara mereka menjadi lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain.
Satu hal yang membuat Laila terkejut, mereka berempat sempat mengatakan 'aku sempat berpikir kalau Laila adalah orang yang sombong, dan menjengkelkan, tapi ternyata aku salah..'
Laila tak tahu harus senang atau sedih.
Jika melihat kembali saat dia masih di ibukota, apa yang terjadi saat ini mungkin suatu yang tak pernah dia bayangkan. Statusnya di sekolah cukup tinggi membuat dia hanya memiliki beberapa teman saja.
Tapi dia saat ini bertengkar, mengobrol, bahkan membicarakan asmara dengan teman baru. Dan yang terpenting, mereka melihat Laila sebagai seorang teman, bukan seorang putri Paladin atau penyihir peringkat S.
Ini merupakan keinginannya yang paling terdalam. Dia bahkan mengira situasi saat ini tak akan pernah terjadi.
Tapi semua itu terjadi hanya dalam waktu 1 jam berkat Kuro.
Ya. Kuro. Kuro Kagami. Dia adalah laki laki yang sanggup merubah kehidupan Laila meskipun tak pernah bersama. Dia juga satu satunya lelaki yang memperlakukan Laila seperti gadis normal di saat pertama kali mengenal. Lebih tepatnya pertemuan yang memalukan di toko pakaian dalam.
__ADS_1
Tapi berkat itu, dia bahkan bertemu dengan Fila yang merupakan sahabat masa kecilnya.
Dia adalah laki laki yang pertama kali mencium Laila tanpa ragu. Dia juga pacar pertama Laila.
Dan sebagai pacar, kini dia mempertaruhkan nyawa hanya demi sebuah janji.
(Dia adalah seseorang yang mampu merubah hidupmu meskipun hanya mengenal dan bersamanya... Kuro, siapa kau sebenarnya?)
Laila mulai bersemangat lagi.
Laila memutuskan untuk percaya Kuro akan menang dan selamat meskipun lawannya seluruh laki laki di kelasnya.
Selain itu, jika bisa selamat dari naga, seharusnya dia bisa selamat dari teman mereka.
Dalam perjalanan ke garis finish, Laila mulai merasakan rasa sakit di bagian lututnya. Dia berhenti dan memeriksa.
Tak disangka, ternyata lututnya lecet.
Kelompok mereka berhenti untuk mengobati luka Laila. Meskipun hanya lecet, perjalanan mereka masih jauh. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, bisa saja luka Laila semakin parah.
Di saat itulah Delia mengeluarkan botol kecil yang berisi air bening yang begitu menyegarkan. Yang lebih mengejutkan adalah efeknya. Luka Laila langsung sembuh tanpa bekas.
Hanya ada beberapa jenis ramuan sihir saja yang memiliki efek seperti itu.
"Apa itu?"
"Air mata Phoenix."
""""!?""""
Keempatnya tak memiliki pilihan untuk terkejut.
Air mata Phoenix dikenal sebagai ramuan sihir paling mujarab. Jangankan luka lecet, luka separah apapun bisa disembuhkan selama tubuh masih utuh.
Tak aneh dengan efek seperti itu, air mata Phoenix menjadi salah satu barang mahal dan langka. Dan saat ini mereka menggunakan hanya untuk luka lecet.
Jika mereka menceritakan hal itu pada orang lain, apa ada yang percaya?
"Aku.. dan .. Lilia diberikan dua botol... untuk mengobati laki laki yang terluka."
"Hmmm... begitu rupanya. Minuman yang diberikan Ash oleh Lilia tadi sudah dicampur dengan air mata Phoenix. Hal itulah yang menyebabkan Ash langsung sadar."
"Tapi Kuro benar benar pintar dalam menjodohkan orang, benarkan kak Alva?"
Alva mengangguk dan tersenyum, sayangnya Laila memasang wajah bingung karena tak mengerti maksud Alvi.
Dia tak sensitif soal asmara.
"....ummm apa maksud kalian?" tanya Laila.
"Mungkin kau tak tahu, namun Lilia sebenarnya menyukai Ash sejak lama. Mereka berdua teman masa kecil, ha ha.. kau pasti tak tahu itu kan?"
".........Aha.. begitu rupanya.."
Laila hanya tersenyum kecut. Dia mengerti Lilia menyukai Ash, tapi dia tak terlalu mengerti hubungannya dengan air mata Phoenix yang diberikan Kuro.
"Hei Laila, kau pasti tak mengerti kan?"
"Guhh.. kenapa kau bisa tahu?"
"Gadis tak sensitif sepertimu memang wajar jika tak tahu."
Mendengar itu Laila merasa jengkel, namun jika dibilang tak sensitif soal cinta, maka itu memang benar.
"Akan kujelaskan agar kau mudah mengerti. Ehemm... Kuro melukai Ash, lalu Lilia datang menolong bagai peri penyelamat. Apa kau mengerti?"
"Hmmm... jadi singkatnya sama seperti Kuro saat seminggu yang lalu? Tidak. Kurasa dia menyelamatkan nyawaku tanpa ada tujuan untuk merayuku, benar kan?"
""""........""""
"Eh?"
Kuro melakukan taktik yang sama untuk merayu Laila.
Entahlah. Tak ada yang tahu.
Tapi mereka semua tahu hasil dari insiden itu adalah Kuro berpacaran dengan Laila.
Keahlian Kuro yang lain atau hanya kebetulan?
"Sudahlah ayo cepat kita lanjutkan larinya, kita mengobrol sambil berlari saja."
Tanpa sepatah kata, Serriv dan 3 orang lainnya berlari mengikuti Laila dari belakang.
Menit berlalu dan akhirnya mereka masuk hutan bambu yang lebat. Disana mereka berlima cukup terkejut ketika melihat 3 teman laki laki mereka mengalami luka yang tak serius, namun mematikan.
Ini mengingatkan mereka teknik yang digunakan assasin untuk membunuh lawannya.
Namun Alva dan Alvi terlihat biasa saja karena mengetahui Kuro bisa melakukan itu dengan mudah.
Tak hanya itu, mereka bertiga cukup dikejutkan karena tak hanya Delia dan Lilia saja yang diberi air mata Phoenix oleh Kuro.
Ada gadis lain yang mengobati luka mereka dengan cara yang sama saat Delia mengobati luka Laila.
"Kurasa tak ada yang bisa kita lakukan disini, ayo cepar kita pergi."
Merekapun akhirnya melanjutkan lari 100 km yang begitu melelahkan. Meskipun penyihir memiliki stamina dan tubuh lebih kuat dari orang normal, namun 100 km masih merupakan jarak yang gila.
"Hei... sejak tadi ada hal yang mengganggu pikiranku."
Alva dan Alvi menoleh ke arah Laila dengan tatapan heran.
"Kalian berdua menyukai Kuro kan? Lalu bukankah Kuro hanya akan memilih salah satu dari kalian? Jika itu yang terjadi, apa yang akan kalian lakukan? Bukankah Kuro bisa mengenali kalian meskipun bertukar peran?"
Sekali lagi Laila menjadi mode detektif.
"Apa maksudmu, tentu saja kami berdua akan menjadi pacar, tidak, target kami adalah menikah dengan Kuro. Tak peduli siapa yang Kuro pilih, kami sudah siap menjadi orang nomor dua atau nomor tiga."
"Nomor tiga? Lalu siapa yang pertama."
"Tentu saja kau. Dasar.. kau tahu Kuro menyukaimu, namun kau masih tak sadar juga?"
Alvi tampaknya mulai jengkel.
"Hmm. Memang di negeri ini tak ada aturan kalau melarang mempunyai istri lebih dari satu, namun aku lebih heran saat kau tampaknya tak terlalu peduli saat tahu ada gadis lain menyukai Kuro?"
Perkataan Serriv menyadarkan Alva dan Alvi. Memang Laila cukup aneh saat mengetahui, lebih tepatnya tak menunjukkan reaksi berlebihan saat mengetahui ada orang lain menyukai Kuro.
"Laila, kau tak memiliki perasaan a-"
"Bukan. Aku tak bereaksi berlebihan karena aku tak memiliki hak untuk itu. Kami memang berpacaran, namun berpacaran karena janji dan bukan karena cinta. Meskipun aku sekarang tahu kalau Kuro menyukaiku, namun aku masih tak mengerti dengan apa yang kurasakan."
"""".........""""
"Karena itulah aku memberikan dia waktu seminggu untuk membuktikan apakah dia berhasil mendapatkan cintaku atau tidak, jika tidak, aku akan memutuskan hubungan pacaran kami dan menjadi partner biasa. Dan aku tak akan menghalangi kalian untuk mendapatkannya, tapi tentu saja jika aku tak jatuh cinta kepadanya ha haha...."
Saat mendengar jawaban Laila, Serriv, Alva dan Alvi hanya tersenyum kecut dan berpikiran sama.
(((Kau sudah jatuh cinta kepadanya, gadis tak sensitif.)))
Lalu mereka bertiga mendesah bersamaaan. Hal itu membuat Laila sedikit heran.
"Tapi aku benar benar tak menyangka ada 3 gadis yang menyukai Kuro, kemampuan dia menarik hati para gadis benar benar mengerikan. Dia bisa membuat harem dalam dua minggu di sekolah kita."
""?!""
Alva dan Alvi menyadari ada sesuatu yang aneh di perkataan Laila. 3 orang gadis?
Laila seolah olah tak mengatakan bahwa dia termasuk dalam 3 orang gadis itu. Terima kasih kepada ketidak sensitifannya, tapi siapa gadis yang dia maksud?
"Laila, 3 gadis? Siapa saja yang kau maksud?"
__ADS_1
Yang bertanya adalah Serriv. Dia tampaknya juga menyadari bahwa ini semakin menarik.
"Tentu saja Alva, Alvi dan Fila."
"Fila? Siapa dia?" tanya Alva.
"Dia adalah putri mantan jendral Irho Ariant. Namanya Fila Ariant dan dia adalah teman masa kecilku. Satu hal lagi, dia adalah gadis yang menjadi narasumber rumor yang ber- eh? Kenapa kalian memasang wajah seperti itu?"
Alva dan Alvi membeku seperti patung dan sekaligus pucat pasi. Entah mengapa Delia juga memasang ekspresi yang sama.
"Ya ampun, aku tak menyangka semua gadis kelas tinggi menyukai orang seperti Kuro."
Serriv benar.
Di kota Areshia, tidak, bahkan seluruh kekaisaran Houou mengenal dan takut kepada nama Ariant.
Terutama nama Irho Ariant. Dia adalah penyihir kelas Master berelemen besi. Sudah banyak perang yang dimenangkan oleh Irho. Karena itulah dia juga terkenal hingga ke luar negri.
Sayangnya, karena suatu insiden 4 tahun yang lalu, Irho berhenti menjadi jendral dan menjadi tukang pandai besi.
Dan sekarang putri mantan jendral yang terkenal jatuh cinta kepada Kuro. Ini berita yang luar biasa.
Alvi dan Alva sebenarnya juga termasuk gadis kelas tinggi seperti Laila. Dengan kata lain mereka juga keturunan bangsawan, namun tak terlalu terkenal seperti Laila dan Fila.
Mungkin inilah yang menyebabkan mereka putus asa untuk sesaat karena saingan mereka begitu kuat.
"Ya aku setuju. Kuro seakan akan bagai magnet yang menarik para gadis ke dalam pelukannya. ha ha.. "
""Kami tak ingin mendengar itu darimu""
Alva dan Alvi berteriak bersamaan karena stress dan bingung.
Selain itu, ketidak sensitifan Laila membuat situasi bertambah rumit.
"Kenapa kalian marah? Bukankah bagus karena kalian tahu siapa saingan kalian, tapi kalian harus ingat, Fila adalah gadis yang sangat pintar bagai rubah. Aku baru menyadarinya tadi pagi.. ha ha... ini cukup gawat bagi kalian.."
""Ini juga gawat bagimu, gadis tak sensitif""
"eh? Apa maksud kalian?"
"Lupakan, aku capek menghadapi gadis sepertimu."
"Aku juga."
Alva dan Alvi akhirnya menyerah menghadapi Laila.
Memang dia gadis berkelas tinggi dan penyihir beranking S, namun dia tak bisa diharapkan jika berurusan dengan topik 'Cinta'.
"Aku mengerti perasaan kalian berdua."
Serriv ikut menambahkan. Mereka bertiga tesenyum pahit dan mendesah dalam.
Di saat itulah tiba tiba Delia mengangkat tangannya sambil berlari.
"Anooo .."
"Ada apa, Delia?" ucap Laila.
Dia menyadari bahwa sejak tadi Delia hanya terdiam dan mendengar pembicaraan mereka berempat. Selain dia pendiam, dia juga pemalu, namun saat berhubungan dengan laki laki, dia berubah menjadi sosok ganas yang sanggup menendang laki laki seperti yang dialami Kazt.
Dia bagai memiliki kepribadian ganda dalam satu tubuh.
"T-tentang gadis yang menyukai Kuro, bukan ti-tiga, namun empat."
"ooooooo... eh?"
Dellia hanya tersenyum setelah mengucapkan apa yang ingin dia sampaikan.
Sementara itu, Laila, Alva dan Alvi tiba tiba berhenti berlari.
Tindakan tiba tiba mereka bertiga membuat Serriv dan Delia juga berhenti berlari dan menoleh ke arah mereka bertiga.
"Delia, apa kau mau bilang kalau kau juga-"
Delia hanya mengangguk dengan wajah memerah sebagai jawaban pertanyaan Alva.
Hal itu membuat Alva dan Alvi membeku dan akhirnya tersungkur karena menghadapi cobaan yang begitu berat.
Tak hanya Laila dan Fila, kini gadis yang menjadi saingan mereka bertambah lagi.
"Tunggu sebentar, Laila dan Fila wajar menyukai Kuro karena mereka saling mengenal seperti kami, tapi aku tak tahu kalau kau punya hubungan dengan Kuro, dan sejak kapan kau menyukainya?"
" ummm... Raha..sia.."
"Sial... itu curang namanya, ...Alvi."
Alvi mengangguk sebagai tanda mengerti maksud Laila. Aura mereka berdua tiba tiba menjadi dingin seperti iblis.
Mereka berniat akan melakukan intrograsi kepada Delia. Sayangnya Delia hanya tersenyum.
Senyuman yang polos dan suci.
Hal itu telah membuat Alva dan Alvi kehilangan niat untuk mengintrograsi Delia (untuk sementara).
"........Sial!"
Alva hanya mendesah dan menggertakkan tangannya karena tak bisa berbuat banyak dalam hal ini.
"Hah.. Laila, bagaimana pendapatmu? ...Laila?"
"Eh? Ada apa?"
Laila tampak tak fokus untuk sementara dan memasang wajah rumit.
".. Ya ampun, aku bertanya bagaimana pendapatmu tentang Delia yang ternyata juga menyukai Kuro."
"........Entahlah, aku tak tahu..."
"Eh?"
Sebuah jawaban yang tak diharapkan oleh Alva dan Alvi.
Untuk pertama kalinya Laila terlihat murung dan sedih tanpa alasan yang jelas. Dan tanpa sepatah kata, dia berlari sendirian mendahului mereka berempat yang masih bingung dengan tingkah Laila.
"..........."
Laila berlari sendirian. Dia memegang dadanya yang tiba tiba terasa sakit seperti tertusuk pisau.
Hal ini terjadi setelah Delia mengaku bahwa dia juga menyukai Kuro.
Apa hubungan Delia dengan Kuro?
Dia tak memiliki jawaban untuk itu. Di kelas atau di sekolah, mereka berdua tak pernah terlihat bersama dan tak saling menyapa. Dengan kata lain, mereka berdua adalah orang asing dan tak saling mengenal.
Tapi kenapa Delia bisa menyukai Kuro?
Selain itu, tak seperti Alva dan Alvi yang jujur mengatakan alasan kenapa mereka menyukai Kuro, Delia hanya mengatakan itu adalah rahasia.
Apakah sebenarnya mereka diam diam berpacaran?
"Tidak tidak tidak..."
Laila menggelangkan kepalanya untuk menjauhkan pemikiran itu dari kepalanya.
Deggg...
Sekali lagi dadanya terasa sakit saat terus memikirkan hubungan antara Delia dan Kuro.
Sayangnya, dia tak mengerti kenapa dia merasa sakit dan marah tanpa alasan yang jelas.
(Aku merasa ada yang salah dengan diriku, ...tapi apa yang salah?)
__ADS_1
Dia hanya terus berlari dan tak menyadari bahwa Alva dan Alvi tersenyum bagai iblis di belakangnya.
Serriv hanya bisa mendesah dalam dan Dellia hanya terdiam dan terus belari dengan wajah memerah.