Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
As Wife Demon King


__ADS_3

"Laila.. "


"Semua persiapan sudah matang. Energi sihirku juga sudah pulih sepenuhnya. Aku siap bertarung kapan saja."


Dengan senyuman, Kuro mengulurkan tangannya.


Laila menerima dan di saat yang sama Scarflare muncul di tangan lainnya sebagai siap tanda untuk bertarung.


Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat koper koper yang berjatuhan dari atas kapal udara. Untuk melihat simbol pada koper milik mereka, mereka cukup menggunakan kemampuan mata Kuro yang tajam.


Menurut peraturan, peserta akan mendapatkan kiriman barang dari luar pulau.


Sekilas itu terdengar begitu sederhana. Tetapi bagi orang yang mengerti seberapa besar pengaruh peraturan sederhana itu, aturan itu bisa menjadi kunci dari jalannya Battle War kali ini.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah Battle War, Battle War diadakan di pulau Avalon. Meskipun dilakukan banyak penelitian tentang pulau ini, tapi pulau Avalon masih banyak menyimpan misteri yang belum terpecahkan.


Misteri itu cukup mempengaruhi peserta yang tak tahu apapun tentang keadaan pulau Avalon. Inilah yang membuat para peserta tak bisa seenaknya bertarung jika mereka benar benar ingin meraih kemenangan. Masalahnya, mereka tak mungkin memecahkan misteri itu di saat mereka harus fokus dengan peserta lain.


Di sinilah aturan mendapatkan kiriman dari luar menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah itu. Para penonton dapat melihat seluruh pulau dari Insectmera yang merekam jalannya pertarungan.


Meskipun tak sepenuhnya bisa tahu keadaan pulau, tetapi penonton memiliki pandangan yang lebih luas daripada peserta. Setiap sekolah telah menyiapkan orang dengan kemampuan untuk meneliti setiap kejanggalan di pulau Avalon dengan tujuan untuk membantu peserta memenangkan Battle War.


Tetapi meskipun mendapatkan informasi, pihak luar tak bisa begitu saja menyampaikan informasi yang mereka dapatkan.


Satu satunya jalan untuk mengirim informasi adalah dengan menggunakan aturan mengirim barang pada peserta.


Yang menjadi masalah adalah tak ada aturan yang menyebut dilarang merebut barang dari peserta lain. Memberikan informasi pada peserta bukanlah suatu yang mudah.


Sedangkan bagi para peserta momen ini adalah kesempatan emas. Sebelum Battle War dimulai, banyak dari mereka yang sudah berdiskusi tentang barang apa saja yang ingin dikirimkan. Entah apakah itu makanan, benda sihir, ramuan sihir atau obat dan tentu saja informasi yang bisa mereka dapatkan dengan memasukannya pada Crystal Age.


Tentu bukan hanya itu saja alasan kenapa momen ini menjadi kesempatan emas. Pada saat peserta berusaha mendapatkan barang yang dikirim, peserta yang sebelumnya bersembunyi akan muncul dari tempat persembunyiannya. Ini juga menjadi saat untuk mengalahkan lawan.


Untuk Kuro dan Laila sendiri, mereka akan menggunakan momen ini untuk mengalahkan lawan sebanyak mungkin. Bagi Kuro yang tahu betul mengenai pentingnya informasi, ini bukanlah tindakan yang biasa dia lakukan.


Tetapi Kuro memiliki alasan kenapa dia tak begitu terlalu peduli dengan barang yang dikirim. Salah satu alasan itu adalah dia sudah mengetahui misteri pulau Avalon dengan menggunakan kekuatan Eyes of Origin.


Dalam hal seperti inilah kekuatan mata yang dimiliki Kuro bisa diakatan sebagai kekuatan paling curang.


"Kalau begitu, mari kita habisi mereka semua."


"Entah mengapa aku ingat saat di mana kau sendirian menghabisi 1000 pasukan kerajaan Eldesa."


"..."


Karena tak ada rahasia lagi di antara mereka, Laila dan Kuro kadang membicarakan kehidupan masa lalu mereka. Tetapi karena masa lalu Kuro sebagai Shiroyasha cukup kelam, itu bukan suatu yang ingin selalu ingin Kuro bahas.


Sayangnya, entah mengapa Laila cukup sering membahas itu seolah sengaja ingin menggoda Kuro.


"Kau selalu membuat wajah itu jika aku membahas masa lalumu. Aku tahu, kau membunuh bukan berarti kau suka saat melakukannya."


"Yah.. itu masa lalu yang tak bisa diubah. Sebaiknya kita fokus pada apa yang kita lakukan sekarang. Mereka pasti sudah memprediksi akan diserang saat akan mengambil koper itu dan menyiapkan banyak rinta-"


"Kuro, aku tahu. Kita sudah membahas hal ini tadi."


"..."


Laila sadar Kuro tak ingin membahas lebih lanjut, karena itulah dia tak melakukannya.


"Ayo kita selesaikan ini dan segera pulang. Aku yakin Riku akan rewel jika kita terlalu lama meninggalkannya."


Tanpa banyak kata lagi, mereka berlari menuju tempat barang dijatuhkan. Tentu saja bukan hanya mereka saja.


Mereka bisa merasakan para peserta datang dari berbagai arah. Jika mau Kuro bisa mengetahui siapa saja yang datang dengan Eyes of Origin, tetapi dia tak melakukannya. Dengan kemampuan untuk merasakan keberadaan orang lain sudah cukup.


Tiba tiba, seseorang muncul di langit dan langsung mendapatkan koper. Lalu secepat dia datang, secepat itu pula dia pergi menghilang.


"Itu adalah kekuatan Rim. Sihir teleportasi memang curang."


"Aku rasa seorang yang memiliki mata yang mampu melihat segalanya lebih curang lagi. Bagaimana, apakah kau bisa menemukan kordinat tempat dia kembali?"


Kuro mengangguk mengiyakan. Dalam Battle War kali ini Kuro dan Laila tak hanya mewaspadai Victoria, tapi juga Arisa.


"Dia berada cukup jauh, tapi itu bukan masalah. Yang penting sekarang kita harus mendapatkan barang yang nenek itu berikan."


Keduanya sudah menemukan koper dengan simbol milik mereka. Simbol yang mereka gunakan adalah inisial keduanya yang digabungkan menjadi simbol yang cukup unik.


Di saat yang sama mereka mendengar ledakan dan benturan senjata tak jauh dari mereka. Tampaknya di tempat lain peserta ada yang saling bertarung.


"Kuro, sebaiknya kau cepat dapatkan koper itu."


"Aku tahu."


Kemungkinan besar peserta sudah menemukan tempat mereka saat ini. Memang tujuan keduanya adalah untuk mengalahkan peserta lain secepat mungkin, tetapi mendapatkan barang yang dikirim bukanlah suatu yang buruk.


Kuro dengan cepat melompat dan menendang udara menuju koper miliknya, tetapi saat di udara dia merasakan hawa membunuh dan langsung saja menarik pedang hitam dari sarungnya.


Sebuah sosok pemuda muncul di depannya dengan pedang katana yang siap dihunus.


"Kutemukan kau!!"


"..."


Sosok itu tanpa ragu menebas dengan kecepatan yang tak bisa diremehkan. Bahkan Kuro yang memiliki kecepatan luar biasa hampir tak bisa melihat serangan itu.


Tetapi itu tentu saja tak cukup untuk mengalahkan Kuro.


Kuro dan pemuda itu saling beradu di udara dengan dengan kecepatan yang luar biasa. Tak hanya itu, keduanya juga menunjukan teknik pedang yang begitu indah dan berbahaya dengan niat saling membunuh.


"Aku tak menyangka ada yang bisa menyamai kecepatan Kuro."


Di daratan, Laila hanya bisa melihat pertarungan keduanya. Dengan mata yang sudah sanggup melihat kecepatan Kuro, saat ini dia sudah bisa mengikuti pertarungan keduanya.


Dia merasa kagum pada lawan Kuro saat ini. Entah bagaimana dia melakukannya, tetapi bisa mengimbangi kecepatan Kuro adalah pencapaian yang luar biasa.


Tidak. Lebih tepat jika ini suatu yang wajar karena mereka adalah peserta Battle War.


"!?"


Tetapi Laila tak bisa terus menikmati pertarungan keduanya. Dia merasakan ada yang mendekat ke arahnya dengan kecepatan yang luar biasa. Sekilas seolah terdengar dari jumlah manusia yang cukup banyak, tetapi Laila bisa membedakan mana suara langkah kaki manusia dan mana yang bukan.


Tak berapa lama kemudian, 5 ekor serigala hitam dengan ukuran 4 meter lebih melompat ke arahnya dari arah yang berbeda. Tak hanya ukuran tubuh yang lebih besar daripada serigala biasa, tapi juga kuku dan taring hampir sama dengan pisau.


"Oh.. anjing yang lucu."


Tak ada takut atau ragu dari tatapan mata Laila. Bahkan sebaliknya, mata itu penuh dengan tatapan dingin dengan tekanan yang luar biasa.


Jika kelima serigala itu adalah monster, maka mereka pasti akan langsung melarikan diri karena tahu akan mati jika menghadapi Laila.


Tetapi sebagai magic beast, mereka hanyalah makhluk yang tak kenal takut dengan kematian.

__ADS_1


"Mati!!"


Dalam sekejap mata kelima serigala tak bergerak dan tersungkur ke tanah. Kepala mereka tertembus oleh Scarflare dengan cukup dalam. Meskipun mereka adalah magic beast, tetapi sama seperti makhluk hidup lainnya, jika terkena serangan pada bagian fatal, maka magic beast akan mati. Inilah salah satu kelemahan dari penyihir tipe Contractor.


Tetapi, perlahan serigala itu bangkit seolah pedang yang menancap di kepala mereka hanyalah sebuah hiasan. Sekali lagi mereka menyerang.


"Keras kepala. Sword Lance"


Tahu magic beast itu lebih merepotkan dari magic beast biasa, kali ini Laila menanggapi lebih serius. Dari dalam tanah tombak merah membara menusuk serigala. Tak hanya satu atau dua, tapi di seluruh bagian tubuh. Setelah beberapa saat barulah kelima serigala itu menghilang menjadi partikel tanda mereka musnah.


Laila lalu melompat dari tempatnya berdiri. Dari tempatnya semula, serigala muncul dari dalam tanah dan menyerang. Laila dengan cepat menggunakan Sword Lance untuk menghancurkan serigala itu.


"Bahkan serangan kejutan juga tak mempan huh... Sungguh, kau tumbuh menjadi seorang monster, nona Laila."


Seorang sosok pemuda muncul dari balik pohon. Pemuda itu begitu tampan, sayang senyuman yang meremehkan orang lain tak cocok dengan wajahnya.


"....Kau juga, Gustav. Apakah tak apa apa kau menghadapiku sendirian?"


Laila melirik ke arah sosok yang melawan Kuro. Tak diragukan lagi dia adalah pasangan Gustav.


Keduanya adalah peserta dari Knight Academy. Gustav adalah penyihir peringkat SS, sedangkan Serge adalah penyihir dengan peringkat C.


Meskipun hanya peringkat C, tetapi Serge memiliki kemampuan teknik pedang yang luar biasa. Dia bahkan memiliki julukan King of Sword sama seperti Kuro. Karena alasan inilah maka tak begitu mengherankan jika Serge sanggup menandingi kecepatan Kuro.


"Tidak apa apa. Lagipula aku tak selemah itu sehingga harus bertarung bersama dengannya. Selain itu, keberadaannya hanya akan mengganggu."


Tekanan besar langsung keluar dari Gustav. Tak diragukan lagi kalau dia mulai serius.


"Guren!!!"


Sesosok serigala besar muncul. Berbeda dengan serigala serigala sebelumnya, ukuran serigala itu mencapai 6 meter dengan bulu berwarna putih. Matanya merah penuh dengan haus darah dan taring besar seperti pedang.


Inilah wujud magic beast Gustav yang juga dikenal sebagai King of Wolf.


"..."


Karena sudah memeriksa data peserta, Laila sama sekali tak terkejut. Gustav atau juga yang dikenal sebagai Knight of Hounds adalah salah satu peserta yang diunggulkan.


Dari semua itu, dia juga sudah mengetahui sihir khusus (Soul) seperti apa yang Gustav miliki. Karena itulah Laila melakukan rencana yang disiapkan jika mereka akan berhadapan dengan Gustav dan Serge.


"Sword Wing"


Beberapa Scarflare muncul dan membentuk sayap di punggung Laila. Dia perlahan terbang ke langit.


"Itu cukup cerdas memilih menghindari pertarungan di darat, tapi kau terlalu naif."


Guren maju. Cepat. Dalam sekejap mata dia sudah di depan Laila dengan cakar siap mengoyak tubuh Laila.


Laila hanya berdiam diri. Saat cakar Guren hampir menyentuh tubuh Laila, sebuah dinding tak terlihat menahan serangan Guren.


Apa yang menahan serangan Guren adalah sihir pertahanan otomatis yang Laila miliki. Laila bisa mengatur kekuatan pertahanannya dengan menyuntikan energi sihirnya. Dalam hati dia cukup terkejut karena kekuatan serangan Guren melebihi perkiraannya.


Di saat itulah mulut Guren melebar siap menerkam, tetapi bukan itu yang akan dilakukannya. Perlahan energi sihir berkumpul dalam satu titik mulut Guren.


Laila langsung merasakan firasat buruk. Dia berusaha menjauh, tapi itu sudah terlambat.


"Gale Breath!!"


Serangan Guren menelan tubuh Laila. Tak hanya itu, dampak serangan membuat kerusakan besar di hutan.


Sosok Laila menghilang. Tentu saja Gustav tak begitu naif kalau sudah mengalahkan Laila. Di saat itulah Gustav memiringkan tubuhnya dan langsung melompat sejauh tiga meter.


"Guren, lakukan sesuatu!!!"


Tak mau berdiam diri, Gustav menyerang balik. Sosok Laila memang tak terlihat, tetapi bukan berarti tidak ada.


Sama seperti serigala pada umumnya, Guren memiliki penciuman yang tajam. Tak hanya itu, dia juga bisa mencium energi sihir. Dengan cara inilah dia menemukan lawannya tak peduli jarak di antara mereka.


Setelah memanggil Guren, Guren sudah menghafal bau dari energi sihir Laila. Karena itulah meskipun Laila bersembunyi, dia akan tetap menemukannya.


"Claw Blade!!"


Dengan koneksi Link, Gustav juga mengetahui posisi Laila. Dia lalu menyerang dengan serangan area luas.


Hasilnya, serangannya mengenai sesuatu di udara.


"Di sana kau rupanya!!"


Guren melesat maju dan melompat dengan serangan cakaran. Tetapi di saat itulah pedang pedang di daratan bergerak dan melesat ke arah Guren.


"Borg!!"


Pelindung menghalangi pedang Laila dan di saat yang sama serangan Guren mengenai udara kosong.


"Tch!!"


Di saat sedang kesal dengan apa yang terjadi, secara refleks Gustav memiringkan kepalanya. Di saat itulah sebuah pedang melesat dengan kecepatan yang sama sekali tak Gustav bayangkan lewat di samping wajahnya. Dia merasakan pipinya terluka oleh sebuah goresan. Tentu berkat efek dampak serangan disalurkan ke Doll, dia tak terluka.


"..."


Tetapi dia sadar, jika tadi dia tak bergerak, dia akan tersingkir dengan rasa sakit yang tak terbayangkan.


Keringat langsung mengalir di pelipis Gustav. Dia tahu Laila dan Kuro kuat, karena itulah dia berencana memisahkannya dengan memisahkan keduanya.


Obsesi Serge pada pedang membantunya dengan rencana itu. Lalu di saat Kuro sibuk dengan Serge, dia akan mengalahkan Laila.


Ini adalah rencana sederhana dan mudah. Sayangnya, semua data yang dia dapatkan tentang keduanya sekarang sama sekali tak berguna.


(Jangan bilang kalau pertarungan di Tribal hanyalah main main?)


Jangan bercanda. Ini sungguh lelucon yang sama sekali tidak lucu.


Sekuat apapun orang itu, suatu saat akan mencapai batas dan dinding. Bagaimana mungkin Laila sekuat ini meskipun baru 16 tahun?


"Kau sungguh beruntung. Serangan tadi lebih cepat dua kali lipat daripada yang aku gunakan saat melawan Alva dan Alvi."


Sosok Laila muncul. Pedang pedang merah membara berputar mengintarinya dengan kecepatan yang luar biasa. Meskipun begitu, tak ada suara sama sekali atau angin yang keluar.


Sihir yang digunakan Laila untuk menghilang merupakan sihir yang dia kuasai secara tak sengaja saat berlatih dengan Solaris.


Berbeda dengan Ruby yang dikenal sebagai Dragon King of Flame, Solaris adalah Dragon King yang dikenal sebagai True Light Dragon King.


Melihat itu, apakah perbedaan api dengan cahaya?


Dimulai dengan topik itu, Laila mulai mempelajari sihir lain selain sihir elemen api, yaitu sihir elemen cahaya. Tetapi elemen cahaya tak bisa begitu saja dipelajari jika tak memiliki kecocokan. Entah apakah ini karena takdir, Laila sangat cocok mempelajari sihir elemen cahaya.


Lalu dari berlatih itulah dia tak sengaja menemukan sihir untuk menghilang walau tak menghilangkan sosok sepenuhnya. Tergantung penggunaan, ini bisa menjadi sihir yang cukup ampuh.


Dalam pertarungan Tribal, dia tak menggunakan sihir ini. Lebih tepatnya dia tak perlu menggunakannya. Tak mengherankan jika banyak data yang tak sesuai.

__ADS_1


"Kuro selalu bilang untuk bertarung menggunakan kekuatan secukupnya. Jujur saja itu tindakan yang sangat sulit karena tak tahu seberapa kuat lawan yang kau hadapi."


Tak peduli sekuat apapun, akan ada di mana saat akan lengah. Karena itulah orang yang lebih lemah bisa mengalahkan orang yang lebih kuat bukanlah suatu yang aneh.


Mencari titik lemah seseorang tidaklah mudah. Apalagi untuk lawan yang pertama kali dilawan. Lalu dalam proses pencarian, belum tentu bisa bertahan sebelum kalah.


Tetapi apa yang Kuro ingin Laila lakukan adalah kebalikan dari itu. Ketahui kekuatan lawanmu saat itu juga dan menggunakan kekuatan secukupnya untuk menang. Itu adalah sebuah kegilaan yang dipaksakan.


"Tetapi aku akhirnya mengerti. Menggunakan kekuatan secukupnya bukan berarti kau boleh lengah atau meremehkan kekuatan lawanmu."


Keringat semakin membasahi Gustav. Dia bisa menebak apa yang ingin Laila katakan selanjutnya.


"Kekuatan yang aku miliki sangatlah berbeda dengan kekuatan murid sekolah sihir. Jika aku bertarung dengan kekuatanku yang sesungguhnya, aku mungkin tak sengaja membunuh kalian."


"!?"


Ini bukanlah omong kosong belaka. Tekanan yang dirasakan Gustav begitu kuat seolah dia berhadapan dengan sosok yang tak mungkin bisa menang.


(Aku tahu dia tak bercanda tentang kekuatannya, tapi apakah benar kekuatan kami terlalu jauh?)


Sekali lagi dia sadar ini sangat tak masuk akal.


Entah mengapa statusnya sebagai penyihir peringkat SS sama sekali tak ada apa apanya di mata Laila.


"Tch!!! Kau bisa berkata seperti itu karena kau tak tahu sekuat apa diriku. Beast Summon, Wolf Kingdom!!!"


Kaca kunci mengaktifkan sihir khusus (Soul) yang Gustav miliki. Energi sihirnya berkurang drastis bersamaan dengan serigala muncul satu persatu hingga mencapai ratusan lebih.


Ini adalah sihir yang sama digunakan untuk menyerang Laila pertama kali, tetapi skalanya jauh berbeda.


Tetapi, masih sama seperti sebelumnya. Meskipun dikepung oleh ratusan serigala, Laila sama sekali tak takut apalagi merasa terancam.


"Wolf Kingdom. Sihir khusus yang mampu memanggil kawanan serigala dalam jumlah besar. Magic beast milikmu, Guren adalah raja dan sekaligus pemimpin. Lalu dengan sihir yang mampu mencium aroma sihir, kalian akan sanggup mengejar sejauh apapun musuh kalian."


"Benar sekali. Jika kau sudah tahu sejauh itu, kau seharusnya tahu apa yang terjadi pada dirimu selanjutnya. Sampai kapan kau akan menunjukan senyuman percaya diri itu?"


"Kau salah jika berpikir aku merendahkan dirimu. Justru merasa kagum karena kau bisa menggunakan sihir sekuat ini meskipun kau semuda ini."


Tekanan sihir Laila berubah. Pedang yang mengitari Laila tiba tiba berhenti dan menunjukkan sosok aslinya.


Sekilas pedang pedang itu berjumlah sedikit yang berputar sangat cepat, tapi itu salah. Jumlah pedang itu sangat banyak dan sulit dihitung. Tak hanya itu, pedang pedang itu begitu tipis seperti transparan.


"Tetapi apa kau tahu, meskipun aku belum membangkitkan sihir khusus (Soul), tapi aku memiliki sihir yang hampir mirip. Pertama adalah jumlah magic arm milikku."


Scarflare perlahan bertambah dan terus bertambah. Lalu membentuk formasi semacam bunga besar yang terbuat dari bilah pedang. Begitu indah, tapi di saat yang sama begitu mematikan.


Bunga pedang itu tiba tiba membelah diri menjadi pedang yang lebih kecil seperti yang terjadi pada saat melawan Lucifer di Dragonia. Hanya saja tidak berubah menjadi warna biru.


"Seperti yang kau lihat sendiri, apakah kau bisa menebak berapa jumlahnya?"


Gustav tak bisa berkata apa apa lagi. Dia terkagum oleh pemandangan indah itu dan lupa kalau mereka saat ini sedang bertarung.


"Lalu sihir yang aku miliki adalah transformasi. Lebih tepatnya transformasi pedang. Tak seperti magic arm lain yang tak akan berubah bentuk kecuali sudah berinkarnasi, Scarflare sama sekali tak membutuhkan itu. Hanya dengan menggunakan imajinasiku, aku bisa merubahnya sesuka hatiku. Kau sudah tahu hal ini, jadi aku tak perlu memberitahu apa yang bisa aku lakukan."


"...kuh... Lalu apa? Apakah itu cukup untuk membuatmu menang dari ku?"


Gustav yang kembali sadar kalau mereka masih bertarung. Seindah apapun kekuatan lawan, itu tak merubah fakta kalau sosok di depannya adalah musuh yang harus dikalahkan.


Gustav memerintahkan serigala mulai menyerang. Tentu saja dia tak berencana untuk bertarung secara adil.


Tetapi, serangan para serigala tiba tiba dihadang oleh pedang raksasa yang tiba tiba muncul dan melindungi Laila. Tentu saja Gustav tak begitu bodoh tahu kalau itu adalah Scarflare yang bertransformasi.


Guren yang ikut menyerang dengan Gale Breath dan serangan cakaran sama sekali tak menembus pertahanan Laila. Dia merasa melawan seorang yang bertarung dengan menggunakan pelindung baja tebal. Hanya saja, pelindung baja itu terbuat dari pedang dan menjadi senjata yang mematikan.


"Kuh!!"


Gustav memerintahkan untuk menyerang bagian yang tak dilindungi oleh perisai pedang, tetapi serigala serigala itu tiba tiba tertusuk oleh pedang di seluruh tubuhnya. Tak seperti yang sudah sudah, pedang itu seolah berasal dari dalam tubuh serigala.


Serangan dari segala arah tak bisa menembus pertahanan Laila. Gustav bingung bagaimana caranya dia menyerang Laila.


"...."


Kemudian dia akhirnya sadar.


Ini bukan masalah data yang dia miliki tentang Laila berbeda atau tidak. Ini juga bukan masalah perbedaan jumlah energi dan juga kekuatan magic arm.


"Sihir lainnya yang aku miliki adalah psychokinesis. Bisa dibilang aku bisa mengendalikan Scarflare dengan pikiranku. Dengan dasar kemampuan ini, aku menguasai teknik berpikir secara paralel."


Semua penyihir memiliki kekuatan dasar yang sama. Kekuatan untuk menciptakan elemen dan memanipulasi elemen, Element Art. Kemampuan untuk menggunakan dan memanipulasi energi sihir, Magic Art. Kemampuan untuk menciptakan benda dari sihir, Magic Arm dan Magic Beast.


Kemampuan lain selain tiga kemampuan dasar itu disebut sebagai kemampuan individual. Kemampuan itu bisa meliputi kemampuan menggunakan pedang, Sword Art. Kemampuan bertarung tangan kosong, Martial Art dan masih banyak lagi.


Tetapi di antara dua jenis kemampuan itu, ada jenis kemampuan spesial yang hanya dimiliki oleh individu tertentu saja.


Kemampuan itu disebut sebagai Exstra, tapi lebih sering disebut sebagai Special. Hal inilah yang menjadi dasar seorang penyihir akan mendapatkan peringkat S.


Peringkat S Laila sekilas didapat hanya karena dia memilikinya jumlah magic arm yang tak biasa, tetapi bukan hanya karena itu saja.


"Lalu yang terakhir, jika kau melihat pertarunganku dengan Alva dan Alvi, kau pasti tahu apa yang aku lakukan dengan sihir yang aku sebarkan di arena."


"!?"


Memanipulasi hanyalah bagian kecil dari apa yang bisa dilakukan oleh Laila dengan sihir yang dia sebarkan.


Tetapi bagaimana jika itu hanyalah kemampuan kecil dari apa yang bisa Laila lakukan sebenarnya?


Gustav tak perlu berpikir untuk bisa mengetahui jawabannya karena sejak awal, kemampuan itu sama sekali tak Laila sembunyikan.


"Kekuatan untuk menciptakan magic arm di manapun meskipun dalam jarak terbatas. Gustav, apa kau mengerti kenapa kau tak bisa mengalahkan aku?"


"Guren!!!"


Gustav dengan cepat memerintahkan Guren untuk membawanya pergi dari tempat itu. Dia sadar, tak peduli sebanyak apapun dia memanggil serigala serigala itu, itu tak cukup untuk mengalahkan Laila.


Sayangnya, semua itu sudah terlambat.


"Sacred Magic Art, Scarlett Garden Catastrophe."


Bersamaan dengan kata kunci pengaktifan sihir, seluruh serigala yang ada tertusuk oleh pedang di seluruh tubuhnya. Guren dan Gustav tentu tak ketinggalan.


Bersamaan dengan rasa sakit dari pedang merah membara yang menusuk tubuhnya di berbagai tempat, Gustav menghilang.


<>


Mendengar pengumuman itu, Laila tersenyum puas.


"Begitulah cara untuk menyingkirkan anjing yang kesepian."


Jika Laila tak tersenyum di seluruh tubuh tubuh serigala yang belum menghilang sepenuhnya, dia akan terlihat seperti malaikat suci. Tetapi semua penonton yang melihat itu tak punya pilihan lain selain berpikir Laila sungguh cocok disebut sebagai istri Demon King.

__ADS_1


__ADS_2