Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Scarlet


__ADS_3

"Bunuh dia‼ Berikan kepalanya untukku, boneka tak berguna‼"


Semua homunculus maju menyerang Kuro.


"Tch!"


Kuro ingin menghindar, namun dia tak bisa karena sihir elemen tanah yang mengekang kedua kakinya. Kuro pernah mengalami hal ini. Mengincar kakinya merupakan cara yang banyak digunakan musuh untuk menghentikan gerakannya. Jika sihir biasa, dia bisa menghancurkannya dengan paksa, namun kekuatan Kuro bagaikan terserap dan tak bisa lepas.


Kuro tak punya pilihan selain bertahan.


Dia mengambil pedang putih lainnya dari Crystal Box lalu menggunakan tekyhnik dual blades untuk menahan serangan dari sepuluh homunculus dari atas.


"Gah‼"


Tubuh Kuro terdorong ke bawah dengan keras hingga lantai yang menjadi pijakannya hancur. Dia tak menyangka tenaga yang dimiliki mereka lebih besar daripada homunculus yang berada di ibukota.


Itsuki atau yang dikenal Ariel tersenyum tipis seolah sudah menduga apa yang dipikirkan Kuro saat ini.


"Tolong jangan samakan mereka dengan boneka murahan yang kugunakan untuk menyerangmu di ibukota. Mereka hanyalah umpan, sedangkan boneka yang saat ini kau lawan merupakan ciptaanku yang sudah disempurnakan. Senior, bisakah kau segera mati?"


Kuro terdiam membisu. Dia tak ingin membalas omong kosong Ariel.


Jika dibandingkan, mungkin kekuatan masing masing homunculus memiliki kekuatan 10 kali lipat homunculus yang menyerangnya di ibukota. Tapi tampaknya tujuan musuh adalah menghentikan gerakannya. Jika dia tak segera lepas, dia akan dalam masalah.


Dia menggertakan giginya lalu memusatkan tenaga yang dia miliki di kedua tangannya. Dia lalu berusaha mendorong balik dengan kekuatan penuh, namun disaat itulah 10 homunculus lainnya menambah serangan.


"Gaahh‼!"


Tubuh Kuro semakin tenggelam ke lantai yang tak mampu menahan kekuatan mereka.


Kuro ingin melawan balik, namun dalam situasinya saat ini, dia tak memiliki banyak pilihan. Teknik yang dia miliki sebagian besar menggunakan kecepatan. Karena itulah tekhniknya memilliki kecocokan yang buruk dengan tipe kekuatan.


Disaat sedang memilikirkan jalan keluar, tiba tiba kedua kakinya tertusuk oleh benda tajam. Rasa sakit mengakibatkan Kuro semakin tenggelam ke tanah hingga seperempat bagian tubuhnya.


Dia melirik ke bawah untuk mencari tahu, dan diapun menemukan apa yang menusuknya.


Sebuah benda tipis dan panjang menyerupai jarum besar kini tertancap di kedua kakinya. Jarum besar itu terbuat dari bahan transparan, jadi sulit mendeteksinya. Tidak, meskipun bisa, Kuro tak akan bisa menghindar.


Darah mengalir dari semua lukanya. Kini pakaian baru yang dia beli berubah warna menjadi merah darah.


"... bagaimana rasanya tertusuk oleh senjata kesukaanmu? Apakah sakit? Bodohnya aku menanyakan itu. Yah... aku tak peduli dengan itu."


6 jarum lainnya muncul di kedua tangan Ariel. Dengan santainya dia lalu melempar melewati celah tipis di antara kerumunan dan mengenai kedua paha, betis dan lengan Kuro.


Kuro semakin menggertakan giginya. Selain dia harus menahan semua serangan, dia juga harus menahan rasa sakit akibat jarum yang menembus tubuhnya. Jika tidak bertahan, dia bisa mati.


"Yang aku pedulikan saat ini kenapa kau begitu lemah? Tidak, kurasa jika lebih tepat aku lebih kuat sekarang. Aku bisa mengalahkanmu. Meskipun itu membutuhkan bantuan orang lain.. he he.."


Ketika mendengar itu, Kuro memejamkan kedua matanya. Setelah beberapa saat kedua matanya berubah menjadi putih.


Kuro telah mengaktifkan Eyes of Origin.


Mata itu memungkinkan Kuro untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Disaat yang sama, dengan mata itu dia bisa lebih bebas untuk memanipulasi energi.


Itu adalah cara terakhir yang Kuro pikirkan agar bisa selamat dari situasi berbahaya itu.


"Mengalahkanku? Kau terlalu cepat 100 tahun, Itsuki‼ Selain itu, apa kau lupa aku adalah gurumu?"


"!?"


Ariel tiba tiba merasakan dalam bahaya. Dia dengan cepat melompat ke belakang. Disaat itulah semua homunculus yang menahan Kuro tiba tiba berterbangan ke segala arah dengan kekuatan besar hingga membentur dinding dengan keras.


Yang dilakukan Kuro sangat sederhana. Dia menyerap energi di sekelilingnya dan menggunakannya untuk menghempaskan semua homunculus yang menindihnya.


"Ya ampun, aku tahu kau memiliki mata itu, namun aku tak menyangka kekuatannya akan seperti ini. Kau benar benar membuatku terkejut dua kali, senior..."


Sementara itu Kuro terdiam membisu. Dia masih dalam posisi berdiri dengan kedua pedangnya dalam posisi bertarung.


Matanya yang begitu dingin menunjukkan kalau Kuro akan membunuh Ariel meskipun dia dulum muridnya. Dan Ariel tentu tahu hal ini.


"Ha ha.. ha aku rasa terlalu cepat jika aku berkata bisa mengalahkanmu, tapi kau pasti tahu aku bukanlah orang yang mudah menyerah. Aku tak akan berhenti sebelum membunuhmu‼"


Di kedua tangan Ariel muncul dua pedang katana hitam. Kedua pedang itu bukanlah magic arm, namun senjata yang sudah dia persiapkan sebelumnya.


"Inilah senior yang kukenal. Kau memang yang terbaik jika sedang serius. Bagaimana kalau kita mulai permainan kecil di antara kita? Kau masih ingat kan?"


Kuro dan Ariel membentuk kuda kuda yang sama. Bahkan posisi awal teknik pedang mereka sama.


Mereka bagaikan cermin yang saling berhadapan. Disaat yang sama, puluhan homunculus mulai bangkit kembali berniat membunuh Kuro.


Bendera yang berhamburan perlahan mulai mendarat di antara mereka berdua.


"Cursed Blade Art...-"


"Cursed Blade Art...-"


Bendera mendarat di lantai dan kedua sosok menghilang bagai tertelan bumi.


""Witch Reaperrr‼""


Dalam kurun waktu kurang dari satu detik Kuro dan Ariel mengadu kedua pedang mereka dan teknik mereka. Dalam sekejap mereka mengerahkan semuanya. Kekuatan, kecepatan, teknik yang mereka gunakan untuk menjadi pembunuh penyihir nomor satu yang dikenal sebagai Witch Reaper.


2 detik berlalu kedua sosok mereka terlihat dalam jarak 10 meter dengan luka di sekujur tubuh mereka. Mereka seimbang.


"Haaaa‼‼!"


"Haaaa‼‼"


Keduanya berteriak dan maju dengan tanpa ragu. Ini adalah serangan terakhir mereka. Semua akan berakhir dalam satu serangan penentuan.


Homunculus di sekitar mereka menjadi penonton yang hanya bisa terpaku tanpa bisa memberi dukungan.


Akhirnya dua pedang sekali lagi beradu. Kecepatan dan kekuatan yang mereka kerahkan memiliki level yang berbeda dengan sihir manapun di dunia ini. Mereka lalu melewati satu sama lain seolah hanya sedang berpapasan.


"..."


"..."


Hening. Tak ada yang bergerak. Hanya dua pedang dengan noda darah menetes dari ujung pedang mereka. Disaat yang sama semua benda di sekitar mereka terpotong menjadi puluhan bahkan ratusan keping. Homunculus yang masih tersisa tak jauh berbeda. Perlahan tubuh mereka terbelah dan jatuh. Bahkan senjata mereka yang dibuat khusus hancur berkeping keping.


"...Itsuki... jika kau ingin menghadapiku, jangan pernah mengandalkan boneka untuk melawanku."


Kedua pedang Ariel terjatuh ke lantai bersamaan dengan kedua lengannya yang terpotong.


Meskipun dia terluka parah, tak ada tanda dia kesakitan. Dia justru tersenyum seolah sudah bisa menduga akhir dari pertarungan mereka.


"Jadi kau tahu?"


"Sejak awal aku tahu kau hanyalah homunculus yang dibuat untuk melawanku, tidak, kurasa jika lebih tepat kusebut kloning."


Lalu dada Ariel terbelah dan menunjukkan jantung yang sudah hancur. Hanya beberapa detik tersisa hingga nafas terakhir dia hembuskan.


"...aku memang hanyalah boneka, tapi aku memiliki tujuan. Apa kau sudah tahu tujuan itu, senior?"


"...."


Kuro terdiam dan melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Dia tak perlu menjawab karena tak ada gunanya menjawab pertanyaan sebuah boneka.


Tapi bukan berarti apa yang ingin disampaikan boneka itu tak sampai ke hati Kuro.


Dia mendengar tubuh Ariel yang terjatuh ke lantai seperti seonggok daging dan dengan perlahan menguap menjadi asap. Homunculus yang lain juga bernasib sama.


Saat melihat kota Ruigars yang sempat ramai, kini semua terbakar tanpa ada kehidupan.


"...."


Kuro sadar dia hanya baru beberapa menit berada di dalam gudang, namun semua bukti sudah musnah.


Musuh kali ini sangat pandai merencanakan semua tindakan mereka. Selain itu, mantan muridnya berada di pihak mereka. Ini mungkin menjadi pertarungan yang sengit.


Kuro menuju hutan untuk bersembunyi. Asap mengepul tinggi akan mengundang perhatian. Tak butuh waktu lama hingga Knight datang untuk menyelidiki apa yang terjadi di kota Ruigars.


"..."


Kuro mengembalikan satu pedang putih ke Crystal Box. Lalu dengan tangannya yang bebas satu persatu jarum yang menusuk tubuhnya dia cabut. Bohong jika dia tak merasa sakit, namun rasa sakit Kuro bukan hanya berasal dari luka fisiknya.


Dia lalu tiba di bagian hutan yang tanpa pepohonan. Cahaya rembulan menembus rerumputan dan memberikan cahayanya ke tubuh Kuro yang penuh dengan noda darah.


(Ini seperti malam itu... ha ha... sudah berapa lama...?)


Ketika memikirkan itu, dia merasakan hawa keberadaan seseorang. Tidak, lebih tepat jika puluhan orang.


Tentu mereka bukanlah teman yang akan menyapa Kuro atau memberikan pertolongan pertama.


Mereka adalah homonculus yang sudah dipersiapkan setelah Kuro selesai bertarung dengan Ariel. Ya. Mereka tahu apa yang terjadi dengan tubuh Kuro setelah menggunakan trump card yang membuatnya dikenal sebagai Witch Reaper.


"..."


Kuro mengambil nafas dalam. Dia lalu menghunuskan pedangnya dan bersiap bertarung. Tidak ada rasa takut atau tanda ingin lari dari mata Kuro yang kini bagaikan sebuah cermin.


Kondisi tubuhnya akibat menggunakan Cursed Blade Art masih sangatlah lemah. Tenaga yang dia miliki hanya tinggal sedikit. Ditambah dengan efek samping menggunakan Eyes of Origin, maka Kuro mungkin hanya mampu bertarung beberapa menit saja.


Mungkinkah ini akhir bagi Kuro?


Saat memikirkan itu, senyuman muncul di bibir Kuro. Disaat yang sama puluhan homonculus mengepungnya dari segala arah dengan senjata di tangan mereka.


"....kau memang murid terbaikku, Itsuki. Kau mampu membuatku seperti ini. Tapi kau pasti ingat kalau pelajaranku yang paling penting dari semuanya adalah.."


Kuro maju, dan begitu pula dengan musuh. Ronde ketiga telah dimulai.


Disaat itulah sebuah bayangan muncul di atas medan pertempuran. Itu adalah bayangan monster dengan empat kaki. Bulunya putih dengan garis hitam seolah mengatakan dia bukanlah monster biasa. Dia adalah sang raja dan monster legendaris yang dikenal sebagai salah satu Divine Beast.


Seorang gadis dengan rambut pirang menunggangi punggung sang monster. Saat rembulan menyinari wajah gadis itu yang membuatnya bagaikan bidadari yang turun dari surga.


"Byakko, [Plasma Spear]"

__ADS_1


Byakko membuka mulutnya dan menembakan plasma. Tapi tak seperti plasma yang biasa dia keluarkan, plasma itu berubah menjadi tombak dan menembus tubuh puluhan homunculus. Ini adalah pembantaian. Sedangkan homunculus yang lolos Charlmilia serang dengan pedang angin.


Dalam waktu kurang dari 5 detik, semua musuh mati. Mereka semua menjadi uap dan menghilang. Yang tersisa hanyalah kristal berwarna ungu.


"Kuro, kau baik baik saja?"


Byakko mendarat di dekat Kuro dan Charlmilia langsung menghampirinya.


"Ya.. aku baik baik saja."


Kuro menggunakan pedangnya sebagai tongkat. Jujur saja tubuhnya sudah mencapai batas.


"Baik baik saja? Jangan bohong, lihat semua lukamu. Aku akan membawamu ke tempat Riana untuk segera mendapatkan pertolongan pertama."


Charlmilia lalu memapah Kuro dan mengangkatnya ke tubuh Byakko. Tenaga seolah menghilang dari tubuh Kuro. Tak hanya itu darah terus mengalir dari seluruh tubuhnya. Jika tak cepat, Kuro akan kehabisan darah.


(Luka Kuro lebih parah dari yang kuduga. Sekuat apa musuh kali ini?)


Karena dia mengenal Kuro, maka dia tahu hanya ada beberapa orang yang mampu membuat Kuro sampai seperti itu. Dia merasa lega saat tahu keputusannya untuk membantu Kuro tidaklah salah.


"Byakko, kita kembali ke ibukota."


Menuruti perintah tuannya, Byakko mulai berlari menuju ibukota dengan kecepatan penuh.


"Charlia, terima kasih. Berkat kau aku masih bisa kembali ke Laila."


"Jangan banyak bicara dulu, Kuro. Lukamu saat ini sangat parah. ...Apa kau tak memiliki air mata phoenix?"


Kuro menggelengkan kepalanya.


"Jika aku punya aku akan tanpa ragu menggunakannya.. ngomong ngomong Charlia, bagaimana bisa kau di sini? Bukankah kau ada di kota Areshia?"


Meskipun Kuro sempat memikirkan kemungkinan Charlmilia akan menyusulnya, namun untuk mengetahui lokasinya saat ini adalah mustahil.


"Aku datng ke ibukota karena mengirimkan undangan untuk Laila dan ..untukmu, maksudku untuk Akashi."


"Undangan?"


"Sudahlah, sebaiknya jangan banyak bicara. Aku akan menjelaskannya nanti. Yang terpenting adalah secepatnya menyembuhkanmu. Aku akan meminta dokter terbaik di ibuko-"


"Tidak. Jangan mem..bawa..ku.."


Kuro tiba tiba memejamkan matanya seolah mengantuk. Tak hanya itu, tubuhnya juga semakin lemas.


"Kuro?"


"Ba..wa..aku ke.. Lai..la.."


Setelah itu Kuro tak sadarkan diri. Pedang putihnya hampir terjatuh, namun dengan sigap Charlmilia menangkapnya.


"...Kuro... disaat seperti ini kau masih..."


Tanpa alasan yang jelas air mata mengalir dari kedua mata Charlmilia. Karena perasaan Charlmilia tersampaikan kepada Byakko, maka Byakko ikut merasakan apa yang dirasakan Charlmilia saat ini.


"..ah aku baik baik saja, Byakko. Kita ke tempat Laila. tempat dimana semua luka Kuro akan sembuh tak peduli separah apapun luka itu. Hm, apa itu?"


Charlmilia melihat cahaya kelap kelip dari balik jaket yang penuh dengan noda darah. Karena penasaran, Charlmilia menyingkirkan kain yang sejak awal sudah robek.


Tapi saat membukanya, cahaya itu menghilang.


"Huh? Mungkinkah hanya imajinasiku?"


💠💠💠


Keesokan harinya, Kuro mulai membuka matanya. matahari sudah meninggi tanda kini sudah tak pagi lagi.


Ketika bangun, rasa sakit masih dia rasakan di sekujur tubuhnya. Dengan sekuat tenaga akhirnya dia bisa bangkit.


Kuro sedikit terkejut karena saat ini dia berada di ruangan yang tak dia kenal. Tapi saat melihat Laila di tertidur di dekatnya, semua keterkejutan itu menghilang berubah menjadi rasa bersalah.


Perlahan dia menyentuh pipi Laila dan dengan jarinya dia menata poni rambut Laila yang sedikit berantakan.


"Um.. am...uu.."


Laila mengigau bagai anak kecil. Saat melihat keimutan kekasihnya, Kuro tak bisa menahan diri untuk tersenyum bahagia.


Dan mata Laila pun terbuka.


"Ku—Kuro..."


Air mata mengalir dari mata Laila. lalu dengan cepat Laila naik ke atas ranjang dan memeluk erat tubuh Kuro.


"Kuro... Kuro..."


Sambil terus memanggil nama Kuro, air mata Laila mengalir semakin deras dan tak terbendung. Itu adalah tanda Laila benar benar mengkhawatirkan dirinya.


Kuro membalas perasaan Laila dengan memeluk kembali Laila dengan kedua tangannya. Lalu dengan tangan kirinya dia mengelus rambut Laila yang begitu lembut dan harum.


"Aku baik baik saja. Berhentilah menangis, ...Laila."


"U..Uaaaa....."


Ketika dia berada di tempat yang aman, orang yang dia cintai berada dalam bahaya besar. Bagaimana bisa dia menyebut dirinya orang berhak bersama dengan Kuro jika hal itu terus terjadi?


"....aku memang sering membuatmu kawatir karena keegoisanku, tapi seperti yang kau lihat aku selalu kembali untukmu. ..jadi berhentilah menangis.."


Kuro semakin erat memeluk Laila. Dia tak bisa terus melihat Laila menangis karena dirinya.


"U..ua.."


Lailapun perlahan berhenti menangis dan disaat yang sama pelukannya semakin erat. Perasaan keduanya telah tersampaikan kepada orang yang mereka cintai.


Mereka lalu menatap satu sama lain. Mata yang penuh dengan cinta bercampur kekawatiran terpantulkan dari mata sang kekasih.


Laila lalu menutup matanya. itu adalah tanda Laila bersiap menerima semua cinta dari Kuro.


Kuro tak memiliki alasan untuk tak memberikan cintanya. Perlahan dia mendekatkan bibirnya untuk mencium Laila, tapi saat hampir menyentuh bibir manis Laila, Kuro merasakan suatu yang lain.


Sebuah kipas menghalangi ritual kasih cinta mereka.


"Uhm?


Sebuah kipas merah dengan ornamen emas yang terlihat mewah dan mahal. Mereka lalu melirik ke pemilik kipas itu.


Seorang wanita dengan rambut pirang seperti Laila dan memiliki mata biru. Kulitnya putih meskipun hanya terlihat di bagian telapak tangan dan wajah memberikan pesona kepada siapapun yang melihatnya.


Kuro pernah melihat wanita itu sebelumnya. Dia ingat itu adalah wanita yang ada di toko pakaian yang kemarin dia beli.


Sementara itu bagi Laila wanita itu bukanlah orang asing. Dia sangat mengenal wanita itu dan mengerti kenapa bisa mengganggu mereka tanpa mereka sadari.


"Laila aku tahu kau ingin bermesraan dengan kekasihmu, tapi bisakah kau menahan diri?"


Laila menunjukkan tatapan tak senang dengan apa yang dia dengar.


"Apa aku tak boleh kawatir dengan kekasihku? Bagaimanapun dia hampir mati, jadi karena selamat bukankah wajar memberikan hadiah?"


Wanita itu tersenyum tipis sambil melirik Kuro dengan tatapan seolah menganalisa Kuro.


"Hoho.. tak buruk."


Tiba tiba wanita itu mendekatkan wajahnya ke Kuro tanpa peduli dengan reaksi Laila.


"Wha.. nenek, apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau juga tertarik dengan Kuro?"


Dengan cepat Laila memeluk Kuro dengan erat seperti anak kecil yang tak ingin mainannya direbut oleh orang lain.


Sedangkan Kuro, dia lebih dikejutkan dengan hal lain.


"Nenek?"


"Kuro, jangan pernah berusaha merayu nenek!! Apa kau mengerti?"


"Aku terkejut kesanmu terhadapku sama sekali tak berubah."


Meskipun mereka sudah lama menjalin hubungan, namun tampaknya kesan playboy dan perayu wanita masih melekat di hati Laila. Kuro tak tahu apakah harus senang atau sedih. Namun dia berharap kesan itu tak akan selamanya melekat kepadanya.


"Nenek, bisakah kau tak mengganggu kami? Kami akan keluar sekitar satu atau dua jam lagi, jadi bisakah kau bersabar?"


"Errr.. apa yang kita lakukan selama itu?"


"Tentu ini waktunya hukuman."


Mendengar itu wajah Kuro langsung membiru. Tentu hukuman bisa bermakna lain.


"Jangan berharap hanya karena kau baru sembuh aku akan memberikan perlakuan khusus."


Apakah ini akan berlangsung selamanya?


Kuro hanya bisa mendesah setelah mengetahui nasibnya.


Tiba tiba wanita itu tertawa.


"Nenek, apakah ada suatu yang lucu?"


"Tidak, tapi bukankah aku sudah bilang untuk menahan diri? Mungkin kalian bisa melakukan itu sepuasnya di rumah kalian, tapi disini adalah rumahku. Aku adalah penguasa di rumah ini..."


"Ya ya ya... aku mengerti. Bisakah nenek mengatakan apa yang nenek mau?"


"Laila, kenapa kau lupa dengan suatu hal yang terpenting? Apa kau lupa dengan semua yang aku ajarkan?"


Laila berpikir sebentar, lalu sadar apa yang neneknya maksud.


"Benar, aku belum memperkenalkan Kuro kepada kalian semua."


"Ya ampun, aku tak menyangka kau benar benar lupa. Meskipun kami tahu siapa dia, namun bukan berarti perkenalan tidak diperlukan, benarkan."

__ADS_1


Bukan masalah formalitas, namun sopan santun.


Laila akhirnya melepaskan Laila dan mendekat ke neneknya. Dia lalu merangkul lehernya dan mengajak neneknya berbicara dengan berbisik.


"(Nenek, kau tahu siapa dia kan? Aku tahu kau tak memiliki niat untuk menentang hubungan kami, tapi aku ingin tetap menanyakan ini, bagaimana kesanmu dengan dia?)"


"(Kau memiliki selera yang sama denganku dan ibumu, tapi jangan lupa meskipun kami merestuimu, namun kau harus meminta restu kepada ayahmu. Bagaimanapun juga dia adalah kepala keluarga ini.)"


"(Soal itu, aku ingin meminta bantuan kepada nenek. Kau tahu kan sifat ayah bagaimana? Jujur saja meskipun kami sudah mendiskusikannya berkali kali, kami masih belum siap.)"


"(Jangan kawatir. Jika dia membuat onar, aku akan membereskannya.)"


"(Seperti biasa nenek paling bisa diandalkan.)"


"(Ok, tapi jangan lupa sopan santunmu saat di depan ayahmu. Kau akan memberikan kesan buruk jika melakukan hal seperti tadi di depan ayahmu.)"


"(...ya...)"


Karena Laila sudah lama tak melakukan hal yang biasa dilakukan bangsawan, kebiasan itu mulai memudar. Tapi itu tak masalah karena dia sama sekali tak lupa bagaimana tata cara sopan santun.


Mereka lalu berhenti berdiskusi. Meskipun lirih, namun Kuro bisa mendengarnya. Tentu dia memutuskan untuk berpura pura tak mendengarkan diskusi antara dua keluarga.


"Ehem.. Kuro, mungkin ini sedikit terlambat, namun perkenalkan. Dia adalah nenekku, Scarlet Allein Fortisillein. Yah.. mengenai lainnya, kurasa sudah tahu. Dan jangan lupa, meskipun dia terlihat seumuran denganku, namun dia sud- AWW‼"


Sebelum selesai, dia mendapatkan pukulan keras dari kipas neneknya.


"Uuu.... Kenapa nenek selalu memukul kepalaku? Apa kau tak kawatir nanti aku menjadi bodoh?


"Mungkin kau sudah menjadi bodoh. Bukankah sudah kubilang untuk tak membahas umur."


Scarlet lalu menatap Kuro.


"Fu fu.. jangan kawatir, inilah keseharian keluarga kami. Kalau tak salah namamu Kuro Kagami, perkenalkan, aku adalah nenek Laila. kau bisa memanggilku Scarlet."


"...Salam kenal, Nen- Aww‼"


Tak hanya Laila, Kuro juga mendapatkan pukulan dari kipas mewah sang nenek.


Yang mengejutkan adalah kecepatan Scarlet yang begitu luar biasa karena Kuro dan Laila tak sempat melihat atau merespon gerakannya.


"Jangan panggil aku nenek! Panggilan itu membuatku terlihat tua. Dan kau juga sudah sering kubilang untuk tak memanggilku seperti itu, Laila."


"Ya yah.. tapi kau kan..."


Scarlet memancarkan aura berbahaya yang seolah mengatakan tak akan memaafkan kesalahan untuk kedua kalinya.


"Baiklah.. Scarlet...."


Scarlet tersenyum lalu mengalihkan pandanganya ke Kuro.


"Bagaimana kau memanggilku?"


"Bagaimana kalau Scarlet..?"


"Itu sudah cukup. Bagus aku senang dengan pemuda yang cepat mengerti. Baiklah, sekarang kau sebaiknya bangun dan sapalah orang orang yang kawatir denganmu. Bagaimanapun juga bukan hanya Laila saja yang sedih dengan apa yang terjadi kepadamu, Kuro."


Kuro mengangguk dan mulai bangkit. Pakaian yang rusak dan penuh dengan noda darah tergantikan oleh kemeja putih dan bersih. Karena ukuran sangat pas, mungkin Laila mengambil pakaian dari rumahnya.


"Ugh!"


Dia masih bisa merasakan nyeri di berbagai tubuhnya. Meskipun luka sudah menutup, namun sensasi menyakitkan masih dia rasakan.


"Kau baik baik saja?"


"Aku baik baik saja. Tapi aku penasaran bagaimana bisa ke rumahmu? Seingatku aku diantar Charlia lalu.."


"Sebaiknya kau dengar sendiri dari Charmilia secara langsung, bagaimanapun juga semua ini salahnya."


"Eh?"


Sekali lagi, kipas Scarlet berada di kepala Laila.


"Apakah itu caramu berterima kasih kepada orang yang menyelamatkan calon suamimu?"


"Ne-Scarlet pernah mengajariku untuk tak pernah membiarkan siapapun mendekati kekasihku. Aku hanya mempraktekannya saja."


Mereka membuka pintu lalu menelusuri lorong yang dihiasi barang kelas satu.


"Hmmm.."


"Ngomong ngomong dimana ibu dan Clara?"


"...mereka sedang mengobrol dengan teman temanmu. Kau tahu tak sopan meninggalkan mereka sendirian kan?"


"Teman teman?"


Dengan kata lain, selain Charlmilia ada orang lain yang datang ke ibukota. Mungkinkah Knox atau Jinn? Mereka harus bertemu secara langsung untuk mengetahuinya.


Laila mendesah dan menunjukkan raut tak senang. Sangat.


"Laila?"


"Uh.. sebenarnya aku tak ingin membahas hal ini. Sebaiknya kau lihat sendiri siapa yang datang. Dan tentu saja tujuan mereka kemari?"


"...."


Untuk alasan tertentu Kuro merasakan firasat buruk dan tak menyenangkan.


Setelah beberapa saat mereka memasuki ruangan dengan pintu besar. Setelah masuk, mereka tiba di ruangan yang besar. Itu adalah ruang tamu di rumah Laila.


Di tempat duduk beberapa orang sedang mengobrol dengan teman kue kering dan teh. Seperti yang dikatakan Laila, selain Charlmilia ada orang lain dari kota Areshia yang bersamanya. Kedua orang lainnya cukup mengejutkan Kuro karena tak menyangka mereka akan ikut. Dua gadis cantik yang memiliki wajah yang sama sehingga membuat siapapun tak bisa membedakan mereka, Alva dan Alvi Icaliva. Selain keduanya, ada tuan putri Riana dan satu orang yang cukup mengejutkan. Bukan siapa dia, namun penampilannya.


"Kenapa guru kalian seperti itu? Mungkinkah dia terkena semacam penyakit?"


Seorang wanita dengan rambut merah membara meneguk teh dengan anggun setelah menanyakan itu kepada Alva (?)


Selain wanita itu, ada gadis kecil berambut pirang yang sedang memeluk boneka duduk di sampingnya.


"Ah.. kami tak tahu. Kami hanya diperintah oleh Nyonya Electra untuk membawanya bersama kami. Ah.. Kuro?"


Semua mata menuju Kuro dan lainnya yang memasuki ruangan. Untuk alasan tertentu semua mata mereka berbinar binar saat mellihat penampilan Kuro yang tak seperti biasanya.


Melihat itu, Laila langsung menggandeng tangan Kuro seolah menyatakan 'jangan dekat dekat, dia adalah milikku'.


Aura ruang tamu yang tenang langsung berubah menjadi panas dan penuh persaingan.


"Ah.. Alva, Alvi dan juga Otome. Kalian datang kemari rupanya."


"Kuro, kau sudah sehat?"


"Ya, begitulah."


Kuro lalu mengalihkan pandangannya ke wanita berambut merah dan anak kecil. Kuro menunduk memberi hormat sambil tersenyum.


"Terima kasih atas bantuannya kemarin, nyonya Lia."


Lia tersenyum kecil.


"Ah.. sama sama. aku hanya kebetulan lewat saja. Tapi aku tak menyangka pemuda itu adalah calon keluarga kami. Sepertinya kebiasaan burukku berakhir dengan baik."


Kuro tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar itu.


Sayangnya semuanya memberikan tatapan penasaran dengan apa yang terjadi.


"Kuro...?"


"Aku tak merayu ibumu."


"Ara ra... aku tak menyangka kau begitu cemburuan. Clara, kenapa kau tak sambut calon kakakmu?"


Gadis kecil itu mengangguk dan turun dari tempat duduk. Lalu dia menuju ke Kuro.


Tapi sebelum itu terjadi, ada sosok yang lebih dulu mendahului gadis kecil itu. Sosok itu adalah Otome.


Otome dengan cepat menuju Kuro dan berusaha memeluknya. Tak ada yang bisa menghentikannya karena tiba tiba, tapi syukurlah satu satunya orang yang cukup cepat bereaksi langsung menendang Otome hingga merusak lantai keramik. Otome-pun pingsan.


Tak ada yang tahu kenapa Otome tiba tiba bertingkah seperti itu, namun setelah berhasil menendang Otome, Kuro tiba tiba tersungkur dengan kedua lututnya.


"Ku-Kuro.."


"Aku baik baik saja."


Perlahan Kuro bangkit dibantu oleh Laila.


"Sepertinya tubuhku masih terkena efek samping akibat Cursed Art."


Mata Laila langsung menunjukkan tatapan sedih karena tahu apa yang terjadi jika Kuro menggunakan Cursed Art.


Disaat itulah sang gadis kecil mulai mendekat dengan menginjak Otome yang tenggelam ke lantai. Tak ada yang peduli dengannya.


"Kakak?"


"Ya, aku akan menjadi kakakmu suatu hari. Kalau tak salah namamu Clara?"


Clara mengangguk pelan. Dia sungguh manis. Karena mirip dengan Laila, sekilas melihat Laila saat masih kecil.


"Kakak, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan?"


"...suatu saat nanti, bolehkah aku menikah dengan kakak?"


"""""............................................................................................................................................................................................."""""


Semua orang membeku.

__ADS_1


Mungkin Kuro akan segera mendapatkan julukan baru.


Loli Killer?


__ADS_2