
"Pertarungan ini tak ada akhir."
Dan seperti itu, Arthuria menghindar dari serangan yang mampu menghancurkan 10 bangunan besar.
Halilintar menyambar dari awan hitam dengan kecepatan yang tak mungkin dihindari oleh manusia biasa, tetapi sosok manusia suci dapat menghindar seolah hanya permainan anak kecil.
Pedang yang memancarkan cahaya suci bercampur dengan halilintar seolah senjata yang dimiliki oleh Tuhan untuk menghukum manusia. Sayangnya, saat ini hukuman itu diberikan oleh jiwa yang telah dibangkitkan dari kematian.
Pertarungan sejauh ini berlangsung cukup seimbang berkat Arthuria. Tetapi hanya masalah waktu keseimbangan hancur karena Arthuria tak bisa mengikuti jalannya pertarungan. Hampir beberapa kali dia terkena serangan, syukurlah Electra membantunya disaat yang tepat.
Setelah pertarungan sengit beberapa menit, kedua belah pihak menjaga jarak.
"Bagaimana kalau kita habisi orang itu?"
Arthuria melirik Itsuki yang masih tak bergerak dari tempatnya. Cukup mengejutkan dia masih tak terluka di tengah pertarungan yang mampu menghanguskan manusia menjadi debu.
"Itu bukan ide yang bagus. Saat ini Maria dibangkitkan dengan sihir tak diketahui. Memang ritual sihir pemanggilan biasa yang digunakan akan membuat pemanggil menjadi sangat rentan, tetapi apa kau bisa menjamin setelah kita membunuhnya, jiwa Maria akan kembali ke surga dan semua ini berakhir?"
....tentu Arthuria tak bisa menjamin itu.
Selain itu ada kemungkinan kalau Maria akan mengamuk. Hanya dengan kemampuan kecilnya, dia sudah mampu meluluh lantahkan ibukota. Tak ada yang bisa membayangkan apa yang terjadi jika hal itu terjadi.
"Tch.. Andai saja dia bisa menggunakan kekuatan itu, pertarungan ini pasti akan lebih mudah."
"Siapa yang Anda maksud?"
"Hanya seorang yang dikenal sebagai . Kau pasti mengenalnya karena kau juga salah satu dari "
Mata Arthuria melebar.
Knight of Rounds merupakan 12 orang yang dipilih oleh kaisar secara langsung karena kekuatan unik mereka. Identitas mereka tak diketahui dan kedua belas orang hanya diketahui dengan menggunakan nama alias. Karena mereka bukanlah organisasi, maka mereka hanya sebuah gelar dan tanda kekuatan mereka tidaklah normal.
sebutan untuk Arthuria. Sedangkan untuk yang lain dia hanya mengenal beberapa. Salah satunya adalah . Seperti nama aliasnya, kekuatannya adalah mampu menghancurkan ritual sihir manapun. Tak diragukan lagi kekuatan itu sangat membantu mereka dalam pertarungan kali ini.
"Aku harap dia bisa melakukan sesuatu dengan ritual sihir ini... Jika tidak.. "
"..."
"Semuanya akan berakhir."
Kemudian halilintar sekali lagi menyambar. Tetapi bukan halilintar yang diarahkan pada Maria, tapi pada Electra dan Arthuria.
Syukurlah keduanya bisa menghindar tepat waktu, sayangnya, itu hanyalah awal dari mimpi buruk.
[Analisa elemen logam selesai, memulai penyesuaian elemen ... Selesai. Holy Iron Thunder.... Selesai.]
Salah satu kemampuan Izriva, menyesuaikan elemen dengan elemen yang dimiliki lawan. Tetapi sejauh ini Izriva sudah menggunakan kekuatan tingkat tinggi yang menggabungkan elemen lawannya dengan elemen suci milik Maria.
Dengan kekuatan seperti itu, melawan Maria dengan jumlah besar sama saja dengan memberikan kekuatan pada lawan.
(Meminta bantuan sama saja dengan bunuh diri)
Namun bukan itu saja yang menjadi masalah. Salah satunya dia tak tahu siapa yang bisa dia mintai bantuan.
(Tetapi pertarungan semakin berat karena dia sudah menganalisa sihir badai petir milikku)
Electra melirik Arthuria.
(Tetapi ini sedikit aneh. Dia tak menganalisa kemampuan Arthuria dan memilih menganalisa kemampuan Irho. Sudah kuduga kekuatannya tidaklah sempurna)
Senyuman muncul di bibir Electra.
Dia memiliki ide yang gila, tetapi saat ini mereka berada di situasi yang gila. Tak ada salahnya menggunakan itu.
"Art, jika seperti ini kita berdua akan kalah. Aku punya jalan keluar dari masalah ini, apa kau bisa melakukan ide itu?"
"Ide? Baiklah, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi apa anda pikir dia akan membiarkan kita melakukan hal itu?"
Tentu dia tak tahu apa yang dipikirkan Electra, tetapi dia tahu saat ini bukanlah situasi yang membuat mereka bisa bercanda.
"Tentu tidak. Tetapi aku yakin ada orang yang mampu menahannya walau hanya sebentar."
"Siapa?"
Kemudian halilintar sekali lagi menyambar keduanya. Kali ini lebih cepat dan kuat, Electra dan Arthuria tak sempat menghidar dan mereka terkena serangan.
Tentu saja keduanya masih selamat. Bagi Electra, halilintar adalah sahabatnya sejak kecil. Butuh lebih dari itu untuk bisa menghancurkannya.
Sedangkan Arthuria, dia masih bertahan karena kekuatan Suzaku dan tentu saja elemen suci yang da miliki. Dengan itu dia bisa mengurangi dampak serangan.
Tetapi-
"Jika serangan seperti itu mengenai kita terus menerus, kita akan mati."
"Kuh!?"
"Apa yang dia lakukan?"
Maria mengangkat tangan kirinya ke atas. Kemudian dari dalam tanah muncul pilar pilar besi dengan cabang seperti ranting pohon. Jumlah pilar itu mencapai ribuan dan tersebar di seluruh kota.
"Ini buruk!?"
Electra berkeringat dingin. Kemudian firasat buruk yang dia rasakan menjadi kenyataan.
Halilintar menyambar tepat di bagian pilar pilar. Namun meskipun waktu sudah berlalu, halilintar itu tak menghilang dan menjadi sebuah pilar halilintar yang menembus langit. Dan yang lebih buruk, halilintar itu mengelilingi Maria seperti sebuah perisai.
"Kita sekarang sulit menyerangnya. Apa yang harus kita lakukan?"
"Diamlah. Aku sedang mencoba memikirkan sesuatu."
Sayangnya, Maria tak membiarkan mereka berpikir.
Puluhan tombak besi muncul di sekitar Maria. Lalu tombak besi itu diselimuti oleh halilintar dahsyat. Electra sadar itu adalah sebuah serangan yang menggunakan prinsip sebuah railgun.
Tentu bukan hanya itu saja alasan Electra mengetahuinya. Sihir yang digunakan Maria saat ini merupakan salah satu sihir keahliannya.
""
Kemudian yang bisa keduanya lakukan hanyalah menghindar. Jika mereka menahan serangan Maria, itu sama saja mengantar nyawa. Sayangnya, menghindar bukanlah hal yang mudah dilakukan mengingat banyak pilar halilintar yang mirip sebuah hutan bambu.
Tetapi mereka bisa melakukannya. Kemampuan mereka menghindar merupakan kelas satu yang tak kalah dengan kemampuan Kuro. Sayangnya, Maria tak membiarkan keduanya terus menghindar.
Maria menciptakan tombak besi lainnya. Lalu dengan prinsip yang sama dia menciptakan tombak peluru railgun. Namun kali ini jumlahnya mencapai ratusan sehingga membuat Maria terlihat seperti landak halilintar.
"Sial!?"
Pada akhirnya keberuntungan mereka telah habis. Tombak railgun menghujani mereka dan untuk pertama kalinya keduanya tumbang di tanah dengan luka di sekujur tubuh mereka.
Tetapi itu tidak cukup. Maria menambahkan serangan halilintar besar bagai raungan yang membelah daratan.
Kawah besar tercipta. Dan di tengahnya, terdapat dua orang yang tak bergerak sama sekali dengan percikan listrik keluar dari tubuh mereka.
__ADS_1
Setelah melihat keduanya tumbang, Maria tak menunjukkan rasa senang atau kecewa. Dia terlihat hanyalah sebuah boneka yang menuruti setiap perintah Itsuki.
Disaat yang sama, pertarungan Irho dan Michael dimenangkan oleh Irho. Michael memang magic beast dengan kekuatan dahsyat, tetapi Irho juga tak kalah kuat.
Dengan kapak yang terbuat dari orichalcum, dia bisa menandingi senjata Michael tanpa takut senjatanya akan rusak. Dengan kata lain, meskipun musuh menggunakan elemen suci, dia tak perlu takut untuk menggunakan kekuatan penuh.
Halilintar yang membelah langit sedikit membuatnya repot. Apalagi dia berelemen besi yang menjadi konduktor yang sangat bagus untuk elemen petir. Sayangnya, dia mengenakan Orichalcum yang dia buat secara khusus agar tak mudah terkena efek sihir orang lain. Armor yang dia kenakan tak diragukan lagi merupakan karya terbaiknya, dan itulah kenapa dia tak mungkin kalah meskipun lawannya magic beast terkuat di dunia.
Tetapi, meskipun bisa mengalahkan Michael, bukan berarti bisa mengalahkan Maria. Hanya dengan itu dia bisa mengurangi beban electra.
Lalu kemudian Irho mengambil kurungan yang terbuat dari bahan yang sama. Dan tentu saja dia memasukan Michael ke tempat itu. Dengan kekuatan orichalcum, Michael tak akan bisa lolos kecuali Irho menghancurkannya, tetapi itu sangat sulit karena Michael terus beregenerasi seperti menerima pasokan sihir tak terbatas.
Tak peduli sekuat apa penyihir, hal itu merupakan hal tak wajar. Dan itu bukan hanya karena Maria adalah makhluk yang dipanggil dari alam kematian. Sayangnya, untuk mencari lebih tahu penyebabnya, dia tak memiliki waktu untuk itu.
Disaat itulah dia mendengar halilintar besar yang membelah kota. Kemudian dia merasakan kalau energi sihir Electra dan Arthuria melemah. Dia langsung sadar kalau itu sebuah pertanda buruk, tetapi dia tak bisa melakukan apapun.
Saat sedang memikirkan itu, Michael tiba tiba menghilang dan kembali ke sisi Maria.
Irho langsung mengklik lidahnya dengan wajah tak senang.
(Dia bisa memanggil Michael kapanpun dia mau. Ini sungguh hari yang sial. Tak ada yang memberi tahuku kalau dia memiliki pasokan sihir tak terbatas.)
Irho memasukan kembali kurungan ke tempat penyimpanan dimensinya. Kemudian dia melompat ke tempat Electra dan Arthuria karena merasa cemas. Tentu dia kawatir dengan serangan Maria, tetapi dia sadar kalau Maria tak akan menyerangnya.
Saat sedang berusaha mendekat dengan menghindari pilar halilintar, disaat yang sama Maria sedang melakukan sesuatu.
(Tekanan sihir ini, apa yang ingin dia lakukan?)
Tekanan sihir Maria terus membesar dan membesar. Bahkan itu melebihi tekanan sihir milik Leon. Kemudian tiba tiba Michael berevolusi menjadi malaikat dengan 8 pasang sayap. Itu adalah tanda kalau Maria menggunakan Incarnation pada Michael.
Ciel. Itu adalah nama kedua Michael setelah bereinkarnasi. Aura suci yang terpancar meningkat pesat sehingga menelan ibukota penuh dengan cahaya seolah matahari kedua tercipta di tempat itu.
Lalu di langit muncul lingkaran sihir yang membentang ke seluruh ibukota, tidak, lebih besar dengan beberapa lapis seperti sebuah meriam sihir. Lingkaran sihir itu bahkan bisa terlibat dari radius 100 km.
Semua yang melihat itu akan berpikir kalau Maria bukan manusia, tetapi bagi yang pernah mengenal atau setidaknya mendengar tentang kekuatan Maria yang mampu mengalahkan Demon King pasti tahu apa saja yang bisa Maria lakukan.
Dan itu salah satunya. Meskipun hanya dari legenda.
" apa dia akan melakukan itu?"
Irho tak bisa mempercayai matanya. Dia bahkan sampai lupa bernafas dan lupa hampir menyentuh pilar halilintar yang berada di dekatnya.
Ini reaksi yang wajar. Maklum saja, apa yang akan dilakukan Maria merupakan salah satu alasan kenapa dia bisa menang melawan Demon King.
Pasukan Demon King berjumlah tak terhingga dan lebih kuat dari penyihir biasa. Untuk mengalahkan mereka, Maria menggunakan sihir yang mampu mengalahkan, tidak, lebih tepatnya menghancurkan pasukan Demon King hanya dengan sebuah sihir tingkat tinggi skala besar. Itulah .
Tetapi saat ini tak ada pasukan Demon King yang berada di dunia. Pertanyaannya, kemana target serangan itu diarahkan?
Saat sedang memikirkan itu, Irho menatap Itsuki yang tertawa terbahak bahak bagaikan orang gila.
"Ya. Seperti itu. Hapus semua sihir di dunia ini dengan cahaya penyelamatmu haha hahahahaha.. Musnahkan penyebab semua konflik di dunia ini!? Hancurkan tanpa tersisa sedikitpun!"
Kemudian Itsuki terus tertawa bagai orang yang sudah rusak. Tidak, dia memang sudah rusak. Hanya orang rusak yang melakukan semua ini.
Tetapi setelah mendengar tawa orang gila yang memuakkan telinga, Irho sadar kemana target anak panah itu.
(Ini benar benar gawat. Jika dia tak dihentikan, seluruh dunia akan..)
Berpikir saja Irho tak bisa, apalagi mencoba membayangkannya. Semua itu hanyalah neraka yang akan tercipta jika mereka gagal.
Tetapi Irho tak memiliki kemampuan untuk mencegah Maria. Yang dia bisa lakukan hanyalah berdoa.
(Aku mohon, siapapun hentikan dia!)
Ciel berubah menjadi anak panah dengan aura suci. Panah yang indah, namun akan menghancurkan segala yang menyentuhnya.
Sementara itu, pedang Maria bertranformasi menjadi busur putih suci tanpa noda sedikitpun. Lalu dia meletakaan anak panah Ciel ke tali busur. Tanpa ada keraguan dia menariknya hingga maksimal dan mengarahkannya ke atas tempat di pusat lingkaran sihir.
Diapun melepaskannya. Cahaya suci melesat ke langit menjadi sebuah tanda dan awal kehidupan baru. Saat menyentuh lingkaran sihir, sejarah baru akan tertulis dan tak ada yang bisa menghentikannya.
Tetapi mungkin sejarah masih belum ingin diperbarui.
"Kerahkan semuanya untuk menghentikan itu "
Sebuah cahaya muncul bersamaan dengan suara gadis. Cahaya itu melesat dari langit menuju tepat ke arah anak panah Ciel.
Kedua cahaya saling beradu di langit dan saling menghancurkan satu sama lain. Percikan cahaya menyebar ke segala arah bagaikan sebuah kembang api penghancur. Tetapi cahaya dari langit mulai terdorong oleh anak panah Ciel.
"Tch ... Kekuatan penuh!!"
Cahaya dari langit bertambah besar ditambah dengan sebuah halilintar yang bergerak bagai ular besar yang menerkam anak panah Ciel. Dan kemudian setelah kedua cahaya beradu satu sama lain beberapa detik, akhirnya kedua cahaya menghilang dan langit kembali penuh dengan awan petir yang berlubang.
Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi siapapun yang berhasil mencegah tragedi adalah seorang pahlawan.
Pahlawan itupun kemudian muncul dari retakan di langit. Seekor naga biru sebesar 25 meter yang merupakan salah satu Dragon King Class, Lapis Lazuli. Dan bersama dengan naga itu, seorang berdiri di kepala Lapis Lazuli dengan mengenakan Dragon Gear. Tetapi tak seperti Dragon Gear biasa, namun Dragon Gear yang menyerupai armor Valkryie. Ya, itu adalah jenis Dragon Gear yang sama saat Diana bertarung melawan Cross.
Dragon Valkryie. Itu sebutan yang cocok untuk menggambarkan sosok itu. Dan karena wajah pemakainya terlihat, siapapun bisa mengenalinya. Apalagi dia memiliki ciri khas berupa dada besar yang mengalahkan ukuran gadis sumuran dengannya.
Pedang kembar muncul di kedua tangannya. Lalu dengan raungan keras yang menggetarkan ibukota, Charlmilia bergabung dalam pertarungan.
✴️✴️✴️
"...Kep*rat!"
Knox tak bisa menahan diri untuk mengutuk pria yang menembak bahunya. Tak hanya merasa sakit yang luar biasa, namun dia paham kalau orang itu menggunakan peluru khusus.
Tubuhnya mulai terasa lemas dan dia tak bisa menangkap apa yang terjadi di sekitarnya. Kekuatan sihirnya kini seolah lenyap tanpa sisa.
"Hehe.. Sudah kuduga anticristal sangat ampuh terhadap penyihir seperti kalian."
Tawa yang memuakkan ditunjukan orang itu. Semua ingin segera menghabisinya, tetapi ketiganya tak bisa berbuat apapun saat Hana menjadi sandera.
Pria itu mengambil senjata lainnya dan diarahkan tepat di kepala Hana. Amira menunjukkan reaksi kesal dan marah meskipun dia terus terdiam. Tatapannya bahkan seolah akan membunuh pria itu berkali kali.
Tetapi Knox menggelengkan kepalanya untuk memberi tanda kalau apa yang dia lakukan terlalu beresiko.
"Bagus, kalian sepertinya anak kecil yang cerdas. Aku tak menyangka kalian masih anak sekolah. Jujur saja kalian lebih baik daripada Knight yang menjaga kota."
"Siapa kau dan apa maumu?" tanya Knox.
"Hehe.. Aku hanyalah orang yang sedang melakukan penelitian untuk menguak misteri dunia ini. Aku seorang ilmuan biasa."
Tentu Knox tak mudah percaya dengan apa yang dia katakan setelah melihat semua hal yang terdapat di laboratorium itu.
"Daripada seorang peneliti, kau lebih mirip seorang psikopat. Apa yang bisa kau teliti dari seorang pemuda biasa?"
Pria itu hanya menunjukkan tatapan bosan.
"Apa kau yakin mengatakan kalau dia hanyalah pemuda biasa? Kau benar benar bodoh. Seorang King bukanlah orang biasa meskipun dia hanya menggunakan kulit luar seekor katak. Ya, seorang yang kau sebut sebagai manusia biasa tak lebih dari sebuah cangkang kosong."
"..."
__ADS_1
"Kau pasti bisa melihat sendiri apa yang kami bisa lakukan dengan hanya sedikit contoh darahnya saja. Apa kau berpikir dia hanyalah orang normal setelah mengetahui itu?"
Otak Knox mencari tahu semua kemungkinan dari informasi yang dia terima, lalu kesimpulan yang dia dapat cukup membuat seluruh pengertian normal yang dia miliki hancur dalam sekejap mata.
"Haha.. Sepertinya kau mulai paham apa yang aku maksud. Benar, jika kau penasaran bagaimana kami bisa menggunakan elemen kegelapan, kau sudah tahu jawabannya. Oh iya, Knox, sepertinya kau orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan kami, bagaimana kalau kau ikut bergabung dengan kami? Aku jamin kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan?"
Knox tak terlalu terkejut saat pria tua itu mengetahui namanya. Selama mereka di labirin, pasti ada semacam alat atau sihir untuk mengawasi pergerakan mereka. Tak heran jika mereka mengetahui nama atau bahkan kekuatan yang mereka miliki.
".....apakah ..itu benar?"
"Hey Knox, ini bukan saatnya bercanda."
Jinn seolah apa yang dia dengar hanyalah sebuah candaan. Dia tak pernah berpikir Knox akan berubah pihak hanya karena alasan sepele.
Tetapi disaat itulah dia sadar. Selain Knox adalah seorang yang memiliki pemikiran unik dan cerdas, Jinn tak tahu apa apa tentang Knox. Bahkan bisa dibilang Knox memiliki latar yang lebih misterius daripada Kuro.
Ada yang mengatakan kalau dia seorang putra bangsawan. Ada pula yang mengatakan kalau dia seorang yang lahir dari orang biasa. Tetapi ada pula yang bilang kalau dia terlahir dari seroang komandan Knight di ibukota.
Meskipun dia terlihat terbuka pada orang lain, namun pada kenyataanya Knox orang yang sangat tertutup dengan jati dirinya. Inilah yang membuat Jinn tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Knox dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Kuku.. Benar. Kau pasti sudah melihat apa yang bisa kami lakukan? Jika kau ingin kekuatan, kami bisa memberikannya? Kekuasaan lebih mudah lagi. Aku jamin kau tak akan menyesal kalau kau bergabung dengan kami."
Knox terdiam sesaat, namun setelah itu dia tersenyum kecil.
"Menarik. Aku akan mempertimbangkan tawaranmu."
Pria itu tersenyum lebar.
"Knox, jika kau terus bercanda, aku akan tanpa ragu melawanmu."
Kuda kuda Jinn sudah bersiap jika hal buruk segera terjadi.
"Diamlah. Orang yang memiliki segalanya seperti dirimu tak usah mengatakan apapun. Jangan kau pikir karena aku berbaik hati padamu itu membuat hubungan kita menjadi seorang sahabat. Jujur saja, persahabatan yang kau banggakan itu membuatku muak."
"...Knox.. Kau.."
Tak ada yang bisa dikatakan lagi. Jinn benar benar terkejut karena tak menyangka Knox akan mengatakan hubungan yang terjalin selama ini hanyalah sebuah kepalsuan.
Tetapi disaat yang sama, Jinn bertanya tanya kenapa Knox bisa berpikir seperti itu? Apa yang terjadi padanya sehingga ikatan pada orang lain tak lebih dari sebuah sampah?
"Kuku.. Bagus. Seperti yang aku harapkan. Tidak, kau bahkan lebih baik daripada yang aku sangka. Tak diragukan lagi kau sama seperti kami. Seorang yang menginginkan sesuatu yang tak mungkin bisa dicapai jika menggunakan cara normal. Kalau begitu, datanglah ke-"
Tiba tiba suara tembakan terdengar. Lalu teriakan menggema ke semua arah. Orang yang berteriak itu adalah sang pria.
Darah mengalir dari dadanya. Tak bisa menahan rasa sakit, pria itu terus menekan dadanya yang tertembus peluru.
Saat menahan rasa sakit, dia melihat sepasang kaki di dekatnya. Setelah menoleh ke atas, yang dia adalah Knox yang menunjukkan tatapan dingin seolah melihat sampah.
"A-apa yang terjadi padaku?"
Wajar saja pria tua itu tak tahu apa yang terjadi. Tembakan itu bukan berasal dari Jinn, maupun Knox. Bahkan Amira tak menggunakan sniper miliknya.
Tetapi pertanyaan pria tua itu terjawab saat tubuh Amira tiba tiba menjadi cairan kental.
"Ah... Aku lupa memberi tahuku kalau Amira bisa menciptakan tiruan dengan menggunakan kemampuan Soul-nya. Bukankah mereka semua menyeramkan?"
"KH.. Keparat, ...bukankah ..kau ingin bergabung denganku?"
Knox tersenyum lebar.
"Maaf saja, aku memiliki keinginan yang tak mungkin bisa kau kabulkan."
"Wha.."
"Jika aku bisa menghidupkan kembali ibuku, aku pasti sudah melakukannya sejak lama. Sayang sekali, menghidupkan orang yang sudah mati suatu hal yang mustahil di dunia ini."
Mata Jinn melebar karena tak menyangka mendengar itu dari Knox.
"Ha.. Meskipun kalian saat ini menghidupkan orang lain dengan menggunakan ritual terlarang, namun apakah itu bisa disebut hidup jika menuruti semua yang kalian perintahkan? Bagiku itu tak lebih dari menciptakan sebuah boneka. Maaf saja, aku sungguh tak tertarik."
Amira muncul dengan sniper di tangannya.
"Bagus, Amira. Aku senang kau bisa bersabar untuk tak membunuh pria ini. Tidak, kau sudah membunuhnya kah.."
Mata Knox tak menunjukkan simpati atau belas kasihan. Itu adalah mata yang sama dengan mata Kuro. Mata yang sudah tertelan kegelapan.
Amira mengangguk. Lalu tanpa ragu mengarahkan ujung sniper ke kepala pria tua itu.
"Aku.. Tak akan ..memaafkanmu.."
Dan kemudian, kepala pria tua itu hancur tersebar ke seluruh ruangan. Bahkan darah terciprat pada wajah Knox, namun dia mengabaikannya.
"Knox..."
"Apa? Aku hanya berpura pura agar perhatiannya teralihkan. Jangan terlalu berpikir keras. Itu sama sekali tak cocok pada otak otot seperti dirimu."
Dalam sekejap Knox sudah kembali seperti semula. Semua yang dia katakan seolah hanyalah kepalsuan belaka, namun bagi Jinn ini adalah sebuah mimpi buruk.
Setiap orang pasti memiliki masalah masing masing. Itulah yang dinamakan arti kehidupan.
Tetapi ketika Jinn membandingkan masalah yang dia alami dengan masalah yang dimiliki Knox, dia merasakan perbedaaan bagai langit dan bumi. Sayangnya, dia tak bisa berbuat apapun untuk meringankan masalah temannya.
(Aku harus menjadi lebih kuat lagi)
Jinn mengepalkan tangannya. Dalam hatinya dia membulatkan tekad agar menjadi lebih kuat. Lebih kuat lagi daripada yang sekarang ini.
"Sekarang mari kita ambil putri tidur kita."
Knox tanpa ragu mengangkat Hana dari tempat tidur.
Disaat itulah Amira mendekat dengan wajah kawatir. Dia bahkan memeriksa Hana dengan menyentuh di berbagai tempat.
"Aku tak tahu apa yang mereka lakukan padanya, namun melihat kondisi tubuhnya yang tak terluka segorespun, aku yakin ada alasan kenapa mereka menjaga temanmu. Hm, apa kau tahu sebuah alasan yang menyebabkan mereka tak melukainya?"
Knox bertanya karena sadar pasti ada semacam kekuatan khusus sehingga Hana masih dibiarkan hidup. Sebagai temannya, Amira pasti tahu, tetapi dia menggelengkan kepalanya.
"Begitu rupanya. Kita pasti akan menemukannya nanti. Yang terpenting saat ini kita sebaiknya pergi dari sini. Tempat ini sungguh membuatku muak."
"Baiklah, tapi bagaimana dengan bahumu?"
Darah sudah berhenti menetes, namun karena anticristal berada di tubuh Knox, dia tak bisa menggunakan sihir saat ini. Memang itu merugikan, namun Knox memilih tak mengambilnya karena takut terkena infeksi.
"Ini bukan masalah besar. Sebaiknya kau maju lebih dulu karena kau andalan kami."
Jinn mengangguk tanda mengerti. Dia satunya yang bisa bertarung di garis depan saat ini.
"Meskipun aku hampir kehabisan energi sihir, aku akan melindungi kalian dengan mempertaruhkan nyawaku." ucap Jinn sambil menekan tangannya di dada.
"Baiklah, Amira, kau yang berada di garis depan. Jujur saja Siscon sialan ini membuatku takut."
"Wha.."
__ADS_1
Amira mengangguk tanda sependapat.