
Drageass, ibukota Dragonia.
Kota ini merupakan kota yang dipenuhi bangunan warna merah dan simbol naga. Bahkan tak ada bangunan yang tak memiliki simbol naga.
Di tengah kota terdapat istana yang tak terlalu besar, namun memiliki halaman yang luas yang digunakan untuk berlatih mengendalikan naga. Tak hanya wilayah istana, sebagian kerajaan Dragonia merupakan wilayah hutan dan padang rumput.
Sayangnya, meskipun ini adalah ibukota, hari ini tak ada siapapun di kota ini. Bahkan bisa disebut kota hantu. Jalanan, rumah, mall, kantor pemerintahan kerajaan, semuanya kosong.
Atau tidak.
Di jalan utama yang menuju istana, 5 ekor naga berbaris rapi. Empat naga merupakan naga Fire Dragon Class yang mempunyai ciri warna merah membara. Sementara di tengah merupakan naga biru yang merupakan jenis Dragon King Class. Tepatnya salah satu dari 13 Dragon King Class yang ada di dunia.
Dragon King Class memiliki tubuh lebih besar dari naga biasa. Naga biasa hanya 7-10 meter, tapi Dragon King Class adalah naga berukuran 25 meter dari ujung kepala hingga ekor.
Kelima naga itu merupakan anggota pasukan Dragon Knight. Sementara 5 orang yang menunggangi naga itu disebut Dragon Rider, tapi mereka juga disebut Dragon Tamer..
Dragon Rider dari naga Dragon King Class adalah seorang gadis 15 tahun dan merupakan putri ketiga kerajaan Dragonia. Wajah cantik bagai boneka dan kulit seputih susu. Matanya berwarna biru yang sama dengan rambutnya biru kehijauan lurus sebahu.
Berbeda dengan pasukannya yang memakai armor tebal dan berat, putri itu memakai armor tipis yang terbuat dari sisik naga.
"Bagaimana status saat ini?"
Dia bertanya kepada anak buahnya yang sedang menggunakan alat sihir komunikasi jarak jauh.
"Masih tak terlalu banyak perubahan Putri Diana. Bagian kota selatan 4 Necrodra masih belum bisa dikalahkan. Bagian kota timur masih 2 Necrodra yang tersisa. Bagian barat dan timur lebih baik karena hanya satu Necrodra saja yang masih belum dikalahkan."
Setelah mendengar itu Diana tak sedikitpun merasa senang. Meskipun sekarang hanya 8 Necrodra yang belum dihabisi dari 20 Necrodra yang menyerang, namun kerugian akibat serangan 4 arah terbilang cukup besar.
Hal ini karena Necrodra adalah naga yang dibangkitkan menggunakan sihir, sementara pihak Diana bertarung menggunakan naga yang masih hidup.
Ledakan dapat terdengar dari 4 arah. Asap akibat Dragon Breath juga terlihat membumbung tinggi ke langit.
"Lalu bagaimana dengan jumlah korban?" Diana bertanya lagi.
"Saat ini korban masih nol, namun banyak yang mengalami luka berat. Saat ini kelompok terus bergantian melawan Necrodra dan membawa yang terluka ke tempat pengobatan terdekat. Pengalaman serangan 6 bulan yang lalu telah banyak memberikan pengalaman, jadi kita bisa meminimalkan korban kali ini."
"Baguslah kala-?!"
Disaat yang sama setelah prajuritnya memberikan laporan, jalanan di depan mereka tiba tiba terbelah. 6 ekor Necrodra jenis Earth Dragon Class yang tak bersayap berwarna hitam kelam muncul dari tanah itu.
Tapi tak hanya dari depan, dari samping kiri dan kanan, termasuk belakang, muncul naga lainnya dari tanah. Mereka terkepung.
Tapi itu masih belum yang terburuk.
"Putri Diana, lihat!"
"......"
Diana langsung menoleh ke arah langit. Dia dapat melihat 10 naga hitam terbang dari arah depan menuju tepat ke arah istana. 10 Necrodra itu merupakan jenis Holy Demonic Dragon Class.
Menyadari itu, Diana menggigit bibir bawahnya.
Sebagai seorang putri, dia berkewajiban melindungi warganya. Selain itu, hanya dia satu satunya Dragon Rider dari anggota kerajaan yang berada di sana saat ini.
"Cepat perintahkan untuk memperkuat perisai istana. Apapun yang terjadi kita tak bisa membiarkan mereka menyerang istana dan mendapatkan apa yang mereka mau. Hancurkan semua Necrodra secepat mungkin."
""""Baik!!!""""
Keempat Dragon Rider di sampingnya langsung mengaktifkan sihir mereka. Tombak, pedang, panah dan pistol meriam muncul di tangan mereka.
Salah satu dari mereka menggunakan sihir telekomunikasi untuk menghubungi istana.
Setelah beberapa saat, kubah tak terlihat muncul dan menyelubungi seluruh istana. Tak hanya udara, namun perisai itu juga ada di bawah tanah. Singkatnya, sekarang istana berada dalam sebuah bola.
Menyadari perisai telah diperkuat, Diana melemaskan bahunya. Sekarang dia bisa sedikit merasa tenang.
Dan setelah mengambil nafas, dia memanggil nama sihirnya.
""
Sebuah tombak merah darah muncul di tangan Diana.
Dia lalu mengamati naga yang mengepungnya. Musuh berjumlah 33 Necrodra, sementara pihaknya hanya berjumlah 5.
"Ini akan cukup sulit, tapi ini bukanlah apa apa jika dibandingkan 6 bulan lalu, benarkan Kuro?"
Diana memperlihatkan tatapan serius dan mengarahkan ujung tombaknya ke kelompok naga yang ada di depannya.
"Shapira, ayo cepat kita kirim temanmu kembali ke alam baka!!"
Roooooooooooaaaaaaaaaarrrrrrr!!
Shapira naga biru kehijauan Dragon King Class meraung sebagai tanda pertarungan telah dimulai.
\=\= _--
Kembali ke kota Areshia, tepatnya hutan Eldea.
"Luar biasa. Aku benar benar tak mempercayainya."
Rich tersenyum senang saat melihat patung yang sudah selesai dibuat oleh Kuro. Patung itu berbentuk wanita yang berdiri memakai gaun dan memainkan biola.
Patung itu memiliki ukuran seperti aslinya. Bahkan wajahnya juga sama seperti istri Rich dan terlihat hidup. Rich bahkan sempat berpikir patung itu adalah istrinya.
"Bagaimana? Apakah anda puas?"
Kuro berdiri di dekat patung sambil memegang Lic.
"Ini lebih dari perkiraanku. Tapi yang lebih mengejutkan adalah kau membuatnya dengan sebuah pedang dan hanya kurang dari 30 menit. Apa kau punya trik khusus?"
"Tidak. Sebenarnya aku membuat patung hanya untuk berlatih, jadi tak ada trik khusus."
"..... Berlatih? Begitu rupanya. Lalu berapa aku harus membayar untuk ini?"
Meskipun pengakuan Kuro sulit dipercaya, tapi Rich melihat proses pembuatan dari awal hingga akhir, jadi dia terpaksa harus percaya.
"Aku akan memberikannya gratis. Sebagai gantinya aku minta anda untuk merahasiakan identitasku. Lagipula ini hadiah untuk istri anda, aku tak mungkin meminta bayaran untuk ini. "
"Ha ha ha... Apa kau serius? Jika kau mau, aku rela membayarmu 100 milyar untuk patung ini."
"100 Milyar!?"
Mata Laila terbuka lebar saat mendengar bayaran Kuro. Tentu jika dia menerimanya.
Tapi Kuro menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak tawaran Rich.
Kuro menyarungkan kembali padangnya dan tersenyum.
"Terima kasih tawarannya, tapi aku tetap menolak. Aku membuatkan anda patung karena saya senang anda adalah orang yang rela melakukan apapun demi istri anda. Saya menyukai orang seperti anda. Jadi saya akan tetap menolak meskipun anda membayar 1 triliun Yold."
Untuk sesaat, Rich terdiam. Tapi setelah itu dia tersenyum puas.
"Begitu rupanya. Baiklah, aku akan menganggap patung itu adalah sebuah hadiah darimu. Hmm? sudah datang rupanya."
Rich melihat anak buahnya datang membawa koper yang lumayan besar. Koper itu tentu saja berisi uang dari patung sebelumnya.
Karena bank tutup, maka Rich memerintahkan anak buahnya mengirim uang dari wilayah lain menggunakan benda sihir teleportasi. Proses ini cukup memakan waktu, namun tak ada yang terburu buru. Menunggu sebentar bukanlah hal yang merugikan.
Rich menerima koper dari anak buahnya, lalu menyerahkannya kepada Kuro.
"Terima kasih..."
Ucap Kuro setelah menerima koper dari Rich.
"Ha ha... bukankah aku yang seharusnya berterima kasih? Ahh.. sudahlah, aku tahu kau bocah yang sedikit aneh."
". ........."
Laila hanya terdiam karena dia tahu ini bukan saat yang tepat untuk bertanya banyak.
Setelah menerima uang, Kuro dan Laila kembali ke kota Areshia. Sementara itu Rich pergi ke ibukota untuk segera memberikan hadiah ulang tahun kepada istrinya. Ini wajar mengingat butuh beberapa hari untuk ke ibukota.
Mereka berdua sekarang masuk kota melalui gerbang timur bersama sama.
"Mau kau apakan uang sebanyak itu?"
Laila bertanya sambil melirik koper coklat yang berisi 100 juta yold.
"...... hmmm.... kenapa aku harus memberi tahumu?"
"Eh?"
Laila terkejut karena mendengar pertanyaan yang tak terduga dari Kuro.
__ADS_1
Saat ini Laila hanya mengikuti kemana Kuro pergi. Dia tak tahu kemana tujuan Kuro karena ini baru pertama kalinya dia ke tempat yang dilalui Kuro.
Bangunan di sekeliling mereka didominasi bangunan tua. Bahkan ada yang kosong dan hampir rubuh. Penduduk jarang terlihat dan didominasi orang tua.
Ini adalah sisi kota Areshia yang baru saja Laila lihat.
"Aku mau melakukan apapun terserah aku, tapi jika kau ingin tahu, kau cukup mengikuti aku. Mudah kan?"
"..........."
Walau yang dikatakan Kuro benar, namun dia merasa jengkel. Hari ini Laila merasa kalau Kuro sedikit menyebalkan.
Setelah sekitar 15 menit berjalan, Laila dan Kuro berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang lumayan tua. Pagar besi mengelilingi bangunan itu. Tak jauh dari bangunan itu terdapat gereja dan taman yang tak terawat.
Kuro tanpa ragu memasuki halaman bagunan itu. Laila mengikutinya di samping.
Tak disangka, dari bangunan itu seorang wanita setengah baya datang menyambut mereka berdua. Wanita itu berpakaian suster gereja berwarna putih dan berkalungkan salib.
"Kakak benar benar datang."
"Ahhh... benar. Dia datang."
"Eh?"
Laila terkejut saat melihat beberapa anak anak muncul di belakang sister itu. Jumlah anak anak itu 20 an terdiri dari berbagai umur.
Anak anak itu dengan cepat mengerumuni Laila dan Kuro.
"Ha... Siapa wanita cantik ini?"
"Mungkinkah dia pacar Kakak?"
"Putih, bukan pilih- awwww!"
Suster itu menjitak bocah laki laki yang mengintip rok Laila.
"Delio, jangan usil. Kalian semua kembali ke dalam. Kalian boleh bermain dengan kakak setelah urusan dia selesai. Mengerti?"
""""Baiiikkk!!!'"""
Anak anak itu menuruti perintah sister itu dan kembali ke dalam bangunan.
Setelah melihat pintu tertutup, sister itu menatap Kuro dan Laila.
"Maafkan mereka. Kalian berdua tahukan kalau mereka masih anak anak."
"Ahhh... tidak apa apa. Aku tahu mereka hanya usil."
Laila tersenyum senang dan tak merasa keberatan sudah diintip oleh anak kecil.
"Tentu saja tak masalah. Lagipula warna celana dalammu sebenarnya warna merah kan?"
"Fu fuu... kau salah. Hari ini aku memakai warna hitam.. eh?"
Wajah Laila langsung memerah padam karena menyadari bahwa Kuro hanya menggodanya seperti bocah bernama Delio.
"Kauuu!!!!"
"Kenapa kau marah? Kau yang mengatakannya sendiri kan?"
"Ugg!"
Akhirnya Laila tak jadi marah dan menunduk lemas.
Sister itu tertawa kecil saat melihat keakraban Laila dan Kuro.
Setelah itu mereka masuk ke dalam ruang tamu. Laila dan Kuro duduk berdampingan dan sister itu duduk berseberangan dengan mereka. Mereka dapat mendengar suara anak kecil yang berasal dari lantai 2.
Tak hanya bagian luar, ternyata bagian dalam bangunan juga terlihat cukup tua. Tapi terlihat terawat dan bersih.
Tak berapa lama setelah duduk, seorang gadis kecil datang membawa 3 cangkir teh hangat. Gadis kecil itu menaruh cangkir di atas meja kayu dengan perlahan.
"Terima kasih.."
".........."
Laila mencoba menyapa, tapi gadis kecil itu langsung pergi.
Melihat itu sister itu sedikit mendesah.
".......Tidak. Aku tak terlalu memikirkannya, tapi disini banyak sekali anak anak. Mungkinkah tempat ini sebenarnya-"
Sister itu mengangguk membenarkan dugaan Laila.
"Ini adalah panti asuhan, tapi panti asuhan tidak resmi."
Yang menjawab adalah Kuro.
"Eh?"
"Sebenarnya bangunan ini merupakan bagian dari gereja. Jadi tempat ini bukanlah panti asuhan. Tapi beberapa tahun yang lalu banyak anak anak yang dikirim ke gereja karena tak memiliki orang tua. Kami tak keberatan, hanya saja jumlah yang semakin bertambah membuat kami sedikit kerepotan. Apalagi di situasi seperti ini. Terus terang keadaan kami semakin buruk setiap harinya."
"".........""
"Tapi kami tak mungkin memberitahukan masalah kami kepada anak anak, sayangnya tanpa kami ketahui, mereka sadar kalau kami mengalami kesulitan dan akhirnya meminta sumbangan di jalanan."
"Eh? Kuro uang itu..-"
Kuro hanya tersenyum dan minum teh yang sudah menjadi hangat.
"Ya. Aku baru kembali dan melihat beberapa anak meminta sumbangan. Karena aku penasaran, aku bertanya kepada mereka dan mereka menunjukkan tempat ini."
"Aku tak menyangka anak anak membawa tuan Kuro ke sini. Dia berniat memberi sumbangan, jadi aku menunggunya hingga kembali. Tapi aku tak menyangka tuan Kuro kembali secepat ini."
"Kuro kau..?"
Laila melirik Kuro dengan tatapan rumit.
"Jangan menatapku seperti itu. Awalnya aku berniat mengambil uang di bank, sayangnya bank tutup hari ini, jadi terpaksa aku menjual barang tadi. Oh... Sister Marika ini uang sumbangan dariku"
Kuro menaruh koper di atas meja dan membukanya.
Mata Marika melebar saat melihat isi koper yang berupa ratusan ribu Yold.
"Saya mohon gunakan uang ini untuk memperbaiki gedung dan gereja. Dan saya sarankan untuk membuat sebuah usaha kecil. Aku yakin uang itu cukup untuk sebagai modal."
".........."
Sayangnya, sister Marika tak menjawab karena melihat jumlah uang yang ada di dalam koper.
"Sister?"
"....Ah maaf. Aku tak menyangka kau menyumbang sebanyak ini. Bukankah kau masih murid sekolah?"
Orang normal pasti juga memikirkan hal yang sama jika melihat uang yang dibawa Kuro.
"Memang aku murid sekolah, tapi uang 100 juta Yold bukanlah uang yang terlalu besar. Sister Marika tahu, pacarku ini adalah putri Paladin, jadi aku rasa uang sebanyak itu tak terlalu berarti. Lagipula aku akan lebih senang jika uang itu digunakan untuk kepentingan anak anak."
Marika menatap Laila sesaat lalu tersenyum.
"......Baiklah. Kalau begitu aku akan memanfaatkan uang yang kau berikan sebaik mungkin."
"Satu hal lagi, bisakah anda memberitahuku nomor rekening anda? Aku akan menyumbang lagi. Selain itu aku akan meminta agar tempat ini menjadi panti asuhan resmi. Dengan begitu, tempat ini akan mendapatkan perhatian pemerintah kan?"
".......eh?"
Marika hanya terdiam. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Apalagi Kuro hanya seorang murid sekolah.
"Hey Kuro, jangan bercanda di situasi seperti ini."
"Siapa yang bercanda. Aku punya banyak kenalan di pemerintah, jadi mendaftarkan tempat ini menjadi panti asuhan resmi adalah hal mudah bagiku."
"Huh?"
"Sebenarnya bukan itu masalahnya. Yang aku tidak mengerti adalah kenapa tempat ini belum didaftarkan untuk menjadi panti asuhan resmi? Kurasa tempat ini sudah memenuhi syarat, benarkan?"
Mendengar pertanyaan Kuro, Marika menunduk lemas dan terlihat murung. Tapi setelah mengambil nafas, dia kembali menatap Laila dan Kuro dengan tatapan sedih.
"A-alasan kenapa kami tak mendaftarkannya sejak dulu adalah karena kami takut."
"Takut?"
"........."
__ADS_1
"Aku, dan 3 sister di tempat ini adalah mantan penjahat. Jika kami mendaftar, tentu saja itu akan mengungkapkan identitas kami yang sebenarnya. Menurut kalian, apa yang akan terjadi setelah itu?"
"........"
Laila terdiam. Dia menyadari maksud perkataan Marika.
Jika identitas mereka ketahuan, maka ada kemungkinan musuh atau korban mereka akan membalas dendam. Yang menjadi masalah adalah jika anak anak tak bersalah yang menjadi korban.
"Sister Marika, angan kawatir! Kau tak perlu memberi tahukan identitas aslimu. Aku akan segera menghubungi orang yang bisa kupercaya. Besok atau lusa pasti mereka akan datang untuk memeriksa tempat ini. Tolong beritahu yang perlu saja."
"Ta-tapi-"
"Percayalah padaku sister Marika."
".........."
Marika terdiam beberapa saat. Dia sedang memikirkan perkataan Kuro.
Tak berapa lama kemudian, dia mendesah.
"....Baiklah. Aku percaya kepadamu."
Kuro tersenyum tipis senang.
Sementara itu Laila menunjukkan ekspresi rumit dan tak percaya.
"Kalau begitu aku mau pamit dulu."
"Eh?"
Yang terkejut adalah Laila.
"Kenapa kau terburu buru?"
"Aku ada banyak hal yang perlu kulakukan. Aku menyesal tak bisa menemani anak anak bermain, tapi aku akan berkunjung lagi kapan kapan."
Kuro lalu berdiri. Laila juga ikut berdiri.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku juga berjanji untuk memanfaatkan uang ini dengan sebaik mungkin."
Kuro tersenyum lalu pergi ke arah pintu dan keluar bersama Laila.
Laila menoleh ke belakang dan melihat Marika menunduk tanda hormat dan terima kasih. Marika bahkan sampai meneteskan air mata.
Sementara itu Kuro terus berjalan tanpa menoleh.
Tapi ternyata Kuro tak berdiam diri. Tangan kanannya sedang memainkan ponsel hitam. Kuro sedang mengirim pesan kepada seseorang.
Setelah beberapa saat, pesan dibalas dan Kuro tersenyum puas. Itu pertanda baik bagi Laila.
Sekarang mereka berlajan di jalan tak terlalu ramai menuju ke sekolah mereka. Jarak Kuryuu Academy cukup jauh dari gerbang timur. Butuh waktu 45 menit untuk sampai.
"Kuro, kemana saja kau ini?"
"Uh? Kenapa itu yang kau tanyakan? Bukankah seharusnya kau marah karena aku tak datang makan malam?"
Banyak pertanyaan yang ingin Laila tanyakan. Mumpung mereka berjalan berduaan, dia mengambil kesempatan untuk mengobrol dengan Kuro. Dia juga berharap bisa mencari tahu alasan kenapa Kuro tak memberi tahu dirinya bahwa dia adalah Shiro.
"Yahh... Tentu aku marah. Aku bahkan sempat berpikir untuk membakarmu hidup hidup."
"Ugg.. Semarah itukah kau?"
"Fu fu.. tidak. Aku hanya bercanda. Kau sebenarnya datang kan? Tapi kenapa kau tak masuk? Mungkinkah karena aku mengobrol dengan dua orang lelaki tampan lalu cemburu dan menghilang selama tiga hari? Fu fu..."
Kuro mendesah kecil.
"Kenapa aku harus cemburu kepada lelaki yang sudah punya tunangan seperti mereka?"
"Huh? KAU BAHKAN TAHU SAMPAI SEJAUH ITU?"
"Hei hei.. jangan berisik. Mereka adalah bangsawan, jadi pertunangan mereka cukup terkenal. Jadi wajar saja aku mengetahuinya."
"........Ahhh... kau benar."
Laila ingat pertunangan teman mereka disebarkan di surat kabar agar seluruh kekaisaran tahu. Entah mengapa Laila merasa Kuro terlalu banyak tahu informasi.
Mereka berdua lalu berbelok ke kiri di perempatan jalan.
"Sekarang yang membuatku heran kenapa kau ada di tempat seperti tadi? Ya ampun, kenapa aku tak pernah bisa bersembunyi darimu? Mungkinkah kau stalker profesional?"
"Huh?!"
Mendengar itu Laila berhenti berjalan untuk sesaat. Dia ingat ini adalah kedua kalinya Shiro/Kuro menyebut dirinya stalker.
(Dia masih tak pernah berubah sama seperti dulu.)
Laila tersenyum kecil.
"Kenapa kau tersenyum sendiri. Dasar aneh."
"Terserah aku. Lagipula jika aku stalker profesional, apa ada masalah buatmu? Ku ku.."
"Tidak juga. Aku hanya berpikir mungkin aku tak akan pernah bisa kabur darimu."
Secara teknis, mereka sudah tak sengaja bertemu sebanyak sembilan kali. Inilah yang membuat Kuro berpikir seperti itu.
"Kabur? Ha ha.. jangan berharap bisa kabur. Aku punya radar yang bisa menemukanmu dimanapun kau bersembunyi."
Meskipun yang Laila maksud adalah kaki dan alam bawah sadarnya, tapi itu juga bisa disebut Radar Kuro.
"Memangnya selama 3 hari ini kau kemana? Terus terang saja Alva dan Alvi menanyakanmu setiap hari. Jika kau tak menyukai mereka, kenapa kau tak menolak cinta mereka saja?!"
"..................."
Tapi Kuro terdiam saat mendengar pertanyaan Laila. Dia tahu maksud Laila yaitu untuk mengatakan perasaan dia yang sebenarnya kepada mereka berdua.
Hal ini juga membuat Kuro sadar kalau hubungan mereka bertiga semakin akrab selama 3 hari ini.
Setelah mendesah kecil, Kuro berkata:
"Pertama, aku pergi untuk menemui seorang gadis cantik. Kedua, aku sudah pernah menolak cinta mereka berdua. Ketiga, apa kau mau Crepe?"
"Huh?"
Laila bengong untuk sesaat. Dia hanya bisa melihat Kuro yang berjalan menuju penjual Crepe di dekat taman kecil.
Disaat yang sama, Laila merasakan marah dan rasa sakit yang muncul di dadanya. Akhir akhir ini dia sering mengalami hal ini, tapi dia tak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
Laila lalu menyusul Kuro yang sudah bersiap memesan.
"Hei apa maksudmu dengan bertemu dengan gadis cantik? Mu-mungkinkah kau berselingkuh? Apa aku masih belum cukup cantik untukmu?"
"Aku pesan coklat pisang dan dia vanila strobery!"
"Kenapa kau mengabaikanku?"
Melihat Laila berteriak. Penjual Crepe hanya tersenyum kecil sambil membuatkan pesanan.
Sementara itu Kuro menoleh ke arah Laila dengan wajah datar.
"Laila, kau ini terlalu cemburuan. Aku hanya bertemu, apakah ada masalah jika aku bertemu dengan seorang gadis?"
"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu? Hei kenapa kau mengulurkan tanganmu?"
"Apa kau bodoh? Tentu saja untuk membayar Crepe."
"...........Dasar kau ini..."
Pada akhirnya Laila hanya bisa mendesah dalam. Dia tak tahu apa yang ada dipikiran Kuro.
Pertama dia terang terangan bilang bertemu gadis lain. Lalu dia membeli Crepe agar Laila tak marah.
Laila benar benar tak mengerti apa tujuan Kuro sebenarnya.
Setelah mendapatkan Crepe pesanan mereka dan membayarnya. Laila berjalan menuju kursi panjang yang berada di bawah pohon yang ada di tengah kota. Sedangkan Kuro berjalan di belakang Laila.
"Ya ampun... aku tak menyangka kau baru saja mendapatkan satu milyar, tapi kau tak memiliki uang untuk mem- eh?"
Sebelum menyelesaikan kata katanya, Laila menoleh ke belakang dan menemukan Kuro sudah tergeletak di jalan.
Dengan cepat Laila berlari menuju Kuro.
"Kuro... Kuro.. Apa yang terjadi kepadamu?"
__ADS_1
Sayangnya Kuro terdiam membisu dengan mata tertutup rapat. Laila sadar Kuro tak mengalami luka apapun. Dia bahkan terlihat sehat beberapa menit yang lalu.
Satu satunya hal yang membuat Laila lega adalah Kuro masih hidup. Tapi kenapa dia bisa tiba tiba tak sadarkan diri?