
"Itsuki, aku heran kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu? Jika apa yang kau katakan adalah suatu yang paling terdalam dari lubuk hatimu, maka ini adalah sebuah kegagalan besar bagiku. ...Maaf."
"!"
Mendengar permintaan maaf Kuro, Itsuki menunjukkan ekspresi marah, kecewa bercampur dengan kesedihan. Emosinya meledak hingga dia sangat ingin sekali menebas Kuro hingga menjadi ribuan potongan, tetapi dia saat ini bahkan tak bisa menarik pedang dari celah jari Kuro.
"KenApa KAu memIntA maAF. Aku tAk bUtUh itu!"
Pada akhirnya Itsuki menyerah dan melepaskan Dainsleif. Dia lalu melepaskan tinju ke arah wajah Kuro dengan seluruh kekuatan yang dia miliki.
Dengan suara hantaman benda keras, Itsuki memukul wajah Kuro yang sama sekali tak bergeming atau menghindar dari tinjunya. Itsuki terkejut, tetapi dia sama sekali tak berhenti. Dia kemudian memukul Kuro berkali kali hingga akhirnya dia tak memiliki tenaga lagi untuk melakukannya.
Kemudian, setelah itu yang terlihat adalah Kuro dengan luka ringan di wajahnya.
"...kenapa...?"
"Itu suatu yang harus kau temukan sendiri. Selama di Shadow Knight aku mencoba memberimu pelajaran tentang arti sebagai manusia. Dengan itu aku berharap kau bisa memilih jalan yang lebih baik, tetapi sepertinya aku justru menyeretmu ke dalam kegelapan."
"Kenapa...?"
"Aku tak tahu. Bahkan selama ini aku terus mencari jawaban yang entah ada atau ti-"
"JaNgan BecAndaaa denganku!!! Itu bukanlah penjelasan yang aku ingin dengar. Selama ini aku sangat bangga menjadi seorang kau didik. Tak peduli apa kata orang lain, kau adalah guruku. ....Aku hanya tak mengerti, kenapa aku menjadi seperti ini...?"
Seperti yang dikatakan Kuro, ini adalah masalah yang harus dia temukan sendiri jawabannya. Tak peduli berapa kali dia memilih jalan yang penuh dengan duri, bukan berarti itu adalah jalan yang menuntunnya pada jawaban yang dia cari.
Apa yang dia cari adalah sebuah misteri dari kehidupan itu sendiri. Jawaban akan berbeda dari setiap orang, karena itulah tak ada orang yang bisa menjawab apa yang Itsuki cari.
"...aku tak tahu apakah ini bisa memberikanmu sebuah jawaban dari pertanyaanmu, tetapi ketika kau berpikir tak dicintai dan diakui, apakah kau pernah melakukan hal yang sama pada orang lain?"
"?!"
"Selama ini aku menunjukanmu banyak sisi manusia dari misi yang selama ini kita lalui. Dari situlah aku ingin kau belajar bahwa manusia selalu memiliki konflik dalam diri mereka. Ada yang menginginkan kebahagiaan dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Ada yang ingin orang lain bahagia meskipun dia akan menderita. Bahkan ada yang melakukan segala hal demi orang yang tak dia kenal. Semua itu hanyalah sisi dari yang dinamakan kehidupan manusia. Itsuki, kali ini aku yang bertanya padamu. Saat kau ingin diakui dan dicintai, apakah kau pernah mengakui dan mencintai orang lain?"
Jawabannya adalah-
"..."
Dia tak bisa menjawabnya. Ada banyak kata yang bisa dia pilih, tetapi saat ingin mengucapkan kata itu, semuanya seolah tak ingin keluar dari tenggorokannya. Dalam hatinya yang terdalam dia sadar apa yang ditanyakan Kuro merupakan suatu yang lebih tajam dari pedang manapun yang pernah menebas tubuhnya.
Dia ingat saat ibunya menelantarkannya, dia berpikir ibunya sama sekali tak mencintainya. Itu pemikiran yang wajar pada anak kecil yang sama sekali tak mengerti apa dipikirkan oleh orang tuanya. Setelah bersabar bertahan hidup dari belas kasihan, dia akhirnya bisa bertemu dengan ibunya kembali saat bersama dengan suami barunya.
Disaat itulah dia sadar kalau dirinya hanyalah sebuah eksistensi pengganggu yang tak lebih dari sampah di mata ibunya. Tetapi meskipun dia diperlakukan dengan suatu yang tak pantas dilakukan oleh seorang ibu, namun saat melihat ibunya tersenyum, dia berpikir akhirnya ibu mendapatkan apa yang dia cari selama ini.
'Aku akan menghilang seperti yang kau inginkan ibu'. Dengan pemikiran seperti itu dia menghilang dari dunia ibunya hingga akhirnya dia bertemu dengan Kuro.
Setelah berhasil bergabung dengan Shadow Knight, dia memutuskan untuk menghapus semua masa lalunya dan berfokus melindungi negeri ini dari balik bayangan.
Suatu hari, dia menemukan sebuah poster dan berita tentang pencarian anak. Dia terkejut karena orang yang mencari ternyata ibu yang telah membuangnya.
Saat itu dia langsung saja merobek poster itu dengan kekuatan penuh. Disaat itulah dia bertanya 'Kenapa sekarang? Bukankah kau yang tak menginginkan aku?' Dia memutuskan untuk tak mempedulikannya dan menenggelamkan dirinya pada misi.
Misi yang dia lalui selalu dipenuhi oleh dilema. Seperti sebuah misi pembunuhan mata mata yang memiliki keluarga di negeri ini. Misi yang membunuh anak kecil karena merupakan anggota organisasi berbahaya dan memiliki sihir yang kejam. Dan misi misi lain yang tak kalah membuat hati Itsuki berguncang.
Dia sudah berjanji untuk melaksanakan semua misi dengan sempurna, tetapi semakin dia menjalani misi, semakin pula dia mulai terjerumus dalam konflik batin yang akhirnya membuat dirinya perlahan memasuki kegelapan.
Perpisahannya dengan Kuro adalah sebuah penghalang terakhir yang akhirnya menjerumuskan dirinya ke dalam kegelapan seutuhnya.
-Kenapa semua itu harus terjadi?
Dia mulai berpikir ke dasar. Semua konflik di dunia ini berasal dari satu hal, yaitu sihir. Lalu jika dia menghapus sihir dari dunia ini, bukankah semua konflik akan hilang?
Ya. Itulah yang harus dia lakukan. Tetapi bagaimana?
Saat menemui jalan buntu, pada suatu saat Itsuki dipercaya untuk mengirimkan sebuah paket penting. Tentu dia tahu kalau paket itu memiliki banyak pengaman yang mampu membunuh yang mencoba membukanya, tetapi pada saat itu dia memberanikan diri membukanya.
Mungkin sebuah keberuntungan atau takdir, dia menemukan petunjuk untuk mengabulkan keinginannya.
Dari situlah dia merencanakan untuk memalsukan kematiannya hingga mendapatkan Cursed Arm, Dainsleif. Dia juga banyak mencari petunjuk dari berbagai sumber gelap dan berbahaya. Pada akhirnya dia mendapatkan orang yang bersedia membantunya.
Dengan bantuan mereka, akhirnya dia bisa sejauh ini, tetapi seperti sebuah takdir ingin menghalangi jalannya, kini Kuro menghentikannya hanya dengan sebuah pertanyaan sederhana.
"...saat aku melihat kau bersama Silver Viper, aku berpikir kau akhirnya sudah menemukan seorang yang bisa kau hargai. Memang kau berada di jalan yang salah, namun sebagai guru dan seorang yang mengenal dirimu, aku tahu itu sebuah revolusi dalam dirimu. Sayangnya, kau sangat mengecewakanku dengan pertanyaan yang menganggap kau sama sekali tak diakui atau dicintai."
Lagi, perkataan Kuro menusuknya dengan pedang yang lebih tajam daripada sebelumnya.
Apa yang dikatakan Kuro tak memiliki bukti dan dasar, namun jika mengingat kembali kenapa banyak orang yang mendukungnya bukan hanya karena mereka memiliki tujuan dan pemikiran yang sama. Sama seperti sebuah organisasi, jika tak ada pemimpin yang memimpin mereka, tujuan mereka tak akan bisa sejauh ini. Bahkan mungkin sudah gagal sebelum mereka melangkahkan kaki untuk pertama kalinya.
Tetapi sejauh ini semuanya berjalan dengan sempurna. Bisa dibilang ini juga hasil kerja sama yang luar biasa, tetapi apakah itu bisa terjadi jika tak memiliki ikatan saling percaya atau setidaknya salah satu dari pihak mereka mempercayai dirinya?
--Kenapa dia tak memikirkan itu sebelumnya?
Tidak. Bukannya dia tak memikirkan itu sebelumnya. Hanya saja saat Itsuki memikirkan itu, pemikiran itu langsung dia buang jauh jauh. Karena itulah dia tak pernah menganggap mereka sebagai rekan. Hanya barang yang berharga selama mereka masih berguna.
Sejak kapan dia menjadi seorang yang paling dia benci?
"AhahaAhahahahaahahahahahahaahahahhahahahahahahahahhaha..."
Jika mengingatnya kembali, yang dia lakukan hanya bisa tertawa. Mentertawakan dirinya sendiri yang lebih buruk daripada sampah terburuk di dunia.
Masih tertawa, dia akhirnya berdiri. Kedua kakinya seolah memiliki tenaga baru untuk menopang tubuhnya.
"Apa kau berpikir aku salah? Semua yang aku lakukan ini sia sia saja?"
"Entahlah. Aku tak bisa membenarkan atau menyalahkan tindakanmu, bagaimanapun juga salah dan benar hanya tergantung sudut pandang. Tetapi jika kau bertanya dari sudut pandangku, semua yang kau lakukan saat ini memang sia sia saja. Meskipun kau bisa menghapus sihir dari setiap orang dengan memanfaatkan elemen Void, namun kau tak akan pernah bisa menghapus eksistensi sihir itu sendiri."
"...Void?"
"Maaf, bagi kalian elemen Void mungkin sekarang lebih disebut sebagai elemen suci, tetapi jika hanya sesederhana itu, dunia ini tak akan pernah ada."
Sekali lagi Itsuki dikejutkan oleh Kuro. Sosok yang sangat dia kenal sebagai iblis. Tetapi sekarang dia sadar, sebanyak apapun yang dia ketahui tentang Kuro, dia tak akan pernah tahu apa dan siapa sosok yang dia panggil sebagai guru.
"Ahahahah..."
Tanpa berpikir dia tertawa lagi. Bukan berarti ada yang lucu. Bahkan saat ini dia tak mengerti kenapa tertawa.
"Sungguh, dari semua hal aneh yang pernah aku lihat, aku hampir lupa kalau selama ini aku bersama dengan suatu yang paling aneh di dunia. Kuro Kagami, sebenarnya kau siapa? Kenapa kau ada di dunia ini?"
Kuro hanya tersenyum kecil. Lalu dengan santainya dia menjawab-
"Tak peduli apa kata semua orang aku hanyalah Kuro Kagami. Tetapi jika kau ingin tahu kenapa aku ada di dunia ini, anggap saja karena ingin menepati janji pada seseorang."
Itsuki tak merasa saat ini Kuro berbohong. Wajar saja, Kuro adalah tipe orang yang mencampur kebenaran dengan kebohongan. Bahkan lidahnya lebih ahli dari politikus licik.
"Karena itulah Itsuki, kau seperti ini karena kesalahanku. Izinkan aku membunuhmu dengan tanganku sendiri."
Itsuki tak terintimidasi saat dia mendengar akan mati. Dia justru menunjukan senyuman penuh ekstasi seolah menginginkan mati di tangan Kuro.
"Kesalahanmu? Jangan besar kepala dulu. Sejak dulu aku mengagumi dirimu bukan karena kau orang yang kuat dan sesuai dengan pahlawan idealku, tetapi dari semuanya, yang paling aku kagumi adalah kebebasan yang kau tunjukan padaku. Karena itulah jalan yang aku ambil saat ini merupakan jalan yang aku pilih sendiri tak peduli apakah kau pernah menjadi guruku atau tidak. Senior, tidak, Guru, ini adalah pertarungan terakhir. Mari kita akhiri ini untuk selamanya."
__ADS_1
Kuro tersenyum. Dia lalu tanpa ragu melempar kembali Dainsleif yang berada di tangannya pada Itsuki.
"Yeah.. Kau benar.."
Kuro mengangkat pedang taring naga miliknya. Keduanya lalu menjaga jarak sekitar 10 meter dengan posisi pedang dan postur tubuh yang sama. Ini adalah bukti kalau mereka akan menggunakan teknik yang sama untuk mengakhiri pertarungan.
Ini adalah sebuah kebiasaan keduanya saat bertanding. Dengan teknik yang sama, mereka akan membuktikan siapa yang terkuat dan terbaik.
Hanya dengan satu serangan, semua selesai.
"...."
Saat melihat postur tubuh Kuro, Itsuki tak punya pilihan selain mengingat masa masa mereka berlatih dulu. Latihan secara Spartan mungkin cara yang tepat untuk menggambarkannya.
Tetapi yang paling dia ingat adalah disaat dia dan Kuro akan beradu pedang.
Dia menggenggam erat gagang pedangnya dan memfokuskan semuanya pada lawannya. Tak perlu berpikir langkah apa yang akan diambil Kuro. Semuanya hanya bergantung pada insting masing masing. Ini adalah pertarungan yang membutuhkan semua kemampuan jika ingin menang.
(Dainsleif.. Ini adalah permintaan terakhirku. Aku akan menukarkan jiwaku dengan serangan ini.)
Aura hitam mulai meluap dari Dainsleif. Dia merasakan kekuatannya mulai meningkat pesat. Bahkan bisa dibilang terkuat yang selama ini. Tetapi di saat yang sama dia mulai merasa tak bisa merasakan tubuhnya lagi.
(Ini adalah pertarunganku yang terakhir)
Dia memejamkan mata sesaat lalu memfokuskan semuanya pada satu teknik.
"Cursed Blade Art "
Dengan kekuatan Dainsleif, teknik andalan Kuro telah memasuki tingkat baru yang tak hanya menebas tubuh, namun juga jiwa. Tentu dia tak tahu apakah teknik ini mempan pada Kuro, tetapi ini adalah serangan terbaiknya saat ini.
Sedangkan Kuro-
"Cursed Blade Art "
Kegelapan menelan Itsuki. Hanya itulah yang terakhir dia ingat.
_________________
_________
___
_
Sementara itu, pertarungan Laila terus memasuki tingkatan baru. Bahkan di mata Electra saat ini pertarungan keduanya adalah salah satu pertarungan terdahsyat yang pernah dia lihat dalam hidupnya.
Dengan katana hitam di tangannya, Maria menangkis dan menyerang Laila dengan kecepatan dan kekuatan yang tak bisa Electra lihat. Ini sedikit memalukan mengingat dia dijuluki sebagai yang tercepat, tetapi saat ini dia bahkan tak bisa mengikuti gerakan mereka.
Setiap kali mereka bergerak, mereka seolah berada di tempat lain dalam waktu yang bersamaan. Bahkan saat ini mereka memiliki bayangan yang seolah memiliki pertarungan masing masing.
Lalu tiba tiba keduanya mengambil jarak sekitar 20 meter dan saling menatap dengan penuh konsentrasi seolah hanya ada mereka berdua di di dunia ini. Pertarungan hanya berlangsung selama 5 menit, tetapi tak ada yang bisa tahu berapa lama keduanya bertarung.
Kondisi Maria terlihat seperti seorang yang memiliki masalah besar dan terlihat stress, sedangkan Laila berkebalikan dengannya. Laila terlihat tenang dan mengambil nafas dalam dalam.
Udara berat terasa di tengah pertempuran. Penyihir yang tak bisa menahan tekanan keduanya pasti akan langsung pingsan.
Yang pertama kali bergerak adalah Maria.
""
Pedang angin hitam melesat ke arah Laila dengan kecepatan yang bahkan tak bisa terlihat oleh mata, tetapi dengan hanya sebuah Scarflare, Laila menahannya.
(Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah ini kekuatan Laila?)
Jika tebakan Electra benar, pedang yang mengelilingi Laila saat ini merupakan bagian dari kekuatan Laila. Tetapi saat ini dia mengkhawatirkan hal yang lebih penting, yaitu perubahan Laila.
(Sebaiknya aku lebih fokus dengan perubahan Laila. Akan gawat jika Laila ikut tertelan kegelapan)
Tetapi belum tentu sosok Laila pertanda dia tertelan kegelapan. Hanya saja dia harus bersiap dengan keadaan yang terburuk.
Maria lalu menyerang dengan serangan elemen kegelapan dari jarak jauh, tetapi semuanya berhasil ditahan atau setidaknya berhasil dihancurkan oleh Laila dengan elemen kegelapan.
"Lic, sudah cukup. Kau tak akan bisa mengalahkanku dengan kekuatanmu. Kau seharusnya bisa menyadari kalau perbedaan kekuatan kita terlalu besar."
Maria tak menjawab. Memang sekilas kekuatan Laila di atas Maria. Tetapi sebagai seorang Paladin dan Queen, Electra tahu kalau apa yang dilakukan Laila pasti memiliki semacam batas.
"Sepertinya aku harus memaksamu mendengarkan perkataanku!"
Laila mengambil Scarflare warna biru dengan tangan kirinya. Kini dua pedang berwarna biru dan hitam di kedua tangannya.
Lalu dia tiba tiba menghilang dan muncul di depan Maria dengan posisi pedang tertahan. Sayangnya, yang tertahan hanya pedang hitam.
"< Waterfall>
Dia menebas, lalu air dalam jumlah besar menghantam Maria.
""
Dalam sekejap tubuh Maria terperangkap dalam kristal es, tetapi itu tak cukup menghentikannya. Kemudian Laila menebas dengan pedang hitam.
""
Sekali lagi pedang berhasil ditahan, namun tubuh Maria tenggelam ke tanah dengan cukup dalam. Tak hanya itu, tubuhnya seolah berusaha meronta, tetapi tak bisa.
""
Itu adalah sihir yang menahan Maria di tempatnya. Sihir elemen kegelapan yang memanipulasi gravitasi.
Kemudian Laila melompat ke atas. Pedang yang melayang di sekitarnya membentuk formasi lingkaran di depan Laila. Di tangan Laila lalu muncul sebuah meriam besar yang siap ditembakkan tepat ke arah Maria melalui pusat lingkaran pedang. Ini adalah sihir versi baru dari Meteor Cannon Blade.
""
Cahaya warna warni ditembakkan tepat ke arah Maria tanpa ada perlawanan. Daya perusak memang tak terlalu besar, namun serangan itu memiliki energi sihir yang melebihi serangan Charlmilia . Mustahil Maria menahannya.
Kemudian yang dilakukan Laila hanyalah menunggu debu menghilang. Lalu setelah menghilang, yang munculĀ adalah sosok malaikat hitam. Itu suatu yang melebihi perkiraan Laila. Bagaimana pun juga dia berharap dengan serangannya itu bisa mengakhiri pertarungan. Tetapi kenyataannya berkata lain.
"..."
Laila tak terlalu terkejut serangannya akan berhasil ditahan. Dia tahu karena sosok malaikat itu bukanlah malaikat biasa. Apalagi dengan empat pasang sayap yang menunjukkan kalau dia bukanlah malaikat tingkat rendah.
Disaat yang sama salah satu pedang yang melayang di sekitarnya hancur. Laila seperti sudah menduga hal ini, jadi dia diam saja. Yang menjadi masalah adalah sosok malaikat yang muncul di arena pertempuran.
"Sial! Kenapa itu ada di sini?"
Electra bahkan tak bisa menahan diri untuk tak terkejut. Bagaimanapun juga apa yang muncul adalah sebuah teror yang mengerikan.
"Fallen Angel "
Lucifer, iblis yang pernah merasuki Deon melalui Cursed Arm Skullia Crytal kini muncul kembali dalam bentuk Magic Beast.
__ADS_1
(Jika mengingat pelajaran itu benar maka..)
Tanpa ragu Laila menembakan pedang angin hitam, tetapi serangannya lenyap tanpa sisa.
(Perisai dimensi? Ini lebih merepotkan daripada perisai elemen suci...)
Pada akhirnya dugaan Laila tepat. Perisai elemen suci tak akan mempan pada dirinya yang sekarang ini, tetapi saat ini musuh memiliki perisai yang menghilangkan semua jenis serangan. Tak peduli sekuat apapun serangannya, dia bisa menang jika serangannya tak mengenai lawannya.
(Ini masalah. Aku harus meminta bantuan.)
Dia lalu melirik ke arah Electra. Kemudian dia menggunakan telepati.
[Nyonya Electra, kau bisa mendengarku?]
"!"
[Jawablah jika bisa.]
"...uh.. Ya.."
Meskipun tak tahu bagaimana bisa menembus sihir pertahanannya, dia tak menyangka Laila akan semudah itu membuat kontak dengannya.
[Kita sekarang berada di situasi yang cukup gawat. Apakah kau bisa membantuku?]
{Aku sadar situasi kita telah berbalik. Aku akan dengan senang hati membantumu, tetapi bolehkah aku bertanya satu hal?}
[...]
{Apakah kau bisa memenangkan pertarungan ini?}
Di mata Electra, kekuatan Laila adalah nyata. Bisa dibilang dia adalah satu satunya harapan untuk menang. Yang menjadi masalah adalah saat ini muncul eksistensi yang lebih berbahaya daripada seorang Paladin.
[Maaf, aku tak tahu. Satu hal yang pasti, aku bisa mengalahkan Maria meskipun dia saat ini menjadi Queen of Darkness. Tetapi saat ini aku punya dua hal penting mengenai kekuatanku. Pertama, aku hanya bisa mengalahkan Maria, dengan kata lain saat ini aku tak bisa melawan orang lain selain dirinya. Kedua, kekuatanku ini memiliki batas waktu. Untuk fokus mengalahkan Maria, aku tak boleh diganggu. Tetapi yang menjadi masalah utama adalah aku tak tahu bagaimana memisahkan Lic dan tubuh Maria.]
{?!}
[Jadi sebelum aku bertarung, aku ingin tahu apakah ada saran untuk melakukannya? Kau adalah mantan Queen jad-]
{Maaf mengecewakanmu, tetapi aku tak tahu. Kejadian saat ini pertama kalinya terjadi dalam sejarah. Aku tak yakin, tapi aku rasa kau harus bertanya pada Kuro mengenai masalah ini.}
Mendengar itu, Laila terdiam sesaat.
[Aku mengerti. Tolong bantu aku mengalahkan Maria.]
{Tentu saja. Akan aku tunjukan kekuatanku yang sebenarnya. Aku akan kehilangan muka jika terus bergantung pada kalian}
Kemudian tekanan mana Electra meningkat pesat. Bahkan rambutnya berdiri karena aura yang sangat besar. Tetapi tak hanya Electra, Maria dan Laila juga meningkatkan tekanan mana hingga udara di tengah pertempuran bergetar.
Yang pertama kali bergerak adalah Maria, atau lebih tepatnya Lucifer. Dia menembakan bulu sayapnya ke seluruh penjuru tempat. Lalu dari setiap bulu muncul sebuah retakan dimensi. Retakan dimensi itu perlahan semakin membesar dan akhirnya terbuka sepenuhnya.
Lalu dari lubang dimensi munculah malaikat dengan sayap hitam. Jumlah mereka mencapai ratusan, tidak, mungkin lebih. Langit ibukota kini penuh dengan malaikat bersayap hitam.
Tentu ini hanyalah awal. Lucifer, sebagai Fallen Angel yang dikatakan memiliki kekuatan setara 7 Paladin memunculkan sebuah pedang hitam dengan aura tak menyenangkan. Lalu dengan pedang itu, dia menebas udara. Disaat itulah dimensi terdistorsi dan menyerap apa yang ada di sekitarnya.
"Ini buruk. Dia mencoba menghancurkan ibukota dengan menggunakan dimensi yang terdistorsi. Jika seperti ini tak akan ada yang selamat."
Sekilas memiliki efek seperti lubang hitam, tetapi lebih kuat. Jika itu benar benar terjadi, ibukota akan lenyap tanpa sisa.
"Aku akan menghancurkan para burung gagak yang mengganggu. Kau bisa fokus dengan pertarunganmu. Art, berapa lama lagi hingga kau menetas?"
Saat mendengar itu, sayap Suzaku akhirnya membentang dan menunjukkan Arthuria. Tetapi kali ini perubahan besar terjadi pada Arthuria. Tak hanya menggunakan Magic Gear, namun saat ini dia memakai armor yang lebih menyerupai Dragon Gear bercampur dengan Magic Gear. Dari warna Dragon Gear, bisa terlihat kalau itu bukanlah Dragon Gear dari Dragon King biasa, namun Holy Dragon King, Dhia.
"Maaf membuat kalian menunggu. Menggunakan Dragon Gear bukanlah hal yang mudah. Apalagi aku tak membuat kontrak dengannya."
"....Lalu bagaimana kau menjelaskan sosok itu?"
Nada Electra tenang, namun dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Perbuatan Arthuria tak mengalahkan kejutan dari Laila. Normalnya hanya Queen yang terpilih saja yang bisa menggunakan Dragon Gear, namun saat ini Arthuria bisa menggunakannya. Apalagi dia menggabungkan dengan Magic Gear miliknya. Tak diragukan lagi apa yang berhasil dilakukan Arthuria adalah suatu yang gila.
"Aku hanya mendapatkan kesempatan untuk mencoba menggunakan Dragon Gear. Maklum saja, saat ini belum ada Queen yang cocok dengannya. Singkatnya aku hanya membuat kontrak sementara dengan Dhia selama dia belum memilih Queen."
Tentu Electra paham apa yang dimaksud Arthuria. Bagaimanapun juga hanya jika ada seorang yang cocok menjadi Queen saja yang terpilih. Selain itu setiap Dragon King memiliki kriteria tersendiri untuk Queen yang mereka pilih. Selain itu menjadi Queen bukanlah suatu perkara mudah karena mereka memiliki alasan kenapa Queen eksis di dunia ini.
Sebagai mantan seorang Queen dia paham betul apa saja rintangan yang dia lalui untuk terus menjalankan tugas seorang Queen. Itu tugas yang berat, bahkan terlalu berat sehingga akhirnya dia memutuskan untuk memutuskan kontrak lebih cepat dari yang seharusnya. Itu adalah kisah di masa lalu yang tak ingin Electra ingat karena berisi penyesalannya.
"Aku ingin mendengar cerita lebih detail setelah masalah ini selesai. Maklum saja ini bukan saatnya untuk mengobrol."
Ketiganya fokus dengan musuh mereka. Laila fokus terhadap Maria yang kini semakin pucat dan terlihat seperti mayat hidup. Electra fokus dengan malaikat hitam yang jumlahnya mencapai ratusan lebih. Dan terakhir, Arthuria fokus dengan Fallen Angel Lucifer.
"Ini adalah pertarungan penentuan."
"Aku akan menyelamatkanmu, Lic."
"Akan aku tunjukan kekuatan Dragon Phoenix Gear dengan mengalahkan Lucifer."
Pertarungan penentuan akhirnya dimulai dengan sebuah-
"Scarflare "
Ribuan pedang merah membara muncul di langit. Sekilas mirip bintang bintang merah muncul di langit ibukota.
Lalu dilanjutkan oleh-
"Magia Avatar "
Aura keluar dari tubuh Electra dan perlahan membentuk sosok ksatria wanita langit dengan tinggi 10 meter lebih. Sekilas lebih mirip sebuah armor dengan Electra sebagai pengendalinya. Tetapi disaat yang sama juga mirip sosok seorang Valkryie. Benar, inilah Avatar. Sebuah bukti yang menjadikan Electra sebagai seorang Paladin.
Wujud Avatar berbentuk berbeda dari setiap Paladin. Mungkin karena Electra pernah menjadi seorang Queen, maka wujud Avatar tak terlalu jauh berbeda dengan Dragon Valkryie Gear yang Charlmilia kenakan sebelumnya.
Tetapi semuanya tak penting. Energi yang begitu besar terpancar dari setiap halilintar yang keluar dari tubuh Raijin. Malaikat hitam yang berada di dekatnya bahkan sudah hangus menjadi arang dalam sekejap mata.
Melihat itu, Arthuria tersenyum senang di balik armornya. Bagaimanapun juga akhirnya dia bisa melihat wujud kekuatan yang akan dia dapatkan suatu hari nanti.
(Aku harus benar benar serius kali ini. Tidak ada bermain main. Jika aku gagal, aku akan membuat semua orang dalam bahaya.)
Dia tahu betul Lucifer yang dia lawan memiliki level yang sama dengan ayahnya. Meskipun itu hanya Magic Beast, namun kekuatannya berbeda jauh dengan Lucifer yang pernah dilawan Kuro dan Laila saat berada di Dragonia. Selain itu dia harus berlomba dengan waktu karena dimensi di arena pertempuran perlahan mulai terdistorsi dan menghancurkan segala apa yang di dekatnya.
" tidak, dengan ini aku memberimu nama baru untukmu, . Pedang yang akan membakar apapun ....bahkan termasuk dewa."
Pedang suci dengan api suci kini bereinkarnasi menjadi pedang suci baru yang bahkan sanggup membakar dewa.
"Dengan ini..."
Dengan kekuatan barunya, Arthuria maju tepat di depan Lucifer tanpa ada yang menyadarinya. Kecepatan dan kekuatannya sudah jauh meningkat pesat dari sebelumnya.
"Aku akan melindungi semuanya!!!!"
Pedang yang memotong dimensi dan pedang yang membakar dewa akhirnya beradu menjadi tanda pertarungan telah dimulai.
__ADS_1