
โฆKembali setelah Kuro dan lainnya memasuki hutan kristal.
"...umm.. Bukankah seharusnya ini bawah kota, kenapa seperti ini?"
Kota bawah tanah merupakan kota lama, dengan kata lain, struktur bangunan tak jauh berbeda dengan bangunan di atas. Banyak tiang besar sebagai penyangga bagian atas untuk mencegah longsor. Normalnya itulah yang mereka temukan. Bahkan seminggu yang lalu semuanya masih seperti itu.
Tetapi, saat ini mereka lihat adalah dinding mirip gua. Tak ada satupun tanda buatan tangan manusia.
"Mungkinkah kita terkena jebakan teleportasi?"
"Itu masuk akal jika melihat situasi saat ini. Apalagi musuh pernah menggunakan jebakan seperti itu untuk mengirim Ayah Macho ke suatu tempat yang jauh. Jika itu terjadi pada kita, pasti aku sudah menyadarinya sebelum ke tempat ini."
"...Aku tak menyangka kau akan memanggil Ayah dengan panggilan seperti itu?"
Untuk alasan tertentu, Kuro mendapatkan tatapan sinis dari Laila.
"Apa kau tak suka?"
"Aku lebih berharap kau akan bisa memanggilnya Ayah seperti aku memanggil Ayahmu."
"...Aku mengerti. Tetapi, untuk sekarang aku akan memanggilnya seperti itu."
Laila hanya bisa mendesah.
Sebegitukah kau takut dengan ayahku? Pikir Laila dalam hati.
"Apa kalian sudah selesai bermesraan?"
"Jika kau tak suka melihat aku dan Laila bermesraan, kenapa kau tak pulang saja. Hus hus..."
"Terima kasih tawarannya. Tetapi jujur saja aku akan memukulmu setelah semua ini selesai."
"Jangan pikir aku takut dengan anak ayam sepertimu."
"Baik, sepertinya kau ingin aku hajar sekarang juga. Bagaimana kalau kita selesaikan di sini dan memutuskan siapa yang berhak menghajar mereka!?"
"Sepertinya kau memiliki pemikiran yang sama denganku, anak ayam. Aku tak menyangka kau bisa berpikir dengan otak kecilmu itu."
"Laila, bisakah aku membunuh kekasihmu ini?"
"Laila, bisakah aku membunuh anak ayam ini?"
"Bisakah kalian berdua diam!"
Dan dengan seperti itu, kedua pembuat onar terdiam mematung.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka.
"Tempat ini menjadi lebih mirip sebuah labirin daripada kota lama. Selain itu, bukankah miasma di tempat ini cukup kuat. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?"
"Kak Kuro, bagaimana pendapatmu?"
"Kita akan tahu setelah masuk lebih dalam."
"Aku tahu kau sudah memiliki jawabannya, tapi kenapa kau tak memberi tahu. Haha.. Dasar pengecut."
Mereka menelusuri lorong demi lorong. Sejauh ini mereka belum bertemu dengan musuh. Tetapi, semakin ke dalam mereka semakin sulit untuk menentukan arah karena jalan terus bercabang.
Anehnya mereka belum bertemu dengan jalan buntu. Ada jebakan yang menghadang, namun Kuro dan Yui dengan mudah mengetahui dan menghindarinya.
"....musuh datang."
Semua dalam posisi siaga. Laila bahkan sudah memanggil Scarflare. Yang tidak menggunakan senjata hanya Arthuria.
"Hmm.. Bukankah itu.."
"Aku tahu. Demon ..huh?"
Yang datang bukan homunculus, tetapi monster yang mirip manusia. Dengan badan kekar dan senjata berupa pemukul. Garis merah di tubuh mereka membuat mereka mengancam dan berbahaya.
Sayangnya,
""
Tanpa banyak kata, Arthuria menyerang dengan bola api. Bola api dengan kecepatan tinggi melesat dan cukup sulit dihindari jika tak memiliki sebuah persiapan. Dan Demon itu juga seharusnya tak bisa melakukannya, tetapi dengan bergerak ke samping, Demon itu menghindar sehingga bola api meledak di dinding.
"Laila, Yui.."
"Kami tahu.."
Semuanya langsung lebih waspada dan serius.
Fakta bahwa serangan Arthuria bisa dihindari bukan karena serangan Arthuria lambat, namun karena musuh lebih cepat. Dan itu tak normal.
Demon merupakan monster khusus yang hanya bisa ditemukan di labirin. Karena sebagian besar labirin memiliki monster yang hampir sama, maka Kuro dan lainnya tahu betul kemampuan Demon yang muncul di depan mereka.
Demon itu meraung dengan keras dan memutar pemukul kayu di tangannya. Lalu dengan cepat maju menyerang mereka tanpa mengenal kata takut.
Gerakan monster biasa bagaikan seekor siput di mata mereka berempat, tetapi Demon kali ini bergerak dengan kecepatan yang tak mereka duga.
Sayangnya, di kelompok mereka, ada monster yang menggunakan kecepatan sebagai kekuatan utamanya.
Disaat Demon itu maju, disaat yang sama kepalanya sudah tak berada di tempatnya. Lalu, Demon itu menghilang dan meninggalkan kristal seukuran bola ping pong di lantai.
"Batu sihir...? Bukankah itu artinya tempat ini.."
"Yah.. Aku rasa tempat ini sudah menjadi labirin sungguhan. Tak heran jika Demon muncul di tempat ini."
Demon bisa dikatakan mirip dengan Hell Beast yang dipanggil Lucifer saat di Drageass. Hanya saja, Hell Beast memiliki tubuh bagaikan magma yang mengalir di tubuh mereka. Sedangkan Demon terbuat dari mana dan miasma. Selain itu, jika dibandingkan dengan Hell Beast, Demon lebih lemah dan tak bisa meninggalkan tempat mereka, yaitu labirin.
"Tetapi bagaimana bisa..?" tanya Laila.
"Ini mudah."jawab Arthuria. "Labirin tercipta dari miasma dan mana dalam jumlah besar di suatu tempat tertentu. Tetapi untuk terciptanya sebuah labirin, ada syarat yang harus terpenuhi. Pertama lokasi, kedua tingkat mana, dan tiga ..miasma yang tercipta dari emosi negatif. Setelah tercipta Inti Labirin, maka labirin pun tercipta."
"Jika melihat dari sejarah tempat ini, semuanya bisa terjadi. Hanya saja, bukankah ini terlalu kebetulan?"
Kota Phoenik merupakan tempat terjadinya perang di masa lalu. Tak ada yang bisa menghitung jumlah nyawa yang melayang dan kebencian yang tercipta dari perang. Inilah yang membuat tingkat miasma di kota cukup tinggi.
Miasma yang terlalu tinggi akan mengakibatkan efek negatif terhadap pikiran manusia. Untuk itulah pencegahan dilakukan dengan ritual pembersihan dalam kurun waktu tertentu. Ini bukan suatu yang diketahui publik karena hanya akan mengakibatkan kepanikan, tetapi bagi Kuro ini suatu pengetahuan yang umum.
Masalahnya adalah kenapa labirin tercipta padahal pembersihan terus dilakukan?
"...Tidak. Jika tempat ini sudah lama menjadi labirin, maka itu bisa saja terjadi."
"Tetapi itu tak mungkin. Jika ruang bawah tanah menjadi labirin dari dulu, bukankah menjadi berita hangat..?"
"Kau benar Laila. Tetapi yang kumaksud jika labirin tercipta belum lama ini."
"..."
Laila hanya terdiam.
"Miasma tercipta dari emosi negatif. Tak hanya dari kebencian, rasa takut, amarah dan keraguan bisa menciptakan miasma. Apalagi dengan jumlah orang di ibukota, maka miasma dalam jumlah besar bisa tercipta dalam waktu singkat."
"Oh.. Akhirnya kau mengakui semua ini salahmu kah?"
Yui tanpa ragu menodongkan dua belati ke arah leher Arthuria dengan haus darah. Ujungnya bahkan sudah mengiris daging dan meneteskan cairan kental.
"Jika kau berani berkata hal yang tidak tidak, aku akan membunuhmu. Tak peduli apakah kau kakak kak Laila atau tidak."
"Fufu.. Kau memiliki saudara yang menarik. Tetapi jujur saja, nona kecil. Kau pasti tahu semua yang terjadi akhir akhir ini merupakan kejadian yang disebabkan oleh kakakmu tercinta. Dia pasti sadar kalau saat ini dunia penuh dengan rasa takut. Tak hanya oleh *******, namun juga sesuatu yang lebih mengerikan. Aku tak perlu menyebutkan satu persatu kan?"
Dengan perkembangan informasi saat ini, berita kecil bisa menyerbar luas dengan cepat dan menjadi topik pembicaraan. Tindakan *******, perang, upacara pembangkitan Demon King, Liberia, semuanya menjadi topik akhir akhir ini di seluruh dunia.
Meskipun pemerintah mencoba mengendalikan informasi yang menyebar, namun mereka tak bisa menghentikan suatu yang sudah menyebar luas. Tak heran jika ketakutan, rasa ragu, cemas dan emosi negatif lainnya tercipta hanya dari sebuah rumor.
Sayangnya, mereka masih tak memiliki bukti apakah semua ini sudah direncanakan atau tidak. Bahkan apakah ini hanya sebuah kebetulan belaka?
Saat ini tak ada yang tahu jawabannya.
"Oh iya, dengan kemampuanmu saat ini, kau bahkan tak akan bisa menggoresku. Jangan coba melakukan hal yang tak perlu."
"Kita lihat saja apakah apakah aku bisa melukaimu atau tidak."
Tekanan mana dalam jumlah besar dikeluarkan Yui. Tekanan mana itu bahkan lebih besar saat terakhir melawan Laila. Orang biasa akan langsung pingsan hanya berada di dekatnya. Tetapi, Arthuria terlihat biasa saja bahkan tersenyum.
"Tahan semangatmu, Yui."
__ADS_1
"Kak Kuro, kenapa kau menghentikanku?"
"Dengar, jika kau ingin melawannya, lupakan hal itu. Saat ini seperti yang dia bilang, kau tak akan bisa menyentuhnya."
"Wha! A-Aku tak menyangka kak Kuro akan merendahkan kekuatanku seperti ini."
Wajah Yui memerah karena marah. Ini wajar karena Yui adalah orang yang tak akan mengampuni siapa saja yang berani menjelek jelekan Kuro, tetapi kali ini dia marah karena dia diremehkan. Dia merasa latihannya di Parallel Field selama satu tahun tak memberikan hasil.
"Aku tak meragukanmu, tetapi dia berada di level yang berbeda."
Seolah mengakui pujian Kuro, Arthuria tersenyum. Dia bahkan tanpa ragu memegang ujung belati Yui dengan jarinya. Dan setelah itu, belati Yui memerah karena panas.
Berkat gagang belati yang dibuat khusus, maka panas tak terlalu terasa, tetapi mereka bertiga sadar, jika Arthuria serius, dia bisa melelehkan belati Yui dengan mudah.
"Apa kau sekarang mengerti, Nona kecil?"
"...Tch!"
Yui dengan wajah tak puas akhirnya menarik kembali belati dari Arthuria. Dia tak punya pilihan karena dia tak mau terjadi sesuatu pada belati kesayangannya.
Tetapi, dalam hati yang terdalam dia mengakui kekuatan Arthuria yang mampu melelehkan metal hanya dengan sentuhan.
(Aku tak tahu kenapa, namun dia sangat mencurigakan dan..)
...berbahaya. Dia tak tahu apa yang akan terjadi jika dia berada di pihak musuh. Terutama jika di pihak Liberia.
Bukan berarti Arthuria tak bisa dipercaya. Hanya saja saat ini selain membangkitkan Demon King, tujuan Liberia masih tak jelas. Hal yang lebih aneh adalah kemampuan mereka merekrut orang orang penting dari seluruh dunia. Jika mereka merekrut Arthuria, itu bukan hal mustahil.
Tentu itu juga bergantung kepada Arthuria sendiri. Tapi satu hal yang pasti, Arthuria bukanlah orang yang ingin kau jadikan musuh.
"Baiklah, sekarang kita tak perlu melakukan pertarungan sia sia. Jika ingin berkelahi, lakukan setelah semua ini selesai. Aku ingin segera merebut kembali Lic, jadi aku tak punya waktu meladeni dua anak kecil."
"Laila, aku ini kakakmu. Kenapa kau tak membelaku?"
"...Aku tak peduli lagi. Ayo Kuro, Yui."
Setelah mengatakan itu, Laila maju dengan wajah bosan. Kuro menyusul di sampingnya diikuti oleh Yui.
Sementara itu, Arthuria menggaruk belakang kepalanya. Dia tersenyum kecil karena melihat perubahan besar Laila yang kini terlihat lebih dewasa, tapi disaat yang dia merasa kalau Laila sudah berubah bagaikan orang lain.
(Jadi ini yang ditakutkan Ibu..)
Ada satu kebohongan yang dia sembunyikan. Ayahnya memang menyuruh dia pulang, tetapi tak ada alasan untuk menurutinya. Lagipula kepentingannya di Alfheim tak bisa dia tinggalkan hanya demi sebuah alasan kecil.
Tetapi, hal itu berbeda saat ibunya, Lia menyuruh dirinya untuk mengawasi perubahan Laila. Semua itu tak ada hubungannya dengan penampilan Laila yang kini lebih cantik dan anggun jika dibandingkan terakhir kali bertemu. Tetapi suatu yang lain. Dan sesuatu merupakan hal yang paling tak keluarganya inginkan untuk bangkit.
Arthuria menatap Kuro dengan tatapan tajam.
Daripada mengkawatirkan Laila, dia saat ini lebih kawatir dengan lelaki bernama Kuro.
Dari luar dia memang terlihat bagaikan pemuda kuat yang menggunakan ki hingga tingkat Master. Tetapi, dari sudut pandangnya dan dari informasi yang dia dapatkan, jika membandiingkan dengan semua rumor yang menyebar, semua rumor itu hanyalah kepalsuan belaka.
Bukan karena Kuro memalsukan kekuatannya. Hanya saja jika ingin mengukur kekuatan Kuro, mungkin itu adalah hal mustahil. Hal ini dia simpulkan bukan dari kecepatan yang Kuro tunjukan saat bertarung, tapi hanya cukup dengan aura, dia sudah tahu semuanya.
(Benar.. Pertanyaan paling tepat untuk saat ini adalah.... )
Siapa sebenarnya kau, Kuro?
๐ ๐ ๐
"Ah.. Muncul lagi.."
"Biar aku yang mengatasinya, kak Laila"
Dan begitulah, Yui maju lalu memenggal kepala Demon dengan wujud serigala. Demon meninggalkan batu sihir, tapi tak ada yang peduli dan membiarkannya. Demon serigala lainnya muncul. Ini tak mengherankan karena serigala biasanya berkelompok, tetapi dengan mudah mereka dimusnahkan oleh Yui yang terlihat bersemangat.
Ini bukan kedua kalinya mereka melawan Demon yang muncul. Bisa dibilang ini lebih dari kesepuluh kali, tapi tak ada perlawanan berarti dari musuh. Demon yang menghadang tak lebih dari serangga kecil. Atau mungkin Laila dan lainya terlalu kuat.
"...semua Demon yang kita lawan hanya unggul dalam kecepatan, tetapi tak ada satupun dari mereka yang terlalu kuat. Aku tak mengerti tujuan musuh mengirim serangga untuk melawan kita. Aku harap mereka mengirim suatu yang lebih menantang."
Arthuria mengeluh. Tak ada yang mencoba menyalahkannya karena mereka merasakan hal yang sama. Selain itu, sangat aneh jika menghadaang mereka hanya dengan Demon. Homunculus yang mereka ciptakan seharusnya lebih kuat daripada Demon, tapi mereka tak menggunakannya.
"Daripada buang buang waktu, bagaimana kalau kita menyerbu langsung ke markas musuh?"
"Aku setuju dengan idemu, anak ayam. Tetapi ini labirin. Jika bergerak terburu buru, semuanya akan berakhir."
Bukan musuh yang mereka takutkan, tapi jebakan. Selain itu mereka harus berhati hati agar tak memilih jalan buntu.
Burung api muncul di udara. Itu adalah burung Phoenix yang merupakan perwujudan magic beast Arthuria.
Meskipun kecil tak lebih dari setengah meter, namun memancarkan aura kuat yang tak kalah dengan burung phoenix dalam legenda. Lorong terlihat jelas seolah mentari kecil muncul di sana.
"Apa yang bisa dilakukan anak ayam itu?"
"Aku akan mengembalikan kata katamu itu, Kepa*at. Lihat dan jangan banyak tanya."
Burung phoenix lalu terbang menuju lorong yang bercabang. Tetapi, saat ingin masuk, burung itu tak memilih salah satu, tapi membelah menjadi dua burung api dengan ukuran yang sama.
"Mungkinkah rencanamu itu..."
"Kau pasti mengerti, Nona kecil. Bagaimanapun juga kau sama seperti aku."
Rencana Arthuria sederhana. Dengan menggunakan magic beast yang saling terhubung dengan tuannya, mereka bisa mengetahui lorong yang benar dan yang salah.
Tetapi, ini rencana yang hanya bisa dilakukan oleh Arthuria. Membelah magic beast menjadi dua bagian dan seterusnya merupakan hal mustahil. Tidak, secara teori bisa dilakukan, tapi tak ada yang pernah bisa melakukannya seperti ini.
"Dengan ini semua masalah selesai. Ayo cepat kita bakar mereka menjadi debu."
Arthuria tersenyum, namun matanya dingin seolah bosan.
Keempatnya dengan cepat melewati yang penuh dengan jebakan. Longsor dengan lubang penuh jarum besar merupakan hal paling sering mereka temukan, tetapi itu tak cukup menghentikan mereka.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di ruangan besar seluas lapangan bola basket. Di sana mereka menemukan sosok menyerupai manusia setinggi 5 meter berdiri dengan kokoh.
Benar. Mirip manusia.
Dari bentuk tubuh menyerupai manusia, tetapi bagian yang membentuknya terdiri dari metal yang tercampur oleh daging. Daging busuk dan kepala yang menjijikkan. Salah satu mata bahkan sampai melotot keluar. Daripada menyebut monster, mungkin lebih cocok untuk mayat hidup yang menjijikkan.
"Huua.. Itu baru.."
Tak ada yang menyalahkan Laila yang menunjukkan ekpresi jijik.
"Aku tak mau adikku tercinta menyentuh hal kotor seperti itu. Serahkan semua ini pada kakak tercintamu!"
"Oke.."
"Kami serahkan padamu, Anak Ayam."
"Hey.. Bukankah kalian terlalu dingin? Kenapa tak ada yang mencoba mem-"
Musuh tiba tiba berada di depan mereka. Tangan kanannya berubah menjadi bilah pedang besar dan digunakan untuk menyerang mereka berempat.
Jika penyihir biasa mereka pasti akan mati, tetapi mereka berempat berhasil menghindar.
""
Laila memanggil lima Scarflare dan menembakkan ke arah musuh. Musuh menahan dengan bilah pedang yang kini menjadi dua karena tangan kirinya juga berubah.
""
Giliran Kuro menyerang. Dia melompat ke atas dan menyerang dengan menggunakan dua pedang bersamaan. Musuh menahan dengan menyilangkan pedangnya. Tetapi tubuhnya ternggelam ke tanah karena kekuatan Kuro yang terlalu besar.
"Tarian ke lima "
Yui berlari ke arah bagian tubuh lawan, tepatnya bagian kaki. Dengan kecepatan yang membuat dirinya seolah menjadi banyak, dia memotong bagian kaki dengan cukup dalam.
Darah berceceran, tapi semakin daging terkoyak, bagian metal terlihat seolah merupakan tulangnya.
(Keras.. Tetapi..)
Metal biasa tak akan berguna melawan Yui. Bahkan meskipun tubuh terbuat dari Adamantium, semua itu tak akan berguna.
Yui lalu mengalirkan ki ke dalam belatinya. Tak hanya itu, dia memanipulasinya membuatnya bergetar dengan frekuensi tinggi. Belati Yui saat ini hampir sama dengan pedang putih milik Kuro. Dan karena itulah-
Roaaaarr!!!!
Musuh meraung dengan keras. Itu wajar karena keduanya kakinya terpotong.
__ADS_1
Musuh tumbang, tetapi Kuro dan lainnya tak memberi ampun. Bola api selebar 7 meter muncul. Bukan api biasa, tapi api biru yang bercampur dengan api hitam kelam. Dari tekanan mana yang terasa, bola itu akan mampu menghanguskan apapun.
Dan itu terjadi. Musuh yang tak bisa menghindar atau bahkan bertahan tertelan bola api dan musnah tak meninggalkan abu sekalipun.
"Hmmm... Menarik. Itu magic art yang berbahaya. Aku harap kau tak melemparku dengan itu.."
"Jangan kawatir. Aku tak akan melakukannya. Lagipula bola api itu tak kubuat untukmu."
"Oh.."
Lebih tepat jika percuma saja berusaha melempar bola api pada seorang yang bisa bergerak lebih cepat daripada suara.
"Jika ingin merasakan bola apiku, aku sudah membuat khusus untukmu, Sayang โฅ. Aku yakin kali ini kau tak akan bisa kabur apalagi menghindar fufu.."
Meskipun Laila mengucapkannya dengan senyuman, tapi itu justru membuat Kuro membiru.
Kekuatan Laila yang meningkat pesat memang suatu yang baik, tetapi disaat yang sama itu juga membuat resiko Kuro mendapatkan hukuman menyakitkan semakin bertambah.
Di lain pihak, Yui tiba tiba mendekat dengan mata berkaca kaca.
"Kak Laila, itu menakjubkan. Aku tak pernah melihat yang seperti itu.."
Tetapi, Laila tak begitu tertarik dan justru terlihat seperti mengingat situasi yang tak menyenangkan.
"Meskipun begitu, itu tak cukup untuk menggores sisik kadal itu. Aku bersumpah akan membakarnya suatu saat nanti."
"Kak Laila apa maksudmu?"
"Lupakan. Aku hanya ingat kalau lawanku di Parallel Field cukup merepotkan. Tetapi, karena lawan seperti itulah aku bisa seperti sekarang ini."
Dan seperti itulah, Yui akhirnya sadar apa yang dilalui Laila saat latihan selama dua tahun.
(Sebenarnya latihan apa yang kau lakukan, kak Laila?)
Diam diam dia melirik Kuro. Jika Kuro, pasti sudah mengetahui apakah itu karena Laila menceritakannya sendiri atau sejak awal dia tahu apa yang akan dilalui Laila jika masuk ke Parallel Field. Mungkin inilah alasan Kuro tak senang saat tahu Laila masuk ke ruang itu.
"Baiklah, sekarang kita kemana kakak?"
Ketiganya melirik ke arah Arthuria. Dan entah mengapa dia terbengong seperti orang melihat hantu.
"Kakak?"
"Eh? Tunggu sebentar, ..kalau tak salah lorong tengah akan menuju ruang selanjutnya."
"Oke, kita ke sana. Kakak, kami akan meninggalkanmu jika kau terus diam saja..."
Arthuria sadar dari lamunannya dan menyusul mereka.
"Oh iya, apa yang kita lakukan terhadap mereka bertiga?" tanya Yui tiba tiba.
"Biarkan saja. Aku yakin mereka akan baik baik saja."
Laila hanya tersenyum.
๐ ๐ ๐
Di tempat lain, suara pertarungan terdengar memenuhi lorong. Suara raungan menggema dari Demon yang bagian tubuhnya terpotong oleh pedang besar atau tubuh mereka tertusuk oleh tombak yang muncul dari permukaan tanah. Tetapi dari semua itu, yang paling mengerikan adalah sosok dewa kematian yang tanpa ragu memotong tubuh Demon menjadi dua bagian.
"Ini yang terakhir..."
Dan begitulah, Knox menusuk Demon berwujud ulat dengan tombak di tangannya.
"...aku tahu ini pengalaman yang menarik karena bisa menjelajahi labirin, tetapi aku ingin tetap protes kenapa kita dikirim ke medan perang lagi."
Menjelajahi labirin merupakan kegiatan yang akan mereka lakukan saat berada di kelas dua. Karena Jinn dan Knox masih kelas satu, mereka seharusnya belum diperbolehkan menjelajahi labirin karena berbahaya.
Tetapi, saat ini kenyataan berkata lain. Mereka berada di labirin, menghadapi Demon, dan yang terburuk berada di medan perang.
"Ini sudah terlambat untuk protes. Kau tahu itu kan? Selain itu kita tak punya pilihan selain bertarung. Nenek sialan itu memang suka memaksakan kehendaknya."
"Ini jarang melihatmu mengeluh seperti ini, Knox"
Aldest tersenyum dengan dewa kematian di dekatnya. Seperti biasa, dia memakai pakaian seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Lelaki akan langsung terpesona olehnya, tetapi cincin di jari manisnya membuktikan dia sudah dimiliki oleh seseorang.
"Tetapi aku mengerti apa yang kalian rasakan. Kalian diseret ke tempat ini oleh nenek sialan itu dan menyuruh bertarung. Siapapun pasti akan marah jika dalam posisi kalian."
"Bukankah kau juga seperti kami. Kenapa kau bisa setenang itu?"
"Tenang? Apa menurutmu aku akan memilih bertarung di tempat seperti ini dan mengabaikan bulan maduku?"
Seram. Sebaiknya jangan membuat masalah dengan Aldest saat ini.
"...bulan madu? Bukankah kalian sudah lama melakukannya?"
"Setiap hari adalah bulan madu. Aku tak akan puas jika tak tidur dengan Lairo ku tercinta..."
Aldest terlihat bagaikan seorang yang dimabuk asmara, memang, tetapi untuk alasan tertentu ada aura hitam di balik cintanya.
(Lairo, aku doakan keselamatanmu..)
Knox memutuskan untuk tak membahas masalah rumah tangga orang lain. Bagaimanapun juga itu tak sopan. Tidak, sebaiknya jangan berurusan dengan rumah tangga Aldest dan Lairo.
Dia lalu melirik ke arah Jinn.
"Apa kau menemukan jejak mereka?"
"Yeah, mereka berada tak jauh dari kita. Tetapi mereka terus maju seolah tak perlu takut adanya jebakan atau tersesat. Kita bisa selamat karena kau, tetapi aku tak mengerti bagaimana mereka melakukannya."
Karena penyihir elemen tanah, Knox dengan mudah mengetahui bentuk dan komposisi tanah dan bebatuan di sekitar mereka. Berkat itu mereka tak pernah terkena jebakan satu kalipun setelah masuk ke dalam labirin, tetapi bukan berarti mereka tak ada masalah.
Mereka tak tahu jalan mana yang harus mereka pilih.
"Mungkin karena Kuro atau Arthur. Keduanya tak normal. Berkat itu, rencana untuk menggunakan tekanan mana untuk mengikuti mereka dari jauh menjadi percuma."
"Kau tahu bukan itu saja kan?"
Knox hanya bisa mendesah dalam.
"Jangan membuatku mengatakannya lagi. Saat ini mereka berempat menjadi monster. Aku tak tahu lagi apakah kita bisa mengalahkan mereka."
Karena setiap penyihir memancarkan mana dari tubuh mereka, maka setiap penyihir mampu mengukur kekuatan penyihir lain dari tekanan mana yang terpancar. Tetapi, semakin besar bukan semakin kuat, justru saat penyihir mampu mengendalikan jumlah mana yang keluar dari tubuh merekalah yang dianggap kuat.
Dengan tekanan mana yang stabil dan tetap, itu artinya penyihir telah mencapai tahap yang lebih tinggi. Inilah yang mereka rasakan dari Laila, Yui dan Arthuria. Bisa dibilang mereka berada di dimensi yang berbeda.
"Kalian terlalu cepat menyerah. Aku juga terkejut saat melihat perubahan mereka. Aku yakin mereka melakukan latihan khusus menggunakan suatu cara atau al- hmm.."
"Ada apa?"
"Tidak. Aku hanya ingat kalau nenek sialan itu pernah menyebut ruangan khusus untuk latihan dalam waktu singkat. Singkatnya menggunakan prinsip perbedaan waktu, latihan bisa dilakukan dalam waktu singkat."
"Aku baru pertama kali mendengarnya."
"Tentu saja kalian tak mendengarnya. Alat itu sangat berbahaya, jadi tak disebar luaskan. Saat ini aku tak tahu apakah alat itu ada atau tidak. Tetapi jika melihat perubahan mereka.."
"Semuanya masuk akal kah.." sambung Knox.
Sementara Knox sedang terlihat berpikir dengan keras, Jinn mendekat dengan wajah bersemangat.
"Jika mereka memiliki alat seperti itu, bukankah ini kesempatan?"
Semua tahu apa yang dipikirkan Jinn. Itu bukan ide yang buruk, tetapi-
"Lupakan idemu. Setahuku alat itu menyesuaikan latihan dengan penggunanya, tetapi itu juga merupakan fitur paling mengerikan dari alat itu."
"Ayolah, jangan menakutiku, Aldest. Aku akan melakukan apapun untuk menjadi kuat. Aku bahkan akan melewati neraka jika diperlukan."
Tiba tiba Aldest tersenyum.
"Kalau begitu aku rasa tak ada masalah."
"Huh?"
"Seperti yang kubilang, alat itu menyesuaikan latihan dengan penggunanya. Latihan setara dengan latihan neraka dan mimpi buruk. Meskipun kau ingin kabur, kau tak akan bisa sebelum menyelesaikannya."
Keringat mulai bercucuran hanya dengan membayangkannya.
Tetapi, Aldest tak ragu melanjutkannya.
__ADS_1
"Itulah yang mereka lalui dan kenapa mereka kuat. Apa kau sanggup memilih jalan yang sama dengan mereka, Jinn?"
Senyuman Aldest saat itu lebih mirip senyuman iblis yang menggoda manusia ke dalam kejahatan. Sayangnya, itu benar.