
Laila dan lainnya mencoba mengambil rute lain untuk pergi dari bawah tanah. Bagaimanapun juga mereka akan terkubur hidup hidup jika terus berada di sana.
Syukurlah ada penyihir tipe Contractor di pihak mereka, dengan menggunakan Hall, mereka bisa membawa Kuro tanpa kerepotan.
"Pertarungan di atas sana sungguh luar biasa. Aku baru pertama kali merasakan energi sebesar ini."
Tentu Aldest tak bisa melihat secara langsung apa yang terjadi di atas sana, tetapi dari tekanan mana yang besar dan memberikan tekanan yang berat, Aldest tak perlu melihat kalau terjadi pertempuran dahsyat di permukaan.
Selain itu terdengar suara ledakan keras dan getaran tanah seperti gempa besar. Itu sudah cukup untuk menjadi bukti.
"Selanjutnya ke lorong kiri."
Mereka terus melanjutkan perjalanan untuk keluar dari tempat itu. Satu satunya yang bisa diandalkan hanyalah ingatan Aldest.
Untuk Yui dan Laila, mereka masih terus terlihat khawatir dan diam membisu sesekali melirik ke arah Kuro.
(Mereka pasti memikirkan banyak hal saat ini. Yah mau bagaimana lagi. Itu wajar mengingat apa yang terjadi pada mereka)
Alasannya bukan hanya karena Kuro terluka parah hingga tak sadarkan diri. Tetapi kekuatan yang ditunjukkan Kuro membuat mereka harus berpikir banyak hal. Bagaimanapun juga kekuatan Kuro adalah hal yang tabu di dunia ini.
Sementara itu, bagi Aldest apa yang dia lihat memang suatu yang mengejutkan, namun dia bisa menerima kekuatan itu ada di dunia ini. Salah satu alasan adalah hubungan Kuro dengan Demon King Shiroyasha, sedangkan hal lainnya adalah lawan mereka yang bisa menggunakan kekuatan yang sama.
Saat memikirkan itu, Aldest tanpa sadar meng-klik lidahnya. Tiba tiba dia merasakan tak senang dengan apa yang terjadi.
Tentu bukan kekuatan kegelapan Kuro. Tetapi dia tahu jika hal ini terus berlangsung, masa depan apa yang menanti mereka?
(Aku harus membahas hal ini dengan nyonya Electra)
Dia tak tahu apakah Electra sudah mengetahui apa yang terjadi, tetapi mengingat siapa dia sebenarnya, kemungkinan itu tidaklah nol.
Tiba tiba Demon menghadang mereka, tentu dengan mudah dihabisi oleh Laila dan Yui.
"!?"
Melihat kecepatan keduanya menghabisi Demon, Aldest tak punya pilihan selain terkejut. Bagaimanapun juga dia tahu Demon di labirin itu tidaklah lemah.
Sekarang dia tahu kenapa kelompok Kuro lancar menjelajahi labirin itu. Jika dibandingkan dengan kelompok Knox, .....mungkin sebaiknya dia tak membandingkannya.
Perbedaan sudah terlihat jelas di matanya.
"Aldest, apakah aku ini lemah? "
Tiba tiba Laila bertanya. Raut wajahnya masih penuh dengan bayangan.
Aldest tak mengerti kenapa Laila tiba tiba menanyakan hal itu, tetapi yang dia bisa lakukan hanyalah menjawab dengan jujur.
"Entahlah. Aku tak tahu betul apa standar orang yang kuat. Tetapi aku pikir kau kuat."
Jika dibandingkan dengan Ayahnya, Laila mungkin tak sebanding. Aldest tak menyebut Laila kuat karena hal itu.
Bagi Aldest, tidak kuatnya seseorang ditunjukan dengan niatnya. Laila sudah menunjukkan niat itu dengan berlatih dengan keras dan mampu bertarung dengan baik. Dan dia tahu Laila pasti juga memiliki pemikiran yang sama. Tetapi kejadian ini membuatnya meragukan dirinya sendiri.
"Jika aku bertambah kuat, kenapa aku masih tak bisa melindungi orang yang aku sayangi? Kenapa aku selalu melihat mereka terluka tanpa bisa berbuat apapun? Jika aku kuat, seharusnya semua ini tak terjadi... "
Benar.
Jika dia lebih kuat, Lic tak akan diculik. Kuro tak akan berbuat sejauh itu demi melindungi dirinya dan mengalahkan musuh.
Agar tak menjadi beban dia berusaha berlatih dengan keras. Tetapi pertarungan kali ini menunjukkan kalau dia tak bisa berbuat apapun.
Aldest mendesah. Dia mengerti kenapa Laila berpikir seperti itu.
Tetapi-
"Apakah kau merasa bertanggung jawab dengan semua masalah ini? Jika seperti itu, kau salah! "
"..."
"Dalam sejarah manapun, manusia tak pernah jauh dari konflik. Meskipun kedamaian tercipta, tetapi seiring dengan waktu kedamaian itu bisa sirna hanya karena alasan tak masuk akal. Semua itu sama seperti sekarang ini. Hanya karena orang tak bertanggung jawab dan egois, mereka melibatkanku dengan masalah sehingga aku tak bisa membuat anak dengan Lairo-ku tercinta. Aku belum puas jika belum menghajar dalang dari semua ini."
Meskipun penuh dengan tambahan erotis, namun Laila mengerti apa yang ingin Aldest sampaikan, tetapi itu tak merubah fakta semua ini tak akan terjadi jika dia bisa melindungi Lic.
"Jika kau merasa bertanggung jawab, maka kalahkan musuh dan akhiri ini dengan meriah. Kau pasti ingin bermesraan dengan Kuro tanpa diganggu kan?"
Mendengar itu wajah Laila memerah. Dia lalu melirik Kuro yang masih belum sadar.
Kemudian Laila tersenyum kecil.
"Kau benar. Jika aku harus bertanggung jawab, maka aku harus bertarung."
Tiba tiba Laila berhenti dan berlari ke arah sebaliknya.
Melihat itu, Aldest langsung menyesali perkataannya.
(Aku tak bermaksud menyuruhmu ikut bertarung, bodoh!)
Aldest ikut berbalik arah dan sekuat tenaga mengejar Laila, tetapi Laila menghilang di lorong bercabang.
Mengetahui target dia lolos, Aldest hanya bisa mengklik lidahnya karena kesal.
"Panggung ini masih terlalu awal bagimu."
Sekuat apapun Laila, dia masih murid sekolah kelas satu yang bahkan belum lama memasuki sekolah. Masih banyak hal yang belum dia pelajari.
Memang benar Laila sudah mengalami banyak hal dengan pertarungan nyata yang mempertaruhkan nyawa, tetapi di mata Aldest semua itu belum cukup untuk membuat Laila bisa bergabung.
Aldest ingin mengejar Laila, tetapi saat mengingat situasinya saat ini, dia mengurungkan niatnya.
Dia lalu menoleh ke arah Yui.
Berbeda dengan Laila, Yui tak terlihat ingin bertarung. Dia mungkin sadar kalau ini belum saatnya, tetapi Aldest bisa melihat kalau mata Yui menunjukkan hal yang sama dengan Laila. Hanya saja saat ini Yui memiliki prioritas lain daripada bertarung.
Itu adalah kesembuhan Kuro.
"Kau tak ikut?"
Meskipun begitu, Aldest tetap bertanya.
"Tidak."
Yui menggelengkan kepalanya.
"Jika kak Laila, aku yakin dia bisa melakukannya. Saat ini aku masih belum bisa bertarung di sampingnya atau samping kak Kuro, tetapi meskipun begitu, masih ada yang bisa aku lakukan. "
Yui melirik Kuro.
"Aku harus membuat kak Kuro kembali bertarung di sisi kak Laila. Bagaimanapun juga seorang King dan Queen harus selalu bersama. Inilah yang bisa aku lakukan sebagai salah satu Miko."
Aldest tak tahu apa yang dimaksud dengan Miko, tetapi di balik kata itu dia bisa merasakan kekuatan yang luar biasa.
Dia tahu Kuro adalah pemuda yang tak biasa, tetapi saat melihat Yui dan lainnya, Aldest sadar kalau semua yang terlibat dengan Kuro pasti akan mengalami hal yang sama.
Dia sekarang mengerti kenapa Kuro begitu menarik.
(Mungkin inilah alasan kenapa Kuro disebut King?)
Jujur saja, dia masih tak mengerti dengan arti King dan Queen. Kedua julukan itu adalah sebutan hal yang biasa bagi seorang penguasa, tetapi Kuro dan Laila bukan seperti itu.
Mungkin itu misteri yang akan segera Aldest ketahui.
✴️✴️✴️
Tanah bergetar, dinding labirin runtuh dan jatuh. Dengan gerakan lincah Laila menghindar dan melanjutkan larinya.
Dia masih ingat dengan jalan menuju tempat pohon kristal, jadi hanya butuh waktu hingga dia tiba di sana.
(Yui, aku percayakan Kuro padamu)
Jika dia terus bersama dengan Yui, dia tak bisa melakukan apapun. Karena itulah dia memutuskan untuk melakukan apapun yang bisa dia lakukan.
Tentu dia sadar itu adalah pilihan yang beresiko mengingat lawan mereka adalah Holy Maiden yang mengalahkan Demon King.
Tetapi-
Ketika dia berlatih dengan Solaris, dia mendapatkan kekuatan yang tak dia bayangkan sebelumnya, tetapi dia masih tak tahu apakah itu cukup untuk bertarung dengan Maria.
(Tidak)
Dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pesimis dalam pikirannya.
__ADS_1
Tentu jika dibandingkan dengan pengalaman bertarung Maria, latihan yang dia lakukan sama sekali tak ada artinya.
Dia mungkin hanya bisa bertarung beberapa menit. Dia mungkin juga akan mati.
Tetapi dia tak akan mati. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selamat dari pertarungan. Sayangnya, untuk itu dia harus melakukan hal yang paling tak ingin dia lakukan.
Jalan yang tak mungkin kembali. Tetapi demi orang yang dia sayangi, dia akan tanpa ragu melakukannya.
Tak berapa lama, dia sampai di tempat pohon kristal berada.
"?"
Tetapi saat tiba di sana, dia melihat sebuah sosok gadis, tidak. Lebih tepatnya seorang wanita.
Karena tahu siapa wanita itu, Laila tanpa ragu menghampirinya.
"Bu Otome ,apa yang kau lakukan di sini?"
Dan bagaimana bisa dia di sana? Dia ingin menanyakan banyak hal karena merasakan keganjilan.
Selain itu, wajah Otome terlihat segar seperti sudah sembuh dari penyakitnya. Wajah bagai mayat hidup sudah tak terlihat lagi seolah apa yang dia ingat tentang Otome saat terakhir bertemu hanyalah ilusi.
"Yah.. Bagaimana ya.. ? Aku ke sini karena dimintai tolong seseorang."
"Huh?"
Laila tak bisa berkata apa apa. Dia tahu Otome merupakan penyihir peringkat SS yang memiliki kekuatan Soul, tetapi dia tak tahu apa itu cukup untuk membantu mereka dalam pertarungan.
"Ngomong ngomong, apa yang bisa aku bantu?"
"..."
Untuk alasan tertentu, Laila ingin memukul Otome. Tetapi dia tak bisa.
Laila mendesah mencoba untuk bersabar. Bagaimanapun juga Otome tak salah.
Disaat itulah Otome melihat ke arah lantai di mana lingkaran sihir masih tergambar jelas di lantai. Meskipun tak ada tanda sihir telah aktif karena tujuan musuh tercapai, namun ada sisa energi yang masih terasa.
Tetapi untuk alasan tertentu, Otome tak bisa melepaskan pandangannya dari lantai.
"Ini formasi lingkaran sihir yang terumit yang pernah aku lihat."
"Aku juga memliki pendapat yang sama. Percuma saja terlalu fokus pada lingkaran sihir itu. Bagaimanapun juga tujuan musuh sudah tercapai."
Apa yang dikatakan Laila sesuai dengan kenyataan yang ada, tetapi-
"Apa kau yakin?"
Otome mengatakan hal yang tak Laila mengerti.
Disaat yang sama, cahaya dan kilat menyambar di dinding lubang sehingga membuat tanah longsor. Laila dan Otome tak terlalu berbuat banyak karena longsoran berada jauh dari mereka.
"...apa maksud bu Otome ?"
"Akhirnya aku mengerti kenapa aku dilempar kemari. Jika hal ini terus dibiarkan, kita tak akan pernah bisa mengalahkan Holy Maiden sebanyak apapun pasukan kita."
"Huh?"
Laila semakin tak mengerti. Mungkin kepala Otome terbentur sesuatu sehingga berkata hal yang tak masuk akal.
"Sepertinya takdir yang menuntunmu kemari. Laila, kau bantu aku. Tidak, kau lindungi aku. Selama aku menghancurkan lingkaran sihir ini, aku tak bisa bergerak dari tempatku."
"Bisakah kau menjelaskan apa maksudmu? "
"LAKUKAN SAJA!?"
Saat mendengar teriakan Otome, Laila sedikit terkejut. Tetapi Otome seperti mengabaikan Laila dan menaruh kedua tangannya di lantai, lebih tepatnya di pusat lingkaran sihir.
Lalu tiba tiba lingkaran sihir bercahaya dan menunjukkan lingkaran sihir lainnya yang lebih rumit.
"Aku akan memulainya. Sepertinya dalam hal ini aku tak memiliki pilihan lain selain menggunakan kekuatanku."
Otome memejamkan matanya sesaat, lalu setelah terbuka, mata Otome berubah menjadi merah darah.
""
Dalam hati dia hanya bisa bertanya, -
(Bu Otome , siapa kau sebenarnya?)
✴️✴️✴️
"Ini buruk. Knox, apa yang harus kita lakukan?"
Nafas Jinn terengah engah karena terlalu lelah bertarung. Tak hanya itu, dia bisa merasakan energinya terkuras cukup banyak sehingga membuat dia sulit berdiri. Jika mengingat dirinya yang dulu, ini suatu keajaiban.
Pedang di tangannya retak di berbagai tempat dan hanya menunggu waktu hingga hancur lebur. Ini wajar karena pedang itu sudah benyak beradu dengan senjata lawan yang mengunakan elemen anti sihir.
Meskipun pedangnya bukanlah Magic Arm, namun senjatanya terbuat dari cara yang hampir sama. Tak heran jika pedangnya tak mampu bertahan.
Selain menggunakan senjata anti sihir, musuh tak akan mati sebelum kristal di tubuh mereka dihancurkan. Meskipun dia dan Knox menebas tubuh lawan mereka menjadi potongan kecil, tetapi itu belum cukup.
Sampai sekarang mereka hanya berhasil menghabisi 30 persen jumlah musuh. Mereka berada dalam situasi yang cukup gawat.
"Aku tak tahu. Andai saja kita bisa mengekang gerakan mereka... "
Tetapi pilihan itu sulit. Knox dan Jinn adalah penyihir elemen bumi, sedangkan lantai dan seluruh tempat terbuat dari metal.
Knox memang bisa menggunakan sebagian kecil elemen besi, tetapi dia hanya bisa menggunakan partikel besi yang bercampur dengan bumi, bukan besi yang sudah diolah.
Tentu Knox memikirkan cara lain seperti memanggil magic beast miliknya, Legion. Tetapi tempat itu terlalu sempit dan dia akan kehilangan banyak mana untuk sekali memanggil. Pilihan yang tepat adalah tetap menggunakan gaya bertarungnya yang sekarang.
(...)
Knox mengamati sekitar mereka dan lawan mereka. Pasti ada cara lain yang lebih mudah untuk menghabisi mereka.
Sejauh ini hanya informasi kalau mereka adalah homunculus dan satu satunya cara untuk menghadapi mereka adalah dengan menghancurkan inti mereka.
Disaat itulah salah satu menyerang dan diikuti musuh lainnya. Jinn bertahan dengan pedangnya, tak hanya itu, dia menendang lawan hingga membentur musuh lain. Tetapi itu tak cukup, dari sudut buta, salah satu menyerang dengan tombak.
Menyadari dalam bahaya, Jinn melebarkan matanya. Disaat itulah suara tembakan terdengar dari Amira.
Dengan tatapan mata, Jinn mengucapkan terima kasih. Dia tak bisa melakukannya karena sedang fokus dengan lawan dia.
Sementara itu, Knox memilih menghindari serangan karena dia tahu percuma saja jika dia menggunakan sihirnya untuk bertahan.
Dengan mengorbankan pakaiannya dan sebagian kecil tubuhnya teriris senjata tajam, dia akhirnya melompat ke udara dengan menggunakan tubuh musuh sebagai pijakan.
Tetapi Knox tak turun.
Dengan mengalirkan mana ke kakinya, dia bisa melekat ke atap bangunan. Tentu untuk melakukan ini hal yang tak mudah dan butuh konsentrasi yang tinggi, tetapi Knox tipe orang yang menggunakan otaknya. Ini hal yang mudah baginya.
"..."
Dari atas, dia mencoba melihat pertarungan dari sudut yang berbeda. Tentu dia tak boleh lama karena dia tak tahu sampai kapan Jinn dan Amira bisa bertahan.
Jinn mengayunkan pedangnya ke arah bahu lawan. Seperti pertarungan sebelumnya, musuh mereka tak mengeluarkan darah setetespun. Bahkan dari luka mereka tak menunjukkan kalau tubuh mereka terbuat dari darah dan daging. Hanya sebuah boneka yang diciptakan untuk bertarung.
Karena tak bisa terus bertahan, Jinn berinisiatif untuk menggunakan senjata lawan dengan tangan kirinya. Tetapi seperti yang pernah dicoba, senjata lawan akan kehilangan efek anti sihir saat orang lain menyentuhnya. Tetapi Jinn tak punya pilihan lain. Dia menggunakan senjata lawan untuk menusuk bagian tempat inti mereka.
Sedangkan Amira, karena dia tak bagus dalam pertarungan jarak dekat, dia menggunakan magic arm miliknya untuk menghalau serangan. Tentu sama seperti Jinn, sniper miliknya perlahan mengalami kerusakan. Tetapi selama bisa digunakan, itu sudah cukup.
"Kuh..!?"
"Jangan menjauh dariku. Aku tak tahu apakah bisa melindungimu atau tidak dalam situasi ini."
Amira tak menjawab.
Bagi dirinya, bantuan Jinn tak diperlukan. Seorang Illegal Knight seperti dirinya pernah mengalami pertarungan yang lebih berbahaya daripada saat ini, tetapi dia juga tak bisa menolak niat baik Jinn.
(Si bodoh itu. Dia mencoba untuk keren, tetapi dia tak sadar kalau dia seperti pecundang)
Knox hanya bisa mendesah dalam.
Kemudian dia kembali menganalisa situasi.
(Bagaimanapun kau melihatnya, kami berada di situasi sulit. Kami bisa menang jika mereka hanyalah homunculus biasa tetap-tunggu!)
Dia tak tahu apakah pemikiran yang muncul di kepalanya salah atau benar, tetapi hanya ada satu cara untuk membuktikannya.
__ADS_1
Dia lalu menciptakan pedang dari mana. Pedang transparan kini muncul di tangan Knox. Pedang itu lebih lemah daripada pedang yang dia ciptakan menggunakan elemen, tetapi itu sudah cukup.
Setelah mencari celah, dia melesat ke bawah dan menebas tangan salah satu homunculus. Jinn dan Amira terkejut karena tak tahu apa yang coba Knox lakukan.
Mengabaikan Jinn dan Amira, Knox langsung saja mengambil senjata lawan berupa tombak.
Seperti sebelumnya, senjata yang dia ambil kehilangan cahayanya, tetapi Knox justru tersenyum.
Jinn dan Amira berpikir kalau Knox pasti sudah gila karena terlalu banyak darah yang mengalir di otaknya.
Tetapi disaat itulah tombak di tangan Knox tiba tiba dipenuhi oleh semacam aura. Lalu dengan senjata itu dia menahan serangan lawan, kemudian dia menusuk bagian inti musuh.
Melihat hasil yang tercapai, Knox menunjukkan senyuman licik.
"Kuku.. Aku sungguh bodoh. Kenapa aku tak menyadari hal ini sejak aku membaca data tentang mereka? Dasar bodoh!"
Knox ingin menghajar dirinya di masa lalu karena terlalu bodoh. Kenapa dia tak menyadari hal sederhana seperti itu.
Lalu dengan senyuman lebar, Knox menghajar lawan dengan mudahnya. Bahkan dia seolah tak takut dengan senjata anti sihir milik musuh.
Meskipun terlihat seperti orang gila, namun Knox berhasil mengalahkan 10 musuh dengan mudah.
Dia lalu menoleh ke arah Jinn dan Amira.
"Jangan gunakan senjata kalian, tetapi ambil senjata musuh. Setelah itu alirkan mana kalian."
Tanpa banyak tanya, Jinn dan Amira menuruti Knox. Itu adalah bukti kalau mereka percaya dengan apa yang Knox katakan. Lagipula mereka sudah melihat apa yang terjadi pada Knox setelah menggunakan senjata lawan.
Jinn memilih pedang, sedangkan Amira memilih belati. Keduanya mengalirkan mana pada senjata yang mereka rebut dan langsung mengerti apa yang bisa mereka lakukan dengan senjata itu.
(Kami benar benar bodoh. Mereka memang menggunakan senjata yang mirip seperti magic arm, tetapi itu semua tak terlalu berbeda dengan senjata Knight Gear)
Dengan mengalirkan mana, senjata akan lebih kuat dan berbahaya. Mengenai kenapa senjata musuh bisa menghancurkan sihir itu disebabkan oleh energi yang dialirkan pada senjata mereka.
(Lalu.. Mengenai siapa mereka sebenarnya..)
Knox memenggal salah satu musuh.
(Sudah aku duga, mereka tak mati karena sejak awal mereka bukanlah homunculus)
"Mereka hanyalah golem berwujud manusia. Jangan ragu menghancurkan mereka!"
Jinn dan Amira mengangguk tanda mengerti.
Lalu jalan pertarungan sudah bisa ditebak. Ketiganya menang dengan luka ringan.
Kemenangan bukan hanya karena Jinn dan lainnya mendapatkan senjata yang sesuai, namun juga karena mereka tahu betul siapa lawan mereka sebenarnya.
Golem merupakan boneka sihir yang diciptakan dengan tubuh yang bisa disesuaikan sesuai keinginan. Dalam hal ini musuh menggunakan dan membentuk tubuh golem seperti manusia.
Tetapi semua golem memiliki satu kelemahan yang sama. Mereka hanya bisa mengikuti perintah sederhana dan gerakan yang tak terlalu spesial.
Meskipun musuh sepertinya berhasil membuat golem yang bisa melakukan gerakan rumit, namun mereka tak bisa menanggapi serangan mendadak dengan baik. Inilah yang digunakan ketiganya untuk bisa menang. Dengan kata lain, strategilah yang membuat mereka menang.
Setelah berhasil melewati pertarungan yang melelahkan, ketiganya menjelajahi laboratorium. Kali ini Jinn dan Knox berada di depan sedangkan Amira berjalan 7 langkah di belakang mereka. Hal ini bertujuan untuk menghindari serangan dadakan seperti sebelumnya.
Selain peralatan canggih yang tak mereka ketahui untuk apa alat itu digunakan, mereka menemukan dokumen dokumen di meja yang berantakan.
Knox mencoba membaca salah satu dokumen. Sayangnya, dokumen yang dia baca tak terlalu penting. Bahkan semua catatan yang ada sudah Knox ketahui.
"Sepertinya dokumen penting ada di tempat lain."
Jinn yang ikut membaca memberikan komentarnya.
"Atau bisa juga sudah dihancurkan mengingat pengetahuan yang mereka miliki lebih maju daripada kita."
Golem dengan kemampuan homunculus, Darknesss Art, anti sihir. Entah apa lagi yang dimiliki oleh musuh. Knox tak ingin mengetahuinya karena hanya akan membuat dirinya tak bisa tidur nyenyak.
Masalahnya, darimana mereka mendapatkan semua pengetahuan itu?
Setiap negara di dunia melakukan penelitian, bahkan ada negara yang menganggarkan dana besar hanya untuk teknologi baru. Karena itulah cara musuh mendapatkan semua pengetahuan itu sungguh membuat Knox penasaran.
"Umm.."
"Ada apa Amira?"
Amira menunjuk sudut ruangan. Jinn dan Knox melangkah ke tempat itu.
"?!"
"!?"
Mereka melebarkan mata mereka. Keringat dingin mengalir dan kata kata seolah tak mau keluar dari mulut mereka.
Maklum saja, apa yang mereka lihat lebih mengejutkan daripada apa yang mereka lihat sebelumnya.
Tabung tabung besar berdiri dengan kokoh di sudut ruangan. Tetapi yang mengejutkan mereka adalah isi tabung itu.
Setelah mendekat, mereka bisa melihat tubuh Kuro di masing masing tabung. Meskipun telanjang, namun setiap tubuh tak memiliki alat kelamin. Dan karena wajah Kuro sedikit feminim, mereka tak tahu apakah Kuro di setiap tabung itu perempuan atau lelaki.
"Aku tak tahu kalau ada seorang yang begitu terobsesi pada Kuro. Jujur saja ini membuatku bergidik."
"Yeah.. Tetapi jika dilihat dari golem yang kita lawan, sepertinya mereka berbeda."
Jinn mengangguk.
"Mungkin mereka membuat homunculus, tidak aku rasa ini berbeda."
"Tidak salah lagi mereka berusaha mengkloning Kuro. Tetapi untuk apa?"
Jika hal ini dilakukan karena hubungan Kuro dengan Demon King, berarti ada tujuan tertentu sehingga mereka melakukannya.
Apalagi musuh sudah tahu cara menggunakan Darkness Art. Ini penemuan yang sangat penting.
"Percuma saja memikirkannya. Sebaiknya kita lanjutkan saja kenapa kita ada di sini. Bukankah itu lebih penting?"
"...benar. Aku tahu mencari teman Amira penting, tetapi apakah tidak apa apa membiarkan mereka melakukan semua ini? Kau tahu sendiri kan kalau pasti ada alasan mereka melakukannya."
Mengabaikan Jinn, Knox mulai pergi menjauh.
"Tidak apa apa. Selama mereka memiliki peta DNA Kuro, mereka bisa menciptakan kloning kapan saja selama mereka memiliki fasilitas." Knox mendesah. "Jika kau ingin menghentikan hal ini, cara yang paling tepat adalah menangkap ilmuan yang melakukannya."
"...benar juga."
Mereka pergi. Sambil melihat ke sekeliling, mereka memancarkan gelombang mana ke semua arah agar mengetahui apa saja yang ada di sana, termasuk ruang tersembunyi. Inilah cara yang mereka gunakan untuk menemukan laboratorium tersembunyi.
Selain cara itu, mereka menggunakan mata Amira yang lebih tajam daripada penyihir biasa untuk melihat hal yang tak wajar.
Setelah cukup lama mencari, mereka menemukan sebuah ruangan tersembunyi di dinding. Sekali lagi dengan kekuatan mereka menembusnya.
Kali ini mereka lebih waspada sebelum masuk. Kemudian setelah mengkonfirmasi tak ada musuh atau jebakan, mereka masuk.
"Eh?"
Tetapi yang mereka temukan hanyalah sebuah ruangan dengan tempat tidur. Di sana, seorang gadis tertidur lelap seperti seorang putri.
"Hana.."
Gadis itu merupakan yang mereka cari. Salah satu Black Valkryie.
Seolah tak bisa menahan rindu, Amira langsung berlari ke arah Hana.
Tetapi disaat itulah Knox mencegah Amira.
"Jangan.."
Amira menunjukkan ekspresi tak mengerti. Disaat itulah suara tawa terdengar.
"Ho.. Aku tak percaya ada yang bisa melihat keberadaan diriku."
Sebuah sosok muncul di dekat Stella. Dia muncul seperti penyihir yang menggunakan sihir tak terlihat. Seorang pria dengan kacamata dan jaket lab. Sebuah senjata api di tangannya. Ketiganya tak perlu berpikir untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pria itu.
Dan tebakan mereka benar.
Lelaki itu lalu menodongkan senjata pada mereka bertiga.
"Maaf saja, gadis ini berharga untuk kami. Akan menjadi masalah jika kalian membawanya."
Tembakan terdengar. Dan darah berceceran di lantai.
__ADS_1