
"Untuk menyelamatkan Ayah, Arisa menemuiku untuk meminta bantuan. Aku tak pernah tahu kalau ayah akan menghilang, jadi itu cukup mengejutkanku."
"Mana ada orang tua yang memberitahu kalau mereka akan mati. Dia memang tak bisa begitu disebut sebagai orang tuamu, tapi dia menyayangimu."
"Aku tahu itu, Ibu. Selama ini dia terus membantu kekaisaran dan diriku tanpa pernah sekalipun mengeluh. Karena itulah untuk membalasnya, aku menerima permintaan Arisa tanpa pikir panjang."
"Butuh banyak persiapan untuk itu. Bahkan jika salah satu gagal, semuanya akan menjadi percuma."
"Apakah semua insiden yang kami alami akhir akhir ini ada hubungannya dengan rencana kalian?" Tanya Charlmilia.
Memang terlihat tak memiliki hubungan, tapi setelah tahu identitas Shadow, musuh yang tak dikenal mereka adalah Arisa, maka tak aneh jika semuanya memiliki hubungan.
"Semacam itulah. Tapi salah jika berpikir rencana itu baru akhir akhir ini. Rencana kami sudah dimulai sejak kemunculan Ayah untuk pertama kalinya di desa klan Blad."
Akhirnya semuanya terhubung.
Kisah kejadian pembantaian Knight, perekrutan Kuro dalam Shadow Knight, Dragonia, Dainsleif, kekacauan di ibukota dan yang paling terakhir, Battle War.
"S...udah selama itu?"
Yui bertanya. Dia terlihat menahan amarah yang begitu besar. Ini bukan suatu yang aneh mengingat semua hal itu mengorbankan banyak nyawa yang tak bersalah.
Jika Kuro mengetahuinya sejak dulu, apa yang dia pikirkan tentang hal ini?
"Kau tak bisa mengubah masa lalu, jadi kau tak perlu memikirkannya."
"Kenapa kaisar bisa berkata seperti itu? Kak Kuro memang tak belas kasih pada musuh, tapi dia bukanlah orang yang senang dengan orang lain yang mati karena dirinya."
Kuro akan melindungi orang yang berharga baginya. Selama dia memiliki kekuatan, dia akan melakukannya.
Apa yang dilakukan kaisar Sei dan Arisa seolah menyia-nyiakan usaha keras yang Kuro lakukan.
"Cara berpikirmu tidak salah, tapi kau terlalu naif. Jika kau melihat sejarah, negeri ini dibangun dengan pertumpahan darah yang tak terhitung. Kau bisa bertanya pada ibu yang menjadi saksi kejadian itu secara langsung."
"..."
Yui dibuat bungkam. Dalam hati dia tak menerima cara Sei, tapi dia juga tahu kalau Sei memang benar benar putra Kuro.
Anehnya, mungkin Sei tak sadar kemiripan hal itu.
"Aku mengerti kadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sebuah hasil yang lebih besar, tapi apakah itu layak?"
"Fila, apa maksudmu dengan berkata seperti itu?"
Untuk pertama kalinya Fila menyampaikan pendapatnya, tapi itu pendapat yang tak diduga siapapun.
"Sejak tahu Kuro akan menghilang, aku sadar kalau kemungkinan aku tak akan menemuinya lagi. Tetapi, setelah mengetahui lebih lanjut kalau tak ada yang bisa menghentikan Kuro menghilang, atau Kuro sendiri menginginkan kematiannya, aku selalu berpikir. Apakah kita harus menyelamatkan Kuro?"
"Fila, apa kau mengerti apa yang kau katakan?"
"Charl, kau salah jika berpikir aku tak mencintai Kuro. Bahkan saat ini aku mengandung buah cintanya. Sebagai seorang yang akan menjadi ibu dan orang tua, aku juga menginginkan sebuah keluarga yang utuh."
Fila berhenti sesaat, lalu melanjutkan.
"Tapi setelah mendengar cerita Arisa tadi, aku juga sadar. Di ruangan ini tak ada satupun yang benar benar tahu kenapa Kuro ingin mati. Tidak, lebih tepatnya tak ada yang tahu apa yang Kuro lalui sehingga dia ingin sekali mati. Tanpa mengetahui hal itu, aku menentang ide untuk menyelamatkan Kuro. Itupun jika kita ada cara."
Semua kembali dibuat dengan diingatkan kembali tentang kenyataan yang ada.
Kuro adalah orang yang paling dekat dengan mereka, tapi bukan berarti mereka semua benar benar mengenal Kuro.
Dari semuanya, Riana yang paling terlihat jengkel.
"Ini menyebalkan. Kau benar mengenai hal itu." Jawab Riana tak menyembunyikan kekesalannya. "Karena alasan inilah aku membencinya. Dia tak benar benar mau berbagi penderitaan yang dia alami. Tapi seharusnya kau tak berpikir kalau tak ada cara untuk menyelamatkan Kuro."
"A-apa itu benar, Riana?"
Untuk pertama kalinya Laila berbicara. Sekilas dia tak terlihat mendengarkan, tapi dia memperhatikan dengan baik.
"Jika benar benar ada, cepat sebutkan!!"
"Fila, kenapa kau terlihat ingin sekali memprovokasi?"
Fila membuang muka seolah tak peduli.
Charlmilia mendesah kecil karena tak mengerti apa yang Fila pikirkan saat ini.
"Sebelum mengatakan itu, aku harus memberitahukan tentang cara God Eraser bekerja."
"God Eraser?"
"Itu adalah sihir pembunuh dewa, lebih tepatnya penghapus dewa. Dengan menghapus eksistensi dewa, kita akan membunuh dewa. Sihir inilah yang membuat ingatan tentang Kuro menghilang."
Alasan King kenapa selalu menghilang dan tak ada yang mengingat kembali bukan hanya karena mereka dipilih dari orang yang sudah mati dan tak akan pernah ada, tapi juga karena pengaruh sihir God Eraser.
"Apakah sihir seperti itu benar benar ada? Membunuh dewa bukanlah suatu yang sulit dimengerti, tapi menghapus eksistensi mereka?"
"Ini tak serumit yang kau bayangkan Charlmilia. Contohnya, ada sebuah sekte sesat yang menguasai sebuah negeri. Bagaimana kita menghancurkan sekte sesat itu agar tak ada? Mudah, kau hanya harus menghancurkan seluruh negara itu hingga tak tersisa lagi."
Perumpamaan yang cukup berat, tapi itu mudah dimengerti.
"God Eraser menggunakan prinsip seperti itu. Dan cara ini bertujuan untuk mencegah Kuro bangkit kembali."
"Bukankah itu terlalu berlebihan? Jika kak Kuro mati, mana mungkin dia bisa bangkit kembali?"
"Yui, kenapa kau masih belum mengerti juga? Kuro bukanlah manusia, tapi eksistensi yang lebih tinggi. Dia adalah King, raja dari para dewa."
"!?"
Bagi Yui, Kuro adalah orang yang spesial. Karena itulah dia tak begitu memikirkan siapa dirinya yang sebenarnya. Selama Kuro hidup, itu tak penting.
Tetapi setelah mengetahui kebenaran tentang Kuro, dia akhirnya menghubungkan semua keanehan tentang Kuro.
Sayangnya, hal ini juga menimbulkan pertanyaan lain bagi Yui. Jika Kuro seorang dewa, kenapa dia menjadi manusia normal dan mati?
Itu tak penting lagi sekarang.
"Riana, kita bahas tentang identitas Kuro nanti. Kau bisa langsung saja menyebutkan bagaimana cara menyelamatkan Kuro."
"Laila, kau benar benar bersemangat tentang hal ini."
Laila menatap Riana dengan tajam tanda dia kesal, tapi Riana hanya tersenyum kecil seolah tak peduli.
"Cara pertama adalah dengan menghancurkan sihir God Eraser itu sendiri. Meskipun itu sihir yang luar biasa, tapi itu bukanlah sihir yang tanpa celah."
"Apakah itu alasan yang membuat Kuro bertahan hingga 400 tahun?" Tanya Charlmilia.
Riana menggelengkan kepalanya.
"Kalian salah jika sihir God Eraser tak memiliki efek yang kuat. Sihir itu sebenarnya sanggup mengapus eksistensi dewa dalam hitungan detik. Kuro saja yang tak normal."
"""...."""
Semua dibuat bungkam. Semua tahu Kuro seorang dewa yang kuat, tapi sekuat apa dia? Membayangkannya saja membuat kepala mereka pusing.
"Kembali ke topik. Sihir God Eraser memiliki sebuah celah besar, yaitu seiring berjalannya waktu, sihir itu akan semakin melemah. Dengan memanfaatkan itu, kita bisa menghancurkan sihir God Eraser dari Kuro."
"Tapi cara itu gagal." Sambung Sei.
Tak hanya Sei, tapi juga Arisa membuat ekspresi rumit dan sedih.
Di saat inilah semua mengerti apa yang dimaksud dengan rencana menyelamatkan Kuro oleh mereka berdua.
"Sei-san, ....Arisa?"
Keduanya tak menjawab, tapi itu sudah menjawab semuanya.
"Alasan kenapa menggunakan Pulau Avalon untuk Battle War adalah mengacaukan sihir God Eraser dengan kekuatan Reset pada pulau. Lalu dengan menggunakan kekuatan True Quuen Arisa, kami berharap bisa menghancurkan sihir God Eraser untuk menyelamatkan Kuro."
"Sayangnya, semua itu digagalkan oleh Shin sendiri."
Semua masih ingat apa yang terjadi dalam Battle War. Kuro menghancurkan pulau, menghapus perisai yang dibuat Arisa, menghancurkan God Eraser dan terakhir membawa pertarungan hingga ke luar angkasa. Setelah itu Kuro pergi tanpa meninggalkan apapun.
"Tunggu, lalu kenapa Kuro-kun masih mati? Bukankah God Eraser sudah dimusnahkan?"
Mendengar pertanyaan Charlmilia, Arisa menunduk. Dia mencengkeram lengannya penuh kesedihan.
"Shin memang menghancurkan God Eraser, tapi dia menggunakan cara lain untuk mati."
"Dia mengendalikan kekuatan Arisa dan memanfaatkan momen di mana tubuhnya belum bangkit sepenuhnya untuk mati. Dia sungguh orang yang luar biasa."
Itu lebih sebuah sarkasme daripada pujian.
"Itu tak menjelaskan kenapa Kuro mati." Potong Fila. "Inti dari masalah ini aku rasa bukan bagaimana cara menyelamatkan Kuro, tapi bagaimana cara menghentikan niatnya untuk mati, aku salah?"
Semua memasang ekspresi rumit, tapi setelah mendengar dan mengetahui kebenaran di balik kematian Kuro, tak ada yang membantah Fila. Justru kebalikannya, apa yang dikatakan Fila adalah benar.
"Kau tak salah. Sayangnya, kau lupa satu hal. Bagaimana kita melakukannya?"
"Kau yang memberitahuku, Permaisuri. Berbeda dengan Arisa, Laila dan kau, aku tak begitu banyak memiliki kenangan dengan Kuro."
Percikan muncul di antara Fila dan Riana. Entah mengapa sebuah persaingan kini terjadi di antara mereka.
"Ayah sendiri apakah memiliki sebuah ide?"
"Masih memanggilku ayah dalam situasi seperti ini sungguh membuat perasaanku aneh."
Sei membuat ekspresi rumit. Lalu setelah beberapa saat dia melirik ke arah Laila.
Dan perlahan semuanya juga ikut menatap ke arah Laila.
Tak butuh waktu lama akhirnya Laila mengerti. Semua pembicaraan yang rumit tadi hanyalah sebuah pancingan.
Sejak awal mereka berpikir kalau hanya Laila yang bisa melakukan sesuatu. Tapi dengan kondisi Laila yang tak stabil, maka tak mungkin membuatnya bekerja sama.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Kuro?"
Mendengar itu, Riana menunjukkan senyuman tipis.
"Karena kau sudah mengerti, maka aku akan langsung saja. Di dunia ini, kau hanya satu satunya orang yang bisa mengembalikan Kuro pada kami, pada kita semua."
Charlmilia lalu mengambil sebuah Crystal Age. Dia menunjukkan isinya pada semuanya.
"Ini adalah hasil penelitian Bu Electra dan Paladin Vivian menyangkut tentang semua yang berhubungan dengan King. Di sini tak hanya menyebutkan bagaimana bisa King ada dan akhirnya menghilang, tapi juga menyebutkan bagaimana cara menyelamatkan King."
""!?""
Laila dan Yui yang pertama kali mendengarnya terkejut.
"Dari sekian banyak cara, ada satu cara yang memiliki kemungkinan besar untuk berhasil, tapi gagal karena alasan tertentu." Lanjut Charlmilia.
"Cara itu adalah..."
"....kembali ke masa lalu."
♾♾♾♾
Penyesalan membuat pilihan yang salah merupakan sesuatu yang sering terjadi. Saat itu tak jarang berpikir 'jika aku bisa mengulang semuanya, maka semuanya akan menjadi lebih baik.'
Tapi bagaimana?
Melakukan perjalanan waktu ke masa lalu adalah salah satu jawaban yang tepat. Di dunia sihir yang penuh dengan keajaiban ini, melakukan perjalanan waktu mungkin bisa saja dilakukan, tapi semua tahu itu juga suatu yang mustahil.
Itulah yang muncul di benak Laila saat pertama kali mendengar ide dari Riana dan lainnya.
"Kembali ke masa lalu?"
Riana mengangguk.
"Laila, dengan kekuatanmu kemungkinan besar perjalanan waktu bisa dilakukan. Kau sendiri sadar kalau kau memiliki kekuatan itu kan?"
"..."
Laila tak membantah, tapi juga tak mengiyakan.
Kekuatan untuk memanipulasi waktu sudah pernah gunakan untuk menyelamatkan Lic, tapi itu bukanlah kekuatan yang pantas disebut mengubah masa lalu.
Lalu dalam ingatannya sebagai Aliciana, dia memang memiliki kekuatan itu, tapi kekuatan itu terlalu tak stabil dan membutuhkan pengorbanan.
Demi menyelamatkan Kuro, apakah dia akan menggunakan kekuatan itu?
"Aku tahu apa yang ibu pikirkan, tapi aku akan menghentikan ibu jika tetap bersikeras menggunakannya."
Seseorang memotong pembicaraan itu. Orang itu sosok yang tak terduga.
"Lic... Sejak kapan kau?"
Berbeda dengan sosok Lic yang ceria dan penuh senyum, Lic kali ini mengeluarkan aura dingin dan tajam. Ini adalah tanda kalau dia sedang dalam mode spirit.
"Itu tak penting. Ayah sudah memerintahkanku untuk menghentikan ibu jika melakukan hal bodoh."
"!?"
Tekanan sihir dengan kekuatan luar biasa dikeluarkan Lic. Tak ada satupun yang sanggup bertahan. Mereka semua terdiam menunduk dengan keringat mengalir deras.
"Kuh!! Kau masih sama seperti dulu, tap-!?"
"Jangan membuatku mengulanginya, Aria. Kau yang paling mengerti kekuatanku. Jangan mencoba melakukan sesuatu yang aneh."
Riana akhirnya berhenti untuk menggunakan Holy World. Sihir itu memang bisa menghapus tekanan sihir Lic, tapi itu tak bisa menghentikan Lic.
Sebagian besar di ruangan itu memang memiliki kekuatan setara seorang Master, tapi mereka tak mungkin bisa menang melawan salah satu Spirit of Beginning.
Lic lalu menatap ke arah Laila.
"Ibu, jangan berbuat bodoh. Jika kau bersikeras, itu hanya akan menyia-nyiakan usaha ayah untuk menyelamatkanmu."
"!?"
Laila dibuat terkejut karena tak mengerti.
"Tch!! Sepertinya kau tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam Battle War itu. Cepat beritahu aku, Izriva!!"
"Ini tak lebih dari sebuah janji pada ayah. Kau tak akan mendengar apapun dariku."
Riana tak menunjukkan kekesalannya. Ikut campur Lic adalah suatu yang tak pernah dia duga.
Tetapi ini adalah sebuah petunjuk penting. Mereka semua mengira Kuro mati karena dia ingin mati, tapi kejadian itu ternyata adalah sebuah kamuflase.
"Lic, apa kau tak mau memberitahu pada kami? Aku akan memberimu permen."
"Bagaimana bisa kau berpikir Lic akan mau dengan hanya permen, Charl?"
"Aku hanya mencoba. Itu lebih baik hanya diam saja."
Fila dan Charlmilia membuang muka. Ini masih misteri apakah mereka benar benar akur atau tidak.
"Lic, saat ini kau berdiri sebagai apa? Putriku atau spirit?"
"Keduanya. Sebagai seorang anak aku tak mungkin membiarkanmu menggunakan rencana bodoh hanya untuk mengembalikan ayah. Sebagai seorang spirit, aku tak mungkin membiarkanmu menggunakan kekuatan yang merusak keseimbangan dunia ini. Selain itu kembali ke masa lalu bukan berarti bisa mengembalikan ayah ke dunia ini."
Apa yang dikatakan Lic masuk akal. Kembali ke masa lalu memiliki resiko yang besar dan tak bisa diprediksi.
Tetapi meskipun setelah mendengar semua itu, Laila masih tersenyum dan tenang.
"Lic, katakan alasan yang sebenarnya! Dengan begitu aku akan menurutimu."
__ADS_1
Semuanya dibuat terkejut. Laila tak mungkin menolak satu satunya cara untuk menyelamatkan Kuro.
"Aku tak mengerti apa maksudmu. Semuanya sudah aku katakan."
"Aku tahu, tapi itu tak semuanya. Kau bilang untuk tak menyia-nyiakan usaha Kuro untuk menyelamatkanku. Kau bilang kembali ke masa lalu tak akan mengembalikan Kuro. Lic, aku ulangi. Sebaiknya kau katakan semuanya!!"
Laila tersenyum, tapi itu senyuman yang menakutkan.
Tapi orang lain selain Laila akhirnya mengerti. Semua yang dikatakan Lic tidak masuk akal dan terasa janggal.
Ini bukan hanya tentang resiko kembali ke masa lalu, tapi juga tak ada jaminan untuk mengembalikan Kuro.
"Semuanya sudah aku katakan. Jika kau bersikeras ke masa lalu, aku akan memaksamu berhenti, Magic Seal!!"
Aura menyelimuti Laila dan setelah itu aura menghilang. Kemudian tekanan sihir Laila menghilang sepenuhnya seperti orang biasa.
"Lic, apa yang kau lakukan?"
"Izriva, tampaknya kau benar benar mencari masalah dengan kami."
"Yah... Aku pikir ini lebih baik."
Semua membuat reaksi berbeda, tapi berbeda dengan lainnya. Laila masih saja tersenyum.
"Arisa, apa kau mengerti?"
"Aku benci mengakuinya, tapi kali ini kita memiliki pendapat yang sama."
Untuk pertama kalinya Arisa dan Laila mengerti satu sama lain.
Jika tak memberitahu, maka cukup memanggil orang yang tahu.
"Solaris!!!"
"Yamiris!!!"
Setelah memanggil nama yang tak terduga, pusaran cahaya muncul di langit langit. Cahaya bersinar terang dan tak berapa lama kemudian dua sosok agung yang maha kuasa hadir memenuhi panggilan mereka.
Tapi pusaran cahaya itu tiba tiba lenyap tak tersisa. Dan pada akhirnya dua sosok itu jatuh ke lantai dengan keras seperti orang bodoh.
"Aku tak percaya kau menggunakan Holy World di saat kemunculan kami yang hebat ini!! Aria, kau memang sama sekali tak berubah!!"
Solaris yang memilikinya wujud gadis cantik dengan aura ilahi protes, tapi dia tak melakukan hal lebih.
Berbeda dengan sosok Solaris, sosok Yamiris berwujud gadis cantik dengan semua serba hitam, itu tak mengurangi kecantikan dan aura yang dia miliki.
Lalu dari segi kepribadian, Yamiris lebih terlihat seperti seorang pendiam.
"Solaris, aku tak memanggilmu untuk bercanda."
"Aku memang memberimu hak untuk memanggilku sesekali, tapi tidak dengan cara seperti ini. Seharusnya kau berterima kasih karena aku mau datang."
Untuk Yamiris, dia datang karena dipanggil oleh Arisa yang merupakan True Queen.
"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kuro."
"Aku juga ingin mendapatkan jawaban yang sama, Yamiris."
Yamiris dan Solaris terdiam sesaat seperti berpikir apakah mereka melakukannya atau tidak.
"....maaf, meskipun kami tahu. Kami tak akan memberitahu."
"Apa!!!"
Tak hanya Laila, tapi semuanya juga terkejut dengan jawaban Solaris.
"Aku akui kau dan Arisa memiliki hubungan yang dekat dengan kami, para dewa dewi. Sayangnya, itu bukan berarti membuatmu memiliki hak untuk menerima pengetahuan yang kami miliki. Anggap saja ini sebuah persoalan para dewa."
Laila menggigit bibir bawahnya. Dia tak terima jawaban itu.
"Omong kosong!!! Persoalan para dewa atau tidak, itu tak ada hubungannya dengan Kuro. Cepat beritah-"
"Kau salah, Aria." Potong Solaris. "Kalian semua harusnya tahu betul, Kuro adalah salah satu bagian dari kami, para dewa dewi. Berbeda dengan kalian para manusia, kami memiliki alasan kenapa harus menyembunyikan sesuatu. Terutama sesuatu yang akan merusak keseimbangan dunia."
"Apa kau ingin mengatakan kalau selama ini Kuro menyembunyikan sesuatu adalah karena dia dewa? Jangan bercanda denganku!!!"
Tak tahan dengan semuanya, Riana mengeluarkan tekanan sihir yang luar biasa. Tekanan sihir itu begitu berat dan dingin.
Solaris hanya tersenyum.
"Hanya kali ini saja, aku akan memberitahu satu hal. Dalam Battle War itu, seharusnya ada yang mati. Orang itu bukan Kuro, tapi Laila."
"!?"
"Dia mengetahui hal itu dan memilih untuk mengorbankan nyawanya yang memang sudah di ujung tanduk. Yah.. mungkin baginya adalah sebuah kemenangan besar fufufu.."
Semuanya dibuat terkejut, tapi di saat yang sama senang karena akhirnya memecahkan satu misteri.
"Saranku kalian kembalilah ke kehidupan masing masing. Kepergian Kuro bukanlah hal terburuk yang terjadi pada kalian."
Setelah mengatakan itu, pusaran cahaya kembali muncul.
"Aku melanggar peraturan karena kita memiliki hubungan baik. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat nanti."
Perlahan, Solaris dan Yamiris melayang ke udara.
Laila hanya bisa terdiam melihat satu satunya harapan akan pergi.
Dalam hatinya yang terdalam dia merasa bingung. Apa yang dimaksud dengan jika Kuro tak mati, Laila yang akan mati?
Dia berusaha keras menemukan jawabannya. Dan pada akhirnya, dia menemukannya.
Apa yang menyebabkan Laila mati adalah kekuatannya sendiri. Hal ini sama seperti dulu saat masih menjadi Aliciana.
Dulu Kuro tak bisa melakukan apapun untuk mengubah takdir Aliciana, tapi sekarang dia memiliki kesempatan itu. Solaris benar. Ini adalah kemenangan besar bagi Kuro.
Lalu apakah ini adalah sebuah akhir?
Apakah dia akan menerima kepergian Kuro untuk selamanya?
(Tidak akan!!!)
Dia akan mengembalikan Kuro dan membuat sebuah keluarga bahagia seperti yang mereka impikan.
Apapun jalan yang harus dia tempuh, dia akan tetap melakukannya. Meskipun itu adalah jalan yang penuh dengan duri dan rintangan.
Dan meskipun itu juga jalan yang akan merubah dirinya menjadi suatu yang tak bisa disebut sebagai manusia lagi.
"Solaris, tunggu!!! Aku mohon tolong kami. Sebagai gantinya, aku akan membuat kontrak denganmu!!!"
""""!?""""
Semua dibuat terkejut oleh perkataan Laila.
Laila selama ini bersikeras tak ingin membuat kontrak dengan Solaris, tapi demi mengembalikan Kuro, dia melakukan hal yang tak ingin dia lakukan.
(Ini hanyalah bayaran kecil)
Solaris berhenti dan menunjukkan senyuman senang seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah.
"Benarkah itu?"
Mata Solaris berbinar binar. Laila mengangguk dengan perasaan rumit.
Tetapi senyuman itu langsung menghilang berganti dengan wajah serius.
"Laila, apa kau mengerti keputusan yang kau ambil ini?"
"Aku tak akan menarik perkataanku. Aku akan membuat kontrak secara penuh denganmu. Tentu saja dengan syarat."
"Jika syarat yang kau maksud adalah untuk membantu mengembalikan Kuro, aku akan melakukannya. Tapi semua itu tergantung usaha kalian."
"...Terima kasih."
Mengkonfirmasi tekad dan keinginan Laila, Solaris senang, tapi entah mengapa matanya begitu sedih.
"Untuk upacara pengangkatan sebagai True Queen akan dilakukan jika saatnya tepat. Sekarang bukan saatnya melakukan itu, benarkan?"
"Kau tak menggunakan alasan itu untuk mengulur waktu kan?"
"Aria, sebaiknya kau mulai berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Aku bisa dengan mudah menghapus ingatan masa lalumu hanya karena kesal."
"..."
Riana tak membantah lagi dan akhirnya diam.
"Ibu..."
Sebagai anak, Sei tak begitu mengerti kenapa Riana bersikap menyebalkan, tapi dia ingat kalau ibunya tak seperti ini.
"Yamiris, tidak apa apa kan?"
Yamiris hanya menggelengkan kepalanya dan setelah itu dia menghilang.
"Tch, dia menyerahkan semuanya padaku. Dasar!!!"
Solaris lalu melirik ke arah Lic yang terlihat kesal, tapi dia tak melakukan hal lebih.
"Origin, aku akui usahamu, tapi serahkan ini padaku. Aku berjanji akan mengembalikan Laila secara utuh."
"..."
Lic masih terlihat tak senang, tapi dia akhirnya tak berkata apapun seolah sudah menyerah.
Lagipula sekuat apapun ia ingin menentangnya, dia tak akan bisa menang melawan Solaris. Inilah perbedaan kekuatan antara Spirit of Beginning dan Divine Dragon King.
"Origin, aku juga akan membutuhkan kekuatanmu nanti. Kau jangan pergi dahulu."
"Karena inilah aku membenci kalian para naga. Kalian selalu berbuat seenaknya."
Semuanya senang karena akhirnya Solaris bersedia membantu mereka mengembalikan Kuro.
Tetapi hanya ada satu orang saja yang terlihat tak senang.
"Maaf mengganggu kesenangan kalian, tapi aku tetap menentang semua ini."
Orang itu adalah Fila.
"Fila, apa kau tak ingin Kuro kembali?"
"Ini bukan masalah ingin atau tidak, Charl. Dalam hatiku yang terdalam, aku ingin Kuro kembali. Tapi sama seperti sebelumnya, aku berpikir selama kita tak tahu kenapa Kuro ingin mati, apapun usaha kita akan percuma saja. Solaris aku rasa kau mengerti apa maksudku!"
"Fila, seharusnya kau percaya dengan hatimu, bukan dengan logika."
"Anakku, kau tak perlu memberitahu Fila tentang semuanya. Dia mengatakan semua itu karena itulah yang dikatakan hatinya. Dan jujur saja, aku sebenarnya memilih untuk tak membantu kalian jika Laila tak membuat kontrak."
Penjelasan Solaris membuat semuanya penasaran. Kenapa Kuro ingin sekali mati?
"Solaris, apakah kau tahu alasannya?" Tanya Arisa.
"Yah.. kita masih memiliki waktu. Jadi aku rasa tak ada masalah sedikit bercerita. Mungkin ini akan membuat keputusan kalian lebih matang."
Solaris menatap Arisa dan setelah beberapa saat dia tersenyum.
"Kalian sudah mendengar kisah tentang Arisa dan Kuro, apa yang aku ceritakan adalah kebenaran dari kisah itu dan kelanjutannya."
---
Di dunia tanpa sihir, tapi ada monster yang bisa menggunakan sihir dan menggunakan kekuatan itu untuk menghancurkan manusia.
Tetapi berkat seorang pemuda, bencana itu berhasil dihentikan.
Sayangnya, salah jika berpikir pemuda itu adalah orang yang terpilih. Dia adalah seorang yang menerima taruhan dari seorang iblis.
---Dunia atau orang yang dia cintai?
Tanpa ragu ia memilih orang yang dia cintai.
Pilihan itu membawanya pada sebuah kekuatan pengulangan yang disebut Reset. Setiap kali dia gagal melindungi orang yang dia cintai, dia akan kembali ke masa awal pertemuan mereka.
Inilah awal dari neraka dunia yang akan dialami oleh pemuda itu.
Karena dia manusia biasa, dia tak mungkin mengalahkan monster dengan kekuatan tak wajar.
Dia gagal, lagi, lagi, lagi.. lagi.. dan lagi. Dia sudah tak menghitung seberapa banyak dia gagal. Bersamaan dengan kegagalannya itu dia meliat orang yang dia cintai mati, mati mati, mati, mati lagi dengan cara yang berbeda.
Mengalami kejadian semua itu, tak aneh jika hati dan pikiran pemuda itu akhirnya rusak. Tetapi rusak atau tidak, Reset membawanya kembali menuju saat pertemuan mereka untuk pertama kalinya.
Dia ingin berhenti, tapi dia tak bisa.
Dia ingin menyelamatkan gadis itu, tapi dia tak bisa.
Tak butuh waktu lama hingga dia mengerti. Untuk keluar dari neraka ini, hanya ada satu cara. Menyelamatkan gadis yang dia cintai dan menyelamatkan dunia.
Tapi dia tahu itu hanyalah sebuah ilusi. Mana mungkin manusia bisa menang dari mereka?
Lalu setelah pengulangan yang tak terhitung dan waktu yang sudah tak tahu kapan berlalu, sebuah perubahan terjadi. Itulah awal dari benih harapan kecil yang mulai tumbuh membesar.
Harapan itulah yang pada akhirnya membuatnya bisa melihat kebenaran dunia.
"Kebangkitan Eyes of Origin adalah sebuah hasil yang tak diduga oleh siapapun. Bahkan untuk para dewa, kejadian itu adalah sesuatu yang tak mungkin terjadi."
Semua yang mendengar kisah Kuro terlihat sedih dan pilu. Mereka tak bisa menyangka kebenaran di balik kisah Arisa dan Kuro menyimpan sebuah kepedihan mendalam.
Jika dihitung, berapa tahun Kuro menjalani semuanya? Dan seberapa lama dia hidup?
Sedikit demi sedikit, mereka akhirnya mulai mengerti kenapa Kuro ingin mati.
Sayangnya, itu baru awal.
Solaris melanjutkan.
"Dalam pertarungan terakhir, Kuro akhirnya berhasil menyelamatkan Arisa dan mengalahkan Demon King Solomon, tapi kekuatan Kuro yang terlalu besar tak diterima di dunia itu. Dan pada akhirnya, Kuro dipaksa keluar. Kemana? Tentu ke dunia lain."
""""!?""""
Perjalanan Kuro akhirnya dimulai kembali. Di dunia baru itu, eksistensi sihir memang ada, tapi tak ada makhluk yang benar benar bisa menggunakannya.
Menjelajahi dunia lebih dari 10 tahun, dia akhirnya menemukan sebuah peradaban. Peradaban itu sederhana dan masih begitu kuno.
Saat itu Kuro berpikir untuk membangun peradaban yang lebih baik dengan pengetahuan yang dia miliki. Bersamaan dengan itu dia akan membangun kekuatan untuk menjelajahi berbagai dunia.
Bagaimanapun juga dia sudah berjanji.
1000 tahun berlalu sejak kedatangannya ke dunia itu. Dia menjadi sosok yang tak tergantikan dan akhirnya dianggap sebagai dewa.
Dewa mungkin sebutan yang cocok untuk dirinya. Dia sudah tak terikat oleh aturan waktu lagi.
Kemudian, setelah 10.000 tahun, dia akhirnya berhasil mendapatkan kekuatan untuk melintasi antar dunia, sebuah simbol kekuatan dewa yang disebut sebagai Authority, Space.
Dia akhirnya meninggalkan dunia itu dan pergi ke dunia lain. Mengulangi proses yang hampir sama dengan dunia sebelumnya. Tentu saja dia tak selalu menjadi dewa. Dia juga mendapatkan julukan pahlawan, Sage, dan bahkan Demon King.
Bersamaan dengan waktu dan dunia yang dia jelajahi, kekuatannya semakin bertambah dan dia semakin kuat. Dia menjadi eksistensi yang melebihi para dewa dan akhirnya memiliki kedudukan tinggi dalam tingkatan para dewa.
Inilah awal kelahiran dari sosok yang disebut sebagai King.
__ADS_1
"Jika melihat sejarah, kemunculan King di dunia ini yang pertama kali adalah 400 tahun yang lalu, tapi dia sebenarnya sudah berada di dunia ini sejak 1000 tahun yang lalu. Aku pikir semua ini cukup menjelaskan kenapa dia ingin mati."
Semuanya dibuat bungkam dengan cerita yang berisi tentang perjalanan Kuro. Cerita itu terlalu berat dan berada di luar imajinasi mereka semua.
Mereka berpikir bagaimana bisa Kuro melalui semua itu?
Tidak. Karena Kuro berhasil melalui semua itulah dia pantas disebut sebagai King.
"...jadi Kuro ingin mati karena merasa terlalu lama hidup?"
"Entahlah. Bagi para dewa, umur bukanlah suatu yang penting. Hanya saja, sebagai seorang mantan manusia, dia pasti merasa semuanya sudah cukup. Lagipula dia sudah memenuhi janjinya pada Arisa."
Jangan samakan nilai para naga dengan nilai para manusia. Inilah apa yang ingin disampaikan Solaris.
"Dengan mengetahui semua ini, apakah kalian masih berpikir untuk mengembalikan Kuro? Saat dia kembali, mungkin dia akan hidup lebih lama dari dunia ini sendiri."
Mereka tak bisa menjawab. Jawaban pertanyaan itu terlalu berat untuk mereka emban.
Mereka ingin bahagia dengan hidup bersama dengan Kuro, tapi setelah tahu apa saja yang Kuro alami, mengembalikan Kuro hanyalah keegoisan semata.
Fila mungkin sudah menyadari hal ini, karena itulah dia yang paling menentang.
"Solaris, kau tak perlu menanyakan itu lagi."
Dari semuanya hanya Laila yang masih tegar dan tak terpengaruh.
"Jawaban pertanyaan itu aku akan mendengar dari mulut Kuro sendiri saat dia kembali."
Tekad Laila untuk tak peduli dengan masa lalu menyebar ke semuanya. Mereka sadar masa lalu Kuro hanyalah masa lalu yang sudah lama berlalu.
Kesedihan, kepedihan, keputus asaan, kemarahan dan semua penderitaan yang Kuro alami akan mereka ganti dengan kebahagiaan.
"Aku juga ingin mendengarnya dari Kuro secara langsung."
"Aku lebih senang jika Kak Kuro berada di sini. Dunia tanpa dirinya tak begitu menarik."
"Aku belum membalas perbuatan Ayah, jadi lebih baik kalau dia kembali."
"Ada masalah yang harus aku selesaikan dengan Shin."
"Aku akan menerima hasil apapun. Kuro-kun kembali atau tidak, aku akan tetap melangkah ke masa depan."
Semuanya memberikan alasan yang berbeda, tapi satu hal yang sama. Mereka menginginkan Kuro kembali.
"Aria, bagaimana denganmu?"
Satu satunya yang belum memberikan alasan hanyalah Riana. Dia yang awalnya berniat sekali mengembalikan Kuro justru tak begitu bersemangat setelah tahu Kuro kemungkinan bisa kembali.
Solaris tak bertanya pendapat Lic karena dia sudah tahu jawabannya.
"....aku..."
Solaris mendesah kecil dan tiba tiba memeluk Riana.
"Sama seperti Kuro, kau mengalami banyak hal. Kau seharusnya senang karena bisa mengulang semuanya jika Kuro kembali."
Riana hanya menunduk bersandarkan dada Solaris. Air mata menetes sebagai tanda kesedihan, tapi di saat yang sama juga kebahagiaan.
"Kalau begitu, untuk apa lagi kita menunggu. Mari kita menjemput pembuat onar itu."
♾♾♾♾
Lokasi lalu berpindah ke istana kaisar. Lebih tepatnya berada di ruang bawah tanah.
Ruangan itu menyerupai sebuah aula besar yang kosong. Lantai dan dinding terbuat dari batu berwarna hitam yang memiliki corak aneh dan mengeluarkan aura sihir.
"Aku tak menyangka ruangan ini masih sama seperti dulu."
"Aku menjaga ruangan ini agar tetap sama seperti saat ibu meninggalkannya. Bagaimanapun juga ruangan ini penting bagi ibu."
Riana begitu senang dan terlihat bernostalgia saat melihat isi ruangan.
"Aku sama sekali tak mengerti apa yang spesial dari ruangan ini." Ucap Yui.
"Ruangan ini terbuat dari batu misterius yang ditemukan si sebuah kedalaman tanah tertentu. Batu batu ini memiliki kekuatan untuk memperbesar kapasitas sihir. Berlatih di ruangan ini bisa membuatmu menjadi Master hanya dalam beberapa bulan saja."
Yui dan lainnya terkejut karena tak menyangka ruangan seperti itu benar benar ada.
Mereka berpikir untuk apa berlatih jika bisa menjadi Master hanya dalam beberapa bulan?
"Jangan terpengaruh godaan. Kekuatan batu misterius bisa meningkatkan sihir, tapi itu bagaikan menggunakan sebuah obat. Terlalu banyak menggunakan obat hanya akan menjadi racun. Kalian harus tahu, salah satu penyebab kematianku adalah kekuatan batu misterius ini."
Mendengar penjelasan Riana, mereka menjadi pucat pasi.
"Kalau begitu, bukankah berbahaya menggunakan kekuatan sihir di ruangan ini?"
"Tidak masalah. Untuk mengurangi dampak negatif ruangan ini, Lic dan Solaris akan melakukan sesuatu, benarkan?"
"Aku bisa saja menghapus seluruh efek negatif, tapi itu terlalu berlebihan. Kita tak butuh itu sekarang."
Laila kemudian tiba. Dia sudah terlihat lebih baik setelah makan dan meminum ramuan sihir pemulihan. Pengaruh ramuan hanya untuk mengembalikan stamina saja karena tak ada masalah selain itu.
Sihir yang ada Laila juga sudah dihilangkan. Kini Laila bisa dikatakan sudah kembali seperti biasa.
"Solaris, kau belum memberitahu kami bagaimana cara mengembalikan Kuro."
"Aku tahu kenapa kau terburu buru. Hanya saja kau salah jika berpikir kita akan kembali ke masa lalu."
"Apakah itu karena efek buruk padaku dan terlalu beresiko?"
Solaris menggelengkan kepalanya.
"Meskipun kembali ke masa lalu adalah salah satu jalan terbaik, tapi itu bukan jalan yang tepat. Distorsi akibat eksistensi King membuat aliran waktu dan takdir menjadi berantakan. Jika kau kembali ke masa lalu, kau akan tersesat di antara celah aliran waktu dan tak bisa kembali lagi."
Yang mendengar penjelasan itu pucat pasi dan bersyukur karena tak menggunakan ide bodoh itu. Sekarang masuk akal kenapa Lic menyebut Laila melakukan tindakan bodoh. Dia sudah tahu sejak awal.
"Lalu dengan cara apa?"
Solaris tersenyum. Dia menaruh telunjuk jarinya di kening Laila.
"Berpikirlah dan ingatlah. Kehidupan masa lalu dan kehidupanmu yang sekarang. ....Kau sudah tahu jawabannya."
"..."
Laila tak mengerti.
Tetapi tak mungkin Solaris tak mengatakan semua itu tanpa alasan. Jadi jawaban yang dia cari ada pada dirinya. Hanya saja dia tak menyadari hal itu.
Dia mulai berpikir dan mengingat kembali kehidupannya sebagai Aliciana. Seorang putri kerajaan yang memiliki kekuatan memanipulasi waktu. Karena kekuatan ini dia diincar banyak musuh dan menjadi incaran banyak orang. Berkat pertemuannya dengan Kuro, dia bisa mengubah takdirnya dan berhasil membalas dendam.
Meskipun dia tak mendapatkan kehidupan yang benar benar bahagia, tapi dia mendapatkan kebahagiaan dari orang tercinta, Kuro. Walaupun hanya sesaat.
Jika dibandingkan dengan kehidupannya sekarang, tak ada yang jauh berbeda. Hanya saja kali ini dia memiliki keluarga utuh dan dia tak kehilangan satupun orang yang berharga.
Dari segi kekuatan saat ini bisa menggunakan kekuatan yang lebih besar dan kuat. Sayangnya, itu bukanlah jalan yang membawanya pada Kuro.
Lalu apa?
Dia mencoba menggali lebih dalam. Dalam ingatannya antara dua kehidupan.
"!?"
Akhirnya dia menemukannya.
"Sepertinya kau sudah mengerti apa yang harus kau lakukan."
"Iya."
"Hey... Jangan jadi rahasia kalian saja. Cepat beritahu kami cara membawa Kuro tanpa harus kembali ke masa lalu."
Charlmilia tak sabar.
"Ini tak sesulit yang kalian pikirkan. Charlmilia, kau ingat penelitian Diana tentang ingatan Alice, ingatanku yang tersebar ke seluruh dunia dari masa ke masa?"
Charlmilia mengangguk.
"Sekarang aku ingat kenapa aku menggunakan sihir Eternal Dream. Sihir itu sebenarnya adalah untuk memicu ingatan masa lalu di kehidupanku yang sekarang."
Benar. Alasan kenapa Laila bisa mengingat kehidupan masa lalunya sebagai Aliciana bukanlah sebuah kehendak dari takdir atau sebuah keberuntungan dan kebetulan semata.
Dengan sihir yang Aliciana gunakan sebelum mati, dia memastikan untuk dirinya di masa depan mengetahui sosok Kuro, orang yang dia cintai.
"Kita akan memanfaatkan sihir itu untuk mengirim balik ingatanku di masa sekarang ke masa lalu. Dengan begitu, aku di masa lalu bisa menghentikan Kuro."
"Apakah itu bisa dilakukan?" Tanya Yui.
"Secara teori itu bisa saja. Meskipun itu tak bisa dilakukan, aku yakin Solaris bisa melengkapi apa yang kurang." Jelas Riana. "Lalu jika mengingat aliran waktu, maka hanya pada kesempatan itu saja kita bisa mengubah keinginan Kuro untuk mati."
Riana ingat bagaimana pertemuannya dengan Kuro kehidupan yang mereka jalani bersama. Dia masih ingat jelas sejak itu Kuro sudah berkeinginan untuk mati.
Bahkan alasan Kuro membeli Riana dulu hanyalah untuk menciptakan seorang pembunuh dewa terkuat.
"Baiklah, karena semua sudah mengerti, maka kita mulai saja ritual sihirnya."
Tanpa banyak waktu lagi, Solaris mulai menggambar lingkaran sihir dengan darahnya.
Laila dan lainnya dibuat takjud dengan energi sihir yang terasa di setiap tetes darah yang keluar dari ujung jari Solaris.
Bagi Solaris sendiri ini bukanlah hal yang spesial. Bagaimanapun juga dia adalah salah satu dari dewa naga terkuat. Jika darahnya tak mengandung sihir, itu hanya akan merendahkannya.
Lalu setelah 40 menit berlalu, lingkaran sihir dengan luas 100 meter akhirnya siap. Tak ada yang tahu dan mengerti tentang formasi sihir yang begitu rumit dan kuno itu.
"Riana dan Sei bisa kembali. Kalian mengerti alasannya kan?"
Keduanya tak membalas. Mereka hanya mengangguk dan mulai meninggalkan tempat itu.
Tetapi Riana berhenti dan tiba tiba kembali memeluk Laila.
"Laila, ada banyak hal yang ingin aku katakan."
"Aku tahu. Memang ada banyak hal yang perlu kita bicarakan."
Tentang kehidupan masa lalu mereka. Tentang kehidupan mereka sekarang. Tentang Kuro. Dan masih banyak lagi.
"Kita akan bicara sebagai keluarga. Dan tentu saja saat Kuro bersama kita lagi."
".....terima kasih."
Setelah itu Riana dan Sei benar benar pergi. Yang tersisa dari ruangan itu hanyalah Charlmilia, Fila, Yui dan Lic.
"Apa kami juga harus pergi?" Tanya Yui.
"Tidak. Kalian bisa menunggu jika mau, tapi aku juga tak memaksa kalian tinggal. Untukmu, Origin. Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan."
"Tentu saja."
"Laila, mari kita mulai."
Laila, Solaris dan Lic pergi menuju lingkaran sihir. Setelah itu Laila berbaring di pusatnya.
"Laila, untuk sekarang lupakan perasaanmu sebagai ibu untuk sementara."
"Apa maksudmu?"
Tanpa menjawab, Lic menjadi partikel dan menghilang masuk ke dalam tubuh Laila.
Pada saat itu dia mengerti. Pada momen ini Lic tak menjadi seorang anak, tapi menjadi spirit yang dia kontrak.
Laila marah pada dirinya sendiri karena berada dalam situasi ini, tapi dia mengerti Lic juga ingin membantu.
"Kita tak akan tahu seberapa lama ritual sihir ini berjalan. Origin (Lic) akan menjaga dirimu tetap stabil dan menjaga anak dalam kandunganmu baik baik saja."
Dengan penjelasan seperti itu, mana mungkin Laila bisa marah lagi.
Dia kembali diingatkan kalau saat ini tubuhnya tak hanya mengemban satu nyawa.
"Kalau begitu, mari kita mulai."
Solaris kembali menyayat ujung jarinya dan meneteskan darahnya ke mulut Laila. Dan setelah Laila menelan darah Solaris, lingkaran sihir mulai bereaksi.
Cahaya memancar semakin terang bersamaan dengan energi sihir yang meluap. Cahaya itu menembus langit dan menciptakan pilar cahaya tepat menuju ke arah matahari.
♾♾♾♾
Tak tahu kapan waktu berlalu, Laila membuka matanya. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya.
Setelah beberapa saat padangannya akhirnya terlihat semakin jelas. Yang pertama kali dia lihat adalah atap yang tak dia kenal.
Tidak. Daripada tak dia kenal, atap itu hanya terasa sedikit terlupakan.
(Apakah ritual sihir itu berhasil?)
Jika berhasil, di mana Kuro?
Dia ingin bertanya pada orang sekitarnya, tapi dia sadar kalau tak berada di tempat sebelumnya. Kini dia berada di tempat tidur yang tak begitu nyaman dan mewah.
(Apakah masa depan berubah?)
Kemungkinan itu ada, tapi dia tak ingin itu terjadi. Jika masa depan berubah, belum tentu Riku dan Lic menjadi anaknya.
Untuk sekarang dia mencoba tetap tenang dan berpikir positif. Belum tentu masa depan berubah.
Pertama yang dia lakukan adalah memastikan semuanya baik baik saja. Apa saja yang berubah dan yang paling penting apakah Kuro kembali.
"Hm?"
Tapi sebelum itu, dia menyadari sesuatu yang aneh.
Seingat dia, rambutnya sudah dia potong. Jadi tak sepanjang sekarang. Warnanya juga berbeda. Rambut aslinya berwana pirang dengan tambahan warna biru, tapi rambutnya sekarang biru seluruhnya.
Lalu untuk ukuran dada, dia yakin sekali dadanya terasa lebih ringan dan kecil.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Saat dibingungkan oleh situasi yang terjadi sekarang, kamar pintu terbuka dan seseorang masuk.
Seorang pemuda dengan rambut perak putih dan memiliki warna mata yang sama. Dia tak begitu tampan, tapi dia juga tak terlihat jelek.
Laila ingin sekali berteriak karena tak menyangka Kuro benar benar kembali, tapi ada sesuatu yang membuatnya diam.
Itu adalah apron pink yang dikenakan Kuro.
"Alice, sarapan sudah siap. Sampai kapan kau mau tidur?"
".....eh?"
Alice?
Pada saat inilah akhirnya dia sadar. Ritual sihir yang dia lakukan tak mengirim ingatannya pada Alice di masa lalu. Entah mengapa, ritual itu mengirim kepribadiannya ke masa lalu dan mengambil alih kepribadian Aliciana.
---Solaris, apa yang kau rencanakan?
Satu hal yang pasti, dia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Baiklah. Aku rasa tahu sarapan yang aku makan pagi ini💕💕💕"
__ADS_1
"....Alice, apa kau belum puas semalam?"