
Sementara Yui dan yang lainnya sedang beristirahat di desa, Kuro, Laila dan ayah Kuro, Roka berjalan di tengah hutan.
Pedang Kuro, Lic saat ini dibawa Laila dengan kedua tangannya. Meskipun hanya 10 kg, Lic masih 10 kali lebih berat dari magic arm miliknya, Scarflare.
Meskipun siang hari, namun hutan Rukia seperti sudah malam. Gelap gulita, tapi tanpa bintang. Bagi orang yang tak terbiasa seperti Laila, dia pasti akan tersesat dalam hitungan detik, tapi tampaknya itu tak berlaku kepada Roka.
Roka terus berjalan tanpa ragu menembus lebatnya hutan seolah itu taman bermainnya.
"Ayah bisakah kau tak mempermalukan putramu di depan calon istrinya?"
Kuro mengeluh karena saat ini dia digendong Roka seperti karung beras.
Ini memalukan. Sangat memalukan, tapi Kuro harus menahannya karena dia tak punya pilihan lain.
Dia sudah sering menerima pukulan ayahnya. Dia bisa bertahan atau bahkan tak terluka sama sekali.
Tapi itu jika dalam keadaan normal.
Roka memukul dengan kekuatan penuh tanpa tahu kalau Kuro masih terpengaruh efek samping Cursed Blade Art.
Luka Kuro tak terlalu parah, tapi dia benar benar tak bisa banyak bergerak.
"Diam! Itu salahmu, Bodoh. Aku tahu kau populer di antara para gadis, tapi apa kau tak memikirkan saat anakmu tiba tiba pulang membawa calon istri? Ahhh... 'Putramu telah memperkosa seorang gadis dan sekarang dia harus bertanggung jawab.' Apa kau ingin aku terkena serangan jantung?"
"Aku lebih penasaran kenapa Ayah langsung berpikir memperkosa Laila? Dasar Ayah bodoh."
"Siapa yang langsung tak berpikir seperti itu saat tahu anakmu seorang super playboy yang merayu gadis polos kemanapun dia pergi. Aku tahu hal ini terjadi cepat atau lambat, tapi ini benar benar membuatku syok. Maria, lihat perbuatan anakmu ini...."
Roka menatap langit seperti berdoa kepada seseorang di surga.
Maria adalah nama ibu Kuro dan istri Roka yang tewas karena insiden 6 tahun yang lalu.
Laila tak tahu, tapi dia bisa menebak dari ekspresi Roka.
"Jangan bawa ibu dalam masalah ini. Ibu pasti senang karena akan memiliki menantu yang cantik meskipun cemburuan."
"Kuro, ....apa maksudmu?"
Laila yang terdiam sejak tadi, akhirnya menyambung pembicaraan antara ayah dan anak.
"Dia benar benar mengingatkanku pada Maria."
"Aku juga berpikiran sama, Ayah."
"Mirip?"
Roka dan Kuro mengangguk bersamaan dengan kompak.
Meskipun bukan tak terikat darah, namun mereka memiliki ikatan yang kuat.
"Mirip bagian apa?"
Laila bertanya dengan wajah memerah. Meskipun sekarang tak terlihat karena gelap.
"Mungkin kau tak tahu, Ibuku baik seperti malaikat, tapi saat marah dia akan langsung berubah menjadi iblis."
"Yup. Aku benar benar ingat saat ketahuan menggoda wanita lain."
"...apa?"
Laila tak menyangka akan memiliki kemiripan yang tak terduga.
Satu hal yang dia tahu, kemiripan mereka bukanlah hal yang positif.
"Sudahlah, itu cerita lama. Hanya kenangan saja dan menjadi masa lalu, tapi inilah alasanku tak mencari istri lagi."
"Aku tak tahu Ayah punya keinginan mencari istri lagi setelah ibu meninggal."
"Jangan beritahu Yui. Dia akan mengulitiku hidup hidup."
"Yup. Kurasa Yui akan tanpa ragu melakukannya. Dia memang lebih menyeramkan daripada ibu."
"..."
Mereka benar benar ayah dan anak.
"Ngomong ngomong, apakah Ayah tahu tentang organisasi yang mengacau akhir akhir ini?"
"...entahlah. Aku kurang tahu, tapi kudengar mereka adalah gabungan organisasi atau kelompok yang ingin membangkitkan Demon King, ...mungkin. Tujuan mereka masih misteri. Aku juga mendengar tak hanya Dragonia saja yang diserang oleh kelompok itu. Tapi hampir semua tempat yang memiliki petunjuk tentang Demon King mereka akan menyerangnya. ...aku sungguh tak mengerti apa mau mereka."
"Um.. Paman tahu banyak tentang itu."
Laila sedikit keheranan karena Roka tinggal di hutan Rukia, tetapi tahu banyak informasi.
Seharusnya infomasi semacam itu tak terdengar di hutan yang paling berbahaya di dunia karena tempat itu terpencil.
"Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Ayah atau Roka. Kau adalah calon istri Kuro, jadi tak perlu sungkan."
"Ba-Baiklah, Ayah."
"Ayah benar benar lunak jika berurusan dengan seorang gadis."
"Diam, Bodoh! Aku tahu karena kami sering mengawal orang yang ingin melewati hutan ini. Kau tahu hutan ini sering dilewati oleh pedagang yang berkeliling dunia, dari merekalah kami mendengar informasi itu."
"Tampaknya organisasi itu benar benar akan membuat masalah jika tak segera dihentikan. Yahhh... asal tak mengganggu kita, kita tak akan mengganggu mereka."
Kuro seolah olah mengatakan walau dunia hancur atau Demon King dibangkitkan, dia tak peduli asal klan Blad aman. Itu memang seperti Kuro,-
Tapi apa itu mungkin?
"Oh iya, aku lupa menanyakan hal penting. Laila, siapa orang tuamu? Mungkinkah orang terkenal?"
"Kenapa Ayah menanyakan itu?" tanya Laila.
"Yah... kuharap pembuat onar ini memilih calon istri dari keluarga yang tak merepotkan seperti putri kerajaan atau semacamnya."
"Kurasa itu sudah terlambat. Laila adalah putri Paladin terkuat di Kekaisaran. Aku pintar memilih calon istri, benarkan?"
"..........."
Roka terdiam. Wajahnya juga pucat pasi.
"Ayah?"
"Biarkan aku menenangkan pikiranku. Aku tak tahu harus bersyukur atau harus bersiap menggali lubang kuburan."
Roka benar benar syok.
Roka tahu betul Kuro selalu merayu gadis. Itu bukan masalah karena Kuro sudah di usia menikah, tapi yang menjadi masalah adalah gadis yang dirayu Kuro selalu dari kalangan atas.
Bangsawan, orang kaya, putri kerajaan. Dia tahu Kuro pernah merayu mereka, tapi putri orang paling berbahaya di dunia benar benar membuat Roka terkejut.
(Jangan bercanda. Aku akan mempunyai menantu dari orang itu? Mata keranjang itu?)
"Aku tak percaya ini..."
Roka tiba tiba berkata dengan wajah suram.
"Bagaimana pendapatmu?"
"Apa kau akan benar benar menikahi Laila?"
"Ya. Aku harus bertanggung jawab. Bukankah itu yang selalu kau ajarkan kepadaku?"
"Aku menyesal mengajarimu."
"Hoy... Apa apaan itu? Kenapa Ayah tiba tiba berubah?"
"Aku tak keberatan kau menikah dengan Laila, tapi aku tak menyangka akan menjalin hubungan dengan orang itu."
Kuro dan Laila akhirnya menyadari sesuatu. Suatu yang penting.
"Ayah kenal dengan Ayahku?"
"Ya. Kami pernah bertarung dan aku kalah."
"Itu kabar yang membuat anakmu, aku langsung kecewa dan berpikir 'Ayahku ternyata tak berguna'."
"Guh... jangan bercanda. Siapa yang akan menang melawan monster seperti dia?"
"Ayah, apa kau tahu? Putri yang kau panggil seorang 'monster' ada di sampingmu?"
"Ah...maaf, Laila. Aku tak bermaksud seperti itu."
Tapi Laila hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa apa, Ayah. Aku sudah terbiasa. Lagipula dia (Kuro) juga dipanggil monster di sekolah."
"Hidupmu pasti berat... Kuharap kau bisa tabah menghadapi cobaan dari Tuhan."
"Kenapa kalian seolah olah mengatakan aku adalah iblis? Atau hanya perasaanku saja?"
"Kau iblis perayu wanita."
"Guhh.."
Jawaban Laila benar benar menusuk Kuro
Kuro sadar tampaknya Laila sedang tidak senang. Tapi kenapa?
"Ah... kita sampai..."
Mereka bertiga sampai di bagian hutan yang sedikit terbuka. Cahaya bisa tembus ke tanah dan pepohonan masih tak terlalu tinggi seperti baru tumbuh.
Tapi semua tanah sudah berlumut menjadi warna hijau kecoklatan. Dibalik lelumutan dan akar, tampak bekas bangunan bisa terlihat, tapi jika tak memperhatikan dengan hati hati, maka bangunan itu tak akan terlihat.
Tapi ada yang lebih membuat Laila tertarik dan sekaligus terkejut. Ada puluhan batu nisan yang tak ditumbuhi lumut atau bahkan rumput sedikitpun.
Di semua makam itu, terdapat bunga yang sekarang sudah layu dan membusuk kecoklatan, tapi ada beberapa yang segar dan masih baru.
Laila tahu dari jumlah batu nisan, tempat ini adalah makam korban insiden 6 tahun yang lalu.
Roka menuju salah satu makam dan menurunkan Kuro dari pundaknya.
"Maria, aku datang membawa Kuro dan calon menantu kita. Kuharap kau senang dan bisa tenang di surga. Kuro..."
" Aku tahu. Terima kasih sudah mengantar kami."
"Ini sudah kewajibanku sebagai orang tua. Meskipun kau benar benar membuatku hampir terkena serangan jantung dua kali."
"Sebagai tambahan, aku sudah memberi tahu Ayah Laila kalau aku segera melamarnya, jadi siapkan mental Ayah."
".........huh?"
Setelah hampir mendapat serangan jantung 3 kali, Roka pergi meninggalkan Kuro dan Laila.
Kuro jongkok di depan makam Maria.
Tak ada nama di batu nisan, tampaknya hal itu disengaja.
Laila ikut jongkok di depan makam Maria setelah meletakkan Lic di tanah.
Tangan Kuro dan Laila menyatu lalu mulai memejamkan mata untuk mendoakan arwah Maria.
Setelah beberapa saat, mata Kuro terbuka sebagai tanda selesai berdoa. Sedangkan Laila selesai beberapa saat setelah Kuro.
"Ibu, .....aku datang untuk memperkenalkan Laila kepadamu. Seperti yang ayah bilang, dia adalah calon menantumu. Aku harap ibu merestui dan mendoakan hubungan kami."
"Namaku Laila. Kekasih anakmu, Kuro. Anda pasti kawatir dengan sifat buruk Kuro, tapi jangan kawatir, aku akan mengawasinya."
"Jangan beritahu ibuku tentang hal itu, apa kau mau merusak imej baikku?"
"Tidak. Aku yakin Yui atau Ayah sudah memberi tahu Ibu."
Laila benar. Kuro tak tahu apa yang disampaikan Roka atau Yui selama dia tak ada di desa.
"Kuro, seperti apa Ibu?"
Kuro terdiam sesaat seperti mengingat sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Laila.
"Ibu adalah seorang yang baik. Sudah kubilang dia seperti malaikat, tapi akan berubah menjadi iblis jika marah. Seperti itulah Ibu."
"..........."
"Tapi satu hal yang paling kuingat dari Ibu adalah kehangatannya yang mampu melelehkan hati seorang bocah yang sudah membeku dan mati. Meskipun aku tak memiliki hubungan darah dengan Ayah dan Ibu atau Yui, tapi aku bisa bilang mereka adalah keluarga terbaik yang pernah kumiliki."
"............"
"Itulah alasan kenapa aku tak ragu untuk mempertaruhkan nyawaku demi mereka atau dirimu yang memberikan kehangatan dalam hidupku. Yah.... meskipun aku tak menyangka kau mau menjadi istriku."
"Aku tak tahu harus senang atau sedih mendengar itu, tapi kau juga sadar resiko jika menerimaku kan?"
Selama ini ada hal yang mengganggu Laila. Kenapa Kuro mau menjadi kekasih bahkan calon suaminya?
Laila adalah putri Paladin terkuat, orang pasti akan langsung takut berteman atau bahkan menjalin hubungan dengan Laila.
Tapi Kuro berbeda. Tak ada ragu atau takut. Dia seolah tak memikirkan sebab dan akibat jika melakukan hubungan terlarang dengan Laila.
Tapi Laila tahu, Kuro pasti sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik.
"Apa yang kau pikirkan? Aku memilihmu karena aku mencintaimu. Sama seperti ayahmu memilih ibumu. Tak ada perbedaan. Sebelum Ayahmu menjadi Paladin terkuat, dia adalah seorang manusia. Hal ini juga berlaku kepada semua orang termasuk raja. Itulah alasan aku tak perlu takut atau ragu meskipun Ayahmu seorang Paladin atau bahkan seorang Demon King."
"Jangan memanggil Ayahku Demon King jeeezz..."
"Tapi kau sekarang tahu alasan aku tak takut kepada Ayahmu atau nenek itu kan?"
"Yeahhh.. dan itu membuatku takut."
Meskipun alasan Kuro masuk akal, namun butuh keberanian yang besar untuk melakukan itu.
Dan itu kadang membuat Kuro seperti tak menganggap nyawanya berharga atau tak takut mati.
".....Kuro, apakah kau tak pernah rindu kepada Ibumu?"
"Tentu sa-"
Laila langsung menggelengkan kepalanya.
"Yang kumaksud adalah ibu kandungmu. Jika Ibu(Maria) masih hidup, kurasa dia akan menanyakan hal yang sama."
"..........."
Kuro tak menjawab dan hanya tersenyum kecil.
"Aku beri tahu satu rahasia kecil, 'tak ada anak yang tak rindu kepada orang tua mereka', tapi aku tak mungkin betemu dengan orang tua kandungku karena mereka ada di dunia lain."
"........eh?"
Apakah yang Kuro maksud orang tua kandungnya sudah meninggal sama seperti Maria?
(Tapi aku merasa perkataan Kuro mempunyai arti yang berbeda?)
....atau hanya perasaan Laila saja?
"Ngomong ngomong, berapa banyak waktu yang tersisa?"
"Kenapa kau bertanya? Kau pasti sudah tahu kita baru beristi-"
Laila berhenti karena sadar bukan waktu yang menjadi permasalahan mereka.
Dugaan Laila diperkuat setelah melihat senyuman tipis Kuro yang bagai iblis. Iblis mesum.
"Bisakah kita tak melakukannya disini?"
-------------------
------
---
Satu jam kemudian, Kuro dan Laila masuk ke dalam desa klan Blad. Seperti Charlmilia, Laila juga takjub dan sekaligus kagum saat melihat desa klan Blad yang berada dalam sebuah gua.
Tentu dia juga terkejut saat melihat naga biru sebesar 25 meter sedang berdiri dan meliriknya.
"Jangan bilang, naga ini juga milikmu?"
"Tidak. Emera adalah naga Yui. Tepatnya naga ini memilih Yui."
Mereka berdua sedang berada di dekat Emera. Laila bahkan mengelus kepala Emera dengan lembut.
"Jadi legenda itu benar. Dragon King Class adalah naga yang memilih sendiri penunggang mereka."
"Ya. Emera datang ke desa ini melalui sungai yang berada di bawah tanah dan menemui Yui. Sekarang Emera menjadi penjaga desa dari penyusup."
"heeeh...."
"Sudahlah, sebaiknya kita cari yang lain. Kurasa saat ini mereka ada di rumahku."
__ADS_1
Laila mengangguk.
Mereka berdua lalu berjalan menuju salah satu rumah yang cukup besar yang berada di tengah desa.
Di perjalanan, Laila menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak saat pertama kali masuk ke desa.
"Desa ini terlalu sepi, kemana semua orang?"
"Ayahku dan lelaki dewasa lainnya kurasa sedang membeli persediaan makanan di kota terdekat. Sedangkan ibu ibu di desa ini kurasa sedang melihat anak mereka berlatih di tempat latihan."
".. desa ini benar benar santai. Ini sangat berbeda dengan apa yang kubayangkan."
"Mau bagaimana lagi, jika kau ingin pergi ke permukaan, kau akan diserang monster. Karena itulah agar tidak bosan, seluruh penduduk biasanya akan pergi ke gunung untuk mencari udara segar atau mencuci mata kuku ku..."
Entah tawa Kuro membuat Laila merasa tidak enak.
"Mungkinkah mereka pergi dengan menunggangi naga?"
"Yuup. Kau bisa menganggap desa ini seperti miniatur Dragonia. Disini naga dan manusia hidup damai. Lagipula penduduk desa kurang dari 50 orang saja."
"Bukankah itu jumlah yang terlalu sedikit untuk tempat seluas ini?"
".... kenapa kau membahas ini?"
"Bukankah nanti aku akan tinggal disini setelah menikah denganmu?"
Laila benar, tapi-
"Jangan bercanda. Aku punya rumah di ibukota. Kita akan tinggal disana. Lagipula kau tak ingin membuat ayah paling menakutkan di dunia kawatir dan menghancurkan segalanya. Kita tak ingin hal itu terjadi kan?"
"....kau benar. Tapi aku tak keberatan tinggal disini asal bersamamu."
"Sayang sekali aku jarang tinggal disini dan pulang jika ada waktu luang saja."
Disaat yang sama, Kuro membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu.
"Yui... Huh?"
Kuro terkejut saat menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Tak ada seorangpun di rumah itu.
"Kemana semua orang?" tanya Laila.
"Entahlah, tapi kurasa aku bisa menebak mereka ada dimana. Kenapa tak sekalian berkeliling?"
Merekapun tak jadi memasuki rumah dan menuju ke pinggir desa.
Entah mengapa Emera mengikuti mereka sehingga membuat tanah bergetar setiap kali kakinya melangkah.
"Perasaanku saja, atau Emera menatapku terus dari tadi?"
"Mungkin kau tak tahu, tapi Emera menyukai gadis cantik."
"Maksudmu Emera adalah naga mata keranjang. Huh... aku tak memujimu!"
Emera tersipu dengan wajah memerah.
Ini sedikit aneh karena naga bisa malu seperti manusia.
"Kurasa naga juga memiliki sifat yang berbeda seperti manusia."
"Ya.. kau benar."
".... dan entah mengapa aku punya firasat kenapa Emera memilih Yui."
"Emera naga Lolicon."
"............."
"............."
Setelah itu, mereka berdua tertawa terbahak bahak untuk beberapa menit.
"Jika dunia tahu naga legendaris ternyata naga Lolicon. Apa yang akan terjadi?"
"Entahlah, tapi aku rela membayar berapapun untuk melihat itu."
"Hum? Mungkinkah itu tempat latihan yang kau maksud?"
Laila melirik tempat yang mirip sebuah arena berbentuk persegi. Ada banyak orang yang berada disana.
Ibu ibu berada di kejauhan. Sedangkan kelompok Kuro berada di pinggir arena dan bermesraan (Aldest dan Lairo).
Di tempat lain ada kelompok remaja dan anak anak yang merupakan remaja klan Blad. Mereka kebanyakan berpakaian seperti Yui yang berbahan kulit. Sekilas mereka mirip petarung jalanan.
Di atas arena, dua orang terlihat sedang bertarung dengan memakai tangan kosong. Salah satu orang itu adalah Jinn yang melepas bajunya dan menunjukkan tubuhnya yang kekar.
Sedangkan lawannya adalah seorang pemuda yang kurus tapi tubuhnya terlatih seperti Kuro.
Satu hal yang pasti, lawan Jinn adalah bukan penyihir, tapi tak bisa diremehkan karena Jinn bahkan kewalahan menghadapi pemuda itu.
Pemuda itu bergerak cepat seperti Kuro dan mampu menghindari serangan Jinn, tak hanya itu, pemuda itu menggunakan kecepatan untuk memperkuat serangan seperti Kuro.
Jinn menyilangkan tangannya untuk menahan serangan pemuda itu, tapi Jinn terdorong beberapa meter ke belakang.
Pemuda itu tersenyum, hal sama juga dilakukan Jinn. Mereka berdua lalu beradu tinju lagi dan lagi.
Setiap serangan meleset dan mengenai arena, lantai akan hancur berkeping keping karena gelombang kejut kekuatan pukulan mereka.
Pertarungan mereka bisa dibilang seimbang, tapi itu berlaku kepada orang awam.
"Yui... apa yang terjadi disini? Kenapa Asura bertarung dengan Jinn?"
Yui menoleh ke arah Kuro dan Laila yang baru datang. Emera mengikuti mereka di belakang.
"Kenapa lama sekali? Jeezzz... Jinn dan Asura tak bertarung, tapi hanya latih tanding."
"........."
"Ini hanya untuk mengusir kebosanan karena menunggu kalian. Ngomong ngomong kenapa kalian lama sekali?"
Charlmilia yang tak jauh dari mereka menambahkan.
Sementara itu, Jinn dan Asura terus bertarung di atas arena. Saling memukul, menghindar dan bertahan. Meskipun hanya tangan kosong, namun bisa dibilang pertarungan tingkat tinggi.
"Aku tak perlu memberi tahumu semua urusan pribadiku. Aku lebih penasaran kenapa dua Knight bodoh itu sekarang lengket sekali."
"Itu urusan mereka dan kurasa kita tak perlu ikut campur, tapi aku benar benar kagum meskipun bukan penyihir, pemuda itu bisa bertarung seimbang dengan Jinn."
"Tapi mereka berdua belum serius bertarung."
"Eh?"
Ucapan Kuro membuat Laila bingung dan terkejut.
Sedangkan Charlimilia dan Yui mengangguk tanda setuju.
"Asura bisa menggunakan Ki, sedangkan Jinn bisa menggunakan sihir. Jika mereka serius, pertarungan ini semakin menarik."
Sekitar 8 remaja ditambah 4 orang anak anak sedang menyoraki pemuda yang bernama Asura.
Disisi lain, tak ada yang mendukung Jinn.
"Aku tak menyangka ada orang selain Kuro yang sekuat ini di klan Blad, aku sekarang percaya kenapa klan Blad dikenal mempunyai petarung yang luar biasa."
"Terima kasih, tapi ini belum apa apa."
Jinn menahan serangan Asura berupa pukulan bertubi tubi. Kecepatan pukulan Asura bahkan membuat seolah olah tangannya berjumlah banyak.
Jinn berhasil menahan, tapi dia juga banyak menerima serangan. Tubuhnya lecet dan memar di berbagai tempat adalah buktinya.
Sebenarnya Asura tak berbeda jauh, tapi dia terlihat lebih segar.
"Terimalah ini!"
"?!"
Tubuh Asura mengeluarkan aura putih. Aura putih itu lalu berkumpul di kepalan tangan Asura.
Jarak di antara mereka sekitar 15 meter, tapi Asura dalam posisi memukul. Mungkinkah Asura bisa menggunakan Accell Art?
(Tidak. Tekhnik itu...)
Jinn langsung mengaktifkan magic arm berupa armor yang menutupi tangannya.
Jinn lalu memasang posisi memukul sama seperti Asura.
"[Raising Blast..]"
"[Hammer Fist]"
Keduanya langsung memukul udara kosong, tapi bola putih dan merah melesat bagai peluru dan beradu di tengah arena.
Bommm...
Ledakan terjadi bersamaan cahaya merah dan putih yang menyinari arena.
Semua yang melihat itu terbengong dan terkejut. Sedangkan Kuro, dia hanya tersenyum kecil.
Setelah cahaya menghilang, kawah terlihat di pusat ledakan dengan diamater 3 meter sebagai bukti 2 kekuatan yang saling beradu.
"Ha... ha... ha...."
"Ha... ha... ha...."
Keduanya terengah engah, tapi tersenyum senang.
"Tidak buruk untuk orang biasa."
"Kau juga tak buruk untuk seorang penyihir."
Mereka lalu beradu pukulan sekali lagi, tapi-
"Yui."
Sebuah pedang angin melesat di antara Jinn dan Asura sebelum sempat beradu pukulan.
Mereka berhenti lalu menoleh ke arah Yui yang berdiri di samping Kuro. Mata mereka berdua melebar karena tak mengerti alasan pertarungan mereka diganggu.
(Aku tak melihat Yui melakukan itu.)
Charlimilia terkejut karena Yui melalukan teknik pedang angin seperti tak bergerak sama sekali.
Sepertinya Yui menggunakan Accell Art untuk menciptakan pedang angin atau itu adalah kekuatan Yui yang sebenarnya?
"Kuro."
"Kakak Kuro."
Mereka menoleh ke arah pelaku yang menghentikan pertarungan mereka.
"Maaf, tapi sudah cukup. Jinn, jika kau terluka lebih dari ini, kurasa aku akan meninggalkanmu disini dan membiarkanmu bersenang senang hingga kau puas. Sedangkan untukmu Asura, aku tahu kau senang karena menemukan lawan yang bagus, tapi ini bukanlah saatnya melakukan ini."
"Baiklah Kakak."
Asura mengerti maksud perkataan Kuro.
Sedangkan Jinn, dia hanya tersenyum kecil karena juga mengerti alasan Kuro.
"Kita akan lanjutkan kapan kapan."
"Aku juga menantikannya."
Mereka berdua lalu bersalaman sebagai tanda mereka akan bertarung sekali lagi untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang.
Mereka berdua lalu turun dari arena latihan. Jinn berjalan, sedangkan Asura melompat tinggi dan mendarat tepat di atas Kuro sambil bersiap memukul Kuro.
Kuro hanya tersenyum, tapi dia langsung berputar dan menendang tepat di kepalan tangan Asura.
Angin berhembus kencang dari tangan dan kaki yang beradu, tak hanya itu, kaki Kuro tenggelam ke tanah karena kekuatan pukulan Asura yang memiliki kekuatan luar biasa.
"Kakak!?"
"Aku akui kau sudah meningkat sejak terakhir kita bertemu, tapi masih 1000 tahun lebih awal jika ingin menang dariku."
"Benarkah seperti itu?"
"?!"
Asura lalu mendorong mundur tubuhnya. Dia lalu berputar di udara dan menggunakan kakinya untuk menendang kaki Kuro dalam waktu singkat.
Tendangan Asura membuat tubuh Kuro semakin tenggelam.
Semua orang yang melihat itu hanya bisa melebarkan matanya dan hanya bisa menahan nafas mereka.
"?! Jangan bilang kau..."
"Sudah kubilang kau masih 1000 tahun lebih cepat untuk menang melawanku."
Asura lalu berhenti dan mendarat di depan Kuro.
"Kuro, kau tak apa apa?" tanya Laila.
Dia sedikit menjauh saat Asura memukul Kuro.
"Jangan kawatir. Ini hanya permainan kecil antara kami berdua."
"Aku tak menyangka masih belum bisa menang meskipun kakak Kuro sedang lemah. Aku sungguh menyedihkan"
Asura terlihat kecewa dan sedih karena gagal. Tapi tatapannya tak menunjukkan dia menyerah.
"Setidaknya kau berhasil membuat kakiku kesemutan, kurasa kau sudah meningkat pesat. Oh iya, apakah semuanya masih berlatih seperti biasanya?"
"Ya... sayang sekali kami tak punya latih tanding, jadi saat temanmu datang, mana mungkin kami menyia nyiakan kesempatan ini."
"Begitu rupanya... Aku mengerti perasaan kalian, tapi kami ada urusan sehingga tak punya banyak waktu."
"Kenapa kau selalu seperti ini? Kau jarang pulang, tapi selalu saja pergi tanpa alasan yang jelas."
"Kau terlalu berlebihan, tapi setelah urusan ini selesai, aku berjanji untuk berlibur dan mengajari kalian lagi."
"Benarkah itu? Janji?"
"Ahh.. aku berjanji."
Asura langsung terlihat senang, tapi saat melirik Laila-
"Siapa gadis cantik ini?"
"Perkenalkan, dia Laila, calon istriku."
"......huh?"
Setelah itu, Asura memukul Kuro lagi secara tiba tiba tepat di bagian wajahnya.
Tubuh Kuro terpental dan terguling hingga puluhan meter ke belakang sebelum berhenti.
"Kuroooo....."
Sekali lagi Laila berlari menghampiri Kuro yang matanya berputar putar karena pusing dengan wajah kawatir.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Anggap saja sebagai luapan amarah seorang laki laki, kak Yui."
"Ahh... aku mengerti."
Tak hanya Yui, tampaknya semua orang mengerti perasaan Asura.
Setelah beberapa saat, Kuro bangkit dengan wajah membengkak.
"Laila, bilang kepada semuanya untuk ke rumahku. Ada yang harus kubicarakan tentang misi kita."
"Ba-baiklah, tapi bagaimana denganmu?"
"Ini bukan apa apa, tapi aku senang kau kawatir."
"Mana mungkin aku tak kawatir saat melihatmu terluka, dasar bodoh."
Mereka berdua lalu tersenyum bersamaan.
"Ahh.... mereka melakukannya lagi..."
"Mereka tak tahu tempat dan kapan bermesraan."
"Aku benci ini.."
__ADS_1
Jinn, Charlmilia dan Knox hanya bisa mengeluh.
Setelah itu, mereka kembali ke rumah Kuro bersama Yui.
Mereka duduk di ruang tamu, kecuali Yui dan Laila yang sedang menyiapkan teh.
Aldest dan Lairo duduk bersama seperti lem.
Sementara semuanya sedang duduk, hanya Kuro saja yang sedang berdiri dan mulai menjelaskan meskipun pipinya masih bengkak.
"Ada yang ingin kusampaikan kepada kalian. Selain itu, aku ingin kalian berempat untuk memilih tetap di sini atau pergi ke Dragonia dan mati."
Semua orang terkejut kecuali Aldest.
"Kuro, apa maksu- ?! Jangan bilang sejak awal kau tak menginginkan kami ikut denganmu?"
"Inilah alasanmu kenapa berhenti di tempat ini kah? Aku tak menyangka kami dipermainkan olehmu dari awal sampai akhir. Kau benar benar iblis...." ucap Knox dengan nada dingin.
Meskipun begitu, Kuro tak bereaksi apapun. Dia sudah terbiasa.
"Terserah kalian. Kalian tak tahu apapun tentang musuh kali ini. Aldest, kurasa kita harus memberi tahu mereka. Apa kau ingin pacarmu mati?"
Aldest langsung melepas pelukannya dan menatap Kuro dengan tajam, tapi dia lalu tersenyum kecil.
"Ah... kau benar..."
"Aldest.. kau-"
Lairo bahkan terkejut. Dia sadar tampaknya Aldest sudah tahu rencana Kuro. Inilah alasan dia tak protes saat murid Kuryuu Academy ikut.
Sementara suasana sedang tegang, Yui dan Laila keluar dari dapur sambil membawa kue dan teh.
Setelah menaruh kue dan teh, Laila berdiri di samping Kuro dengan ekspresi tenang seolah olah dia sudah tahu.
"Laila, kau juga-"
"Hanya kalian berempat yang tak tahu kebenaran yang terjadi di Dragonia. Dan kurasa untuk kalian tahu, benarkan?"
Saat itu, Kuro berkata dengan senyuman bagai iblis.
"Aldest, tak apa apa kan?"
Aldest mengangguk.
"Jika mereka ikut, mereka akan menjadi beban dan mati. Kita tak bisa membiarkan hal itu fufu..."
"Kalian berdua benar benar..."
Jinn hanya bisa menahan amarah. Knox dan Charlmilia juga hanya bisa menggertakan giginya. Sedangkan Lairo lebih terlihat syok daripada marah
"Kalian tahu [Necrodra]?"
"...eh?"
"Necromancia Dragon atau [Necrodra], tapi mudahnya mereka adalah Zombie Naga yang dibangkitkan dengan sihir."
"Kami tahu itu. Apa kau pikir kami bodoh?"
Zombie dibangkitkan oleh Necromancer. Biasanya Zombie hanya akan memiliki kekuatan 60-70% seperti saat mereka masih hidup. Tetapi mereka memiliki kekuatan fisik yang lebih kuat. Ini adalah pengetahuan umum karena kasus penyihir dibangkitkan dari kematian tidaklah jarang.
Tapi-
"Kalianlah yang bodoh. Kalian sudah tahu kekacauan yang dibuat oleh satu naga, tapi kalian masih tetap pergi."
"?!"
"Musuh kita tak hanya satu Necrodra, aku bahkan bisa menjamin jumlahnya bisa mencapai ratusan. Tak hanya itu, kekuatan [Necrodra] sama seperti saat hidup, tidak, kurasa sekarang lebih kuat."
Kuro sekarang tak bisa memperkirakan kekuatan musuh karena musuh adalah seseorang yang mampu menggunakan Skullia Crystal.
Inilah alasan kenapa dia harus bersiap untuk hal terburuk.
"Tapi jika seburuk itu, bukankah lebih baik jika kami ikut?"
"Ya. Charl benar. Bukankah banyak orang lebih baik?"
Jinn menambahkan.
"Tidak kali ini. Aku tak punya waktu untuk mengasuh kalian, jadi kuharap kalian bisa tenang di desa ini hingga kami kembali."
"Lairo, aku juga meminta hal yang sama."
".............."
Keheningan langsung tercipta.
Bagi Lairo, sekarang dia tahu kenapa Aldest tiba tiba bertingkah aneh bahkah menyatakan cintanya.
Sedangkan bagi Charlmilia, Jinn dan Knox, mereka bukannya tak mengerti alasan Kuro yang memikirkan keselamatan mereka.
Tapi ada satu hal yang membuat mereka bertiga marah.
"Kuro, singkatnya kau tak menginginkan kami ikut karena kami bertiga .....lemah?"
Knox dan Jinn menunjukkan ekspresi yang sama dengan Charlmilia.
"Skukurlah kalian mengerti. Aku tak harus menjelaskan panjan-"
Sebuah pisau es melayang di samping kepala Kuro dan menancap di dinding sebelum sempat selesai.
Semua orang terkejut karena tahu di ruangan itu hanya Yui yang bisa menggunakan sihir air.
"Jangan meremehkanku. Kenapa kau bisa berpikir kami lemah padahal kau tak tahu apapun tentang kami."
Tombak es muncul dan melayang di sekitar Charlmilia.
"Charl,-"
"Begitu rupanya, Divine Contractor memang berbeda..."
Angin dan air. Itulah elemen sihir Charlmilia yang merupakan seorang Divine Contractor. Ini suatu yang luar biasa mengingat penyihir hanya bisa menggunakan satu elemen.
Tapi kasus seperti Charlmilia tidaklah aneh dan bukan pertama kalinya.
"Aldest, apa kau juga berpikir aku lemah?"
Lairo tak mau kalah dengan mereka bertiga.
"......sayangnya, iya. Kau lemah."
"Apa?"
Lairo benar benar terkejut.
Tapi Aldest benar. Lairo masih lemah.
Komandan Knight merupakan bukti bahwa Aldest adalah orang terkuat di markas Knight. Lairo yang hanya Knight biasa bisa dibilang hanya memiliki kekuatan yang biasa saja seperti semut pekerja.
"Tampaknya aku tak bisa menghentikan kalian ikut meskipun kalian tahu akan mati..."
Kuro menyadari tekad mereka semua dari tatapan yang membara dan tanpa ragu. Mereka benar benar mengingatkan Kuro kepada Laila.
"Ya. Kau bilang kami harus memilih..."
".....dan kau tahu pilihan kami."
"Kami bertiga tetap akan ikut."
"Aku juga sama. Aku tak mau meninggalkanmu, Aldest. Lagipula, aku adalah kekasihmu."
Mereka berempat sudah memilih.
Dan Kuro tahu mereka berempat akan memilih itu.
"Jika kalian mati, jangan salahkan aku."
Satu persatu mulai tersenyum setelah tahu Kuro tak menghentikan mereka meskipun mereka semua tahu Kuro dapat melakukan itu.
"Tapi aku punya syarat untuk kalian."
"...eh?"
Rapatpun akhirnya selesai dengan keputusan mereka akan tetap pergi.
Tapi pergi bukan untuk mati, tapi untuk kembali.
Setelah menyiapkan bekal, mereka semua pergi menuju lift.
Yui ikut untuk mengantar mereka semua.
Mereka sampai di depan pintu lift dan menunggu lift turun, disaat itulah Lairo bertanya satu hal yang mengganggu pikirannya.
"Aldest, kenapa kau mengajakku?"
Bagi Lairo, ini masih terasa aneh. Bagaimanapun juga, Lairo masih tak mengerti.
Jika Lairo kuat, itu bisa menjadi alasan untuk mengajak dirinya. Selain itu Aldest mencintai dirinya. Seharusnya dia tak akan mengajak dirinya karena terlalu berbahaya.
Jika untuk menghilangkan dendam di hatinya dengan melihat Kuro, Witch Reaper yang membunuh ayahnya, ini masih tak masuk akal bagi Lairo.
"Tentu karena aku tak mau kau mencari gadis lain saat aku pergi."
Jawaban yang mengejutkan dan sekaligus menakutkan.
"Ahh... begitu rupanya..."
Lairo tersenyum kecut.
Disaat yang sama, lift sudah sampai di bawah. Pintu terbuka, tapi ada orang di dalamnya.
Sekitar 7 orang laki laki dewasa menggunakan jubah hitam membawa karung dan bahan makanan di pundak mereka. Mereka semua adalah orang klan Blad yang baru kembali setelah membeli bahan makanan.
"Ohh... Kuro. Kenapa kau sudah pergi? Padahal kami belanja untuk menyambutmu."
Salah satu berbicara dengan Kuro.
"Terima kasih, tapi aku harus pergi. Ngomong ngomong dimana Ayahku?"
"Itu yang inging kutanyakan. Apa yang kau katakan sehingga Roka seperti mayat hidup?"
"Mungkinkah gadis ini calon istrimu?" tanya lainnya yang menyadari kedekatan Kuro dan Laila.
"Yup. Kuharap kalian tidak iri."
"Dasar bocah sialan."
Merekapun tertawa bersamaan.
Tapi hanya satu orang yang terdiam mematung saat melihat keakraban Kuro dengan salah satu lelaki dewasa.
"Ayah..."
Salah seorang lelaki langsung melirik Lairo. Dua orang yang tak pernah bertemu selama 2 tahun saling memandang satu sama lain dengan tatapan tak percaya dan sekaligus terkejut.
"Oh... Aldest. Kau sehat sehat saja."
"Ya. Paman Straus. Seperti yang kau lihat aku baik baik saja."
"Apa kau tahu Paman, anakmu dan Aldest resmi berpacaran."
Kuro ikut menyambung pembicaraan mereka berdua.
Sedangkan yang lain terkejut dan menyadari satu hal.
Orang yang saat ini berbicara dengan Kuro dan Aldest adalah salah satu Knight yang sudah mati 2 tahun yang lalu dan merupakan ayah Lairo.
Tapi kenapa masih hidup?
Selain itu, tampaknya Aldest sudah tahu hal ini.
"Aku sedikit terkejut, tapi aku bisa menebak kalau Aldest yang menembak terlebih dahulu. Apakah dia masih pengecut sama seperti dulu?"
Aldest mengangguk pelan dengan wajah memerah. Dia tetaplah seorang gadis yang bisa malu.
"Sayang sekali kita tak punya banyak waktu untuk mengobrol. Ada sebuah negara yang harus segera kuselamatkan."
"Baiklah, kami semua disini mendoakan keselamatanmu dan calon istrimu. Tentu temanmu juga."
Setelah itu, Kuro dan lainnya memasuki lift. Aldest dan Lairo terlihat murung saat memasuki lift.
Jarak mereka bahkan semakin menjauh.
"Aldest, kau...."
"............"
Aldest hanya terdiam membisu dan tak mengatakan apapun.
Sedangkan Laila, sekarang dia tahu kenapa Kuro tahu Lairo anak salah satu Knight dalam kasus dua tahun yang lalu.
Di dalam lift, Kuro melirik Lairo yang cemberut dan terlihat marah.
Tapi itu wajar. Aldest sudah tahu, tapi tak pernah memberi tahu Lairo.
"Sebaiknya ceritakan semuanya agar kalian bisa akur lagi. Kita sedang menuju medan perang, jadi berbaikanlah sebelum mati dan menyesal."
"Tutup mulutmu!"
"Sayang sekali kau tak berhak menyuruhku, Bodoh. Di dunia ini banyak rahasia yang seharusnya tak diungkap, bahkan antara ayah dan anak sekalipun."
"........."
"Tapi satu hal yang harus kau tahu, kau seharusnya senang karena dari 200 Knight yang kubunuh dua tahun yang lalu, dia adalah salah satu dari 7 Knight yang kuampuni."
Mata Lairo melebar karena menyadari maksud Kuro.
Kuro hanya tersenyum tipis saat melihat reaksi Lairo.
"Jika kau mau, aku bisa membunuh ayahmu tepat di depanmu sehingga kau bisa melihat saat ayahmu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bagaimana?"
"Kuro, hentikan leluconmu itu!"
Kuro langsung mendesah kecil saat dimarahi Laila.
"Iya iya... "
"Kak Kuro memang selalu membuat candaan yang menakutkan, fufufu..."
Setelah itu, semua tertawa kecuali Aldest dan Lairo.
Meskipun mereka berdua mengenal Kuro hanya sebentar, Kuro adalah orang yang tega melakukan itu.
"..........."
Lairo melirik Aldest. Dia melihat Aldest yang terlihat takut dan sedih.
Ini suatu yang tak biasa, tapi kenapa?
Sejak kecil Lairo selalu dijahili Aldest, tapi dia sekarang tahu hal itu untuk menarik perhatiannya.
(Bodoh, berpikir. Gunakan otakmu yang kecil untuk menemukan semua ini.)
Saat itulah Lairo melirik Kuro.
Meskipun dikenal sebagai pembantai dan kejam, tapi dia selalu diterima oleh orang yang mengenal dirinya.
Kuro adalah orang yang rela menjadi penjahat demi orang yang berharga bagi dirinya.
"?!"
Akhirnya Lairo menemukan jawabannya.
Jika Kuro mampu dan rela menjadi penjahat, bukankah orang lain juga akan melakukannya?
Ini suatu yang sederhana dan dapat dimengerti oleh siapapun. Bahkan orang bodoh tak perlu belajar untuk mengerti hal ini.
Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Lairo memutuskan untuk berhenti. Berhenti menjadi orang bodoh.
"Aldest. Aku minta maaf..."
"....sayang sekali aku tak semudah itu memaafkanmu."
"Eh?"
Meskipun terkejut, Lairo sudah memutuskan dan membukatkan tekadnya.
Dia akan melindungi Aldest apapun yang terjadi. Meskipun sekarang ini mereka mungkin sedang menuju ke tempat pemakaman.
__ADS_1