
"Kuro, ada yang ingin kutanyakan!"
Charmilia berteriak kepada Kuro yang terbang tak jauh dari dirinya. Berbeda dengannya, Kuro dan Laila menunggangi Laiko.
Kuro berdiri lalu melompat ke arah punggung Ruby.
Meskipun mereka terbang dengan kecepatan cukup tinggi dan angin yang kencang, Kuro sanggup mendarat dengan sempurna seperti mendarat di tanah.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Kuro berdiri tak jauh dari Charlmilia yang kini duduk sambil berpegangan karena tak mau terjatuh.
Inilah perbedaan Dragon Tamer dan seorang penyihir biasa.
"Kita sudah terbang berjam jam, tapi aku ingin tetap menanyakan ini. Kapan kita beristirahat?"
"Sekitar 2 jam lagi. Kita akan beristirahat di sebuah danau kecil yang ada di hutan. Memangnya ada apa kau menanyakan itu?"
Charlmilia memasang wajah dalam masalah dan malu.
"Uhmmm... sebenarnya..."
"?"
"Se-sebenarnya...."
Charlmilia kesulitan mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
Menyadari ada yang aneh, Kuro akhirnya paham saat Charlmilia sedikit gemetaran sambil memegangi selangkangannya dengan wajah memerah.
"Siapa yang mau ke toilet?"
Semua yang menunggangi Ruby, mengangkat tangan mereka.
Bahkan Laila juga melakukannya.
"Apa kalian bercanda?"
Kuro akhirnya hanya bisa mendesah dalam.
Setelah menemukan tempat yang cukup luas dan terbuka di sebuah hutan, mereka semua mendarat.
Jinn dan Knox langsung melompat dan berlari ke arah semak semak. Hal yang sama juga dilakukan Aldest, Laila, dan Charlmilia. Tentu ini tindakan yang tak pantas, tapi tak ada pilihan. Ini darurat.
Kuro tak tahu kemana Lairo pergi, tapi dia berharap tak mengintip Laila.
Sekitar 10 menit, semua kembali ke tempat istirahat.
"Dimana Lairo?" tanya Aldest.
"Aku bukan pengasuhnya. Seharusnya kau yang tahu karena kau kekasihnya."
"Eh, Aldest dan Lairo sepasang kekasih?"
"Fufufu....."
Aldest hanya tersenyum tipis dan tak menjawab.
Tampaknya dia tak ingin tahu hubungan apa antara dirinya dan Lairo.
"Um? Apa kalian mendengarnya?"
Charlmilia memperingatkan karena mendengar suatu yang aneh.
Suara berisik seperti pohon tumbang yang menuju ke arah mereka.
"Mungkin ada monster yang mendekat kemari. Yui.."
"Yup yup..."
"Ada perubahan rencana. Kita akan beristirahat disini dan makan siang."
"Baik kak Kuro."
Yui menyiapkan dua belatinya dan mengambil posisi bertarung.
Kuro hanya duduk di sebuah pohon tumbang dengan santai. Sedangkan semua selain Kuro dan Yui hanya terbengong.
Suara semakin terdengar keras. Mereka semua juga sudah bisa melihat pohon yang tumbang.
Setelah beberapa saat, mereka melihat sosok yang muncul dari semak semak.
"Semuanya lari!!!"
Itu adalah Lairo yang berlari dengan kecepatan tinggi.
Wajahnya pucat pasi dan penuh keringat seperti dikejar hantu, tapi semua sekarang tahu kenapa monster mendekati mereka.
Semua yang melihat itu terkejut dan langsung memasang posisi bertarung seperti Yui.
Lairo sampai dan melewati mereka semua sebelum berhenti karena jalan buntu.
"Dia bodoh, benarkan?"
"Aku setuju." jawab Aldest.
"Ha.... haa... haa... aku tak ingin mendengar itu dari orang bodoh sepertimu."
Lairo terengah engah.
"Apa yang terjadi Lairo?"
"Ahh aku berpikir untuk mencari air sebelum kita pergi, tapi aku bertemu monster."
"Bodoh. Jika butuh air, kenapa tak minta Yui? Dia penyihir berelemen air."
"Huh? Kenapa tak bilang?"
"Kau pikir kenapa kita tak membawa bekal apapun, bodoh!?"
"..............."
Lairo terdiam karena menyadari kebodohannya.
"Benarkan, kau bodoh!"
"Guh..."
"Ngomong ngomong, monster apa yang kau temui?"
"Tyrano."
Semua terkejut karena tahu monster Tyrano termasuk monster raksasa yang buas. Pohon tumbang adalah bukti Lairo tak berbohong.
Kuro tersenyum senang mendengar jawaban Lairo.
"Bagus. Kau tak terlalu bodoh rupanya."
"Apa maksudmu?"
Tapi Kuro hanya tersenyum kecil.
Disaat yang sama pohon tumbang semakin terdengar dan tanah juga bergetar.
Rooooaaar...
Mereka juga sudah mendengar raungan Tyrano.
Tak berapa lama, Tyrano muncul dari balik pohon yang tumbang. Mulutnya terbuka dan menunjukkan ratusan gigi taringnya.
Semua langsung bersiap untuk bertarung, tapi-
Tyrano itu terdiam membeku. Tyrano itu bahkan sekarang berbalik dan ingin kabur.
Tyrano itu pasti sadar akan mati saat melihat naga sebesar 25 meter yang 3 kali lebih besar dari dirinya. Bukannya menyantap, dia justru akan menjadi santapan.
"Yui, jangan biarkan dia kabur!"
"Okayyy! Accell Blade Art.."
Tubuh Yui dipenuhi aura putih. Kedua belatinya ada memanjang seperti pedang, tapi terbuat dari [Ki].
Setelah itu, sosok Yui menghilang.
""
Yui muncul di dekat Tyrano yang tiba tiba tak bergerak.
"FUUUH..."
Yui menghela nafas dan kembali berjalan melewati Tyrano yang kini kepalanya terjatuh dan tumbang. Darah lalu tiba tiba menyembur dan berceceran ke berbagai tempat seperti sungai.
Semua yang melihat itu hanya bisa melebarkan matanya.
"Um? Ada apa?"
Mereka tak memberikan respon.
Yui memiringkan kepalanya karena tak mengerti. Dia lalu memutuskan untuk beristirahat setelah meletakkan kembali belati di tempatnya.
"Baiklah, saatnya kita makan."
"Ahh.. uhhh..."
Mereka hanya tersenyum kecut karena akan menyantap Tyrano sebagai makan siang.
Di dunia sihir, bergerak dengan kecepatan tinggi merupakan hal yang normal. Tapi mereka menyadari kecepatan Accell Art memiliki level yang berbeda.
Accell Art ibarat kucing yang berlomba dengan semut jika dibandingkan sihir kecepatan.
Dan meskipun penyihir melatih mata dan tubuh mereka atau memakai sihir untuk menajamkan indra penglihatan, tapi untuk menandingi Accell Art, tampaknya mereka harus setingkat Master.
Setelah memotong Tyrano menjadi ukuran yang bisa dimakan oleh manusia. Kuro memasak dengan membuatnya menjadi sate.
Berkat bumbu masakan yang Yui selalu bawa, mereka semua dapat merasakan masakan yang cukup nikmat.
Sedangkan sisa tubuh Tyrano, tentu saja diberikan kepada 3 naga yang makan dengan lahap. Sebagai naga terbesar, Ruby mendapat jatah yang paling besar.
"Aku tak menyangka daging Tyrano seenak ini!"
Jinn berkata sambil mengunyah makanannya.
Dia duduk di samping Knox dan Charlmilia..Tak jauh darinya, Lairo dan Aldest duduk di batang pohon yang berbeda.
Sementara Kuro duduk di tengah Yui dan Laila seperti roti lapis.
Di tengah mereka api unggun menyala dan asap membumbung tinggi sekaligus menyebarkan aroma daging yang dipanggang.
"Tak hanya itu, bumbu yang sederhana membuat daging semakin enak."
Charlmilia ikut menambahkan.
Lairo sekarang menyuapi Aldest bagai kekasih, namun dia terlihat tak nyaman.
Hubungan yang rumit. Tampaknya itu cocok untuk mereka berdua.
"Kami di klan Blad selalu berburu monster untuk dijadikan sebagai bahan makanan utama, jadi kami tahu betul bagian monster yang enak dimakan dan mana yang tidak. Begitukan kak Kuro?"
Kuro mengangguk.
"Apa kalian tak bosan makan daging setiap hari?" tanya Knox.
"Bukannya kami tak ingin makan selain daging, tapi kami tak ada pilihan lain. Apa kau lupa kami tinggal di hutan Rukia?"
Selain dikenal hutan yang paling berbahaya, hutan Rukia juga gelap karena sinar matahari tak sampai ke tanah.
Jika sinar matahari tak sampai, maka sayuran tak akan tumbuh. Selain itu, jika klan Blad membuka lahan, itu sama saja memberi tahu keberadaan klan Blad kepada musuh.
"Begitu rupanya."
"Tapi aku lebih terkejut saat tahu Yui bisa menggunakan Accell Art seperti Kuro."
"Ya ya. Aku juga terkejut. Jujur saja, kupikir Accell Art tak sembarangan orang bisa menggunakannya."
"Charlia, kau salah, tapi juga benar."
"Apa maksudmu?" tanya Jinn.
"Accell Art bisa dipelajari siapapun, bahkan kalian semua bisa mempelajarinya."
Wajah Jinn, Knox, dan Charlmilia langsung terlihat bersemangat.
"Tapi, jika kalian tak memiliki tubuh yang kuat, kalian akan mati."
__ADS_1
Mereka langsung terdiam sekaligus melebarkan matanya.
"Ku-Kuro, jangan menakuti. Jika kau bilang tak bisa, kau jujur saja."
"Ya. Jangan mempermainkan kami."
Jinn kesal karena merasa dipermainkan. Knox dan Charlmilia juga merasakan hal yang sama.
"Dia tak berbohong."
Tiba tiba Aldest menyela.
"Prinsip Accell Art sebenarnya menggunakan energi yang besar untuk bergerak dengan kecepatan tinggi lalu mengontrolnya. Disitulah letak kesulitan dan hal yang paling berbahaya."
"Kami tahu itu, tapi-"
"Akan kuberikan gambarannya. Misalnya ada sebuah peluru. Peluru ditembakkan menggunakan mesiu. Mesiu itulah energi yang digunakan untuk bergerak dengan kecepatan tinggi. Pertanyaannya adalah apakah peluru itu bisa bergerak sesuai dengan keinginan kita?"
Mereka semua terdiam.
"Meskipun kita penyihir, tapi tubuh kita tetaplah terbuat dari darah dan daging. Jika kita melakukan hal yang diluar kemampuan tubuh, kita pasti akan menghancurkan diri kita sendiri dan mati." tambah Aldest.
"Dengan kata lain, orang yang menggunakan Accell Art harus memiliki tubuh setara iblis untuk bisa bertahan kah."
"Knox, perkataanmu seolah olah Kuro adalah iblis."
"Apakah dia bukan iblis?"
".................mungkin."
"Hoy... apa maksud kalian?"
Kuro protes karena menganggap lelucon mereka sudah berlebihan.
"Sudah sudah..., tapi wajar kami berpikir seperti itu. Kau orang biasa, tapi kau adalah yang terkuat di antara kami."
Jinn benar. Dan semua orang setuju dengan pendapat itu.
"Yah... aku memang terkuat jika aku dalam kondisi normal. Accell Art memiliki efek samping yang membuatku sangat lemah saat ini."
"Apakah efek samping saat kau menggunakan teknik yang memotong tangan dan kakiku?"
"Yup. Tapi perkataanmu membuatku seolah olah orang sadis."
"Kau memang sadis."
"Ugh..."
Tak hanya sadis, tapi juga kejam karena memutilasi seorang gadis hidup hidup.
"Daripada itu, sebaiknya kita membahas apa rencanamu. Kau yang memimpin perjalanan ini dan sebaiknya kau juga beritahu musuh yang kita akan hadapi di Dragonia."
Kuro menyadari apa yang Aldest maksud.
"Aku mengerti. Baiklah akan kujelaskan. Pertama, kita akan pergi ke Dragonia. Perjalanan mungkin akan memakan waktu 5 hari jika kita terbang dengan kecepatan seperti tadi."
"Itu perjalanan yang lama. Dan kurasa ini bukan perjalanan yang menyenangkan."
"Sudah kubilang kalian tak perlu ikut. Kita sebenarnya bisa terbang lebih cepat, tapi kalian belum terbiasa, jadi inilah pertanyaanku. Kita terbang seperti tadi atau lebih cepat?"
"Kalau kau?" tanya Jinn.
"Jika aku pergi sendirian, aku bisa sampai di Dragonia kurang dari 3 hari. Jujur saja sebenarnya aku ingin segera pergi daripada beristirahat disini."
"Seburuk itukah situasi Dragonia saat ini?"
"Jinn, kau sudah tahu?"
"Tidak tahu secara detail, tapi ada rumor kalau Dragonia diserang Necromancer dan disana sekarang sangat kacau. Meskipun kami berdua tahu itu, kami tetap akan ikut."
"Kami akan melawan Necromancer untuk berlatih pertarungan nyata. Ini kesempatan yang bagus dan kami tak akan menyia nyiakan kesempatan ini."
Knox ikut menambahkan.
Kuro sekarang tahu kenapa mereka mendekati Ruby. Mereka ingin pergi, tapi harga diri mereka terlalu tinggi untuk meminta.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan terbang dengan kecepatan penuh. Kalian ikat diri kalian menggunakan Mana Art di tubuh Ruby agar tak jatuh. Bagaimana?"
Aldest mengangguk. Lairo hanya terdiam sejak dari tadi.
"Jika itu yang terbaik, kenapa tidak?"
Knox dan Jinn juga tak merasa keberatan.
"Kita sudah sepakat. Jadi ini yang akan kita lakukan."
"""...................."""
"Kita akan terbang 6 jam dan beristirahat selama 1 jam. Kita akan membeli makanan di kota untuk 4 hari karena kita tak mungkin berburu karena akan menghabiskan waktu. Semuanya mengerti?"
Semua orang mengangguk.
"Sebagai informasi tambahan, kita akan beristirahat di desa klan Blad untuk 3 jam saat melewati hutan Rukia karena aku ada perlu. Dengan semua rencana ini, kita akan tiba di Dragonia dalam waktu kurang dari 4 hari."
Meskipun hanya berkurang satu hari, namun itu lebih baik daripada 5 hari.
"Satu hal yang ingin kutanyakan," tiba tiba Lairo menyela.
"Apa?"
"Kenapa kita tak menggunakan sihir teleportasi? Aku yakin itu lebih cepat daripada terbang."
Semua orang terdiam dan mempunyai pikiran yang sama.
"Kekasihmu bodoh sekali."
"Aku tak menyangka dia sebodoh itu."
"Aku tahu, tapi aku tetap menyukainya. fufu fu.."
Wajah Lairo langsung merah padam karena malu dan dipermainkan.
Pertanyaannya masuk akal karena di setiap negara ada sihir teleportasi sebagai penghubung.
"Kita tak bisa menggunakan sihir telportasi karena itulah kita terbang. Kenapa pikiranmu tak sampai memikirkan hal itu?"
"Lairo, asal kau tahu, Dragonia tak terlalu akrab dengan negara lain, jadi mereka tak memiliki sihir teleportasi antar negara."
"Sekarang apa kau mengerti, bodoh?"
"Tapi aku lebih pintar darimu."
"Ugghhh..."
Menyadari dia tak akan menang berdebat dengan Kuro, Lairo hanya bisa mengepalkan tangannya dan mengutuk Kuro dari dalam hati.
Setelah berdebat karena masalah konyol, mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka menjalankan apa yang direncanakan sebelumnya. Mereka berhenti tak jauh dari kota dan membeli kebutuhan untuk 4 hari.
Mereka makan dan minum di atas punggung Ruby. Bahkan mereka tidur di atas Ruby dengan selimut yang mereka beli di kota.
Mereka melakukan perjalanan yang tak menyenangkan, tapi tak ada yang mengeluh. Sudah terlambat untuk itu.
Setelah dua hari perjalanan, mereka hampir sampai di hutan Rukia. Hutan yang paling berbahaya di dunia.
Hutan dengan pohon tinggi dan gelap. Tak hanya itu, hutan itu sudah memancarkan aura tak menyenangkan meskipun terlihat dari jauh.
"Lairo, apa ada masalah?"
"....tidak.. hanya saja.. di sinilah ayahku mati."
Bagi Lairo, hutan Rukia adalah hutan tempat peristirahatan ayahnya yang terakhir saat menjalankan tugasnya sebagai Knight.
Dan orang yang membunuh ayahnya ada di dekatnya. Yang lebih buruk, dia sekarang membantu orang yang membunuh ayahnya.
"Aku memang marah dan sedih saat mengetahui ayahku mati, tapi aku juga tak bisa menyalahkan Witch Reaper karena membunuh ayahku demi melindungi keluarganya."
Aldest tersenyum lalu memeluk Lairo dengan lembut dari belakang.
"Itulah kenyataan dunia ini. Kita tak bisa berharap semua akan berjalan dengan apa yang kita inginkan. ....tapi yang membuatku senang adalah kau sudah lebih dewasa, Lairo."
"....mungkinkah itu alasanmu mengajakku?"
Aldest hanya tersenyum kecil tak langsung menjawab pertanyaan Lairo.
"Aku ingin kau melihat secara langsung orang yang membunuh ayahmu. Bagaimana pendapatmu setelah melihatnya?"
"......jujur saja, aku tak mengerti tentang dia. Dia tiba tiba memberi tahuku sedang lemah. Saat itu aku langsung berpikir untuk membalas dendam, tapi aku langsung mengingat ayahku yang menjadi Knight demi aku dan ibuku."
"Ya. Paman Straus adalah orang yang bermimpi menjadi pahlawan keadilan. Itu alasan yang lucu, tapi itu juga alasan yang terbaik. Fufu fu.."
"Kalian benar benar mesra..."
Charmilia tiba tiba memberikan komentarnya.
"Tentu saja. Ini adalah hari kami resmi menjadi sepasang kekasih fufu..."
"Aldest... jangan mengatan itu!"
Wajah Lairo memerah.
"Eh? Bukankah kalian sudah lama berpacaran?"
"Tidak, kemarin malam aku menyatakan cintaku. Aku takut akan mati jadi setidaknya aku memberi tahu perasaanku yang kusimpan sejak kecil."
"Ohh.... kalian teman masa kecil?"
Aldest tersenyum kecil dan mengangguk.
"Dia teman masa kecil yang selalu mempermainkanku dan menjahilku. Apa kalian tahu kalau dia sangat tomboy saat kecil?"
"Ara... jangan mengatakan hal yang membuatku mengenang masa lalu."
"Ahaha... masa kecil kalian pasti menyenangkan."
"Ya. Menyenangkan, benarkan Lairo?"
Lairo pucat pasi dan tak menjawab. Dia tampak seperti teringat dengan sesuatu yang buruk.
Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di atas hutan Rukia.
Mereka sedikit terkejut saat Ruby tiba tiba terbang turun. Tak hanya Ruby, Laiko dan Rubya juga terbang turun.
"Charl, tampaknya kita akan segera sampai."
"Aku tahu itu, tapi apa kalian melihat desa?"
"Tidak. Kami tidak melihatnya." jawab Jinn.
Ruby terbang turun menuju hutan yang lebat. Mereka sadar kalau tak ada tempat mendarat, tapi kenapa terus mendarat?
Setelah hampir menerjang pepohonan, Charlmilia merasakan seperti melewati sesuatu yang tipis. Tak hanya dia, semuanya juga merasakan hal yang sama.
"Ini kan?"
Charlmilia terkejut saat mengetahui mereka mendarat di area yang sedikit terbuka dan cukup luas. Tampaknya dibuat untuk tempat para naga mendarat.
(Perisai ilusi?)
Perisai Ilusi seperti perisai pada umumnya, namun memiliki tambahan berupa ilusi. Biasanya perisai seperti ini digunakan untuk menyembunyikan sesuatu.
Setelah melihat ke sekeliling, dia juga melihat beberapa rumah yang terbuat dari kayu. Dia sadar telah sampai di sebuah desa.
Dari rumah itu, munculah orang yang tampaknya merupakan penduduk desa tersebut.
Orang tua yang terlihat kuat dan berotot menyambut mereka.
"Ayah..."
Yui melompat turun dan memeluk pria itu.
"Ohh.. Yui... Kuro. Kalian sudah kembali."
Pria tua berotot yang menyambut mereka adalah pemimpin klan Blad dan sekaligus ayah Yui dan Kuro. Meskipun tubuhnya kekar, tapi wajahnya terlihat ramah.
"Aku pulang, Ayah."
Ayah Yui mengelus kepala Yui dengan tangannya yang besar.
"Syukurlah kau baik baik saja."
Ayah Yui menoleh ke arah Kuro. Dia tersenyum saat melihat orang asing yang bersama Kuro dan naga hitam yang baru pertama kali dia lihat.
__ADS_1
Tapi saat melihat Aldest dan Lairo, dia menyipitkan matanya karena dia tahu Aldest dan Lairo memancarkan aura yang berbeda.
"Kuro, kau selalu membuat ulah. Sekarang apa yang kau perbuat? Dan siapa mereka?"
"Guh... jangan membuatku terdengar seperti pembuat ulah, Ayah."
Kuro mendekat bersama Laila. Yang lain mengikuti Kuro dari belakang.
"Kau memang pembuat ulah, Kuro."
"Eh?"
Dia terkejut karena yang berkata adalah Laila.
Semua yang mendengar itu mengangguk bersamaan dengan kompak.
"Hoy...."
"Kau tak pernah sadar dengan perbuatanmu sendiri?"
"....tidak. Lebih baik kuperkenalkan kalian kepada Ayahku. Gadis ini adalah Laila. 3 berandalan itu adalah teman sekelasku. 2 orang itu pasangan yang baru jadi- ugh.. Hey jangan melempar batu ke arahku."
"Siapa yang kau sebut berandalan, brengsek!"
"Tentu saja kalian. Oh.. dari yang kiri Jinn, Knox, lalu cowok berdada besar itu Charlmilia. Sedangkan mereka berdua Lairo dan Aldest. Mereka berdua adalah Knight di kota Areshia."
Akhirnya Kuro selesai memperkenalkan mereka semua. ...dengan cara yang bisa dibilang kurang ajar.
"Knight ...kah..."
"Jangan kawatir, jika macam macam kita tinggal membunuh mereka dan memberikan mayat me- Ouch."
Laila mencubit Kuro saat mendengar rencana jahat Kuro.
"Jangan bercanda di saat seperti ini."
"Iya iya..."
Kejadian beberapa tahun yang lalu sangat terkenal dan masih menjadi pembicaraan hingga sekarang.
Dari reaksi Ayah Yui, Knight tampaknya masih dibenci di klan Blad.
"Kami memang membunuh mereka yang berbuat macam macam dan mengganggu kedamaian desa, itulah prinsip klan Blad. Jadi jangan dianggap serius lelucon Kuro."
Meskipun Ayah Yui mengatakan dengan senyuman, namun itu tak ada bedanya dengan perkataan Kuro. Semuanya mengerti hal ini adalah sebuah peringatan secara tak langsung.
"Namaku Roka Yuuki. Pemimpin desa ini. Kalian pasti mengalami hal sulit saat bersama dengan Kuro. Kami mengerti perasaan kalian."
"Ugh."
Kuro dikenal sebagai pembuat ulah sejak kecil bahkan oleh keluarganya sendiri. Sekarang mereka tahu itu.
"Kuro, satu hal yang ingin kutahu. Apa hubunganmu dengan gadis manis ini?"
"Ohh La-"
"Ayah, kak Laila adalah calon istri kak Kuro."
Yui memotong perkataan Kuro dengan nada ceria.
Saat mendengar hubungan Kuro dengan Laila, Roka terdiam. Tapi setelah beberapa saat menunjukkan muka yang menyeramkan dan langsung memukul Kuro dengan kekuatan penuh di bagian perut.
"Guh..."
"APA YANG TELAH KAU PERBUAT, DASAR BODOHH....!!!"
Roka benar benar marah.
Kuro yang menerima pukulan telak terbang dengan kecepatan tinggi akhirnya terhenti karena membentur sebuah pohon hingga tumbang.
Semua yang melihat itu tak sanggup merespon karena Roka memukul Kuro secara tiba tiba. Bahkan termasuk 3 naga yang selalu siap melindungi Kuro.
"Kurooo...."
Laila berlari menghampiri Kuro dengan wajah kawatir.
"Yui, apakah itu tak apa apa?"
Charlmilia datang mendekat. Meskipun menanyakan itu, Charlmilia terlihat tenang.
"Dia pantas mendapatkan itu. Paman terima kasih."
"Terima kasih telah menggantikan kami."
Jinn dan Knox ikut mendekat dengan wajah senang.
"Yahh... aku memang harus melakukan itu sebagai orang tua, ....tapi mendengar itu dari kalian, bocah itu pasti merayu gadis gadis di sekolah kalian."
"Anda benar benar tahu rupanya."
"Paman pasti mengalami masa masa berat."
Entah mengapa mereka bertiga mengangguk dan mendesah secara bersamaan.
Meskipun baru pertama kali bertemu, ikatan tampaknya sudah terjalin di antara mereka bertiga.
"Oh iya Ayah, dimana yang lain?" tanya Yui.
Meskipun sebuah desa, namun terlalu aneh jika hanya ada Ayah Yui di tempat itu.
"Mereka di tempat biasanya. Kau tahu jam seperti ini mereka semua sedang belajar. Sebagian lagi sedang membeli bahan makanan bersama Charlotte. Kurasa mereka akan segera kembali."
"Begitu rupanya."
"Kalian pasti lelah. Meskipun desa kecil, kuharap kalian bisa menganggap rumah sendiri. Yui tolong ajak mereka ke desa."
"Okay..."
"Kalian ikuti Yui. Meskipun aku ingin mengobrol, tapi ada hal yang harus kulakukan. ....secara pribadi."
Yui lalu melangkah pergi.
Jinn dan yang lain tanpa ragu mengikuti Yui secara berurutan meskipun tak tahu mereka akan diajak kemana.
"Sampai jumpa, Paman."
Jinn melambaikan tangannya sebelum berpisah.
Setelah berpisah, Yui mengajak memasuki salah satu rumah kayu.
Dari luar mereka tahu rumah itu terlihat sederhana, tapi saat memasukinya, mereka menemukan suatu yang mengejutkan.
"Lift?" kata Lairo.
Sebuah lift yang bisa dibilang berteknologi tinggi ada di dalam rumah itu.
"Tempat ini hanyalah tempat untuk para naga mendarat dan pergi. Desa kami sebenarnya berada di dalam gua bawah tanah."
"Heeh..."
"Tapi apa tidak apa apa kita meninggalkan Kuro dan Laila? Aku tahu pukulan ayahmu bukan pukulan biasa."
Perkataan Charlmilia tidak salah.
Mereka sadar Roka tak hanya memiliki tubuh yang besar dan kekar, namun juga memiliki kekuatan yang luar biasa meskipun tak menggunakan sihir seperti Kuro.
"Tenang saja, kak Kuro akan baik baik saja ...mungkin."
"Hey..."
Mereka semua masuk ke dalam lift yang cukup besar lalu turun ke dalam bawah tanah tanpa Kuro dan Laila.
"Yui... mungkinkah lift ini digerakan tanpa menggunakan Magnite?"
Magnite merupakan kristal yang digunakan sebagai energi untuk teknologi yang menggunakan sihir(Magitec).
Ponsel yang sekarang dipakai mereka semua bahkan menggunakan Magnite sebagai battery. Magnite seperti energi mana yang berasal dari alam dan menjadi kristal, karena itulah penyihir dapat merasakan energi mana dari Magnite meskipun lemah. Itulah kenapa saat memasuki lift, mereka semua pasti sadar kalau lift itu tak menggunakan Magnite.
"Yup. Tak hanya lift, sebagian besar kebutuhan energi desaku tak menggunakan Magnite."
"Jadi kalian menggunakan murni teknologi ilmiah?" tanya Aldest.
Dia tampaknya tertarik dengan teknologi di desa Yui karena hal seperti murni teknologi sangatlah jarang di dunia.
"Ya. Kami tak ingin musuh mengetahui tempat ini, jadi kami harus tak menggunakan teknologi sihir."
"Tapi aku sedikit terkejut kalian dapat membuat lift secanggih ini. Mungkinkah ada alkemis di desa kalian?"
Alkemis dikenal sebagai pengembang teknologi atau ilmuan. Sebagian besar mereka berada di ibukota dan membuat teknologi terbaru untuk militer maupun masyarakat.
"Tidak. Bahkan jumlah penyihir di desa kami hanya sedikit.... Ah kita sampai.."
Setelah lift berhenti, pintu terbuka dan memperlihatkan cahaya terang seperti sinar matahari dari langit langit gua.
Mata mereka semua melebar saat melihat pemandangan yang menakjubkan dan sulit dipercaya.
Sebuah desa dibangun dalam sebuah gua yang luasnya 5 kali lapangan sepak bola. Rumah di desa itu sebagian terbuat dari batu, tapi terlihat mewah dan elegan seperti rumah modern.
Taman juga ada di berbagai sudut desa. Yang lebih mengejutkan, pohon dan rerumputan tumbuh subur di tempat itu.
"Selamat datang di desaku."
Semua keluar dari lift dan merasakan hembusan angin yang sejuk. Mereka hampir tak bisa membedakan apakah mereka ada di dalam gua atau permukaan.
Tapi mereka tahu sekarang mereka benar benar berada di dalam sebuah gua saat memperhatikan langit yang tak ada matahari, tapi banyak cahaya terang sebagai gantinya.
"Hey.. Lairo. Tampaknya kita menemukan tempat untuk bulan madu."
"Heh?"
Lairo membeku di tempat karena mendapatkan firasat buruk.
Sementara Lairo mendapat masalah, Yui melangkahkan kakinya menelusuri jalan yang juga terbuat dari batu yang disusun rapi dan rata.
Semua mengikuti, tapi entah mengapa Aldest sangat lengket dengan Lairo dan menggandeng tangannya dengan erat.
"Kita istirahat di rumahku sampai urusan kak Kuro selesai. Sampai saat itu tiba, kalian bebas mau beristirahat atau berjalan jalan, tapi aku peringatkan kalau desaku sedikit waspada dengan orang asing, jadi beritahu aku jika kalian ingin pergi."
"Baiklah."
"Kami mengerti."
"Satu hal lagi. Kalian jangan berbuat hal aneh karena Emera akan langsung memakan kalian jika melakukan hal itu."
"Emera, siap-"
"Wooooaaa...."
Tiba tiba Jinn berteriak. Wajahnya panik dan pucat pasi karena tubuhnya tiba tiba terangkat oleh sesuatu yang tak terlihat. Lebih tepatnya bajunya digigit oleh suatu yang tak terlihat dan besar.
"Itu Emera."
Sepasang mata biru besar tiba tiba terlihat di udara tepat di belakang Jinn. Setelah itu sebuah makhluk besar tiba tiba muncul seperti siluman.
Naga biru sebesar 25 meter tiba tiba muncul di depan mereka semua.
"Jangan bilang..."
"Akan kuperkenalkan nagaku dan merupakan salah satu penjaga desa ini, Emera. Seperti yang kalian lihat, Emera sama seperti Ruby. Salah satu dari 13 Dragon King Class."
Emera menjatuhkan Jinn ke tanah dan meraung kecil. Tak seperti Ruby, Emera terlihat lebih jinak.
Tapi mereka juga sadar Emera mempunyai kemampuan luar biasa karena bisa menghilang. Tak hanya itu, hawa keberadaannya juga tak terasa seperti tak pernah ada.
Assasin Dragon mungkin julukan yang cocok untuk Emera.
Jinn yang mendarat dengan bokong langsung melangkah mundur karena ketakutan.
"Hmmm... Itu jaminan bulan madu kita tak akan diganggu. Benarkan Lairo?"
"Apa kau bilang?"
Lairo benar benar tak mengerti apa yang dipikirkan Aldest saat ini.
"Emera hanya memperingatkan kalian, jadi kuharap kalian semua mengerti apa yang boleh kalian lakukan dan apa yang tidak boleh kalian lakukan disini."
"Iya iya..." jawab Charlmilia.
Mereka semua lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Yui dan meninggalkan Emera.
"Tapi ngomong ngomong.. urusan Kuro itu apa?"
".....Itu..."
__ADS_1
Yui terlihat sedih sebelum menjawab pertanyaan Charlmilia seperti sebuah tanda buruk.