Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Change


__ADS_3

Seminggu tepat setelah Riana meminta Kuro dan Laila untuk tak ikut campur dalam misi yang dia laksanakan. Seluruh penjuru ibukota yang mulanya ramai kini sepi tanpa ada kehidupan yang terlihat. Yang ada hanyalah kristal berbentuk bunga yang berada di tengah kota. Kristal indah berkilauan yang sangat cocok untuk dijadikan perhiasan itu terus tumbuh dan membesar seolah tak ada yang bisa mencegahnya.


Di berbagai sudut kota, Knight dengan posisi siaga terus mengawasi perkembangan setiap kali kristal tumbuh. Bagaimanapun juga, kristal itu adalah perwujudan dari kekuatan musuh. Meskipun saat ini mereka tak bisa berbuat banyak, namun setiap infomasi sangatlah penting.


"Wow.. Ini lebih besar daripada yang kuduga. Bagaimana mereka melakukannya?"


Di langit, seorang pemuda berbicara sendiri. Dia terbang dengan menunggangi naga merah yang masih muda.


Setelah cukup puas melihat dan tahu kristal itu tak menyentuh hal yang berharga baginya, dia turun menuju salah satu rumah mewah yang berada di wilayah bangsawan.


Ketika turun, dia disambut oleh gadis kecil. Tak lupa 10 maid berada di belakangnya berbaris dengan rapi.


"Selamat datang, kak Kuro"


Yui berlari dan memeluk Kuro.


"Aku pulang, Yui."


"Aku tahu pasti banyak hal yang ditanyakan, tapi bolehkah aku bertanya terlebih dahulu?"


Karena tak ada di rumah, maka wajar Kuro tak tahu perkembangan situasi. Meskipun dia mendengar rumor dari tempat yang dia singgahi, itu tak bisa dia jadikan patokan.


"Jika kau bertanya mengenai penampilanku, ini hanyalah efek samping dari latihan. Jangan kawatir, aku akan kembali jika saatnya sudah tiba."


Normalnya Kuro akan berambut hitam kelam dan ditambah dengan mata hitam yang lebih gelap dari kegalapan itu sendiri, namun kali ini penampilanya jauh dari normal.


Rambut putih bagaikan salju dan mata putih bagaikan sebuah bintang yang memancarkan cahaya. Tak hanya itu, dari aura yang terpancar, dia seolah orang yang berbeda dari seminggu sebelumnya.


"Begitu rupanya... Untuk sesaat aku seperti melihat Demon King telah bangkit."


Tentu ini bukan pertama kalinya Yui melihat penampilan Kuro. Bahkan saat di kampung halaman, desa klan Blad, wujud Kuro berubah menjadi sosok putih dalam beberapa waktu setelah pemulihannya selesai. Hanya saja, kali ini Eyes of Origintelah aktif.


Jika dilihat dari kejadian itu, kemungkinan besar wujud Kuro seperti itu karena habis pulih dari luka yang cukup berat. Tapi pertanyaannya adalah apa yang mampu membuat Kuro terluka berat seperti itu?


"Baiklah, berhentilah bercanda. Ngomong ngomong dimana Laila?"


Dalam kondisi biasa, Laila pasti akan menyambutnya. Apalagi setelah seminggu tak bertemu, mana mungkin Laila melewatkan momen mengharukan itu.


"Uh.. Errr..."


Untuk alasan tertentu, Yui terlihat dalam masalah.


"Yui...?"


Kuro lalu melirik ke arah Guila dan lainnya. Entah mengapa mereka juga menunjukkan ekspresi yang sama. Di antara mereka bahkan ada yang menghindari tatapan Kuro.


Dia merasakan firasat buruk. Setelah itu, Kuro tergesa gesa masuk ke dalam rumah untuk menemui Laila.


Kuro naik ke lantai 3 menuju kamarnya. Dia membuka pintu dan melihat ke segala arah. Namun dia tak menemukan sosok Laila di manapun.


"Laila?"


Kuro memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Dia mencari Laila dengan menggunakan pancaran ki.


"Kenapa kau di tempat itu?'


Kuro menuju tempat Laila berada, namun dia langsung berhenti saat merasakan pancaran ki milik Laila tiba tiba muncul tak jauh darinya. Mengingat letak sebelumnya, seharusnya hal ini mustahil.


"Kuro..."


Tetapi saat mendengar suara lemah lembut dari kekasihnya, maka Kuro percaya dengan apa yang terjadi.


Sayangnya, saat melihat Laila, Kuro tak bisa menahan dirinya untuk bertanya.


"...siapa kau?"


Kenapa Kuro menanyakan itu? Mungkinkah karena dia tak bisa mengenali kekasihnya sendiri?


Salah. Dia tahu Laila berada di depannya. Hanya saja, tampaknya bukan dirinya saja yang berubah.


Rambut Laila yang sepinggul kini memanjang hingga ke lutut seolah waktu sudah lama berlalu. Laila juga bertambah tinggi sekitar 7 cm. Tak hanya itu aura Laila kini berubah total.


Tetapi dari semua perubahan itu adalah warna rambut Laila yang semula pirang emas, kini berubah warna menjadi biru meskipun hanya sebagian. Atau lebih tepat jika warnanya bercambur menjadi biru dan pirang. Matanya juga sama. Pupil yang bagaikan ruby kini juga memancarkan cahaya biru.


Melihat perubahan besar pada kekasihnya, mana mungkin Kuro tak bertanya.


Laila tersenyum dengan bibir kemerahan. Entah mengapa sekarang dia lebih sexy dan dewasa daripada sebelumnya.


"Tentu aku adalah orang yang kau cintai. ...aku salah?"


Disaat yang sama, Laila mendekat.


"Kau tidak salah. Aku tahu hal ini terjadi cepat atau lambat, namun sepertinya ini lebih cepat daripada dugaanku."


Kuro juga tersenyum.


Kemudian mereka berciuman. Disaat itulah, air mata menetes dari mata Laila. Dia tak sedih, namun karena bahagia.


Tak berapa lama kemudian, Yui tiba karena mengerti Kuro butuh penjelasan mengenai apa yang terjadi. Yui tahu dia tak bisa lolos dari hukuman, namun setidaknya dia harus berbuat sesuatu.


Saat tiba, dia melihat keduanya masuk ke kamar dan mengunci pintu. Tentu Yui mengetahui apa yang akan mereka lakukan.


Sepertinya, kekhawatirannya tak perlu diperlukan.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Keesokan harinya, Kuro dan Laila sarapan bersama dengan Yui. Laila dan Kuro makan dengan tenang seolah semua yang terjadi kemarin adalah hal biasa.


Sayangnya, hal ini membuat Yui semakin tertekan karena dia tak mengerti apa yang terjadi.


"Yui... Aku mendengar semuanya dari Laila. Sepertinya kau benar benar ingin berlatih. Aku senang kau ingin bertambah kuat. Bagaimana kalau aku memberikan latihan spesial?"


Yui langsung membiru.


"Terima kasih kak Kuro, tetapi aku sudah berlatih di Parallel Field selama setahun. Aku ingin menerima tawaranmu, namun seperti yang kau bilang, berlatih berlebihan tidaklah baik."


Latihan Kuro dibagi menjadi beberapa bagian. Easy Mode, Medium Mode, Hard Mode, Spesial Mode dan Hell Mode. Sampai sejauh ini Yui hanya bisa bertahan sampai Spesial Mode, jadi dia tak tahu apa yang harus lalui di Hell Mode.


Di hatinya yang terdalam, dia tak ingin merasakan itu.


Ngomong ngomong, Parallel Field dikategorikan sebagai Spesial Mode.


"Jika kau sudah tahu, kenapa kau membiarkan Laila berada di Parallel Field selama dua tahun?"


"....i-itu..."


"Aku sudah memberitahumu tentang bahaya Parallel Field jika digunakan lebih dari satu hari."


"Tentu...su-"


"Kuro, hentikan. Kau tahu itu bukan salah Yui kan."


Kuro menghela nafas untuk menenangkan dirinya. Bagaimanapun juga Laila benar.


"Aku hanya tak senang karena dia tak berhasil menghentikanmu. Kau pasti mengalami banyak penderitaan di sana."


Parallel Field merupakan tempat yang tepat untuk berlatih dengan waktu singkat karena memiliki perbedaan aliran waktu. Sayangnya, efek samping juga tak bisa dibantah.


Tempat itu akan menyesuaikan latihan paling tepat dan efektif bagi penggunanya. Tak hanya itu, di dalam ruangan penyihir tak akan pernah kekurangan energi sihir, tetapi bukan berarti tak terbatas. Dengan kata lain, saat habis, energi sihir akan terisi kembali sampai penuh dan pengguna akan berlatih kembali.


Bisa dibilang daripada disebut sebagai latihan, itu lebih pantas disebut sebagai siksaan. Karena itulah penggunaan lebih dari satu tahun akan berbahaya.


"Aku sudah bilang semua itu tak perlu kau pikirkan. Seperti yang kau lihat, aku bertambah kuat. Dan tentu kau lebih tahu perubahan lainnya kan...?"


Kuro hanya bisa mendesah sambil melirik godaan iblis dari tubuh kekasihnya. Jika Laila sudah bilang tak apa apa, maka tak ada yang harus dipermasalahkan lagi.


"Baiklah, cepat makan. Besok adalah hari penting karena kita akan menyelamatkan Lic."


"Tentu saja kita akan melakukannya."


"Kali ini aku tak akan menahan diri. Bilang hal hal itu kepada tuan putri kita."


Guila mengangguk tanda mengerti perintah Kuro.

__ADS_1


Setelah sarapan, mereka membahas apa yang terjadi selama Kuro tak ada.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Sementara itu, Riana mendesah lagi. Saat melihat laporan yang penuh dengan masalah, dia tak punya pilihan mendesah.


"...kenapa ayah diam saja mengenai masalah ini?"


Sebagai seorang pemimpin, kaisar harus bisa membuat keputusan yang tepat. Salah satunya langsung melakukan perintah evakuasi setelah kristal menyerupai tumbuhan mulai muncul. Agar tak terjadi kepanikan, seluruh Knight diperintahkan untuk membantu evakuasi penduduk.


Beruntung musuh tak menyerang, namun mungkin karena tujuan mereka tercapai, maka tak perlu melakukan hal yang tak perlu.


Setelah evakuasi selesai, investigasi dilakukan untuk mengetahui apa dan sebenarnya kristal yang tumbuh itu.


Dugaan awal itu adalah mana yang mengkristal. Setiap serangan sihir yang mengarah ke kristal akan dihisap dan dijadikan sumber energi. Serangan non sihir seperti meriam dan senjata api tak memiliki banyak pengaruh karena akan terpental.


Pilihan lain menggunakan elemen suci. Victoria menyerang dan berhasil memberikan dampak, namun setelah beberapa saat bunga kembali tumbuh. Melihat semua usaha serangan tak satupun berhasil, pemerintahpun menyerah.


Tapi bukan berarti tak melakukan apa apa.


Karena tahu kapan ritual akan terjadi, maka dengan waktu yang ada digunakan untuk mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan untuk melawan musuh.


Dengan absennya Leon, maka yang bisa diandalkan adalah 4 paladin lainnya.


Tetapi, itu tak semudah yang Riana pikirkan.


Electra dipastikan bisa datang ke ibukota. Bahkan dia berjanji membawa bantuan.


Paladin Takioz tak bisa datang karena dia sudah tak bisa bertarung dengan kekuatan penuh karena usia tua. Melihat data pertempuran selanjutnya, dia merasa akan menjadi beban. Sebagai gantinya, dia akan mengirim bantuan.


Untuk paladin Aramiz akan datang membantu, namun sang kaisar memerintahkan dia untuk tetap berada di wilayah yang dia pimpin. Alasan lainnya, jika semua Paladin berada di satu tempat, maka pertahanan akan berkurang. Ada kemungkinan negara lain menggunakan kesempatan ini untuk menyerang. Lagipula terjadinya masalah di ibukota sudah tersebar luas.


Sedangkan paladin Ice Queen, tak ada yang tahu keberadaan dirinya. Tak ada yang bisa dilakukan selain berharap dia akan tiba tiba muncul.


Kemudian melihat siapa saja yang akan terlibat dalam pertempuran, Riana mencoba menyusun strategi.


Sayangnya, ketika melakukan itu dan berkonsultasi dengan ayahnya, dia justru mendapatkan sebuah nasehat.


[Riana, sepertinya kau tak mengerti arti sebuah pertempuran.]


Setelah mengatakan itu, sang kaisar tak memberikan banyak kata lagi.


Dalam hatinya yang terdalam, Riana sadar dia masih belum berpengalaman atau mengerti seni berperang. Dia tak memiliki kekuatan besar seperti Victoria, jadi memang tak ada yang bisa dia lakukan dalam pertempuran langsung. Menyadari kelemahannya, dia mencoba yang terbaik, namun itu justru sebuah kesalahan.


Riana tak mengerti.


"..."


Riana sekali lagi mendesah. Dia lalu berdiri melihat pemandangan kota dari celah jendela yang sudah terpasang perisai tingkat tinggi.


"Besok..kah.."


Disaat itulah, suara ketukan terdengar.


"Masuk.."


Setelah memberi izin, seorang pelayan masuk dengan membawa dokumen di tangannya.


"Jangan memberikan laporan yang hanya membuat kepalaku pusing, Flora."


"Saya tahu laporan saya memang membuat anda pusing, namun saya datang untuk memberi tahukan kalau nyonya Electra sudah tiba dengan membawa bantuan."


"Bibi Electra..?"


"Sayangnya, hmm.. Bagaimana mengatakan ini.."


"Apakah ada masalah?"


"Tidak juga. Saat mengetahui nyonya Electra bilang akan membawa bantuan, saya tak menyangka dia akan membawa mereka."


Mendengar itu, Riana memiliki firasat buruk.


Firasat itu terbukti saat mengetahui siapa yang Electra bawa.


Riana memaklumi saat membawa Aldest, namun kenapa dia membawa dua murid sekolah dalam pertempuran hidup dan mati?


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


"Aku mendengar kalau teman sekelasmu datang ke ibukota ini, kak Kuro. Mungkin nenek Electra membawa mereka."


Kuro dan Laila mendesah dengan kompak. Keduanya tak begitu terkejut dengan berita itu.


"Masalahnya adalah kita tak tahu bagaimana nasib Charlia dan Leon. Apakah ada perkembangan?"


"Sejauh ini tidak. Keduanya seperti menghilang dari dunia ini."


"Begitu rupanya..."


Kuro menghela nafas. Bagaimanapun juga dia merasa kawatir dengan keselamatan Charlmilia.


"Kuro, tenang saja. Dia pasti akan baik baik saja. Aku yakin dia akan muncul dengan heboh seperti ukuran dadanya."


"Aku hanya kawatir, jangan cemburu seperti itu."


Aura pink dengan cepat menyelimuti keduanya.


"Tentu saja. Mana mungkin aku tak cemburu saat kau memikirkan gadis lain. Sifatmu memang tak pernah berubah. Kau selalu baik kepada wanita yang kau temui, karena itulah kau selalu terjebak dengan masalah wanita."


"Tolong jangan ingatkan itu. Meskipun begitu, kau tahu hanya dirimu yang aku cintai kan?"


"Entahlah. Berapaย  banyak wanita yang jatuh dalam pelukanmu sampai saat ini?"


"Tolong hentikan!!"


Pembicaraan selanjutnya hanya membuat hati Kuro menjerit. Laila tak hanya bertambah kuat dalam segi bertarung, namun juga menghadapi sifat Kuro.


Waktu berlalu dan malam pun tiba. Malam yang biasanya gelap gulita dengan cahaya bulan berganti dengan cahaya merah yang mengancam. Disaat yang sama dua bulan yang berdekatan kini mulai hampir menyatu.


Waktu sudah dekat. Kurang dari 24 jam pertarungan di ibukota akan dimulai.


Dalam hal ini membentuk strategi dan mencari informasi mengenai musuh mungkin lebih tepat, namun saat ini yang terpenting adalah beristirahat.


Sayangnya, Kuro tak bisa setenang itu.


Di salah satu ruangan, dia melihat pedang putih yang memantulkan cahaya. Jika dilihat dengan mata biasa mungkin pedang itu tak jauh berbeda dengan pedangnya yang dulu, namun kedua pedang itu dibuat dengan bahan yang berbeda.


Pedang kembar putih yang menjadi senjatanya saat ini merupakan senjata yang terbuat dari taring naga. Bukan naga biasa, namun naga Dragon King Class, Ruby.


Meskipun tak sekuat pedangnya yang lama, namun senjata yang terbuat dari taring naga merupakan senjata dengan kualitas nomor satu. Apalagi taring naga dikenal sebagai senjata yang mampu menembus pertahanan apapun.


Tiba tiba pintu diketuk. Laila masuk dan melihat apa yang dilakukan Kuro.


"....Kau sudah selesai memotong rambutmu?"


Rambut panjang selutut Laila kini tinggal sepunggung. Meskipun Kuro senang rambut Laila menjadi panjang dan indah, namun Laila memutuskan untuk memotongnya.


Rambut panjang hanya akan mengganggu gerakan Laila saat bertempur.


"Yeah, begitulah. Aku bisa memanjangkannya setelah pertarungan selesai. Bagaimana menurutmu?"


"Di mataku kau selalu bagaikan malaikat jadi gaya rambut apapun yang kau gunakan akan selalu membuatmu tetap paling cantik."


"Terima kasih. Yah.. Aku senang kau tak marah, namun bukankah kau menyukai rambut panjang?"


Kuro tersenyum. Dia lalu membelai rambut Laila yang memiliki dua warna.


"....aku menyukainya. Tetapi aku tak pernah bilang orang yang kucintai harus memiliki rambut panjang."


"Buu.. Kau selalu begitu."


Laila merebahkan kepalanya ke dada Kuro. Keduanya lalu berpelukan.


"Nee... Kau ingat janji kita kemarin?"

__ADS_1


"Mana mungkin aku lupa. Setelah semua selesai, kita akan tinggal bersama di rumah kecil dengan du-"


"Sepuluh!"


"Sepuluh putra dan putri. Kita akan hidup tenang tanpa bertempur. Hanya ada kedamaian dan kita bisa melihat perkembangan anak anak kita."


"Hehehhe... Itu impian yang indah."


Kuro mengangguk.


"Tapi sebelum itu..."


"Yah..."


"Kita harus mendapatkan kembali salah satu dari putri kita."


"Kita akan membuat mereka membayarnya."


Malam itu, keduanya membulatkan tekad untuk merebut apa yang menjadi milik mereka.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Pagi harinya, Kuro dan semuanya bersiap untuk bertempur. Meskipun begitu, Kuro hanya mempersiapkan senjatanya, dua pedang kembar putih. Sedangkan Laila dan Yui berganti dengan pakaian khusus yang berfungsi untuk melindungi mereka dari serangan sihir dan luka fisik. Untuk Guila dan lainnya berganti dari seragam maid menjadi seragam maid dengan pelindung di berbagai tempat. Bisa dibilang mereka menjadi Battle Maid.


"Kita akan bergerak dengan cara yang pemerintah gunakan. Pastikan kalian tak melakukan hal yang tak perlu dan segera habisi musuh yang ada."


"Tuan Kuro, bagaimana dengan kristal yang ada di kota? Aku tahu kita mengincar siapa dalang di balik semua ini, namun kristal itu membuatku tak nyaman."


Rencana Kuro adalah menghancurkan musuh sebelum ritual dilakukan. Tentu ada kemungkinan pihak pemerintah juga memiliki rencana yang sama. Tetapi Kuro tak peduli atau memiliki keinginan untuk bekerja sama. Baginya, saat Riana memerintahkan untuk tak ikut campur merupakan sebuah penolakan dari pihak pemerintah.


"Tenang saja. Selama ritual tak terlaksana, semua akan baik baik saja. Lagipula seharusnya hal ini mudah bagi kalian semua. Apakah kemampuan kalian mulai tumpul?"


Aura mencekam tiba tiba muncul dari semua maid.


"Kukuku... tuan Kuro, anda semakin pandai bercanda. Apa kau lupa siapa kami?"


Setiap maid di rumah Kuro merupakan kriminal tingkat S yang dikenal sebagai tingkat paling berbahaya. Normalnya mereka semua akan mendapat hukuman mati, namun berkat Kuro mereka mendapatkan kesempatan kedua.


"Tentu tidak lupa. Kalian berpencar dan temui Boris. Aku yakin dia tahu apa yang harus kalian lakukan."


"Dengan senang hati, tuan Kuro. Kami memang tak peduli dengan negeri ini, tapi kami sudah bersumpah untuk mengabdi pada dirimu. Jika kau menginginkan kedamaian, maka kami akan melakukannya meski mengorbankan nyawa kami."


"Bagus. Mulai bergerak!"


Dalam sekejap, semua Battle Maid menghilang bagaikan berteleportasi. Tentu sebenarnya mereka hanya bergerak dengan cepat.


Kemudian, Kuro menatap ke arah langit.


"....sebelum kita mengamuk, sebaiknya kita menyambut tamu terlebih dahulu. Kalian tak keberatan?"


"Tentu, tapi.."


"Ada apa Laila...?"


"Entah mengapa ak-"


Dari langit, sebuah cahaya bagaikan bintang jatuh melesat ke arah mereka. Dari energi yang terpancar, tak diragukan lagi itu adalah seorang penyihir, namun juga bisa berupa serangan sihir jarak jauh.


Tak ada yang tahu pasti siapa atau apa, namun karena menuju ke arah mereka, mereka tak punya pilihan selain menghadapinya.


Tentu mereka terburu buru, namun mereka harus bersiap dengan segala kemungkinan. Termasuk kemungkinan musuh akan menyerang duluan.


Dan dengan sebuah ledakan besar, sosok tiba tak jauh dari mereka.


Laila bersiap dengan Scarflare di tangannya. Kuro bersiap dengan pedang putih, sedangkan Yui dengan belati kembar.


"Oi oi.. Apakah itu cara menyambut orang yang datang baik baik..?"


Dari kepulan asap sosok menunjukanย  wujudnya. Mata Laila melebar saat tahu siapa yang datang.


"...um.. Mungkinkah kau.... Kakak?"


Pemuda dengan rambut pirang dan mata merah ruby. Selain itu memancarkan aura nyaman dan kuat.


"Apa kau sudah lupa dengan kakakmu sendiri karena tak bertemu hampir satu tahun?"


Arthuria melirik ke arah Kuro. Dia lalu tersenyum.


"Yah.. Itu wajar karena kau punya kekasih tampan seperti dia. Ngomong ngomong kenapa kau tak memanggilku kakak tersayang?"


"Jangan bercanda kakak. Aku terkejut kau kembali, tapi aku tak menyangka kau masih menjijikkan seperti biasanya. Bisakah kau segera pergi dari sini?"


Kuro dan Yui melirik ke arah Laila. Keduanya penasaran karena sadar aura tak menyenangkan keluar dari Laila. Bagaimanapun ini aneh karena bukan menjadi pertemuan yang mengharukan antara saudara.


"Fufu.. Ayolah.. Aku sangat rindu padamu, dan aku baru tiba namun kau menyuruh kakak tercintamu pergi. Kau memangย  tak jujur dengan hatimu seperti biasa. Mari berpelukan.."


Arthuria merentangkan dua tangannya seolah bersiap berpelukan. Dia mendekat ke arah Laila yang terlihat jijik.


"Jangan mendekat!"


Laila menciptakan puluhan bola api dan tanpa ragu menyerang Arthuria.


"Apa kau ingin menunjukkan kemampuanmu yang sudah berkembang? Kakak senang sekali kau masih bersemangat."


Arthuria dengan lincah menghindar meskipun bola api melesat dengan kecepatan tinggi. Dia bahkan tak melakukan gerakan percuma dan hanya menghindar dengan gerakan sederhana.


"Kau sudah lebih baik, namun kau harus lebih menggunakan strategi jika ingin mengenai target."


"Aku tahu itu!"


Puluhan bola api mengerumuni Arthuria, lalu tiba tiba bola api berubah menjadi Scarflare dan menyerang Arthuria tanpa ampun. Meskipun saudara, namun Laila tak ragu menggunakan kekuatan yang mampu membunuh penyihir biasa.


Tentu penyihir biasa akan mati jika terkena serangan Laila, namun Arthuria bukan. Sebelum menyentuh pakaiannya, ujung Scarflare terhenti seolah tertahan sesuatu. Memang. Sebuah perisai dengan ukuran tak lebih dari 1 cm menahan setiap serangan.


"Fufu.. Kau lebih baik, namun kau harus lebih baik lagi."


Sosok Arthuria menghilang dan muncul di dekat Laila. Dia merentangkan tangannya lebar dan berusaha menangkap Laila. Tetapi-


"Apa aku tak boleh memeluk adikku sendiri?"


Arthuria berhenti. Di lehernya kini tiga senjata siap menebas lehernya. Senjata itu tentu dari Kuro, Laila dan Yui yang bereaksi ketika Arthuria bergerak dengan cepat.


"Aku terkejut kalian semua bisa mengikuti gerakanku. Hm.. Ini sulit. Aku sekarang kesusahan jika ingin memeluk adikku tercinta."


"Laila.."


"Aku tahu. Tolong jangan katakan!"


"Bolehkah aku memberi dia nama Siscon Phoenix?"


"Mari kita hiraukan saja dia dan segera membunuh musuh. Kalian setuju kan?" ucap Laila dengan senyuman.


Kuro dan Yui tak punya pilihan selain mengangguk. Bagaimanapun juga Laila menyeramkan.


"Hey.. Jangan abaikan aku. Aku terbang dari Alfheim selama dua hari penuh untuk membantu adikku tercinta, dan aku butuh Imoutonium untuk memulihkan energiku. Laila.... Bisakah ak..guh!"


Laila tanpa ragu mendaratkan uppercut ke rahang Arthuria hingga terbang.


"Jangan ganggu kami, kakak."


"Aku tak menyangka kakak iparku seorang Siscon."


"Kita lupakan saja dia. Aku memang bangga dengannya, namun aku benci saat kebiasaan buruknya muncul."


Dengan desahan berat, ketiganya pergi.


Mereka memang berharap bantuan akan datang atau setidaknya musuh tak akan menyerang. Namun serangan batin yang mereka terima lebih cukup untuk membuat semangat bertarung menghilang.


Prince of Phoenix atau Arthuria dikenal sebagai pemuda kuat yang disebut sebut akan menjadi Paladin selanjutnya. Tapi tampaknya dia tak hanya memiliki kekuatan yang kuat (bagi orang tertentu).


Tak diragukan lagi, kekuatan itu adalah kekuatan kakak siscon.


(Ugh.... Seperti biasa dia memang tsundere)

__ADS_1


__ADS_2