Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Flame Academy


__ADS_3

Seorang gadis cantik tinggi dengan wajah bagai bidadari yang mempesona. Rambut panjang hitam segelap malam dan mata hitam yang menyerap setiap cahaya.


Bibir kemerahan membuat senyumannya mempesona siapapun yang melihatnya. Sungguh sebuah sosok yang sempurna. Jika malaikat turun ke dunia ini, pasti akan seperti dirinya.


Tetapi di balik kesempurnaan itu, sebuah sisi gelap yang mengerikan tersembunyi.


"Sekarang.. bisakah kau beritahu apa kesalahanmu, Ba*ingan!!!"


Gadis itu mencambuk sosok yang terikat terbalik di langit langit. Sosok itu bagaikan sebuah binatang yang akan menemui ajalnya. Bahkan dibilang sebuah keberuntungan jika sosok itu segera menemui kematiannya.


Sayangnya gadis itu tak akan membiarkannya dengan mudah.


"Mmmfhhh..."


Sosok itu memberontak, tapi kain yang menutupi mulutnya membuatnya tak bisa berbicara. Dia hanya bisa menerima nasibnya dan meronta dengan teriakan bisu seperti ulat.


Bagaimanapun kau melihatnya, ini sungguh pemandangan yang kejam.


"Ha...? Apa kau mau lagi? Dengan senang hati aku akan memberikanmu pelajaran sampai kau puas. Haahahhhaha.."


Gadis itu mencambuk sosok tak berdaya itu lagi dan lagi selama 2 jam.


Siapapun tak akan percaya jika melihat pemandangan itu dilakukan oleh seorang gadis yang terlihat seperti inkarnasi malaikat.


Mungkinkah dunia sudah gila?


  - ___---


"Kemana sosok Lunaris-ku yang manis dan suci tiga tahun yang lalu? Oh pasti ini hanya mimpi buruk. Yup, pasti begitu."


Di tempat tidur, Riku mencoba untuk menghapus kejadian yang baru dia alami.


Sosok lemah lembut yang selama ini dia kenal telah berubah. Seolah sosok itu berganti dengan sosok iblis. Jika dia langsung percaya, dia pasti sudah gila.


Selain itu, hukuman yang dia alami hanyalah sebatas tak memberikan makan malam, tapi kali ini yang dia terima tak kalah dari siksaan para kriminal.


Riku sempat berpikir kalau dia bukanlah Lunaris, tapi dia tak mungkin salah mengenali orang.


Dengan kata lain, semua yang baru saja dia alami adalah kenyataan.


".....seseorang pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. Benar.."


Dia masih mencoba menerima kenyataan.


Riku lalu mendesah. Dia melirik luka bekas cambukan di seluruh tubuhnya.


Meskipun terlihat brutal dan menyakitkan, tapi semua luka tak lebih dari goresan. Lalu dengan tubuh Riku yang lebih cepat pulih dari orang biasa, luka itu akan pulih esok hari.


(Jangan bilang karena dia tahu akan segera pulih, dia tak menahan diri? Hey.. aku bukan masokis...)


Dia merebahkan diri mencoba untuk tidur. Perutnya yang berteriak protes meminta untuk diisi tak dia pedulikan.


Dia mencoba untuk tidur, tapi seperti yang diduga, itu sulit.


Keesokan paginya, Riku bangun dengan tubuh lemas. Dia tak tahu, jika dia bukan penyihir, apa dia masih hidup?


Meskipun lukanya hampir pulih sepenuhnya, tetap saja apa yang dia alami kemarin sungguh keterlaluan.


Untuk sekarang dia ingin mandi. Sungguh luar biasa dia bisa tidur dengan tubuh penuh luka dan bau keringat ditambah darah.


Tapi di mana kamar mandinya?


Kemarin dia dibuat pingsan dan dibawa ke rumah (?). Dia langsung disiksa tanpa sempat mencari tahu seluk beluk tempat itu.


Dari luas dan jumlah ruangan, bisa dipastikan kalau dia saat ini berada di rumah yang berukuran sedang. Lokasi berada di pusat kota karena dia bisa melihat keramaian dari jendela.


Entah mengapa dia merasakan suatu yang ganjil, tapi dia melupakan itu dan mencari kamar mandi.


Pada akhirnya dia menemukannya. Dia tahu karena ada gantungan yang bertuliskan 'kamar mandi' di pintu.


Dia masuk, tapi dia langsung berhenti.


"..."


Matanya langsung tertuju pada sebuah sosok yang berada di dalam dengan pakaian saat lahir, dengan kata lain tanpa busana satupun.


Proporsi tubuh yang sempurna, kulit putih yang mulus dan halus. Tubuh basah dan aroma wangi setelah mandi. Sebuah kalung dengan lonceng yang cocok dengan sosok sempurnanya.


*Gulp.


Riku mencoba untuk menahan diri. Pemandangan yang dia lihat saat ini adalah godaan terbesar dalam hidupnya.


Mengingat sosok itu semalam, sulit dipercaya mereka adalah orang yang sama.


Sosok itu mendesah dalam. Dia terlihat tak marah atau kesal karena Riku melihat tubuhnya dengan penuh nafsu.


"Kenapa kau melihat terus? Apa kau sudah lupa tubuh tunanganmu sendiri?"


"Errr... Tentu saja tidak. A-aku hanya terkejut saja.. ahahaha.."


Dalam situasi normal mungkin para gadis akan langsung melempari Riku dengan benda apapun di sekitarnya. Mereka juga akan langsung mengutuk Riku, tapi hal itu tak akan dilakukan Lunaris.


Hubungan Riku dan Lunaris sudah melampaui batas. Bahkan hubungan antara keduanya bisa dikatakan sama seperti pasangan suami istri. Karena itulah tak aneh jika Lunaris tak sedikitpun merasa canggung atau malu di depan Riku.


Sayangnya, berbeda dengan Lunaris. Saat ini Riku benar benar tak tahu apa yang harus dia lakukan.


Tiga tahun yang lalu dia memang terbiasa melihat tubuh Lunaris. Dan karena tahu setiap bagian luar dan dalam (termasuk tahi lalat yang berada di ************), dia tak begitu terkejut dengan reaksi Lunaris.


Tetapi Riku harus mengakui kalau pertumbuhan Lunaris benar benar membuatnya terkejut. Tak hanya semakin cantik, menggoda dan menggairahkan, bagian tubuhnya juga semakin tumbuh menjadi bentuk yang Riku idamkan. Jika ada yang menyebut Lunaris adalah Dewi yang turun ke dunia, sebutan itu sangat pantas untuk Lunaris.


Dia seolah akan segera menangis karena bahagia. Dia beruntung memiliki tunangan seperti Lunaris.


"Kalau begitu cepat mandi. Tubuhmu bau."


"...i-ya..."


Air mata bahagia berubah menjadi air mata kesedihan. Sungguh, sifat Lunaris yang tak bisa membaca perasaan orang masih belum berubah.


Lalu seperti mayat hidup, Riku menuju bak mandi.


"Tunggu!!"


"Un?"


Apa lagi sekarang?


"Aku berubah pikiran. Sejak kemarin aku mencium aroma wanita lain dari tubuhmu. Aku harus memastikan kalau semua bau itu menghilang dari tubuhmu." Lunaris tersenyum. "Jadi... Karena sudah tiga tahun tak melakukannya, aku harap kau bersiap, ....sayang...💕💕"


"...ahaaha..."


(Tolong ampuni aku...)


Dalam situasi normal, Riku akan bersemangat dan senang hati bermesraan dengan Lunaris, tapi dalam situasinya sekarang, mungkin dia akan tewas oleh kenikmatan.


Setelah mandi yang penuh dengan kenikmatan, Riku duduk di meja makan dengan terlihat seperti mayat hidup. Tubuhnya pucat dan jiwanya seolah keluar dari mulutnya.


Apa yang mereka lakukan di kamar mandi hampir membuat Riku benar benar masuk surga.


"Segeralah sarapan. Kita banyak acara hari ini."


Lunaris menaruh sepiring nasi goreng dengan telur berbentuk cinta di depan Riku.


Riku langsung sadar dan merasa nostalgia. Berapa lama dia tak menikmati masakan Lunaris?


Dia langsung saja makan tanpa peduli dengan Lunaris yang melihatnya dengan penuh senyuman hangat.


Kemudian, setelah kesadaran Riku pulih sepenuhnya, dia ingat perkataan Lunaris.


"Banyak acara? Apa maksudmu?"


"Apa kau lupa alasan kenapa kau pulang?"


"Ah..."


Riku ingat masalah besar yang dia hadapi. Lalu dengan seragam merah dengan campuran hitam yang Lunaris kenakan di balik apron, dia bisa menebak kalau tak bisa kabur.


Dan sejak kapan dia memakai seragam yang sama?


"Dari semua saudaramu, kau saja yang sama sekali tak bersekolah. Saat ini mereka bahkan memiliki pencapaian luar biasa di kekaisaran. Wajar saja jika kakek Leon tak membiarkanmu terus berbuat seenaknya."


"Ughh..."


Di kekaisaran hanya ada dua orang yang paling Riku takuti, satu ibunya, yang kedua adalah kakeknya. Bukan karena kakeknya mengerikan, tapi karena terlalu sayang dengan para cucunya, kakeknya memberikan banyak masalah.


"Meskipun ayah dan ibu tak begitu peduli dengan dirimu, bukankah seharusnya kau merasa malu karena ketinggalan dengan para saudaramu?"


"..."


"Dan yang paling parah, apa kau memiliki teman?"


"..."


Serangan kritikal.


Sebagai anak tertua dari keluarga nomor dua kekaisaran, Riku memiliki pergaulan kelas tinggi yang hanya bisa dinikmati oleh para bangsawan dan orang penting.

__ADS_1


Banyak anak anak bangsawan yang diperkenalkan pada dirinya. Kebanyakan hal itu dilakukan karena ingin membentuk sebuah hubungan politik, jadi Riku tak begitu peduli dengan mereka.


Hasil dari semua itu bisa ditebak, jangankan memiliki teman dari keluarga bangsawan, dia bahkan sama sekali tak memiliki teman dari kaum biasa.


"Lupakan masalah itu. Alasan kakek memintamu bersekolah adalah untuk kebaikanmu sendiri. Dan jika kau masih bersikeras tak mau melakukannya, setidaknya lakukan demi diriku."


"Lunaris, ...kau sungguh curang."


Dia memang membenci dipaksa oleh orang lain, tapi dihadapan Lunaris, tak ada satupun hal yang tak bisa dia lakukan.


"Aku senang memiliki tunangan yang pengertian."


Tak ada satupun yang tak luluh oleh senyuman malaikat Lunaris.


 


Kemudian Riku dan Lunaris pergi menuju Flame Academy yang ternyata tak jauh dari tempat yang mereka tinggali. Sebuah rumah dua lantai dengan halaman luas.


Seingat Riku, Flame Academy berada di wilayah timur. Bukan kebetulan Lunaris menemukannya.


Tidak, lebih tepatnya mustahil Riku bisa kabur dari Lunaris.


"Apa tak masalah tak membawa peralatan sekolah?"


Riku bertanya karena baik Lunaris maupun dirinya sama sekali tak membawa apapun kecuali seragam. Untuk Riku sendiri, dia membawa pedangnya karena itu penting baginya.


"Semua perlengkapan sekolah disediakan oleh sekolah. Lagipula dengan alat sekarang, semuanya bisa dilakukan menggunakan handphone."


Lunaris menunjukkan handphone dengan simbol Flame Academy.


"Kau akan mendapatkan milikmu setelah resmi menjadi murid. Yah.. intinya kau hanya perlu fokus belajar."


Lunaris tiba tiba memepet Riku dan memasukkan tangannya ke lengan Riku. Keduanya menempel seperti pasangan yang serasi.


Sosok Lunaris yang cantik menarik perhatian orang di sekitar mereka, tapi dengan tindakannya yang menunjukkan hubungannya dengan Riku, mereka mendapatkan tatapan yang lebih. Terutama tatapan penuh dengan kutukan dari para pria.


Bagi Riku sendiri, karena dia bisa merasakan berbagai hal, dia tak merasakan itu suatu yang buruk. Bagaikan menari di lautan neraka, itulah yang Riku lakukan sekarang.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di depan gerbang besar dengan sebuah simbol yang melambangkan Flame Academy.


Tapi sebelum itu, ada hal lain yang perlu Riku perhatikan.


"Ngomong ngomong, kenapa semua menatapku dengan penuh niat membunuh? Apa aku berbuat kesalahan?"


"Entahlah. Kau akan segera tahu jika bersekolah di sini. Dan ngomong ngomong semua dokumen sudah disiapkan, jadi kau hanya perlu melakukan tes tambahan. Karena hanya sebatas formalitas, aku rasa tak ada masalah berarti."


"Un.."


Sambil menuju ruang kepala sekolah, Lunaris menjelaskan tentang prosedur kepindahan Riku ke sekolah.


"Berbeda dengan dulu, sekolah saat ini menerima murid berdasarkan elemen sihir yang dia miliki. Karena itulah selain kita berdua, Aura dan Saria juga berada di sekolah ini."


Dulu Academy menerima murid dengan elemen yang berbeda beda. Tapi sejak reformasi yang dilakukan oleh tuan putri Norn, Academy telah berubah total.


Perubahan itu cukup banyak yang menentang, tapi itu hanya awal. Reformasi yang dilakukan oleh tuan putri Norn ternyata memiliki hasil yang luar biasa, tak aneh jika penyihir peringkat tinggi lulus dari Academy.


Lalu mengenai Aura dan Saria, mereka merupakan adik Riku dari ibu yang sama. Mereka berdua kembar dan hanya satu tahun di bawah Riku.


Tidak seperti Riku, keduanya adalah penyihir peringkat S.


"Aku dengar mereka cukup bagus di sekolah ini."


"Yah.. sebagian besar tertarik karena latar belakang keluarga, tapi sebagian lagi karena mereka memang memiliki prestasi yang tak kalah hebat. Dalam hal peringkat, mereka selalu masuk 10 besar."


"Itu luar biasa.."


"Karena kau kakak mereka berdua, aku harap kau bisa memiliki prestasi yang lebih baik, tapi..."


"Jangan seolah membuat ekspresi kalau aku akan gagal."


Riku tak begitu memperhatikan sarkasme Lunaris, tapi lebih memperhatikan tatapannya dingin yang sejak tadi dia rasakan dari para murid.


Kenapa ke ruang kepala sekolah saja harus melalui rintangan yang berat?


"Yah.. intinya berusahalah sebaik mungkin."


"Jika boleh memilih, aku lebih senang bermesraan denganmu."


"Bukankah itu bagus? Kau akan mendapat hadiah jika mendapatkan hasil yang membanggakan. Hadiah yang bagus.." ucap Lunaris dengan senyum genit.


"....mungkin aku akan lebih berusaha sedikit.."


Mereka akhirnya tiba di ruang kepala sekolah. Seperti sudah dinanti, ada seorang wanita yang menyambut mereka.


Wanita terlihat berumur 40 tahunan menyambut Riku dan Lunaris. Dari tekanan sihir yang terpancar, dia seorang penyihir peringkat tinggi. Riku tak tahu apakah peringkat S atau Master, tapi tak mungkin seorang Paladin.


"Maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Fresia Vellstan. Orang tuamu memberikan banyak bantuan padaku, jadi jangan canggung. Anggap saja seperti teman sendiri."


"Riku Kagami, salam kenal."


Riku tak begitu tertarik dengan status Fresia, tapi bukankah menganggap teman suatu yang mustahil? Akan lebih masuk akal jika bibi atau Tante kan?


Lalu setelah membicarakan berbagai hal mengenai prosedur kepindahan, Riku dan Lunaris pergi.


Tempat yang mereka tuju adalah sebuah fasilitas sekolah yang bertujuan untuk mengetes calon murid baru.


Normalnya, untuk murid pindahan seperti Riku prosedur seperti ini tak perlu dilakukan, tapi mengingat Riku tak pernah bersekolah sebelumnya, ini bisa dibilang seperti membuat data baru.


Tes meliputi kapasitas energi sihir, tingkat sihir yang bisa dilakukan, kelincahan, keakuratan dan berbagai macam tes lain untuk mengetes kekuatan tempur murid baru.


Riku sendiri tak begitu terkejut dengan hasil tes. Bagaimanapun juga, dia bisa menebak tanpa perlu melihat hasilnya.


"Peringkat B. Yup, sama sekali tak berubah."


Riku tersenyum saat melihat data yang ada pada handphone yang sama dengan milik Lunaris. Sama seperti yang Lunaris sebutkan, handphone itu bisa hampir melakukan semuanya. Bahkan termasuk ATM.


Yang menarik perhatian Riku adalah data yang berisikan tentang poin kontribusi. Karena baru, jumlah yang dimiliki Riku adalah nol.


"Kau begitu senang dengan hasil seperti itu."


"Ada masalah..?"


Berbeda dengan Riku yang senang dengan hasil tes, Lunaris sedikit kecewa.


"Kau tahu, kelas para murid juga didasarkan pada hasil tes, jadi kelas kita akan berbeda."


"Yah.. bukan berarti kita tak akan bertemu kan? Ayolah, ini tak seburuk kelihatannya."


Peringkat Lunaris adalah SS. Jadi kelas dan posisi keduanya benar benar berbeda.


Tentu saja bukan berarti Riku tak mengerti perasaan Lunaris. Bagaimanapun juga normal ingin selalu dekat dengan orang yang kau cintai.


"Baiklah, tak ada yang bisa aku perbuat. Sebagai gantinya, kau harus meningkatkan peringkatmu agar kita bisa satu kelas."


"Aku akan mencobanya."


Di saat itulah handphone Lunaris bergetar memberikan pemberitahuan.


"Ah.. maaf, sepertinya aku tak bisa menemanimu sampai ke kelas. Ada tugas yang menunggu."


"Tak apa apa. Aku bisa ke kelas sendiri."


"Kalau begitu kita bertemu lagi saat jam istirahat."


Lunaris pergi setelah memberikan ciuman.


Riku lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas 1-B. Sekolah memang luas, tapi dengan peta yang ada pada handphone, itu bukan masalah.


Tak butuh waktu lama, dia akhirnya sampai di kelas 1-B. Tempat duduk juga sudah dicantumkan pada data handphone, jadi Riku langsung saja ke tempat duduknya.


Banyak mata yang melirik ke arahnya. Itu bukan suatu yang aneh mengingat dia murid pindahan.


(Meskipun begitu, entah mengapa tatapan mereka menyakitkan)


Riku memutuskan untuk tak peduli.


Sekitar 20 menit, tanda bel pelajaran akan dimulai terdengar. 0Para murid yang terpencar dengan cepat ke tempat masing masing.


Seorang wanita dengan tubuh terlatih memasuki ruang kelas. Tubuh wanita itu bisa terlihat jelas karena wanita itu mengenakan pakaian yang mengekspos bagian tubuhnya. Dia seolah ingin memperlihatkan pada orang lain.


Tetapi yang paling menarik perhatian Riku adalah tekanan sihir yang dikeluarkan oleh wanita itu.


(Peringkat A, tidak. Peringkat S.)


Penyihir peringkat A saja sebenarnya cukup baik, tapi peringkat S berada di level yang berbeda. Pihak Academy memang luar biasa sanggup membuat penyihir peringkat S menjadi guru.


"Kita mulai pelajarannya, tapi sebelum itu kita kedatangan murid baru. Bocah, cepat perkenalkan dirimu agar kita bisa mulai."


Riku sudah menduga akan dipanggil, tapi tidak dengan cara kasar.


Dia berdiri dan memperkenalkan diri dengan sederhana seperti yang dia rencanakan.


"Namaku Riku. Umurku 17 tahun. Karena berbagai alasan, aku baru mulai bersekolah tahun ini. Salam kenal."


Berbagai macam bisikan terdengar. Terutama pada bagian umur. Maklum saja, Riku dua tahun lebih tua daripada mereka semua.

__ADS_1


"Aku dengar kau memiliki situasi yang cukup unik. Tidak masalah, selama kau bisa mengikuti pelajaran, kau akan tetap tinggal di kelas. Helen, aku serahkan dia padamu."


"Baik." Jawab salah satu murid.


"Bocah bocah, kita mulai pelajarannya."


Ruang kelas langsung senyap. Para murid mengeluarkan sebuah alat dari meja masing masing yang dihubungkan pada handphone.


Riku mengikuti temannya dan melakukan hal yang sama. Dia lalu terkejut karena dia bisa melihat layar tipis berisikan mata pelajaran. Tak hanya itu, tampaknya dia bisa mengakses semua pelajaran dari handphone.


Situasi itu melegakan Riku. Bagi muri pindahan seperti dirinya, dia ketinggalan  jauh dari para murid lainnya.


Satu hal yang membuat Riku merasa aneh, kenapa pelajaran pada hari itu berisikan tentang taktik perang?


---


Jam pelajaran berakhir dengan tenang. Riku yang tak begitu mengenal baik tentang taktik perang mencoba melihat kembali pelajaran agar bisa lebih mengerti.


Di saat itulah seorang gadis dengan kacamata mendekat.


"Riku, bisakah kita mulai?"


"Hm?"


Riku ingat dia adalah Helen. Seorang yang dipanggil oleh guru.


"Namaku Helen Trista. Ketua kelas 1-B. Kau bisa memanggilku Helen atau bisa juga ketua kelas."


"Salam kenal, Helen. Lalu apa maksudmu dengan mulai?"


Helen mendesah kecil.


"Apa kau punya rencana saat ini?"


"Aku hanya ingin makan siang di kantin seperti yang lainnya."


"Bagus. Dengan ini kita akan cepat selesai. Ikuti aku."


"Eh?"


"Cepat!!!"


Helen pergi dan Riku dengan cepat menyusul setelah membereskan meja. Tak lupa dia membawa pedangnya.


"Ke mana kita akan pergi?"


Helen tak mungkin mengajaknya makan siang, jadi pasti ke tempat lain.


"Biar aku beritahu, Bu guru Melisa adalah orang tegas dan disiplin. Di kelas tak ada yang berani mencoba melawan perintahnya. Aku sarankan kau tak mencoba membuat masalah."


Jadi namanya Melisa. Riku baru mengetahuinya.


"Itu menjelaskan kenapa kelas begitu tenang. Sungguh, aku tak bisa membedakan pangkalan militer dengan sekolah ini."


"Sebelumnya tidak seperti itu. Bu Melisa adalah guru yang baru mengajar kurang lebih 1 bulan. Latar belakangnya sedikit misterius, tapi banyak yang menduga kalau dia berasal dari militer. Pelajaran tentang taktik perang juga dalam pelajaran, tapi kali ini terlalu sering."


"..."


Apakah ini cara kekaisaran menanggapi perang yang terjadi di luar?


Tapi apakah harus melibatkan para murid sekolah sihir yang bahkan belum bisa menggunakan sihir dengan benar?


"Berkat itu waktu istirahat dan pulang adalah satu satunya waktu di mana kami bisa bernafas dengan lega. Karena itulah aku ingin masalah kita cepat selesai."


"Masalah kita?"


Riku memang selalu terlibat masalah dengan wanita, tapi tak secepat ini.


"Maaf, lebih tepat menjalankan perintah Bu Melisa untuk mengajakmu berkeliling. Karena ada peta, kau bisa mengetahui lokasi sendiri, tapi ada aturan dan tempat yang tak tercantum dalam buku. Aku akan menjelaskan itu saja sambil berkeliling."


"Terima kasih..."


Riku merasa terkesan. Dari cerita Helen tadi, guru mereka tak diragukan lagi seorang iblis. Waktu singkat yang dimiliki Helen digunakan untuk mengurus Riku. Tak mungkin Riku tak terkesan.


Kemudian, sambil berkeliling Helen menjelaskan beberapa hal penting.


Pertama, meskipun di sekolah latar belakang murid disetarakan, tapi di sekolah kasta juga berlaku dalam bentuk lain. Itu adalah peringkat.


Peringkat tinggi berada di puncak dan peringkat rendah adalah pecundang. Dengan kata lain, jangan pernah mencoba membuat masalah dengan murid yang memiliki peringkat tinggi.


Kedua, ada beberapa tempat yang tak boleh dimasuki oleh para murid kecuali memiliki peringkat tertentu. Hal ini juga menegaskan kalau murid peringkat tinggi menguasai segalanya.


Banyak hal lain yang Helen sebutkan, tapi kebanyakan tak jauh berbeda dengan sebelumnya.


"Setelah melalui lorong, kita akan sampai di kantin. Yah.. aku pikir kau bisa menebak aturan apa yang ada di kantin."


"Bahkan makan siang juga?"


"Peringkat tinggi akan mendapatkan perlakuan layaknya raja dan peringkat rendah harus mengantri layaknya rakyat jelata. Meskipun terlihat tak adil, tapi sebenarnya ini hal yang sepadan."


"...Kau memiliki pemikiran yang menarik."


Riku sendiri mengerti kalau kekuatan yang besar membawa tanggung jawab yang besar pula. Tak aneh jika peringkat tinggi mendapatkan perlakuan yang lebih spesial.


Tetapi tak banyak yang menyadari hal ini dan lebih mementingkan emosi. Helen sendiri bercerita banyak masalah karena tak terima dengan perbedaan perlakuan.


"Ini baru pertama kalinya ada yang menyebutku seperti itu. Kau berperilaku sepantas dengan umurmu."


"Aku tak begitu senang mulai bersekolah di usia setua ini."


Keduanya tertawa kecil.


Keduanya lalu mengantri untuk mendapatkan makan siang. Makan siang sekolah memiliki menu yang sama untuk semua murid, jadi tak bisa memilih.


Tapi ada hari tertentu di mana ada menu spesial. Tentu saja langsung menjadi rebutan sehingga hanya yang beruntung bisa menikmatinya.


Saat mencari tempat duduk, mereka cukup sulit karena banyak meja yang penuh. Sedangkan di sudut lain, para murid dengan peringkat tinggi bisa menikmati makanan di meja yang mewah dan dengan jumlah bangku yang sedikit.


Riku bisa menemukan Lunaris di salah satu meja. Dia ditemani oleh dua gadis dengan rambut pirang yang memiliki wajah yang sama. Mereka berdua adalah Aura dan Saria. Adik kembar Riku.


Sama seperti Lunaris, kedua adiknya telah tumbuh menjadi wanita cantik yang memikat lawan jenis. Riku bahkan bisa merasakan banyak lelaki yang mencuri pandang pada mereka bertiga, tapi karena aura yang dikeluarkan ketiganya, ketiganya seperti membuat ruang khusus yang sulit dimasuki.


Tiga tahun sudah tidak bertemu. Ada rasa rindu di benak Riku. Dia kembali diingatkan kalau belum bertemu dengan keluarganya setelah dia kembali.


Apa yang mereka lakukan sekarang?


Mengingat siapa mereka, bukan hal yang aneh jika saat ini sedang membuat masalah di suatu tempat.


Membayangkan itu Riku tersenyum sendiri.


"Riku? Ah.. "


"Apa?"


Seolah mengerti apa yang ada di kepala Riku saat ini, Helen ikut tersenyum kecil.


"Aku tahu kau terpikat dengan mereka. Karena aku senang denganmu, aku peringatkan. Dari semua murid peringkat tinggi, mereka bertiga adalah murid yang harus paling kau hindari."


Riku ingin mengatakan kalau itu mustahil. Bagaimana mungkin menjauhi saudara dan tunanganmu?


"Yang paling cantik adalah nona Lunaris. Selain dia adalah peringkat nomor satu, dia juga ketua OSIS. Latar belakangnya kurang begitu jelas, tapi ada rumor kalau dia sudah bertunangan dengan anak tertua keluarga paling berpengaruh di kekaisaran. Jadi dia bagaikan bunga yang tak terjangkau. Mustahil bagimu mendekatinya."


Orang yang Helen bicarakan ada di depannya. Dan itu bukan rumor lagi. Itu kenyataan.


Sebenarnya itu juga salah keluarga Riku karena belum mengumumkan masalah pertunangannya dengan Lunaris.


Tapi yang mengejutkan Riku adalah kenyataan tentang peringkat nomor satu dan ketua OSIS. Lunaris, kau benar benar membanggakan.


"Yang dua lainnya adalah nona Aura dan Saria. Keduanya memang tak selalu berada dalam peringkat tetap, tapi mereka selalu berada di peringkat 10 ke atas. Keduanya memiliki umur yang sama denganku, tapi mereka lompat kelas hanya dalam satu tahun."


"..."


Tunggu? Jangan bilang kalau adiknya adalah senior di sekolah?


Ini tidak lucu.


"Keduanya berasal dari keluarga Kagami. Keluarga yang menjadi tunangan nona Lunaris. Karena itulah hubungan mereka sangat akrab. Selain itu mereka juga anggota OSIS. Kesimpulannya, apapun yang terjadi, jangan membuat masalah dengan mereka."


"...un.."


Banyak informasi yang memasuki kepala Riku hingga membuat kepalanya tak bisa mencerna semuanya.


Satu hal yang pasti, apa yang terjadi selama tiga tahun tanpa dirinya?


"Yah.. sebaiknya kita cepat makan. Jika terlambat masuk, kau akan mendapatkan hukuman dari Bu Melisa. Kau tak ingin itu terjadi di hari pertamamu kan?"


"B-benar.."


"Sebenarnya masih ada beberapa hal yang harus aku sampaikan, tapi kita bisa lakukan itu pada saat pulang."


Riku mengangguk dan melanjutkan makan siang dengan tenang.


Sayangnya, dia tak menyadari ada tiga aura membunuh yang melirik ke arahnya.


Dia memang tak ingin mendapatkan masalah, tapi masalah selalu menemukan cara menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2