
1 TAHUN YANG LALU
Ibukota kekaisaran Houou, kota Phoenix. Kota ini adalah kota terbesar di kekaisaran Houou dan merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi.
Di tengah kota terdapat sebuah istana megah yang merupakan tempat tinggal kaisar dan keluarganya.
Kota ini terbagi dalam 8 wilayah yang mewakili arah mata angin. Lalu sedikit di bagian tengah, pinggir wilayah istana merupakan wilayah yang ditinggali oleh para bangsawan dan orang orang penting. Dengan kata lain, daerah khusus untuk para elit (eksekutif).
Wilayah khusus ini dipisahkan oleh dinding tinggi dan dan keamanan ketat. Hanya ada 4 jalan masuk, yaitu di barat, timur, utara dan selatan yang juga menjadi jalan untuk memasuki istana.
Disinilah Laila dan keluarganya tinggal, lebih tepatnya di bagian barat wilayah itu.
Sebuah rumah besar 5 lantai mirip istana kecil dengan halaman yang luas.
Meskipun luas, besar dan megah, rumah milik Laila sebenarnya tak terlalu berbeda dengan rumah di samping kiri, kanan, depan atau belakang. Dengan kata lain, rumah sebesar dan semegah milik Laila adalah umum di daerah tersebut.
Tapi pemandangan sedikit berbeda di depan rumah Laila.
Di seberang jalan, terdapat rumah yang 2 kali lebih besar dan megah daripada miliknya. Rumah itu bukanlah milik bangsawan, rumah itu adalah milik orang kaya yang tak diketahui identitasnya. Laila bahkan tak pernah melihat pemilik rumah itu dan hanya melihat pelayan yang berjumlah 30 an.
Hari ini adalah libur sekolah. Jadi Laila tak ada kegiatan khusus. Biasanya dia akan berlatih pedang agar kemampuannya meningkat, tapi entah mengapa dia merasa malas berlatih hari ini. Dan karena itulah dia merasa bosan. Sangat bosan.
Untuk menghilangkan kebosanannya, dia akhirnya memutuskan untuk pergi jalan jalan keliling ibukota.
"Huhh... hari ini lebih panas dari biasanya..." Ucap Laila saat keluar dari rumahnya.
Saat ini musim panas, jadi wajar jika hari ini panas, namun entah mengapa hari ini cuaca lebih panas dari biasanya. Bagi Laila, panas bukanlah masalah, tapi kulitnya akan menjadi coklat jika terlalu lama terkena matahari langsung.
Hari ini dia mengenakan one piece putih, sepatu hak tinggi dan topi jerami berwarna coklat. Dan tak lupa sebuah tas kecil untuk menyimpan ponsel dan uang.
Cantik dan manis. Itulah kesan pertama kali saat melihat dirinya. Dia tak kalah cantik dengan putri negeri ini.
"Nona Laila, apakah anda mau keluar hari ini?"
Seorang maid menanyainya. Maid itu berusia 30an dan merupakan kepala maid di rumah Laila.
"Ya begitulah, Sophie. Aku akan jalan jalan sebentar untuk mencari udara segar. Jika ibu atau nenek menanyakan aku, bilang saja aku sedang jalan jalan."
"Saya mengerti. Apakah saya perlu panggilkan kereta?"
"Ya. Tolong."
Setelah beberapa menit menunggu, kereta pribadi milik keluarga Laila tiba di depan rumah yang dikendalikan kusir berusia 40 tahunan. Kereta hitam yang ditarik oleh 6 ekor kuda berwarna hitam yang gagah telah siap mengantar Laila kemanapun.
Kuda dipilih karena lebih nyaman dan tenang daripada Maltea yang lebih besar dan kasar.
"Selamat pagi, Nona Laila. Anda telihat cantik seperti biasanya. Saya Hyura siap mengantar anda kemanapun anda minta. Jadi kemana kita hari ini?"
Seperti biasa, Hyura terlihat bersemangat dan energik meskipun sudah tua (lumayan).
"Selamat siang, Hyura. Hari ini aku tak tahu harus kemana, hmm... apa kau tahu daerah yang menarik dan belum aku kunjungi?"
Mendengar permintaan Laila, Hyura terdiam sebentar dan berpikir. Lalu Hyura ingat sesuatu.
"...Baiklah, kalau begitu aku tahu tempat yang membuat anda senang."
Laila lalu naik ke atas kereta dan pergi.
Setelah keluar dari daerah elit melalui gerbang barat, kereta Laila pergi ke arah selatan ibukota. Pemandangan langsung terlihat berbeda saat dia mengintip ke luar melalui jendela.
Meskipun begitu, inilah pemandangan kehidupan di ibukota. Banyak orang berlalu lalang di pinggir jalan besar. Toko disana sini menjual berbagai kebutuhan dan peralatan sihir. Kereta saling berpapasan. Penghibur jalanan, pertunjukkan menggunakan sihir, toko jajanan dan masih banyak lagi.
Disaat itulah Laila mulai sadar kalau ini sedikit berbeda dari biasanya. Saat ini dia merasa kota lebih ramai dan lebih hidup.
Tak berapa lama kemudian, kereta Laila berhenti. Hyura turun dan membukakan pintu kereta.
Laila turun dan akhirnya melihat apa yang menyebabkan kota terlihat lebih hidup.
"Whaaa..., Hyura mungkinkan ini..."
"Ya, anda benar sekali, Nona Laila. Saat ini disini menjadi lokasi festival musim panas. "
Festival. Itulah kenapa kota menjadi lebih hidup.
Di sepanjang jalan, banyak kedai berdiri dan menjajakan jualan mereka.
Permainan, makanan, hiburan, dan masih banyak lagi. Meskipun cuaca begitu pans, itu sama sekali tak menyurutkan para pengunjung. Lalu festival juga akan berlangsung hingga malam hari. Pada saat itu, festival akan lebih ramai.
Kedai kedai itu memanjang hingga 5 km. Pasti butuh waktu lama untuk menghitung jumlah kedai yang ada di festival itu.
"Festival ini berlangsung 7 hari. Anda pasti belum pernah ke tempat seperti ini sebelumnya, jadi saya mengajak anda ke tempat ini. Nona Laila, bagaimana menurut anda? Apakah kita harus pergi ke tempat lain?"
"Tidak... Kurasa ini tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu."
"Syukurlah kalau begitu. Lalu apakah saya harus menemani anda?"
Laila menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Sebagai putri orang penting, tentu saja seharusnya dia dikawal. Tapi dia tahu, meskipun tak Hyura menemaninya, masih ada beberapa orang yang melindunginya secara rahasia.
"Tidak usah. Aku akan bersenang senang sendirian."
"Baiklah kalau begitu. Saya mengerti. Saya akan menunggu anda disini, tapi saya harap anda berhati hati karena di tempat seperti ini sering terjadi kriminal."
"Aha ha.. aku mengerti. Aku akan berhati hati."
Setelah berpamitan, Laila memasuki kerumunan festival.
Memang banyak orang dan penuh sesak, tapi untung saja daerah yang digunakan festival lumayan luas, jadi dia bisa bergerak sedikit leluasa.
Di festival, Laila mencoba berbagai permaiman dan makanan.
Banyak permainan dan makanan yang belum pernah dia coba sebelumnya, jadi dia banyak mendapatkan pengalaman baru hari ini.
Dia pernah mencoba permainan menembak, tapi dia selalu gagal mengenai target.
Ini wajar karena semua permainan adalah permainan yang mengandalkan kemampuan fisik. Sihir dilarang dalam setiap permainan kecuali permainan yang menggunakan sihir.
Laila juga sempat membeli aksesoris berupa kalung. Meskipun murah, tapi dia senang karena mendapatkan kenang kenangan.
3 jam berlalu. Laila tak menyangka waktu berlalu begitu cepat.
Dia kini di ujung daerah festival, tapi dia dikejutkan lagi ketika ujung daerah festival adalah sebuah taman kota.
Karena sedikit lapar, dia akhirnya memakan jajanan yang sempat dia beli.
Sebuah kue coklat kering berbentuk bunga, itulah yang dia makan.
Dia makan di kursi yang terletak di bawah pohon besar dan rindang.
Tak hanya dirinya, dia juga melihat orang lain bersama pasangan mereka sedang saling menyuapi satu sama lain.
Melihat pasangan itu, entah mengapa membuat Laila sedikit iri.
Dia saat ini berusia 15 tahun, tapi belum memiliki pacar.
Dia bisa saja menerima pernyataan cinta lelaki di sekolahnya, tapi dia tak merasakan sesuatu yang disebut cinta. Jadi dia menolaknya.
"Haa.... "
Perasaan Laila menjadi tidak enak, karena itu dia mendesah dalam.
Dia lalu memutuskan untuk mengakhiri petualangannya hari ini.
Dia mengambil ponsel di tasnya dan menghubungi Hyura.
"Hyura, jemput aku di taman ujung festival. Aku ingin pulang."
"(Baiklah, Nona. Tolong tungggu sebentar.)"
Sambungan terputus dan Laila memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Sambil menunggu Hyura menjemputnya, dia masih terus makan. Saat ini dia tak peduli apakah makanan yang dia makan akan membuatnya gemuk atau tidak.
Disaat itulah, dia melihat seorang pemuda aneh mengenakan jubah dan sebuah topeng putih yang menutupi sebagian wajahnya.
Pemuda itu berjalan dan akan lewat di depan Laila.
Disaat itulah angin tiba tiba berhembus cukup kencang sehingga membuat jubah pemuda itu terangkat.
Pakaian bagaian dalam pemuda itu hanyalah kaos dan celana panjang.
Disaat itupula Laila melihat sebuah pedang berada di tangan kanan pemuda itu, tapi bukan itu yang membuat Laila tertarik kepada pemuda itu.
Membawa senjata adalah hal biasa, jadi senjata pemuda itu tak menarik perhatian Laila.
Yang membuat Laila tertarik adalah darah yang terus menetes dari tangan kiri pemuda itu.
Pemuda itu sedang terluka.
Entah mengapa Laila tak bisa membiarkannya dan langsung saja memegang jubah pemuda itu saat lewat tepat di depannya.
Pemuda bertopeng itu berhenti dan menoleh ke arah Laila.
"Berhenti!"
Laila mengucapkan itu dengan nada begitu serius. Pemuda itu menunjukkan ekspresi rumit.
"Hmmm... apa ada masalah nona?"
Tak disangka, pemuda itu bertanya kepada Laila dengan nada lembut dan sopan.
Itu cukup membuat Laila terkejut.
"Masalah? Ya. Ada dan masalah itu adalah kenapa kau membiarkan luka itu? Kau tahu, aku paling tidak tahan melihat orang yang tak peduli dengan dirinya sendiri!"
"Luka? Ahh... maksudmu goresan kecil ini?"
Pemuda itu menunjukkan tangan kirinya yang terluka cukup dalam karena tertusuk sesuatu.
Itu bukanlah goresan.
"Ahhh...Moooouu... Cepat duduk!! Aku akan mengobati lukamu!!"
"Eh?"
Pemuda itu tampak bingung, namun saat melihat Laila seperti monster yang sedang marah, akhirnya pemuda itu tak punya banyak pilihan.
Meskipun terlihat seperti gadis biasa, tetap saja tekanan seorang penyihir peringkat S begitu besar.
"Ba-baiklah jika itu maumu."
Pemuda itu duduk di dekat Laila dan tertawa pahit saat melihat banyak jajanan berserakan di kursi.
"Kau tunggu disini. Aku akan mencari obat dulu. Jangan mencoba untuk kabur. Biarpun begini aku seorang penyihir yang cukup kuat."
Pemuda itu mengangguk sambil berkeringat dingin.
Laila lalu pergi ke tenda yang digunakan untuk mengobati orang yang terluka saat berada di festival. Berkat itu, Laila tak susah untuk mencari obat.
Yang menjadi pertanyaan Laila adalah kenapa pemuda itu tak pergi ke tenda itu untuk mengobati lukanya?
Setelah beberapa menit, Laila kembali membawa obat dalam botol kecil dan satu bungkus tisu basah.
Laila duduk dan memegang tangan kiri pemuda itu. Lalu dia membersihkan tangan pemuda itu dengan tisu basah.
Setelah bersih, Laila terkejut karena luka pemuda itu ternyata lebih dalam dari yang telihat.
Laila menyadari bahwa luka seperti itu hanya bisa terjadi jika terkena benda tajam seperti tombak.
"Hei... apa kau tak takut kepadaku?"
Pemuda itu bertanya saat melihat Laila membersihkan darah yang terus mengalir.
"Takut? Apa maksudmu?"
Laila terus membersihkan luka pemuda itu, dia bahkan sudah banyak menghabiskan tisu basah.
"Kau tahukan kalau orang mencurigakan sepertiku mungkin saja seorang penjahat atau semacamnya...."
Mendengar itu, Laila berhenti mengelap luka pemuda itu beberapa saat, lalu melanjutkannya lagi.
"Aku tidak takut. Tapi aku juga berpikir kau mungkin seorang penjahat, meskipun begitu, aku tetap akan mengobati lukamu."
"..........."
"Lagipula, jika kau penjahat, apa kejahatan yang kau lakukan?"
"...Aku beritahu nona, saat ini kau sedang mengobati tangan seorang pembunuh."
"Eh?"
Laila langsung membeku dan melebarkan matanya.
__ADS_1
Itu adalah reaksi yang wajar.
Pemuda itu juga sudah mengira kalau Laila akan bereaksi seperti itu.
Tapi, Laila juga bereaksi lain, yaitu tertawa kecil.
"Begitu rupanya. Kau adalah seorang pembunuh dan aku adalah anak seorang pembunuh. Kurasa kita sedikit mirip, benarkan?"
"Eh?"
Sekarang pemuda itu yang terkejut dan terbengong.
"Ya. Ayahku adalah seorang pembunuh yang membunuh karena sebuah tugas. Meskipun yang dia bunuh adalah penjahat, itu tak merubah fakta bahwa ayahku, tidak, bahkan aku suatu hari nanti juga menjadi pembunuh. Jadi jika aku tak menolongmu hanya karena kau seorang pembunuh, maka itu alasan yang lucu,.... atau kau membunuh orang karena ingin merampas harta mereka?"
Disaat itulah Laila menekan luka pemuda itu dengan keras sehingga rasa sakit menjadi berlipat ganda.
"Hei.... itu sakit tahu...."
Biasanya orang akan langsung berteriak, tapi pemuda itu terlihat tenang meskipun mengatakan sakit.
"Lalu apakah kau membunuh untuk melukai dan merugikan orang lain?"
"Entahlah. Keluarga orang yang kubunuh pasti bersedih, jadi itu termasuk merugikan orang lain."
".................."
Laila terdiam, namun dia juga tersenyum kecil.
"Ya kau benar."
Keheningan lalu terjadi diantara mereka.
Laila tak berkata sepatah katapun dan terus mengelap luka pemuda itu. Begitu pula dengan pemuda itu.
Pemuda itu hanya terdiam.
"Haa... kenapa tak berhenti. Aku sudah kehabisan tisu."
"Itu salahmu karena menekan lukaku. Kau berniat mengobati lukaku, tapi kau justru memperparahnya."
"Gehh.."
Pemuda itu benar.
Hal itu membuat Laila merasa bersalah.
"Itu juga salahmu sendiri. Hmm.. apa kau tak punya benda sihir yang bisa mengobati lukamu? Jika terus seperti ini, kau akan kehabisan darah dan mati."
"Ha ha, kau pikir salah siapa?"
"............."
"Nona, aku sudah kehabisan benda sihir untuk mengobati luka. Jika aku memilikinya, aku pasti sudah mengobati lukaku."
Pemuda itu masuk akal.
Lalu apa yang harus mereka lakukan?
"Hmmm.. Kalau begitu kurasa aku harus membeli benda sihir yang mampu meng-"
"Toko yang menjual benda sihir seperti itu paling dekat berada 1 km dari sini. Itu akan memakan waktu."
Pemuda itu memotong perkataan Laila dan menjelaskan bahwa ide Laila percuma.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Obat di botol ini hanya untuk luka ringan. Rumah sakit juga jauh dari sini. Hey apa yang kau lakukan?"
Disaat berpikir, Laila dikejutkan oleh tindakan pemuda itu yang mengambil botol berisi obat dan membukanya dengan mulut.
Pemuda itu lalu dengan cepat meneteskan cairan itu ke lukanya.
"......ugghh..."
Wajah pemuda itu terlihat sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Itu wajar karena obat itu memang terasa perih.
"Bo-bodoh, apa yang kau pikirkan?"
Laila panik saat melihat pemuda itu kesakitan.
Dia juga tak menyangka pemuda itu berbuat ceroboh.
"Ha... ha... ha... Tenang saja. Aku baik baik saja. Obat ini memang untuk luka kecil, namun itu lebih baik daripada tak diberi obat. Kau lihat, darahnya sudah tak terlalu banyak yang keluar kan?"
Pemuda itu benar. Darah sudah tak mengalir deras seperti tadi.
Laila merasa sedikit lega .
"Ahh.. kau benar, tapi darahnya masih mengalir."
"Kita cukup membelitnya dengan kain bersih, tapi-"
Pemuda itu tak memiliki kain bersih yang digunakan untuk membelit lukanya.
Jubah, baju, celana semuanya kotor penuh debu.
"Tenang saja, aku punya sapu tangan yang belum kugunakan. Itu pasti cukup meskipun itu tak terlalu bersih dari kuman."
"Heii... tapi- "
"Sudahlah. Anggap saja ini caraku menebus kesalahanku karena membuat lukamu menjadi lebih parah."
Laila mengambil sapu tangan putih di tas kecilnya, lalu membelitkannya di luka pemuda itu dengan cukup kuat.
Sapu tangan putih itu berubah menjadi merah, namun darah sudah berhenti mengalir.
"Ahh... terima kasih kalau begitu. Sekarang aku merasa baikan."
Laila tersenyum senang.
Tapi disaat itulah dia melihat Hyura berjalan mendekat.
Ternyata Hyura sudah sampai.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi."
Laila tiba tiba berdiri.
"Ahh.. baiklah. Aku juga harus pergi. Terima kasih sudah mengobati lukaku."
"Ahahaha.. aku memperparah lukamu lalu mengobatinya, kurasa aku tak pantas mendapatkan terima kasih. Lagipula kau yang menaruh obat itu di lukamu kan?"
"Ya, tapi obat itu kau yang memberinya, jadi aku tetap berterima kasih!"
Laila tersenyum.
Pemuda itu juga tersenyum.
"Sampai jumpa, tuan pembunuh."
Setelah itu, Laila melambaikan tangannya dan berjalan ke arah Hyura.
Sementara pemuda itu hanya terdiam dan berbalik. Lalu berjalan lagi menuju tempat tujuannya semula.
"Tuan pembunuh kah?"
Itulah awal pertemuan Laila dengan pemuda aneh dan misterius yang mengaku sebagai seorang pembunuh.
>>
Saat itu Laila berpikir tak akan pernah bertemu dengan pemuda aneh itu lagi, tapi dua minggu setelah hari itu.
Dia bertemu lagi dengan pemuda itu.
Tidak. Lebih tepatnya Laila menemukan pemuda itu sedang tertidur pulas di sebuah taman dekat sekolahnya.
Sekolah Laila berada di wilayah barat ibukota, yaitu Shiryuu Academy.
Di ibukota ada 4 sekolah sihir, yaitu Shiryuu Academy berada di wilayah barat, Seiryuu Academy berada di wilayah timur, Ginryuu Academy berada di wilayah utara dan Kinryuu Academy berada di wilayah selatan.
Sekolah itu memiliki beberapa tingkatan, yaitu Sekolah Sihir dasar [ Basic Magic School] , Sekolah Sihir menengah (Magic School] dan Akademi Sihir (Magic Academy).
Ada satu tingkatan lagi, yaitu Kuliah Sihir (Magic College), tapi tempat itu berada di wilayah lain.
Tingkatan Laila adalah [ Magic School] tahun ketiga (kelas 3 SMP).
Saat ini jam makan siang.
Laila dan ketiga temannya berencana makan siang bersama di taman yang berada di luar sekolah.
Waktu jam makan siang yang cukup lama, yaitu 2 jam membuat mereka berempat memilih makan di taman dekat sekolah mereka.
Meskipun di sekolah mereka juga ada taman yang luas, namun karena tempat makan siang mereka yang biasa tempati sudah ditempati orang lain, salah satu teman Laila mengusulkan untuk makan siang di taman dekat sekolah mereka.
Dengan kata lain, ini adalah pertama kalinya mereka makan di taman itu.
Dan disaat sedang mencari tempat makan siang itulah Laila melihat sesosok pemuda bertopeng tertidur pulas di taman yang lumayan sepi.
Ini wajar karena taman itu masih merupakan wilayah sekolah, jadi tak banyak orang yang datang.
"Kalian bertiga duluan saja, aku akan segera menyusul setelah menyelesaikan sedikit urusan?"
"Urusan? Urusan apa?"
Salah satu teman Laila bertanya karena merasa aneh dengan tingkah Laila.
"Sudahlah, kalian bertiga duluan saja!!"
"?"
Meskipun merasa ada yang aneh, ketiga teman Laila akhirnya pergi duluan untuk mencari tempat yang cocok untuk makan siang.
Tapi mereka bertiga tersenyum saat menyadari Laila bertingkah aneh karena mereka juga melihat pemuda tertidur di kursi taman.
"Hooo... Baiklah. Fufu.. Aleca, Mitra. Ayo kita pergi. Kita tak mau disebut pengganggu, benarkan?"
"Ya. Benar sekali."
"He he.."
Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan Laila yang memerah karena malu.
"KALIAN SALAH PAHAMMMM!!"
Meskipun Laila berteriak, namun mereka bertiga hanya tersenyum kecil dan mengangguk tanda mengerti.
(Semua ini salah pria itu.)
Dengan wajah merah karena malu sekaligus marah, Laila menoleh ke arah pemuda itu dengan tatapan sadis.
Laila lalu berlari ke arah pemuda itu, dan tanpa sepatah kata, Laila menendang perut pemuda itu dari atas.
Bammm!!
Tapi tendangan Laila meleset karena pemuda itu sudah tak ada di kursi itu dan hanya mengenai kursi yang terbuat dari besi.
"Eh?"
Disaat terkejut, Laila juga merasakan kakinya kesemutan dan menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.
Dia akhirnya kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang, tapi tubuhnya berhenti karena ditahan oleh pemuda bertopeng.
"Jika kau ingin menyerangku seperti itu, maka masih terlalu awal 100 tahun. Kau tahu itu?"
".....!?"
"Tapi jika tujuanmu memamerkan celana dalam putihmu, maka aku dengan senang hati menerima tendanganmu."
Disaat iitulah wajah Laila langsung merah padam dan mau meledak. Tidak, Laila sudah meledak.
Dia berniat memukul pemuda itu dengan siku kanannya, tapi pemuda itu justru memeluk Laila dengan kedua tangannya.
"Kau tahu, kau terlihat lebih manis saat marah, nona."
Pemuda itu berbisik di dekat telinga Laila. Hal itu membuat Laila semakin memerah.
"Nona?"
Pemuda itu tiba tiba mengendorkan pelukannya. Mengambil kesempatan itu, Laila menyikut perut pemuda itu dengan sikut kanannya dan meloloskan diri.
"Guhh!"
Pemuda itu mengerang kesakitan dan menunduk, tapi pemuda itu tiba tiba tersenyum.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda. Serangan seperti itu tak mempan kepadaku. Yahh.. tapi aku menerimanya karena aku memang pantas mendapatkannya. ...Jadi kenapa kau menendangku, nona?"
"Huh?"
Laila memiringkan kepalanya.
Jika dipikir pikir kenapa dia marah kepada pemuda itu?
"Jangan bilang kau lupa alasan kenapa kau marah?"
".........Errrrr, ya begitulah..."
"Kau pasti bercanda...."
Pemuda bertopeng itu mendesah lalu berjalan ke arah kursi dan duduk.
Disaat itulah pemuda itu melihat kotak makan siang di tangan kiri Laila yang terbungkus kain putih.
"Begitu rupanya, kau mau makan siang, tapi kenapa makan siang disini?"
"Itu yang mau kutanyakan. Kenapa kau ada disini, tuan Pembunuh?"
"Hentikan memanggilku seperti itu, terus terang itu membuatku terdengar jahat, yah meskipun aku jahat, tapi aku tak nyaman dengan cara memanggilmu yang tidak sopan."
"ha ha.."
Laila hanya tersenyum kering.
"Alasanku disini, seperti yang kau lihat aku cuma tidur karena menemukan tempat yang sepi."
Mendengar penjelasan konyol itu, Laila mendesah lalu berjalan ke kursi dan duduk di samping pemuda itu.
"Kau ini benar benar aneh. Kenapa tidur di taman ini. Kau tahu taman ini merupakan wilayah sekolahku."
"Hmmm... jadi kau murid Shiryuu Academy?"
"Dari seragam yang kupakai kau pasti sudah tahu kan. Ya ampun, bukankah kau juga seumuran denganku, kenapa tidak sekolah dan tidur disini?"
Meskipun terdengar marah, namun Laila hanya penasaran.
"Yahh aku tak bersekolah, jadi aku tak perlu masuk sekolah he he..."
"Apa kau serius?"
Pemuda itu hanya mengangguk.
"Ya ampun aku tak percaya ada orang yang tak bersekolah, tapi kau tak terlihat bodoh?"
"Kau ini tidak sopan, nona. Meskipun aku tak bersekolah, aku ini lebih pintar darimu."
"Mana mungkin, bodoh."
"Ha ha .. "
Setelah tertawa, keheninganpun terjadi.
Mereka tak tahu harus membahas apa.
Tapi disaat itulah mereka mendengar suara menyeramkan.
Groaoagroooaaaaooo ...
"Apa itu? Apakah ada monster di dekat sini?"
Laila menoleh ke semua arah, tapi tak menemukan sumber suara, yaitu monster.
"Percuma saja kau mencari, karena monster itu ada di perutku."
"Eh?"
Dengan kata lain, pemuda itu sedang lapar.
Itu wajar mengingat pemuda itu bangun saat jam makan siang. Apalagi ditambah saat melihat bekal makan siang Laila.
Pasti itu yang membuat rasa lapar pemuda itu menjadi jadi.
"Ahaha... jika kau mau, kau boleh makan bekalku, tapi hanya setengah."
"Eh, benarkah itu. Terima kasih, nona."
"Ya boleh, tapi setelah kau melepas jubah kotormu itu dan mencuci tangan. "
Meskipun sedikit merasa terhina, pemuda itu melepas jubahnya dan meletakkannya di kursi. Sekarang pemuda itu hanya mengenakan celana panjang dan kaos merah dan tak membawa senjata apapun.
Laila dapat melihat pemuda itu memiliki rambut berwarna hitam, tapi rambut hitam adalah hal biasa, jadi Laila tak ada alasan untuk memikirkannya.
Pemuda itu mencuci tangannya dengan air keran yang berada tak jauh dari kursi.
Setelah itu, pemuda itu duduk di kursi lagi dan melihat Laila sudah membuka bekal makan siangnya.
Telur dadar, daging goreng, sosis, acar, nasi, semuanya tertata dengan rapi dan terlihat lezat.
"Hmm ... buatan rumah kah?"
"Ya. Ibuku yang membuatkan makan siangku. Yah meskipun ada kantin, namun dia tetap ingin membuatnya karena itu kewajiban seorang ibu. "
"Ibumu pasti sangat menyayangimu."
Laila mengangguk pelan. Dia mengambil sumpit dan mulai makan telur dadar.
Dan karena sumpit hanya sepasang, Laila memberikan sumpit itu ke pemuda itu.
Pemuda itu juga mengambil telur dadar dan makan dengan pelan. Lalu dia memgembalikan sumpit itu ke Laila.
Enak, itulah rasa makanan mereka. Tapi rasa masakan ibu Laila tak ada yang spesial, jadi pemuda itu tak berkomentar tentang rasa.
"Ngomong ngomong, kenapa kau tak melepas topengmu? Mungkinkah kau itu buronan?"
"Ha ha... lucu sekali. Aku memakainya karena terlihat lebih keren. Hanya itu. Lagipula jika aku membukanya, aku takut kau akan jatuh cinta kepadaku karena aku terlalu tampan."
"Ya ya.. Cepat makan. Aku tak punya banyak waktu meladenimu."
"Baik."
Laila dan pemuda itu bergiliran makan dan bergantian menggunakan sumpit.
Setelah beberapa menit, kotak makan siang itu bersih tak tersisa.
"Terima kasih makanannya."
"?"
Pemuda itu menyatukan tangannya seperti berdoa.
Bagi Laila, itu adalah kebiasaan yang belum pernah dia lihat.
"Apakah tanganmu baik baik saja?"
Laila bertanya karena mengingat kembali saat mencoba mengobati pemuda itu, tapi dia justru memperparah luka pemuda itu.
Luka di tangannya pasti belum sembuh benar, atau tidak.
Laila sadar kalau tangan kiri pemuda itu terlihat tak mengalami luka atau ada bekas luka. Aneh.
"Seperti yang kau lihat, luka itu sudah menghilang atau menyisakan bekas."
Pemuda itu menunjukkan tangannya yang sehat.
"Ini bohongkan? Sembuh tanpa bekas hanya bisa terjadi jika kau menggunakan benda atau sihir kelas atas."
"Ya begitulah."
Pemuda itu tersenyum, hal ini membuat rasa bersalah selama dua minggu ini menghilang.
Mungkinkah ini alasan kenapa dia menghampiri pemuda itu?
"Laila.... apa kau sudah selesai?"
"Hum.. tampaknya mereka mencariku karena tak menyusul mereka. Maaf, tapi kurasa kita harus berpisah disini, tuan Bodoh."
"Aha ha... ya. Aku juga harus pergi. Nenek itu pasti akan memarahiku."
Laila dengan cepat merapikan bekalnya dan berdiri.
"Baiklah samp- eh? Dimana dia?"
Laila terkejut karena pemuda itu tiba tiba menghilang beserta jubahnya.
"Huh?"
Laila bingung. Dia bahkan sempat berpikir kalau pemuda itu hantu.
Buktinya adalah luka di tangan pemuda itu yang sudah sembuh tak meninggalkan bekas.
"Laila."
"Laila."
"Laila, pemuda itu kemana?"
Ketiga teman Laila mendekat dan berdiri di samping Laila.
"Pemuda? Jangan bilang kalian mengintip kami?"
Mendengar itu mereka bertiga tertawa kecil.
"Yup."
"Aku tak menyangka alasan kenapa kau menolak semua lelaki karena ternyata sudah memiliki pacar. Fu fu fu... ini sungguh berita besar. Benarkan?"
"Un un.."
Mitra dan Aleca mengangguk tanda setuju.
"Pacar? Apa maksud kalian?"
"Ayolah, kau tak usah menyembunyikannya. Kami tahu pemuda keren bertopeng tadi adalah pacarmu."
"Ya ya. Apalagi saat kalian tanpa ragu memakai sumpit bergiliran. Ahhh.. itu sungguh membuatku iri." Ucap Mitra.
"Kalian benar benar mesra."
"Huh?"
Laila tak mengerti maksud perkataan mereka, namun Laila tahu kalau mereka saat ini sedang salah paham.
Karena itulah dia memutuskan untuk meluruskan agar kesalah pahaman ini tak berlanjut.
"Kalian bertiga, dengarkan aku! Aku dan pemuda tadi hanya pernah bertemu sekali. Dengan kata lain di bukan teman atau pacar. Satu hal lagi, kami bergantian memakai sumpit karena tak ada pilihan lain. Fu fuu.. aku hanya kasihan karena dia kelaparan, itu saja. Jadi kutegaskan sekali lagi kalau dia bukan pacarku."
"""............"""
"Mmmm.... kenapa kalian terdiam? Apa kalian tak percaya kepadaku?"
"Tidak. Kami percaya. Kami hanya tak menyangka kau melakukan ciuman tak langsung berkali kali dengan pemuda yang tak kau kenal."
"Eh?"
Laila langsung membeku di tempat. Dia baru menyadari apa yang dikatakan mereka bertiga benar. Sangat benar.
Disaat itulah wajahnya langsung merah padam. Bahkan asap mengepul.
Disaat yang bersamaan, dia ingat saat dia dan pemuda itu bergantian memakai sumpit dan berciuman tak langsung.
Tak hanya sekali, tapi lebih dari sepuluh kali.
"LAILA!"
Mereka bertiga dikejutkan oleh Laila yang tiba tiba tumbang.
Wajahnya merah padam, matanya berputar.
"Ahhh.... gadis tak sensitif memang merepotkan."
Aleca mengeluh karena sekarang mereka bertiga terpaksa harus memapah Laila ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh.
Keesokan harinya, rumor Laila sudah memiliki pacar beredar luas di sekolah.
Hal itu membuat seluruh isi sekolah gempar dan heboh.
Satu hal yang Laila syukuri dari rumor itu adalah, sekarang tak ada lelaki yang menyatakan cinta lagi kepadanya.
Tunggu, bukankah itu juga membuat tak ada laki laki lagi yang mendekati Laila?
__ADS_1
Sekarang dia punya alasan baru untuk bertemu dengan pemuda bertopeng itu dan menghajarnya.
Sayangnya, setelah satu bulan berlalu, dia tak pernah dengan pemuda bertopeng itu lagi. Apakah itu adalah pertemuan terakhir mereka?