
Awan mendung menutupi langit malam. Udara dingin dan lembat menyelimuti Kuryuu Academy.
Saat ini tengah malam. Sepi, dingin dan gelap karena tak terlalu banyak lampu yang dinyalakan.
Di salah satu kamar asrama, sebuah cahaya kecil terpancar dari sebuah kamar.
Tak seperti murid lainnya, dia saat ini masih terjaga. Dia merasa mengantuk, tapi dia tak boleh tidur dan tak ingin tidur.
Dia duduk di sebuah kursi di samping tempat tidurnya dengan wajah cemas dan takut. Dia tak takut dengan kegelapan, tapi takut seseorang yang sedang tertidur di kasurnya akan pergi dan tak kembali lagi.
Orang itu adalah Kuro Kagami. Pemuda itu sekarang sedang tertidur pulas. Wajahnya sedikit pucat dan panas karena demam.
Melihat itu, Laila hanya bisa meatap dan tak berbuat apapun. Dia tak berdaya dan hanya bisa menunggu.
Laila saat ini mengenakan piyama seksi seperti biasanya. Berbahan tipis dan sedikit transparan. Bahkan kulit putihnya terekspos sehingga membuat kecantikannya lebih menggoda.
Orang bilang dia memiliki selera sedikit aneh, tapi itu bukan masalah. Dia tak peduli dengan semua itu. Dia sekarang mempunyai satu hal yang mungkin akan menjadi hal paling penting dalam hidupnya.
'Kau boleh menemani kak Kuro. Anggap saja ini pertemuanmu yang terakhir.'
".............."
Laila hanya bisa bersedih saat mengingat kembali apa yang Yui katakan.
Pertemuan terakhir, dengan kata lain perpisahan. Dia akan berpisah lagi dengan Kuro. Tapi kenapa?
Sekali lagi dia tak mengerti.
........dan karena itulah dia ingin tahu. Tahu tentang Kuro. Tahu tentang orang yang dia cintai.
_________
___
Setelah Kuro pingsan, Laila dan Yui membawa Kuro ke kamar asrama dan menidurkannya di kasur Laila.
Saat ini Laila tak memikirkan Kuro tidur di kasurnya atau tidak. Yang terpenting adalah mereka harus mengobati luka Kuro secepatnya.
Laila sempat menyarankan Yui agar membawa Kuro ke tempat perawat, tapi dia menolak. Yui bilang kalau percuma saja membawa Kuro ke tempat perawat.
Dia tak mengerti maksud Yui, tapi asalkan Kuro sembuh, itu bukanlah masalah. Lagipula Yui orang terdekat Kuro, jadi dia harus percaya kepadanya.
Setelah membaringkan Kuro, Yui tanpa ragu melepas seragam Kuro dan melemparnya ke lantai. Disaat itulah puluhan luka sayatan terlihat dengan jelas. Darah terus mengalir dari semua luka sayatan dan yang paling parah adalah luka sayatan di dadanya.
Laila tak menyangka kalau luka Kuro lebih parah dari yang terlihat.
"Jangan diam saja. Ambilkan air hangat untuk membasuh luka Kak Kuro. Dan siapkan segelas air putih."
"....Ba-baik!"
Laila hanya bisa menuruti perintah Yui.
Yui sekarang terlihat menakutkan, tapi itu wajar mengingat dia sedang cemas dan panik melihat Kuro terluka parah.
Laila dengan cepat mengambil air dingin ke sebuah wadah dan memanaskannya dengan sihir apinya. Dia juga membawa handuk bersih dan segelas air seperti yang Yui minta.
Yui dengan perlahan membersihkan darah dengan handuk basah. Laila hanya bisa membantu sedikit karena tak berpengalaman dalam hal mengobati.
Setelah sebagian luka bersih, Yui lalu bersiap mengobati Kuro.
Kedua tanannya muncul aura kehijauan dan lalu menyentuh luka Kuro. Perlahan namun pasti, luka Kuro perlahan menutup dan sembuh, tapi itu baru dua luka sayatan. Masih banyak luka sayatan lagi yang harus Yui sembuhkan.
Laila kagum dengan kemampuan Yui yang mampu menguasai sihir penyembuh. Apalagi Yui bisa dibilang masih muda, tapi keahlian Yui bisa disamakan dengan Healer yang sudah ahli. Tidak, bahkan lebih ahli dari Healer yang selama ini Laila lihat.
"Jangan hanya melihat! Jika kau tak ingin membantu, kau sebaiknya pergi dari sini dan jangan mengganggu."
Sekali lagi Laila dibentak Yui.
"Aku ingin membantu, tapi apa yang bisa kulakukan?"
Setelah Laila bertanya, Yui mengambil botol kecil dari kantung kulit dan memberikannya ke Laila.
"Tuang air mata Phoenik itu ke air dan minumkan dengan perlahan. Pastikan semuanya diminum. Aku hanya punya satu botol, jadi jangan sia siakan, wanita jal**g!"
"Ugghh.."
Laila bagai tertusuk pisau saat mendengar panggilan itu. Tapi itu wajar karena Yui saat ini sedang marah dan cemas.
Laila mengerti alasan Yui marah. Kuro terluka karena beduel dengan Charlmilia demi dirinya.
Laila lalu mencampurkan air mata Phoenix ke dalam segelas air dan meminumkannya perlahan dengan sendok setelah Kuro disandarkan. Sementara Laila meminumkan air mata Phonenix, Yui mengobati luka sayatan yang paling parah di dada Kuro.
Keheningan tercipta saat mereka melakukan semua itu.
Laila merasa wajar, tapi ada satu hal yang mengganjal pemikiran Laila.
"....Yui, kenapa tak menaruh di luka Kuro? Bukankah dengan begitu akan lebih cepat pulih dan kau tak perlu menggunakan sihir penyembuh."
Mendengar itu, Yui berhenti sejenak lalu melanjutkan. Disaat itulah Yui terlihat sedih.
"...Kau tak tahu apapun rupanya. ...Meskipun kau seorang putri paladin, aku tak menyangka kau tak tahu apapun. Sudah kuduga semua bangsawan sama saja."
"..........."
Laila hanya bisa terdiam. Dia tak menyangkal perkataan Yui karena semua itu benar.
Sejak kecil Laila tak pernah tahu apa yang dinamakan kesusahan. Semua yang dia mau akan diberikan oleh ayahnya meskipun kadang dia harus berusaha untuk mendapat nilai bagus.
Tapi itu wajar. Hampir semua orang tua melakukan itu untuk memotivasi anak mereka.
Tapi hanya itulah yang Laila tahu.
"Luka dalam kak Kuro lebih parah daripada luka luar, jadi lebih baik menggunakan air mata phoenix untuk mempercepat pemulihan. Ingat itu baik baik."
Keheningan tercipta sekali lagi.
Laila tak tahu harus berbuat apa atau harus bereaksi seperti apa, tapi dia tahu bahwa Kuro sedang sekarat.
(Ini salahku.....)
Laila hanya bisa memasang ekspresi sedih dan menyalahkan dirinya sendiri.
Laila lalu terus meminumkan air ke Kuro dan akhirnya habis. Setelah habis, apa yang harus dia lakukan?
Dia tak tahu. Lagi. Lagi. Lagi dan lagi.
Dia tak tahu dan tak berdaya.
"....Kau bisa keluar. Kau tak bisa membantu apa apa."
"......................"
Laila menaruh gelas kosong di atas meja lalu pergi dengan perlahan keluar dari kamarnya.
Dia lalu menyandarkan dirinya di dinding dan akhirnya dengan perlahan dia tersungkur ke lantai yang dingin.
"...........Aku lemah..."
Dia menunduk dan bersembunyi di antara kedua lututnya. Dia tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Dia bahkan tak peduli dengan dirinya sendiri. Seragamnya masih basah dan dia peduli.
Dia bahkan tak menggunakan sihir untuk membuat dirinya lebih hangat atau mengeringkan seragamnya. Yang terpenting saat ini dia ingin segera melihat Kuro sehat lagi.
Dua jam lebih Laila duduk di depan kamarnya. Hujan masih deras dan membuat udara semakin dingin, tapi dia tak peduli.
Yang Laila inginkan saat ini adalah cepat melihat Kuro.
3 jam berlalu. Yui akhirnya keluar dari Laila. Yui terlihat lelah dan tak bertenaga, tapi dia sudah tak terlihat cemas lagi.
Laila langsung berdiri ke depan Yui.
"Yui, bagaimana keadaan Kuro?"
"Dia akan baik baik saja sekarang, tapi dia butuh waktu untuk pulih. Jadi biarkan dia beristirahat."
Mendengar itu, Laila langsung merasa lega dan sekaligus senang.
"...Begitu rupanya..."
"..........."
Laila ingin segera melihat keadaan Kuro, tapi dia sekarang untuk memilih menahan diri.
Yui mendesah kecil lalu menyandarkan dirinya ke dinding. Yui menatap halaman yang basah karena hujan. Saat ini dia ingin beristirahat untuk memulihkan mana dan tubuhnya.
Sementara Laila kembali duduk di lantai dan menunduk.
Melihat itu Yui sadar kalau Laila benar benar mencemaskan Kuro.
Sebagai seorang wanita, Yui tahu kalau Laila sudah jatuh cinta seperti gadis yang banyak Yui temui. Tapi Yui tahu kalau Laila sedikit berbeda dengan gadis yang dia tahu selama ini.
Laila spesial.
Yui tahu itu. Bukan karena dia seorang putri Paladin, tapi seorang wanita. Itulah alasan kenapa Kuro mencintai Laila.
"....Yui....."
"........."
"...kenapa... Kuro bisa berbuat sejauh itu? Dia tak peduli dengan apa yang terjadi kepada dirinya. Itu...."
"..menyedihkan...?"
Laila mengangguk pelan.
Semua orang pasti akan berpikiran sama. Kenapa Kuro bisa berbuat sejauh itu demi orang lain?
Tak ada yang tahu. Bahkan Yui sekalipun.
"Kenapa kau menanyakan itu? Apakah itu ada gunanya untukmu? Sekarang sudah terlambat, kau tahu itu kan?"
"..........."
Laila terdiam. Dia tahu sekarang sudah terlambat, tapi-
Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
"Aku tahu itu. ...aku tahu sekarang sudah terlambat. Karena itulah aku ingin tahu. Aku ingin tahu semua tentang Kuro...."
"................."
Yui hanya bisa terdiam membisu. Dia mencoba tak menatap Laila dan segera ingin pergi, tapi dia mengerti perasaan Laila.
__ADS_1
Karena itulah Yui,
"Aku tak tahu apakah ceritaku bisa membuatmu mengerti tentang kak Kuro, tapi akan kuberi tahu semua yang kuketahui."
"Terima kasih."
"Masih terlalu awal untuk berterima kasih. Aku melakukan ini semata mata karena demi kakak."
"Aku mengerti itu."
Laila mulai terlihat ceria lagi. Sementara Yui mengambil nafas dan mencoba mengingat semua yang dia tahu tentang Kuro.
Sambil melihat air hujan yang menyirami bunga, Yui berkata;
"Jika diingat ingat, kurasa lebih baik aku mulai dari saat pertama kali bertemu dengannya."
"Pertama kali bertemu.....?"
Laila ingat kalau Kuro dan Yui bukan saudara kandung.
"Apa kau ingat saat kak Kuro tiba tiba bertingkah aneh dan menunjukkan tatapan menyeramkan dan kosong?"
".........."
"Sebenarnya dia bukan hanya kehilangan kendali, tapi dia kembali seperti dirinya yang lama."
"?!"
Mata Laila langsung melebar mendengar kenyataan itu, tapi jika yang dikatakan Yui benar, maka itu berarti,
"Ya, itulah sosok kak Kuro yang sebenarnya. Kejam tak ragu untuk membunuh lawannya. Meskipun tubuhnya hancur, dia akan bertarung dan menang. Itulah sisi gelap kak Kuro yang sesungguhnya. Setelah mendengar ini, apa kau masih mau tahu tentang kenyataan tentang kak Kuro? Kenyataan yang sebenarnya tentang Witch Reaper?"
".........................."
Apakah dia siap untuk itu? Untuk mengetahui semuanya tentang Kuro?
Untuk mengetahui sisi gelap Kuro yang selama ini tak diketahui oleh dirinya dan orang lain?
Sementara Laila sedang memikirkan apa keputusan yang dia ambil, Yui hanya tersenyum tipis. Dia sengaja memancing Laila.
Setelah beberapa saat, Laila menunjukkan tatapan serius.
"Aku ingin tahu. Aku ingin tahu semuanya tentang Kuro. Bahkan sisi gelap dirinya sekalipun. ...... aku akan menerima semuanya."
"Apa kau yakin?"
"Ya. Karena itulah aku bertanya. Atau Yui tak ingin memberitahuku?"
"..........."
Saat itu, Yui melihat ekspresi yang belum pernah dia lihat. Tekad terpancar di kedua matanya.
Tekad yang berdasarkan cinta.
"....Baiklah. Akan kuceritakan semuanya."
"........"
"....Ayahku adalah pemimpin klan Blad. Kami tinggal di sebuah desa kecil yang memiliki perisai 3 kali lebih kuat daripada di kota ini. Aku adalah anak tunggal karena itu sebagai putri pemimpin klan Blad, aku dididik lebih keras daripada anak seumuranku. Bukan karena aku akan menjadi penerus, tapi karena agar aku bisa melindungi diriku sendiri."
"..........."
"Saat aku berumur 5 tahun, tepatnya 10 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku diajak berburu oleh ayah dan beberapa orang dewasa lainnya. Kau pasti berpikir ayahku sudah gila mengajak anak berusia 5 tahun berburu di hutan paling berbahaya di dunia, ...dan itu tidak salah. Aku hampir mati pada hari itu, tapi di hari itupula aku bertemu dengan kak Kuro."
"..?!"
"Ya. Dialah penyelamatku. Jika bukan karena dia, aku tak berada di dunia ini."
>>10 tahun yang lalu, hutan Rukia.
Yui diajak ayahnya dan 4 orang dewasa lainnya untuk berburu di hutan. Mereka semua adalah penyihir yang kuat, jika tidak cukup kuat, hanya kematianlah yang menanti saat berada di hutan Rukia.
Seperti biasanya, mereka berburu di daerah yang tak di tinggali monster yang tak cukup kuat, tapi pada hari itu entah mengapa tak ada tak ada satupun monster muncul. Monster yang mereka buru adalah Giant Boar (**** hutan raksasa) yang memiliki tubuh sebesar 3-4meter.
Karena tak menemukan satupun Giant Boar, merekapun pergi ke tempat lain yang memiliki monster level menengah lainnya.
Sayangnya, mereka tak menemukan Giant Boar tapi Anacho yang merupakan monster ular raksasa sepanjang 17 meter. Anacho tak sekuat Giant Boar tapi kali ini mereka menemukan Anacho dalam jumlah banyak dan akhirnya mereka terkepung.
Bagi mereka jumlah Anacho yang banyak merupakan suatu keberuntungan, tapi bagi Yui, mereka adalah monster yang mampu menelannya dalam sekali telan.
Yui takut dan panik. Tanpa sepengetahuan ayahnya, dia melarikan diri sendirian ke tengah hutan.
Dia berlari dan terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Setelah berlari cukup lama, akhirnya Yui berhenti karena menyadari kalau dia sekarang berada di daerah yang tidak dia ketahui.
Sekarang dia berada di bagian hutan yang gelap gulita dan menyeramkan. Meskipun sekarang masih siang hari, namun di hutan itu bagaikan malam hari karena tak ada cahaya yang menembus rindangnya pohon.
Yui tiba tiba mendengar sesuatu dari sekitarnya. Dia tak tahu suara apa itu, namun dia akhirnya memutuskan untuk mencari tempat berlindung sampai ayahnya datang menolongnya.
Dia menoleh ke arah sekitarnya, disaat itulah dia menemukan mulut gua raksasa. Yui sedikit terkejut karena dia menemukan sebuah gua di hutan Rukia, tapi dia ingat kalau di hutan Rukia memang banyak sekali gua. Gua itu pasti salah satunya.
Dengan hati hati Yui berjalan menuju mulut gua.
Hawa lembab dan bau tak sedap dapat langsung dirasakan Yui saat pertama kali memasuki gua. Meskipun begitu, dia tetap masuk, tapi dia hanya berada di sekitar mulut gua.
Yui menyadarkan tubuhnya di dinding gua, lalu mengambil benda seperti kristal di tas kulitnya. Kristal itu berfungsi sebagai katalis untuk sihir komunikasi.
Yui seorang penyihir, karena itulah dia bisa menggunakan kristal itu.
Dari situlah dia tahu kalau sekarang dia berada di bagian hutan yang dihuni monster tingkat tinggi.
Meskipun takut, dia sadar tak boleh panik. Dia mengingat kembali semua yang diajarkan ayahnya.
Pertama, dia tak boleh membuat cahaya sekecilpun. Cahaya akan menarik perhatian. Kedua, dia tak boleh berisik, dan yang ketiga, dia harus menyembunyikan hawa keberadaannya sampai ayah datang menjemputnya.
Meskipun baru 5 tahun, Yui sudah pandai mempraktekkan itu semua. Berkat itu dia masih bertahan beberapa jam meskipun seorang diri.
Dia bersembunyi di balik bebatuan dan menutupi tubuhnya dengan kain gelap. Di tempat semacam itu, kain gelap akan sangat berguna.
Yui tak tahu berapa lama dia bersembunyi. Yang terpenting saat ini dia hanya ingin bertahan hidup.
Tiba tiba Yui mendengar suara kepakan sayap. Yui melihat beberapa bayang besar dan sadar itu adalah Demonia yang sedang terbang ke dalam gua.
Demonia sebenarnya monster yang aktif di malam hari, tapi di hutan Rukia, siang dan malam tak ada bedanya, karena itulah monster malam seperti Demonia sering muncul di siang hari.
Tak disangka, dua Demonia mengetahui keberadaan Yui dan mengepungnya. Demonia mampu menemukan mangsa mereka dengan gelombang suara dan bukan penglihatan, jadi kain hitam Yui tak berguna.
Panik dan terkepung, Yui langsung menggunakan sihir untuk menciptakan cahaya yang sangat terang untuk pengalih perhatian.
Yui langsung berlari ke hutan dengan sekuat tenaga. Dia berlari dan terus berlari tanpa melihat sekitarnya.
Dia mendengar kepakan sayap di belakangnya. Kali ini tak hanya 2 Demonia, tapi 5 Demonia yang mengejarnya.
Yui sadar tak bisa bersembunyi dari Demonia jadi yang dia lakukan hanya terus berlari. Berlari demi menyelamatkan nyawanya.
Tak disangka, karena kurang berhati hati, Yui tersandung dan akhirnya terjatuh dengan keras. Kakinya terkilir dan dia sulit berlari lagi.
Akhirnya dia terkepung dan terpojok. Dia melangkah mundur dan pohon besar tepat berada di belakangnya.
Dia sadar akan mati, tapi dia ingin hidup, karena itulah dia berdoa agar ada seorang yang menyelamatkannya.
Dia lalu melihat kilatan putih, disaat itulah dia sadar kalau salah satu Demonia mati karena terpenggal. Kepala Demonia itu terguling di dekat Yui.
Keempat Demonia langsung waspada karena salah satu teman mereka terbunuh.
Disaat itulah, Yui melihat seorang bocah yang hanya memakai celana sobek di berbagai tempat dan sebuah pedang putih di tangan kanannya.
Tanpa sepatah kata bocah itu langsung menyerang Demonia yang tersisa dengan pedang putihnya.
Yui kagum bocah itu dapat menghabisi 2 Demonia lainnya dengan Blade Art yang luar biasa. Meskipun begitu, karena kalah jumlah, Demonia berhasil menyerang bocah itu dengan cakar mereka yang setajam silet.
Bocah itu terluka di punggungnya. Darah mengalir deras karena lukanya yang dalam. Meskipun begitu, bocah itu tetap bangkit dan terus bertarung.
Yui tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia seakan melihat mimpi.
Tapi ada yang membuat dia lebih terkejut, yaitu tatapan mata bocah itu yang kosong dan hampa. Yang Yui rasakan hanyalah hawa membunuh yang kuat.
Setelah beberapa saat, Demonia yang tersisa dikalahkan oleh bocah itu.
Tapi itu bukanlah akhir. Kepakan sayap lainya terdengar dan puluhan Demonia lainnya muncul dan mengepung mereka.
Sekali lagi Yui sadar akan mati. Bocah yang memegang pedang putih juga sudah mencapai batasnya dan bisa tumbang kapan saja.
Disaat itulah, sebuah cahaya merah melesat dan membunuh Demonia yang tersisa. Yui tahu itu adalah sihir ayahnya.
Dengan bantuan ayahnya, Yui dan bocah itu akhirnya selamat. Tapi disaat yang sama, bocah itu tumbang dan tak sadarkan diri karena luka yang diterimanya.
Yui akhirnya kembali ke desa dengan selamat. Mereka mendapatkan banyak buruan dan satu orang bocah yang pingsan bersama pedang katana putih.
Seminggu setelah kejadian itu, bocah itu akhirnya terbangun dari tidurnya.
Semua orang di desa datang menemui bocah itu karena penasaran dan sekaligus kagum dengan kemampuan bocah yang mampu membunuh Demonia dengan hanya sebuah pedang.
Tapi bocah itu hanya menunjukkan tatapan kosong dan tajam. Setelah sembuh, bocah itu mengambil pedangnya dan berusaha pergi dari desa klan Blad.
Tak ada yang mengerti kenapa bocah itu ingin segera pergi, tapi karena itupula mereka tak bisa membiarkan bocah itu pergi.
Meskipun memperlihatkan tatapan kosong, bocah itu sadar kalau dia tak diperbolehkan pergi, jadi bocah itu terpaksa tinggal di rumah Yui.
Bocah itu pergi di pagi hari dan selalu kembali di sore hari selama satu bulan lebih. Bocah itu selalu sendirian dan tak ingin berkumpul dengan anak kecil seumuran dengannya. Pedang putih berhiaskan loncenglah yang selalu menemani bocah itu.
Dua bulan lebih berlalu, tak ada perubahan berarti dari bocah itu. Dia bahkan sering berusaha pergi diam diam, tapi dia selalu gagal.
Suatu hari, ibu Yui menngambil inisiatif karena merasa kasihan dan tak tahan dengan bocah itu.
Ibu Yui dengan perlahan mendekati bocah itu. Perlahan tapi pasti, ibu Yui akhirnya bisa mengambil hatinya.
Tatapan mata bocah itu juga perlahan mulai berubah menjadi hangat dan bercahaya.
Berkat ibu Yui mereka tahu nama bocah itu. Kuro Kagami. Sebuah nama yang unik dan jarang.
Saat Kuro ditanya bagaimana dia bisa di hutan dan bagaimana kondisi keluarganya, Kuro tak pernah menjawab. Bahkan dia justru menunjukkan tatapan kosong. Karena tak ingin Kuro seperti dulu, akhirnya tak ada yang menanyakan hal itu lagi.
Waktu berlalu dengan cepat. Kuro akhirnya mulai membuka hatinya kepada orang di desa. Tapi Kuro lebih membuka hatinya kepada ibu Yui dan Yui.
Kuro lalu diangkat sebagai anak oleh ayah Yui. Karena lebih tua, maka Kuro menjadi kakak.
Tahun demi tahun berlalu. Kuro semakin kuat karena bertarung dengan monster di hutan Rukia dan giat berlatih. Meskipun bukan penyihir, bisa dibilang Kuro bahkan lebih kuat dari penyihir di desa klan Blad.
Yang paling menarik dari Kuro adalah saat dia menemukan telur naga saat berusia 8 tahun. Telur naga itu menetas dan naga merahpun menjadi keluarga klan Blad.
Pada usia 10 tahun, Kuro menjadi salah satu orang terkuat di desa klan Blad.
Klan Blad hidup di tengah hutan, karena itulah mereka sering ke kota terdekat untuk membeli kebutuhan. Karena jauh, maka mereka membeli kebutuhan 1 bulan sekali.
__ADS_1
Klan Blad mendapatkan uang dengan cara menukar dan menjual benda langka atau bahan ritual sihir dari monster yang mereka kalahkan. Normalnya mereka hanya bisa menjual benda yang umum di pasaran, namun berkat Kuro, klan Blad mampu menjual barang barang langka dan mahal meskipun mereka sebenarnya tak begitu tahu bagaimana Kuro mendapatkan barang tersebut, tapi dengan itu keadaan desa klan Blad lebih baik daripada sebelumnya.
Tapi kehidupan mereka yang tenang tak berlangsung lama.
Suatu hari, saat Kuro dan orang dewasa lainnya sedang pergi berburu, perampok datang.
Perampok itu sudah lama mengincar desa klan Blad dan menunggu saat yang tepat. Sebagian perampok itu adalah penyihir, bahkan ada penyihir peringkat S.
Pada hari itu, 13 penduduk klan Blad terbunuh. 7 orang dewasa, 3 orang tua dan 3 anak anak. Mereka semua dibunuh dengan sadis bahkan ada yang diperkosa sebelum dibunuh.
Dan salah satu korban adalah ibu Yui.
"Saat itu ibuku mati karena menyelamatkanku dan berusaha melindungiku. .......Kau tahu, apa yang terjadi saat kak Kuro mengetahui orang yang dia anggap ibu mati?"
"........................."
"Dia menangis. ....Dia menangis dan berkata "Aku gagal lagi..". .......Saat itu aku sadar kalau dia sekali lagi kehilangan orang yang berharga baginya."
"....................."
Laila hanya bisa terdiam. Dia tak menyangka masa lalu Kuro seperti itu.
Tapi dari cerita itulah Laila tahu alasan kenapa Kuro tak ragu membunuh demi orang yang berharga baginya. Dia hanya tak ingin kehilangan orang yang dia sayangi. Itu wajar dan manusiawi.
Kuro dan orang dewasa kembali dan menemukan desa mereka hancur dan terbakar.
Yui ditemukan bersembunyi di bawah tanah, sementara mereka menemukan ibu Yui tewas tertusuk di bagian perut dan dada.
Yui dan ayah Yui bersedih saat orang yang mereka sayangi mati bersama adik Yui yang belum lahir.
Tapi yang paling bersedih adalah Kuro.
Saat mengetahui ibu Yui mati, Kuro kembali seperti dulu. Tatapan kosong dan tajam. Hawa membunuh juga langsung terasa, bahkan lebih gelap daripada sebelumnya.
Kuro tiba tiba pergi dari desa klan Blad. Yui saat itu tak tahu Kuro pergi kemana, tapi dia tahu tujuan Kuro.
Kuro pergi untuk balas dendam. Kuro pergi untuk melawan 40an perampok lebih sendirian.
Ayah Yui tahu mustahil Kuro akan menang karena dia baru berusia 10 tahun. Karena tak ingin kehilangan lagi, ayah Yui mengejar Kuro, tapi Yui juga ingin ikut karena kawatir.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya mereka menemukan Kuro. Tapi mereka tak hanya menemukan Kuro saja. Puluhan mayat bergeletakan dan tak berbentuk manusia lagi berserakan disekitarnya.
Dan yang lebih mengejutkan, mereka mendengar suara raungan dan gertakan gigi dari monster yang sedang makan. Monster itu adalah naga. Naga itu sedang memakan mayat perampok dengan lahap dan sadis.
Pada hari itu pula Kuro yang mereka kenal sudah berubah menjadi monster.
Satu bulan kemudian, desa klan Blad berpindah ke daerah yang lebih dalam dan tersembunyi untuk menghindari kejadian yang sama terulang kembali.
Meskipun desa mereka lebih dalam ke hutan dan lebih berbahaya daripada sebelumnya, namun berkat Kuro dan naga yang menuruti segala perintahnya, tak ada monster yang datang mendekati desa.
Kedamaian kembali tercipta di desa klan Blad, satu satunya yang berubah adalah Kuro yang sekarang dianggap monster dan penyebab perampok mendatangi desa.
Tapi bukan berarti mereka menyalahkan Kuro sepenuhnya. Kuro hanya ingin penduduk desa lebih baik. Semua tahu itu.
Tapi tragedi itu tetap menjadi tragedi paling menyedihkan di desa klan Blad dan mereka butuh orang untuk disalahkan.
Hampir satu tahun berlalu sejak kejadian itu. Sebagian besar sudah melupakan tragedi itu dan menganggap tragedi itu adalah sebuah takdir.
Selama itupula Kuro tak pernah kembali ke desa. Kuro selalu tidur dan tinggal di luar desa sendirian, tapi bukan berarti dia pergi dari desa.
Yui selalu bisa menemukan Kuro di tempat favoritnya, yaitu sebuah pohon yang berusia ratusan tahun. Yui kadang membawa makanan, tapi dia lebih sering datang untuk bermain dengan Kuro.
Tapi sejak tragedi itu, tatapan Kuro selalu hampa dan kosong. Bahkan dia tak pernah tersenyum.
Yui sadar kalau Kuro kembali seperti dulu karena orang yang mengubahnya sudah tiada.
Meskipun tak terikat darah, Yui sudah menganggap Kuro seperti kakak kandungnya sendiri. Dia menyayangi Kuro.
Dan karena itulah dia tak ingin melihat Kuro seperti itu. Dia tahu jika membiarkan Kuro seperti itu, ibunya pasti akan sedih.
Dengan tekad sekuat baja, Yui akhirnya mulai mengembalikan Kuro yang mereka kenal.
Tak seperti dulu, Yui dengan cepat mengembalikan Kuro. Tatapannya kembali hangat dan bercahaya. Saat itu Yui tahu kalau Kuro juga sadar kalau terus seperti itu, ibu Yui akan bersedih.
Kuro lalu kembali ke desa. Banyak yang menyambutnya, tapi ada pula yang masih membencinya.
Satu hal yang membuat mereka terkejut, Kuro ternyata tak hanya menjinakan satu naga, tapi 4 naga.
Anak yang penuh kejutan. Itulah Kuro.
Penduduk mulai menjadikan naga sebagai pelindung desa. Bahkan mereka tak takut dan sering mengajak bermain para naga itu.
Kedamaian kini benar benar datang di desa klan Blad.
Selama satu tahun, Kuro berlatih lebih keras daripada sebelumnya. Dia masih berpikir kalau tragedi dua tahun yang lalu adalah salahnya.
Dengan tekad itulah Kuro berusaha lebih kuat lagi dan lagi. Dia bahkan sering mengikuti turnamen untuk mengetahui seberapa kuat dirinya.
Dia sering gagal dan kalah, tapi itu tak membuatnya menyerah dan justru membuat dia lebih berusaha lagi.
Hingga pada suatu hari, Kuro mengatakan kalau dia ingin berkeliling dunia.
Yui terkejut. Semuanya terkejut bahkan ada yang menentang keinginan Kuro.
Dunia ini lebih berbahaya daripada yang terlihat, tapi karena itulah dia ingin lebih kuat. Dengan lebih kuat, maka dia bisa melindungi orang yang berharga baginya.
2 tahun berlalu, Kuro kembali dari perjalanannya.
Satu hal yang Yui tahu, Kuro berbeda dari saat mereka berpisah dua tahun yang lalu, tapi yang terpenting dia mulai sadar kalau dirinya mulai menganggap Kuro sebagai lawan jenis dan bukan kakak.
Beberapa bulan setelah Kuro kembali, kedamaian klan Blad terusik kembali.
200 knight tiba tiba memasuki hutan Rukia. Semula mereka dikirim untuk menghabisi penjahat yang bersembunyi di hutan Rukia.
Saat itu Kuro merasakan suatu yang ganjil karena jumlah knight yang terlalu banyak hanya untuk menghabisi sekitar 70an penjahat yang sebagian bukan penyihir.
Kuro lalu melakukan penyelidikan. Dengan arahan dan koneksi Kuro, akhirnya mereka menyadari kalau 200 knight itu juga dikirim untuk menghancurkan klan Blad dengan tuduhan bersekongkol dengan penjahat.
Tentu saja itu tidak benar. Dari situlah Kuro tahu kalau ada konspirasi untuk menghancurkan klan Blad.
Dari penyelidikan itu pula, Kuro dan penduduk klan Blad tahu kalau tragedi 4 tahun yang lalu juga didalangi orang yang sama.
Setelah mengetahui semua itu, klan Blad hanya mempunyai dua pilihan, melawan atau melarikan diri.
Tapi Kuro membuat pilihan ketiga, yaitu akan membunuh 200 knight itu sendirian.
Tak ada yang percaya Kuro mampu melakukan itu, tapi dia berhasil.
Itulah awal terlahirnya Witch Reaper dan untuk pertama kalinya Yui melihat Cursed Art (Accell Art).
"Apa sekarang kau mengerti? Kak Kuro adalah orang yang akan memilih 1 nyawa orang yang berharga daripada 1000 nyawa orang yang tak dia kenal. Tapi kau justru mengecewakannya dengan menyuruh Kak Kuro bertanding untuk memenangkanmu."
".............."
"Kau telah menyuruh Kak Kuro menjadi orang yang mengganggap orang yang berharga bagi dirinya adalah sebuah barang yang harus dimenangkan. Apa sekarang kau tahu kesalahan terbesarmu?"
Saat mendengar itu, mata Laila terbuka lebar. Air mata mengalir deras karena semua dugaannya salah.
Dia mengecewakan Kuro. Orang yang mencintai dirinya.
"Ha....... kenapa aku harus memberi tahu semua ini kepadamu? Aku tak mengerti kepada diriku sendiri, tapi satu hal yang harus kau ingat, Kak Kuro membenci orang yang menganggap nyawa adalah sebuah barang, dan kau telah membuat Kak Kuro menjadi orang yang paling dia benci. Itulah kesalahanmu!"
Air mata Laila mengalir lebih deras daripada yang sebelumnya.
"Tapi apa kau tahu kesalahanmu yang mungkin tak bisa dimaafkan Kak Kuro? ....Dengan menyuruh Kuro memenangkanmu, disaat itupula kau menjadikan dirimu sebuah barang. Orang seperti itu lebih buruk daripada sampah."
"?!"
Kata kata Yui merupakan pukulan telak bagi Laila. Air mata terus berlinang. Tubuhnya tersungkur dan Laila mulai menangis tersedu sedu dengan keras.
Melihat itu Yui merasa sedikit bersalah, tapi itulah kenyataanya.
Yui tahu itu. Yui tahu karena dia pernah membuat kesalahan yang sama dengan Laila.
Yui lalu mendesah dan melihat hujan yang masih deras.
"...Jika kau ingin menemui Kak Kuro kau boleh masuk, tapi tak boleh berisik dan menggangunya."
Mendengar itu, Laila langsung menoleh ke arah Yui.
Yui dapat melihat mata Laila memerah karena terlalu banyak menangis. Alasan Yui mengatakan itu hanya agar Laila berhenti menangis dan .......itu berhasil.
Tapi alasan yang sebenarnya karena dia tak ingin dimarahi Kuro.
"Kau boleh menemani Kak Kuro. Anggap saja ini yang terakhir kalinya bertemu."
"..Eh? Apa maksudmu?"
Yui tak menjawab dan mengabaikan Laila. Dia bahkan melangkahkan kakinya pergi, tapi Yui berhenti dan menoleh ke arah Laila.
"Satu hal lagi, kuharap kau berhati hati, karena disaat seperti ini, kebiasaan buruk Kak Kuro akan muncul fu fufu."
"...........eh?"
Meskipun tak tahu maksud perkataan Yui, namun senyuman Yui membuat Laila mendapat firasat buruk.
Laila lalu masuk kamarnya dan menunggu Kuro sadar hingga tengah malam. Selama itupula Yui tak pernah kembali atau melihat keadaan Kuro.
Laila tak terlalu mengerti kenapa Yui membiarkan Laila menemani Kuro, tapi dia bersyukur karena sekarang dia banyak mengetahui tentang Kuro. Dan mengetahui sisi gelapnya yang rela menjadi seorang pembunuh berdarah dingin demi orang yang disayanginya.
Pukul satu malam lebih, Laila mulai mengantuk dan kadang memejamkan matanya. Hujan juga mulai berhenti dan memunculkan dua bulan purnama.
Disaat itulah Kuro mulai membuka matanya dengan perlahan. Dia lalu melihat Laila yang setengah tertidur
Kuro merasakan tubuhnya hampir tak bisa digerakan, karena itulah dia memutuskan untuk beristirahat lebih lama.
Setengah jam kemudian, Kuro kembali membuka matanya dan melihat Laila tertidur pulas di dadanya. Laila bahkan sampai berliur.
Melihat itu, Kuro hanya tersenyum tipis. Dia berusaha bergerak, tapi hal itu membuat Laila mulai terbangun.
Dan Lailapun terbangun seperti anak kecil.
"Apa kau ingin aku menyerangmu, Laila?"
"....Eh?"
Tanpa Laila sadari, piyamanya kendor dan mengekspos sebagian dadanya.
Menyadari itu, wajah Laila memerah dan langsung panik, dan karena dia sedang lupa duduk, diapun akhirnya terjatuh ke lantai dengan cukup keras.
"Ya ampun......."
Kuro hanya bisa tertenyum pahit
__ADS_1