Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Berserk


__ADS_3

"Ugh...Khh.."


Kuro membuka matanya. Pandangannya kabur. Dia merasakan sakit di seluruh tubuhya.


Tubuhnya sulit digerakan dan tak memiliki tenaga.


Tapi-


Dia tetap bangkit. Demi janjinya, dia tak akan menyerah dengan mudah meskipun tubuhnya akan terpotong.


Dia memegang erat Lic dan menggunakannya untuk membantunya berdiri.


"Ha.. ha... ha ...."


Mencoba memfokuskan pandangannya, dia tersenyum.


"Itu gelembung yang berbahaya. Seharusnya kau tak bermain dengan gelembung dari mulut kucing itu, Charl."


Dan dia tetap bisa tersenyum meskipun dia bisa tumbang kapan saja.


Meskipun darah bertetesan dari seluruh tubuhnya, dia tak peduli.


"Kau benar. Knife Storm merupakan serangan yang tak bisa diarahkan dengan bebas. Tapi aku tak punya pilihan lain karena Knife Storm adalah satu satunya magic art-ku yang tak membunuhmu."


"Heeeh... Kalau begitu aku harus berterima kasih karena tak membunuhku?"


"Tidak. Kenapa kau harus berterima kasih? Tapi aku akan menerimanya jika kau menyerah. Terus terang aku tak ingin membunuhmu."


"........................"


Menyerah atau mati?


Tapi satu hal yang pasti, bagi Kuro tak ada kata menyerah. Dia memilih mati daripada menyerah.


Dia juga ingin menang, tapi tubuhnya sudah hampir tak bisa dia gerakan.


Sekarang apa yang harus dia lakukan?


"Kuro........."


Laila hampir tak bisa menahan kesedihannya dan air matanya saat melihat tubuh Kuro yang penuh luka sayatan.


Dia pernah melihat sebelumnya, namun kali ini benar benar berbeda dari tujuh bulan yang lalu.


"Laila, kuharap kau tenang. Serangan Charl sebenarnya tak terlalu mengancam nyawa Kuro."


Jinn mencoba menghibur Laila.


"Sudah kubilang kan? Kuro akan kalah dalam duel ini. Kuro sebenarnya bisa menghindari Knife Storm, namun arena duel yang sempit membuat Kuro tak bisa bergerak leluasa."


"Bisakah kau tutup mulutmu untuk sebentar saja!"


"Aku hanya mengatakan kenyataannya saja. Kenapa kau marah? Lagipula duel akan dihentikan paksa jika membahayakan nyawa, tapi sekarang duel masih terus berlanjut. Selain itu tampaknya Bu guru Otome sudah mempersiapkan Healer untuk berjaga jaga. Jadi tak ada al-"


"Gawat."


"""?"""


Tiba tiba Yui mengatakan kejadian buruk akan segera terjadi.


"Gawat? Apanya yang gawat?"


" Kak Kuro mulai..... kehilangan kesadarannya."


"?!"


Laila langsung menoleh ke arah Kuro yang berdiri dengan tegak, tapi ada bayangan di wajahnya.


"Eh? Kehilangan kesadaran?"


Kuro bahkan terlihat normal. Dia memegang erat Lic meskipun tubuhnya terus meneteskan darah.


"Bukankah dia terlihat baik baik saja?"


"Laila, coba perhatikan dengan baik."


Laila menuruti Jinn dan kembali memperhatikan Kuro dengan seksama. Sekilas memang tak ada yang aneh, namun jika diperhatikan dengan baik, memang ada yang aneh dengan Kuro.


Keanehan itu adalah Kuro yang terdiam membisu.


"Fu fu.. aku tampaknya harus membuatmu menyerah, Kuro. Jangan salahkan aku jika kau terluka parah!"


"................."


Tak seperti sebelumnya, Kuro hanya terdiam. Dia bahkan terlihat mengabaikan Charl.


"Byakko, Wind Ball sekali lagi."


Mulut Byakko terbuka lebar. Gelembung muncul dan melayang ke arah Kuro sekali lagi.


"......."


Kuro masih menghiraukan Charl, tapi dia berlari menuju ke arah Charl dengan kecepatan tinggi menembus gelembung angin.


"Bodoh. Gelembung itu akan pecah jika kau menyentuhnya sedikit sa-!!?"


Charl terkejut bukan main saat melihat Kuro menghindari gelembung yang melayang di udara dengan kecepatan tinggi. Tak hanya itu, Kuro bahkan sambil berlari.


"Tch!"


Menyadari akan dapat masalah jika terus berdiam diri, Charl mulai berlari ke arah samping seperti yang dilakukannya tadi.


Sementara itu, Kuro terus melaju ke arah Byakko tanpa memperdulikan Charl, namun dia menunjukkan senyum tipis yang menakutkan.


Tiba tiba sebuah kilatan kecil terlihat. Kilat itu sangat cepat bahkan hampir tak bisa terlihat oleh mata.


".....?!"


Charl tiba tiba dikejutkan oleh 5 gelembung angin yang berada tepat di depannya.


Dia tengah berlari, karena itulah dia langsung menghentikan langkah kakinya.


Dia berhasil. Dia belum sempat menyentuh gelembung angin Byakko.


Tapi disaat dia merasa lega. Dia dikejutkan lagi oleh gelembung angin yang melesat dengan kecepatan tinggi mengenai 5 gelembung angin sebelumnya.


"Sial!!"


Ratusan pisau angin kini menyerang tubuh Charl seperti badai.


Dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya, namun dia tak terluka sama sekali. Dia beruntung berkat seragam khusus yang mengubah serangan sihir menjadi serangan psikis.


Tak seperti Kuro, Charl bisa menahan sakit dan tak tersungkur.


"?!"


Tapi dia dikejutkan lagi saat Kuro mengabaikannya dan bertarung dengan Byakko.


Byakko kini tak mengeluarkan gelembung angin lagi. Tapi gelembung angin masih melayang di arena.


Kuro menebas Byakko dengan kecepatan abnormal dan memotong beberapa bagian tubuh Byakko. Byakko yang dikenal sebagai salah satu Divine Beast seolah hanya sampah.


Kejadian selanjutnya bisa ditebak, Byakko menghilang menjadi partikel.


Kuro lalu menoleh ke arah Charl yang menunjukkan ekspresi tidak percaya Byakko dikalahkan. Tak hanya dirinya, bahkan semua yang melihat itu tak percaya dengan mata mereka sendiri.


Tapi Byakko hanyalah makhluk.yang tercipta dari sihir. Mengalahkan Byakko tak berarti membuat Kuro menang.


"Fu fu..."


Charl tersenyum tipis saat mengetahui Byakko dikalahkan. Dia tak panik atau cemas. Dia justru senang. Sepertinya Kuro memang Witch Reaper.


Kuro sekarang melangkah ke arahnya dengan perlahan sambil menghunuskan pedangnya.


(Ini gawat, tapi-)


Charl memperhatikan Kuro tak peduli dengan lukanya yang terus mengeluarkan darah. Bahkan setiap kali melangkah, darah terus menetes dari tubuh Kuro.


Tapi dia tak perlu memikirkan lawannya. Yang perlu Charl lakukan hanyalah menang.


Dia lalu mengendalikan angin dan mengarahkan gelembung ke depan Kuro.


Charl  membuat gelembung angin saling bersentuhan dan meletus.


Ribuan pisau angin sekali lagi memenuhi arena.


Tapi-


"?!!"


Sebuah pedang angin yang lebih besar langsung menetralkan ribuan pisau angin kecil. Tak hanya itu, pedang angin besar itu mengarah tepat ke Charl.


Charl menghindar ke samping.


Charl masih belum bisa tenang. Dia melihat Kuro yang berlari ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


Tidak, Kuro bahkan sudah berada tepat di depannya.


"?!"


Tanpa disadari Kuro sudah mengarahkan Lic tepat ke arah leher Charl.


Darah segar menyebar ke lantai arena. Banyak gadis yang berteriak karena melihat Charl akan terpenggal.


Tapi-


"Hampir saja!"


Charl merasa lega saat berhasil selamat.


(Untung saja aku sempat membuat perisai 5 lapis.)


Sihir yang dia gunakan sebenarnya dia ciptakan untuk berjaga jaga suatu hal yang tak diinginkan terjadi, namun dia tak menyangka akan secepat itu menggunakannya.


Charl mengamati Kuro yang sekarang berada di jarak lima meter darinya.


(Tapi kenapa dia benar benar berniat membunuhku?)


Charl tak mengerti, namun ada kemungkinan ada hubungannya dengan Kuro yang terus terdiam.

__ADS_1


"Ugh..."


Charl mengerang kesakitan saat melihat bahu kirinya yang tersayat cukup dalam. Darah terus mengalir, namun itu bukan luka yang terlalu parah.


Dia tak menyangka Kuro akan mampu memotong perisai 5 lapis miliknya. Dan untuk menghindari kepalanya terpenggal, dia melompat kesamping sebelum perisai terpotong sepenuhnya seperti tadi, namun dia tak beruntung karena pedang Kuro masih mengenai dirinya.


Tapi tak hanya itu yang dilakukan Kuro.


Charl melirik pistolnya yang terpotong dan tak bisa digunakan lagi.


Mengingat pistol Charl terbuat dari Magilium murni, seharusnya sulit dilakukan.


(Tidak. Pedang itu sejak awal lebih kuat dari Magilium.)


Dia sekarang mengerti kenapa Kuro menggunakan pedang itu. Pedang itu memiliki kekuatan yang tak bisa diperkirakan meskipun hanya pedang logam.


(Tapi yang lebih mengejutkan adalah kecepatannya yang meningkat pesat. Setelah aku menghindar, dia berputar dengan cepat dan menebas pistolku.)


Charl sekarang tahu kalau Kuro bisa membunuhnya kapan saja.


Tapi-


"Fufu... Ini menarik."


Charl tersenyum puas. Darahnya mendidih karena sudah lama tak bertarung dengan lawan yang membuatnya gemetar.


Byakko muncul sekali lagi di dekat Charl.


"Sepertinya aku memang harus serius menghadapimu, Kuro, tidak, Witch Reaper."


Dia tersenyum bagai maniak.


(Aku akan menghabiskan sebagaian besar manaku, tapi aku tak punya pilihan lain.)


"Tunjukkan wujudmu yang sudah terlahir kembali. Byakkura!!"


Roarrrrr!


Byakko  meraung dengan keras. Ini lebih keras daripada sebelumnya.


Disaat yang sama, 3 lingkaran sihir muncul di bawah kaki Byakko. Tiba tiba angin tornado muncul dan menyelimuti tubuh Byakko.


"Apa apaan ini?"


Jinn terkejut saat merasakan tekanan sihir Charl meningkat dengan pesat.


Tak hanya Jinn, seluruh penonton juga merasakan hal yang sama.


Sepasang mata keemasan muncul di tornado. Disaat itulah tornado tiba tiba lenyap dan menyisakan sosok baru yang terlahir kembali.


Dua kaki menyentuh tanah. Tubuh seperti manusia, tapi memiliki ekor dan telinga harimau. Tinggi badan sebesar dua meter lebih seperti manusia kekar.


Byakko yang berwujud harimau kini berubah menjadi manusia harimau.


Tak hanya itu, dua pedang besar muncul dan mendarat di kedua tangan Byakura.


Semua mata terkejut saat melihat kejadian itu.


Mereka semua tahu hanya penyihir tertentu yang bisa menggunakan magic art Incarnation. Sebuah magic art yang hanya bisa dilakukan oleh seorang penyihir beranking SSS.


"........................................."


Kuro hanya terdiam dan tak menunjukkan reaksi terkejut. Tapi dia sudah bersiap menebas Byakko/Byakkura untuk kedua kalinya.


Di tempat penonton, Yui terkejut bukan karena sosok Byakkura, tapi masih karena Kuro.


"Gawat. Kita harus menyadarkan Kak Kuro secepatnya!"


Yui terlihat panik dan cemas saat melihat Kuro bertingkah aneh. Hal ini wajar mengingat Yui tahu betul apa yang sedang terjadi kepada Kuro.


"Yui. Tenanglah. Bukankah Kuro terlihat baik baik saja? Dia bahkan lebih unggul."


"Kak Laila,  kau tak mengerti. Kak Kuro sekarang tak sadarkan diri. Jika hal ini terus dibiarkan, hal yang buruk akan terjadi."


"Hal buruk? Tapi sejauh ini yang kulihat kekuatan Kuro dan kecepatannya meningkat dengan pesat. Bukankah seharusnya kau senang, Yui. Uhmm.. aku tak apa apa memanggilmu dengan nama depanmu?"


Yui mengangguk.


"Jinn, kau salah."


"Apa maksudmu?!


Knox tampaknya juga menyadari apa yang dimaksud Yui.


"Seharusnya kau sudah tahu. Coba perhatikan dengan baik. Apakah itu Kuro yang selama ini kita kenal?"


Tak hanya Jinn, Laila juga akhirnya menyadari keanehan Kuro.


Mereka sekarang melihat Kuro sudah hampir menebas kepala Charl. Syukurlah, Charl dapat selamat.


Kuro yang mereka kenal tak akan melakukan itu, tapi kini mereka sedang melihat Kuro benar benar berniat membunuh lawannya.


Tapi jika dipikirkan lagi, hal ini wajar mengingat Kuro adalah Witch Reaper.


"Kalian semua melihatnya kan? Kita harus cepat menyadarkan Kak Kuro. Jika dibiarkan terus, Kak Kuro akan benar benar membunuh Charl."


Jinn akhirnya mengerti. Dia juga menyadari kalau hal gawat akan segera terjadi.


"Eh? Bisa jelaskan kepadaku? Terus terang aku masih belum mengerti."


Satu satunya yang belum mengerti hanyalah Laila.


Laila memang kadang tak tanggap dalam situsi seperti ini.


"Dengar, Kak Kuro saat ini sedang berada di alam sadarnya. Tubuhnya saat ini hanya menuruti keinginan terdalamnya"


"Keinginan terdalam?"


"Lebih mudahnya keinginan yang sangat kuat . Kita kadang mendapatkan kekuatan meskipun tubuh sudah tak sanggup berdiri. Kak Laila pernah mengalaminya kan?"


Laila mengangguk.


Tekad. Itulah yang dimaksud Yui.


Dan tekad itulah yang sekarang menggerakan dan mengambil alih tubuh Kuro. Tekad untuk tak menyerah dan terus bertarung.


Berserk itulah kondisi yang terjadi kepada Kuro saat ini.


"Jika dalam kondisi normal, Kak Kuro mampu menggunakan kekuatan ini dan mengontrolnya. Tapi seperti yang kalian lihat, dia kehilangan kendali."


"Mengon...trol?."


Jinn sekarang mengerti kenapa kekuatan dan kecepatan Kuro kadang meningkat dengan pesat. Tapi mengontrol kekuatan dari tekad yang mengamuk bisa dibilang hal yang mustahil, tidak, lebih tepat jika dibilang membutuhkan kendali yang luar biasa.


"Tunggu, Yui bilang jika keadaan normal, jangan bilang kalau-"


Yui menutup matanya sesaat dan mengambil nafas.


"Kak Laila belum menyadarinya? Bukanlah kak Kuro  bertingkah aneh akhir akhir ini? Tidak, lebih tepatnya terlalu banyak istirahat? Selain itu, bukankah dia tak pernah menggunakan beban latihan akhir akhir ini?"


Laila mengingat kembali saat setelah Kuro kembali. Dan apa yang dikatakan Yui memang benar.


"Saat ini Kak Kuro sebenarnya berada di kondisi terlemahnya. Dan itulah mengapa dia lepas kendali. Dia terus bertarung meskipun tubuhnya terus terluka. Meskipun tubuhnya tercabik cabik. Meskipun seluruh tubuhnya hancur. Dia akan terus bertarung. Kau pasti tahu alasannya kan?"


Mata Laila melebar saat Yui menoleh ke arahnya dengan tatapan menyedihkan.


Laila sekarang mengerti kenapa Kuro terus bertarung meskipun dalam kondisi terlemah. Hal itu karena Kuro mencintai dirinya.


Demi membuktikan cintanya, Kuro akan mengalahkan Charl, dan cara yang tercepat untuk mengalahkan Charl adalah membunuhnya. Itulah kenapa Kuro tanpa ragu memenggal Charl meskipun tak sadarkan diri.


"...................."


Apakah ini yang dimaksud Yui dengan membuat kesalahan terbesar? Jika ya,-


(Yui benar. Aku telah membuat kesalahan terbesar.)


Kesalahan terbesarnya bukanlah menyuruh Kuro bertarung, tapi meragukan cinta Kuro.


"Apa apaan ini?"


"?!"


Tiba tiba Laila merasakan tekanan mana Charl meningkat dengan pesat.


Laila langsung kembali menoleh ke arah arena. Mata Laika melebar saat Byakko berubah menjadi Byakkura. Disaat yang sama, dia melihat ke arah Kuro yang menunjukkan tatapan kosong tanpa jiwa.


Divine Contractor. Mereka adalah penyihir yang mempunyai magic beast berwujud monster dalam legenda. Itulah yang membuat Divine Contractor memiliki kekuatan yang lebih besar dari penyihir tipe Contractor biasa.


Byakkura dan Kuro sekarang beradu pedang sekali lagi dengan kecepatan abnormal.


Pertarungan mereka berada di level yang berbeda. Kecepatan, kekuatan dan dampak tebasan pedang angin memenuhi arena.


Tapi tak hanya itu, darah Kuro juga menyebar dan berceceran di arena.


"?!"


Laila dikejutkan oleh Kuro yang terlempar ke dinding perisai dengan keras. Darah memenuhi perisai bagai minuman tumpah.


Semua mata terkejut saat Kuro ternyata masih sanggup bangkit dari lukanya yang bisa dibilang parah dan sekali lagi menghunuskan pedangnya.


"Tch...Aku benar benar tak ingin membunuhmu, Kuro. Kau seharusnya sadar tak mungkin bisa mengalahkan Byakkura. Kekuatan dan kecepatannya berbeda dengan Byakko."


Tapi Charl tahu Kuro tak akan menyerah. Meskipun tubuh Kuro bisa dibilang mengalami luka parah.


"Menyedihkan."


Kedua kaki Charl bersinar sebagai tanda dia akan menggunakan magic art Leap.


"Byakkura. Kita akhiri pertarungan ini."


Byakkura berlari ke arah Kuro. Charl juga melakukannya.


Claang!!


Dua pedang Byakkura berhasil ditahan Kuro. Kuro sedikit terdorong ke belakang akibat kekuatan Byakkura yang besar.


Byakkura dan Kuro saling mendorong mundur. Disaat itulah Charl memukul Kuro tepat di bagian dada berkali kali. Kekuatan pukulan Charl lebih kuat dari pukulan normal karena menambahkan energi sihir disetiap pukulannya.


Tes tes.. tes..

__ADS_1


Darah muncrat mengenai wajah dan baju Charl. Tapi di tak peduli dan terus memukul Kuro yang sekarang bagai mayat hidup.


Sekali lagi tubuh Kuro terlempar ke dinding perisai setelah menerima pukulan terakhir.


"Ha... ha... ha..."


Nafas Charl terengah engah, namun dia melebarkan matanya saat Kuro masih bisa bangkit.


"...Kau lawanku yang paling lama bisa bertahan, tapi pertarungan ini sungguh membuatku muak. Kenapa kau tak menyerah? Jika kau menyerah, kau tak akan mati."


"..................."


Tapi Kuro tak peduli dan terus terdiam. Kata kata dan peringatan Charl sama sekali tak sampai ke Kuro.


"Haa... Kurasa aku terpaksa melakukan ini. Healer pasti akan dapat menyembuhkanmu, jadi jangan salahkan aku. Ingat. Kau yang membuatku melakukan ini."


Charl melirik ke arah kaki Kuro. Dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengakhiri pertarungan ini.


"Byakkura. Kita potong kaki Kuro!"


"?!"


Laila terkejut saat mendengar apa yang akan Charl lakukan.


Tapi itulah cara yang terbaik untuk mengakhiri duel ini.


Jika kaki Kuro terpotong, maka duel akan dihentikan paksa karena Kuro tak bisa bertarung lagi. Selain itu Charl juga tak perlu membunuh Kuro.


Charl dan Byakkura melakukan serangan kombinasi sekali lagi. Mereka berlari ke arah Kuro secara zig zag dengan kecepatan tinggi.


"Byakkura!"


Byakkura maju terlebih dahulu menyerang Kuro dengan kedua pedangnya yang beberapa kali lebih besar dari katana Kuro.


Clang!!


Tak disangka, Kuro menahan dengan tebasan horizontal dan membuat Byakkura terpental ke belakang.


"!? Kekuatannya meningkat lagi."


Mendapatkan firasat buruk, Charl meningkatkan kecepatan Leap. Dia kali ini berusaha menjegal Kuro dengan kecepatan tinggi.


Kuro tak berusaha menghindar, dia justru berusaha menebas kaki Charl.


"Sial!"


Tapi sebelum pedang Kuro menebas kaki Charl, Byakkura menahan pedang Kuro.


Suara pedang saling berbenturan memenuhi arena lagi.


Charl beruntung Byakkura menghentikan tebasan Kuro. Jika tidak, dia sudah kehilangan kakinya.


Pertarungan kembali terjadi antara Kuro dan Byakkura. Pedang mereka saling beradu dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada sebelumnya.


Hal ini membuat semua penonton berkeringat dingin. Bahkan termasuk Charl.


"Apa apaan dia? Dia bahkan mengimbangi kecepatan Byakkura. Dia monster, .....tidak..."


Inilah kekuatan sesungguhnya dari Witch Reaper.


"Kak Kuro mempunyai kemampuan yang disebut Learn. Serangan yang sama tak akan pernah berhasil kepada kak Kuro. Selain itu, semakin kuat lawannya, semakin kuat pula kak Kuro."


"""...............!?"""


"Karena itulah dia akan menang, tapi jika kita tak segera menyadarkan kak Kuro, tubuhnya akan hancur karena tak bisa menahan kekuatannya."


Darah terus memenuhi arena. Sedikit demi sedikit arena berubah menjadi kolam darah.


"Selain itu, jika ingin kak Kuro menang, kita harus segera menyadarkan kak Kuro. Karena kekuatannya yang sebenarnya hanya bisa dikeluarkan jika dalam keadaan sadar. Selain itu, ini hanyalah satu satunya cara agar kak Kuro tak akan membunuh Charl." lanjut Yui


"Kekuatan yang sebenarnya?" tanya Knox.


Yui mengangguk pelan.


Sementara Jinn terdiam karena tahu dan pernah melihat kekuatan Kuro.


"Yui, jika apa yang kau katakan benar, ayo cepat kita sadarkan Kuro."


Laila terlihat bersemangat.


"Itulah masalahnya, ... aku tak tahu cara menyadarkan kak Kuro jika sudah seperti ini."


Laila, Jinn dan Knox langsung terdiam oleh perkataan yang tak mereka sangka.


Tapi duel akan terus berlangsung hingga salah satu kalah. Kuro terus bangkit, sementara Charl bisa dibilang sudah hampir kehabisan mana.


Hanya masalah waktu saja pemenang duel ini ditentukan. Yang menjadi masalah adalah Kuro mungkin akan membunuh Charl, dan Charl kemungkinan akan membunuh Kuro mengingat masih banyak magic art yang belum dia keluarkan.


Sebagai penyihir peringkat SSS, Charl mempunyai magic art yang kuat dan sekaligus berbahaya. Di dalam duel ini Charl belum mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya karena tak ingin membunuh Kuro, tapi jika terdesak, mungkin dia akan mengeluarkan kekuatan sesungguhnya.


Perisai arena duel sanggup menahan serangan sihir setara penyihir peringkat Master, tapi ada kasus perisai hancur dalam duel.


Salah satu orang yang melakukan itu adalah kakak Laila. Arthuria sang Prince of Phoenix.


"Yui...., benarkah kau tak tahu cara menyadarkan Kuro?"


"Kau adalah orang terdekat Kuro, jadi kau pasti tahu caranya."


".............."


Yui terdiam karena memikirkan cara yang tepat untuk menyadarkan Kuro.


Jinn benar. Dia adalah orang terdekat Kuro. Jadi bisa dibilang dia adalah satu satunya harapan agar pertarungan ini berakhir dengan damai.


Setelah beberapa saat, Yui menunjukkan ekspresi rumit. Tapi entah mengapa dia melirik Laila dari bawah hingga ke atas.


"Jujur saja, aku hanya pernah melihat  kak Kuro seperti dua kali. kak Kuro biasanya akan langsung sadar setelah tujuannya tercapai, tapi kita tak bisa membiarkannya kali ini."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"


" Aku senang kau bertanya."


"?"


"Ini hanya teoriku saja, tapi tak ada salahnya mencoba. Ayo ikut aku.!"


"Huh , ikut? Kema- Wooa.."


Yui langsung menarik Laila ke atas tangga yang digunakan untuk naik ke atas arena.


Dari tempat itu Laila melihat seluruh arena penuh darah dan Kuro yang sudah terluka parah dan tak sadarkan diri.


"Kak Laila kita hanya punya kesempatan sekali saja. Jika gagal, terus terang aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi."


Mendengar peringatan Yui yang berada di sampingnya, Laila menelan ludahnya dan berkeringat dingin.


Dia tak tahu rencana Yui, tapi dia mengangguk.


"Kita akan tunggu sampai kak Kuro tak beradu pedang. Disaat itulah panggil nama kak Kuro  Dia mencintaimu, pasti dia akan sadar setelah kau memanggilnya."


Baamm!!


Mereka dikejutkan oleh benturan perisai yang berada tepat di depan mereka. Tak hanya itu, ada bercakan darah. Itu tanda mereka harus segera menyadarkan Kuro.


"Hanya itu? Apa kau yakin akan berhasil?"


"Tenang saja. Pepatah lama mengatakan 'Cinta tak bisa dikalahkan oleh apapun, bahkan oleh Tuhan sekalipun'. Jadi jika kau mencintai kak Kuro maka percayalah dia akan sadar."


Meskipun terdengar mencurigakan, Laila mengangguk karena tak ada pilihan lain.


"Baiklah, aku mengerti."


Mereka berdua menoleh kembali ke pertarungan antara Byakkura dan Kuro. Sementara Charl menonton dan menjaga jarak dari pertarungan mereka.


Charl tak punya pilihan. Dia harus tetap mengamati dan menentukan strategi terbaik untuk mengalahkan Kuro.


Kelemahan terbesar penyihir tipe Contractor adalah kadang magic beast mereka lebih kuat daripada penyihir itu sendiri. Hal inilah yang membuat kebanyakan akan menargetkan penyihir daripada magic beast mereka.


Tapi Kuro berbeda. Dia justru bertarung dengan Byakkura. Ini aneh dan sekaligus menakutkan mengingat Kuro adalah orang biasa.


"Byakkura, Hammer Blade!"


Byakkura langsung mengayunkan kedua pedangnya secara horizontal tepat ke arah Kuro. Kuro juga membalas dengan tebasan horizontal.


Disaat pedang mereka belum sempat beradu, pedang Kuro tertahan oleh dinding tak terlihat dan mendorong tubuhnya dengan keras.


Kuro terdorong, tapi dia langsung menebas udara di depannya dan suara benturan keras terdengar di perisai yang terdapat tepat di belakang Kuro.


"Tch!"


Charl baru pertama kalinya menemukan lawan merepotkan seperti Kuro.


Dia mengamati pergerakan Kuro dan tubuh Kuro yang banyak mengeluarkan darah. Bagaimana dia masih bisa bertarung dalam keadaan seperti itu?


"Kurooooo!!"


Disaat itulah Charl mendengar Laila memanggil Kuro. Secara spontan Charl langsung menoleh. Kuro juga melakukan hal yang sama seperti Charl.


"Kuro, sadarlaaaahh!"


Laila berteriak dan kadang memukul dinding kekkai.


"Ini berhasil. Terus panggil kak Kuro. Lalu aku akan melakukan sisanya."


(?)


Laila tak mengerti, namun dia terus memanggil Kuro.


Sayangnya, Kuro belum sadar dan akan kembali melanjutkan pertarungan.


(Gawat. Ini tak berhasil. Kenapa?)


Bukankah Kuro mencintai dirinya? Kenapa suaranya tak sampai kepada Kuro?


Disaat hampir putus asa, Laila langsung merasa ada orang yang memegang roknya. Orang itu adalah Yui.


Dengan cepat Yui mengangkat rok Laila hingga seluruh celana dalamnya terlihat dengan jelas. Celana hitam seksi dan biasa dipakai oleh wanita dewasa kini terlihat oleh Kuro dan semua penonton duel itu.


"huh?"

__ADS_1


__ADS_2