
3 menit sebelumnya.
Kuro akhirnya mulai memasuki hutan bambu. Tak seperti sebelumnya, dia terus berlari zig zag untuk menghindari pohon bambu yang tumbuh subur.
2 km memasuki hutan, dia tak menemukan siapapun yang menghadangnya.
(Mungkinkah....)
Tebakan Kuro benar. Mereka tak berpisah seperti Ash dan Kazt. Mereka bertiga berkumpul di jarak 5 km di depan Kuro. Alex, Toth dan Dexa berbaris sambil bersiap memanggil magic beast mereka.
""
""
""
Setelah memanggil nama sihir mereka, 3 lingkaran sihir muncul dan sesosok mahkluk sihir muncul dari 3 lingkaran sihir itu.
Siix berupa belalang sembah berwarna putih yang mempunyai 6 kaki dan 4 sabit pemotong yang menjadi senjata utama.
Qwaria berwujud serigala api berwarna merah mempuyai dua ekor yang ujungnya seperti obor dan memiliki taring yang besar.
Baraki berwujud manusia batu yang mempunyai tangan besar. Sekilas mirip manusia berotot, hanya saja terbuat dari batu. Ketiga magic beast berbaris di depan mereka bertiga menunggu Kuro.
"Siix, potong!!"
Alex tak mengendalikan Siix untuk memotong Kuro, tapi memotong pohon bambu di sekitar mereka. Pohon bambu satu persatu tumbang dan menghasilkan sebuah lingkaran berdiameter 20 meter. Mereka seolah menyiapkan sebuah arena pertarungan.
Tetapi setelah beberapa saat menunggu, Kuro belum muncul.
""".....................""""
Kenapa Kuro belum muncul?
Seharusnya dia sudah aampai karena Knox mengatakan bahwa Kuro berlari dengan kecepatan tinggi menuju ke arah mereka bertiga.
"Toth, gunakan itu... "
Toth menganguk dan mulai berkonsentrasi. Dia memejamkan matanya dan menggunakan Beast Vision. Ini adalah keunggulan magic beast atau penyihir tipe Contractor. Mereka bisa menggunakan kemampuan magic beast mereka tergantung wujud magic beast. Contohnya adalah Toth yang menggunakan mata Qwaria yang memiliki ketajaman 100 kali lipat dari manusia.
Qwaria menoleh ke samping dan kebelakang sebagai tanda Toth juga melihat ke arah yang sama.
".........eh?"
Sayangnya Toth tak menemukan siapapun di depan, belakang atau di samping mereka. Aneh. Lalu dimana Kuro?
Saat ini Kuro di atas pohon sambil menggunakan teknik Miss Direction atau menghilangkan hawa keberadaan. Teknik itu sebenarnya kurang cocok menghadapi para penyihir, tapi teman sekelas Kuro bukanlah penyihir pengalaman yang bisa menggunakan sihir dengan maksimal, jadi teknik itu sudah cukup.
"ku ku...."
Dia tersenyum senang saat melihat ketiga temannya sedang tampak bingung mencari dia. Itu wajar mengingat dia berdiri di antara dedaunan dan pohon bambu. Dia membentangkan kakinya untuk menahan tubuhnya tetap di atas pohon.
(Kurasa ini akan menyakitkan.)
Di kedua tangannya ada 12 cabang bambu seukuran pensil yang ujungnya sudah diruncingkan. Ini adalah teknik untuk membunuh musuh dari jarak jauh. Biasanya Kuro menggunakan jarum panjang sebagai senjata, namun itu bukanlah masalah. Asal memiliki bentuk yang sama, itu sudah cukup untuk Kuro. Tentu saja dia tak berniat membunuh ketiga temannya, dia hanya akan melumpuhkan mereka bertiga.
Kelemahan Contractor adalah tubuh penyihir yang mengendalikan magic beast. Dengan kata lain Kuro tak perlu buang buang waktu dan tenaga untuk menghadapi magic beast.
"........Ini mengingatkankanku saat membunuh penyihir peringkat S itu..."
Dia tersenyum bagai iblis dan lalu menendang dua pohon bambu yang digunakan untuk menahan tubuhnya dan dia lalu menendang pohon bambu lagi hingga melengkung dan menggunakannya untuk mempercepat lompatannya seperti ketapel.
Kuro melompat tepat di belakang mereka dengan kecepatan tinggi.
"""?!"""
Mereka bertiga terkejut saat menyadari Kuro di belakang mereka. Mereka lalu bersiap mengendalikan magic beast untuk menyerang Kuro, namun sebelum itu terjadi mereka merasakan sakit di kedua paha mereka seperti tertusuk sesuatu.
Rasa sakit di kedua paha mereka membuat kehilangan konsentrasi untuk mengendalikan magic beast. Lalu di saat yang hampir bersamaan mereka merasakan sakit yang sama di kedua lengan mereka bertiga.
Wajah mereka bertiga menunjukkan rasa sakit yang luar biasa, bahkan Toth sudah tak bisa mempertahankan wujud magic beast dan akhirnya menghilang menjadi partikel kecil.
"Ughhh."
"Sial."
"..Khhh.."
Mereka bertiga menunjukkan kebencian dan rasa sakit akibat ulah Kuro, namun sekali lagi mereka tak melihat Kuro dimanapun.
"""?!"""
Ketiganya terkejut dan akhirnya kehilangan kesadaran mereka karena mereka terkena pukulan di belakang kepala mereka. Tentu saja yang memukul mereka bertiga adalah Kuro yang tiba tiba saja muncul entah darimana.
Mereka bertiga tersungkur ke tanah dan magic beast yang tersisa menghilang.
"Haaaaaaa...."
Sekali lagi Kuro mendesah dalam saat melihat ketiga temannya (musuh?) tergeletak tak berdaya.
Kuro tak mau repot, karena itulah dia melakukan semua ini. Meskipun tindakannya terlihat kejam, tidak, itu memang tindakan kejam, namun dia memang harus melakukannya.
Lalu Kuro melanjutkan larinya dengan wajah bosan. Dia sekali lagi kecewa karena ini lebih mudah daripada saat melawan Kazt dan Ash.
Kuro bahkan hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 detik untuk mengalahkan mereka bertiga.
(Ya kurasa wajar mereka memotong bambu agar aku tak dapat bersembunyi dan bergerak di antara pepohonan, namun itu memudahkanku untuk menyerang mereka karena tak ada pohon yang menghalangi. Hmmm... kurasa ini menjadi pengalaman yang bagus untuk mereka bertiga.)
Dia lalu tersenyum karena merasa telah memberikan pelajaran yang bagus buat mereka bertiga.
(?)
Kuro terus berlari dengan dengan kecepatan tinggi bahkan setara atau lebih cepat dengan sihir Leap. Dia berlari menghindari pohon dan semak semak. Melompat di antara bebatuan pinggir danau dan terus berlari. Dia tak melihat temannya sepanjang 5 km.
Dia sedikit kecewa, namun dia tersenyum saat melihat dua temannya terlihat berada di jarak 6 km di pinggir danau. Kuro tahu mereka berdua adalah Jinn dan Seta.
Jinn adalah penyihir tipe User berelemen tanah, dan Seta adalah penyihir tipe Contractor berelemen angin. Peringkat Jinn adalah B dan Seta adalah C.
Mereka berdua tampaknya menyadari kalau Kuro berlari menuju ke arah mereka, karena itulah mereka mengaktifkan sihir mereka sebelum Kuro datang mendekat.
Senjata sihir magic arm Jinn adalah dua gauntlet yang berada di tangannya. Dia adalah petarung jarak dekat dan bertipe kekuatan. Sementara itu magic beast Seta adalah elang sebesar 1 meter dan memiliki sayap sepanjang 2 meter lebih. Elang itu bernama Frea.
__ADS_1
Frea terbang menuju ke arah Kuro. Seta ingin menyerang Kuro sebelum sampai di tempat mereka.
"....Hmm?"
Kuro tersenyum saat melihat kombinasi serangan jarak pendek dan jarak jauh mereka berdua. Mereka kompak karena mereka memang berpasangan. Namun, ada hal yang membuat menarik perhatian Kuro, yaitu tanah rerumputan di depan mereka berdua tak berwarna hijau, namun berwarna putih seperti kaca..
(Es?)
Tanah es di depan mereka berbentuk persegi 50 m kali 50 m. Melihat itu, Kuro sadar tampaknya mereka telah menyiapkan cara untuk menangani kecepatannya.
Tapi mereka pasti juga menyadari kalau Kuro bisa memilih berlari di pinggir tanah es dan membuat tanah es tak berguna. Apakah mereka bodoh?
Kuro menggelengkan kepalanya. Dia tahu saat ini dia seperti ditantang untuk menerima sebuah ujian. Jika dia menghindar, dia bsia dibilang pengecut.
Frea sudah dekat dan bersiap menyerang.
Frea terbang di atas Kuro dan turun menukik dengan kecepatan tinggi sambil bersiap menerkam Kuro dengan cakarnya yang tajam. Sayangnya Kuro dengan mudah menghindarinya dan terus berlari. Hal ini terjadi sampai tiga kali.
Seta sadar serangannya tak berguna dan akhirnya memilih mengganti serangan. Kedua sayap Frea bercahaya dan terbang menghadang Kuro di ketinggian 6 meter.
(Gawat!)
Kuro menyadari bahwa cahaya itu adalah tanda bahwa Frea akan menggunakan sihir. Frea berhenti di udara dan dengan cepat mengepakan sayap besarnya. Sayap itu menghasilkan angin dengan kecepatan tinggi seperti topan dan membuat Kuro tertahan. Tak hanya itu, cahaya menyilaukan panjang melengkung juga terlihat diantara angin yang dihasilkan Frea. Itu adalah pisau angin yang merupakan serangan umum seorang penyihir berelemen angin.
"Menarik..."
Jadi apa yang harus dia lakukan?
Kuro saat ini terhenti karena angin kencang yang sama seperti badai. Selain itu ditambah dengan pisau angin yang terbang ke arahnya. Ini situasi yang cukup gawat.
Sayangnya itu berlaku kepada orang normal atau penyihir biasa.
Kuro berlari ke arah sebaliknya dan menghindari pisau angin yang memotong pohon dan rerumputan di sekitarnya. Setelah keluar dari daerah serangan, Kuro berhenti bergerak. Diam dan menunggu.
Serangan Frea kuat, namun sampai kapan Seta akan mampu mengeluarkan serangan tak berguna seperti itu? Hal itu karena jarak serangan Frea hanya 10 meter dan selebar 5 meter saja.
5 detik kemudian, Frea berhenti mengepakkan sayapnya dan tak menggunakan serangan badai pisau lagi.
Kuro tahu masa aktif sihir Frea sudah habis. Ini waktunya serangan balasan.
Kuro menendang tanah dan melesat ke arah Frea. Kali ini dia lebih cepat dari sebelumnya.
Hanya dibutuhkan kurang satu detik untuk sampai di bawah Frea, setelah itu Kuro menghilang seperti ditelan bumi.
Sosok Kuro kembali muncul di samping Frea dan melakukan serangan tendangan. Kecepatan Kuro membuat Seta terlambat memberikan perintah sehingga serangan tak bisa dihindari.
Penyihir tipe Contractor memiliki keunggulan untuk bertarung dengan jumlah yang lebih banyak. Selain itu, mereka bisa menggunakan magic beast sebagai pemantau. Tapi bukan berarti penyihir bisa mengirim magic beast mereka ke tempat yang terlalu jauh.
Semakin jauh jarak, semakin banyak sihir dan konsentrasi yang diperlukan untuk mengendalikan magic beast. Karena itulah tak aneh bagi Setan untuk terlambat memberikan perintah meskipun dia terhubung dengan Frea.
Tetapi bukan itu saja yang membuat Seta merasa kesal. Serangan Kuro memiliki kekuatan yang cukup untuk menjatuhkan Frea dan menghancurkannya menjadi partikel.
Akibat efek samping dari hancurnya magic beast, Seta kehilangan banyak energi sihir dan tenaga.
Sementara itu Kuro merasa sedikit terhibur. Serangan Frea kuat, tapi masih banyak celah. Dia lalu melirik ke arah Jinn. Dia berharap serangan Jinn mengecewakan.
Kuro mendarat dan langsung berlari. Dia sesekali melompat untuk menghindari lubang jebakan yang telah dipasang.
Dia dapat menebak siapa yang membuat tanah es yaitu Ishi dan Suburo yang merupakan penyihir berelemen air. Namun jika membuat tanah es hanya untuk memperlambat gerakan Kuro, seharusnya mereka tak perlu melakukan ini.
(Mungkinkah?)
Tebakan Kuro benar. Hal itu diperkuat dengan warna lapisan es yang berbeda di bagian tengah.
Di saat yang sama, Jinn tersenyum dan bersiap menggunakan magic art.
Kemampuan magic arm Jinn mampu memperkuat serangan pukulan berkali lipat tergantung energi sihir yang digunakan. Gauntlet di tangan kanan Jinn bercahaya, lalu Jinn memukul lapisan es yang berada di depannya.
Lapisan es hancur memanjang menuju ke tengah dan menunjukkan air di bawah lapisan es.
(Gawat!!)
Saat ini Kuro tak bisa berhenti karena es yang licin. Dia juga melihat air yang berada di tengah tanah es. Hal inilah yang menyebabkan warna lapisan es berbeda.
Ini bukan tanah es. Ini adalah kolam es.
Menyadari bahwa dia tak bisa berhenti, Kuro akhirnya pasrah tercebur ke dalam kolam, namun sebelum dia tercebur, dia memutar tubuhnya beberapa kali seperti sedang menari.
"Sacred element art Ice Cage"
Dalam sekejap air yang berada di tengah lapisan es membeku bersama Kuro.
Jinn dan Seta tersenyum senang karena berhasil membekukan Kuro. Memang Kuro kuat, namun kekuatan saja tak cukup untuk bisa lepas dari penjara es.
Tapi siapa yang menggunakan Sacred element art tipe air?
Dia adalah Ishi. Dia muncul dari bawah tanah di samping Jinn. Itu adalah tempat sembunyi yang dipersiapkan untuk menipu Kuro agar mengira bahwa dia berhadapan dengan dua orang. Ishi terlihat senang, tapi juga terlihat sangat kelelahan.
Mereka bertiga lalu berjalan menuju ke tengah untuk melihat Kuro yang membeku di dalam kolam es. Dari luar memang tampak lebar, namun sebenarnya kolam itu sedalam 8 meter. Dengan begini, mereka bertiga telah berhasil menghentikan Kuro.
Jinn masih mengaktifkan gauntletnya untuk berjaga jaga karena mereka belum tahu seberapa kuat Kuro.
"Huhh.. aku tak menyangka satu orang bisa sangat merepotkan!" ucap Seta.
"Ya. Aku setuju."
Mereka saat ini berdiri tepat di mana Kuro tenggelam dan membeku. Mereka juga memperhatikan es yang mengurung Kuro. Keras, dingin dan licin. Mereka ingin memastikan Kuro benar benar membeku, namun ada yang aneh di bawah mereka.
Es yang mengurung Kuro tak terlihat jelas. Bahkan seperti ada bola besar yang berada di dalam es.
"Kita seperti berhadapan dengan penyihir peringkat S, Apa benar dia hanya orang biasa?"
".......Mungkin dia melakukan latihan yang berat untuk mencapai semua itu."
Jinn memberikan komentarnya.
Dia sebenarnya cukup mengagumi Kuro karena berhasil membuat mereka kerepotan seperti itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Ishi, kau tahu kan jika dia tak segera keluar, Kuro bisa saja mati."
"Seta, kau tak usah kawatir. Aku akan segera membebaskannya, tapi hanya kepalanya saja, he he."
__ADS_1
"Memang itu rencananya. ha ha.."
Mereka bertiga tersenyum kecut, lalu mengangguk satu sama lain.
"Ishi, kuserahkan padamu!"
"Ok."
Ishi kemudian jongkok untuk mencari lokasi kepala Kuro, namun itu tidak mudah karena dia tak melihat apapun di dalam es.
KRAAAKKK...
Tiba tiba mereka mendengar suara es retak tepat di bawah mereka. Retakan itu berasal dari dalam bola yang terdapat di dalam es.
"Mustahil!"
"Sial! Seta, Ishi, segera menyingkir dari sana!!"
Mereka bertiga dengan cepat menyingkir dan berjalan menuju tempat mereka semula, yaitu pinggir kolam es.
Sayangnya mereka tak bisa cepat karena es yang licin. Hal ini mudah bagi Ishi dan Jinn, tapi Seta sudah terlalu lelah. Dengan terpaksa mereka berdua memegang tangan Seta dan menariknya.
Kraaaak.. Kraaak.. kraakkkk..... .KRAAaaaaak
Retakan semakin melebar hingga membuat seluruh kolam es mulai pecah menjadi bongkahan.
Lalu ledakan terjadi di tempat Kuro membeku dan menerbangkan bongkahan bongkahan es.
Seta, Ishi dan Jinn sudah sampai di pinggir kolam es, namun mereka tak bisa tenang.
"?!"
Mata Jinn terbuka lebar saat melihat bongkahan es sebesar setengah meter terbang menuju ke arah mereka bertiga. Dengan cepat dia mendorong Ishi dan Seta hingga tersungkur ke tanah dan langsung memukul bongkahan es hingga berkeping keping. Sayangnya bongkahan es yang melayang ke arahnya bukan hanya satu.
Bongkahan es berukuran setengah meter lainnya terbang ke arahnya, namun dia dengan mudah menghancurkannya hingga berkeping keping.
"Ya ampun. Aku tak menyangka kau benar benar merepotkan. Apakah kau benar benar manusia, Kuro?"
"........."
Kuro hanya tersenyum. Dia berjalan dengan perlahan menuju ke arah Jinn, Seta, dan Ishi. Di beberapa bagian bajunya membeku dan basah, namun Kuro terlihat baik baik saja.
Sambil berjalan, dia menendang es di bawahnya menggunakan tumitnya hingga hancur dan melayang ke atas, lalu dia langsung menangkap dan melempar bongkahan es ke arah Jinn.
Namun sekali lagi Jinn menghancurkannya.
"Aku manusia. Apa kau tak melihatnya?"
"Mana ada manusia bisa lolos dari penjara es dengan mudah."
"Itu akan sulit jika terperangkap, namun berbeda jika kau tak terperangkap, benar kan?"
"""?!""""
Mereka bertiga terkejut di saat yang bersamaan karena menyadari maksud perkataan Kuro. Kuro sejak awal tahu kalau lawan dia tak hanya Jinn dan Seta.
"Begitu rupanya." Jinn tersenyum. "Memang ini adalah jebakan yang sangat mudah ditebak, tapi aku sedikit penasaran bagaimana kau bisa lolos."
Mendengar pertanyaan Jinn, Kuro tersenyum dan berhenti melangkah maju.
"Hmmm... yah kalian bertiga pasti tahu aku memutar tubuhku sebelum tercebur kan?"
"......Jangan bilang kau juga melakukannya di dalam air?"
Seta keheranan dengan penjelasan Kuro yang bisa dibilang sulit dipercaya.
"Ya begitulah. Aku berputar untuk menghilangkan air di sekitarku sehingga aku tak membeku. Sebagai tambahan, ini bukanlah pertama kalinya aku menghadapi jebakan seperti ini, yaahh... untung saja waktu itu bukan musuh, jadi setelah itu aku berlatih agar tak terkena jebakan yang sama dua kali."
Meskipun penjelasan Kuro tak masuk akal, namun mereka sekarang mengerti kenapa Kuro bisa lolos dari jebakan mereka bertiga. Itu juga menjelaskan bahwa sebenarnya Kuro sengaja terjebak. Tapi untuk apa dia melakukan itu?.
"Baiklah, bisa kita mulai babak keduanya?"
Perkataan Kuro membuat mereka bertiga bersemangat. Pertarungan belum berakhir. Ishi dan Seta langsung maju dan berdiri tegak di samping Jinn.
"Menarik... Frea!!"
Seta langsung memanggil nama sihirnya. Lingkaran sihir muncul di atas Seta dan memunculkan burung elang. Namun ukurannya lebih kecil daripada yang sebelumnya. Itu adalah tanda Seta sudah hampir mencapai batasnya.
Tapi ekspresi Seta tak menunjukkan bahwa dia akan mundur atau menyerah.
"Ya. Aku setuju, Miken!"
Ishi memanggil nama sihirnya. Sebuah pedang runcing rapier berwarna biru muncul di udara tipis dan mendarat di tangan kanan Ishi. Ishi bahkan sudah memasang kuda kuda seperti pendekar pedang. Dari tatapan matanya, Kuro tahu kalau Ishi serius bertarung.
Sementara itu Jinn memasang kuda kuda dan mengepalkan tangannya. Aura berwarna kuning terpancar dari kedua gauntlet di tangannya.
Kuro hanya tersenyum kecil. Dia lalu melompat ke pinggir tanah es di samping mereka bertiga.
Tak ada yang menghentikan Kuro. Mereka bertiga lalu memposisikan ulang formasi mereka. Jinn dan Ishi di depan, sementara Seta mundur di belakang mereka.
"Baiklah, kita bisa memulai babak keduanya. Untuk itu aku juga akan serius menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya."
Tatapan Kuro berbeda dari yang sebelumnya. Kini tatapannya lebih tajam dan tingkat konsentrasinya sangat tinggi. Selain itu dia memancarkan aura membunuh yang kuat.
Ishi, Jinn dan Seta sempat tersentak dengan aura membunuh yang dikeluarkan Kuro, tapi mereka kembali pulih dengan cepat.
Lalu dengan tanda bongkahan es yang bergeser, pertarungan dimulai.
Kuro menendang tanah dan bergerak maju. Hal yang sama juga dilakukan Ishi dan Jinn. Seta mengendalikan Frea dan terbang ke atas mereka bertiga.
"Hyaaaa!!"
"?!"
Kuro terkejut saat gerakan Jinn tiba tiba lebih cepat seperti menggunakan magic art Leap dan mengarahkan pukulannya tepat ke arah Kuro yang juga melakukan gerakan yang sama. Kedua kepalan tangan mereka saling beradu.
Angin berhembus kencang dari pukulan mereka sebagai tanda kekuatan pukulan mereka berdua. Kaki mereka juga tenggelam di tanah akibat tanah tak mampu menahan kekuatan mereka. Tanah sekitar mereka juga hancur dan berhamburan.
"Hehh..."
"Tidak buruk..."
__ADS_1
Tak butuh kata, kepalan tangan mereka sudah menyampaikan segalanya.