
Di ruangan lain. Tepatnya ruang kepala sekolah.
"Rencana berhasil, tapi bagaimanapun juga ini adalah rencana yang paling bodoh yang pernah kulihat."
Riana mendesah dalam saat melihat layar sihir yang berada di dinding.
"Begitulah dia. Dia bisa disebut genius, tapi juga bisa disebut orang paling bodoh di dunia."
Di sudut ruangan dekat jendela, Electra duduk di mejanya dan mengamati apa yang sedang terjadi di kantin sekolah.
Dan dia tak seimut biasanya. Dia sedang serius.
"Bibi Electra, sebenarnya siapa dia? Dia tahu semua lokasi pasar hitam, tak hanya itu, aku yakin dia mempunyai hubungan dengan pasar hitam sebenarnya lebih dari itu. Aku bisa tahu karena banyak yang menghormati dia."
"Dan dia seorang Dragon Tamer, jangan lupakan itu, putri Riana."
"..............."
"Anda pasti tahu betapa pentingnya seorang Dragon Tamer. Keberadaan mereka sangatlah langka, tapi eksitensi seperti Kuro hanya ada satu di dunia."
"Seperti itukah dia?"
"Ya."
Electra mengambil sebuah kristal yang mempunyai fungsi seperti Cristal Age, tapi mempunyai keamanan tingkat tinggi, Cristal Log.
"Ini adalah semua data mengenai Kuro. Seperti yang anda tahu, ini adalah informasi tingkat S yang beberapa orang saja yang tahu, apakah anda ingin tahu atau tidak?"
"Eh?"
"Ini adalah informasi yang bisa anda lihat karena putri Riana adalah salah satu keluarga kekaisaran." Electra tersenyum. "Jadi apakah anda tertarik dengan informasi tingkat S?"
"....................."
Riana bimbang dan bingung. Bagi dia ini adalah tawaran yang sangat menggoda.
'Kenapa kau tak melihat dataku?'. Riana mengingat perkataan Kuro saat berada di hutan.
Dia juga mengingat saat diajak Kuro untuk membeli Cristal Invia di sebuah hutan, dan di hutan itulah terdapat sebuah toko yang tersembunyi.
Setelah membeli 3 Cristal Invia untuk berjaga jaga jika Riana membuat ulah, mereka kembali ke kota Areshia.
Kuro dan Riana terbang di atas kota tanpa ada orang yang menyadari mereka.
Itu adalah pertama kalinya Riana terbang dan merasa senang dari lubuk hatinya yang paling terdalam. Dia melihat pemandangan yang indah namun sedikit merasa sedih saat beberapa bangunan masih diperbaiki.
Tapi disaat sedih, Kuro menunjukkan sebuah bangunan panti asuhan dan gereja yang sedang diperbaiki.
Tapi yang paling membuat Riana senang adalah saat melihat anak anak bermain dengan penuh senyuman.
Dan disaat itupula Kuro mengatakan suatu hal yang membuat Riana kagum.
'Anak anak adalah masa depan. Pemerintah harus lebih memperhatikan mereka.'
Lalu mereka terbang di area sekolah, namun disaat itulah Laiko meraung dan memberitahu Kuro kalau ada naga lain di kota.
Kuro langsung mendapatkan firasat buruk saat melihat sosok Rhubya yang mendarat di sekolah.
Setelah itu, Kuro membuat rencana agar tak terjadi kekacauan yang lebih besar. Dia tahu karena tahu betul sifat Laila dan Yui.
Rencana itu membuat Riana memberitahukan no teleponnya kepada Kuro.
Dan seperti yang terlihat di layar, Kuro sekarang dihajar habis habisan.
Riana penasaran kenapa Kuro rela berbuat sejauh itu. Disaat yang sama dia mulai tertarik kepada Kuro.
"A-Aku...."
Disaat Riana sedang bingung antara mau atau tidak mau , pintu ruangan itu terbuka dengan keras dari luar .
Sosok yang membuka pintu adalah Otome yang terlihat panik.
"Ada apa Otome?"
Otome mendekat ke arah Electra dan menggebrak meja dengan kedua tangannya.
"Seharusnya aku yang bertanya Buย Electra. Kenapa membiarkan kekacauan di kantin? Tak hanya itu, kudengar anda memerintahkan untuk membiarkannya. Ada apa ini sebenarnya?"
"Kau tak usah kawatir. Kau lihat?"
"Eh?"
Otome terkejut, namun saat melihat layar di dinding yang menunjukkan suana kantin, dia langsung merasa lega saat melihat kantin sudah tenang.
Itu cukup mengejutkan.
Tapi dia bisa melihat Kuro yang babak belur dan terikat tali. Tak hanya itu, kantin juga kembali seperti semula. Bahkan ada yang sudah makan siang lagi.
"Dia benar benar menarik kan?"
"Ya. Aku setuju?"
"Eh?"
Otome terkejut saat menyadari ada orang lain selain dirinya dan Electra di ruangan itu.
Tapi dia lebih terkejut saat menyadari identitas yang duduk di kursi.
"Huh?"
๐ ๐ ๐
Kembali ke kantin.
"Jadi bisa kau jelaskan apa yang yang terjadi? Jangan bilang kau tak sengaja bertemu Riana lalu tak sengaja berciuman dengannya."
".............."
Kuro hanya mengangguk lemas. Dia sekarang diikat oleh tali. Tak hanya itu dia dikepung oleh Laila, Yui, Alva dan Alvi.
"Ya ampun. Kau memang luar biasa, kakak. Tentu dalam artian lain."
Mereka bertiga mengangguk tanda setuju dengan perkataan Yui.
"Tapi apa kata putri Riana tadi benar benar terjadi? Kalau dipikir baik baik, Kuro berciuman dengan putri Riana sebenarnya sulit dipercaya."
"Un.."
"Tidak. Aku sudah sering melihat kakak berciuman dengan gadis yang baru saja dia kenal, yah... meskipun kebanyakan adalah kecelakaan."
"""Haaaa........"""
Alva, Alvi dan Laila hanya bisa mendesah dalam mengetahui kenyataan tentang Kuro.
"Begitu rupanya, karena itulah dia hebat saat berciuman."
Meskipun Laila hanya mengatakan itu dengan suara yang hampir tak terdengar, namun dia langsung mendapatkan tatapan tajam.
Dia sekarang bersama dengan gadis yang menyukai Kuro, jadi ini adalah hal wajar. Mereka semua adalah saingan. Kenapa Laila juga ikut ikutan?
"Ngomong ngomong Yui, kau bilang kau adalah tunangan Kuro?Apa maksudnya?" tanya Alva.
"Ayah kami menginginkanku menjadi pemimpin klad Blad selanjutnya, karena aku dan Yui bukan saudara kandung, dia berniat menikahkan kami. Tapi aku hanya menganggap Yui hanya sebatas adik, jadi aku menolak. Sayangnya, hanya aku yang menolak, dan kalian tahu selanjutnyakan?"
Yang menjawab adalah Kuro.
"Aku tak mungkin menyerah mendapatkan cinta kakak he he..."
Meskipun begitu, Laila merasa lega saat mengetahui Kuro hanya menganggap Yui sebatas adik. Yang menjadi masalah adalah mereka bukan saudara kandung, jadi mereka masih bisa menikah.
Kesimpulannya, Yui tetaplah saingan.
Tak hanya Laila, Alva dan Alvi tampaknya juga menyadari hal ini.
Disaat itulah mereka merasakan hawa keberadaan orang yang mendekat.
"Jadi rumor itu benar. Kau tak hanya playboy tapi juga Siscon, tidak kurasa lebih tepatnya Lolicon."
"Charl, apa maksudmu?"
"Siapa yang kau maksud Lolicon?"
Yui dan Laila menoleh ke arah Charl yang datang bersama anak buahnya. Mereka langsung tak merasa senang saat Charl datang dan menghina Kuro.
Kuro pun menoleh ke arah Charl. Dia tak merasa marah saat Charl menghinanya, tapi dia sedikit kesal saat menyebut Yui Loli.
.... Baiklah, Yui memang Loli. Itulah yang dipikirkan Kuro.
"Siapa dia?"
"Charl Ven Cellvain. Murid pindahan.... Kau belum pernah bertemu dengannya kan? Dia peringkat S seperti Laila."
"Hmmm ...... "
"Kuro?"
Alva terkejut saat Kuro terdiam dan mengamati Charl dari atas sampai bawah. Dia menaruh tangannya ke dagu dan berpikir keras.
"Charl Ven Cellvain..... "
"Ada apa? Apa kau tertarik kepadaku? Ah... begitu rupanya, kau juga seorang homo. Aku heran ada orang sepertimu."
"Tidak." Kuro berdiri dan masih mengamati Charl. "Aku kenal dengan seorang yang bernama Ven Cellvain, tapi-"
"Hey, sejak kapan kau meloloskan diri?"
Laila memotong perkataan Kuro saat menyadari Kuro sudah lepas dari ikatannya.
"Hn? Kau tahu, jika ingin mengikatku, kalian harus berusaha lebih baik."
"Aku sekarang ingat kalau kakak ahli meloloskan diri."
Yui juga ikut menjelaskan.
"Aku pernah membaca dan mempraktekkan buku '1002 cara jitu meloloskan diri', jadi mustahil kalian bisa menangkapku."
"Begit- Huh. MANA ADA BUKU SEPERTI ITU, BODOHHH!"
"Ini, jika tak percaya!"
Kuro memperlihatkan buku kecil yang berjudul sama.
__ADS_1
"TERNYATA ADA!! Tunggu, darimana kau mendapatkannya?"
"Tentu dari toko buku."
"KH... "
Kuro semakin membuat Laila kesal, tapi suasana sudah kembali seperti biasanya.
"Lalu, apa urusanmu kemari, Charl.....?"
"Tiba tiba sudah memanggil nama depankah, maa ... baiklah, akan kubuat pengecualian kali ini, Kuro. Tapi... sayang sekali, aku kemari tak ada urusan denganmu, aku mempunyai urusan dengan Laila."
"Eh?"
Suasana langsung menjadi tegang. Banyak yang melirik ke arah mereka. Ini adalah sebuah tanda bahwa masalah belum selesai.
"Begitu ya. Kalau begitu aku tak akan ikut campur."
Kuro membiarkan Charl lewat mendekati Laila, tapi disaat Kuro dan Charl berpapasan, Charl langsung berhenti.
"Jangan salah sangka. Aku juga mempunyai urusan denganmu. Tidak, lebih tepatnya ada hubungannya denganmu."
"..............."
"Laila, sekali lagi aku meminta, maukah kau menjadi pasangan tetapku?"
"Eh?"
Mata semua orang terbuka lebar. Mereka terkejut ternyata Charl belum menyerah.
"Oh..."
Satu satunya yang terlihat santai hanyalah Kuro. Dia tak merasa terkejut atau panik.
"Kuro, kenapa kau terlihat tenang disaat seperti ini? Apa kau tak kawatir Laila direbut Charl?"
"Un!"
Alva dan Alvi menegur Kuro. Bagaimanapun Kuro terlihat terlalu santai dan tak peduli.
"Tentu aku tak senang, tapi aku juga tak bisa memaksa Laila untuk berpasangan denganku atau terus menjadi pacarku. Benarkan Laila?"
Kuro melirik Laila yang terlihat bingung.
Semuanya kini bergantung kepada Laila. Dia memilih Kuro atau Charl?
"A-aku..."
"Apa kau tak bisa memilihku karena Kuro adalah pacarmu? Tapi kau tak mencintai dia kan? Kalian berpacaran karena hanya sebatas janji. Hanya itu, atau kau sudah mencintai Kuro?"
"............."
Laila terus terdiam.
"Laila...."
"Laila."
Alva dan Alvi terlihat cemas, tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengetahui perasaan Laila yang sebenarnya.
"Jika kau memilih dia karena mencintainya, maka aku akan menyerah. Tapi kalian tak memiliki alasan untuk terus menjadi pasangan palsu. Lagipula jika kau menjadi pacar Kuro karena hanya terikat sebuah janji, bukankah kau sudah menepatinya?"
Charl terus menekan Laila.
Banyak yang tak menyukai Charl, tapi mereka sadar kalau semua yang dikatakan Charl benar.
"Kau..!"
"Yui, hentikan! Kau tidak ada hubungannya dengan ini. Jadi jangan ikut campur!"
"Ta-tapi."
Yui hanya bisa menggertakkan giginya. Dia tahu ini bukanlah urusannya, tapi dia tak tahan dengan Charl.
"Jadi siapa yang kau pilih, Kuro atau aku?"
"............"
Laila terdiam dan menatap Kuro sesaat, lalu menoleh ke arah Charl.
(Siapa yang harus kupilih?)
Bukankah dia sudah tahu siapa yang akan dia pilih?
"Jika kau bimbang dan tak bisa memutuskan, kenapa kita tak mencari solusi lain untuk menyelesaikan masalah ini?"
"Solusi..."
"...Lain?"
Alva dan Alvi bingung saat mendengar maksud perkataan Charl.
"Solusi lain, jangan bilang kalau..."
"Ya, kau pintar Laila. Solusi itu adalah duel di antara kami berdua untuk menentukan siapa yang terkuat. Ini tak seburuk kelihatannya, jika Kuro menang, maka aku akan menyerah, itu juga sekaligus bukti bahwa Kuro pantas mendampingimu."
"Jika kau kalah?"
"Dengan kata lain, kau sebenarnya hanya ingin memenangkan Battle War saja kah?" ucap Kuro dengan nada sinis.
"Ya. Aku tak keberatan jika kalian menyebutku brengsek atau semacamnya, tapi apa kalian berpikir bisa memenangkan Battle War hanya karena saling mencintai? Kau tak berpikir kalau kekuatan 'cinta' bisa mengalahkan semuanya kan?"
"............"
"Tentu saja tidak. Cinta justru akan membuat kalian terlalu kawatir dengan pasangan kalian dan membuat kalian kesulitan bertarung, ... atau sebenarnya kalian tak ingin memenangkan Battle War?"
"....................."
Keheningan tercipta.
Sekarang mereka tahu tujuan dan alasan kenapa Charl tak berhenti untuk mengajak Laila.
Battle War.
Mereka semua tahu itu adalah pertarungan terbesar antara 7 sekolah sihir di kekaisaran.
Mereka semua tahu hanya yang terkuat yang sanggup memenangkan Battle War.
Perkataan Charl benar, jika mereka ingin memenangkan Battle War, hubungan asmara justru akan mempersulit mereka di pertarungan.
Tapi,-
"Laila, apa keputusanmu?"
"Eh?"
"Kau memilihku atau Charl? Tapi jika kau menginginkan kami berduel, jujur saja aku tak ingin melakukannya."
"Apa kau takut?"
Charl mulai tak suka saat mendengar Kuro mencoba menghindar.
"Tidak. Aku lebih suka cara damai dan sederhana. Jika Laila memilihmu, maka aku tak ada masalah, aku tahu kau kuat, karena itu aku yakin kau bisa menjadi pasangan yang pantas untuk Laila."
"Eh?"
Charl tersenyum, tapi reaksi berbeda ditunjukkan Laila.
Dia tampak terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Kuro barusan.
Tak hanya Laila, Alva dan Alvi juga menunjukkan reaksi terkejut.
(Kenapa? Kenapa kau bisa berkata seperti itu?)
Laila tak mengerti apa yang dipikirkan Kuro.
(Bukankah kau bilang mencintai aku? Apa semua itu bohong?)
Apakah Kuro hanya mempermainkan Laila selama ini?
Laila menggertakkan giginya. Dia marah dan kesal.
Dia tak mengerti kenapa dia seperti ini, tapi dia tak bisa menahan perasaan marahnya. Dia menyadari dia marah dengan alasan yang berbeda dengan selama ini.
"Kalian sama sama peringkat S kan? Aku yakin tak apa apa jika Laila berpasangan denganmu. Tapi jika dia memilihmu he he..."
Sudah cukup. Dia tak ingin mendengar apapun lagi dari Kuro.
Kuro sekarang seolah olah tak peduli dan membiarkan Laila berpasangan dengan Charl.
Kenapa kau merelakanku?
Kenapa kau tak terlihat sedih atau marah saat dia mencoba merebut diriku?
Kenapa?
Atau karena dia sudah memiliki pengganti, yaitu Riana?
(Sudahlah... aku tak peduli lagi.)
Laila akhirnya membuat keputusan.
"Kuro, jika kau mencintaiku, buktikanlah kepada Charl bahwa kau lebih pantas darinya!"
".... Kau memintaku.. untuk berduel?"
Laila mengangguk, disaat yang sama Charl tersenyum senang.
"Dan jika Kuro kalah, itu berarti kau akan memilihku sebagai pasanganmu, Laila?"
"Ya. Tentu saja, tapi jika kau bisa menang melawan pacarku, Kuro. Asal kau tahu, dia sangat kuat. Jadi kau pasti akan kalah, Charl!"
"Heeeehhh... Benarkah kau sekuat itu, Kuro?"
"............................."
Tapi Kuro hanya terdiam. Dia justru menunduk dan tak berkata sepatah katapun. Kuro bahkan terlihat ada bayangan di wajahnya.
"Kalau begitu, apa yang kita tunggu? Ayo kita tentukan siapa yang terkuat, Kuro....!"
"........................."
__ADS_1
Kuro terdiam mengabaikan Charl. Dia hanya mengikuti Charl menuju area yang dikhususkan untuk duel antar murid.
Banyak yang mengikuti mereka karena penasaran dengan hasil duel kali ini.
Satu satunya yang tersisa hanyalah Laila dan Yui.
(Itu benar. Buktikan bahwa kau kuat dan mencintaiku, dengan begitu aku tak akan ragu lagi.)
Dia percaya dengan kekuatan Kuro, karena itulah dia menyuruh Kuro untuk membuktikan kepada semua orang bahwa Kuro pantas menjadi pasangannya dan sekaligus pacarnya.
Ini juga sekaligus untuk membuktikan bahwa cinta tak menghalangi pertarungan, tapi justru membuat semakin kuat.
Dan meskipun bisa dikatakan terlambat, kini dia menyadari kalau sebenarnya dia telah jatuh cinta kepada Kuro.
"Kak Laila, kau tahu?"
".......?"
"Kau telah membuat kesalahan besar!"
"Eh?"
Laila tak mengerti maksud Yui, tapi Yui terlihat sedih seperti Kuro..
Kesalahan?
Apa yang dimaksud Yui?
Ketika ingin menanyakan itu, Yui sudah berlari menuju ke lokasi duel.
Arena duel memiliki berbentuk segi empat dengan sisi 30 meter.
Ada 3 tipe arena. Arena terbuka yang berada di bagian luar sekolah, atau halaman. Arena dalam ruangan dan arena bawah tanah. Mereka memilih arena terbuka karena lokasinya yang cukup dekat dari kantin.
Di setiap bagian sisi terdapat perisai yang digunakan agar sihir tak mengenai penonton atau area sekolah. Tak lupa bagian atas juga terdapat perisai. Tentu saja perisai akan aktif saat duel dimulai
Hal ini pula yang membuat arena duel juga disebut Cage atau Kurungan. Murid yang ingin menonton bisa melihat dari dekat karena arena memiliki perisai, tapi ada kasus dimana perisai hancur karena sihir yang terlalu kuat.
Kuro dan Charl naik ke arena duel dengan menaiki anak tangga dari sisi yang berbeda.
"Kuro!"
Laila datang mendekat ke Kuro yang sedang menaiki anak tangga.
Kuro menoleh ke arah Laila dengan tatapan sedih.
"Ada apa? Apa kau mau memberikan ciuman?"
Kuro berkata dengan nada lirih dan menyedihkan tak seperti biasanya.
"Te-tentu saja tidak bodoh. Tapi aku akan memberikannya jika kau menang."
Meskipun Laila mengatakan itu untuk membuat Kuro bersemangat, namun Kuro justru terlihat lebih tak bersemangat.
"..........Ya. Aku akan menantikannya."
Tapi kenapa kau menunjukkan senyuman seperti itu?
Laila tak mengerti.
"Apa kau marah kepadaku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau membuat ekspresi seperti itu?"
"Bukan apa apa. Hanya saja...... Kau benar benar mengecewakanku, Laila."
"Eh?"
Laila tak mengerti apa yang dimaksud telah mengecewakan Kuro.
Apakah ini yang dimaksud dengan membuat kesalahan besar oleh Yui?
Akhirnya, tanpa sepatah kata Kuropun memasuki arena duel bersama pedang kesayangannya, Lic.
"Maaf, membuatmu menunggu!"
"Tidak apa apa. Ini bukan masalah besar."
Disaat yang sama, dinding tipis muncul di semua sisi arena yang merupakan perisai.
"Jadi bisa kita mulai, tapi-"
Kuro menarik Lic dari sarungnya. Disaat yang sama lonceng di pedang Kuro berbunyi.
"Kau tahu jika aku mengenaimu kan?"
Kuro membuang sarung pedangnya ke pinggir arena.
Charl yang melihat pedang putih Kuro dihunuskan ke arahnya tersenyum tipis. Dia tahu duel kali ini berbeda dengan duel yang biasanya.
Senjata Kuro adalah pedang logam dan bukanlah magic arm. Itu artinya luka serangan tak akan diubah menjadi serangan psikis.
"Tentu saja. Tapi aku tak menyangka kau benar benar menggunakan pedang putih, Kuro. Ah... tidak... Wicth Reaper!"
Semua yang menonton melebarkan matanya saat mendengar Charl memanggil Kuro dengan sebutan "Witch Reaper".
Hal ini wajar karena tak ada murid yang mengetahui nama itu dan tentu saja legenda tentang pembantaian 200 Knight.
"Tapi kenapa kau menggunakan pedang putih seperti itu? Bukankah itu adalah pedang yang sama milik Demon King? Kau tidak berpikir ingin menjadiย Demon King di masa ini kan?"
"Heehh... Aku terkejut kau tahu begitu banyak tentang diriku."
Kuro tak menyangkalnya. Itulah yang membuat duel ini semakin menarik untuk dilihat.
Dan tanpa mereka ketahui, duel ini memang banyak yang melihatnya.
Riana dan Electra + Otome melihat di ruang kepala sekolah.
Sementara itu Adest dan Lairo melihat pertarungan di ruangan Aldest dengan menggunakan Insectmera yang diselundupkan ke sekolah. Berdua saja.
๐ ๐ ๐
Di tempat lain, sebuah ruangan.
"Putri, lihat ini!"
Seorang pemuda memakai armor memperlihatkan duel Kuro dan Charl yang belum dimulai dari ponselnya kepada seorang gadis.
Melalui magianet setiap orang memang mampu menyebarkan pertarungan secara langsung dengan ponselnya. Tentu merekam pertarungan akan dilarang jika melanggar peraturan, tetapi saat ini masih berjalan. Itu artinya itu merupakan pertarungan yang bebas ditonton oleh siapa saja.
"Pedang putih..."
Gadis itu lebih tertarik kepada pedang putih daripada duel. Dia tahu hanya satu orang yang memakai pedang putih, Witch Reaper.
"Hmm... menarik."
Gadis itu menunjukkan senyuman yang tipis. Gadis itu terlihat senang seperti menemukan hal yang membuat dia tertarik.
Pemuda itu kemudian menayangkan pertandingan itu di dinding.
Tapi tak hanya mereka yang menyaksikan pertandingan itu. Di sebuah ruangan gelap, sebuah sosok melihat dengan teliti pertandingan Kuro.
Sosok misterius itu masih belum diketahui identitasnya, tapi dia memiliki panggilan Shadow. Entah alasan apa dia ingin melihat duel itu, tapi matanya menunjukkan sebuah ketertarikan.
Tak ada yang mengetahui hal ini.
Kembali ke arena.
"Aku menggunakan pedang ini bukan karena ingin menjadi Demon King atau semacam itu. Jujur saja aku tak peduli. Pedang ini sudah lama bersamaku, bisa dibilang semacam belahan jiwaku."
Meskipun bisa dibilang jawaban Kuro sedikit aneh dan tak jelas, namun Charl hanya tersenyum.
Charl lalu mengambil sesuatu dari punggungnya. Senjata api dari magilium. Tentu saja senjata api itu tak memiliki peluru, tapi senjata api itu membuat peluru sihir saat disuntik oleh energi sihir.
"Jika kau menggunakan pedang, maka aku akan menggunakan ini, dan..."
Kuro terdiam dan menajamkan matanya. Dia sedang merasakan firasat buruk.
".... meraunglah Byakko!"
""""""!?"""""
Tak hanya Kuro, semua mata melebar saat mendengar nama sihir Charl.
Disaat yang sama sebuah lingkaran sihir muncul di lantai dan terangkat ke atas.
Dan munculah sosok yang merupakan magic beast milik Charl.
Monster sepanjang 3 meter lebih. Memiliki dua taring panjang bagai pedang. Berwarna putih dengan garis hitam. Itu adalah monster legendaris Byakko yang berwujud harimau putih.
Rooooooaaaaarr......!!!
Byakko meraung keras membuat perisai bergetar. Hal ini tak hanya menunjukkan kekuatan tapi juga kewibawaan Byakko.
"Jangan bilang kalau Charl adalah seorang Divine Contractor seperti kakak?"
Laila hanya bisa mematung dan melebarkan matanya saat mengetahui kekuatan sesungguhnya Charl.
Ini adalah pertama kalinya Charl menunjukkan magic beast-nya, jadi semua orang terkejut.
Sementara itu bagi Kuro Byakko adalah-
"Hmmm.... Itu kucing yang manis, Charl."
Tapi dia tahu bahwa sedang dalam masalah besar. Dia juga tahu kalau kemungkinan besar Charl lebih kuat daripada Laila.
"Dia memang manis, tapi apakah kau bisa menyebutnya manis saat mencabik cabik tubuhmu, Witch Reaper."
"......ini akan menarik.."
Sebuah senyuman kecil muncul di bibir Kuro, tapi itu bukan senyuman yang manis. Itu adalah senyuman berbahaya yang sanggup membuat orang yang melihatnya gemetar.
**No Spoiler Please**
Aku yakin udah banyak yang baca cerita ini dari *******, tapi bukan berarti bisa seenaknya nge-spoiler..
Pindah ke NT untuk mendapatkan pembaca baru, bukan untuk ngasih kesempatan pada pe-spoiler.
Daripada nge-spoiler, kenapa gak bikin karya sendiri? Baru setelah itu tahu rasanya..
__ADS_1
๐ก๐คฌ๐