Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Transfer Student


__ADS_3

Mentari fajar mulai menyinari langit malam. Menghapus kegelapan dengan cahaya kehangatan dengan penuh kehidupan.


Laila masih tertidur pulas. Entah sejak kapan dia tertidur di atas meja. Tidur lelap dengan memegang sebuah topeng yang terbelah menjadi dua.


Di saat itulah sebuah sosok masuk kamar melalui celah jendela. Jika pencuri, maka sihir pengaman di kamar itu akan aktif dan menyerang sosok itu. Satu satunya alasan kenapa itu tak terjadi karena sosok itu juga tinggal di kamar itu.


Siapa lagi sosok itu bukan Kuro.


Tanpa suara seperti bayangan, Kuro berada di belakang Laila yang tertidur pulas.


Kuro tak berani membangunkan Laila yang terlihat manis saat tidur, tapi dia lebih manis saat marah.


Kuro melihat topeng putih yang sudah terpotong menjadi dua. Dia merasa bernostalgia saat mengingat kejadian setahun yang lalu di ibukota.


Dia tak menyangka gadis keras kepala yang dia temui saat itu kini menjadi pasangannya di sekolah. Takdir memang aneh untuk mereka berdua.


Tapi jika berbicara tentang takdir, dengan pertemuan mereka yang ketujuh secara kebetulan, maka Kuro kalah taruhan dari Laila. Sayangnya, kekalahan itu bukan membawanya ke suatu yang buruk, tapi akan membawanya ke suatu yang menyenangkan.


(itu akan terjadi jika Laila berani menepati apa yang dia katakan)


Berkat pertemuan mereka yang berkali kali dengan cara yang aneh, serta kejadian akhir akhir ini membuat Kuro sadar akan perasaannya pada Laila.


Mungkin lebih tepat jika dia sudah lama memiliki perasaan ini. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, tapi kejadian menyangkut Gio Sevarez yang hampir membuat Laila mati membuatnya sudah menganggap Laila sebagai orang penting di hatinya.


Tapi meskipun dia tahu apa yang dia rasakan, dia masih belum tahu apa yang Laila rasakan tentang dirinya. Apakah benci atau suka? Atau cinta?


Kuro ingin tahu itu. Sayang, dia tak terlalu berharap. Baginya kebahagiaan Laila adalah yang terpenting. Entah apakah takdir akan membawa mereka menjadi pasangan seperti dalam cerita Fated Lover, atau membawa mereka ke jalan perpisahan.


Hanya waktu yang akan menjawabnya.


Kuro melangkah ke tempat tidur dan mengambil selimut lalu menaruhnya di tubuh Laila dengan perlahan.


"........?"


Laila sedikit bergerak saat Kuro menaruh selimut, tapi untung saja Laila tak terbangun.


Kuro lalu menaruh sebuah bunga mawar putih di vas, lalu dia pergi bagai asap.


Pukul 7.50 pagi.


Laila terbangun dan menyadari ada yang menaruh selimut agar tak membuat dia kedinginan. Dia juga menyadari bunga di vas sudah berubah menjadi mawar putih.


Dia tak perlu berpikir untuk menemukan siapa pelakunya.


"......Dia itu..."


Laila tersenyum senang. Seperti biasa Kuro adalah orang yang selalu melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Kenapa dia tak memberikan bunga secara langsung? Laila berjanji tak akan menggigitnya.


Senyumannya tak berlangsung lama saat sadar dia hampir terlambat masuk kelas.


"Kenapa dia tak membangunkanku, dasar bodoh!!!"


Laila akhirnya dengan cepat berganti pakaian dan pergi ke ruang kelas 1-2 yang terletak cukup jauh dari kamar asrama.


Tapi Laila tetap terlambat. Untung saja Otome tak menghukum Laila. Mengingat apa yang mereka lakukan kemarin, bangun terlambat karena terlalu lelah suatu yang wajar.


Hari ini kelas berjalan seperti biasanya. Tak ada latihan hanya ada pelajaran teori sihir. Itu normal mengingat mereka sudah berlatih mati matian kemarin.


Jam sekolah selesai tanpa masalah berarti, tapi di saat itulah sekolah mulai ramai.


Berkat kejadian kemarin, teman sekelas Laila tahu kalau peringkat F yang dimiliki Kuro bukanlah peringkat yang menandakan dia seorang yang paling lemah. Justru peringkat itu membuat mereka sadar kalau ada serigala yang bersembunyi di antara domba.


Mereka kembali menantang Kuro di arena latihan duel. Dengan kekuatan Kuro yang sudah terekspos, maka tak aneh jika ada yang menyiapkan berbagai macam strategi untuk menang.


Sayangnya, Kuro berhasil mengalahkan mereka semua hanya dengan tangan kosong lagi. Tapi perbedaannya adalah sekarang Kuro lebih lama mengalahkan mereka.


Para penantang terlihat kesal dan mereka berjanji akan menantang Kuro lagi. Mendengar itu Kuro hanya tersenyum seolah berkata 'Kapanpun akan aku ladeni.'


Malam mulai tiba dan mentari mulai berganti dengan dua bulan yang dihiasi oleh bintang bintang.


Malam ini begitu cerah dan begitu tenang. Suasana ini seolah tercipta untuk momen penting.

__ADS_1


Akhirnya waktunya tiba makan malam yang dijanjikan. Laila begitu senang dan tak sabar.


Setelah memikirkan matang matang, Laila memutuskan akan bertanya apakah Kuro adalah Shiro yang dia temui di ibukota. Mungkin pertemuan mereka hanya terjadi dalam waktu singkat dan sedikit aneh, tapi setiap pertemuan itu membuat Laila sadar akan apa yang dia rasakan.


Jika pembuat cerita Fated Lover mendengar kisah pertemuan Laila dengan Shiro, pasti dia akan berpikir Laila pasti gila. Bagaimanapun juga itu hanyalah kisah fiksi.


Astrea Palace dikenal sebagai restoran paling mewah. Musik klasik, dekorasi yang sesuai dan suasana yang tenang membuat restoran itu terasa sangat romantis.


Dalam makan malam itu Laila hanya memakai seragam sekolah dan tak berganti gaun. Dia tak mau terlihat menjadi orang yang mengharapkan makan malam romantis.


Tapi dia datang 10 menit lebih awal. Ini masih memberikan kesan dia adalah yang mengharapkan makan malam romantis. Sayang, Laila tak menyadari hal ini.


Dia duduk sendirian di meja yang ternyata sudah dipesan sebelumnya.


Sambil menunggu Kuro datang, dia melihat pesan Kuro yang bertuliskan "Aku tak sabar makan malam denganmu. Jangan sampai terlambat jam 8 malam nanti."


Tapi sudah jam 8 tepat, Kuro belum datang.


(Dia menyuruhku jangan terlambat, tapi sekarang dia yang terlambat.)


"Menyebalkan."


Mood Laila sudah memburuk meskipun baru jam 8 lewat 6 menit.


Tapi disaat itulah dua pemuda menghampiri Laila.


Kedua pemuda itu terlihat tampan dan kaya. Satunya berambut pirang dan satunya berambut coklat.


"Aku tak menduga akan bertemu denganmu di sini, Laila. Lama tak jumpa. Tumben datang ke tempat seperti ini?"


"Yuup. Laila yang kita kenal tak akan datang ke tempat seperti ini." ucap pemuda berambut pirang.


Sekilas mereka terdengar seperti seorang yang mendekati Laila, tapi sebenarnya mereka adalah kenalan Laila di ibukota.


Kedua pemuda itu adalah putra dari orang penting. Mengingat status Laila, tak aneh dia memiliki kenalan seperti mereka.


Hubungan Laila dengan mereka bisa dibilang teman biasa. Tapi kadang mereka saling bertemu karena berada di sekolah yang sama.


"Hoooo."


"Lalu apa yang kalian lakukan disini?"


"Tentu saja mengajak makan malam tunangan kami, benarkan Gerald?"


"Ya. Ini penting agar hubungan kami tetap mesra hingga kami menikah nanti. ku ku.."


Laila tertawa pahit.


Anak dari orang penting seperti mereka memang sudah suatu yang wajar memiliki tunangan. Keluarga Laila sendiri juga orang penting, tapi mereka tak begitu memaksakan untuk hal memiliki pasangan.


Dia lalu melirik ke arah meja lain. Di sana dia melihat dua orang gadis sedang mengobrol.


Sadar dengan tatapan Laila, kedua gadis itu menatap balik. Kemudian, dia mendengar suara gadis memanggil nama mereka berdua.


Tapi disaat itulah Laila mendengar suara lonceng.


(Kuro?)


"Eh?"


Tapi disaat dia menoleh ke arah asal suara, dia hanya melihat lonceng yang digunakan untuk tanda pintu terbuka.


Seorang kakek tua memasuki restoran dan bukan Kuro.


"Apakah kakek itu teman makan malammu?"


"Tentu saja bukan. Sudahlah cepat kalian pergi. Kalian tak ingin dikira berselingkuh kan?"


"Ah... gawat. Kau benar. Ayo Gerald! Kau tahu tunanganmu berbahaya kan?"


"Sial."

__ADS_1


Batra dan Gerald akhirnya pergi meninggalkan Laila sendirian.


Bertunangan dan menikah di usia muda sebenarnya adalah hal biasa di kalangan para penyihir, terutama di kalangan bangsawan seperti Laila.


Hal ini terjadi karena kekuatan penyihir dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika penyihir kuat menikah dengan penyihir kuat, maka keturunan mereka juga menjadi penyihir kuat. Contoh yang paling mudah adalah Laila dan kakaknya.


Pukul 8.30.


Sudah 30 menit berlalu, tapi Kuro belum datang. Aneh. Itulah yang dipikirkan Laila.


Dia merasa lelah menunggu dan ingin segera pulang. Tepat disaat itulah ponsel Laila bergetar tanda pesan masuk.


"Kuro?"


Itu adalah pesan dari Kuro.


Laila dengan cepat membaca pesan dari Kuro. Setelah membaca, dia terdiam lalu melangkahkan kakinya pergi dari Astrea Palace.


Diperjalanan pulang, Laila hanya mengatakan satu kata.


"Bodoh!"


Dia tak mengatakan Kuro bodoh, tapi kata itu ditujukan kepada dirinya sendiri yang mengharapkan makan malam bersama Kuro.


Keesokan paginya, Laila terlihat murung dan kecewa. Itu membuat murid kelas 1-2 menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi semalam.


"........."


Laila melirik tempat duduk Kuro yang kosong.


Jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai, tapi Kuro belum datang juga. Ini tak biasa mengingat Kuro selalu datang lebih awal dari Laila.


Akhirnya Kuro tak datang meskipun jam pelajaran sudah dimulai.


Otome dengan cepat memasuki kelas disaat jam pelajaran dimulai, tapi dia tidak sendirian.


Ada seorang pemuda berambut pirang yang datang bersama Otome.


Pemuda itu tampan dan terlihat berkarisma. Dia juga terlihat seperti keturunan bangsawan.


Hal ini tentu saja membuat seisi kelas ramai.


"Semuanya diam! Ini mungkin sesuatu yang jarang terjadi, tapi hari ini kita kedatangan murid pindahan. Dia bernama Charl Ven Cellvain. Dia penyihir tipe Contractor dan apa kalian tahu berita yang paling menarik? Dia juga peringkat S seperti Laila!"


"Eh?"


Laila hanya terbengong.


Disaat itulah Laila menyadari Charl menatap dirinya dengan tatapan tajam untuk sesaat, tapi setelah itu dia menaruh tangan kanannya di dada.


"Perkenalkan, namaku Charl Ven Cellvain. Seperti yang kalian dengar, aku adalah penyihir tipe Contractor peringkat S dan sebagai tambahan, elemen sihirku adalah angin. Salam kenal, semuanya."


Para gadis berteriak kegirangan, sementara itu para lelaki menyambut dingin Charl.


Mereka semua saat ini berpikir seseorang yang bermasalah datang lagi.


"Charl, tolong segera duduk. Pilih tempat duduk yang kau suka."


"Baiklah, Bu guru."


Charl berjalan dan duduk, tapi dia duduk di tempat Kuro.


(Apa yang sebenarnya terjadi? Kuro pergi dan sekarang Charl datang?)


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kuro?


Kemana Kuro pergi?


Laila tidak tahu.


Pada akhirnya, pelajaran dimulai tanpa kehadiran Kuro.

__ADS_1


__ADS_2