
"Umm... sekali lagi sukses besar."
Dengan senyuman lebar, Charlmilia mengambil kue dari oven.
Kue coklat kering dengan bentuk hati yang terlihat manis dan menggambarkan apa yang dia rasakan. Kelezatannnya bahkan sudah tercium dari aroma yang menggoda. Tak diragukan lagi, itu adalah kue terlezat yang pernah dia buat.
Sambil menunggu dingin, dia mempersiapkan bungkus kue.
"Aku harap Kuro akan senang memakannya. Aku sudah tak sabar melihat reaksi apa yang dia buat saat mencicipinya. Fu fufu.."
Dia mengamati luar jendela kamar asramanya yang berupa taman yang indah. Bunga bunga mekar indah ditambah dengan cuaca yang cerah bagaikan sebuah tanda dari tuhan kalau hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
(Dengan kue ini, aku akan merebut hati Kuro dari Laila.)
"Ehehe membayangkannya saja sudah membuatku ngiler... ha ha. Oh tidak. Aku harus segera membungkus kue ini."
Charlmilia melanjutkan pekerjaannya dengan suasananya senang. Dia jatuh cinta, dan karena itulah dia memperjuangkan cintanya meskipun Kuro tak memilihnya. Setidaknya tak ada aturan hanya membatasi jumlah istri. Dengan kata lain, Charmilia masih bisa menjadi yang kedua atau ketiga.
Dia masih belum putus harapan. Dan terlalu awal untuk menyerah.
Saat sampai di kelas, murid lainnya sudah bisa menebak hal baik terjadi kepada Charlmilia. Itu bisa terlihat oleh senyumannya dan aura yang keluar dari tubuhnya. Selain itu fakta bahwa dia juga menyukai Kuro sudah menjadi rahasia umum.
Charlmilia duduk dan menunggu dengan tenang. Dia berniat memberikan kue coklat itu saat jam makan siang.
Semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Sampai tiba saatnya-
Waktu jam pelajaran pun tiba, tapi dia tak melihat Laila dan Kuro di dalam kelas. Yang ada hanyalah Otome yang semakin pucat seperti zombie.
"..."
Semua rencananya gagal. Sekarang apa yang harus dia lakukan dengan kue itu?
________________________
______
____
"Riana.. sudah lama tak bertemu."
"Sudah lama tak bertemu, Laila, Kuro"
Kuro membalas sapaan Riana dengan sebuah senyuman kecil yang bersahabat.
Riana dan Laila lalu berpelukan untuk menghilangkan rasa rindu mereka. Tentu Kuro tak akan melakukannya karena itu akan membuatnya terpanggang.
"... kau sehat sehat saja?"
"Begitulah. Kau juga sepertinya sehat sehat saja."
"Ya seperti yang kau lihat sendiri. Tapi aku tak menyangka meskipun hanya beberapa waktu tak bertemu, tapi kau sudah banyak berubah. Perubahan besar. Terlalu besar."
Riana melirik ke arah dada Laila yang lebih besar daripada miliknya. Dia ingat terakhir bertemu, dia masih menang dalam hal ukuran.
Wajah Laila memerah.
"Kemana kau melihat? Apa kau ingin meremas dadaku seperti yang biasa Kuro lakukan?"
"...huh?"
Riana melirik Kuro, dan tentu saja Kuro mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Yah.. tak ada gunanya membahas dadaku. Jika terus melakukannya, aku mungkin akan mendapat mimpi buruk nanti malam. ....kau mengerti?"
"....?"
Mana mungkin dia mengerti.
Setelah basa basi, mereka melangkahkan kakinya pada anak tangga yang menuju ke atas.
Kuro dan Laila sadar mereka berada di tempat yang tak hanya seperti aula bawah tanah, tapi juga bangunan tua. Itu bisa terlihat jelas dari batu lapuk dan mengalami retakan di berbagai tempat.
Aroma tak sedap dan lembab membuat mereka tak nyaman. Yang lebih mengherankan, Riana tampak terbiasa dengan itu. Ditambah dengan suasana sepi, membuat seolah mereka berada di kota hantu.
"...Raina, seb-"
"Kau pasti ingin menanyakan di mana sebenarnya kita dan kenapa aku memakai pakaian seperti ini kan? Fufu tenang saja, pertanyaanmu tak lama lagi akan segera terjawab."
"Moo.. kenapa kau sok misterius seperti itu? Apa susahnya menjawab pertanyaanku?"
"Laila, sudahlah. Sebaiknya kau turuti saja permintaan dia."
"Kau juga ikut ikutan kah. Baiklah, tapi-"
Kuro menjaga jarak dari Riana. Dia berjalan dengan jarak dua meter dari mereka berdua.
Dengan sekali tatap, Kuro tahu Laila masih marah dengan peristiwa dulu. Peristiwa saat dirinya dan Riana tak sengaja berciuman pada hari pertama kali bertemu.
"Aha ha.. jangan kawatir Laila. Hal seperti dulu kurasa tak akan terjadi berkali kali. Dan kenapa kau begitu cemburuan bahkan terhadap teman baikmu sendiri?"
"Apa yang kau bicarakan?"
Kuro dan Riana akhirnya hanya bisa tersenyum kecut.
Ketiganya akhirnya sampai di atas. Cahaya terang yang hangat menyambut mereka dan mengusir rasa dingin yang menyelimuti kulit mereka. Ketiganya akhirnya bisa bernafas lebih lega karena bisa mencium aroma segar. Mungkin lebih tepat jika aroma perkotaan.
"Eh?"
Laila terkejut dengan pemandangan yang dia lihat.
Tak hanya cahaya, tapi juga keramaian kota kini di hadapannya. Orang berlalu lalang di depan mereka seolah tak mempedulikan ketiganya dan hanya sibuk dengan kesibukan mereka masing masing.
Tapi yang mengejutkannya adalah sepanjang mata melihat, yang terlihat adalah bangunan tua yang kini berubah menjadi toko yang ramai dengan pengunjung dan pembeli. Bangunan tua yang mereka masuki bukanlah satu satunya.
Laila menoleh ke arah Kuro dengan mata penasaran.
"Mungkinkah kau belum pernah datang ke wilayah ini?"
Laila mengangguk.
"Ya, kau tahu kan kalau ayahku terlalu melindungiku, jadi aku jarang bisa ke luar rumah. Meskipun keluar, aku harus dikawal."
"Hm.. tapi seingatku saat pertama kali kita bertemu, kau sendirian kan?"
"Tidak tidak. Meskipun aku sendirian, tapi ada yang mengawasiku dari jauh. Mirip perlakuan mereka terhadap Riana"
"Begitu rupanya."
"Seharusnya kau tidak lega, Kuro. Sifat paman Leon yang seperti itu membuat dia sangat marah saat tahu kau menjalin hubungan dengan Laila."
".....aku bisa membayangkan hal itu."
Meskipun berkata begitu, wajah Kuro menunjukkan kebalikannya.
"Sudah sudah. Tak usah kawatir. Biar aku yang menghadapi ayahku. Sekarang kita kembali ke topik. Apa yang kita lakukan sekarang?"
Kuro langsung menaruh tangannya di dagu seperti mengingat sesuatu.
"Kurasa sebaiknya kita pulang saja. Jujur saja tanpa ada petunjuk, mencari Lic di ibukota bagaikan mencari jarum di dalam gunungan jerami. Yang menjadi masalah adalah tuan putri kita tak datang ke mari hanya untuk menyambut kami kan?"
".....Ya begitulah kira kira. Meskipun sebenarnya aku sekarang bertugas menangani semua hal yang berkaitan dengan kalian berdua, tapi seperti yang Kuro bilang. Aku kebetulan punya urusan tak jauh dari sini, dan akhirnya aku bertugas mengaktifkan sihir teleportasi di bawah tadi."
"Ugh.. entah mengapa kau seolah mengatakan kami adalah pembuat masalah yang harus diawasi. Tapi urusan apa yang kau maksud?"
"Kau akan tahu jika mengikutiku." Jawab Riana dengan senyuman misterius.
"Tapi bagaimana kau bisa mengaktifkan sihir teleportasi?" tanya Kuro "Bukankah kekuatanmu akan melenyapkan sihir?"
"Normalnya begitu, tapi selama aku tak menggunakan kekuatanku, aku tak akan mempengaruhi sihir di sekitarku. Bukankah kau sudah mengetahuinya?"
".....hm?"
"Fufu.. selain itu, sihir telepostasi tadi bukanlah sihir yang terlalu rumit, tapi untuk mengaktifkannya, kau harus memasukan kode di panel rahasia. Dengan kata lain, asalkan tahu kodenya, siapapun bisa mengaktifkannya."
Ketiganya melangkahkan kaki mereka dari tempatnya.
Mereka berjalan bersama menelusuri jalanan kota yang ramai.
Meskipun mereka adalah tuan putri, salah satu putri dari Paladin terkuat dan seorang yang memiliki darah yang sama dengan Demon King, namun mereka bisa membaur dengan mudah. Mungkin lebih tepat jika sebagian besar tak peduli dengan mereka.
Inilah perbedaan kota besar dan kota kecil. Perlakuan yang mereka terima membuat mereka tak terlalu cemas dengan keadaan sekitar, tapi bukankah penjahat akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan mereka?
Mereka saat ini berada di bagian pingir kota Phoenix. Tempat itu dulunya merupakan kota lama yang pernah hancur akibat perang. Meskipun sebagian besar sudah mengalami pembaruan, namun konstruksi asli masih dipertahankan sehingga membuat pemandangan kota lama di tengah kota maju. Itu merupakan salah satu daya tarik di wilayah itu.
"Oh iya,kau bilang kami akan tahu jika mengikutimu, tapi kemana? Apakah ada hubungannya dengan pakaian itu?"
Meskipun angin dingin musim gugur mulai berhembus, namun memakai jubah di tengah kota masih menjadi pemandangan yang tak biasa. Jika dikarenakan dia sebenarnya seorang putri, maka itu juga kurang tepat.
Hanya ada satu kemungkinan kenapa dia memakai jubah, yaitu-
"Dia pasti kabur lagi. Aku dulu bertemu dengannya juga seperti ini."
"Eh, benarkah itu? Aku memang pernah mendengar kau sering menyelinap keluar, tapi ini baru pertama kalinya aku melihat dengan mataku sendiri. Kau sungguh punya hobi yang unik."
"Kuro, jangan mengatakan hal yang membuat Laila salah paham. Aku memang sering keluar secara diam diam untuk bermain, tapi itu dulu."
"Itu sebuah kemajuan, benarkan Laila?"
Laila mengangguk tanda setuju. Sedangkan bagi Riana itu bagaikan tusukan pedang besar.
Riana mendesah.
"Intinya sekarang aku keluar bukan hanya untuk bermain main, tapi juga melakukan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak dulu sebagai seorang putri negeri ini."
Tak berapa lama kemudian mereka bertiga berbelok ke tikungan dan memasuki gang kecil. Laila dan Kuro masih belum tahu kemana mereka pergi. Yang mereka lakukan hanya mengikuti Riana.
Mereka menelusuri gang itu dan akhirnya sampai di sebuah taman yang luas. Taman itu dikelilingi bangunan tua yang tinggi. Sekilas mirip taman rahasia.
Taman itu ramai dengan anak kecil dan beberapa orang dewasa yang mengawasi mereka bermain.
"Sepertinya tuan putri rakus kita sudah mengalami banyak perubahan selama kita tak bertemu. Jujur saja, aku sedikit terkesan."
Mendengar itu, wajah Riana merona kemerahan. Sebaliknya dengan Laila, wajahnya juga memerah dengan senyuman tipis yang menakutkan.
"Kuro, apa maksudmu?"
"Jika kau tak menatapku dengan tatapan menyeramkan seperti itu, aku akan lebih mudah menjelaskan."
"Heh.. apa maksudmu dengan tatapan yang menyeramkan?"
"Bukan apa apa." Kuro menyerah. Dia tahu Laila sedang cemburu. "Kau seharusnya sudah bisa menebak tempat apa ini? Bukankah kita pernah beberapa kali berkunjung ke tempat yang sama di kota Areshia?"
Setelah berusaha mengingat apa yang dimaksud Kuro dan mengamati daerah sekitar serta atmosfer yag terasa familiar, Laila akhirnya sadar tempat apa itu.
"Tempat ini mungkinkah.."
"Ya. Panti asuhan." lanjut Kuro.
Riana mengangguk membenarkan.
Riana melirik ke salah satu bangunan yang berada di pinggir taman. Ada tanda nama panti asuhan yang menempel di dinding.
Setelah itu Riana melangkahkan kakinya ke bangku panjang yang berada di bawah pohon besar. Laila dan Kuro kembali mengikutinya.
Laila dan Riana duduk berdampingan sedangkan Kuro lebih memilih menyandarkan punggungnya ke pohon. Ketiganya mengamati apa yang terjadi di taman seperti pengawas.
"Panti asuhan di sini merupakan panti asuhan yang khusus membesarkan penyihir yatim piatu. Sebagian besar di sini merupakan anak yang ditinggal karena orang tua mereka mati menjalankan sebuah misi. Tentu banyak alasan lainnya, tapi mayoritas anak di sini seperti itu."
"Kenapa hanya ada anak penyihir yang berada di tempat ini? Mungkinkah itu disengaja?"
"Aku juga pernah menyanyakan hal yang sama, Laila. Tapi bukan karena panti asuhan yang melarang, tapi karena anak di sini cukup membenci orang biasa."
"....apa maksudmu?"
"Singkatnya anak penyihir akan memusuhi anak biasa yang berada di panti asuhan ini. Karena itulah dulu sering terjadi perkelahian. Untuk mencegah kejadian yang tak diinginkan, maka anak biasa dipindahkan ke panti asuhan lain. Bukahkah ini aneh? Penyihir seharusnya melindungi yang lemah, bukan memusuhi mereka. Jika hal ini terjadi sejak kecil, apa yang akan terjadi di masa depan?"
Angin dingin berhembus menerbangkan dedauan. Dedauan itu mendarat di pangkuan Riana yang tampak murung.
__ADS_1
Anak anak adalah masa depan. Jika sejak kecil mereka memiliki sifat saling membenci. Masa depan tak akan pernah menjadi masa depan yang damai.
Perbedaan kuat dan lemah masih menjadi penyebab utama perselisihan penyihir dan orang biasa. Sayangnya hal ini tak bisa terhindarkan. Butuh waktu lama untuk saling mengerti, dan sistem yang dipakai saat ini merupakan salah satu upaya itu.
Tapi meskipun sistem ini sudah berjalan lebih dari ratusan tahun, namun tanda untuk saling mengerti masih dari sebuah mimpi.
"Aku ingin mencari tahu kenapa orang biasa membenci penyihir. Dan tentu sebaliknya. Kalian pasti sadar insiden beberapa tahun ini lebih banyak melibatkan orang biasa daripada penyihir. Kurasa semua itu bukanlah kebetulan belaka. Bagaimana jika ada seseorang atau sesuatu yang menginginkan kedamaian tak pernah terjadi?"
"....."
"...."
Kuro dan Laila mengerti apa yang dimaksud Riana. Karena itulah mereka tak bisa menjawab.
Keduanya sering mengalami pertarungan yang melibatkan orang biasa. Dan meskipun keduanya berhasil menang, tapi bukan berarti mereka menang dengan mudah. Orang biasa memiliki tekad yang kuat, dan tekad itulah yang membuat keduanya sulit menang.
Ini bagaikan sebuah tanda. Entah tanda baik atau buruk, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
"Tapi bukankah kurang tepat mencari tahu dari tempat ini? Setahuku perbedaan juga sudah terjadi selama ribuan tahun, jadi ini bukanlah masalah yang terlalu besar."
"Kau mungkin benar, Kuro, tapi kau pasti juga tahu ada dimana masa perubahan. Dengan teknologi yang sekarang, kurasa perubahan itu akan semakin cepat terjadi. Selain itu, perubahan terjadi karena ada yang menginginkannya. Dalam hal ini, kurasa bukan hanya orang biasa saja yang menginginkannya."
Kuro tersenyum kecil. Dia tak mencoba menambah atau mengurangi perkataan Riana.
Daun hijau terbang ke arahnya dan Kuro menangkapnya.
"Perubahankah.... kuharap bukanlah perubahan yang buruk."
"Aku juga mengharapkan yang sama, Laila. Karena itulah aku ingin memulainya dari sini. Memulai dari mereka yang merupakan masa depan negri ini. Dengan saling mengerti, maka perubahan yang lebih baik akan terwujud."
"Aha ha.. kau benar benar berubah, Riana."
"Ini juga perubahan yang baik kan?"
"Entahlah.."
Keduanya lalu tertawa bersama.
Disaat itulah sebuah suara merdu terdengar bersamaan dengan angin yang berhembus lembut.
Keduanya mencari sumber suara itu dan akhirnya mengetahui kalau suara itu berasal dari daun yang ditiup Kuro.
Lagu itu begitu menenangkan hati. Dan karena itupula banyak anak anak yang berhenti bermain sejenak hanya untuk mendengar suara itu.
(Hm... dimana aku mendengar lagu itu sebelumnya?)
Laila tak tahu, tapi lagu itu begitu dia kenal.
(Ah.. kurasa tak apalah... satu lagi bakat yang kuketahui, tapi aku penasaran apa dia bisa memainkan alat musik lain?)
Laila tak pernah melihat Kuro bermain musik, jadi dia tak tahu.
Kenapa aku tak menyuruh dia menyanyikan lagu cinta untukku? Pikir Laila dengan senangnya.
***
Jam istirahat makan siang. Terjadi kehebohan besar di kelas 1-2.
Kehebohan bukan karena terjadi pertengkaran antar murid, tapi pertengkaran yang dimulai oleh gadis pemarah yang sedang melampiaskan amarahnya kepada guru mereka.
"Bu guru, ... bisakah kau memberi tahu kemana Kuro pergi? Kau pasti tahu kenapa mereka berdua tak masuk hari ini kan?"
Otome hanya bisa gemetaran dan tak berani menjawab. Selain wajah menyeramkan Charmilia yang bagaikan iblis, Byakkura dalam wujud Thunder God Form juga menatapnya dengan tajam.
Meskipun dia seorang guru, menghadapi murid peringkat SSS merupakan hal hampir mustahil untuk ditangani. Selain itu Otome dalam kondisi tak maksimal. Dia masih menerima dampak buruk akibat mimpi buruk yang selalu dia alami.
Tak ada yang berani mendekati bahkan menenangkan Charlmilia. Charmilia yang anggun, kini bagaikan monster di mata teman temannya.
"T-tentu aku mengetahuinya, tapi jika kau menanyakan kemana mereka pergi, kau menanyakan orang yang salah."
"Apa mak-"
Tiba tiba pundak Charmilia dipegang dari belakang. Kejadian yang tiba tiba membuat Charlmilia secara reflek hampir menyerang orang di belakangnya. Syukurlah Charlmilia berhenti sebelum belati Byakkura menyentuh lehernya.
"Ya ampun, Delia. Jangan mengagetkanku seperti itu. Aku hampir saja memenggalmu."
Sosok yang dikenal pendiam dan anggun kini berada di garis depan.
"...."
Delia menunjukkan wajah tenang seolah dia tahu tak akan terluka. Dia mungkin memiliki keberanian yang besar, atau mungkin saja dia percaya kepada Charlmilia.
Perlahan Charlmilia mulai berpikir jernih.
"Uh.. maaf. Tapi jangan mengulanginya lagi."
Byakkura perlahan menghilang, tapi ketegangan masih belum pergi. Masalah utama belum selesai.
Charlmilia kembali fokus ke Otome.
"Baiklah Bu guru, Sekarang beritahu aku atau aku akan serius kali i- eh?'
Charlmilia dan lainnya dibuat terkejut saat mata Otome memancarkan cahaya lingkaran sihir. Setelah beberapa saat lingkaran sihir itu menghilang, tapi wajah Otome semakin pucat.
"Ah... aku dengan senang hati kau bunuh, Charl."
"Eh?"
Tentu semua bingung karena Otome tiba tiba bertingkah aneh. Tidak. Jika dipikirkan lagi, Otome akhir akhir ini memang bertingkah aneh dan terlihat seperti orang sakit.
Dan sekarang dia mengatakan ingin mati. Otome yang mereka kenal sudah menghilang.
"Bu guru jangan mengatakan hal yang menjijikkan seperti itu? Itu justru membuatku kehilangan nafsuku."
Otome menangis dengan keras. Dia bahkan menekuk lututnya dan bertingkah seperti gadis yang diputus pacarnya.
"Ha.... aku ..aku juga tak bermaksud seperti itu. Huuua.. Bukan kau saja yang ingin menemui Kuro. Tapi aku sama sekali tak tahu dimana dia..."
Mendengar itu, semuanya memikirkan hal yang sama. Apa yang kau lakukan Kuro sehingga membuat Otome seperti itu?
"Ya ampun.. aku sungguh tak tahan melihat ini."
"Knox?"
"Bisakah ada yang bisa berpikir jernih di sini? Aku tak menyangka kelas ini dipenuhi orang aneh."
"Aku tak mau dipanggil aneh oleh orang aneh sepertimu."
Knox mengabaikan perkataan sarkasme Charlmilia. Dia bahkan tersenyum senang.
"Dengar, jika Kuro dan Laila pergi tanpa diketahui. Hanya ada dua kemungkinan alasan kenapa mereka pergi."
"..."
"Pertama, mereka pergi ke suatu tempat untuk bermesraan sampai mereka puas."
Wajah Charlmilia memerah. Memerah karena marah bercampur malu karena membayangkan apa yang dilakukan pasangan bodoh itu di tempat sepi.
"Tapi aku meragukan hal ini."
"Kenapa?"
"Mereka hampir setiap hari bermersaan di depan kita. Jujur saja aku ingin sekali membunuh Kuro karena melakukan itu. Yah... intinya mereka tak butuh tempat sepi untuk bermesraan. Selain itu, waktu mereka libur terasa aneh."
"Apa maksudmu?"
"Kedua, dengan semua tindakan aneh mereka. Ditambah dengan waktu penyerangan dan kehilangan salah satu keluarga, bisa disimpulkan ka-"
"Kalau mereka sedang mencari Lic kan?" potong Charlmilia. "Dan dimana itu?"
"Entahlah. Mana kutahu sedetail itu."
"...."
Booom!! Setelah itu, ruang kelas 1-2 meledak dengan keras menjadi ratusan keping. Asap mengepul dan alarm tanda bahayapun berbunyi dengan keras.
Dari kepulan asap itu keluarlah Charlmilia dengan wajah merah karena marah.
"Tch... aku tak menyangka dia membuatku mendengar omong kosongnya."
Charlmilia pun pergi dan keluar dari sekolah. Tak ada satupun yang ingin tahu kemana dia pergi, tapi satu hal yang pasti.
Jangan membuat marah harimau yang sedang jatuh cinta. Apalagi harimau yang sudah patah hati.
Dari reruntuhan, Knox muncul dengan tubuh penuh debu dan kotoran. Semuanya juga bernasib sama. Tapi yang terpenting, mereka selamat dari amukan Charlmilia.
"...fuh.... dia benar benar meyeramkan hari ini."
"Apa kau ingin membuat kami terbunuh, Keparat. Aku tahu kau pandai menganalisa, tapi bisakah kau membaca suasana sekitarmu."
Jinn protes dengan tindakan ceroboh Knox. Tidak. Knox memang lebih sering terpaku kepada logika, jadi dia kurang perhatian dengan sekitarnya.
"Jika kau melakukannya lagi. Aku akan membunuhmu terlebih dahulu. Bagaimanapun juga aku tak mau mati karena alasan konyol."
"Secara teknis kau tak terluka. Mustahil kau mati."
"Kh..."
Jinn ingin sekali menghajar Knox, tapi dia menahannya.
"Ha.. bagaimana kita menjelaskan semua ini kepada kepala sekolah? Aku yakin dia akan marah besar. Kau tahu kan dia adalah salah satu Paladin di negeri ini."
"....Um.."
Wajah Knox membiru.
"Y-ya kau benar. T-tapi ini bukan salah kita. Jadi kita tak mungkin mendapatkan hukuman. Tapi siapa gadis kecil di sampingmu itu? Mungkinkah kenalanmu?"
"Huh?"
Jinn dibuat bingung. Tapi setelah melirik ke sampingnya, dia menemukan gadis berambut merah muda berdiri di sampingnya tanpa dia sadari.
Dia adalah gadis cantik dan manis. Untuk sesaat Jinn tergoda, tapi dia sadar keanehan yang dia rasakan.
Jinn tiba tiba melompat menjauh dari gadis itu.
(Bagaimana aku tak menyadari kedatangannya?)
Jinn dan Knox langsung dalam posisi siaga untuk bertarung. Mereka belum tahu apakah gadis muda itu musuh atau teman, tapi mereka tahu gadis itu bukanlah gadis biasa.
Murid murid lainnya juga dalam posisi siaga. Mereka bahkan sudah memanggil magic arm dan magic beast milik mereka.
"He.."
Gadis itu tersenyum kecil sambil melirik ke segala arah. Dia seolah puas dengan pemandangan yang dia lihat.
"Kalian cukup hebat, tapi jika dibandingkan Kuro, kalian sangatlah lemah. Asal kalian tahu, aku bahkan tak bisa menyelinap di belakangnya."
"....Eh?"
Mereka bingung, tapi satu hal yang pasti, gadis itu mengenal Kuro.
Gadis itu melirik ke puing tak jauh darinya dan dalam sekejap mata, puing itu hancur oleh petir yang hampir tak terlihat oleh mata. Meskipun begitu, bukan berarti mereka tak merasakan tekanan mana yang dahsyat.
(Siapa orang ini? Sihir itu bukanlah sihir tingkat biasa.)
Knox langsung bertambah waspada. Disaat yang sama dia menyadari apa yang bisa terjadi jika gadis itu adalah musuh.
"Jangan menatapku seperti itu. Apa kalian tak punya rasa hormat dengan kepala sekolah kalian?"
Kini mereka tahu siapa sosok sebenarnya gadis itu. Sosok yang mereka kagumi dan hormati. Tapi disaat yang sama mereka takuti. Sang paladin, Electra.
"Apa? Kita punya kepala sekolah loli?"
"Sialan kau Jinn. Aku tahu kau siscon, tapi bisakah kau lihat siapa yang kau panggil loli? Apa kau ingin menjadi arang? Jangan libatkan aku dengan masalahmu."
"Tapi dia loli."
"...."
__ADS_1
Knox tak tahu apa lagi yang dia katakan. Selain itu, apa yang dikatakan Jinn benar.
Dia sudah bersiap mati, tapi anehnya Electra justru tertawa kecil mendengar komentar atau lebih tepatnya ejekan dari murid sekolahnya.
"Ha ha.. kalian benar benar mengingatkanku pada saat pertama kali aku bertemu dengan Kuro. Sayang sekali itu tak mengubah fakta kalian tak menghormatiku, jadi sekarang pilih. Kalian berlari mengelilingi danau Limph atau aku melatih kalian secara pribadi? Dengan senang hati aku akan memberikan latihan spesial jika kalian mau."
Tak perlu banyak kata lagi, semua murid kelas 1-2 langsung menghilang dari ruang kelas yang hancur.
Tawaran akan dilatih oleh salah satu paladin mungkin terdengar seperti mendapatkan hadiah lotre. Tak ada kesempatan kedua untuk menerima tawaran yang sama. Sayangnya, dilatih oleh seorang paladin merupakan tanda untuk siap menjalani hidup bagai neraka.
"...ya ampun. Padahal aku sedang baik hati."
Electra kembali fokus dengan sosok yang tersisa.
Berbeda dengan murid muridnya, Otome masih bersih dan bahkan tak mengalami goresan meskipun tertimbun reruntuhan. Ada aura yang melindunginya dari semua bencana itu.
"Seperti biasa, sihir pertahanan otomatis milikmu memang mengagumkan Otome. Tapi jika melihat dirimu yang sekarang, jujur saja aku merasa kasihan."
Boneka rusak. Itulah kondisi yang tepat untuk menggambarkan keadaan Otome saat ini.
Sayangnya, meskipun dirinya salah satu paladin, dia tak bisa berbuat apapun. Inilah salah satu bukti bahwa paladin masihlah tetap manusia biasa.
(Kuro, sebenarnya sejauh mana kau tertelan kegelapan?)
Semuanya tak ada hubungannya dengan fakta Kuro adalah pewaris dari darah Demon King. Semua orang memiliki kegelapan di dalam hati mereka. Sayangnya, Electra tak pernah melihat seseorang yang tertelan kegelapan seperti Kuro.
Yang lebih mengejutkan, Kuro masih bisa menunjukkan senyuman yang tulus.
***
Setelah cukup puas melihat panti asuhan, mereka bertiga pergi.
Tujuan mereka saat ini adalah restoran yang tak jauh dari panti asuhan yang mereka datangi. Alasan kenapa mereka ke tempat itu bukan karena itu adalah restoran bintang lima atau karena makanannya terkenal.
Mereka hanya lapar. Itu saja.
Ketiganya masuk tanpa terlalu menarik perhatian. Karena jam makan siang, restoran cukup ramai oleh pengunjung.
Saat ketiganya duduk, seorang pelayan langsung menyambut mereka.
"Siapkan makanan paling spesial di restoran ini. 3 ya. Untuk minuman, aku ingin pesan Ice Chocomilkshake. Kalian minum apa?"
"Aku ingin lemon tea saja. Oh iya, aku ingin eskrim yang paling enak di sini, ada kan?"
Pelayan mengangguk tanda mengerti.
Terakhir adalah Riana.
Dia sedikit terlihat ragu. Memang dia sering keluar, tapi makan di restoran kecil merupakan pengalaman yang jarang dia alami.
"Emm.. sama seperti Kuro saja."
Pelayan pergi setelah mencatat semua pesanan mereka. Sekarang yang mereka lakukan hanya bisa menunggu.
"Aku tahu kau suka es krim, tapi apa kau sanggup menghabiskannya?"
"Selalu ada tempat untuk makanan penutup. Tapi kau tak memikirkan hal aneh kan?"
"Aku hanya kawatir. Kita tak mau kau sakit perut disini."
"Apa kau serius mengkawatirkanku? Jika diingat ingat, kau sering sekali mengacuhkanku saat aku dalam masalah."
"Kapan aku melakukan itu. Aku memang terlihat acuh, tapi itu karena aku percaya kau bisa menyelesaikan masalahmu sendiri tanpa bantuanku. Kapan kau akan mandiri?"
"Ah.. dasar bodoh."
"Eh?"
Saat keduanya asik mengobrol dan membicarakan kehidupan mereka, Riana hanya bisa terdiam membisu menjadi pendengar.
Dia memang sahabat baik Laila, tapi saat Kuro dan Laila di dunia mereka, maka tak ada yang bisa mengeluarkan mereka.
Keduanya terus berbicara, bahkan kadang saling mengejek satu sama lain untuk beberapa menit. Satu satunya yang menghentikan mereka adalah pesanan mereka yang kini ada di hadapan mereka.
Kuro dan Laila bersiap menyantap makanan yang sudah menggoda lidah untuk segera dicicipi. Tapi keduanya tak segera menyantap makanan karena tertarik dengan Riana.
"......"
Berbeda dengan keduanya, Riana terlihat ragu untuk menyentuh makanannya. Meskipun dia sudah memegang sendok dan garpu, tapi hanya itu yang dilakukannya.
"Oh.. benar, ketika makan Riana akan selalu diberi makan makanan yang sudah diperiksa terlebih dahulu."
"Jangan mengatakan seperti itu. Kau anggap apa temanmu."
"Aha ha maaf, tapi itulah kenyataannya kan."
Riana tersenyum kecut.
Meskipun makanan yang mereka pesan dijamin aman, tapi bagi Riana yang sudah memakan makanan aman setiap hari akan tetap muncul rasa takut. Apalagi mereka tak mengenal baik restoran itu, jadi ada kemungkinan musuh memanfaatkan celah itu untuk meracuni Riana.
"Yah sudahlah. Tapi karena itulah aku memesan makanan yang sama. kita bisa saling tukar, atau setidaknya bisa mencicipinya terlebih dahulu."
Apa yang dikatakan Kuro benar, jadi tak ada yang berani membantah ide itu.
Kuro lalu mengambil sedikit porsi milik Riana dan Laila untuk memeriksa apakah aman atau tidak. Dia berpengalaman dalam masalah racun dan karena dia kebal terhadap racun, maka dia akan baik baik saja.
Setelah aman, ketiganya makan dengan lahap. Makanan spesial yang mereka pesan lebih enak daripada yang mereka duga sebelumnya. Meskipun harganya bisa dibilang cukup menguras dompet, tapi itu bukan masalah bagi Kuro.
Satu hal yang membuat Kuro cemas adalah Laila yang dengan santainya menghabiskan porsi besar es krim sendirian. Apa kau tak takut gemuk? Pikirnya.
Perut sudah terisi dan merekapun kembali mengelilingi jalanan kota ramai. Cuaca cukup panas bercampur udara dingin membuat nyaman saat berjalan jalan menikmati bangunan tua.
Sesekali mereka berhenti untuk membeli beberapa barang yang menarik seperti aksesoris atau pakaian. Untuk alasan tertentu, Laila membeli bando baru. Bando baru seperti yang dulu pernah Kuro berikan. Bando yang lama sudah hancur akibat pertempuran. Tapi Laila masih menyimpannya sebagai kenang kenangan dalam hubunganya dengan Kuro.
Orang yang membawakan belanjaan mereka, tentu tak lain adalah Kuro.
"Ini menyenangkan. Aku sudah lama tak belanja seperti ini."
"Aku senang kau menikmatinya, tapi kau tak lupa tujuan kita kemari kan?"
"Jangan salah paham! Aku menikmatinya, tapi aku tak mungkin lupa dengan Lic. Bukankah kau sendiri yang bilang untuk menemukan Lic, aku paling tidak harus berada di jarak 1 kilometer darinya. Jalan jalan seperti ini juga merupakan salah satu usaha. Kau tahu itu kan?"
Kuro hanya mendesah kecil dan lalu tersenyum.
Daripada berjalan, terbang atau berlari akan lebih cepat, tapi mereka tak bisa melakukannya karena Riana.
Meskipun mereka menemukan lokasi Lic di kota Phoenix, tapi mereka belum tahu dimana lokasi yang tepat. Disitulah sihir di gelang Laila berperan penting karena menjadi perantara Lic dan Laila.
Sayangnya, hanya Laila yang bisa melakukannya. Dengan luas kota Phoenix yang puluhan kali lebih besar dari kota Areshia, akan butuh waktu lama untuk menemukan Lic. Inilah alasan kenapa mereka mengambil libur panjang.
"Aku tahu kalau Lic yang kalian bicarakan merupakan Izriva. Kini dia berada di tangan musuh yang masih belum diketahui. Demi kedamaian negeri ini, aku akan membantu kalian sebisaku."
(Selain itu, jika lokasi Izriva ada di kota ini, itu artinya kota ini akan segera menjadi medan pertempuran.)
Riana sadar banyak yang harus dia siapkan untuk menghadapi yang terburuk.
Musuh tahu pasti kalau jika ibukota dalam bahaya, kelima paladin akan segera datang untuk bertempur demi negri mereka.
(Musuh tidaklah bodoh. Yang membuatku takut adalah mereka masih berani melakukan semuanya meskipun akan berhadapan dengan kematian.)
Musuh yang kuat bukanlah musuh yang menakutkan, tapi musuh yang tak takut mati, itu adalah musuh yang lebih merepotkan daripada musuh yang kuat.
"Riana, Kenapa kau melamun?"
"Ah tidak. Aku hanya berpikir bagaimana menemukan Lic secepat mungkin."
"Terima kasih. Aku tak ingin melibatkan siapapun, tapi bukan berarti aku tak akan menerima bantuan. Terutama bantuan dari sahabat baikku."
Riana membalas dengan senyuman indah.
Lalu dia teringat sesuatu.
"Oh iya, apa kau akan pulang? Bukankah ini kesempatan yang bagus karena kau ada di kota ini?"
"Yah.. aku rindu dengan ayah, ibu, nenek dan Clara. Tapi aku ingin kepulanganku menjadi rahasia untuk sementara. Kau tahu kebiasaan buruk keluargaku kan?"
"...uh... benar. Tapi dimana kalian akan tinggal?"
"Kami akan tinggal di rumahku. Kebetulan aku punya rumah disini. Meskipun tak terlalu besar. Kurasa itu sudah cukup."
"Begitu rupanya..."
Untuk sesaat, Riana menunjukkan ekspresi sedih.
Disaat itulah tiba tiba dua orang lelaki kekar menghampiri ketiganya. Dari penampilannya mereka seperti orang jahat, tapi Kuro tahu siapa mereka sebenarnya.
(Holy Knight kah.... )
Tak hanya dua, tapi Kuro menyadari ada 10 orang lainnya yang memiliki aura yang sama. Jika dipikirkan lagi, tak mungkin seorang putri akan pergi sendirian di kota yang penuh bahaya.
"Maaf, aku hanya bisa menemani kalian sampai disini. Ini menyenangkan, aku harap kita bisa melakukannya kapan kapan. Mengenai kedatangan kalian, jangan kawatir, aku akan merahasiakannya dari paman Leon."
Riana menunduk lalu pergi dengan dua pengawal. Holy Knight yang lain juga perlahan pergi dan Kuro bisa merasakan hawa keberadaan mereka perlahan pergi.
"Bagaima kalau kita pulang?"
"Yeah. Aku tak sabar ingin berduaan denganmu, Kuro."
Kuro dengan cepat memanggil kereta yang kebetulan tak jauh dari mereka. Jarak rumah yang lumayan jauh ditambah dengan rasa capek, menyewa kereta adalah pilihan yang tepat.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka turun. Bukan berarti mereka sudah sampai, tapi tempat yang mereka datangi tak bisa dimasuki sembarangan orang, karena itulah keretapun hanya bisa mengantar sampai ke batas pintu gerbang.
Saat Laila turun, dia terkejut.
"Bukankah ini pintu masuk wilayah elit. Saat kau bilang rumah kecil aku tak langsung percaya, jadi firasaku benar kah.."
"Bagiku ini rumah kecil kok."
"Iya iya... tapi kita tak akan segera ketahuan kan?"
"Jangan cemas, aku yakin orang tuamu tak akan tahu."
Saat memasuki pintu gerbang, mereka diperiksa dengan ketat. Tak ada masalah dengan Laila karena dia memang tinggal di wilayah elit dan terkenal. Tapi karena rahasia, maka dia meminta penjaga untuk merahasiakan dirinya.
Untuk Kuro, semua sudah tahu kalau dia keturunan Demon King, jadi saat dia masuk pasti akan menimbulkan keributan atau masalah. Namun semua itu tak terjadi. Penjaga itu bahkan menaruh hormat kepadanya.
Aneh. Itulah yang terlintas di benak Laila.
"Kau tak mengancam mereka kan?"
"Bisakah kau tak berpikir kalau aku hanya bisa melakukan kejahatan saja?"
Mereka berhasil masuk. Entah mengapa ada kereta yang sudah menyambut mereka.
Sang kusir merupakan pria tua memakai pakaian pelayan. Itu membuat Laila ingat dengan Hyura.
"Terima kasih sudah menjemput kami, Boris."
"Itu sudah merupakan kewajibanku untuk melayani anda, Tuan Muda. Mari silahkan masuk, saya akan memasukan barang anda. Nona, sebagai kepala pelayan, aku menyambut kehadiran anda."
Laila mengangguk pelan tanda memberikan hormat. Sedangkan Kuro hanya tersenyum senang.
Kuro dan Laila tanpa ragu masuk. Saat masuk, Laila menujukkan rasa kagum sekaligus heran.
"Siapa kau sebenarnya? Itu kan yang kau pikirkan?"
"Y-Ya.."
"Laila, kau tahu aku dulu merupakan Shadow Knight, tapi aku sudah menjelaskan kalau saat aku mengambil sebuah misi, aku pasti akan meminta jeda waktu. Kau pikir kenapa aku melakukannya?"
"Bukankah itu karena Cursed Blade Art membebani tubuhmu? Kau tak akan bisa bertarung dengan kekuatan penuh jika tak beristirahat yang cukup."
"Ya. Itu salah satu alasannya."
"Eh, masih ada lagi."
"Aku tidak bisa bertarung, tapi bukan berarti aku akan tidur seharian seperti pemalas. Saat beristirahat itulah aku mengurus hal lainnya, misalnya bisnis."
"Apa?"
__ADS_1
"Aku punya modal dari saat aku berkeliling dunia, jadi apa salahnya aku berinvestasi. Hasilnya seperti yang kau lihat, meskipun begini aku punya uang yang cukup untuk membeli sebuah negara kecil. Ya. Aku kaya raya. Mungkin lebih kaya dari keluargamu. Bukankah kau tak salah pilih mencari suami?"
".......eh?"